Sabtu, 18 Oktober 2025

Jerit Pekik di Tembok Tuli : Nera Sekuma

Nera Sekuma

JERIT PEKIK DI TEMBOK TULI



Kuketuk dinding bisu tak bernurani

Di atas tanah merah yang terbuat dari luka dan darah

Basah, parah, merampas airmata

Luka menganga dari jiwa-jiwa yang karimah


Engkau tuli dari rintih bayi yang kini beratap langit

Tuli dari jerit tangis anak-anak yang kau lontar genosida

Tuli dari teriakan dunia, tuli dari doa reruntuhan masjid

Congkakmu, yang tak peduli kedamaian dunia


Seperti bicara pada gunung yang tak ingin retak

Bermufakat denganmu bagai bermusyawarah dengan batu

Nalar, logika, dan empati semua koyak

Hitam menjalari kesombongan hati yang beku


Israel bagai binatang jalang,

Palestina bukan bayang-bayang, yang bisa kau hapus dengan cahaya

Palestina bagai akar, yang meski ditindas kan terus menggenggam tanahnya

Dunia beserta langit kan selalu bersamamu Palestina


Kelak sejarah tak akan tuli seperti batinmu,

Ia akan menuliskan siapa pelaknat, dan apapun yang disikat

Dari bumi Allah yang tlah kau hancurkan

Dari mujahid-mujahid yang kau luluhlantakkan


Ya Ilahi Robbi, lindungi rakyat Palestina

Temani setiap tangan-tangan yang sedang berjuang

Kuatkan, selamatkan…

Merdekakan, dan makmurkan…



Pondok Gede, 18 Oktober 2025



Bionarasi

Nera Sekuma, adalah alumni STIE Perbanas Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Selain sebagai PNS di bidang pendidikan, ia juga berkecimpung sebagai relawan pendidikan di Kelas Inspirasi-Indonesia Mengajar. Kegemaran menulisnya mulai digeluti secara aktif dan produktif sejak tahun 2019 dengan berkarya di buku tunggal dan antologi. Karya tunggal pertamanya adalah buku kumpulan puisi dan sajak yang berjudul “Tuliskan saja, jangan dikenang!” (2019). Baginya, menulis adalah cara bersedekah pengetahuan dan pengalaman dalam senyap. Motto hidupnya: gigih berkarya, bercanda secukupnya. (IG:@sekataq; @ak.sarabintang)

Tiada ulasan:

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular