BELAYAR DI SAMUDRA DILEMA
Nukilan Rasa : Zamri H. Jamaluddin
Di dua sangkar emas, jiwa kami terkurung resah,
meneguk pahit hidup yang berdenting seperti drama retak.
Ada rasa terpatri bagai belenggu besi, mengerat denyut hati yang lama mati.
Namun di tengah ribut senyap takdir, kita berjumpa,
Dua perahu patah layar, mencari arah pulang yang baru.
Matamu memantulkan retakku yang diam, hatimu,
pelabuhan rindu yang tak pernah kutemukan dalamdiam.
Kita anyam kisah dengan benang yang tak boleh terlihat,
inikah cinta yang sekian lama menunggu kesempatanlahir?
Kita tahu jalan ini berduri dan berbatas kabut,
norma dunia menatah langkah, mengadili rasa yang tumbuhdiam-diam.
Di setiap helai angin, rindu bergetar seperti bisikan gaib,
di setiap pandang, ada janji yang kita sembunyikan dari langit.
Harapan tetap menyala meski jauh dari tangan,
kita gantungkan ia pada Yang Menggenggam segalakemungkinan.
Jika ini rasa yang Engkau titipkan, satukanlah kami di bawah payung redha-Mu.
Dengan doa yang lirih dan pasrah yang tulus,
kami menunggu takdir membuka pintu, agar cinta ini berlabuh,
tanpa lagi diburu oleh dilema yang tak mengenal henti.
Bandar Seri Begawan
22.10.2025
Tiada ulasan:
Catat Ulasan