Isnin, 5 Januari 2026

 BUIH YANG MENOLAK PECAH

Cerpen Warsono Abi Azzam


Aku dibesarkan di rumah yang lebih sering mendengar hujan daripada tawa. Atap sengnya berlubang di beberapa tempat, cukup untuk membuat ember-ember kecil berjajar setiap musim penghujan. Lantainya dingin, tidak hanya oleh semen yang selalu lembap, tetapi oleh kesadaran bahwa hidup kami tidak pernah benar-benar aman dari kekurangan. 

Aku belajar sejak kecil bahwa hidup tidak selalu berbentuk garis lurus. Kadang ia berkelok seperti fungsi yang tak pernah mencapai titik maksimum, hanya mendekati, lalu menjauh lagi.

Gang tempat rumahku berdiri sempit dan berliku. Dua sepeda motor berpapasan saja harus saling menahan napas. Bau minyak goreng, suara panci bertubrukan, suara televisi dari rumah tetangga, dan teriakan penjual sayur adalah musik pagi yang menemaniku sejak kecil. Di sinilah aku belajar bahwa hidup bukan soal mengejar, melainkan bertahan.

Ayahku selalu berkata, hidup ini seperti berenang di sungai keruh. Jangan banyak bergerak kalau tidak ingin tenggelam. “Hidup itu soal bertahan.” Ibuku menambahkan, “Dan soal tahu diri.”

Maka aku tumbuh menjadi lelaki yang tahu diri, yang paham batas. Yang tidak pernah mengajukan pertanyaan pada nasib, apalagi menantangnya. Sampai suatu hari, takdir mempertemukanku dengan sesuatu yang sama sekali tidak kukenal: kemungkinan.

Aku tidak pernah bercita-cita mencintai perempuan seperti Nayara.

Kami bertemu di sebuah gedung tua peninggalan kolonial, dindingnya tebal, jendelanya tinggi, dan catnya mengelupas seperti ingatan lama yang belum selesai. Gedung itu kini menjadi pusat kegiatan sosial—ironis, karena di sanalah orang-orang berbicara tentang kesetaraan di ruang yang sejak awal dibangun untuk membedakan.

Aku datang pagi-pagi, membawa map lusuh dan pulpen yang tintanya sering mogok. Tugasku sederhana: mencatat, mengatur kursi, memastikan air minum cukup. Aku hanyalah roda kecil dalam sistem yang lebih besar.

Nayara datang menjelang siang. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, seolah waktu selalu memberinya kelonggaran. Ia mengenakan pakaian sederhana—sederhana menurut standar dunia yang belum kukenal. Tubuhnya proporsional, tidak terlalu tinggi, juga tak terlampau pendek. Rambutnya diikat rapi, wajahnya bersih tanpa rias berlebihan.

Ia menghampiriku. Saat ia menyapaku, aku sempat mengira ia salah orang.

“Kamu yang mengurus relawan?” tanyanya.

Aku mengangguk, agak gugup. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Kami berbincang di sudut ruangan yang menghadap halaman. Pohon flamboyan menjatuhkan bunga merahnya seperti sisa-sisa perayaan. Sementara angin siang mengaduk bau tanah basah. Nayara bertanya tentang pekerjaanku, tentang buku yang kubaca saat menunggu acara dimulai. Tentang hujan yang mulai turun. Tentang hal-hal kecil yang biasanya luput dari percakapan orang-orang yang hidupnya penuh kesempurnaan. Bukan dengan nada basa-basi, melainkan sungguh ingin tahu.

Aku ingat betul caranya memandang: tidak dari atas, tidak dari samping, tetapi lurus. Seolah aku bukan relawan kontrak, bukan lelaki miskin, bukan angka dalam laporan kegiatan. Hanya seorang manusia.

Aku heran, sejak kapan hidupku menarik bagi orang seperti dia? Aku menjawab dengan kalimat-kalimat pendek, takut jika terlalu panjang akan terdengar membual. Namun Nayara mendengarkan seolah setiap jeda penting.

Sejak hari itu, aku pulang dengan perasaan aneh—ringan, tetapi juga takut. Di situlah, tanpa sadar, aku mulai berubah menjadi buih.

Buih adalah sesuatu yang ringan. Ia muncul ke permukaan karena dorongan dari bawah. Ia terlihat indah karena cahaya, tetapi rapuh karena hakikatnya. Aku tahu itu. Aku tahu diriku seperti itu. 

Pertemuan kami berlanjut. Kami mulai bertemu di tempat-tempat yang menjadi persilangan dua dunia: di kafe kecil di pinggir kota, tempat di mana kursi-kursi kayunya sudah aus dan meja-mejanya menyimpan bekas goresan waktu. Aku memilih tempat itu dengan terlebih dulu berhitung matang sebelum duduk: murah, tidak mencolok, tidak membuatku merasa asing.

Nayara datang tepat waktu. Ia memesan minuman yang sama denganku, meski aku tahu dari caranya memegang cangkir, ia lebih terbiasa dengan tempat lain, tempat yang jauh lebih mewah.

“Aku suka tempat seperti ini,” katanya. “Jujur, tidak berpura-pura.”

Aku tersenyum, tetapi di dalam hatiku ada getir. Bagiku, tempat seperti ini bukan soal selera, bukan tentang kejujuran, melainkan keterpaksaan.

Kami juga sering bertemu di perpustakaan umum. Gedungnya besar, tetapi usang. AC-nya terlalu dingin, rak-raknya berderit saat buku ditarik. Di sana, kami duduk bersebelahan tanpa banyak bicara, sesekali saling menunjukkan paragraf menarik.

Ia bercerita tentang hidupnya yang penuh tuntutan. Tentang keluarga yang mengukur cinta dengan prestasi dan citra. Tentang masa kecil yang dikelilingi kemewahan, tetapi miskin ruang untuk kekecewaan. Aku mendengarkan, lalu menceritakan hidupku yang sebaliknya: penuh kegagalan, tetapi kaya ketabahan.

Kami seperti dua garis yang berbeda gradien, namun entah bagaimana berpotongan di satu titik. Dan celakanya, cinta tumbuh di sana, di titik temu yang rapuh.

Aku jatuh cinta perlahan, seperti embun yang menumpuk di pucuk-pucuk tanpa disadari.

Aku mencintai caranya mendengarkan tanpa menyela. Aku suka dengan caranya diam tanpa menghakimi. Dengan caranya tertawa yang tidak menghitung siapa saja yang melihat.  Dengan caranya mengangguk, bukan karena setuju, tetapi karena mencoba memahami. Caranya bertanya balik, seolah hidupku layak digali. Namun setiap kali ia tersenyum, aku takut senyum itu hanyalah refleksi cahaya, bukan milikku dan untukku sepenuhnya.

Akan tetapi aku sadar sepenuhnya bahwa cinta ini tumbuh di tanah yang tidak rata. Perbedaan mulai terasa dari hal-hal kecil.

Ia bercerita tentang tekanan di perusahaan keluarganya, tentang rapat-rapat panjang dan ekspektasi yang tidak pernah usai. Aku mendengarkan, lalu menahan cerita tentang kontrak kerjaku yang bisa diputus kapan saja.

Ia berbicara tentang rencana liburan ke luar negeri. Aku menimpali dengan senyum, menyembunyikan fakta bahwa aku masih mencicil sepeda motor bekas.

Kami seusia, tetapi hidup kami berjalan di jalur yang berbeda, dengan kecepatan yang tidak sama. Aku mulai merasa seperti variabel asing dalam persamaan hidupnya. 

Suatu malam, aku mengantarnya pulang.

Mobilnya berhenti di depan rumah besar dengan pagar tinggi. Lampu-lampu taman menyala redup, menciptakan bayangan yang rapi. Jalanan sunyi, terlalu sunyi bagiku yang terbiasa dengan hiruk-pikuk.

Satpam membuka pintu dengan hormat.

Aku berdiri canggung di luar pagar. Dunia di dalam dan di luar pagar terasa seperti dua himpunan yang saling asing, tak pernah beririsan.

“Terima kasih,” katanya. “Aku senang hari ini.” Senyum merekah di bibir ranumnya. Manis.

Aku juga senang. Tetapi aku tidak mengatakan betapa kecilnya aku merasa di sana.

Sebaliknya, ketika Nayara datang ke rumahku, gang sempit itu memaksanya berjalan perlahan. Ia berusaha tidak menunjukkan keterkejutan.  Bau gorengan, suara televisi tetangga, dan sandal-sandal berserakan menyambutnya.

Ibuku menyambutnya dengan senyum gugup dan teh manis yang terlalu panas.  Nayara duduk di kursi plastik tanpa mengeluh, mencoba tersenyum senatural mungkin. Aku melihat matanya menyapu ruangan—bukan jijik, melainkan bingung. Seolah ia sedang membaca bahasa yang belum pernah diajarkan sebelumnya.

Cinta kami tumbuh di antara dua dunia yang tidak dirancang untuk saling memahami.

Konflik sesungguhnya datang dari luar, bukan dari antara kami.

Lingkar pergaulan Nayara mulai mengetahui keberadaanku. Aku diundang ke acara-acara yang membuatku merasa seperti variabel asing dalam persamaan mapan. Ada ruang-ruang luas berpendingin udara, percakapan tentang saham dan investasi, denting sulang gelas, dan tawa yang terukur.

Aku datang dengan kemeja terbaikku, tetapi tetap merasa tidak cukup.

Tidak ada yang berkata kasar. Justru itu yang menyakitkan. Mereka sopan, terlalu sopan. Seolah keberadaanku harus diperlakukan dengan kehati-hatian ekstra. Jujur, justru hal-hal seperti inilah yang membuatku dalam tekanan tak kasat mata. Bukan hinaan langsung, bukan larangan keras. Hanya jeda yang terlalu lama sebelum namaku diterima. Senyum yang berhenti setengah jalan. Pertanyaan-pertanyaan halus seolah menyamar sebagai kepedulian: “Kamu kerja di mana?” “Orang tuamu siapa?” Aku menjawab jujur, dan kejujuran itu terasa seperti kesalahan besar.

Aku pulang dengan perasaan tereduksi, seolah nilai diriku bisa diringkas dalam angka pada risalah dan silsilah. Aku mulai merasa bahwa cintaku adalah variabel pengganggu dalam persamaan hidup Nayara yang sudah rapi.

“Apakah aku mempersulit hidupmu?” tanyaku suatu malam.

Ia menggeleng cepat. “Tidak. Aku yang sedang belajar berani.”

Berani. Kata itu terdengar indah, tetapi juga menakutkan. Karena lazimnya keberanian selalu menuntut harga.

Tekanan memuncak ketika keluarganya mulai berbicara tentang masa depan Nayara.

Kata-kata seperti kesepadanan, stabilitas, dan realistis melayang di udara seperti angka-angka dingin. Namaku tidak disebut, tetapi aku tahu akulah subjeknya. Aku tidak marah. Aku hanya sadar: aku adalah buih yang dianggap mengganggu permukaan.

Aku menarik diri.

Aku mulai menjauh. Bukan karena berhenti mencintai, tetapi karena lelah merasa harus membuktikan keberadaanku. Aku kembali menunduk, kembali tahu diri. Bukan untuk menghukum, melainkan untuk bertahan. Aku berpikir, mungkin inilah bentuk cinta paling dewasa: melepaskan sebelum melukai lebih jauh.

Nayara merasakannya. 

Hubungan kami memasuki fase sunyi. Pertemuan jarang, percakapan pendek. Aku merasa seperti buih yang terlalu lama bertahan di permukaan, menunggu pecah.

Hingga suatu malam, hujan turun deras.

Kami bertemu di halte bus yang hampir kosong. Lampu jalan memantul di genangan air. Nayara menatapku dengan mata yang lelah.

“Kamu pergi tanpa benar-benar pergi,” katanya suatu sore. “Kenapa?”

Aku menatapnya lama. “Karena aku lelah menjadi kemungkinan yang diperdebatkan.”

Ia terdiam. Matanya berkaca, tetapi suaranya justru mengeras. “Dan aku lelah hidup sesuai persetujuan orang lain.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Nayara bukan sebagai perempuan kaya yang terjebak dalam dilema, melainkan sebagai manusia yang sedang memilih dirinya sendiri.

Perubahan tidak datang seketika. Ia datang seperti limit: mendekat perlahan, diuji oleh jarak, oleh rasa takut, oleh kegagalan kecil. Nayara mulai melawan dengan caranya sendiri. Ia berbicara kepada keluarganya, bukan dengan tangis, tetapi dengan argumen. Ia mempertahankanku bukan sebagai simbol pemberontakan, tetapi sebagai pilihan sadar.

Aku pun berubah. Aku berhenti merasa kecil. Aku bekerja lebih keras, bukan untuk mengejar kemewahan, tetapi untuk berdiri tegak di tanah pijakanku sendiri.

Waktu berjalan. Tekanan mereda, bukan karena hilang, tetapi karena kami menolak tunduk. Kami saling menunggu. Saling gagal. Saling memperbaiki.

Hingga suatu sore, ibunya Nayara datang ke rumahku.

Gang sempit yang sama. Kursi plastik yang sama. Teh manis yang sama. 

“Kalian keras kepala,” katanya. “Tapi dunia berubah karena orang-orang seperti itu.”

Aku menunduk, menahan getar. Saat itu aku mengerti: buih tidak selalu harus pecah. Kadang ia mengendap, menyatu, lalu menjadi bagian dari sesuatu yang lebih kuat.

Kami tidak menjadi pasangan sempurna. Hidup kami tetap penuh kompromi. Tetapi kami berdiri di tempat yang sama, tanpa pagar di antara kami.

Aku tidak lagi merasa harus meminta izin untuk mencintai.

Dan di situlah, akhirnya, aku memahami: aku tidak pernah benar-benar buih. Aku hanya seseorang yang lama hidup di bawah, hingga lupa bahwa permadani pun dibuat dari benang-benang kecil yang dulu tercerai.

Kami bahagia. Tidak sempurna. Tetapi nyata.


Cilacap, penghujung Desember 2025

SEKILAS BIODATA PENULIS:










Warsono Abi Azzam adalah nama pena dari Warsono, S.Pd., M.Pd. Lahir di Banjarnegara, 6 Desember 1969, bermukim di Gumilir-Kecamatan Cilacap Utara, Cilacap, Jawa Tengah. Guru Matematika di SMP Negeri 5 Cilacap yang gemar bersastra, suka membaca dan menulis puisi, cerpen, cernak, dan pentigraf. Buku puisi tunggal yang sudah terbit:  “Paradoks” (2017), “Gerimis Senja” (2019), “Gita Malam” (2019), “Sehimpun Haiku Romansa Jiwa” (2019), dan “Dua Menyatu Jiwa” (2022). Karya-karyanya selama delapan tahun terakhir juga terabadikan dalam seratus enam puluhan buku-buku antologi bersama penulis lain. 


Karya cerpen tiga paragraf (pentigraf) yang pernah diterbutkan: “Tembang Cinta dari Sebuah Jendela” (duet bersama penulis Ni’matul Khoiroh, 2020), dan “Senyum Kemenangan” (2021). Pernah mendapatkan: Juara Favorit Lomba Menulis Cerpen tema Kenangan Tahun 80-an (KGS, 2024), Juara 3 Lomba Menulis Cerpen tema Kesehatan Mental (KGS, 2025), Juara 2 Lomba Menulis Pentigraf Lagu (APH, 2023).  


Pernah mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI (Kudus, 2019), Pesta Sastra Akhir Tahun (Yogyakarta, 2021), Glamping Sastra #2 (Baturaden, 2022).  Bergiat di beberapa komunitas sastra berbasis dunia maya dan Komunitas Guru Menulis (KGuM) Kabupaten Cilacap. Dapat dihubungi melelui Telp/WA: 081542937101, FB: Warsono Abi Azzam, IG: @warsonoclp surel: warsono_clp@yahoo.co.id. 

Tiada ulasan:

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular