Khamis, 20 November 2025

CINTA YANG TAK PERNAH PUNYA RUMAH

Cinta yang Tak Pernah Punya Rumah

Oleh Nurul Afifah Binti Rahim


Aku menemui cinta itu bukan pada waktu yang tepat,

bukan pada jiwa yang tersedia untuk aku singgahi.

Dia datang sebagai cahaya,

tapi cahaya itu sudah pun menerangi hati orang lain.


Namun aku tetap jatuh

tanpa sempat mendirikan dinding

untuk melindungi hatiku sendiri.


Kita berbicara tentang mimpi,

tentang perjalanan jauh yang ingin kita tempuh berdua,

tentang hari-hari yang kita bayangkan

penuh tawa dan lena di bahu yang kita rindu.


Semua itu terasa begitu benar,

seolah-olah takdir sedang memanggil kita

dengan suara yang cuma kita berdua dapat dengar.


Tapi setiap kali aku memandang matanya,

aku terlihat bayang seseorang yang bukan aku.

Dan di situlah seksanya

mencintai seseorang yang hatinya telah pun dijahit

dengan nama selain namaku.


Aku cuba melangkah pergi,

namun setiap langkah seperti mengoyakkan seluruh tubuhku.

Kerana bagaimana harus aku pergi

daripada cinta yang membuatku hidup kembali?

Cinta yang membenarkan aku bermimpi,

walaupun mimpi itu tidak pernah punya rumah

untuk aku diami.


Malam-malamku penuh doa yang tidak pernah aku sebutkan namanya,

doa yang hanya Tuhan tahu betapa sakitnya menahan harap

pada sesuatu yang aku rela lepaskan

demi bahagianya di sisi orang lain.


Dan hari ini,

aku belajar mencintai dalam diam

mencintai tanpa meminta,

merindu tanpa memanggil,

mengimpikan tanpa memilik.


Kerana ada cinta,

yang hadir untuk menghidupkan kita,

bukan untuk bersama kita.

Ada bahagia,

yang perlu kita lepaskan

agar ia tetap bahagia

meski bukan bersama kita.

Tiada ulasan:

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular