Nera Sekuma
JERIT PEKIK DI TEMBOK TULI
Kuketuk dinding bisu tak bernurani
Di atas tanah merah yang terbuat dari luka dan darah
Basah, parah, merampas airmata
Luka menganga dari jiwa-jiwa yang karimah
Engkau tuli dari rintih bayi yang kini beratap langit
Tuli dari jerit tangis anak-anak yang kau lontar genosida
Tuli dari teriakan dunia, tuli dari doa reruntuhan masjid
Congkakmu, yang tak peduli kedamaian dunia
Seperti bicara pada gunung yang tak ingin retak
Bermufakat denganmu bagai bermusyawarah dengan batu
Nalar, logika, dan empati semua koyak
Hitam menjalari kesombongan hati yang beku
Israel bagai binatang jalang,
Palestina bukan bayang-bayang, yang bisa kau hapus dengan cahaya
Palestina bagai akar, yang meski ditindas kan terus menggenggam tanahnya
Dunia beserta langit kan selalu bersamamu Palestina
Kelak sejarah tak akan tuli seperti batinmu,
Ia akan menuliskan siapa pelaknat, dan apapun yang disikat
Dari bumi Allah yang tlah kau hancurkan
Dari mujahid-mujahid yang kau luluhlantakkan
Ya Ilahi Robbi, lindungi rakyat Palestina
Temani setiap tangan-tangan yang sedang berjuang
Kuatkan, selamatkan…
Merdekakan, dan makmurkan…
Pondok Gede, 18 Oktober 2025
Bionarasi
Nera Sekuma, adalah alumni STIE Perbanas Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Selain sebagai PNS di bidang pendidikan, ia juga berkecimpung sebagai relawan pendidikan di Kelas Inspirasi-Indonesia Mengajar. Kegemaran menulisnya mulai digeluti secara aktif dan produktif sejak tahun 2019 dengan berkarya di buku tunggal dan antologi. Karya tunggal pertamanya adalah buku kumpulan puisi dan sajak yang berjudul “Tuliskan saja, jangan dikenang!” (2019). Baginya, menulis adalah cara bersedekah pengetahuan dan pengalaman dalam senyap. Motto hidupnya: gigih berkarya, bercanda secukupnya. (IG:@sekataq; @ak.sarabintang)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan