SUARA YANG MEREKA SEBUT KEMERDEKAAN
Karya: Sri Hidayati
Aku bukan pekik gombal di telinga wanita,
Bukan juga tangisan buaya di panggung sandiwara.
Namaku tidak terukir di nisan marmer yang dingin
sebab aku tak pernah mati.
Akulah auman singa di dada pemberani,
yang membakar habis sisa-sisa keraguan anak bangsa!
Kalian nyanyikan namaku di jalanan,
kalian arak bendera dan potret para pembesar.
Kalian kira aku hadiah yang jatuh dari langit?
sebuah kebetulan sesaat dari belas kasihan Sang Pencipta?
Dengarkan baik-baik!
Aku bukan hadiah!
Aku adalah gumpalan jerit terakhir,
lelehan air mata yang menjadi garam di tanah ini.
Aku adalah bongkahan daging-daging pahlawan
yang berkecai disiram peluru panas para durjana!
Dari waktu ke waktu, aku terus berlari
di sela-sela tidur lelapmu, di tengah pasar riuhmu,
selalui kubisikkan lagi pada nuranimu:
"Cepat! Rebut bendera itu sebelum fajar direnggut!"
Dan bisikanku menjadi guruh, jeritanku menjadi badai!
Langit yang merah oleh darah, akhirnya terbelah oleh fajar.
Matahari tak lagi pucat, ia bangkit membakar sisa-sisa malam.
Dan bendera itu, kini berkibar di puncak tiang tertinggi.
Akulah napas lega di dadamu.
Akulah jalanan tempat anak-anakmu berlari pulang.
Aku telah tiba.
Merdeka.

Tiada ulasan:
Catat Ulasan