TANAH BERDARAH, LANGIT BERLUKA
Karya: Nelly Amalia
Di malam pekat tanpa bintang,
udara berbau mesiu dan anyir daging.
Jerit perempuan hamil
dibelah lolongan senapan,
sementara bayi-bayi lahir
tanpa tangis
sebab dunia terlalu bising oleh maut.
Kemerdekaan,
bukan sekadar bendera yang berkibar,
melainkan perut lapar yang ditusuk bayonet,
tangan yang diikat di tiang eksekusi,
mata yang dipaksa menyaksikan
sungai berubah lautan darah.
Aku melihat bumi gemetar
oleh dentum meriam,
aku mendengar doa-doa pecah
menjadi desah terakhir pejuang
yang terhuyung dengan luka terbuka,
sambil menggenggam tanah
seakan ingin menuliskan pesan terakhir:
“Jangan menyerah, meski hidup terenggut.”
Kemerdekaan…
lahir dari tulang belulang yang menggunung,
dari anyaman bambu runcing
yang menelan daging asing,
dari dada-dada muda
yang rela bolong oleh peluru,
namun tetap berteriak lantang:
MERDEKA!
Wahai anak bangsa,
jangan engkau kira
merdeka adalah pesta,
sebab di baliknya
ada ribuan mata tanpa kelopak,
ada ribuan tangan yang membeku di parit,
ada ribuan jiwa
yang memilih mati
agar engkau bisa hidup hari ini.
Merdeka adalah nisan berjajar,
adalah sunyi di hutan belantara,
adalah tangisan ibu
yang tak pernah menemukan jasad anaknya.
Dan kita,
hari ini mengibarkan merah putih
di atas luka mereka,
di atas sepi yang abadi,
di atas janji yang tak boleh dilanggar:
“Kemerdekaan ini,
adalah darah yang membeku di tanah,
jangan kau gadaikan
walau dengan seluruh emas dunia.”
Tiada ulasan:
Catat Ulasan