Palestina: Di Bawah Langit yang Tak Pernah Tidur
Oleh: Ihwana As’ad
Ada tanah yang selalu disebut dalam doa,
Tanah yang harum oleh zaitun dan luka,
Di sana, angin berhembus membawa nama-nama
Yang gugur tanpa nisan,
Namun hidup dalam dada umat manusia.
Di pagi hari, matahari enggan tersenyum,
Ia tahu — sinarnya menyingkap reruntuhan,
Di mana anak-anak bermain di antara puing,
Menggambar langit baru di atas pasir dan darah,
Mereka tidak punya mainan,
Hanya harapan yang mereka peluk setiap malam.
Jerusalem, engkau berdiri di tengah badai,
Menjadi saksi antara doa dan peluru,
Setiap azanmu menggema seperti seruan abadi,
Bahwa iman tak bisa dibungkam,
Bahkan oleh dinding, bahkan oleh perang.
Wahai Palestina,
Engkau bukan hanya tanah
Engkau denyut di dada setiap orang yang masih punya nurani,
Engkau cerita yang tak bisa dilupakan dunia,
Engkau sajak yang ditulis dengan air mata
Dan disalin oleh darah para syuhada.
Di setiap rumah yang runtuh,
Ada ibu yang tetap menyiapkan roti,
Dengan tepung harapan dan bara ketabahan.
Ia tahu, mungkin tak ada yang akan makan hari itu,
Namun ia tetap menyalakan api,
Sebab api itu bukan hanya untuk dapur
Tapi untuk hidup yang tak mau padam.
Dan ayah-ayah yang berjalan di jalan sunyi,
Mereka tak membawa senjata,
Hanya doa yang diucap dalam diam,
“Ya Allah, jadikan langkah ini saksi,
Bahwa kami tak pernah menyerah.”
Anak-anakmu, Palestina,
Belajar mengeja kata merdeka
Lebih cepat dari mereka belajar menulis nama sendiri.
Di mata mereka,
Tak ada ketakutan — hanya keyakinan
Bahwa Tuhan pasti menepati janji.
Dunia mungkin bungkam,
Tetapi bumi mendengar,
Langit menulis ulang sejarah,
Dan malaikat bersujud di setiap rumah yang roboh.
Sebab kemerdekaanmu bukan sekadar mimpi,
Ia janji yang hidup dalam setiap helaan napas,
Dalam setiap darah yang jatuh ke tanahmu,
Dalam setiap bayi yang lahir di bawah dentuman bom —
Yang menangis bukan karena takut,
Tapi karena ingin hidup.
Dan kelak,
Saat fajar keadilan benar-benar tiba,
Kau akan bangkit dari puing dan debu,
Dengan wajah yang bersih oleh cahaya suci,
Dan dunia akan tahu —
Bahwa Palestina tidak pernah kalah,
Ia hanya menunggu waktunya untuk pulang.
Makassar, 19 Oktober 2025
Aku Masih Menyulam Langit Palestina
Oleh: Ihwana As’ad
Malam turun perlahan di Gaza,
membawa sepi yang tak sempat beristirahat.
Langit memantulkan cahaya redup,
dan bintang-bintang menatap
seperti saksi yang kelelahan menangis.
Di antara reruntuhan,
angin berbisik menyebut nama-nama
yang kini hidup dalam doa-doa panjang.
Aku mendengarnya —
suara lembut yang tak lagi butuh kata.
Aku adalah perempuan dari tanah yang terluka,
menyulam harapan dari serpihan hari.
Tanganku berdebu,
namun di sela jari masih ada benang keyakinan
yang belum putus.
Setiap pagi, aku menanak rindu
di dapur tanpa api,
mengaduk kenangan dalam periuk kosong,
sementara bom di luar
berbunyi seperti lonceng ketabahan.
Anak-anakku belajar menulis kata merdeka
di dinding yang nyaris roboh.
Aku tersenyum pada mereka
karena di mata kecil itu
aku melihat masa depan yang tak bisa dibunuh perang.
Suamiku sudah lama pergi,
meninggalkan pesan sederhana:
“Jika aku tak pulang,
ajarkan anak-anak mencintai tanah ini
bukan dengan amarah,
tapi dengan doa yang tak pernah padam.”
Jerusalem, wahai kota suci,
betapa banyak doa yang tertahan di langitmu,
menunggu saat Tuhan berkata,
“Sudah cukup, kini tiba waktunya damai.”
Dan dunia…
masih bicara tentang perdamaian
sambil menutup mata dari luka yang nyata.
Tapi aku tahu
Palestina bukan hanya cerita perang,
ia adalah kisah cinta yang tetap tumbuh
di antara puing dan doa.
Jika suatu hari aku tiada,
biarlah anak-anakku tahu,
bahwa aku pernah hidup di tanah ini
bukan sebagai korban,
melainkan sebagai ibu
yang percaya:
Tuhan tidak pernah tidur,
dan langit yang kusulam dengan doa
akan biru kembali.
Makassar, 19 Oktober 2025
Tiada ulasan:
Catat Ulasan