Doa yang Tidak Pernah Diminta Langit
Nelly Amalia
Angin malam ini bukan dingin,
ia hanya pengingat
bahwa tubuh masih hidup
sementara hati
sudah lebih dulu membusuk.
Api di dadaku
bukan lagi cinta,
melainkan sisa bara
dari harga diri
yang kau bakar
tanpa menoleh.
Kelakianku runtuh
bukan oleh dunia,
melainkan oleh caramu
menatapku
seperti benda gagal
yang tak perlu diperbaiki.
Aku terhempas,
dan kau menyebutnya biasa.
Aku terluka,
dan kau menyebutnya lemah.
Barangkali benar,
sejak awal
aku memang diciptakan
untuk kalah.
Karena aku kekurangan,
kau permainkan harapanku
seperti anak kecil yang
merobek sayap serangga,
bukan untuk membunuh,
hanya untuk melihat
ia tak bisa terbang lagi.
Aku mencoba mengubah buih
menjadi permadani,
betapa bodohnya.
Buih ada untuk lenyap,
bukan untuk menanggung langkahmu.
Dan aku,
ada hanya untuk hancur.
Kau menyuruhku meraih bintang.
Aku bahkan tak sanggup
mengangkat kepala
tanpa merasa
menjijikkan diriku sendiri.
Langit terlalu tinggi
untuk makhluk gagal sepertiku.
Siapalah aku?
ya insan biasa,
kata paling sopan
untuk sesuatu
yang tak akan pernah cukup.
Segalanya mustahil.
Dan aku tahu itu.
Namun aku tetap jatuh cinta
kesalahan paling bodoh
yang pernah kulakukan
dengan sadar.
Kau bidadari, katanya.
Dan aku?
Lumpur yang berkhayal
ingin menjadi cahaya.
Seharusnya aku bercermin
dan berhenti berharap
sebelum tirai hati kubuka
dan menemukan
kehampaan di baliknya.
Kini tirai itu terbuka.
Tak ada apa-apa di sana.
Tidak ada cinta.
Tidak ada makna.
Tidak ada Tuhan yang turun tangan.
Hanya aku,
dan kesadaran pahit
bahwa sejak awal
aku memang
tidak pernah layak
untuk mencintaimu.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan