GELAP YANG CUKUP
Karya: Eduar Daud
Malam berhenti bergerak.
Di kamar ini aku belajar diam,
menghitung napas di balik tirai yang membeku.
Api di dada tinggal abu,
bukan mati,
hanya penat mengintai bayangmu
pada arah yang tak kunjung mengetuk pintu.
Aku siapa
selain sisa tanya yang terlambat mengerti,
bahwa kau adalah satu impian yang tak pasti?
Mencintaimu adalah seni menjaga jarak,
memastikan mimpi tak perlu benar-benar ditemui.
Suara dari luar terdengar dekat namun tak memanggil.
Langkahmu singgah sebentar lalu pergi tanpa menoleh.
Aku sempat percaya pada kilau yang kulihat dari balik kain tipis warna gading ini,
pada putih gaunmu yang tampak bersih karena tak pernah sanggup kumiliki.
Kini tanganku hambar.
Tak ada laut,
tak ada pelabuhan.
Hanya ada jendela yang memisahkan
antara rinduku dan langkahmu yang kian menjauh.
Aku menatap langit-langit,
bukan mencari cahaya,
hanya memastikan bahwa jatuh ke dasar sunyi
tak selalu harus disertai tangisan.
Bumi di luar sana tetap berputar,
tanpa pelukan,
tanpa alasan.
Ia dingin dan bising,
seperti hidup yang berjalan terus
meski aku tertinggal di balik selapis kain
yang menyembunyikan luka.
Cinta ini bukan luka terbuka.
Ia debu yang pelan-pelan menutup dada,
membuat napas tak lagi berani panjang
saat melihatmu lewat dalam terang yang tak sempat kujamah.
Aku diam.
Seorang pengintai tak layak meminta dunia berhenti
hanya karena hatinya lelah mengharap rindu.
Tirai ini tak kutarik penuh,
tak pula kubuka.
Biarlah aku tetap di sini,
melihat seperlunya,
mengagumimu secukupnya
dari balik kelam.
Sebab menyentuhmu hanya akan memecahkan buih
yang selama ini kupelihara dalam imajinasi.
Gelap kamar ini cukup.
Di sinilah aku jujur:
Tak semua orang ditakdirkan untuk tiba,
sebagian hanya dipilih Tuhan
untuk belajar menunggu tanpa kepastian.
Pekanbaru, 1 Januari 2026
