PELABUHAN TERKHIR
Oleh Nurul Huda Bakhtiar
"Aku hanya takut terlalu tinggi memupuk angan.
Sebab, jatuh sendirian adalah sakit yang disengaja. Sementara kau berpesta di atas deritaku tanpa iba."
Hari ini adalah sidang terakhir, sejak keputusan berat itu menjadi pemutus ikatan yang dulu begitu diagungkan. Hakim sudah mengetok palu keputusan, sepasang manusia yang dulunya saling cinta, kini hanya tinggal cerita masa lalu. Cerita yang tak seorangpun ingin menjadi tokoh utama di dalamnya.
Elsa menarik napas panjang, keputusannya untuk berpisah dari Pandu, adalah yang terbaik. Setelah berpikir dan menimbang baik buruknya. Ia akan menyandang status janda, status yang dianggap sebagian orang sebagai momok menakutkan. Anak semata wayangnya, Akbar, yang tak paham urusan rumit orang tuanya, menjadi korban keegoisan sang ayah. Anak yang baru belajar berjalan itu, telah kehilangan kasih sayang.
Lepas dari neraka pernikahan yang melilit kewasan yang menyesakkan dada. Sejak malam itu, dimana ia mendapati suaminya berselingkuh bersama wanita masa lalu, yang ternyata belumlah seutuhnya sudah. Cinta mereka kembali membara, membakar malam-malam jahanam dengan berbagi peluk paling nista. Jurang menganga lebar dalam biduk rumah tanggannya.
Bukan Pandu saja yang durjana, tapi sepaket dengan kelakuan ibu mertuanya, yang selalu ikut campur, menjadi garam di atas luka yang digoreskan putranya. Lengkap sudah alasan Elsa mengakhiri pernikahan yang baru seumur jagung itu.
Elsa adalah perempuan setia, yang dididik dengan tuntunan agama dari kedua orang tuanya yang seorang kyai besar dari Gunung Sago. Elsa juga pengajar di salah satu padepokan di kota, tempat ia melanjurkan pendidikan sarjananya. Jago bela diri juga. Tetapi, dasar Pandu yang tidak pandai bersyukur, hingga godaan sang mantan, membuat mereka meluncur deras ke jurang perceraian.
Lupa bahwa di rumah, ada seorang wanita yang selalu menunggunya dengan setia, dengan doa-doanya yang melangit, agar sang kepala keluarga baik-baik saja di luaran sana. Namun, kesetiaan yang dulu terucap lantang, kini ternoda, karena hadirnya orang ketiga, yang katanya lebih seksi dan lebih mempesona di mata lelaki yang masih berstatus suami. Alasan ia bosan melihat Elsa dengan pakaian yang serba tertutupnya.
Lalu bila hal seperti itu sudah berulangkali terjadi, sekali dua kali dimaafkan, lalu berjanji tak akan mengulangi, namun kesekian kali dipergoki, dengan perempuan yang sama. Wanita mana yang tahan, wanita mana yang sudi diperlakukan demikian, lebih baik memilih mundur dan menarik diri dari kehidupan bersama, yang akan selalu menorehkan luka, memilih mengakhiri ikatan yang tak lagi ada kebersamaan di dalamnya, hampa.
Sesekali ia ingin menghajar sang suami dengan jurus-jurus ringan, akan tetapi ia tak mau mengotori tangannya, hanya demi seorang penghianat seperti suaminya itu. Membuangnya ke tempat semestinya mungkin lebih baik.
Kini ia bebas dari jerat nestapa, ikatan itu sudah lepas dan tidak lagi membelenggunya. Sesaat rasa sepi sempat mengganggu hari-hari yang dilaluinya, namun mempunyai sahabat yang selalu menyemangati, wajah yang tadinya layu bagai bunga tak disiram hujan, kini kembali berseri. Tak terasa sudah berbilang tahun, ia menjalani kesendirian, rasa sunyi dan hampa kini hilang sudah.
Hingga di suatu hari, sahabatnya Bella, mengenalkannya pada seorang pria, teman kakaknya Tio.
"Elsa, kenalkan ini mas Tegar, dan mas Tegar ini Elsa." Bella mengenalkan mereka satu sama lainnya.
"Elsa."
"Tegar."
Mereka saling menyebutkan nama dan berjabat tangan. Setelah bicara menanyakan ini itu, maka terkuaklah kisah masa lalu, yang mana mereka adalah tetangga dekat waktu masih tinggal di Ciputat dulu. Elsa sering di culik ibunya Tegar ke rumah mereka, karena tidak ada anak perempuan. Ibu Tegar begitu menyayangi Elsa kecil. Mamanya Elsa dan ibunya Tegar adalah dua sahabat yang sama-sama hebohnya. Yang satu tidak punya anak perempuan, yang satunya lagi, tidak ada anak laki-laki. Seru dan lucu saja kisah mereka dulunya.
Bila Tegar sedang di rumah Elsa, maka ayahnya Elsa akan mengajari Tegar ilmu-ilmu beladiri, lengkap dengan jurus-jurusnya. Hingga Tegar terbentuk menjadi pribadi santun, yang digilai banyak wanita. Hidup di Turki tak membuatnya hanyut dalam pergaulan bebas. Hingga ia pulang ke tanah air.
Dulu, saling menculik anak sudah hal yang tidak mengherankan lagi bagi suami kedua perempuan itu. Tegar di rumah Elsa, Elsa di rumah Tegar. Hingga Tegar pindah ke Turki diboyong ayahnya, sejak saat itu mereka tidak lagi terhubung satu dengan yang lain.
Tegar membawa rasa cintanya, dengan kesetiaan menjaga harkat dan martabatnya, sebagai lelaki sejati.
Tegar yang sejak dari kedatangannya ke pesta sabahatnya Tio itu, sudah terpesona dengan Elsa, wanita itu begitu cantik dengan kebaya pink baby nya. Serasi sekali dengan wajahnya yang di rias natural. Sesekali ia mencuri pandang di sela pembicaraanya dengan sahabat yang lain. Dan ia pun mendengar cerita dari Bella, tentang kisah masa lalu wanita yang diam-diam sejak dulu dicintainya dalam kesunyian. Yang ternyata Wanita itu adalah gadis berlesung pipi, yang sering bertukar tempat dengannya dulu. Gadis berkepang dua, yang pipinya selalu memerah bila kena cahaya matahari.
Singkat cerita, dua tahun sejak perceraian Elsa dan Pandu, Tegar datang melamarnya. Ia tak ingin berlama-lama dalam hal ini karena umurnya yang tidak lagi dalam masa bermain main. Pria matang itu membawa Elsa Damayanti ke pelaminan. Dengan tekad dan restu orang tua, Elsa menerima pinangan Tegar. Lelaki campuran Turki Medan itu, akhirnya telah sah menjadi suaminya.
"Aku adalah bunga yang dibuang di jalanan, kemudian kau datang memungutnya, membawanya ke jambangan terindah di hatimu, menjadikanku ratu. Bagaimana tidak bersyukurnya aku, memilikimu, duhai suamiku, Bang Tegar Armagan." Elsa berkata dalam hati.
Terkadang apa yang pergi, tidak melulu menyakitkan, Melepaskan tidak selalu dibarengi pedih akibat luka yang digoreskan. Bukankah sebutir intan yang berkilau, terlahir dari begitu hebatnya tekanan, hingga menjadikannya kuat.
"Terimakasih sudah menerimaku, tuntunlah aku menjadi istri yang sholehah." Elsa memandang wajah suaminya lembut.
"Tentu, mantan adik tersayangku." Tegar mencubit lembut pipi istri cantiknya itu.
"Kita sama-sama belajar, ingatkan aku bila ada hal yang tidak berkenan di hatimu." Tegar kembali bicara.
Begitulah kisah Elsa yang disia-siakan suaminya, lalu kembali dipertemukan Sang Pencipta dengan lelaki yang mungkin saja cinta pertamanya. Hidup bahagia itu adalah pilihan, memampukan bangkit dari keterpurukan dan tidak berlama-lama hanyut dalam kesedihan. Pun begitu dengan Tegar. Sejauh apa perjalan yang sudah ia jalani, pada akhirnya berlabuh juga di dermaga yang sudah di siapkan Tuhan untuknya. Sungguh Tuhan Maha Baik pada umatNya.
Di tahun kedua pernikahan mereka, Elsa melahirkan sepasang anak kembar yang sehat dan menggemaskan. Rumah mereka semakin semarak oleh tangis dan tingkah lucunya. Akbar, anak Elsa dengan Pandu juga sangat menyayangi kedua adiknya.
"Ibu, apakah ibu dan ayah akan tetap menyayangiku, meski sudah ada adik-adik ini?" Akbar bertanya suatu pagi kepada ibu dan ayah sambungnya.
"Tentu, Nak. Kasih sayang kami tak akan pernah berubah kepadamu. Meski nanti lahir lagi adik-adikmu yang lain." Tegar menjawab sambil membawa Akbar ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, Ayah." Akbar memeluk erat Tegar.
Oya, Nak, mari kita lanjutkan latihanmu, biar kelak kau menjadi jagoan paling keren bagi adik-adik kesayanganmu itu. Ayoo.."
Tegar berusaha mencairkan suasana yang sedikit tegang tadi.
Dada Elsa seketika menghangat melihat bagaimana Tegar memperlakukan sang anak. Akbar yang haus akan kasih sayang seorang ayah, menjadi begitu bahagia. Ia menjadi anak yang patuh dan taat kepada orang tuanya. Menghormati Tegar, sebagaimana ibunya ajarkan. Kadang Akbar membantu ibunya mengganti popok sang adik. Atau memijat lembut kepala Tegar kala mereka sedang bersantai di ruang keluarga.
Setahun kemudian, Elsa dan Tegar sepakat membangun Rumah Terapi yang diperuntukkan bagi anak-anak pecandu obat-obat terlarang. Mereka dalam pengawasan orang-orang pilihan, yang didatangkan dari padepokan sang ayah. Mereka juga diajarkan dasar-dasar kehidupan, ilmu beladiri dan ilmu berdagang untuk bekal mereka kelak jika sembuh dari ketergantungan. Sudah banyak yang berhasil hidup layak. Bahkan ada beberapa dari mereka menjadi pengusaha yang cukup disegani di luaran sana. Karena ketekunan dan kerja keras, serta tekad yang kuat untuk tak lagi tergoda barang haram.
Di suatu senja yang damai, tiba-tiba berita menggemparkan itu di sampaikan seseorang yang saat itu datang melihat anaknya yang sedang menjalani masa pemulihan. Elsa sedang melatih anak-anaknya di halaman belakang rumah mereka. Bahwa sang mantan suaminya, ayahnya Akbar, di temukan sekarat di sebuah kamar hotel di tengah kota. Kabar yang tidak saja memalukan, tetapi juga memilukan. Bagaimana tidak, sang mantan diketaui habis pesta narkoba dan over dosis bersama sang kekasih. Mereka sudah dilarikan ke rumah sakit.
Bagaimana Elsa memberi tahu Akbar?. Mengingat selama ini ia selalu bercerita bahwa sang ayah sedang bertugas jauh. Tak sedikitpun ia menjelekkan Pandu. Meski memang Pandu tak pernah bertanya tentang anaknya, apalagi memberi nafkah. Pandu hanyut dalam pesta neraka dunia yang ia ciptakan dengan kesadaran.
Hingga suatu hari, kedua orang tua Pandu mendatangi Elsa di Rumah Pemulihan. Meminta tolong agar mau merawat Pandu yang kecanduan.
Aduhaii..
Bagaimana Elsa bersikap seharusnya. Mengingat begitu jahatnya sang mantan mertua di masa lalu.
Tetapi, jiwa Elsa begitu lapang. Ia memaafkan masa lalunya.
"Baiklah, Tante, saya akan bicarakan dulu dengan suami saya." Elsa menjawab datar. Dan mantan mertuanya ini, tak sedikitpun bertanya kabar sang cucu. Tetapi ya sudahlah, ia tak terlalu berharap.
Pandu selamat, meski dirawat cukup lama di rumah sakit. Setelah dibolehkan pulang, ia harus menjalani rehabilatasi. Namun, malang bagi sang kekasihnya, nyawanya tak bisa diselamatkan. Ia wafat tak lama setelah tiba di rumah sakit.
"Mas, tadi pagi, neneknya Akbar datang ke sini. Beliau minta tolong padaku. Bagaimana menurut mas?" Elsa meminta pendapat sang suami.
"Sayang, kenapa ragu. Kita kan sudah sepakat akan membantu siapa saja. Mas percaya padamu. Jadi tidak usah ragu. Kita hadapi bersama ya." Tegar mengusap lembut kepala perempuan berwajah teduh itu.
Hingga Pandu dinyatakan sehat, dan Akbar pun mau mendekatkan diri kepada sang ayah.
"Maafkan ayah, Nak." Pandu tak dapat menahan air mata yang sejak tadi ditahannya.
"Maafkan ayah." Lelaki yang dulu mengabaikan sang anak, kini terbenam dalam penyesalan yang dalam.
Tegar menepuk lembut pundaknya. "Sudah, Bro. Kita sebagai manusia tak luput dari salah dan khilaf.
"Terimakasih, telah mau membantu lelaki jahat ini, bro. Semoga keluargamu senantiasa selalu bahagia dan dalam lindungan Allah.
Aku pamit ya. Sekali lagi titip Akbar. Kau memang pantas menjadi ayahnya.
Assalamualaikum
Tanah Putih, 12 Desember 2025
BIONARASI
Namaku, Nurul Huda Bakhtiar, seorang penulis dan pecinta sastra yang masih terus belajar, mengembangkan diri dan berdedikasi. Dengan hobi menulis, telah menghasilkan berbagai karya tulis yang menginspirasi dan memberikan dampak positif bagi pembaca. Saya akan terus mengembangkan bakat dan berbagi pengalaman melalui tulisan-tulisan, yang semoga saja bermamfaat bagi orang banyak.
Senang berada di sini, terima kasih.
Salam doa dari Bumi Sriwijaya