Jejak Cahaya di Lorong Pengabdian
Karya: Agustina Rahman
Tahun 1998, langit Makassar kerap dilanda mendung. Jalan-jalan ramai oleh kendaraan yang lalu lalang, namun hatiku dipenuhi keraguan. Gelar sarjana pendidikan baru saja kugenggam, tetapi jalan menuju mimpi masih terasa kabur, masih abu-abu. Aku ingin menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.
Awalnya aku diterima mengajar di sebuah sekolah menengah pertama sebagai guru honor. Rasanya seperti berdiri di antara jurang harapan dan kenyataan. Gaji yang kuterima tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi membantu keluarga. Meski begitu, aku tetap berangkat setiap pagi dengan semangat dan penuh rasa syukur. Bagiku, ilmu yang kutanam di dada murid-murid jauh lebih berharga daripada sekadar angka rupiah.
Namun hidup selalu menuntut kesanggupan bertahan. Aku butuh tambahan penghasilan. Tak lama kemudian, seorang kenalan mengajakku ke sekolah yayasan Bhayangkari. Di sana, aku kembali mengajar, membagi ilmu pada wajah-wajah muda yang haus pengetahuan. Aku juga dipercaya menjaga perpustakaan, ruang sunyi dengan rak-rak buku yang seakan bernapas, menunggu disentuh dan dihidupkan kembali oleh para pembaca. Dari balik meja kayu sederhana itu, aku bukan hanya guru, tetapi juga penjaga gerbang pengetahuan.
Selain mengajar, aku juga menjadi tempat bersandar bagi mahasiswa yang berjuang menyelesaikan skripsi. Mereka datang membawa tumpukan kertas dan segunung kebingungan. Aku menyimak, memberi arahan, lalu melihat mata mereka berbinar ketika satu persatu bab tersusun. Dari situlah aku memperoleh rupiah tambahan, sedikit demi sedikit, cukup untuk bertahan hidup.
Hari-hariku padat. Pagi diisi mengajar di satu sekolah, siang berlari ke sekolah lain, malam membantu mahasiswa menulis skripsi. Lelah itu nyata, tetapi aku menjalaninya dengan ikhlas. Setiap lembar kertas yang kusentuh seakan menjadi saksi bahwa aku masih bertahan, masih berjuang.
Di ruang guru, aku sering berbincang dengan sesama guru honor. Wajah-wajah mereka tak jauh berbeda denganku: penuh semangat namun dibalut kegelisahan. Kami tertawa bersama meski isi dompet tipis. Kami saling menguatkan, seperti ranting-ranting kecil yang saling menopang agar tak patah diterpa angin.
Suatu siang, kepala sekolah masuk membawa kabar yang membuat jantungku berdetak kencang.Tahun ini dibuka penerimaan CPNS, termasuk formasi guru, ucapnya. Ruangan hening. Mata para guru honor menatap satu sama lain, seakan sinar baru menembus awan mendung. Itu bukan sekadar pengumuman; itu adalah kesempatan emas yang lama kami tunggu.
Aku pulang dengan langkah ringan, meski hati penuh gelisah. Malam itu, di kamar sederhana, aku berbisik pada diriku sendiri: Inilah saatnya. Jika ingin masa depan yang lebih pasti, aku harus berani mengambil langkah.
Keesokan harinya, kususun berkas-berkas pendaftaran dengan hati-hati. Setiap lembar kertas bagai mozaik harapan: ijazah, transkrip nilai, surat keterangan sehat. Semua kuperiksa berulang-ulang. Sempat ada kegelisahan karena aku belum memiliki KTP padahal itu salah satu syarat utama. Untungnya, panitia masih memberi kelonggaran; keterangan domisili kutambahkan sebagai pengganti. Ketika akhirnya kuantar berkas-berkas itu ke tempat pendaftaran di detik-detik penutupan. Aku merasa lega, seolah satu beban berat telah terangkat.
Di ruang pendaftaran, suasana tampak riuh namun teratur. Kursi-kursi plastik berderet, penuh oleh wajah-wajah yang sama tegangnya denganku. Beberapa sibuk merapikan map, ada pula yang berbisik-bisik mengulang doa. Panitia duduk di balik meja panjang, menumpuk berkas-berkas yang semakin tinggi. Saat giliranku tiba, jantungku berdegup lebih cepat. Tanganku sedikit bergetar ketika menyerahkan map hijau itu. Petugas menatap sejenak pada keterangan domisili yang kuselipkan, lalu mengangguk pelan. Baik, berkas diterima, katanya singkat. Hanya dua kata itu, tetapi bagiku terasa seperti kunci yang membuka pintu harapan.
Namun, kegelisahan kembali menyeruak ketika kutahu bahwa formasi untuk program studiku hanya menyediakan satu kursi. Bayangkan, satu kursi untuk ribuan pelamar yang sama-sama berjuang keras meraih mimpi. Rasanya seperti harus berlari di lintasan yang panjang, sementara garis finish tampak begitu jauh, nyaris tak terlihat. Aku seolah berpacu dengan waktu, dengan nasib, bahkan dengan diriku sendiri. Di benakku terbayang, betapa tipisnya peluang itu, namun justru di situlah ujian terbesar: apakah aku akan berhenti karena rasa gentar, atau tetap melangkah meski harus menantang ketidakpastian.
Tahap pertama, seleksi administrasi, kulalui dengan lancar. Namun itu hanyalah gerbang awal dari perjalanan panjang yang menanti. Kini tiba saatnya menunggu ujian tertulis, sebuah tahap yang akan menentukan siapa yang masih bisa melangkah dan siapa yang harus berhenti di tengah jalan.
Pagi itu, aku melangkah masuk ke ruangan ujian dengan hati yang berdebar. Derap langkah para peserta lain, suara kursi bergeser, hingga tatapan penuh harap dari wajah-wajah asing di sekelilingku, semuanya menambah beban yang kian menekan dada. Rasanya udara pun ikut menegang, seolah-olah ruangan itu menyimpan ribuan doa yang saling berdesakan.
Ketika lembar soal akhirnya dibagikan, aku menatapnya lama, seakan kertas putih itu berubah menjadi batu berat yang menghimpit. Aku menarik napas panjang, menutup mata sejenak, lalu berdoa dalam hati agar diberi kekuatan. Saat pena kugerakkan, setiap nomor terasa bukan sekadar soal, melainkan sebuah pertarungan antara keyakinan dan keraguan, antara harapan dan rasa takut.
Waktu berjalan begitu cepat, namun di kepalaku setiap detik seperti berdetak keras, mengingatkanku bahwa inilah medan ujian sesungguhnya. Dan di tengah ketegangan itu, aku hanya bisa percaya, bahwa setiap goresan jawaban adalah langkah kecil menuju garis finish yang tak pernah berhenti kupandangi dari kejauhan.
Beberapa minggu kemudian, kabar pengumuman hasil ujian mulai terdengar dari mulut ke mulut. Belum ada internet saat itu; tak ada kemudahan membuka layar ponsel dan menemukan kepastian dalam hitungan detik. Satu-satunya cara adalah mendatangi langsung kantor wilayah, tempat semua harapan dan kecemasan para pelamar bertumpuk menjadi satu.
Perjalanan menuju ke sana terasa begitu panjang, meski jaraknya tak seberapa. Di sepanjang jalan, hatiku dipenuhi doa yang terus berulang, seolah-olah setiap langkah kaki adalah lantunan harapan yang kupanjatkan kepada sang pencipta.
Setibanya di depan papan pengumuman, degup jantungku nyaris pecah. Mataku menyapu ratusan nama dengan cemas, baris demi baris seperti menari di depan pandangan. Dan tiba-tiba, pandanganku terhenti: namaku tercetak jelas di sana. Seketika air mataku mengalir diam-diam. Alhamdulillah, ucapku lirih, penuh haru. Aku berhasil lolos ke tahap berikutnya, sebuah langkah baru dalam perjalanan panjang yang masih menyimpan banyak ujian. Namun di balik itu semua, ada keyakinan yang makin kuat: bahwa doa, usaha, dan kesabaran selalu menemukan jalannya.
Rasa syukur membuncah, tetapi perjalanan belum benar-benar selesai. Di ujung jalan menanti litsus atau penelitian khusus yang konon dihelat aparat TNI. Dalam imajinasiku, seragam hijau menjelma dinding kokoh, tatapan mata tajam bagai pisau yang menelusuri isi dada. Aku merasa kecil, seakan langkahku bisa terhenti kapan saja, namun justru di sanalah nyali diuji.
Hari itu tiba. Di Bakortanasda, antrean panjang menunggu. Para pelamar duduk gelisah, sebagian berbisik lirih. Saat namaku dipanggil, langkahku terasa berat. Aku masuk ke ruangan, duduk di hadapan seorang pewawancara berseragam. Pertanyaan meluncur cepat, menohok, dan kujawab dengan hati-hati. Setiap kata seolah menentukan jalan hidupku. Usai wawancara, aku keluar dengan napas terengah, seakan baru saja melewati ujian terbesar dalam hidup.
Hari-hari berikutnya kuisi dengan doa yang tak pernah putus. Setiap kali salat, aku memohon dengan sepenuh hati agar langkah ini dimudahkan dan diberi jalan terbaik. Dalam sujudku, terbayang wajah kedua orang tuaku yang selalu mendoakan dari jauh, meski tak pernah mereka ucapkan langsung. Doa mereka terasa sampai di sini, harapan mereka adalah semangatku, membuatku tak berani menyerah. Aku tahu, keberhasilanku kelak bukan hanya milikku sendiri, tetapi juga hadiah kecil bagi mereka yang telah berkorban tanpa pamrih.
Akhirnya, hari pengumuman yang kutunggu dengan cemas tiba. Namaku tercetak jelas di Harian Fajar, seolah huruf-huruf itu memantulkan cahaya harapan yang selama ini kujaga. Saat membacanya, tanganku bergetar hebat, tak kuasa menahan rasa haru yang menyeruak dari dada. Air mata pun jatuh tanpa bisa kutahan, menyapu segala lelah, resah, dan doa-doa panjang yang pernah kuucapkan. Aku lulus. Aku resmi diterima sebagai guru PNS, sebuah pencapaian yang dulu terasa begitu jauh, kini nyata dalam genggaman.
Aku sujud, membiarkan lantai dingin menyerap air mata kebahagiaan. Aku segera menulis surat untuk orang tua, mengabarkan kabar gembira itu. Aku bisa membayangkan senyum mereka, doa-doa yang semakin tulus terpanjatkan. Hari itu, kutatap langit dengan hati penuh syukur. Perjuangan panjang, kelelahan, dan kegelisahan akhirnya berbuah manis. Aku tahu, jalan pengabdian ini bukan akhir, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab besar.
Aku berjanji pada diriku sendiri: akan kutapaki jalan ini dengan sepenuh hati. Bukan hanya demi diriku, tetapi demi anak-anak bangsa yang menunggu cahaya ilmu. Karena menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan ibadah, sebuah jejak panjang yang kelak kuharap tetap harum meski ragaku tak lagi ada.
Aku sadar, aku bukanlah pahlawan dengan senjata di medan perang. Aku hanyalah seorang guru pahlawan tanpa sorak-sorai, tanpa medali, yang berjuang dalam sunyi. Namun justru dalam kesunyian itulah lahir cahaya, cahaya yang kelak menuntun langkah generasi menuju masa depan. Dan selama hayat masih dikandung badan, aku akan terus menjaga cahaya itu, sampai titik pengabdian terakhir.
Makassar, 30 September 2025
BIONARASI
Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd. Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigrak Terbanyak (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.





