Rabu, 7 Januari 2026

ELEGIE SELAT: TIRAI YANG MENJAGA RINDU : Eduar Daud

 ELEGIE SELAT: TIRAI YANG MENJAGA RINDU

Karya: Eduar Daud


Di balik kain tipis yang ditiup angin masin, 

Aku berdiri, memahat wajahmu pada gelombang. 

Selat Melaka di luar sana adalah saksi yang dingin, 

Tentang kapal-kapal yang pulang, dan aku yang terbuang.


Kau adalah lampu suar di ujung semenanjung, 

Terang yang menuntun jung-jung megah ke pelabuhan. 

Sedangkan aku hanya biduk kecil yang terkatung, 

Takut mendekat, takut karam oleh kenyataan.


Tirai kamar ini adalah perbatasan yang suci, 

Antara rindu yang menderu dan keberanian yang mati. 

Aku mengintaimu lewat celah kayu yang mulai sungsang, 

Melihatmu bersinar, saat aku perlahan hilang dalam rembang.


Namun, Selat ini mengajarkanku tentang pasang dan surut, 

Bahwa cinta tak selamanya harus berpaut di satu dermaga. 

Meski napas tercekik dan harapan mulai kusut, 

Aku tetaplah bakau yang kokoh menjaga muara rahasia.


Aku tidak akan pecah seperti buih di atas karang, 

Meski hanya mampu memilikimu dalam bayang-bayang. 

Sebab pengagum yang paling tabah adalah dia, 

Yang membiarkan kekasihnya terbang, meski hatinya dipenjara.


Biar kelambu ini tetap tertutup separuh nyawa, 

Menjadi tirai pelindung bagi sucinya sebuah rasa. 

Di sini, di jantung Selat yang tak pernah tidur, 

Aku belajar mencintaimu tanpa harus membuatmu hancur.


Lalu biarlah rindu ini menjadi angin laut yang tenang, 

Mengelus pipimu tanpa kau tahu siapa yang datang. 

Aku akan terus menulis, di antara asin garam dan sepi, 

Bahwa mencintai dalam diam adalah kedaulatan hati yang paling tinggi.


Pekanbaru 5 Januari 2026

Tiada ulasan:

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular