Isnin, 29 September 2025

 Jejak Cahaya di Lorong Pengabdian 

Karya: Agustina Rahman


Tahun 1998, langit Makassar kerap dilanda mendung. Jalan-jalan ramai oleh kendaraan yang lalu lalang, namun hatiku dipenuhi keraguan. Gelar sarjana pendidikan baru saja kugenggam, tetapi jalan menuju mimpi masih terasa kabur, masih abu-abu. Aku ingin menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.

Awalnya aku diterima mengajar di sebuah sekolah menengah pertama sebagai guru honor. Rasanya seperti berdiri di antara jurang harapan dan kenyataan. Gaji yang kuterima tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi membantu keluarga. Meski begitu, aku tetap berangkat setiap pagi dengan semangat dan penuh rasa syukur. Bagiku, ilmu yang kutanam di dada murid-murid jauh lebih berharga daripada sekadar angka rupiah.

Namun hidup selalu menuntut kesanggupan bertahan. Aku butuh tambahan penghasilan. Tak lama kemudian, seorang kenalan mengajakku ke sekolah yayasan Bhayangkari. Di sana, aku kembali mengajar, membagi ilmu pada wajah-wajah muda yang haus pengetahuan. Aku juga dipercaya menjaga perpustakaan, ruang sunyi dengan rak-rak buku yang seakan bernapas, menunggu disentuh dan dihidupkan kembali oleh para pembaca. Dari balik meja kayu sederhana itu, aku bukan hanya guru, tetapi juga penjaga gerbang pengetahuan.

Selain mengajar, aku juga menjadi tempat bersandar bagi mahasiswa yang berjuang menyelesaikan skripsi. Mereka datang membawa tumpukan kertas dan segunung kebingungan. Aku menyimak, memberi arahan, lalu melihat mata mereka berbinar ketika satu persatu bab tersusun. Dari situlah aku memperoleh rupiah tambahan, sedikit demi sedikit, cukup untuk bertahan hidup.

Hari-hariku padat. Pagi diisi mengajar di satu sekolah, siang berlari ke sekolah lain, malam membantu mahasiswa menulis skripsi. Lelah itu nyata, tetapi aku menjalaninya dengan ikhlas. Setiap lembar kertas yang kusentuh seakan menjadi saksi bahwa aku masih bertahan, masih berjuang.

Di ruang guru, aku sering berbincang dengan sesama guru honor. Wajah-wajah mereka tak jauh berbeda denganku: penuh semangat namun dibalut kegelisahan. Kami tertawa bersama meski isi dompet tipis. Kami saling menguatkan, seperti ranting-ranting kecil yang saling menopang agar tak patah diterpa angin.

Suatu siang, kepala sekolah masuk membawa kabar yang membuat jantungku berdetak kencang.Tahun ini dibuka penerimaan CPNS, termasuk formasi guru, ucapnya. Ruangan hening. Mata para guru honor menatap satu sama lain, seakan sinar baru menembus awan mendung. Itu bukan sekadar pengumuman; itu adalah kesempatan emas yang lama kami tunggu.

Aku pulang dengan langkah ringan, meski hati penuh gelisah. Malam itu, di kamar sederhana, aku berbisik pada diriku sendiri: Inilah saatnya. Jika ingin masa depan yang lebih pasti, aku harus berani mengambil langkah.

Keesokan harinya, kususun berkas-berkas pendaftaran dengan hati-hati. Setiap lembar kertas bagai mozaik harapan: ijazah, transkrip nilai, surat keterangan sehat. Semua kuperiksa berulang-ulang. Sempat ada kegelisahan karena aku belum memiliki KTP padahal itu salah satu syarat utama. Untungnya, panitia masih memberi kelonggaran; keterangan domisili kutambahkan sebagai pengganti. Ketika akhirnya kuantar berkas-berkas itu ke tempat pendaftaran di detik-detik penutupan. Aku merasa lega, seolah satu beban berat telah terangkat.

Di ruang pendaftaran, suasana tampak riuh namun teratur. Kursi-kursi plastik berderet, penuh oleh wajah-wajah yang sama tegangnya denganku. Beberapa sibuk merapikan map, ada pula yang berbisik-bisik mengulang doa. Panitia duduk di balik meja panjang, menumpuk berkas-berkas yang semakin tinggi. Saat giliranku tiba, jantungku berdegup lebih cepat. Tanganku sedikit bergetar ketika menyerahkan map hijau itu. Petugas menatap sejenak pada keterangan domisili yang kuselipkan, lalu mengangguk pelan. Baik, berkas diterima, katanya singkat. Hanya dua kata itu, tetapi bagiku terasa seperti kunci yang membuka pintu harapan.

Namun, kegelisahan kembali menyeruak ketika kutahu bahwa formasi untuk program studiku hanya menyediakan satu kursi. Bayangkan, satu kursi untuk ribuan pelamar yang sama-sama berjuang keras meraih mimpi. Rasanya seperti harus berlari di lintasan yang panjang, sementara garis finish tampak begitu jauh, nyaris tak terlihat. Aku seolah berpacu dengan waktu, dengan nasib, bahkan dengan diriku sendiri. Di benakku terbayang, betapa tipisnya peluang itu, namun justru di situlah ujian terbesar: apakah aku akan berhenti karena rasa gentar, atau tetap melangkah meski harus menantang ketidakpastian.

Tahap pertama, seleksi administrasi, kulalui dengan lancar. Namun itu hanyalah gerbang awal dari perjalanan panjang yang menanti. Kini tiba saatnya menunggu ujian tertulis, sebuah tahap yang akan menentukan siapa yang masih bisa melangkah dan siapa yang harus berhenti di tengah jalan. 

Pagi itu, aku melangkah masuk ke ruangan ujian dengan hati yang berdebar. Derap langkah para peserta lain, suara kursi bergeser, hingga tatapan penuh harap dari wajah-wajah asing di sekelilingku, semuanya menambah beban yang kian menekan dada. Rasanya udara pun ikut menegang, seolah-olah ruangan itu menyimpan ribuan doa yang saling berdesakan.

Ketika lembar soal akhirnya dibagikan, aku menatapnya lama, seakan kertas putih itu berubah menjadi batu berat yang menghimpit. Aku menarik napas panjang, menutup mata sejenak, lalu berdoa dalam hati agar diberi kekuatan. Saat pena kugerakkan, setiap nomor terasa bukan sekadar soal, melainkan sebuah pertarungan antara keyakinan dan keraguan, antara harapan dan rasa takut. 

Waktu berjalan begitu cepat, namun di kepalaku setiap detik seperti berdetak keras, mengingatkanku bahwa inilah medan ujian sesungguhnya. Dan di tengah ketegangan itu, aku hanya bisa percaya, bahwa setiap goresan jawaban adalah langkah kecil menuju garis finish yang tak pernah berhenti kupandangi dari kejauhan.

Beberapa minggu kemudian, kabar pengumuman hasil ujian mulai terdengar dari mulut ke mulut. Belum ada internet saat itu; tak ada kemudahan membuka layar ponsel dan menemukan kepastian dalam hitungan detik. Satu-satunya cara adalah mendatangi langsung kantor wilayah, tempat semua harapan dan kecemasan para pelamar bertumpuk menjadi satu. 

Perjalanan menuju ke sana terasa begitu panjang, meski jaraknya tak seberapa. Di sepanjang jalan, hatiku dipenuhi doa yang terus berulang, seolah-olah setiap langkah kaki adalah lantunan harapan yang kupanjatkan kepada sang pencipta.

Setibanya di depan papan pengumuman, degup jantungku nyaris pecah. Mataku menyapu ratusan nama dengan cemas, baris demi baris seperti menari di depan pandangan. Dan tiba-tiba, pandanganku terhenti: namaku tercetak jelas di sana. Seketika air mataku mengalir diam-diam. Alhamdulillah, ucapku lirih, penuh haru. Aku berhasil lolos ke tahap berikutnya, sebuah langkah baru dalam perjalanan panjang yang masih menyimpan banyak ujian. Namun di balik itu semua, ada keyakinan yang makin kuat: bahwa doa, usaha, dan kesabaran selalu menemukan jalannya.

Rasa syukur membuncah, tetapi perjalanan belum benar-benar selesai. Di ujung jalan menanti litsus atau penelitian khusus yang konon dihelat aparat TNI. Dalam imajinasiku, seragam hijau menjelma dinding kokoh, tatapan mata tajam bagai pisau yang menelusuri isi dada. Aku merasa kecil, seakan langkahku bisa terhenti kapan saja, namun justru di sanalah nyali diuji.

Hari itu tiba. Di Bakortanasda, antrean panjang menunggu. Para pelamar duduk gelisah, sebagian berbisik lirih. Saat namaku dipanggil, langkahku terasa berat. Aku masuk ke ruangan, duduk di hadapan seorang pewawancara berseragam. Pertanyaan meluncur cepat, menohok, dan kujawab dengan hati-hati. Setiap kata seolah menentukan jalan hidupku. Usai wawancara, aku keluar dengan napas terengah, seakan baru saja melewati ujian terbesar dalam hidup.

Hari-hari berikutnya kuisi dengan doa yang tak pernah putus. Setiap kali salat, aku memohon dengan sepenuh hati agar langkah ini dimudahkan dan diberi jalan terbaik. Dalam sujudku, terbayang wajah kedua orang tuaku yang selalu mendoakan dari jauh, meski tak pernah mereka ucapkan langsung. Doa mereka terasa sampai di sini, harapan mereka adalah semangatku, membuatku tak berani menyerah. Aku tahu, keberhasilanku kelak bukan hanya milikku sendiri, tetapi juga hadiah kecil bagi mereka yang telah berkorban tanpa pamrih.

Akhirnya, hari pengumuman yang kutunggu dengan cemas tiba. Namaku tercetak jelas di Harian Fajar, seolah huruf-huruf itu memantulkan cahaya harapan yang selama ini kujaga. Saat membacanya, tanganku bergetar hebat, tak kuasa menahan rasa haru yang menyeruak dari dada. Air mata pun jatuh tanpa bisa kutahan, menyapu segala lelah, resah, dan doa-doa panjang yang pernah kuucapkan. Aku lulus. Aku resmi diterima sebagai guru PNS, sebuah pencapaian yang dulu terasa begitu jauh, kini nyata dalam genggaman.

Aku sujud, membiarkan lantai dingin menyerap air mata kebahagiaan. Aku segera menulis surat untuk orang tua, mengabarkan kabar gembira itu. Aku bisa membayangkan senyum mereka, doa-doa yang semakin tulus terpanjatkan. Hari itu, kutatap langit dengan hati penuh syukur. Perjuangan panjang, kelelahan, dan kegelisahan akhirnya berbuah manis. Aku tahu, jalan pengabdian ini bukan akhir, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab besar.

Aku berjanji pada diriku sendiri: akan kutapaki jalan ini dengan sepenuh hati. Bukan hanya demi diriku, tetapi demi anak-anak bangsa yang menunggu cahaya ilmu. Karena menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan ibadah, sebuah jejak panjang yang kelak kuharap tetap harum meski ragaku tak lagi ada.

Aku sadar, aku bukanlah pahlawan dengan senjata di medan perang. Aku hanyalah seorang guru pahlawan tanpa sorak-sorai, tanpa medali, yang berjuang dalam sunyi. Namun justru dalam kesunyian itulah lahir cahaya, cahaya yang kelak menuntun langkah generasi menuju masa depan. Dan selama hayat masih dikandung badan, aku akan terus menjaga cahaya itu, sampai titik pengabdian terakhir.

Makassar, 30 September 2025

BIONARASI


Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigrak Terbanyak (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.


Ahad, 28 September 2025

Pengantin Palestina

Karya: Nani


Ada cinta dalam setaman

Dihias meriam dan dentuman

Adam Hawa mengikat hati

Berjanji setia hingga mati


Dunia fana hanya sesaat

Kasih abadi nanti kan di akhirat

Raga dan darah untuk negara

Berkobar dalam luapan membara


Cinta setaman dibalut luka

Tapi sejoli tak pernah berduka

Fi sabilillah sebagai pengikat esa

Janji suci dua bunga bangsa


~nani`

MAN Barito Selatan Plus Keterampilan

26 September 2025

SEORANG BOCAH PALESTINA DENGAN KERTAS LUSUH DI SAKU CELANANYA

Karya: Warsono Abi Azzam 


Di medan pembantaian Gaza

di balik reruntuhan sebuah hunian

sesosok tubuh ringkih menjemput syahid

separuh tubuh tertindih puing-puing dinding

separuh bawah terbujur di atas tanah


tak ada air mata mengiring kepergiannya

sedari mula air mata kering dari sumbernya

terlalu banyak ia telah tertumpah 

terlalu lama ia mengalirkan derita

terlalu suci ia membasahi bumi para nabi


Karim sang bocah Palestina

terulas senyum menghadap Robbnya

terselip selembar kertas lusuh di saku celananya

sebuah catatan kecil terukir di antara lipatan

memicu haru sesiapa membacanya


selembar catatan dosa menurut kata hatinya

menjadi beban yang belum sempat meminta taubat

menjadi ganjalan hati hingga terbawa mati

meski sejatinya adalah kebaikan-kebaikan

belum sempurna tettunaikan


catatan di kertas lusuh begitu menyentuh

bukti bakti teguh pada ajaran agamanya

bukti kuat berakar keimanan pada tuhannya

betapa tidak

sang bocah syahid menuliskan:


Senin: aku tertidur tanpa berwudhu

Selasa: aku tertawa terlalu kuat

Rabu: aku tidak mendirikan sholat ‘Isya tepat waktu

Kamis: aku menjaringkan gol saat futsal dan terbit rasa bangga dalam hatiku

Jum’at: seharusnya aku bershalawat seribu kali sehari, tetapi hari ini aku hanya bershalawat 700 kali

Sabtu: aku terlupa dzikir pagi



Cilacap, 2025


Warsono Abi Azzam 

KETIKA DUNIA MENYALA


di panggung sejarah 

darah menetes bagai tinta hitam

jerit anak-anak Gaza terangkat ke langit

sementara ia—Netanyahu—membakar nurani umat

menyulut perang dengan wajah batu 

tanpa cahaya


bangsa-bangsa berdiri 

laksana ombak melawan karang

lantang meneriakkan: cukup sudah kebiadaban!

suara mereka jadi palu guntur

menghantam singgasana 

yang dibangun di atas tulang belulang


kebenaran tak bisa dikubur di reruntuhan

meski rudal-rudal meluluhlantakkan

meski roket-roket berhamburan

meski Natanyahu tak kenal malu

dunia menyala

menyalakan api perlawanan

untuk satu tujuan

: Palestina merdeka!


Cilacap, 2025


Warsono Abi Azzam 

LANTANG DARI DUNIA UNTUK PALESTINA

lihatlah Gaza, rahim bumi yang terus dibombardir

anak-anak melukis sorga di atas puing

ibu-ibu menimang jasad bayinya seperti kitab suci

dan langit menjadi saksi betapa keadilan dicabik-cabik


Netanyahu, wajahmu menjelma bara

tanganmu menganyam api di dinding rumah yatim

kau lontarkan rudal seakan gulungan kertas

padahal tiap ledakan adalah ayat nyawa manusia


dunia berdiri menggigil tapi berani bersuara

bangsa-bangsa melantang bagai ombak samudra

“hentikan! kau bukan dewa!

kau hanya bayang-bayang hitam yang akan runtuh!”


Gaza bukan lahan hampa

ia adalah taman doa dan gerbang sorga

setiap batu yang runtuh menyebut nama Palestina

setiap debu yang beterbangan menyalakan bara perlawanan


dunia menolak bisu menolak buta

genosida bukan bahasa Tuhan

tapi tamak yang menyaru iman

ia nafsu yang menyamar jadi fatwa adidaya


dari Paris, London, Madrid, Canberra, Lisboa, Jakarta hingga Ottawa

suara pengakuan menjelma angin pembebasan

meski simbolis ia menusuk jantung penindasan

membuat tiran resah di singgasana kekuasaannya


ingatlah wahai Netanyahu

sejarah adalah pengadilan tanpa suap

tiap tetes darah yang tumpah adalah saksi abadi

dan dunia, cepat atau lambat akan menjatuhkan palu


dunia bersiap bersaksi Gaza akan bangkit

dari abu, dari doa, dari semangat perlawanan yang tak padam

dan nama Palestina

akan berdiri tegak, lebih abadi dari reruntuhanmu


Cilacap, 2025

SEKILAS TENTANG PENULIS

WARSONO ABI AZZAM adalah nama pena dari Warsono, M.Pd. Lahir di Banjarnegara, 6 Desember. Bermukin di Gumilir Cilacap, Jawa Tengah. Guru Matematika SMPN 5 Cilacap  yang menyukai sastra. Bergiat di beberapa komunitas sastra maya. Telah menerbitkan beberapa buku sastra bergenre puisi, cerpen, pentigraf dan cernak. Karya-karyanya juga tersebar di berbagai antologi bersama penulis lain. Menulis puisi bertema Palestina adalah sebentuk empati dan cinta penulis untuk mereka yang tengah berjuang meraih kemerdekaan dari penjajah zionis laknatullah. Beberapa antologi bertema Palestina yang pernah diikuti: Palestina & Humanity (Apajake, 2021), Puisi Cinta Untuk Palestina (Komunitas Seni Kuflet, 2023), Puisi Untuk Palestina #4 (SIP Publishing, 2024), Palestina Forever (Dandelion, 2024), Free Palestine (Azkiya, 2024), Elegi Jeritan Hati, Puisi-puisi Keabadian untuk Palestina (Alineaku, 2024), Mawar Untuk Palestina (SIP Publishing, 2025). Telp/WA: 081542937101, FB: Warsono Abi Azzam, IG: @warsonoclp, surel: warsono_clp@yahoo.co.id.








Khamis, 25 September 2025

 Pahlawan Bernama Abah

Karya: Nurul Afifah Binti Rahim


Abah dilahirkan di bumi Thailand, jauh dari garis sempadan yang memisahkan peta, tetapi tidak pernah mampu memisahkan kasih pada tanah air. Ayahnya seorang tukang rumah, tangan kasar, kuku hitam oleh simen dan habuk papan. Ibunya suri rumah yang tenang, menambal baju anak-anak dengan benang yang sama menambal sabar. Kemiskinan bukan berita baru di rumah kecil mereka, tetapi di dada Abah ada berita yang tidak boleh dipadam: harapan.

Sampai usia dua belas, sekolahnya di sana kelas berdinding papan, kipas berdecit, papan hitam sering digosok sampai kelabu. Bahasa Thai menjadi lidah keduanya, sefasih doa dalam bahasa ibunda. Namun setiap kali menyeberang jambatan ke sekolah, hatinya bertanya: “Di mana tanahku? Di mana aku harus tumbuh?” Malam itu, selepas makan nasi putih berlauk telur goreng dibahagi empat, Abah bersuara kepada datukku.

“Ayah, kita pulanglah.”

“Pulang ke mana?”

“Ke Malaysia. Ke tanah kita.”

Ayahnya memandang lama. Mata yang ditempa kerja berat itu berkaca juga. Keesokan minggu, mereka benar-benar pulang dengan keberanian sebagai bekal, doa ibu sebagai payung, dan tekad sebagai kompas.

Sekolah Arab Lubuk Gong, Rantau Panjang, menjadi pentas pertama Abah sebagai guru muda. Bau kapur di jari menjadi harum yang tak pernah hilang. Dia masuk kelas dengan langkah sederhana tetapi pandangannya teguh. Anak-anak murid menyambut dengan usikan halus, maklumlah guru baru, tampan, dan fasih pula berbahasa Thai.

“Cikgu, nama cikgu dalam Thai apa?” usik seorang murid.

Abah ketawa kecil. “Nama cikgu tetap sama, nak. Yang penting, ilmu jangan bertukar.”

Dalam ketegasan terselit jenaka—itulah yang membuatkan murid-murid menyayanginya. Usikan bertukar menjadi kagum; kagum bertukar menjadi teladan. Di celah usikan itulah Abah menyedari, hati seorang guru tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian terlalu lama. Maka, dengan keberanian yang sama saat mengajak ayahnya pulang ke tanah air, Abah melangkah ke rumah gadis kampung yang pendiam tetapi teduh hatinya: Che Faridah binti Che Ab Rahman.

Abah datang seorang diri.

“Saya datang hendak meminang.”

Kata-katanya ringkas, tetapi jujur terasa sampai ke tulang.

Keluarga pihak perempuan berpandangan, lalu mengangguk. Tanpa hantaran mewah, tanpa janji yang berlebih, mereka bernikah. Sejak itu, rumah kecil mereka menjadi medan pertama keberanian yang bertukar menjadi kasih.

Sesudah berumah tangga, Abah menyambung pengajian di Maktab Perguruan Lembah Pantai. Di sana, dia belajar bukan sekadar kaedah mengajar, tetapi erti sabar menanggung rindu. Emak mengandung anak sulung waktu itu. Dalam surat yang sering tiba dua minggu sekali, emak menulis: “Baliklah bila sempat. Rumah kita ada angin rindu.” Abah membalas: “Doakan supaya ilmu ini jadi rezeki anak-anak kita kelak.”

Habis maktab, Abah ditempatkan di Perak. Hidup jauh dari kampung tidak mudah. Manong, Kuala Kangsar—nama-nama itu menjadi peta dalam hati. Di sekolah, dia mengajar dengan suara tenang; di rumah sewa kecil, dia menulis rancangan pelajaran hingga larut malam. Anak murid kenal Abah sebagai guru disiplin: tegas apabila lewat, lembut apabila jatuh.

Di padang, Abah menjerit semangat pasukan bola jaring, bola sepak, pancaragam—benar, Abah percaya kokurikulum bukan pinggiran, tapi tulang belakang watak. Dari situ, lahirlah kepercayaan pertama: Abah dilantik Guru Penolong Kanan Kokurikulum. Dia mengatur jadual latihan, mencari dana pertandingan, malah kadang-kadang menjahit sendiri lencana pasukan.

Di tengah-tengah kesibukan itu, surat berlogo universiti tiba: tawaran ke UKM. Emak menangis gembira. Abah tunduk lama; di matanya, kebun kecil masa depan terbentang hijau. Dia menerima.

Hanya sembilan puluh lima hari. Di kampus, Abah duduk di kerusi kuliah, tetapi hatinya tidak pernah benar-benar duduk. Setiap malam, bayangan anak-anak kecilnya membalut mimpi. Saat cuti hujung minggu yang pertama dia pulang, dia melihat sesuatu yang mematahkan punggungnya sebagai lelaki: anak-anaknya berlari di halaman tanpa baju, ketawa yang menampakkan tulang bahu. Emak menyembunyikan baju yang koyak di belakang pintu, tidak mahu Abah risau.

“Maafkan saya, bah.” kata Emak perlahan.

Abah memegang wajah isterinya. “Bukan salahmu. Ilmu yang memaksa aku membahagi gaji seperti membelah hati.”

Malam itu, setelah anak-anak tidur, Abah menulis surat. Tulisannya kemas, tetapi setiap huruf seperti menitis air mata. Dia meminta penangguhan, lalu melepaskan. Impian yang besar dihanyutkan sendiri—bukan kerana lemah, tapi kerana cinta.

“Biarlah aku jadi guru biasa, asalkan anak-anak tidak biasa menahan lapar.”

Esoknya Abah pulang ke Perak dengan tekad baru: menang bukan bermakna mendaki tertinggi, tetapi memegang paling kuat.

Mendaki Tanpa Berbunyi

Masa bergerak seperti jarum kecil pada jam dinding. Abah kembali berkhidmat, dan kepercayaan datang bergilir:

Guru Penolong Kanan Hal Ehwal Murid (HEM): Abah menulis surat bantuan kewangan untuk murid yang ayahnya baru meninggal. Dia ziarah rumah murid yang selalu tidur di kelas; rupanya budak itu bekerja mengutip botol selepas sekolah. Abah belikan tilam nipis, tidak mahu nama disebut.

Guru Penolong Kanan Kokurikulum (sekali lagi, di sekolah baharu): Abah berjaga hingga malam menyiapkan borang penyertaan peringkat daerah, meminjam lori kecil Pak Mat untuk membawa alatan. “Tak mengapa, nanti saya isi minyak,” katanya, sedang dompetnya sendiri menipis.

Guru Penolong Kanan Pentadbiran: di sinilah Abah menjadi tempat bertanya—guru muda datang dengan longgokan soalan, ibu bapa datang dengan kebimbangan, murid datang dengan mimpi. Abah jawab dengan tenang, sesekali mengutip sebaris hadis, sepotong pepatah. “Ilmu bukan untuk berlumba, tapi untuk menyuluh.”

Suatu pagi banjir besar menutup jalan ke sekolah. Air keruh menelan jambatan kecil. Abah sudah di seberang, menunggu murid yang kelihatan bimbang. Dia menongkat seluar, memikul seorang murid Tahun Satu di bahu, menuntun dua lagi dengan tangan. “Pelan-pelan, pegang kuat. Hari ini kita belajar apa ertinya berani.” Pada hari itu, seluruh kampung tahu: ada seorang guru yang tidak membiarkan anak muridnya terhenti hanya kerana air bah.

Ada kelas yang tidak wujud dalam jadual, namun selalu ada dalam hati Abah: kelas selepas azan Maghrib. Di surau kampung, Abah mengajar mengaji, menyusun huruf demi huruf, seolah-olah menyusun batu bata untuk masa depan anak-anak itu. Emak menunggu di rumah, memasak bubur kacang—siapa yang datang mengaji, makanlah bersama.

Satu malam, seorang murid perempuan, Ain, datang dengan mata bengkak. Bapanya sakit, ibunya menjahit sampai larut. Abah menyentuh kepala Ain lembut. “Allah tidak menilai kecil-besar rumah kita, Ain. Allah menilai besar-kecil sabar kita.” Ain mengangguk, dan kelak menjadi jururawat. Pada hari konvokesyennya, Ain menghantar gambar kepada Abah. Abah menatap gambar itu lama, menyapu hujung mata dengan punggung tangan. “Alhamdulillah.”

Ada juga murid lelaki yang selalu lewat dan degil: Firdaus. Abah tidak melenting; dia mengutus surat kecil yang ditinggalkan di meja Firdaus: “Cikgu yakin kamu mampu jadi lebih baik daripada semalam. Jumpa cikgu selepas kelas.” Empat tahun kemudian, Firdaus kembali—berbaju kemeja kemas, senyum segan. “Cikgu, saya lulus SPM. Kalau bukan sebab cikgu nampak saya lebih daripada kesilapan, saya sudah berhenti sekolah.”

Pada umur 58 tahun, Abah bersara. Guru-guru muda berbaris memeluknya. Seorang guru praktikum berkata, “Cikgu, saya ingat satu pesan cikgu: ‘Jika kamu buntu mencari jalan, carilah manusia kerana pendidikan ialah perhubungan.’” Abah tertawa kecil. “Kamu ingat ayat itu? Teruskanlah mengajar manusia, bukan hanya sukatan pelajaran.”

Walaupun kad perakam waktu terhenti, jam di nurani Abah tidak pernah berhenti. Dia masih menyusun kerusi di surau, masih menegur anak muda yang melepak: “Mari ke perpustakaan kampung. Abah ada buku-buku lama, tapi baunya wangi—bau ilmu.” Anak-anak muda itu datang, dan Abah bercerita tentang tokoh-tokoh, tentang peta dunia, tentang ayat pertama yang turun: Iqra’.

Usia 63 singgah seperti angin yang tiba-tiba sejuk. Pada suatu yang tiada siapa sangka, abah bersetuju untuk dibawa ke hospital akibat serangan penyakit lelah yang tiada penghujung. Hari-hari terakhir Abah begitu menguji. Keadaannya makin merosot, hingga Mama memujuk agar Abah dibawa ke hospital. Dengan lelah yang sudah tiada taranya, akhirnya Abah akur.

Sebaik tiba, doktor memasangkan oksigen kecil. Namun nafas Abah masih sesak, lalu ditukar dengan oksigen besar. Abah dibawa ke zon merah,sejak jam tiga petang, ditemani setia oleh Ma yang tidak berganjak walau sesaat. Tujuh jam lamanya Ma setia di sisi.

Jam menghampiri 11.45 malam, telefon kami berdering. Suara Ma bergetar, “Doktor nak tidurkan Abah. Kalau tidak, keadaannya mungkin kritikal.” Kami adik-beradik meraung dari kejauhan, lalu segera bergegas pulang.

Tepat jam 3 pagi, doktor akhirnya terpaksa menidurkan Abah. Awalnya Abah menolak, mahu terus melawan, tetapi tubuhnya terlalu letih. Sebelum prosedur itu, Abah berbisik lemah, “Air…” Ma cuba memberi, tetapi doktor hanya mengizinkan bibirnya dibasahkan. Air dalam tubuh Abah sudah terlalu banyak. Ma menyapu perlahan di bibirnya — itulah permintaan terakhir Abah sebelum lena panjang itu.

Abah kelihatan tenang, tidur dalam wad ditemani bunyi mesin perubatan. Kami tiba selepas jam 4.30 pagi. Aku, si anak ketiga, naik ke wad. Pandangan Abah sudah kosong, senyum dan usikan nakalnya sudah pergi entah ke mana. Hanya tubuh kaku yang tidak lagi menyahut panggilanku.

Aku duduk di sisinya, menghabiskan satu surah Yasin, berbicara meski tanpa balasan. Seorang demi seorang kami berkumpul. Anak-anak, menantu, cucu — semuanya datang, seolah tahu bahawa detik perpisahan sudah hampir.

Selepas Subuh, kami bergilir menjaga. Aku turun seketika, Abang Long naik mengganti. Tidak lama kemudian, mesej masuk: “Cepat naik, doktor panggil.” Jam menunjukkan 8.20 pagi. Kami berlari sambil menangis, mahu sekali lagi memandang wajah Abah.

Namun di hadapan wad, kami dihalang masuk. Kak Ngah masuk seorang diri, menenangkan Ma yang menangis di sisi katil. Doktor mahu melakukan CPR, tetapi Kak Ngah menahan, kerana itu permintaan Abah sejak awal — tidak mahu dipaksa hidup dengan derita.

Akhirnya, pintu dibuka. Kami berlima masuk dengan air mata bercucuran. Dan di hadapan kami, tubuh Abah sudah kaku. Nafasnya berhenti, rohnya kembali kepada Pencipta.

Abah pergi meninggalkan seorang isteri yang setia, enam orang anak yang masih merindui, enam menantu yang menghormati, dan dua puluh cucu yang akan membesar tanpa belaian seorang datuk.

Hari itu, bumi terasa hening. Tiada lagi suara tegas, tiada lagi senyuman nakal, tiada lagi gelak tawa Abah. Yang tinggal hanyalah kenangan, doa, dan legasi seorang pahlawan Pendidikan. Abah pergi sebagai Guru, kembali sebagai Pahlawan. Orang kampung berlari-lari kecil; panggilan telefon berderai di rumah kami. Jenazah Abah dimandikan dengan penuh kasih oleh anak dan menantunya di rumah tempat Abah dan Ma menyemai kasih. Murid-murid hadir—lelaki yang dulu nakal, perempuan yang dulu pemalu—semuanya menangis seperti anak kehilangan ayah.

Seorang lelaki gagah, menghubungiku. “Saya Saleh, cik. Cikgu yang angkat saya keluar dari gelap. Hari ini saya datang untuk mengangkat doa buat cikgu.” Kata-katanya menembusi dada seperti matahari menembusi kabus.

Ketika tanah terakhir ditimbus, angin berhenti seketika, seakan-akan langit pun menunduk. Ma berdiri tabah, melepaskan zikir. Kami enam beradik berpandangan: ini bukan akhir seorang guru; ini permulaan pahala yang tidak putus.

Tiga daripada kami memilih jalur yang sama—menjadi guru—kerana pada kapur di jari Abah kami melihat cahaya. Seorang menjadi petani, kerana dari Abah dia belajar erti menumbuhkan. Seorang membuka kedai alat ganti kereta, kerana daripada Abah dia belajar menolong perjalanan orang lain. Seorang lagi menjadi pereka hiasan, kerana daripada Abah dia belajar menyusun yang berserak menjadi indah. Kami semua membesar bukan sebagai kaya harta, tetapi kaya akhlak—itulah harta sebenar yang Abah wariskan.

Apabila rindu datang, kami pulang ke sekolah lama Abah. Di stor kecil, masih ada bekas kapur bertutup separuh, buku rancangan mengajar dengan tulisan kemas, dan pita pelekat yang sudah kekuningan. Di muka surat terakhir buku itu, ada satu nota yang Abah tulis untuk dirinya sendiri:

“Jadi guru berarti mencintai manusia. Mencintai manusia berarti mencintai Tuhan yang menciptanya. Selagi ada manusia yang perlu disuluh, selagi itu pekerjaan guru tidak berakhir.”

Kami menutup buku itu perlahan. Di luar, senja menumpahkan cahaya jingga di atas bumbung sekolah. Dari jauh terdengar suara anak-anak ketawa di padang. Kami tahu, di mana pun suara itu tumbuh, di situ Abah hidup—dalam akhlak mereka, dalam ilmu yang mereka warisi, dalam setiap doa yang tidak pernah berhenti.

Abah mungkin tidak pernah mengejar gelaran profesor, tidak sempat menyandang ijazah yang panjang di hujung nama. Tetapi dia menyandang sesuatu yang lebih berat dan lebih mulia: amanah. Amanah untuk menegakkan akhlak, menabur ilmu, menyelamatkan seorang demi seorang daripada gelap yang panjang. Di pentadbiran, dia pernah menjadi Guru Penolong Kanan Kokurikulum, Guru Penolong Kanan HEM, dan mengakhiri khidmat sebagai Guru Penolong Kanan Pentadbiran—bukan sekadar jawatan di kertas, tetapi tanggungjawab di bahu yang tidak pernah mengeluh.

Dan hari ini, saat kami berjalan di kampung, masih ada yang menegur, “Anak Cikgu, ya?” Ada bangga yang menitis, tapi juga amanah yang kembali hinggap di bahu kami. Kami belajar daripada Abah, bahawa menjadi anak seorang guru bererti menyambung kerja yang tidak pernah selesai—membaca, menulis, mengasuh, mengangkat sesama manusia.

Abah pergi, tetapi gelarannya tetap tidak dapat dipencenkan oleh waktu:

Guru Sejati. Pahlawan Bangsa.

Selasa, 23 September 2025

 KUPASTIKAN AKU BERSAMA PALESTINA-KU 

Karya: Nani

Kupastikan itu aku! 

Terbujur dingin dan kaku

Di antara tumpukan raksasa-raksasa paku

Dalam darah yang mengalir membeku


Kupastikan itu saya! 

Terbujur dalam bising nyanyian lalat

Di antara gumpalan gugus yang menyengat

Dalam redup remang cahaya 


Kupastikan itu aku! 

Terbujur bersama ribuan mata yang seolah menatapku

Di antara ketamakan yang berjibaku

Dalam kelicikan coretan baku


Kupastikan itu saya! 

Terbujur lunglai tak berdaya

Di antara sejenak munafik yang berjaya

Dalam jeritan dan rintihan maha karya


Dan kupastikan itu aku

Bersama Tuhanku

Bersama Palestina-Palestinaku

Bersama syahidku

Bersama kerinduan, arsy-ku


~nani`

MAN Barito Selatan Plus Keterampilan

Mencari Damai

Karya : Rohazila Yon

 


Mana tenang

Mana damai

Semua telah ditelan kabus tebal

Tiada lagi Kejora di malam hari

Tiada lagi senyuman Rang Bulan

Tiada lagi tawa Sang Suria

Bebaskanlah ! Bebaskanlah

Dari belenggu, dari Kezaliman, dari kejahatan

Tiap hari bedilan bertubi

Tiada lagi keriangan

Yang tinggal hanya tangisan

Sungai darah memenuhi segenap ruang

Nyawa amat murah nilainya

Anak-anak kehilangan ibu bapa

Ibu bapa kehilangan permata

Semoga bumi ini bebas merdeka

Merdeka! Merdeka!

 

 Gelang Patah

29 September 2025

 

Suara yang Tak Pernah Padam

Oleh: Khoiri



Di tanah yang diselimuti debu dan doa,

tangisan anak-anak jadi lantunan sunyi,

di antara reruntuhan,

ada harapan yang tetap berdiri.


Palestina, engkau bukan sekadar nama,

engkau nadi dari luka dan ketabahan,

suara rakyatmu adalah gema dunia,

yang takkan hilang meski ditutup senjata.


Suara itu adalah doa ibu,

yang merajut langit dengan kesabaran,

suara itu adalah langkah ayah,

yang menolak tunduk pada keangkuhan.


Wahai Palestina,

dunia mungkin bisu,

namun suara hatimu menembus segala batas,

menjadi nyala api dalam dada kami,

menjadi lantang seruan: “Engkau tidak sendiri.”

Sabtu, 20 September 2025

Suara Cinta dari Rimba Kasih

Karya: Kims Diwa


Jangan lagi kau tutup telinga

pada jeritan yang terbit dari runtuhan

itu bukan sekadar suara bangsa

itu gema manusia mencari tangan kemanusiaan.


Apa ertinya menara kuasa

jika di bawahnya anak kecil terbaring tanpa mimpi?

apa makna angkuh mempertahankan bendera

jika warnanya hanyalah darah yang menitis sendiri?


Aku merayu pada batu yang menutup mata air kasih

robohkanlah dinding dendam yang melilit batang tubuhmu

ingatlah bumi ini terlalu luas

untuk dibelah-belah oleh luka yang membatu.


Dengarlah sungai yang tidak pernah letih

mengalirkan kasih walau tebingnya retak

burung enggang pun melintas di langit

mengingatkan kita rimba ini warisan bersama.


Suara ini bagai pelita di padang pekat

tetap menyala meski disergah angin serakah

ia menuntut tangan manusia

memilih cahaya bukan bara yang membakar.


Dengarlah...

sebelum kita kehilangan hakikat

bahawa manusia dicipta

bukan untuk menghancurkan manusia lain.


Biarlah doa meluncur seperti burung

membawa ranting zaitun ke ufuk damai

agar dunia mengerti sekali lagi

cinta lebih abadi daripada perang.


Tamparuli, Sabah

19 September 2025

Jumaat, 19 September 2025

 BUNGA KECIL DARI EPIL

Karya: Eduar

 

Di ujung timur Desa Epil, desa kecil yang dikepung hutan rimba dan persawahan yang tak habis dipandang, hiduplah seorang anak perempuan bernama Salsabila. Usianya baru sembilan tahun, namun sorot matanya lebih tua dari bilangan usianya. Di matanya ada kabut duka yang jarang dimiliki anak-anak lain, kabut yang lahir dari kehilangan dan ujian hidup.

Ayahnya telah lama pergi, ditelan bumi tanpa meninggalkan harta, hanya kenangan wajah dan doa. Ibunya terbaring sakit di ranjang bambu, tubuhnya sering gemetar seperti daun jati diguncang angin malam. Dua adiknya, Rafi dan Nisa, masih kecil, belum tahu bagaimana dunia bisa begitu keras, bagaimana nasi di piring bisa menjadi barang mahal jika tak ada tangan yang bekerja.

Namun, Salsabila tidak pernah menyerah. Ia sadar, ia adalah tulang rusuk yang rapuh tapi harus menjadi tiang rumah.

 

Pagi yang Retak

Setiap pagi, Salsabila berangkat sekolah dengan baju lusuh yang sudah memudar warnanya. Seragam itu sudah dijahit berulang kali, benangnya silang-menyilang seperti peta perjalanan hidupnya sendiri. Rambutnya selalu diikat sederhana, namun ada kilau sinar matahari pagi yang menempel di helainya, seolah Tuhan menitipkan cahaya untuk meneguhkan hatinya.

Di kelas, ia selalu duduk paling depan. Walau perutnya kadang kosong, ia tak pernah absen menulis, tak pernah lalai mendengar. Ia tahu, ilmu adalah perahu yang kelak akan membawanya keluar dari samudra kesusahan.

Tetapi begitu lonceng sekolah berdentang, hidupnya berubah menjadi perjuangan lain.

 

Langkah Kecil, Beban Besar

Sepulang sekolah, Salsabila mengambil keranjang bambu dari rumah tetangganya. Keranjang itu penuh berisi kue cucur, kue lapis, dan onde-onde. Setiap satu kue yang terjual, ia mendapat upah dua ratus rupiah. Hanya dua ratus, tapi baginya, uang itu adalah cahaya kecil di tengah gelapnya malam.

Ia berkeliling kampung, mengetuk pintu rumah orang, menahan malu, menahan letih. Kadang orang membeli dengan senyum, kadang hanya menutup pintu tanpa kata. Salsabila tersenyum walau hatinya retak. Ia tahu, rezeki datang dari Tuhan, bukan dari wajah manusia.

Kakinya yang kecil sering lecet karena sandal yang kebesaran, warisan dari seorang sepupu. Namun ia tetap berjalan, sebab di kepalanya terbayang wajah dua adik yang menunggu di rumah, berharap ada sesuap nasi untuk makan malam.

 

Ujian dan Air Mata

Banyak kali Salsabila jatuh. Pernah suatu sore, hujan deras mengguyur. Kue-kue dalam keranjang basah, hancur, tak lagi laku. Ia pulang dengan mata sembab, keranjang kosong, dan tangan hampa. Di rumah, ibunya hanya bisa menatap dengan mata berkaca-kaca, tidak mampu bangun untuk memeluknya.

Namun malam itu, Salsabila duduk di samping ibunya. Dengan suara kecil tapi penuh keberanian, ia berbisik:

"Bu, jangan sedih. Besok aku akan berjualan lagi. Selama aku masih bisa berjalan, kita tidak akan kelaparan."

Ucapannya bagai doa, dan doa anak yatim sering lebih cepat mengetuk pintu langit.

 

Pelita Kecil yang Tumbuh

Hari demi hari, penderitaan itu mengasah Salsabila. Ia tumbuh bukan seperti anak-anak kebanyakan, tapi seperti pohon kecil yang tumbuh di tepi jurang, akarnya menghujam kuat demi bertahan. Ia belajar tersenyum walau hatinya menangis, belajar menahan lapar agar adik-adiknya bisa kenyang, belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tapi tentang memberi dengan segenap tenaga.

Tetangga mulai melihat keteguhan gadis kecil itu. Ada yang iba, ada yang memuji, ada pula yang mencibir. Namun Salsabila tetap melangkah. Ia seperti matahari pagi yang selalu terbit, walau awan mencoba menutupinya.

 

Bunga yang Mekar dari Lumpur

Tahun-tahun berlalu. Salsabila tak hanya menjual kue, ia mulai belajar membuat kue sendiri. Dari sisa upah kecilnya, ia membeli gula, tepung, dan kelapa parut. Tangannya yang mungil belajar mengaduk adonan, mencetak kue, menggoreng dengan api kecil. Di dapur bambu yang sempit, lahirlah karya pertama: kue sederhana dengan rasa manis perjuangan.

Ia menjual kue buatan tangannya, dan orang-orang mulai suka. "Kue buatan Salsabila rasanya lain," kata seorang ibu di warung. "Ada manis yang tidak hanya dari gula, tapi dari hatinya."

Kue-kue itu menyebar dari satu rumah ke rumah lain, dari satu pasar ke pasar lain. Lambat laun, Salsabila mulai dikenal. Dari upah dua ratus rupiah per kue, ia kini bisa menyimpan sedikit demi sedikit.

 

Matahari di Ufuk Baru

Ketika usianya beranjak remaja, Salsabila sudah mampu membiayai sekolah adik-adiknya. Ibunya, meski masih sakit, mulai membaik sedikit demi sedikit. Rumah mereka yang dulu reyot, pelan-pelan diperbaiki dengan papan baru, atap yang tidak lagi bocor ketika hujan datang.

Salsabila tidak berhenti di situ. Ia terus belajar. Ia masuk ke sekolah menengah, lalu melanjutkan hingga perguruan tinggi dengan beasiswa. Ia selalu ingat, buku adalah sayap yang akan membawanya terbang tinggi.

Hari-hari gelap di masa kecilnya menjadi bahan bakar semangat. Ia tidak ingin lagi melihat anak-anak lain menangis karena lapar, atau harus berjualan di jalanan tanpa pilihan.

 

Salsabila, Pahlawan Kecil dari Epil

Tahun-tahun berlalu, dunia mengenal nama Salsabila bukan hanya sebagai pedagang kue, tapi sebagai seorang pengusaha sukses. Usahanya menjalar ke berbagai kota. Namun hatinya tetap sederhana, tetap merunduk seperti padi yang berisi. Ia kembali ke Desa Epil, membangun sekolah gratis untuk anak-anak miskin, membangun klinik kecil untuk ibu-ibu yang sakit seperti ibunya dulu.

Ketika ditanya, rahasia keberhasilannya apa, Salsabila selalu tersenyum dan menjawab:
"Aku hanya berjalan dengan kaki kecilku, tapi aku percaya Tuhan selalu menuntun arah."

Anak-anak desa Epil kini menyebutnya pahlawan kecil. Sebab dari reruntuhan kemiskinan, ia tumbuh menjadi pohon rindang yang menaungi banyak orang.

 

Metafora Kehidupan

Hidup Salsabila adalah cerita bunga kecil yang tumbuh di lumpur. Orang mungkin mengira ia tak akan mekar, tapi ternyata ia menjadi teratai indah yang menyejukkan mata. Hidupnya adalah sungai yang awalnya kecil dan keruh, namun terus mengalir hingga menjadi samudra luas yang memberi kehidupan.

Ia adalah bukti bahwa penderitaan bukanlah akhir, melainkan awal dari cahaya. Ia adalah bintang kecil yang bersinar di langit desa terpencil, menunjukkan jalan bagi generasi setelahnya.

Dan di setiap malam, ketika angin menyapu daun-daun pisang di belakang rumah, Salsabila masih teringat masa kecilnya. Gadis sembilan tahun yang berjalan membawa keranjang kue, dengan sandal longgar, dengan air mata yang jatuh diam-diam, tapi dengan hati yang berkata:
"Aku harus bertahan, demi mereka yang kucinta."

Kini, suara kecil itu telah menjadi gema besar yang menggetarkan dunia.

 

Pekanbaru, 16 September 2025

Jumlah kata: ±1.180 kata.

 

Bisikan Laut, Tangisan Langit Palestina

Karya : Agustina Rahman

 

Di ufuk Gaza, laut berdesah lirih

Menyimpan rahasia doa yang tercecer

Di antara buih ombak dan puing sunyi

Seolah samudra ikut merapal zikir

 

Langit pun merintih

Menurunkan hujan sebagai air mata

Membasuh mesiu yang masih berasap

Menghapus jejak darah yang enggan kering

 

Anak-anak menyalakan pelita suaranya

Tawa mereka patah berkeping

Namun tetap bergema seperti nyanyian merpati

Menentang sunyi di ambang maut

 

Palestina adalah nyanyi luka

Jerit yang menjelma doa

Takbir yang menembus dinding baja

Menggetarkan arasy di langit ketujuh

 

Laut pun bersumpah

Langit pun berikrar

Dari retak bumi dan darah yang tumpah

Akan lahir suara kebebasan

Yang tak bisa lagi dibungkam

 

Makassar, 19 September 2025

 

BIONARASI


 

Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024),  Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigrak Terbanyak (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.

 

GUGURNYA SEORANG FRONTLINER

OLEH :  ASMANIZA DIN

 

Unit kecemasan hospital bergema dengan batuk yang bersahut-sahutan, tangisan anak kecil dan derap langkah yang tidak pernah berhenti. Bau antiseptik menusuk kuat, seakan bersatu dengan resah yang berlegar di udara.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Aisyah tetap berdiri teguh. Jururawat senior berusia enam puluh tahun itu jelas dilakar usia pada wajahnya. Namun, tangannya masih pantas bekerja dan matanya tetap tajam menilai setiap pesakit yang datang.

“Kak Aisyah, berehatlah sekejap,” pinta jururawat muda bernama Hana, sambil menyentuh lembut lengan Aisyah.

“Dari tadi tak duduk langsung. Nanti akak pula yang tumbang.”

Aisyah hanya menguntum senyum tipis, biarpun tubuhnya terasa makin berat. Lututnya berdenyut, pinggangnya seakan menjerit minta direhatkan. Namun, dia tetap menggeleng perlahan.

“Selagi ada nyawa yang memerlukan kita, duduk bukan pilihan,” balasnya lembut, tetapi tegas.

Bagi Aisyah, itulah prinsip hidup yang menjadi pegangan dan membakar semangatnya sejak dahulu. Rehat boleh ditangguh, tetapi nyawa yang berpaut pada harapan tidak pernah menunggu.

Di luar, siren ambulans meraung tanpa henti. Kes demi kes akibat wabak yang menular datang bertali arus, seakan tidak memberi ruang untuk lega.

Aisyah tahu, angka yang terpampang di kaca televisyen setiap malam tidak pernah cukup untuk menggambarkan kenyataan sebenar yang terbentang di depan matanya. Wajah-wajah yang tercungap mencari oksigen itu diselimuti keringat, air mata dan bayang kehilangan.

Sudah lebih tiga dekad Aisyah berkhidmat sebagai jururawat. Asalnya, dia bercadang untuk bersara pada tahun itu. Farhan dan Nadia sudah lama mendesaknya.

“Mak dah cukup berkhidmat. Mak berehat sajalah,” rayu mereka berulang kali.

Saat berita tentang wabak mula menular, hatinya terasa digenggam erat. Bagaimana mungkin dia mampu duduk diam di rumah, sedangkan sahabat-sahabat seperjuangannya sedang bertarung dengan gelombang pesakit yang tidak pernah reda?

Ingatannya melayang pada hari pertama dia mengangkat sumpah, lebih tiga puluh lima tahun lalu. Janjinya bukan sekadar melaksanakan tugas dengan sebaik mungkin, tetapi untuk memikul amanah terhadap setiap nyawa yang dititipkan di tangannya.

“Kalau ini sumbangan terakhir aku pada tanah air, biarlah,” bisiknya sendiri ketika menandatangani borang lanjutan perkhidmatan.

Namun, tidak semua orang melihat pengorbanannya sebagai sebuah perjuangan. Malah, ada di kalangan jiran yang mula menjauh.

Isyarat itu cukup membuatkan Aisyah terasa seperti diusir perlahan-lahan dari ruang yang sepatutnya menjadi tempat untuk dia berteduh.

Pernah juga telinganya menangkap bisik-bisik, ‘Dia tu kerja hospital. Entah-entah bawa balik virus. Kita kena hati-hati, takut berjangkit.’

Kata-kata itu menikam, lebih perit daripada sakit sendi yang ditanggungnya saban hari. Namun, dia tidak menyalahkan sesiapa kerana ketakutan mampu menjadikan manusia asing sesama manusia.

Jauh di sudut hati, Aisyah berharap ada yang mengerti. Perjuangan senyap ini mungkin tidak disambut dengan tabik hormat atau pingat, namun tetap menuntut keberanian sebesar-besarnya.

***

Malam itu, seorang wanita pertengahan umur dibawa masuk dalam keadaan kritikal. Nafasnya tersekat-sekat. Aisyah pantas bertindak bersama pasukan perubatan yang lain.

Saat jarum menembusi kulit dan mesin oksigen dipasang, pandangan mereka sempat bertaut. Renungan itu milik seorang insan yang tidak bersedia untuk 'pergi' sendirian.

Tanpa ragu, Aisyah segera membisikkan kata-kata semangat, meskipun dia sendiri tidak pasti sama ada wanita itu masih mampu mendengar suaranya atau tidak.

Minggu berganti minggu. Gelombang pesakit semakin membanjiri, jumlahnya meningkat saban hari seakan tidak terbendung. Hospital menjadi kubu terakhir, tempat mereka bertahan demi setiap nafas yang masih tersisa.

Bagi Aisyah, siang terasa terlalu panjang, manakala malam hadir dengan kesunyian yang lebih berat. Dia pulang hanya untuk membersihkan diri, menunaikan solat dan melelapkan mata seketika sebelum kembali ke wad. Kehidupan peribadi kian lenyap sama sekali.

Suatu hari, selesai menukar pakaian perlindungan yang sudah lencun dengan peluh, telefon bimbitnya bergetar. Nama Nadia tertera di skrin.

Aisyah menghela nafas perlahan, lalu menekup telinga dengan tangan yang masih berbau ubat-ubatan.

“Mak…” suara Nadia serak, menahan sebak.

“Sampai bila mak nak terus macam ni?”

Aisyah terdiam. Pandangannya jatuh pada sebaris katil pesakit yang penuh sesak. Hanya bunyi mesin dan nafas tercungap yang menemani.

“Mak sendiri pun tak sihat, kan? Kalau apa-apa jadi pada mak…” suara Nadia pecah, bergetar.

“Kami anak-anak mak ni… macam mana?”

Aisyah menutup mata sejenak. Kata-kata itu menikam, namun dia cuba menahan gelora di dada.

“Nadia… orang lain pun ada keluarga. Kalau semua berhenti sebab takut, siapa yang akan merawat pesakit?”

Kedengaran esakan halus di hujung talian, kemudian suara Nadia meninggi sedikit, antara tangis dan marah.

“Mak… mak bukan pahlawan. Mak cuma manusia biasa yang juga boleh jatuh sakit. Tolonglah fikirkan tentang diri mak.”

Aisyah terpaku. Manusia biasa. Ya, itu benar. Tetapi manusia biasa sepertinya jugalah yang sering menjadi perisai antara hidup dan mati orang lain.

“Mak janji akan berhati-hati,” balasnya perlahan.

Dia tahu janji itu rapuh seperti helaian tisu, namun jiwanya terus berperang antara amanah yang digalas dan kasih seorang ibu.

Setelah panggilan tamat, Aisyah duduk lama di bilik rehat jururawat. Tangannya menggigil saat membuka bekal makanan. Nasi di dalam bekas masih hangat, tetapi hatinya terasa dingin dan kosong.

Benaknya dihantui persoalan yang sama. Mengapa masyarakat hanya melihat pahlawan sebagai mereka yang mengangkat senjata di medan perang, sedangkan jiwa kepahlawanan dalam wad ini jarang sekali terlihat?

Ingatan Aisyah kembali pada wajah seorang pesakit minggu lalu. Wanita itu akhirnya pergi jua. Tubuhnya dibalut plastik putih, dibawa keluar tanpa keluarga yang dapat mengiringi. Aisyah sendiri yang membisikkan kalimah syahadah ke telinganya, lalu menutup kedua matanya dengan penuh hiba.

“Kalau bukan pahlawan, apa lagi namanya?” bisik Aisyah sendirian.

***

Suasana hari itu kian huru-hara. Wad penuh sesak hingga katil tambahan terpaksa dibuka di koridor. Bau ubat bercampur dengan peluh, bersatu dengan tangisan ahli keluarga yang hanya mampu menunggu di luar pagar hospital.

Aisyah tetap melangkah dari satu pesakit ke pesakit lain walaupun tubuhnya semakin lelah. Pelitup muka di wajahnya sudah lencun dengan peluh, namun tangannya enggan berhenti bekerja.

Dia sedar, ini bukan lagi sekadar tugas hakiki. Inilah medan pertempuran sebenar mereka, sedangkan kekuatan barisan hadapan semakin rapuh.

Ketika sedang membantu seorang pesakit yang tercungap-cungap, Aisyah dikejutkan oleh bunyi sesuatu jatuh di belakang. Hana rebah di lantai, tubuhnya menggigil hebat akibat dehidrasi. Panik serta-merta menguasai suasana.

“Ya Allah, Hana… cepat, tolong angkat dia!” arah Aisyah lantang, meski dirinya sendiri hampir tidak berdaya. Dia segera berlutut di sisi Hana, menyeka peluh yang membasahi dahi gadis itu.

“Tolong bangun, Hana… perjuangan kita belum selesai.”

Namun di sebalik kata-kata itu, dadanya sendiri berombak kencang. Nafasnya semakin berat. Sejenak, terbit persoalan di benaknya. Mungkinkah kudratnya sendiri juga sudah menghampiri batas terakhir?

Selesai Hana dibawa ke bilik rehat, Aisyah duduk sebentar di kerusi logam yang terletak di satu sudut wad. Tangannya menggigil ketika membuka sedikit pelitup muka, cuba menyedut udara yang terasa semakin menekan dada.

Jantungnya masih berdegup laju, seiring dengan bunyi mesin dan batuk pesakit yang bersahut-sahutan. Dalam kelelahan itu, fikirannya mula dihantui persoalan yang selama ini cuba dia singkirkan.

"Kalaulah aku sendiri yang tumbang, adakah semua pengorbanan ini akan dikenang? Atau aku hanya akan menjadi sebahagian daripada angka yang terpampang di kaca televisyen esok pagi?"

Aisyah terkenang akan ayahnya, seorang pesara tentera yang pergi ketika dia masih remaja. Kisah-kisah ayahnya tentang sahabat seperjuangan yang gugur syahid di sisi masih terngiang di telinganya.

Sejak kecil, Aisyah percaya bahawa pahlawan hanyalah mereka yang mengangkat senjata. Namun, perjuangannya juga tidak kurang mulia.

Jika dahulu ayahnya bersenjatakan senapang, dia kini bersenjatakan jarum suntikan. Jika ayahnya berlindung di sebalik perisai besi, dia pula berlindung di sebalik pelitup muka dan sarung tangan getah.

Senjata mereka mungkin berbeza, tetapi perjuangan mereka tetap sama. Setiap jihadnya yang dibawa pulang akan kekal menjadi saksi sunyi, hanya antara dirinya dengan Allah.

Pintu wad tiba-tiba terbuka, membawa masuk seorang pesakit baharu. Usia remaja lelaki itu sekitar tujuh belas tahun. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat.

“Mak saya mana?” suaranya serak, menahan resah. Matanya liar menyapu sekeliling, mencari kelibat ibunya.

Aisyah menghampiri sambil menahan sebak yang menyesak di dada. Dia tahu, ibu remaja itu sedang dikuarantin di wad lain dan mereka tidak dibenarkan bertemu.

"Mak kamu tak dapat masuk sekarang,” jawabnya lembut, cuba menenangkan.

“Kami semua ada di sini. Jangan risau, ya?” pujuk Aisyah lagi.

Remaja itu tunduk, lalu menekup wajahnya dengan tangan yang lemah. Esakan halus mulai terbit, pecah perlahan seperti gerimis yang mengetuk jiwa Aisyah.

Dada Aisyah terasa perit. Dia hanya mampu menatap dengan pandangan yang berkaca. Dalam diam, dia memanjatkan doa agar remaja itu diberikan kekuatan dan ketenangan.

***

Hari-hari yang dilalui kian menghimpit. Batuknya semakin menjadi-jadi, namun Aisyah tetap memilih untuk bertahan. Setiap kali doktor menyuruhnya berehat, dia hanya mengangguk tanpa memberi sebarang janji.

Hari itu, keadaan semakin tidak terkawal. Pesakit membanjiri hospital dalam jumlah luar biasa, memenuhi setiap ruang yang ada. Bekalan oksigen pula semakin berkurangan. Dalam kekalutan itu, barisan hadapan tetap berdiri teguh mempertahankan diri demi menyelamatkan nyawa insan lain.

Aisyah memaksa dirinya bergerak dari satu katil ke katil lain. Peluh membasahi pelitup muka, jantungnya berdegup laju. Saat dia cuba membantu seorang pesakit, dunia tiba-tiba berpusing. Hampir sahaja dia rebah, namun sempat disambut oleh Hana.

“Jangan risau, akak okey. Hana pergilah uruskan pesakit lain dulu,” suara Aisyah serak, hampir tenggelam.

Bunyi troli yang ditolak laju bersama derapan langkah kaki yang berlari-lari, semakin menambah cemas suasana. Hana masih ragu-ragu. Kedua tangannya menggenggam lengan Aisyah erat. Aisyah mengangguk, cuba meyakinkan Hana.

Ketika dibawa ke bilik rawatan, telinganya masih jelas menangkap hiruk-pikuk di luar. Dadanya kian sesak, namun hatinya lebih perit kerana tidak mampu berada di sisi mereka.

Keesokan paginya, Aisyah tidak lagi dibenarkan bertugas. Doktor mengesyaki dia telah dijangkiti, lalu menempatkannya di wad kuarantin.

Dari katilnya, dia hanya mampu memandang. Sahabat-sahabatnya berlari ke sana sini, berjuang sebagaimana yang pernah dia lakukan selama ini. Hatinya pedih, kerana buat pertama kali dia berada di posisi sebagai seorang pesakit. Bukan sebagai penyelamat.

Detik-detik yang tinggal terasa semakin perlahan. Setiap helaan nafasnya kini seolah-olah sedang menghitung waktu. Keadaan Aisyah semakin lemah. Namun, sebelum benar-benar tenggelam dalam lena yang panjang, dia sempat menulis sepucuk surat buat Nadia dan Farhan.

Anak-anakku, maafkan mak kerana jarang berada di sisi kalian. Mak bukanlah seorang pahlawan yang tercatat dalam buku sejarah, tetapi mak harap kalian faham. Setiap nyawa yang mak pertahankan di sini, mak lindungi dengan cinta yang sama seperti cinta mak terhadap kalian. Andai ini sumbangan terakhir mak untuk tanah air, biarlah ia menjadi tanda bahawa keberanian tidak selalu datang bersama senjata. Kadang-kadang, ia hadir dalam bentuk kasih sayang.

Noktah terakhir pada helaian kertas itu ditinggalkan dengan tangan yang bergetar. Pena terlepas dari genggaman, lalu jatuh ke lantai. Perlahan-lahan matanya terpejam, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Esa.

Dan sepi mula mengambil alih.

***

Beberapa hari kemudian. Di ruang tamu rumah mereka, Nadia membaca surat itu dengan suara bergetar. Farhan hanya mampu menunduk, menahan air mata yang enggan berhenti mengalir.

Meskipun pedih menerima kehilangan, mereka percaya restu seorang ibu akan sentiasa menjadi cahaya yang menuntun setiap langkah.

Di hati mereka, Aisyah akan sentiasa hidup sebagai seorang pahlawan yang memilih untuk berkorban dengan cara yang paling sunyi, namun tetap bermakna.


Tamat.

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular