Ahad, 4 Januari 2026

DOA YANG TIDAK PERNAH DIMINTA LANGIT: NELLY AMALIA

Doa yang Tidak Pernah Diminta Langit

Nelly Amalia


Angin malam ini bukan dingin,

ia hanya pengingat

bahwa tubuh masih hidup

sementara hati

sudah lebih dulu membusuk.


Api di dadaku

bukan lagi cinta,

melainkan sisa bara

dari harga diri

yang kau bakar

tanpa menoleh.


Kelakianku runtuh

bukan oleh dunia,

melainkan oleh caramu

menatapku

seperti benda gagal

yang tak perlu diperbaiki.


Aku terhempas,

dan kau menyebutnya biasa.

Aku terluka,

dan kau menyebutnya lemah.


Barangkali benar,

sejak awal

aku memang diciptakan

untuk kalah.


Karena aku kekurangan,

kau permainkan harapanku

seperti anak kecil yang

merobek sayap serangga,

bukan untuk membunuh,

hanya untuk melihat

ia tak bisa terbang lagi.


Aku mencoba mengubah buih

menjadi permadani,

betapa bodohnya.

Buih ada untuk lenyap,

bukan untuk menanggung langkahmu.

Dan aku,

ada hanya untuk hancur.


Kau menyuruhku meraih bintang.

Aku bahkan tak sanggup

mengangkat kepala

tanpa merasa

menjijikkan diriku sendiri.

Langit terlalu tinggi

untuk makhluk gagal sepertiku.


Siapalah aku?

ya insan biasa,

kata paling sopan

untuk sesuatu

yang tak akan pernah cukup.

Segalanya mustahil.


Dan aku tahu itu.

Namun aku tetap jatuh cinta

kesalahan paling bodoh

yang pernah kulakukan

dengan sadar.

Kau bidadari, katanya.


Dan aku?

Lumpur yang berkhayal

ingin menjadi cahaya.

Seharusnya aku bercermin

dan berhenti berharap

sebelum tirai hati kubuka

dan menemukan

kehampaan di baliknya.


Kini tirai itu terbuka.

Tak ada apa-apa di sana.

Tidak ada cinta.

Tidak ada makna.

Tidak ada Tuhan yang turun tangan.


Hanya aku,

dan kesadaran pahit

bahwa sejak awal

aku memang

tidak pernah layak

untuk mencintaimu.

Tiada ulasan:

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular