SIAPA AKU SAAT INI?
karya : Riyan Rana
Dalam bingkai kenangan, aku adalah anak kecil yang bermain di bawah rimbun tawa canda. Aku berlari di halaman rumah, mengumpulkan daun-daun gugur dan menyusunnya menjadi kapal. Aku tidak tahu, di tanah tempat kakiku menjejak, dulu ada jejak lain: jejak yang diburu, diikat, dipaksa tunduk pada bayang-bayang asing.
Aku hanya tahu dari cerita nenek, tentang malam-malam ketika lampu harus dipadamkan, tentang suara langkah sepatu berat yang mengetuk pintu, dan tentang doa yang dibisikkan dengan gemetar di balik selimut. Masa kecilku sederhana, tapi masa kecil bangsa ini pernah dipenuhi jeritan yang tak sempat direkam.
Di bingkai kenyataan. Aku orang dewasa yang bangun tiap pagi, berjuang dalam diam melawan pedih. Bukan lagi pedih cambuk penjajah, tetapi pedih menjaga janji kemerdekaan agar tidak hilang.
Aku menghidupi keluargaku, namun jauh di lubuk hati aku tahu: tiap butir nasi, tiap helai kain yang kukenakan, adalah titipan dari darah yang pernah jatuh di tanah ini.
Aku belajar bahwa merdeka tidak selesai saat penjajah pergi, merdeka adalah tugas yang terus diperjuangkan, agar anak-anak dapat tertawa tanpa rasa takut, agar langit tidak lagi menyimpan bau mesiu.
Di bingkai harapan, aku melihat diriku yang lain.
Aku adalah pejalan dari dunia yang belum kutahu namanya, tempat yang belum jadi, tapi menungguku untuk mengisin. Aku melihat sebuah jalan panjang, jalan yang masih kosong, jalan yang menunggu langkah-langkah baru. Aku tahu, bangsa ini masih menulis babnya sendiri, masih mencari bahasa yang tepat untuk menjelaskan luka dan cinta, masih mencoba berdiri tegak di antara badai dunia.
Aku pun melangkah, dengan hati yang penuh tanya, penuh cahaya. Jiwaku tidak terikat pada satu waktu atau satu tempat.
Aku bukan hanya anak kecil yang berlari di masa lalu, bukan hanya orang dewasa yang bekerja di masa kini, bukan hanya pejalan yang menatap masa depan.
Aku adalah tenunan dari semuanya.
Aku sedang menenun kenangan perjuangan yang beraroma mesiu, kenyataan kemerdekaan yang berpeluh keringat, dan harapan persatuan yang bersinar dalam doa.
Dari tenunan ini, lahirlah selembar perjalanan: perjalanan bangsa yang pernah dijajah, perjalanan manusia yang belajar merdeka, perjalanan yang belum selesai, tetapi akan selalu diteruskan.

Tiada ulasan:
Catat Ulasan