Supardi Is Hael
Judul 1 : Suara dari Tanah yang Tak Pernah Mati
Suara itu tak datang dari senjata,
tapi dari dada anak-anak yang kehilangan ayahnya,
dari mata ibu yang tak lagi punya air mata,
dari tanah yang setiap hari melahirkan luka
dan masih juga disebut tanah suci oleh dunia.
Di bawah langit yang seharusnya biru,
awan berubah jadi abu,
dan doa yang naik pun terbakar di udara.
Namun, dengarlah…
Masih ada suara yang tak bisa dibungkam
suara kehidupan.
Itu suara bayi yang lahir di bawah reruntuhan,
suara muadzin yang memanggil dalam kepulan debu,
suara bumi yang bergetar menahan duka,
dan suara cinta yang berkata:
“Kami masih di sini, kami belum menyerah.”
Dunia boleh berpaling,
telinga boleh disumbat oleh propaganda,
namun kebenaran tak bisa dibungkam
ia berdenyut di nadi setiap yang masih punya hati.
Wahai Palestina,
namaMu adalah doa yang menembus dinding kebisuan,
engkau bukan sekadar tempat di peta,
engkau adalah cermin nurani dunia.
Dan jika dunia diam
biarlah kami menjadi suaramu,
menjerit dari jauh,
membawa gema:
“Keadilan tidak boleh mati!”
Karena kami tahu
di balik puing dan darah,
ada bunga yang masih ingin mekar,
ada anak yang masih ingin tertawa,
ada cahaya yang menolak padam.
Maka dengarlah dunia,
jika suara Palestina tak lagi terdengar,
biarlah bumi ini bergetar oleh suara kami.
Sebab diam adalah pengkhianatan,
dan berbicara adalah kehidupan.
Buol 18 oktober 2025
Judul 2 : Ketika Dunia Menutup Telinga, Kami Tetap Berseru: Palestina!
Di antara reruntuhan dan debu mimpi,
ada tangis bayi yang tak sempat mengenal kata damai.
Langit meledak oleh suara besi,
sementara dunia menunduk,
seolah sunyi adalah pilihan yang bijak.
Namun kami di sini,
menyulam luka menjadi doa,
menyuarakan namamu, Palestina,
dengan nada yang lahir dari hati yang terbakar cinta.
Bukan sekadar simpati
ini adalah jeritan nurani,
yang menolak tunduk pada diamnya peradaban,
ketika darahmu mengalir menjadi tinta kebenaran.
Wahai tanah para nabi,
kau bukan sekadar berita yang berlalu di layar kaca,
kau adalah wajah kemanusiaan
yang diguncang tapi tak pernah padam.
Setiap batu yang dilempar anak kecilmu
adalah huruf dari kitab keberanian,
setiap doa yang terucap di bawah langit yang terbakar
adalah nyanyian kehidupan yang menolak punah.
Kami tidak punya senjata,
tapi kami punya suara
dan suara ini akan bergema,
menembus tembok kebisuan,
mengetuk hati para penguasa yang lupa rasa.
Dunia boleh menutup mata,
tapi suara kami akan terus menyala,
seperti cahaya di reruntuhan Gaza,
seperti nadi yang menolak berhenti
di tubuh-tubuh kecil yang tak lagi takut pada maut.
Palestina,
namamu adalah puisi yang takkan mati,
adalah nyala yang takkan padam,
adalah suara seluruh dunia yang masih punya hati.
Buol 18 Oktober 2025
Judul 3 : Dari Sunyi yang Tertembak, Kami Berseru: Palestina!
Dari reruntuhan doa yang patah,
Kami mendengar jerit anak-anak langit Gaza,
Tangis mereka bukan hanya air mata,
melainkan gema bumi yang menagih keadilan.
Langit hitam terbakar oleh peluru,
namun di mata seorang ibu,
masih tersisa secercah cahaya sujud
menyebut nama Tuhan di antara dentum bom dan debu roti.
Wahai dunia...
Di mana telingamu saat jeritan itu memanggil?
Di mana hatimu saat rumah-rumah menjadi liang kematian?
Apakah nurani telah dijual di pasar ketakutan?
Lihatlah,
di setiap batu yang berserak,
ada nama yang pernah bermimpi tentang sekolah,
tentang layang-layang biru di langit tanpa drone,
tentang pagi tanpa darah.
Namun mereka masih berdiri,
meski dunia membisu.
Mereka masih mencintai,
meski langit menolak damai.
Karena di dada setiap anak Palestina,
ada azan yang tak pernah padam,
ada bendera yang berkibar dari luka,
ada doa yang menembus dinding kebisuan kita.
Maka dengarlah
ini bukan sekadar suara,
ini adalah jerit bumi yang haus keadilan,
ini adalah nyanyian darah yang menulis sejarah.
Kami berseru:
Palestina bukan sekadar tanah,
tapi jiwa kemanusiaan yang menolak tunduk.
Dan kami tidak akan diam
karena diam berarti mengubur nurani sendiri.
Buol, 18 Oktober 2025
BIONARASI
Supardi adalah alumnus Universitas Tadulako, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Ia merupakan anak kedelapan dari sepuluh bersaudara, suami dari satu istri yang setia, dan ayah dari dua putri yang menjadi sumber semangat hidupnya. Saat ini, Supardi mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah di SD Negeri 6 Bunobogu, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Indonesia.
Selain dunia pendidikan, saat ini Supardi juga menekuni hobi menulis sebagai bentuk ekspresi dan kontribusi dalam dunia literasi. Karya pertamanya adalah buku antologi Menyembuhkan Luka di Tanah Pogoogul. Selanjutnya, ia menulis buku inspiratif 161 Keistimewaan IGI, lalu melahirkan karya fiksi mini berjudul Black Maill, dan buku cerita anak Dwibahasa berjudul Sate Kerang dari Buol, yang merupakan karya tunggalnya. Buku Antologi Puisi berjudul Sketsa Negeriku, buku Fiksi mini “Kawin Perak.” serta buku “Akar Serumpun Anyaman Rasa Jilid 23”.
Dengan semangat pantang menyerah dan cinta pada pendidikan serta budaya lokal, Supardi terus berkarya dan menginspirasi banyak orang melalui tulisan.
Motto hidup: "Jadilah cahaya di tempat yang paling gelap."