Rabu, 7 Januari 2026

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP

Karya: Eduar Daud


Malam berhenti bergerak. 

Di kamar ini aku belajar diam, 

menghitung napas di balik tirai yang membeku. 

Api di dada tinggal abu, 

bukan mati, 

hanya penat mengintai bayangmu 

pada arah yang tak kunjung mengetuk pintu.


Aku siapa 

selain sisa tanya yang terlambat mengerti, 

bahwa kau adalah satu impian yang tak pasti? 

Mencintaimu adalah seni menjaga jarak, 

memastikan mimpi tak perlu benar-benar ditemui.


Suara dari luar terdengar dekat namun tak memanggil. 

Langkahmu singgah sebentar lalu pergi tanpa menoleh. 

Aku sempat percaya pada kilau yang kulihat dari balik kain tipis warna gading ini, 

pada putih gaunmu yang tampak bersih karena tak pernah sanggup kumiliki.


Kini tanganku hambar. 

Tak ada laut, 

tak ada pelabuhan. 

Hanya ada jendela yang memisahkan 

antara rinduku dan langkahmu yang kian menjauh.


Aku menatap langit-langit, 

bukan mencari cahaya, 

hanya memastikan bahwa jatuh ke dasar sunyi 

tak selalu harus disertai tangisan.


Bumi di luar sana tetap berputar, 

tanpa pelukan, 

tanpa alasan. 

Ia dingin dan bising, 

seperti hidup yang berjalan terus 

meski aku tertinggal di balik selapis kain 

yang menyembunyikan luka.


Cinta ini bukan luka terbuka. 

Ia debu yang pelan-pelan menutup dada, 

membuat napas tak lagi berani panjang 

saat melihatmu lewat dalam terang yang tak sempat kujamah.

Aku diam. 

Seorang pengintai tak layak meminta dunia berhenti 

hanya karena hatinya lelah mengharap rindu.


Tirai ini tak kutarik penuh, 

tak pula kubuka. 

Biarlah aku tetap di sini, 

melihat seperlunya, 

mengagumimu secukupnya 

dari balik kelam. 

Sebab menyentuhmu hanya akan memecahkan buih 

yang selama ini kupelihara dalam imajinasi.


Gelap kamar ini cukup. 

Di sinilah aku jujur: 

Tak semua orang ditakdirkan untuk tiba, 

sebagian hanya dipilih Tuhan 

untuk belajar menunggu tanpa kepastian.


Pekanbaru, 1 Januari 2026

ELEGIE SELAT: TIRAI YANG MENJAGA RINDU : Eduar Daud

 ELEGIE SELAT: TIRAI YANG MENJAGA RINDU

Karya: Eduar Daud


Di balik kain tipis yang ditiup angin masin, 

Aku berdiri, memahat wajahmu pada gelombang. 

Selat Melaka di luar sana adalah saksi yang dingin, 

Tentang kapal-kapal yang pulang, dan aku yang terbuang.


Kau adalah lampu suar di ujung semenanjung, 

Terang yang menuntun jung-jung megah ke pelabuhan. 

Sedangkan aku hanya biduk kecil yang terkatung, 

Takut mendekat, takut karam oleh kenyataan.


Tirai kamar ini adalah perbatasan yang suci, 

Antara rindu yang menderu dan keberanian yang mati. 

Aku mengintaimu lewat celah kayu yang mulai sungsang, 

Melihatmu bersinar, saat aku perlahan hilang dalam rembang.


Namun, Selat ini mengajarkanku tentang pasang dan surut, 

Bahwa cinta tak selamanya harus berpaut di satu dermaga. 

Meski napas tercekik dan harapan mulai kusut, 

Aku tetaplah bakau yang kokoh menjaga muara rahasia.


Aku tidak akan pecah seperti buih di atas karang, 

Meski hanya mampu memilikimu dalam bayang-bayang. 

Sebab pengagum yang paling tabah adalah dia, 

Yang membiarkan kekasihnya terbang, meski hatinya dipenjara.


Biar kelambu ini tetap tertutup separuh nyawa, 

Menjadi tirai pelindung bagi sucinya sebuah rasa. 

Di sini, di jantung Selat yang tak pernah tidur, 

Aku belajar mencintaimu tanpa harus membuatmu hancur.


Lalu biarlah rindu ini menjadi angin laut yang tenang, 

Mengelus pipimu tanpa kau tahu siapa yang datang. 

Aku akan terus menulis, di antara asin garam dan sepi, 

Bahwa mencintai dalam diam adalah kedaulatan hati yang paling tinggi.


Pekanbaru 5 Januari 2026

DIALOG SANG FAKIR: DI AMBANG TIRAI DAN BUIH : Eduar Daud

DIALOG SANG FAKIR: DI AMBANG TIRAI DAN BUIH

Karya: Eduar Daud


Malam tak lagi berangin, 

ia diam,

seperti rahasia yang menolak dibuka.

Di dadaku, api tua meredup,

bukan padam,

hanya lelah menyala.


Siapa aku

selain sisa

dari harap yang gagal tumbuh?

Suara itu tak menggema,

ia jatuh perlahan

dan mati

di dasar sunyi.


Aku pernah percaya

pada buih yang kupeluk,

pada putih yang kukira suci.

Kini tanganku asin,

dan laut

tak meninggalkan apa pun

kecuali rasa kosong.


Aku menengadah, 

bukan untuk bintang,

hanya untuk tahu

sejauh apa jatuh bisa terjadi.

Bumi menerimaku tanpa tanya,

seperti biasa:

dingin

dan tak peduli.


Cintaku bukan luka,

ia lebih menyerupai debu:

tak berdarah,

tak bersuara,

namun perlahan

mengubur dada.


Kau melintas

dalam cahaya yang tak kupunya.

Aku tak menahanmu.

Bayang tak berhak

meminta matahari berhenti.


Tirai itu tetap tertutup.

Aku tak lagi ingin tahu

apa yang berkilau di baliknya.

Gelap ini cukup, 

setidaknya

ia jujur

tentang siapa aku.


Pekanbaru, 24 Desember 2025

Selasa, 6 Januari 2026

DI TEPI PANTAI BERBUIH LARA : Nur Asrianti

 DI TEPI PANTAI BERBUIH LARA

 Oleh : Nur Asrianti


Di sini di antara batas langit dan laut

Pada senja yang sama seperti dulu

Kupunguti cerita hati yang tercecer pilu

Di antara semerbak wangi rindu


Di tepi pantai yang berbuih lara

Aku tak sanggup lagi menatap langit

Tempat di sana kau gantungkan cinta sejuta bunga

Dengan mahkota bertahta permata


Dan di ambang cakrawala yang mengambang tenang di atas kepala itu

Kembali aku menikmati manisnya luka lama yang ternyata sama

Lagu lama pun berdenting kembali di dalam hati

Mengisyaratkan bahwa mencintaimu adalah kisah yang fana


Bandung, 06 Januari 2026



  

Karma : Ritus Gelap Yang Berbisik Karya: Dassy J

Karma : Ritus Gelap Yang Berbisik

Karya: Dassy J


Karma

Tanpa disedari

kita adalah saksi mata dan saksi hidup

terhadap apa juga bentuk karma diterima.

Entah itu baik, entah itu buruk.

Entah itu terjadi kepada kita, entah itu terjadi kepada orang lain.

Kita tetap saksi kepada banyak hal.


Masih terlalu banyak hal mungkin tak kita sedari.

Entah kerana perbuatan kita, entah kerana perbuatan orang lain.

Entah kerana kita berbuat baik, entah kerana kita berbuat jahat.

Tapi setidaknya kita tahu bahawa itu semua benar adanya

benar wujudnya.

Lantas mengapa masih menerka-nerka,

“Apakah imbalan yang akan kuterima?”


Karma

sebuah sistem tabur tuai yang sahih wujudnya

namun hadir sebagai bentukyang rumit tafsirannya.

mau akui atau tidak, kita adalah bentuk karma yang akan berlaku—

entah kepada orang sekeliling, entah kepada orang jauh.

Entah itu bentuk kebaikannya, entah itu sebaliknya.


Karma

sebuah perjalanan yang terus bergerak

tak pernah berhenti hanya kerana satu tindakan

tak pernah selesai hanya kerana satu penyesalan.

Ia hidup dalam setiap pilihan yang kita buat

dalam setiap kata terlepaskan

dalam setiap diam membawa makna.


Kita

tanpa sedar menjadi penjaga cerita itu

ruang gema tempat kebaikan dan keburukan berputar

cermin pemantul segala perbuatan lampau.


Karma

bukan sekadar menunggu balasan

tetapi kesedaran bahawa setiap perbuatan

ada jejaknya, ada nadinya, ada pulangnya.

Kadang ia kembali dalam bentuk yang tak dikenali,

kadang hadir dalam wajah tak pernah disangka,

kadang menyentuh hidup dengan cara paling halus

atau paling perit.


Namun begitu

kita terus berjalan, tetap menjadi saksi

bahawa apa yang kita tanam akan tumbuh

cepat atau lambat, kecil atau besar

dalam hidup kita atau hidup orang lain.

Di situlah hikmahnya:

karma bukan untuk ditakuti

tetapi untuk difahami.

Setiap tindakan adalah lingkaran

dan kita berada di tengah-tengahnya.


Dassy J, 2025

Samparita, Kota Marudu, Sabah

25 Tahun : Belajar Jadi Anak, dan Tetap Jadi Aku Karya: Dassy J

 25 Tahun : Belajar Jadi Anak, dan Tetap Jadi Aku

Karya: Dassy J


Hai

Sudah dua puluh lima tahun di dunia

Berusaha terus mencoba untuk tetap jadi manusia.


Sadar atau tidak, masa berputar

waktu berlari begitu cepat

memaksa belajar banyak hal 

tentang kehilangan

tentang bertahan

tentang melepaskan

tentang mengikhlaskan

tentang keluarga.


Kadang aku terjebak dalam pertanyaan:

bagaimana kalau aku tidak lahir dalam keluarga ini?

Keluarga adalah segalanya

Iya, aku setuju itu.

Tapi kenapa sepertinya aku tak punya tempat bersandar?


Bukan karena tak bersyukur

hanya lelah

tak didengar

tak dimengerti

tak bisa bercerita.


Aku bahagia berada bersama mereka yang kusebut keluarga.

Senang sekali, malah.

Mereka perhatian

mereka ada

Tapi kadang, justru menjadi kasih yang melukai.


Tak boleh ini, tak boleh itu.

Aku tahu, niat mereka melindungi.

Tapi haruskah membuatku kehilangan

hak untuk berekspresi

hak untuk berpendapat

hak untuk berkekurangan

hak untuk bercerita

hak untuk menjadi diri sendiri?


Apakah menjadi keluarga harus selalu sempurna?

Aku saja masih belajar mengenali diri 

tapi terus dituntut menjadi seperti yang mereka mau

menjadi kuat

menjadi sigap

menjadi anak yang tak pernah lelah.


Kadang aku ingin berkata tidak

tidak merasa lemah

tidak kecewa

tidak diam.


Namun semua itu,

akhirnya aku sadar 

kehidupan tidak harus selalu bahagia.

Kadang ia butuh luka mengajarkan erti tekad.


Kali ini

tekadku sederhana:

membawa versi keluarga ideal menurutku

keluarga kecilku nanti di masa depan.



Dassy J, 2025

Samparita, Kota Marudu, Sabah 

HAMPARAN : Ramli Yakub

 Hamparan

Karya: Ramli Yakub


Kita bicara tentang hamparan—  

bentang sabana di bawah langit kelam,  

rumput-rumput yang bergoyang dalam diam,  

membawa kabar dari ufuk yang jauh.


Kita bicara tentang hamparan—  

tanah retak oleh terik, menanti hujan,  

jejak-jejak kuda yang hilang di batas waktu,  

dan akar yang tetap menggenggam bumi.


Namun hamparan bukan cuma tanah lapang—  

ia juga langit yang membentang biru,  

lautan yang tak pernah selesai berpantun,  

dan mimpi yang berserakan di atas batu.


Di hamparan, kita belajar membungkuk—  

mengumpulkan pecahan cahaya senja,  

menyemai kata-kata yang tumbuh dalam hening,  

menjadi puisi yang tak pernah selesai diucapkan.


Maka biarkan kita terbaring di sini,  

menjadi bagian dari hamparan yang luas—  

tubuh kita menjadi debu dan angin,  

kisah kita menjadi rumput yang abadi.

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular