Rabu, 31 Disember 2025

BUIH YANG TAHU BATAS LANGIT: ERA NURZA

 Buih yang Tahu Batas Langit

Oleh: Era Nurza 


Aku ini buih

lahir dari riak kecil

putih sekejap

sebelum harapmu memecahkanku


Kau hamparkan mimpi

seindah permadani istana

sementara langkahku

masih belajar

menjinakkan pasir dan luka


Langit menggantung bintang

tanpa tali menuju namaku

aku menengadah sebentar

lalu sadar

tak semua cahaya dicipta untuk diraih


Salahku bukan karena cinta

melainkan lupa bercermin

sebelum membuka pintu hati

kepada keanggunan

yang tak sepadan


Kini aku memilih luruh

bukan sebab kalah

melainkan karena mengerti

jarak sunyi

antara buih dan langit


Padang, Desember 2025








Penulis. Edrawati, M.Pd., dikenal dengan nama pena Era Nurza, Aktif mengikuti berbagai event kepenulisan, ia kerap meraih penghargaan Melalui komunitas literasi PERRUAS, WPM, WPI, PLS, Satu Pena, SAN, Media Guru, PPP, KISI, dan Negeri News ia terus menebarkan cahaya literasi dengan hati.




Ahad, 28 Disember 2025

JALAN SUNYI MENUJU PAGI : DILLA, S.Pd

 Jalan Sunyi Menuju Pagi

Oleh Dilla, S.Pd.

Senja di Bukittinggi mulai turun perlahan, meredam debu dan menggantungkannya di antara bukit dan atap rumah gadang. Dari balik tirai kamar, Salma mengintip dunia luar melalui celah jendela. Lampu-lampu kota yang berpendar samar, suara langkah orang lewat, dan bayangan Jam Gadang yang tak lagi tegas, kaku menemani. Semuanya terlihat dekat, tetapi terasa jauh, seolah hidup hanya boleh ia amati tanpa benar-benar disentuh.

Tirai itu sudah lama menjadi batas. Bukan sekadar kain tipis, melainkan pelindung dari beberapa kali kegagalan yang masih ia simpan rapi di dadanya. Salma duduk bersandar di dinding kamar, memeluk lutut. Di atas meja kecil, tergeletak surat penolakan yang tak pernah ia koyak. Kertas itu tipis, tetapi beratnya seperti batu. Ia pernah begitu yakin pada langkahnya, yakin bahwa mimpinya akan sampai. Namun satu kegagalan membuat semuanya runtuh, dan sejak itu ia memilih diam.

Di kepalanya, sebuah kalimat berulang pelan diputar, sebuah nasihat yang dulu terdengar sederhana, kini terasa terlalu jauh untuk digapai. Gagal bukan tanda untuk berhenti, katanya. Hanya jeda agar hati belajar lebih kuat sebelum melangkah lagi. Salma mengingatnya dengan jelas, tetapi malam ini ia belum sanggup percaya. Kata-kata itu hanya lewat, tak benar-benar ia indahkan, seperti angin yang menyentuh jendela tanpa pernah masuk ke dalam kamar.

“Kalau tidak siap jatuh, jangan terlalu tinggi bermimpi,” bisik suara yang melintas di memorinya saat disampaikan oleh seseorang dulu. Kalimat itu menempel di kepala, berulang-ulang, seperti peringatan yang terus mengintai setiap kali ia ingin melangkah. Salma tak ingat lagi siapa yang pertama kali mengucapkannya, tetapi ia ingat betul bagaimana kalimat itu membuatnya ragu seolah bermimpi adalah kesalahan yang harus dibayar mahal.

Ia anak bungsu dari keluarga sederhana di kota kecil Bukittinggi. Ayahnya, Rajo Alam, pedagang keliling yang menghabiskan hari-harinya bersama anak-anak sekolah dan tempat keramaian menjual telur gulung dengan sepeda motor yang dimodifikasi untuk berjualan. Dari ayahnya, Salma belajar bahwa tangan yang lelah tetap harus bekerja, meski hasilnya tidak selalu terlihat hari itu juga. Amaknya, Amak Ramlah, perempuan Minang yang lembut tutur katanya, tapi teguh pendirian. Perempuan yang percaya bahwa hidup harus dijalani dengan semangat dan kerja keras, bukan dengan keluhan. Beliau juga membantu suminya bekerja di rumah dengan berkedai kecil dan juga menjual bakso bakar.

Sebagai anak bungsu, Salma tumbuh dengan harapan yang pelan-pelan berubah menjadi tekad. Ia ingin mengubah nasib keluarga bukan dengan jalan pintas, tetapi dengan sekolah setinggi yang ia mampu. Ia menamatkan pendidikan di SMP favorit di kotanya lalu melanjutkan ke SMA Negeri juga, lalu merantau ke Padang untuk kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Ia percaya, ilmu dan kesabaran adalah dua bekal yang tidak akan pernah sia-sia.

Namun hidup tidak selalu sejalan dengan keyakinan. Setelah wisuda, Salma pulang membawa ijazah dan harapan yang besar. Ia mengikuti berbagai tes pekerjaan, mengirim lamaran ke banyak tempat, menunggu dengan sabar di antara hari-hari yang terasa panjang. Namun regulasi dan aturan kini tidak bisa menerima guru honorer menghambat langkah Salma. Panggilan tak kunjung datang. Dari berbagai perusahaan dan instansi lain pun datang penolakan diam-diam, tanpa suara, meninggalkan kecewa yang sulit ia ceritakan pada siapa pun.

Di situlah kesedihannya bermula. Bukan karena ia tak mau berusaha, melainkan karena usahanya seolah tak pernah cukup. Salma merasa telah melangkah sejauh mungkin, namun masih berdiri di tempat yang sama. Dan di balik tirai kamarnya, ia menyimpan semua itu lelah, kecewa, dan harapan yang mulai goyah sendirian.

Kata-kata penyemangat itu terlalu tinggi untuk digapai. Ia tahu ayah dan amaknya tidak pernah takut jatuh, tetapi ia entah sejak kapan lebih memilih berhenti sebelum mencoba. Kalimat tentang jatuh itu kembali bergaung, dan untuk sesaat, Salma membiarkannya tinggal di kepalanya, tanpa berani membantah, tanpa juga berani membenarkannya. Tetapi malam-malam belakangan ini, bertahan terasa lebih sulit daripada menyerah.

Ia pernah bermimpi menjadi guru di kampung sendiri. Mengajar anak-anak membaca dunia, bukan sekadar huruf. Ia sudah melangkah jauh belajar, berusaha, berharap. Hingga kegagalan demi kegagalan membuatnya merasa tak pantas melangkah lagi. Sejak itu, Salma memilih mengintai hidup dari balik tirai.

Pagi datang dengan udara dingin. Amak Ramlah mengetuk pintu kamar.
“Salma, ikut amak ke pasar, yuk!”

Salma ragu. Ia ingin menolak, tapi melihat wajah amak yang menunggu tanpa memaksa, ia akhirnya mengangguk.

Pasar bawah Bukittinggi selalu ramai, apalagi hari ini adalah Rabu, hari pasar di kota itu. Bau rempah, sayur basah, dan kopi hitam bercampur menjadi satu. Suara tawar-menawar saling bersahutan. Hidup berjalan apa adanya, tanpa peduli siapa yang sedang patah hati.

Di sudut pasar, ketika amak membeli bumbu di sebuah kios, seorang nenek duduk di bangku rendah. Ia menenun kain dengan alat sederhana. Tangannya keriput, tetapi gerakannya tenang. Benang demi benang disusun dengan sabar, meski sesekali kusut.

“Kainnyo rancak dan indah, Nek,” ujar Salma pelan.

Nenek itu tersenyum tanpa berhenti menenun.
“Rancak dan indah bukan karena cepat, Nak. Indah karena sabar. Kalau benang putus, disambung. Kalau kusut, diluruskan.” kata nenek tersebut.

Salma terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti mengetuk sesuatu di dalam dirinya.

Di perjalanan pulang, Salma tidak lagi menunduk. Ia memikirkan betapa ia mudah sekali menyerah hanya karena satu persatu kegagalan, seolah hidup hanya memberi satu kesempatan. Padahal dia tahu tidak penting seberapa kali kita jatuh, namun berapa kali kita bisa bangkit kembali. Dia baru menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya terus melangkah meski dengan luka yang tidak selalu terlihat.

Malamnya, Salma kembali ke kamar. Ia berdiri di depan jendela, memandangi tirai yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya. Tangannya terulur, menarik kain itu ke samping. Udara dingin masuk, membawa suara azan dari surau kecil di ujung jalan.

Untuk pertama kalinya, ia tak ingin bersembunyi.

Salma duduk di meja belajar. Ia membuka buku catatan lama halaman-halamannya kosong sejak lama. Jemarinya gemetar saat menulis kata pertama. Tentang takut. Tentang gagal. Tentang mimpi yang hampir ia lepaskan. Setiap kalimat terasa seperti menyambung benang yang sempat putus.

Hari-hari berikutnya, Salma mulai keluar kamar lebih sering. Ia membantu amak di rumah, berbincang dengan ayahnya, dan kembali menulis di malam hari. Tidak semua hari mudah. Ada saat-saat ragu kembali datang, tetapi kini ia tahu: ragu bukan tanda berhenti, melainkan tanda untuk melangkah lebih pelan.

Suatu sore, Amak Ramlah duduk di sampingnya.
“Salma, hidup urang awak itu ibarat menenun,” katanya lembut. “Tidak semua pola langsung jadi. Tapi kalau kita tinggalkan, kainnya tidak akan pernah selesai.”

Salma mengangguk pelan.  Matanya hangat. Beberapa bulan kemudian, Salma kembali mencoba. Kali ini bukan dengan keyakinan yang meledak-ledak, melainkan dengan hati yang lebih tenang. Ia tidak lagi menunggu hidup sempurna untuk melangkah. Kalimat itu sederhana, tidak menjanjikan kemudahan, hanya mengingatkan bahwa berhenti adalah satu-satunya cara untuk benar-benar gagal.

Salma mulai menulis lagi. Awalnya hanya di buku catatan lama, lalu berani mengetik dan mengirimkan tulisannya ke berbagai media. Ia menunggu dengan sabar, seperti menunggu panggilan kerja dulu. Prinsipnya, tulis, kirim, lupakan dan tunggu kejutan, sampai beberapa kejutan itu singgah di email dan nomor Wa. Tulisannya terbit, membawa kebahagiaan kecil yang lama ia rindukan. Namun, tidak sedikit pula yang kembali dengan penolakan.

Namun itu tidak membuatnya lemah dan mundur, justru menjadi penyemangat untuk terus memperbaiki tulisannya dan mengirimkan ke berbagai media dan mengikuti kompetisi. Ia belajar memperbaiki diksi, membaca ulang tulisannya dengan lebih jujur, dan terus mengasah kemampuan. Dari satu honor kecil, lalu honor berikutnya, Salma mulai percaya bahwa kata-kata bisa menjadi jalan hidup. Tidak cepat, tidak mudah, tapi nyata ia rasakan manisnya.

Perlahan, tulisannya dikenal. Ia memenangkan beberapa kompetisi menulis tidak selalu juara utama, tapi cukup untuk menguatkan langkah. Uang dari honor dan hadiah lomba tidak ia habiskan. Salma mencicil buku-buku anak, mengumpulkan bacaan yang dulu hanya bisa ia impikan. Buku-buku itu ia susun rapi di sudut rumah, dekat kedai kecil amak yang kini mulai lebih ramai.

Anak-anak di sekitar rumah sering datang. Awalnya hanya membaca, lalu duduk mendengarkan Salma bercerita. Dari sanalah taman baca kecil itu tumbuh sederhana, tanpa nama besar, tetapi hidup. Salma mengajari anak-anak membaca dan menulis, membantu mereka menemukan keberanian untuk bermimpi. Ia melihat dirinya sendiri di mata-mata kecil itu: penuh harap, tetapi sering ragu.

Tidak berhenti di situ, Salma juga mengajak remaja seusianya dan ibu-ibu di lingkungan rumah untuk belajar bersama. Ia memberi pelatihan sederhana mulai latihan menulis, menenun, dan keterampilan harian yang bisa dikerjakan di sela waktu. Amak pun ikut mengajarkan menenun, sementara kedai bakso bakar dan jajanan kecil mulai makin ramai. Orang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk belajar dan berbagi cerita. Rumah itu perlahan berubah. Bukan menjadi rumah besar, tetapi rumah yang hidup.

Nama Salma mulai dikenal. Ia diundang untuk berbagi pengalaman menulis, diminta menjadi narasumber sampai ke sekolah dan komunitas literasi di kotanya. Hingga suatu hari, sebuah panggilan datang dari almamaternya, sekolah tempat ia dulu belajar menulis memintanya kembali. Kali ini bukan sebagai murid, melainkan sebagai guru.

Salma terdiam lama saat membaca pesan itu. Ingatannya kembali pada kamar kecil, tirai yang dulu selalu tertutup, dan surat-surat penolakan yang pernah ia simpan rapat-rapat. Ia kini tersenyum kecil. Akhirnya, Salma benar-benar menjadi guru. Mengajar di sekolah, di lingkungan, dan dalam hidupnya sendiri. Ia tahu, semua itu bukan hasil langkah cepat, melainkan buah dari kesabaran dan keyakinan untuk terus berjalan.

Di Bukittinggi, di antara kabut yang masih sering turun dan pagi yang selalu datang perlahan, Salma memahami satu hal: sukses bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap melangkah meski jalan terasa sunyi. Dan tirai itu yang dulu menjadi batas kini hanya menjadi jendela. Tempat ia melihat kembali perjalanan panjangnya, dengan syukur yang tenang.

Salma berdiri lama di dekat jendela. Ia mengingat hari-hari ketika ia memilih diam, mengintai hidup dari balik tirai, takut melangkah karena khawatir jatuh lagi. Ia juga mengingat bagaimana kata-kata sederhana, kerja keras orang tuanya, dan keberanian kecil untuk mencoba menulis telah membawanya sejauh ini. Tidak cepat, tidak mulus, tapi cukup untuk mengubah caranya memandang hidup.

Ia kini tahu, hidup tidak pernah menjanjikan jalan yang lurus. Akan selalu ada kegagalan, penolakan, dan rasa lelah yang datang tanpa aba-aba. Namun selama seseorang mau bertahan, mau belajar, dan mau percaya pada proses, selalu ada ruang untuk bangkit dan menata ulang langkah.

Salma tersenyum kecil. Ia tak lagi menuntut hidup untuk sempurna. Ia hanya ingin jujur pada usahanya sendiri. Karena ia telah belajar satu hal yang tak lagi ingin ia lupakan: apa yang terlihat rapuh di permukaan sering kali justru menjadi alas paling kuat untuk berdiri. Dan dengan kesabaran, keberanian, serta cinta pada proses, jalan yang sunyi pun akan tetap mengantarnya menuju pagi.

 


Biodata Penulis

Dilla, S.Pd. adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bukittinggi yang aktif menulis cerpen, puisi, dan esai, di berbagai media massa cetak dan online. Menulis baginya adalah cara merawat makna dan menumbuhkan harapan. Boleh menghubungi penulis melalui media sosial ig @dillaspd fb Espede Dilla  dan nomor wa: 081363320742 juga email: dillaspd6@gmail.com 

Jumaat, 26 Disember 2025

BAYANGAN YANG TAK MENJADI: EYUMAN

Bayangan yang Tak Menjadi

Karya: Eyuman

Aku pernah percaya

cinta adalah janji yang akan tumbuh

seperti benih di tanah subur

menjadi pohon pelamin

menjadi teduh dalam keluarga. 


Aku menunggu buahnya

dengan hati yang penuh harap

tetapi harapan itu pecah 

yang kutemui rupanya hanyalah bayangan

indah sekejap

tidak pernah menjadi lukisan indah 

hilang sebelum sempat kucapai

kasih yang kuberi

seakan rapuh

seperti buih di permukaan air

perlahan-lahan pecah sebelum sempat kugenggam

hanya serpihan luka

yang menempel di dada.


Kini aku belajar

bahawa cinta tidak selalu kekal

bahawa janji tidak selalu benar

bahawa kasih yang tulus

kadang hanya berakhir

sebagai kenangan yang pahit.


26/12/2025


  

Biodata

Eyuman nama Pena Chong Ah Fok (PhD) mantan Timbalan Pengetua sekolah menengah dan berminat menulis karya kreatif sejak di bangku sekolah menengah atas. Menerbitkan 5 novel, 2 kumpulan cerpen, 2 kumpulan sajak 2 buku akademik sastera dan puluhan antologi bersama; bersama penulis-penulis setempat dan juga nusantara.

BICARA UNGGAS: TAUFIQ HARITH

 BICARA UNGGAS

oleh Taufiq Harith



katamu malam itu, kamu enggang 

bersama enggang, dan pipit melayang

bersama pipit lainnya


katamu malam itu, pohon tualang 

di hutanmu ialah pentas gilang

buat lagu-lagumu


katamu malam itu, ah! kaumampu

mencumbu purnama bila-bila masa


katamu, malam itu pipit mengunyah padi

dan engkau masih terbang tinggi


(dalam aku mengenal suaramu,

aku sedar itu suara-suara palsuku)


Sungai Buloh, Selangor, Malaysia


Rabu, 17 Disember 2025

KETIKA CINTA MULAI BERSEMI: AGUSTINA RAHMAN

 Ketika Cinta Mulai Bersemi

Oleh, Agustina Rahman


Ruang ujian itu terasa seperti lautan yang ditahan dalam kotak kecil, riuh, gelisah, dan penuh gelombang yang tak terlihat. Di antara puluhan wajah yang dipenuhi kecemasan, aku masuk dengan dada yang mengandung doa lebih banyak daripada udara. Hari itu adalah hari penentuan; bukan hanya tentang masa depan pekerjaan, tetapi mungkin juga tentang masa depan hatikumeski aku sama sekali belum menyadarinya.

Bau kertas ujian, derit kursi, bunyi helaan napas panjang para peserta, semuanya menyatu membentuk simfoni kegugupan. Namun dari semua itu, mataku tertumbuk pada seseorang.

Seorang lelaki duduk di baris ketiga, di samping jendela. Cahaya pagi menyelinap dari sela tirai dan jatuh tepat ke wajahnya, membuatnya tampak seperti seseorang yang sedang difoto diam-diam oleh matahari. Ia berkemeja putih sederhana, tetapi ketenangannya membuatnya terlihat berbeda. Seolah dunia yang berputar cepat di ruangan itu tidak mampu menggoyahkan garis tenang di wajahnya.

Aku tidak mengenalnya. Tapi entah mengapa, saat aku melangkah melewati kursinya, jantungku memukul dadaku dua kali lebih keras. Namanya, kelak baru kutahu, dia adalah Hendra.

Seleksi CPNS bukan hanya satu tahap. Setelah ujian tulis, ada tes wawancara yang menungguruang di mana kata-kata menjadi jembatan atau jurang.

Aku datang lebih awal pada hari wawancara, mencoba menata degup jantungku yang seperti burung kecil terjebak di dalam sangkar. Dan di sana, di kursi panjang ruang tunggu, ia duduk dengan membawa map coklat yang sama denganku, dengan tatapan yang tampak lebih tegas daripada hari sebelumnya.

Sepertinya kita sering bertemu tanpa janjian, katanya sambil tersenyum tipis.

Senyum itu membuat hatiku bergetar halus, seperti permukaan air yang tersentuh angin.

Aku duduk di sampingnya. Mungkin memang begitu jalannya. Ia tertawa kecil dan begitu ringan, namun punya daya menenangkan yang aneh. Saya Hendra.

Aku juga menyebutkan namaku. Dan sejak itu, percakapan mengalir. Tidak deras, tetapi cukup hangat untuk membuat ruang tunggu yang dingin itu terasa hangat seperti senja di halaman rumah.

Kami bercerita tentang perjalanan, alasan memilih menjadi guru, harapan yang ingin digapai. Ia bercerita tentang masa kecilnya, tentang ibunya yang ingin ia menjadi seorang pendidik. Sementara aku bercerita tentang mimpiku memiliki kelas sendiri, tempat anak-anak belajar bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang kehidupan.

Saat namaku dipanggil, ia menatapku dan berkata. Bismillah, semoga kita lolos. Biar deg-degannya tidak sendirian. Aku tersenyum. Amin.

Beberapa minggu kemudian, pengumuman kelulusan dibuka. Aku memandangi layar ponsel sambil menahan napas seolah hidupku digantungkan pada satu kata: LULUS

Dan ketika namaku muncul, tubuhku gemetar. Air mataku turun dengan cara yang tak bisa kutahanbukan hanya karena bahagia, tetapi juga lega karena perjuanganku tidak sia-sia.

Teleponku berbunyi.

Nomor tidak dikenal.

Tapi suara di baliknya sangat kukenal.

Selamat ya, ujar Hendra. Kamu lulus.

Aku senang dan menangis. Kamu juga?

Ya. Dan sepertinya kita ditempatkan di madrasah yang sama.” Dunia seakan menahan napas sejenak. Bukan hanya kebetulan. Bukan hanya pertemuan. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Seperti tangan tak terlihat yang mengatur langkah kami satu per satu.

Hari pertama mengajar, angin pagi menggoyangkan daun-daun mangga di halaman madrasah. Di gerbang, aku melihat Hendra berdiri sambil membawa map tebal. Senyumnya merekah saat melihatku.

Kita mulai bab baru hari ini, katanya. Aku mengangguk. Bab yang tidak kita tahu akan membawa ke mana. Dan ternyata benarbab itu membawa kami ke banyak jalan: ruang kelas yang dipenuhi tawa anak-anak, ruang guru dengan aroma spidol dan kertas, halaman sekolah yang menjadi saksi percakapan pendek namun bermakna.

Kami sering bertemu, sering berbicara, sering tertawa karena hal-hal kecil yang tidak penting, tetapi terasa lengkap. Cinta tidak datang dengan gegap gempita. Ia datang dalam bentuk kebiasaandalam sapa pagi, dalam titipan teh hangat, dalam tatapan singkat di balik pintu kelas.

Rasa itu mulai tumbuh seperti benih kecil yang tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di tanah, tetapi ia tumbuh karena memang itulah takdirnya.

Setahun bekerja bersama, Hendra mendatangi rumahku. Waktu itu, cahaya senja meluruhkan bayang di dinding. Ia berdiri di depan pintu rumah, membawa sekotak cokelat dan wajah gugup.

Aku ingin bicara, katanya setelah duduk. Aku menunggu. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tapi sejak seleksi itu, sejak ruang tunggu itu kamu tidak pernah benar-benar keluar dari pikiranku.

Udara tiba-tiba terasa lebih hening dari biasanya. Aku ingin melangkah lebih jauh, ucapnya pelan. Dan aku ingin langkah itu bersamamu. Tidak ada musik, tidak ada hiasan, tidak ada kata-kata berlebihan. Ia hanya berbicara dengan kejujuran yang membuat jantungku terasa sesak.

Aku menelan napas yang sejak tadi terhenti di tenggorokan. Ada getar kecil yang tak mau diam di dadaku, seperti dua suara yang saling tarik-menariksatu memintaku untuk maju, satu lagi menahanku di ambang keputusan. Jari-jariku saling menggenggam erat, dingin oleh keraguan yang tak bisa kusembunyikan. Untuk sekejap, dunia terasa hening, seakan menunggu apakah aku akan memilih keberanian atau mundur selangkah.

Ya, jawabku. 

Jawaban sederhana yang akan mengubah seluruh kisah hidupku.

Kami menikah beberapa bulan kemudian. Hari itu hujan turun pelan, seperti berkah yang dilayangkan langit. Aku menggenggam tangannya sambil merenungi perjalanan kamidari ruang ujian yang canggung hingga pelaminan yang anggun.

Tahun-tahun awal pernikahan kami dilalui dengan belajar satu sama lain. Kami menata rumah kecil itu perlahan: memilih rak buku bekas untuk ruang tamu, menanam bunga kertas di halaman, dan membagi jadwal mengajar agar selalu ada yang pulang lebih dulu menyiapkan makan malam. 

Hidup tak selalu berjalan lembutada lelah, ada salah paham, ada hari-hari ketika diam lebih panjang daripada bicara. Namun setiap persoalan selalu berujung pada percakapan yang menguatkan. Kami belajar bahwa cinta bukan sekadar perasaan, tetapi juga kerja sama.

Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami. Tangis kecilnya memecah kesunyian malam dan mengisi ruang hati kami dengan rasa yang belum pernah ada sebelumnyapercampuran antara takut, bahagia, dan syukur yang menggetarkan. Dari situlah fase baru dimulai: malam-malam tanpa tidur, botol susu yang tercecer, popok yang bergantian kami siapkan sambil tertawa lelah.

Waktu terus berlari tanpa menunggu kami siap.

Tahun-tahun berikutnya berjalan seperti halaman buku yang dibalik satu per satu. Anak kedua hadir membawa keriuhan baru, disusul anak ketiga yang lahir di tengah kesibukan kami mengajar dan membagi waktu. Hingga akhirnya, rumah kecil itu dipenuhi tawa empat anakmasing-masing dengan suara, sifat, dan cerita yang berbeda.

Kini, kadang aku berdiri di tengah rumah sambil mendengarkan riuh mereka bercampur dengan bunyi sendok di dapur dan langkah kecil yang berlarian. Setiap sudut rumah seolah menyimpan potongan waktu: tangisan bayi, langkah belajar berjalan, tawa saat belajar mengucap kata pertama, hingga doa-doa sederhana menjelang tidur.

Dalam hati, aku bertanya-tanya: bagaimana mungkin hidup yang dulu sunyi kini begitu penuh? 

Dan jawabannya selalu sama. Cinta itu tumbuhpelan tapi pasti. Ia tumbuh kuat, tumbuh megah, menaungi kelelahan dan kebahagiaan kami. Dari benih kecil di ruang ujian, ia menjadi pohon rindang yang mengiringi perjalanan hidup kami sekeluarga.

 Suatu malam, setelah anak-anak tidur, aku dan Hendra duduk di teras rumah sambil memandangi langit. Bintang-bintang begitu jernih, seolah sedang turun mendekati bumi.

Kamu ingat ruang ujian itu? tanyaku. Hendra tersenyum. Tentu. Aku bahkan ingat kamu berjalan melewati tempat dudukku dan tidak menoleh sedikit pun. Aku malu, kataku sambil tertawa pelan.

Angin malam menyapu wajah kami, membawa aroma tanah basah dan kenangan-kenangan yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Aku bersandar di bahunya. Kita sudah berjalan sangat jauh, ya? Jauh sekali, jawabnya. Dan semua itu berawal dari satu pertemuan kecil yang tidak pernah kita rencanakan.

Di bawah bintang-bintang, aku menyadari satu hal. Cinta tidak selalu datang sebagai dentuman besar yang menggetarkan dunia. Kadang, ia datang pelansekecil pertemuan di ruang ujian, sesederhana tatapan pertama, setenang percakapan singkat di ruang tunggu.

Namun pelan itu justru membuatnya bertahan lama. Dan dari sanalah, hidup kami tumbuh. Bersemi, berbuah, mengakar,  menjadi rumah, dan akhirnya menjadi rumah tangga.

Makassar, 10 Desember 2025

BIONARASI

Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar sejak tahun 2000 - sekarang. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru Mapel Bahasa Indonesia 2023 pada Kementerian Agama. Guru Berprestasi dalam Madrasah Award MAN 2 Kota Makassar (2023 dan 2024), Guru Teraktif dalam Pengembangan Diri (2025). Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigraf Terbanyak (2025), Best Practice Cahaya Madrasah Menerangi Negeri (2025), Kumpulan Fiksi Mini Jawa tapi Betawi (2025), Antologi Cerpen Sahabat Sepanjang Cerita (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.


PELABUHAN TERAKHIR: NURUL HUDA

 PELABUHAN TERKHIR

Oleh Nurul Huda Bakhtiar 


    "Aku hanya takut terlalu tinggi memupuk angan.

Sebab, jatuh sendirian adalah sakit yang disengaja. Sementara kau berpesta di atas deritaku tanpa iba."

Hari ini adalah sidang terakhir, sejak keputusan berat itu menjadi pemutus ikatan yang dulu begitu diagungkan. Hakim sudah mengetok palu keputusan, sepasang manusia yang dulunya saling cinta, kini hanya tinggal cerita masa lalu. Cerita yang tak seorangpun ingin menjadi tokoh utama di dalamnya.


Elsa menarik napas panjang, keputusannya untuk berpisah dari Pandu, adalah yang terbaik. Setelah berpikir dan menimbang baik buruknya. Ia akan menyandang status janda, status yang dianggap sebagian orang sebagai momok menakutkan. Anak semata wayangnya, Akbar, yang tak paham urusan rumit orang tuanya, menjadi korban keegoisan sang ayah. Anak yang baru belajar berjalan itu, telah kehilangan kasih sayang.


Lepas dari neraka pernikahan yang melilit kewasan yang menyesakkan dada. Sejak malam itu, dimana ia mendapati suaminya berselingkuh bersama wanita masa lalu, yang ternyata belumlah seutuhnya sudah. Cinta mereka kembali membara, membakar malam-malam jahanam dengan berbagi peluk paling nista. Jurang menganga lebar dalam biduk rumah tanggannya.


Bukan Pandu saja yang durjana, tapi sepaket dengan kelakuan ibu mertuanya, yang selalu ikut campur, menjadi garam di atas luka yang digoreskan putranya. Lengkap sudah alasan Elsa mengakhiri pernikahan yang baru seumur jagung itu.


Elsa adalah perempuan setia, yang dididik dengan tuntunan agama dari kedua orang tuanya yang seorang kyai besar dari Gunung Sago. Elsa juga pengajar di salah satu padepokan di kota, tempat ia melanjurkan pendidikan sarjananya. Jago bela diri juga. Tetapi, dasar Pandu yang tidak pandai bersyukur, hingga godaan sang mantan, membuat mereka meluncur deras ke jurang perceraian. 


Lupa bahwa di rumah, ada seorang wanita yang selalu menunggunya dengan setia, dengan doa-doanya yang melangit, agar sang kepala keluarga baik-baik saja di luaran sana. Namun, kesetiaan yang dulu terucap lantang, kini ternoda, karena hadirnya orang ketiga, yang katanya lebih seksi  dan lebih mempesona di mata lelaki yang masih berstatus suami. Alasan ia bosan melihat Elsa dengan pakaian yang serba tertutupnya.


Lalu bila hal seperti itu sudah berulangkali terjadi, sekali dua kali dimaafkan, lalu berjanji tak akan mengulangi, namun kesekian kali dipergoki, dengan perempuan yang sama. Wanita mana yang tahan, wanita mana yang sudi diperlakukan demikian, lebih baik memilih mundur dan menarik diri dari kehidupan bersama, yang akan selalu menorehkan luka, memilih mengakhiri ikatan yang tak lagi ada kebersamaan di dalamnya, hampa. 


Sesekali ia ingin menghajar sang suami dengan jurus-jurus ringan, akan tetapi ia tak mau mengotori tangannya, hanya demi seorang penghianat seperti suaminya itu. Membuangnya ke tempat semestinya mungkin lebih baik.


Kini ia bebas dari jerat nestapa, ikatan itu sudah lepas dan tidak lagi membelenggunya. Sesaat rasa sepi sempat mengganggu hari-hari yang dilaluinya, namun mempunyai sahabat yang selalu menyemangati, wajah yang tadinya layu bagai bunga tak disiram hujan, kini kembali berseri. Tak terasa sudah berbilang tahun, ia menjalani kesendirian, rasa sunyi dan hampa kini hilang sudah.


Hingga di suatu hari, sahabatnya Bella, mengenalkannya pada seorang pria, teman kakaknya Tio.


    "Elsa, kenalkan ini mas Tegar, dan mas Tegar ini Elsa." Bella mengenalkan mereka satu sama lainnya.


    "Elsa."

    "Tegar."


Mereka saling menyebutkan nama dan berjabat tangan. Setelah bicara menanyakan ini itu, maka terkuaklah kisah masa lalu, yang mana mereka adalah tetangga dekat waktu masih tinggal di Ciputat dulu. Elsa sering di culik ibunya Tegar ke rumah mereka, karena tidak ada anak perempuan. Ibu Tegar begitu menyayangi Elsa kecil. Mamanya Elsa dan ibunya Tegar adalah dua sahabat yang sama-sama hebohnya. Yang satu tidak punya anak perempuan, yang satunya lagi, tidak ada anak laki-laki. Seru dan lucu saja kisah mereka dulunya.


Bila Tegar sedang di rumah Elsa, maka ayahnya Elsa akan mengajari Tegar ilmu-ilmu beladiri, lengkap dengan jurus-jurusnya. Hingga Tegar terbentuk menjadi pribadi santun, yang digilai banyak wanita. Hidup di Turki tak membuatnya hanyut dalam pergaulan bebas. Hingga ia pulang ke tanah air.


Dulu, saling menculik anak sudah hal yang tidak mengherankan lagi bagi suami kedua perempuan itu. Tegar di rumah Elsa, Elsa di rumah Tegar. Hingga Tegar pindah ke Turki diboyong ayahnya, sejak saat itu mereka tidak lagi terhubung satu dengan yang lain. 

Tegar membawa rasa cintanya, dengan kesetiaan menjaga harkat dan martabatnya, sebagai lelaki sejati.


Tegar yang sejak dari kedatangannya ke pesta sabahatnya Tio itu, sudah terpesona dengan Elsa, wanita itu begitu cantik dengan kebaya pink baby nya. Serasi sekali dengan wajahnya yang di rias natural. Sesekali ia mencuri pandang di sela pembicaraanya dengan sahabat yang lain. Dan ia pun mendengar cerita dari Bella, tentang kisah masa lalu wanita yang diam-diam sejak dulu dicintainya dalam kesunyian. Yang ternyata Wanita itu adalah gadis berlesung pipi, yang sering bertukar tempat dengannya dulu. Gadis berkepang dua, yang pipinya selalu memerah bila kena cahaya matahari.


Singkat cerita, dua tahun sejak perceraian Elsa dan Pandu, Tegar datang melamarnya. Ia tak ingin berlama-lama dalam hal ini karena umurnya yang tidak lagi dalam masa bermain main. Pria matang itu membawa Elsa Damayanti ke pelaminan. Dengan tekad dan restu orang tua, Elsa menerima pinangan Tegar. Lelaki campuran Turki Medan itu, akhirnya telah sah menjadi suaminya.


    "Aku adalah bunga yang dibuang di jalanan, kemudian kau datang memungutnya, membawanya ke jambangan terindah di hatimu, menjadikanku ratu. Bagaimana tidak bersyukurnya aku, memilikimu, duhai suamiku, Bang Tegar Armagan." Elsa berkata dalam hati.


Terkadang apa yang pergi, tidak melulu menyakitkan, Melepaskan tidak selalu dibarengi pedih akibat luka yang digoreskan. Bukankah sebutir intan yang berkilau, terlahir dari begitu hebatnya tekanan, hingga menjadikannya kuat.


    "Terimakasih sudah menerimaku, tuntunlah aku menjadi istri yang sholehah." Elsa memandang wajah suaminya lembut.


    "Tentu, mantan adik tersayangku." Tegar mencubit lembut pipi istri cantiknya itu.


    "Kita sama-sama belajar, ingatkan aku bila ada hal yang tidak berkenan di hatimu." Tegar kembali bicara.


Begitulah kisah Elsa yang disia-siakan suaminya, lalu kembali dipertemukan Sang Pencipta dengan lelaki yang mungkin saja cinta pertamanya. Hidup bahagia itu adalah pilihan, memampukan bangkit dari keterpurukan dan tidak berlama-lama hanyut dalam kesedihan. Pun begitu dengan Tegar. Sejauh apa perjalan yang sudah ia jalani, pada akhirnya berlabuh juga di dermaga yang sudah di siapkan Tuhan untuknya. Sungguh Tuhan Maha Baik pada umatNya.


Di tahun kedua pernikahan mereka, Elsa melahirkan sepasang anak kembar yang sehat dan menggemaskan. Rumah mereka semakin semarak oleh tangis dan tingkah lucunya. Akbar, anak Elsa dengan Pandu juga sangat menyayangi kedua adiknya.


    "Ibu, apakah ibu dan ayah akan tetap menyayangiku, meski sudah ada adik-adik ini?" Akbar bertanya suatu pagi kepada ibu dan ayah sambungnya.


    "Tentu, Nak. Kasih sayang kami tak akan pernah berubah kepadamu. Meski nanti lahir lagi adik-adikmu yang lain." Tegar menjawab sambil membawa Akbar ke dalam pelukannya.


    "Terima kasih, Ayah." Akbar memeluk erat Tegar.


Oya, Nak, mari kita lanjutkan latihanmu, biar kelak kau menjadi jagoan paling keren bagi adik-adik kesayanganmu itu. Ayoo.."

Tegar berusaha mencairkan suasana yang sedikit tegang tadi.


Dada Elsa seketika menghangat melihat bagaimana Tegar memperlakukan sang anak. Akbar yang haus akan kasih sayang seorang ayah, menjadi begitu bahagia. Ia menjadi anak yang patuh dan taat kepada orang tuanya. Menghormati Tegar, sebagaimana ibunya ajarkan. Kadang Akbar membantu ibunya mengganti popok sang adik. Atau memijat lembut kepala Tegar kala mereka sedang bersantai di ruang keluarga.


Setahun kemudian, Elsa dan Tegar sepakat membangun Rumah Terapi yang diperuntukkan bagi anak-anak pecandu obat-obat terlarang. Mereka dalam pengawasan orang-orang pilihan, yang didatangkan dari padepokan sang ayah. Mereka juga diajarkan dasar-dasar kehidupan, ilmu beladiri dan ilmu berdagang untuk bekal mereka kelak jika sembuh dari ketergantungan. Sudah banyak yang berhasil hidup layak. Bahkan ada beberapa dari mereka menjadi pengusaha yang cukup disegani di luaran sana. Karena ketekunan dan kerja keras, serta tekad yang kuat untuk tak lagi tergoda barang haram. 


Di suatu senja yang damai, tiba-tiba berita menggemparkan itu di sampaikan seseorang yang saat itu datang melihat anaknya yang sedang menjalani masa pemulihan. Elsa sedang melatih anak-anaknya di halaman belakang rumah mereka. Bahwa sang mantan suaminya, ayahnya Akbar, di temukan sekarat di sebuah kamar hotel di tengah kota. Kabar yang tidak saja memalukan, tetapi juga memilukan. Bagaimana tidak, sang mantan diketaui habis pesta narkoba dan over dosis bersama sang kekasih. Mereka sudah dilarikan ke rumah sakit.


Bagaimana Elsa memberi tahu Akbar?. Mengingat selama ini ia selalu bercerita bahwa sang ayah sedang bertugas jauh. Tak sedikitpun ia menjelekkan Pandu. Meski memang Pandu tak pernah bertanya tentang anaknya, apalagi memberi nafkah. Pandu hanyut dalam pesta neraka dunia yang ia ciptakan dengan kesadaran.


Hingga suatu hari, kedua orang tua Pandu mendatangi Elsa di Rumah Pemulihan. Meminta tolong agar mau merawat Pandu yang kecanduan.

Aduhaii.. 

Bagaimana Elsa bersikap seharusnya. Mengingat begitu jahatnya sang mantan mertua di masa lalu.

Tetapi, jiwa Elsa begitu lapang. Ia memaafkan masa lalunya.


    "Baiklah, Tante, saya akan bicarakan dulu dengan suami saya." Elsa menjawab datar. Dan mantan mertuanya ini, tak sedikitpun bertanya kabar sang cucu. Tetapi ya sudahlah, ia tak terlalu berharap.


Pandu selamat, meski dirawat cukup lama di rumah sakit.  Setelah dibolehkan pulang, ia harus menjalani rehabilatasi. Namun, malang bagi sang kekasihnya, nyawanya tak bisa diselamatkan.  Ia wafat tak lama setelah tiba di rumah sakit. 


"Mas, tadi pagi, neneknya Akbar datang ke sini. Beliau minta tolong padaku. Bagaimana menurut mas?" Elsa meminta pendapat sang suami.


    "Sayang, kenapa ragu. Kita kan sudah sepakat akan membantu siapa saja. Mas percaya padamu. Jadi tidak usah ragu. Kita hadapi bersama ya." Tegar mengusap lembut kepala perempuan berwajah teduh itu.


Hingga Pandu dinyatakan sehat, dan Akbar pun mau mendekatkan diri kepada sang ayah.

    "Maafkan ayah, Nak." Pandu tak dapat menahan air mata yang sejak tadi ditahannya.

    "Maafkan ayah." Lelaki yang dulu mengabaikan sang anak, kini terbenam dalam penyesalan yang dalam.


Tegar menepuk lembut pundaknya. "Sudah, Bro. Kita sebagai manusia tak luput dari salah dan khilaf.


    "Terimakasih, telah mau membantu lelaki jahat ini, bro. Semoga keluargamu senantiasa selalu bahagia dan dalam lindungan Allah.

Aku pamit ya. Sekali lagi titip Akbar. Kau memang pantas menjadi ayahnya.


Assalamualaikum 


Tanah Putih, 12 Desember 2025



BIONARASI

Namaku, Nurul Huda Bakhtiar, seorang penulis dan pecinta sastra yang masih terus belajar, mengembangkan diri dan berdedikasi. Dengan hobi menulis, telah menghasilkan berbagai karya tulis yang menginspirasi dan memberikan dampak positif bagi pembaca. Saya akan terus mengembangkan bakat dan berbagi pengalaman melalui tulisan-tulisan, yang semoga saja bermamfaat bagi orang banyak.


Senang berada di sini, terima kasih.

Salam doa dari Bumi Sriwijaya


SAAT CINTA BERSEMI DI PERSIMPANGAN TAKDIR: ZAMRI

 SAAT CINTA BERSEMI DI PERSIMPANGAN TAKDIR

Nukilan: Zamri H. Jamaluddin (Brunei)


Udara malam di pinggiran kota itu dingin dan bening, membawa aroma lembut bunga kenanga yang ditanam di sepanjang jalan Taman Riadah. Di sebuah bangku kayu bercat putih yang menghadap ke tasik yang tenang, Yusof duduk seorang diri. Tempat itu telah lama menjadi persinggahan wajibnya, sebuah ruang jeda selepas bekerja sebelum pulang ke rumah yang kian terasa asing.


Cahaya bulan memantul di permukaan air tasik, seolah menyimpan rahsia sunyi yang sama dengan hatinya. Pakaian kerjanya masih rapi, menandakan dia baru sahaja menamatkan satu lagi syif tambahan. Sejak sekian lama, hubungan Yusof dengan isterinya, Maya, membeku tanpa kata. Rumah yang sepatutnya menjadi tempat kembali bertukar menjadi ruang tanpa kehangatan.


Yusof memilih untuk memanjangkan waktu kerja. Pulang awal hanya menyajikan kebisuan yang memenatkan jiwa. Maya lebih banyak mengurung diri bersama anak-anak, dan komunikasi antara mereka sekadar mesej ringkas tanpa emosi, tentang jadual kerja, keperluan rumah, atau urusan anak-anak. Tiada lagi perbualan hati ke hati, tiada tawa, apatah lagi keintiman emosi sebagai pasangan hidup.


Namun Yusof tetap bertahan. Bukan kerana cinta yang masih menyala, tetapi kerana tanggungjawab. Maya tidak bekerja, dan Yusof adalah satu-satunya sandaran ekonomi keluarga. Demi anak-anak, dia menelan perit yang tidak terlihat oleh sesiapa.

Malam itu, Yusof tidak sendirian.


Beberapa meter darinya, seorang wanita berdiri memandang tasik, membelakangi dunia. Seolah-olah dia juga sedang mencari jawapan dalam riak air yang tenang.

Wanita itu Aisyah, ibu kepada tiga orang anak. Beban yang dipikulnya tidak kurang berat, malah mungkin lebih menghimpit. Seorang penjawat awam, Aisyah menambah pendapatan dengan menjual kuih dan menerima tempahan jahitan demi menampung keperluan keluarga. Suaminya, Malik, berpendapatan tidak menentu dan sering meletakkan segala kesalahan di bahu Aisyah.

Di sebalik wajahnya yang tampak cekal, tersimpan luka yang tidak mudah disembuhkan. Rumah yang sepatutnya menjadi tempat berlindung sering berubah menjadi ruang yang menyesakkan jiwa. Namun seperti Yusof, Aisyah bertahan, demi anak-anaknya, demi amanah yang digalasnya sebagai seorang ibu.


Aisyah menoleh perlahan apabila menyedari kehadiran Yusof. Pandangan mereka bertaut. Dalam sekelip mata, mereka saling mengenali satu perasaan yang sama, keletihan, dan kerinduan akan sesuatu yang telah lama hilang.


    “Indah malam ini, ya?” sapa Yusof, suaranya tenang.

Aisyah tersenyum kecil. “Ya. Damai. Seolah-olah dunia berhenti seketika.”

Yusof mempersilakannya duduk. “Kadang-kadang, rumah yang sepatutnya menjadi tempat pulang… menjadi tempat yang paling sunyi.”


Kata-kata itu menyentuh tepat ke dasar hati Aisyah. “Sunyi yang paling menyakitkan,” balasnya perlahan, “ialah sunyi bersama keluarga sendiri.”


Perbualan mereka mengalir tanpa dipaksa. Yusof berkongsi tentang dinginnya perkahwinannya, tentang rasa tidak dihargai meskipun telah memberi segalanya. Aisyah pula menceritakan perjuangannya sebagai isteri dan ibu yang sering terpaksa menahan lelah sendirian.


Semakin lama mereka berbicara, semakin jelas persamaan takdir yang mengikat mereka. Dua jiwa yang terperangkap dalam perkahwinan yang retak, mencari ruang untuk bernafas.


Cahaya bulan menjadi saksi, dan angin malam membawa rasa tenang yang tidak mengghairahkan, tetapi menenangkan. Mereka menemukan sesuatu yang lama hilang, didengar dan difahami.


    “Susah bila kita dah beri yang terbaik, tapi tetap tidak dipedulikan,” ujar Yusof.

Aisyah mengangguk. “Rasa seperti hidup untuk semua orang, kecuali diri sendiri.”


Perasaan itu hadir perlahan, halus, tanpa dirancang. Bukan sekadar simpati, tetapi satu getaran yang lahir daripada rasa saling melengkapi. Yusof melihat ketabahan dalam diri Aisyah, sementara Aisyah merasakan kelembutan dan tanggungjawab dalam diri Yusof, sesuatu yang asing, namun mendamaikan.

Namun kesedaran itu datang bersama dilema. Mereka masing-masing terikat dengan janji suci.


    “Kita tidak boleh menafikan kenyataan,” kata Yusof akhirnya. “Kita ada keluarga, ada amanah.”

Aisyah menarik nafas panjang. “Saya tahu. Perasaan ini… ujian.”


Mereka sedar, cinta yang bersemi itu bukan untuk dimiliki, tetapi untuk difahami. Mungkin pertemuan itu bukan untuk menyatukan, tetapi untuk menguatkan.

    “Allah tidak menemukan kita tanpa sebab,” ujar Yusof perlahan. “Mungkin untuk mengingatkan bahawa kebahagiaan itu wujud, dan kita masih mampu memperbaiki hidup masing-masing.”


Aisyah tersenyum, matanya berkaca. “Mungkin inilah cara Tuhan memberi cahaya, bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk kembali dengan lebih kuat.”


Malam itu menjadi pertemuan terakhir mereka di bangku kayu Taman Riadah.

Angin berhembus lebih dingin dari biasa, seolah membawa firasat yang tidak terucap. Yusof dan Aisyah duduk bersebelahan, namun jarak di antara mereka terasa lebih jauh daripada sebelumnya. Bukan kerana hati yang menjauh, tetapi kerana kesedaran yang semakin mendekat.

    “Entah kenapa malam ini terasa lain,” ujar Aisyah perlahan, memandang tasik yang memantulkan cahaya bulan yang tidak sempurna.


Yusof mengangguk. “Mungkin kerana kita sudah terlalu lama berdiri di persimpangan. Dan setiap persimpangan… menuntut pilihan.”


Aisyah tersenyum hambar. Di dadanya, cinta itu masih hidup, tenang, dalam, dan jujur. Namun dia tahu, tidak semua cinta ditakdirkan untuk diperjuangkan dengan memiliki.


    “Ada perasaan yang indah,” kata Aisyah, suaranya hampir berbisik, “kerana ia hadir tepat pada masanya. Tapi ada juga perasaan yang menjadi salah… jika kita membawanya lebih jauh.”


Yusof menunduk. Kata-kata itu menampar lembut jiwanya. Dia menyedari, kehadiran Aisyah telah menyelamatkannya daripada keputusasaan, tetapi juga mengujinya pada batas yang paling rapuh.


    “Kita bukan bertemu untuk saling melukakan keluarga masing-masing,” ujar Yusof akhirnya. “Kita bertemu untuk diingatkan bahawa hati kita masih hidup.”

Air mata Aisyah gugur tanpa diseka. “Dan bahawa kita masih mampu memilih yang benar, walaupun menyakitkan.”


Mereka diam lama. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan. Hanya keheningan yang sarat makna, keheningan dua insan yang memilih untuk berpisah dengan cara yang terhormat.


    “Aisyah,” kata Yusof dengan suara yang stabil walau hatinya bergetar, “jika suatu hari nanti awak teringat saya, ingatlah bukan sebagai lelaki yang mencuri kebahagiaan awak… tetapi sebagai seseorang yang pernah mendoakan awak dari jauh.”

Aisyah mengangguk, tersenyum di sebalik air mata. “Dan awak, Yusof… akan saya ingat sebagai seseorang yang mengajar saya bahawa saya layak dihargai, walaupun bukan oleh awak.”


Mereka bangkit serentak. Tidak ada janji untuk bertemu lagi. Tidak ada pertukaran nombor. Mereka memilih untuk memutuskan benang sebelum ia menjadi jerat.


Di persimpangan jalan itu, mereka berpisah arah.

Yusof melangkah pulang dengan langkah yang lebih berat, namun hatinya lebih jujur. Dia tahu, jalan memperbaiki rumah tangganya mungkin panjang dan sukar, atau mungkin berakhir dengan keputusan yang adil dan bermaruah. Tetapi dia pulang sebagai lelaki yang kembali sedar akan amanahnya.


Aisyah pula berjalan menuju hidupnya dengan dada yang luka, namun penuh cahaya. Dia tahu, pertemuan itu telah menguatkannya untuk berdiri, sama ada mempertahankan perkahwinannya dengan batas yang jelas, atau memilih jalan yang lebih selamat untuk dirinya dan anak-anak, dengan restu dan pertimbangan Ilahi.


Bangku kayu itu kembali kosong.

Namun di situlah cinta pernah bersemi, bukan untuk dimiliki, tetapi untuk mengajar makna keikhlasan, pengorbanan, dan keberanian memilih kebenaran. Kerana ada cinta yang paling tinggi nilainya bukan ketika ia digenggam, tetapi ketika ia dilepaskan demi redha Tuhan. Dan pada perpisahan itulah, takdir mereka menjadi lebih jujur.


TAMAT

Jumaat, 12 Disember 2025

CINTA BERSEMI DI SAAT ITU

 CINTA BERSEMI DI SAAT ITU

  Lia Rick

Kepada hati yang berbunga,daripada perasaan cinta yang sedang bersemi.Masihkah segar di ingatanmu tentang kita?Dan masihkah kekal semua memori manis itu?Saat cinta bersemi senyuman sering terukir.Setiap bait kata yang dilontar pastinya indah menusuk kalbu.

 Aku duduk di beranda sambil menonton drama kegemaranku melalui aplikasi Youtube.Udara dingin di pagi hari membuat aku merasa nyaman.Seketika fikiranku melayang mengimbas masa lampau.Hari di mana aku akhirnya menemui peneman hidupku yang masih setia di sisiku sehingga ke hari ini.

   Lapan tahun yang lalu...Hari itu,aku baru saja menyelesaikan tugasan aku yang terakhir.Aku melangkah keluar dari perkarangan pejabat.Malam itu cuaca sangat dingin.Aku memeluk tubuh sambil melepaskan keluhan.Aku hanya berjalan kaki menuju ke arah rumah sewa yang jaraknya hanya lapan kilometer dari pejabat.Rakan sekerjaku yang lain sering menegur aku supaya tidak kerap berjalan kaki apabila pulang ke rumah.”Kenapa kau kerap sangat berjalan kaki?Maxim kan ada.Sekarang ni zaman canggih,selagi ada duit semua jadi mudah di hujung jari”.Itulah salah satu kata-kata yang pernah dilontarkan kepada aku.

Aku suka berjalan kaki kerana merasa nyaman dengan udara segar di waktu malam.Aku sering melayan perasaan sendiri yang mungkin sudah lelah tetapi masih sedang berjuang mencari di mana letaknya kebahagiaan diriku.

Malam itu, aku menghadiahkan diriku masakan yang enak.Sedang aku menikmati masakan diri sendiri,telefon aku tiba-tiba berdering.Aku melihat nama mama terpapar pada skrin.Aku terus menjawab panggilan tersebut. “Helo Ma..”

 “Ati bila kamu nak mohon cuti? Jangan lupa Jumaat nanti hari jadi papa.Mama nak kita semua kumpul sama-sama.Dah lama sangat kamu dan adik-beradik tak balik kampung”.Mama terus maluahkan apa yang terbuku dalam hati sekaligus menyatakan tujuannya menelefon aku malam itu.Aku hanya memberitahu mama yang aku akan memohon cuti rabu nanti.

Aku sebenarnya rasa rimas nak balik kampung.Salah satu sebabnya aku tak tahan dengan mulut mak cik aku yang sorang ni.Tak habis-habis nak ceramah tentang jodoh,cinta dan banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan perkahwinan .Tetapi aku tetap akan sabar dan tahan kemarahan  setiap kali dia buka mulut.Aku tidak mahu keluarga menganggap aku bersifat kurang ajar.Bila aku fikir balik umur aku baru 28 tahun,awal sangat nak berumah tangga apatah lagi aku masih perlukan masa untuk sembuhkan hati.Tambahan pula seluruh ahli keluarga aku tak pernah memaksa untuk aku hidup berumah tangga.

Pagi menjelma lagi.Aku menjalani rutin harianku seperti biasa terutamanya bekerja.Inilah diriku ketika ini.Aku pada masa kini yang masih menyimpan luka lama untuk dijadikan alasan menghadapi hidup mandiri.

Sudah lama aku terjerat dengan perjalanan hidupku yang cacau.Sesekali aku mempersoalkan perasaan ini.Apa aku memang tidak bisa jatuh cinta atau aku hanya berwaspada dengan perasaan cinta?Tapi aku masih ingat bagaimana rasanya perasaan itu.Perasaan yang dikurniakan kepada semua manusia.Perasaan cinta.Cinta yang sejati adalah angan setiap insan yang sudah merasakan pahitnya menempuh perjalanan mencari kebahagiaan saat perasaan itu bersemi.Namun apakan daya, kita hanyalah manusia tidak punya kuasa untuk mengubah takdir sendiri.Orang kata biar masa yang menentukan.

Aku tiba di pejabat lebih awal hari ini.Kebiasaanya aku akan tiba di pejabat tepat pada masa yang ditetapkan.Perutku berkeroncong kerana lapar.Aku mengatur langkah menuju ke kafe.Setibanya aku di kafe aku mempercepatkan langkah kerana tidak mahu makanan kegemaranku laris terjual.

“Hai kak!” aku menyapa Kak Shaz salah seorang pekerja di kafe tersebut.Aku memang akrab dengan Kak Shaz. Belum sempat aku membuka bicara Kak Shaz memintas dengan pantas. “Nah!”Kak Shaz menhulurkan sebuah kotak bungkusan makanan kepadaku.

“Wah!Thank you kak.”  Aku menyambut bungkusan makanan tersebut dengan penuh rasa gembira.Aku bertanya kepada Kak Shaz berapa jumlah yang aku perlu bayar.Kak Shaz hanya menjawab soalan aku dengan senyuman penuh makna lalu berkata “Tak perlu bayar.Hari ini akak belanja.” Aku mengukirkan senyuman. “Betul ke ni kak?” Kak Shaz hanya mengangguk.Aku pun terus mengucapkan terima kasih lalu beredar pergi.

Setibanya aku di ruangan kerja,aku terus menyantap makanan kegemaranku.Ayam goreng dan sambal nasi lemak yang sangat menggoncang seleraku.Tiba-tiba, salah seorang rakan sekerjaku meluru ke arah aku. “Vian kenapa hari ni banyak sangat kau beli ayam goreng?Aku pun tak sempat beli tau.” Aku hanya menjongketkan bahu sambil menikmati makanan tersebut.

Serra seorang lagi rakan sekerjaku yang duduk di sebelah aku terus menyampuk. “Vian kau tak cakap pun kau ada pakwe!”katanya.Aku terkejut mendengar perkataan ‘pakwe’ terlontar dari bibirnya dan aku tersedak.Dengan pantas Serra menghulurkan sebotol air mineral kepadaku.Aku meneguk air tersebut perlahan-lahan.Ketika aku sudah stabil aku menenangkan diri lalu bertanya kepada Serra, “Mana kau dapat berita tak sahih ni?”.Serra dan rakan sekerjaku saling berpandangan kemudian mengalihkan semula pandangan mereka kepada aku.

Kemudian Serra pun membuka cerita bagaimana dia mendapat berita tak sahih tersebut.Aku menumpukan perhatian sepenuhnya kepada Serra mengabaikan rasa laparku yang sebentar tadi sudah mulai susut. “Macam ni Vian...” Serra membuka bicara. “Masa aku beratur kat kafe tadi,ada sorang mamat ni.Dia pesan ayam goreng 6 ketul.Kak Shaz pun tanyalah dekat mamat tu kenapa makan banyak sangat.Aku rasa mamat tu macam tak biasa makan banyak.Lepastu,dia minta Kak Shaz bungkus ayam tu.Tapi dia pesan kat Kak Shaz untuk bagi bungkusan ayam tu kat kau.” Aku diam seketika .Entah mengapa tiba-tiba selera makan aku juga hilang.

 “Aku anggap lelaki tu pakwe kau sebab macam dia tahu banyak pasal kau.” Serra berkata lagi.Aku hanya membisu menutup semua persoalan yang mulai merayap dalam fikiranku.Apakah mudah untuk cinta bersemi sekali lagi di hatiku ini?Entah mengapa aku terus memikirkan tentangnya.

Aku duduk di hadapan komputer ribaku menyelesaikan tugasan terakhir untuk malam itu.Setelah menyelesaikan tugasan aku terus mengatur langkah untuk pulang.Aku singgah di sebuah kedai serbaneka untuk membeli beberapa makanan ringan.Setelah selesai memilih beberapa jenis makanan ringan aku beratur untuk membuat pembayaran.Ketika tiba giliranku untuk membayar,aku memandang sekilas wajah juruwang.Tanpa sedar aku memandang lagi wajahnya buat kali kedua.

Juruwang yang sedar akan pandangan Cerly terus melambaikan tangan tepat di hadapan wajahnya.Cerly yang tersedar akan lambaian itu terus mengukir senyum.Kemudian juruwang itu berkata “Tajam betul pandangan puan tadi.Macam nak tembus muka saya ni.” Aku tertunduk malu.Padanlah diriku ditegur sedemikian.Aku hanya tersenyum janggal ketika juruwang itu berkata begitu.Aku terus membayar semua makanan ringan yang dibeli dan beredar dengan cepat.Juruwang hanya memerhati Cerly beredar dari kawasan kedai.

   Setibanya aku di rumah,aku terus mencampakkan semua makanan ringan yang aku beli lalu menghempaskan diri ke sofa.Malam itu aku melelapkan mata dengan bayangan wajah si juruwang.Entah mengapa wajah itu tidak terasa asing.Apakah dia dari masa laluku?Aku bertanya kepada diri sendiri.Keesokan harinya,setelah tamat waktu bekerja aku bergegas ke kedai serbaneka yang sama.

 Aku mulai teringat identiti sebenar kelibat juruwang tersebut.Ketika aku tiba di kedai aku terus menemui juruwang tersebut lalu bertanya “Maaf nama awak Mindarlo kan?” Juruwang itu menatap aku sambil menghadiahkan senyuman kepadaku. “Nampaknya kita ni memang jodoh kan?” dia bertanya.Aku hanya tersenyum tipis.Aku masih ingat pertama kali aku bertemu dengan Mindarlo.Ketika itu,aku sedang berjalan kaki menuju ke kampus namun aku terlupa membawa kad namaku tetapi dengan tiba-tiba dia datang dan menyerahkan kad namaku.

Sejak kejadian itu,aku sering meluangkan masa bersamanya.Tetapi hubungan kami tidak berubah ke arah cinta tetapi lebih terarah kepada hubungan persahabatan kerana aku sudah jatuh cinta pada orang lain.Namun akhirnya, setelah tamat pengajian tinggi aku dan Mindarlo terpisah atas alasan perkerjaan.Dan kisah cinta aku dengan orang yang sudah mencuri hatiku hancur lebur kerana perselisihan yang sering terjadi.

 Mindarlo tersenyum lebar melihat kehadiran Cerly. ‘Aku tahu kau akan jumpa aku lagi’ getus hatinya.Tanpa diketahui oleh Cerly dia diam-diam memendam perasaan kepadanya.Mindarlo hanya menunggu masa yang sesuai untuk meruntuhkan tembok trauma dalam diri gadis kesayangannya itu.Mindarlo tahu telah tiba masanya untuk dia membina kepercayaan gadis itu.

 Pada hari-hari berikutnya,Mindarlo sudah mula mengejar gadis itu.Setiap hari dia menghubungi gadis itu bertanya bagaimana hari yang Cerly lalui,dia juga sering memberikan gadis itu hadiah dan sentiasa cuba menjadikan dirinya tempat untuk gadis itu bersandar meluahkan segala apa yang dihadapi.

Bagi Cerly pula,dia mula merasakan perasaan itu lagi.Perasaan yang pernah menghancurkan kepercayaannya untuk memulakan hubungan baru.Dari mana datangnya perasaan yang mulai datang tanpa diundang ini?Apa yang pasti perasaan itu kini bersemi lagi kerana kehadiran insan yang amat dia rindui selama ini.Dia perasaan akan hubungan dia dan Mindarlo yang semakin ke arah perhubungan yang lebih rapat.Apakah persahabatan ini akhirnya akan menjadi ikatan yang kita duga?

Pagi itu telefonku berdering.Aku melihat nama yang terpapar di skrin.Aku menjawab panggilan itu, “Selamat pagi Pa...”.Aku fokuskan pendengaran kepada suara papa di seberang sana.Papa yang menelefon pagi itu bertanya khabar dan ingin menyimpan masa untuk berbual dengan diriku.Sebagai anak,aku pasti akan sentiasa melayani ahli keluarga dengan baik.Selesai sahaja perbualan kami pagi itu aku meminta izin untuk menutup panggilan itu dan bergegas untuk pergi bekerja.  

 Seperti biasa setelah tamat masa bekerja aku akan singgah ke kedai serbaneka tempat Mindarlo bekerja.Sejak aku merasakan perasaan ini,ingin saja aku melihat dirinya dan berada di sampingnya sepanjang masa.Tetapi aku masih tidak pasti jika dia juga ada perasaan yang sama.

Sebaik sahaja aku masuk ke dalam kedai aku terus menoleh ke arah kaunter pembayaran.Aku melihat Mindarlo yang masih melayan pelanggan.Aku berjalan ke arah peti sejuk lalu mengambil sekotak minuman berperisa lalu berjalan ke arah kaunter untuk melakukan pembayaran.Aku meletakan minuman tersebut di atas kaunter.Mindarlo tersenyum lalu mengambil minuman tersebut untuk di imbas.

“Awak sengaja nak bagi saya kerja lebih masa?” dia mula membuka bicara.Aku tersengih sambil menghulurkan beberapa keping wang kertas untuk membayar minuman yang aku beli.Dia menyelesaikan pembayaran itu dengan cepat.Kemudian,dia berjalan masuk ke bilik staf.Seorang lelaki keluar dari ruangan staf tersebut. ‘Mungkin dia menggantikan Mindarlo’ aku bermonolog.

Beberapa minit kemudian Mindarlo keluar dari bilik staf. “Malam ni saya teman awak balik ya?” katanya. “Syif awak memang dah habis atau awak minta kawan awak gantikan?” aku bertanya.Dia tersenyum lalu menjawab “Syif saya dah habis sayangku...”.Aku tersentak seketika.Biar betul? Baru tadi dia panggil aku dengan panggilan sayang.

“Jom!Kita balik.” Dia menarik tanganku membawa aku keluar dari kedai.Semasa dalam perjalanan balik,kami berdua saling membisu melayani perasaan masing-masing.Tetapi ketika tiba di pertengahan jalan, “Awak...” dia memanggil aku.Aku menoleh ke belakang lalu bertanya “Ada apa ni?”.Dia mengeluarkan sehelai sapu tangan dari poketnya lalu meminta agar aku menutup mataku menggunakan sapu tangan tersebut.Aku mulai berdebar. “Awak kita masih kat tepi jalan ni.Tak boleh ke tunggu sampai kat depan pagar rumah nanti?” aku mulai meluahkan kegusaran kepada dia.

“Awak tutuplah dulu mata awak dengan sapu tangan tu.” Dia mengulangi permintaannya.Aku mengeluh kemudian menutup mata dengan menggunakan sapu tangan tersebut. “Tapi awak jangan macam-macam tau!Siap awak saya kerjakan kalau awak cuba buat apa-apa yang tak elok.” Aku memberi amaran kepada dirinya. “Ya.Tapi saya nak awak tutup mata sekejap je.” Dia menjawab.Aku hanya terpaku dengan mata tertutup.

Tidak lama kemudian, “Awak dah boleh buka mata.” Dia berkata.Aku dengan pantas membuka sapu tangan di mataku.Ketika aku membuka mata,Mindarlo sudah berdiri dihadapanku sambil memegang jambangan bunga dan sebentuk cincin. “Cerly...lama saya tunggu saat ini.Sudikah awak menjadi suri hati saya yang pertama dan terakhir,menemani susah senang saya serta mencintai saya seikhlas hati awak?” Dia melamar aku!Aku terkesima lalu berkata “Hebat betul pawana cinta awak ni kan? Runtuh tembok kebal dalam diri saya ni.” Aku mengambil cincin dari tangannya dan menyarungkan di jari manisku.

“Saya sudi dan berharap awak juga sudi jadi peneman hidup saya sehingga maut memisahkan kita.” Mindarlo tersenyum lebar kerana itulah perasaan yang sungguh indah.Dia merasakan bunga-bungaan mekar indah di dalam hatinya.

“Sayang...kenapa jauh sangat fikiran awak melayang?” tanya Mindarlo yang kini bergelar suami kepada diriku.Aku tersenyum sambil mengambil lalu mengenggam erat tanganya. “Saya teringat masa mula-mula cinta kita berputik.” Aku berkata sambil tersenyum.Aku akhirnya menemui kebahagiaan diriku.

 Ketika dua hati yang sama bertemu di masa yang tepat cinta pasti akan bersemi di saat itu.Semua terasa indah ketika cinta beralun menjadi irama yang syahdu.Cinta itu adalah idaman semua yang menerima erti cinta dengan penuh penghayatan.Tanpa ragu berpaut pada satu hati yang akan menjadi harta terindah.Cinta bersemi tidak akan pernah terurai menjadi punah selagi tiada badai yang menghempas.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

(1882 PATAH PERKATAAN)






BIODATA PENULIS

Nama:Cartika Rickson

Umur:19 Tahun

Tempat Lahir:Hospital Kota Marudu,Kota Marudu,Sabah

Tarikh Lahir:02 November 2006

Hobi:Membaca,Melukis,Menari,Menyanyi

Sekolah Terdahulu:Sekolah Menengah Kebangsaan Tandek,Tandek ,Kota Marudu ,Sabah.

Maklumat lain :Suka menulis cerpen dan sajak,pernah menyertai sayembara menulis cerpen anjuran perpustakaan Majlis Bandaraya Shah Alam(MBSA),juga merupakan bekas pelajar bidang Sastera semasa bersekolah menengah.








 

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular