JEJAK PERSAHABATAN SERUMPUN
Karya Eduar Daud-Riau-Indonesia
Di Padang, di bawah langit biru Ranah Minang, sebuah festival literasi menyatukan jiwa-jiwa yang datang dari jauh. Namanya International Minangkabau Literacy Festival (IMLF). Di sanalah, takdir mempertemukanku dengan Zamri dan Pangeran Hanafi dari Brunei Darussalam, serta Syahrizad dari Terengganu.
Pertemuan itu sederhana—sebuah sapaan, seulas senyum, lalu percakapan tentang kata-kata dan makna. Namun dari simpul sederhana itu, terajut benang persahabatan yang semakin menguat, seperti tenunan songket yang tidak mudah terurai.
Waktu berjalan, jarak bukan lagi penghalang. Kami saling berkabar, berbagi karya, hingga akhirnya sepakat untuk bertemu kembali di Bandar Seri Begawan, pada saat digelarnya National Theatre Festival Brunei. Di sana, persaudaraan itu menemukan nadinya: suara yang serupa, hati yang sehati.
Dari Brunei kami melangkah ke pentas yang lebih luas: Suara Serumpun, Festival Puisi 3 Negara. Bait-bait kami bertemu, menyatu, menjadi jembatan yang melampaui batas bendera dan garis peta. Lalu, janji pun terucap: 12 Oktober 2025, Kuala Lumpur, sebuah peluncuran buku akan menjadi saksi bahwa persahabatan ini tak hanya tercatat di hati, tapi juga di lembar sejarah.
Dan janji lain pun menyusul: 24 Mei 2026, kami akan berkumpul di Riau, menyusuri jejak sejarah di Istana Siak Sri Indrapura, sebelum beranjak ke Bukittinggi, menghadiri IMLF ke-5. Seperti sungai yang mengalir ke muara, perjalanan ini seolah sudah digariskan.
Kami percaya, persahabatan yang lahir dari sastra adalah persahabatan yang tak lekang oleh jarak dan waktu. Di antara kata-kata, kami menemukan rumah; di antara pertemuan, kami menemukan makna.
Pekanbaru, 30 Agustus 2025
Tiada ulasan:
Catat Ulasan