Sabtu, 18 Oktober 2025

Doa untuk Ibu Palestina : Yayuk Wahyudi

Doa untuk Ibu Palestina

Oleh: Yayuk Wahyudi

 

Di balik air mata yang membasahi pipi,

tersembunyi kekuatan hati yang tak terperi.

Kehilangan anak dan suami tercinta,

luka yang menganga, takkan pernah sirna.

 

Namun jangan biarkan duka meruntuhkan jiwa.

Palestina membutuhkanmu, ibu yang perkasa.

Setiap doa adalah senjata ampuh.

Kirimkan kekuatan, dari jauh.

 

Meski raga tak bisa berada di sana.

Hati dan jiwa selalu bersama.

Dalam setiap sujud, namamu kusebut.

Semoga Sang Pengasih selalu melindungimu


Bangkitlah, ibu, tegakkan kepala,

Palestina akan bangga padamu selamanya.

Kemerdekaan sejati pasti kan tiba.

Dengan doa dan semangatmu, ibu perkasa.

 

 

Semoga Sang Pengasih memberikan kekuatan dan kesabaran untukmu. Ibu-ibu Palestina. Kami di sini, meski jauh, selalu mendukung dan mendoakanmu


Kulon Progo, 2025

Palestina: Di Bawah Langit yang Tak Pernah Tidur: Ihwana As'ad

 Palestina: Di Bawah Langit yang Tak Pernah Tidur

Oleh: Ihwana As’ad


Ada tanah yang selalu disebut dalam doa,

Tanah yang harum oleh zaitun dan luka,

Di sana, angin berhembus membawa nama-nama

Yang gugur tanpa nisan,

Namun hidup dalam dada umat manusia.


Di pagi hari, matahari enggan tersenyum,

Ia tahu — sinarnya menyingkap reruntuhan,

Di mana anak-anak bermain di antara puing,

Menggambar langit baru di atas pasir dan darah,

Mereka tidak punya mainan,

Hanya harapan yang mereka peluk setiap malam.


Jerusalem, engkau berdiri di tengah badai,

Menjadi saksi antara doa dan peluru,

Setiap azanmu menggema seperti seruan abadi,

Bahwa iman tak bisa dibungkam,

Bahkan oleh dinding, bahkan oleh perang.


Wahai Palestina,

Engkau bukan hanya tanah 

Engkau denyut di dada setiap orang yang masih punya nurani,

Engkau cerita yang tak bisa dilupakan dunia,

Engkau sajak yang ditulis dengan air mata

Dan disalin oleh darah para syuhada.


Di setiap rumah yang runtuh,

Ada ibu yang tetap menyiapkan roti,

Dengan tepung harapan dan bara ketabahan.

Ia tahu, mungkin tak ada yang akan makan hari itu,

Namun ia tetap menyalakan api,

Sebab api itu bukan hanya untuk dapur 

Tapi untuk hidup yang tak mau padam.


Dan ayah-ayah yang berjalan di jalan sunyi,

Mereka tak membawa senjata,

Hanya doa yang diucap dalam diam,

“Ya Allah, jadikan langkah ini saksi,

Bahwa kami tak pernah menyerah.”

Anak-anakmu, Palestina,

Belajar mengeja kata merdeka

Lebih cepat dari mereka belajar menulis nama sendiri.


Di mata mereka,

Tak ada ketakutan — hanya keyakinan

Bahwa Tuhan pasti menepati janji.

Dunia mungkin bungkam,

Tetapi bumi mendengar,

Langit menulis ulang sejarah,

Dan malaikat bersujud di setiap rumah yang roboh.

Sebab kemerdekaanmu bukan sekadar mimpi,

Ia janji yang hidup dalam setiap helaan napas,

Dalam setiap darah yang jatuh ke tanahmu,

Dalam setiap bayi yang lahir di bawah dentuman bom —

Yang menangis bukan karena takut,

Tapi karena ingin hidup.


Dan kelak,

Saat fajar keadilan benar-benar tiba,

Kau akan bangkit dari puing dan debu,

Dengan wajah yang bersih oleh cahaya suci,

Dan dunia akan tahu —

Bahwa Palestina tidak pernah kalah,

Ia hanya menunggu waktunya untuk pulang.

Makassar, 19 Oktober 2025




Aku Masih Menyulam Langit Palestina

Oleh: Ihwana As’ad

Malam turun perlahan di Gaza,

membawa sepi yang tak sempat beristirahat.

Langit memantulkan cahaya redup,

dan bintang-bintang menatap

seperti saksi yang kelelahan menangis.


Di antara reruntuhan,

angin berbisik menyebut nama-nama

yang kini hidup dalam doa-doa panjang.

Aku mendengarnya —

suara lembut yang tak lagi butuh kata.

Aku adalah perempuan dari tanah yang terluka,

menyulam harapan dari serpihan hari.


Tanganku berdebu,

namun di sela jari masih ada benang keyakinan

yang belum putus.

Setiap pagi, aku menanak rindu

di dapur tanpa api,

mengaduk kenangan dalam periuk kosong,

sementara bom di luar

berbunyi seperti lonceng ketabahan.

Anak-anakku belajar menulis kata merdeka

di dinding yang nyaris roboh.


Aku tersenyum pada mereka 

karena di mata kecil itu

aku melihat masa depan yang tak bisa dibunuh perang.

Suamiku sudah lama pergi,

meninggalkan pesan sederhana:

“Jika aku tak pulang,

ajarkan anak-anak mencintai tanah ini

bukan dengan amarah,

tapi dengan doa yang tak pernah padam.”


Jerusalem, wahai kota suci,

betapa banyak doa yang tertahan di langitmu,

menunggu saat Tuhan berkata,

“Sudah cukup, kini tiba waktunya damai.”

Dan dunia…

masih bicara tentang perdamaian

sambil menutup mata dari luka yang nyata.


Tapi aku tahu 

Palestina bukan hanya cerita perang,

ia adalah kisah cinta yang tetap tumbuh

di antara puing dan doa.

Jika suatu hari aku tiada,

biarlah anak-anakku tahu,

bahwa aku pernah hidup di tanah ini

bukan sebagai korban,

melainkan sebagai ibu

yang percaya:

Tuhan tidak pernah tidur,

dan langit yang kusulam dengan doa

akan biru kembali.


Makassar, 19 Oktober 2025

Peluk Kasih untukmu Bayi Palestina: Yayuk Wahyudi

Peluk Kasih untukmu, Bayi Palestina

Oleh: Yayuk Wahyudi

 

Duhai bayi kecil, mata yang polos,

Di mana senyum ibumu, yang dulu berbalas?

Di mana peluk ayahmu, yang dulu hangat?

Kini kau sendiri, di tengah dunia yang kejam.

 

Namun jangan takut, sayang.

Meski raga ini tak bisa menggantikan mereka.

Kasih ibu akan selalu ada,

Menyelimuti hatimu. Menghangatkan jiwamu.

 

Dalam setiap doa, namamu kusebut,

Semoga Sang Pengasih selalu menjagamu.

Meski air mata membasahi pipi.

Jangan pernah kehilangan harapan, bayiku sayang.

 

Kau adalah harapan Palestina.

Generasi penerus yang akan bangkit.

Tumbuhlah dengan kuat, dengan cinta.

Dan jadilah pelita bagi negeri ini.

 

Peluk kasih untukmu, bayi Palestina.

Semoga kedamaian segera tiba.

Kami di sini, selalu bersamamu.

Menyayangimu, seperti bayiku  sendiri.

       

Kulon Progo, 2025

Senandung Kedamaian untuk Palestina: Yayuk Wahyudi

 Senandung Kedamaian untuk  Palestina

Oleh: Yayuk Wahyudi

 

Di tengah malam yang sunyi.

Di bawah langit yang berduka.

Kurasakan getar hatimu.

Was-was yang menghantui kalbu.

 

Siang dan malam berlalu.

Dalam cemas yang tak bertepi.

Namun jangan biarkan gundah merenggut jiwa.

Palestina, engkau tak sendiri.

 

Lihatlah bintang-bintang di langit.

Mereka bersinar, memberi harapan.

Dengarkan desiran angin malam.

Membawa bisikan kedamaian.

 

Meski derita terus menghimpit.

Jangan biarkan semangatmu redup.

Ingatlah tanah airmu tercinta.

Yang selalu menantimu bangkit.

 

Biarlah doa menjadi perisai.

Melindungi dari segala bahaya.

Palestina, engkau kuat, engkau tabah.

Kedamaian pasti kan tiba.

 

Usirlah gundah dari jiwa.

Tegakkan kepala, tatap masa depan.

Dengan keyakinan dan harapan.

Palestina percayalah akhirnya akan  jaya.


Kulon Progo, 2025

Doa untuk Palestina: Sri Rejeki, S.Pd.

DOA UNTUK PALESTINA

Karya: Sri Rejeki,S.Pd. 


Sembur doa ,tuturkata,uwur gizi ….tugas  orangtua                                     

Semua tiada ,anak tanpa dosa hilang tak bernyawa

Muncul egois ,murka durjana  di  tanah Gaza

Di bom lewat udara lanjut bombardir ,gelap gulita hati merana

Melalap persada tanpa dosa ,mata hati mereka merajalela

Membabi buta, tidak ada bela rasa cinta ,hatinya mati mengikis yang ada

Rakyat Palestina sirna ,darah membanjiri persada lautan Gaza

Teriring doa dan sabda  para  ahli surga menanti pintu-pintu terbuka leluasa

Menembus langit ketujuh,mati syahid sabda  para Tuan berkuasa.

Doa  untuk Palestina merebak kemana-mana                

Doa untuk Palestina  merekah mahkota hamba-hamba  terluka

Doa untuk Palestina  porak poranda zeonis israel tumbang tak bernyawa

         


DOA  NUSANTARA  UNTUK PALESTINA      


Nusantara berdoa  untuk Palestina 

Hijau subur nan makmur,kini laut muncrat,gunung batuk,muntah bara api neraka

Memandang Rakyat Palestina di Jalur Gaza

Doa -doa berkumandang dari persada Nusantara

Karena Sang Mentari hambur, hinggap sejuk tidak berdamai Palestina merana

Dedaunan tidak lagi melambai,hinggap manusia tanpa dosa berjatuhan di Palestina

Doa dan Dzikir berkumandang untuk Palestina di Jalur Gaza

Hanya Tuhan menyapa Hamba-Nya.

Tanda akhir zaman mendera

    

Palestina terjaga dari doa dan Dzikir para pecinta di Nusantara 

Palestina terbina oleh tangan para pecinta Surga di Nuusantara

Palestina kelak tertawa penuh canda  para kuasa di Nusantara         




BIONARASI 

Tentang Penulis :

Sri Rejeki,S.Pd. adalah seorang guru bahasa Indonesia SMPN.6 Kota Magelang. Kegemarannya membaca dan menulis

Dengan motto hidup : selalu perduli dengan sesama dan hiduplah bermanfaat untuk orang  lain serta isilah kehidupan ini dengan  keseimbangan amal kebaikan dunia  dan akherat ,Insya Alloh  hidup akan membawa keberkahan. 



Hasil Karya yang telah terbit antara lain :

1. Menulis PTK, terbit di Jurnal Artikel  PGRI dan Dinas Pendidikan Kota Magelang

     Tahun   2012.

2. Menulis Kumpukan Puisi dan Prosa  bersama Magelang Membaca di fasilitasi 

    PerpustakaanKotaMagelang 2014,Terbit 2015 Percetakan Harmoni Magelang.

3. Buku Pengayaan Pemahaman Konsep Berbasis Teks Kelas VII ( Kur. 2013 )

4. Buku Pengayaan Pemahaman Konsep Berbasis Teks Kelas VIII (Kur. 2013 )

5. Kumpulan cerpen Guru * ( Seikat Senja Seikat Cerita ) dari MGMP Bahasa

    Indonesia Kota Magelang,Terbit tahun Oktober  2015 Ber ISBN 

6. Buku Pengayaan Pemahaman Konsep Berbasis Teks Kelas VIII ( Kur. 2013 )

    Revisi 2016

7. Menulis Buku Seputar sejarah dan legenda asal mula Kota Magelang

    Terbit di MediaGuru April 2018 ISBN :978-602-478-563-5

8. Menulis Buku RITME KEHIDUPAN ( Antologi Puisi) Terbit Media Edukasi 

    Februari 2020 ISBN :978-623-215-779-8

9.Menulis Antologi cerpen ( GURATAN PENA ) penulis eks Sagusabu 2

   Terbit di SIP Publising Oktober 2020   ISBN :978-623-6793-24-4.

10.Secondary ( Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah)Vol 1No:2 ( 2021

     ISSN ( Print ) :2774-8022.ISSN ( Online):2774-5791 dari LP3I 

     Universitas Mandalika ,Lombok ,NTB,Indonesia.


 


Syuhada Palestina : Sudarjo Abd Hamid

Syuhada Palestina

Sudarjo Abd Hamid


Debuh suci darah bercucur 

Gagah para laskar berjubah tegak membuncah 

Jubel berdiri menghalau lenyap 

Dibawah langit sahutan darah 


Tertatih ukiran langkah juang 

Diatas bara pasir yang mendengung 

Menggema Gita terus semangat 

Berkaca netra penuh harap 

Walau luka menanti 

Untuk tanah air 

Terlahir para rasul 


Syuhada di tengah gulita 

Ibarat dian penebar terang 

Mengantar asa dari nafas yang tersengal 

Mereka tak gentar 

Tak pernah menunduk 

Membawa keadilan 

Penuh semangat mahabba 

Darah mereka jadi tameng hidup 

Menjadi daya juang tak sia sia 


Dalam hening malam mendaras 

Para syuhada, 

Pahlawan sejati patriot bangsa 

Di sanubari terdalam 

Mereka kekal menggema tak pernah mati.

Bayi Menangis Di Bawah Langit: Sudarjo Abd Hamid

Bayi Menangis di bawah Langit

        Sudarjo Abd Hamid


Dibawah hamparan birunya langit 

Diatas tanah berserak debu

Bayi mungil nyaris terluka 

Terpejam mata tidur dalam damai 

Walau bumi bersimbah darah mereka bangkit tak bawah mati 


Tangan mungil merangkul hayat 

Memantul sinar sahut kehidupan 

Ditengah bidikan bom molotov

Ia adalah pelita untuk bumi yang fana


Bisikan angin nyanyian takbir 

melindungi asa kecil dalam bayang 

Mungil masa depan bunga mendatang 

Di padang juang dibawah langit

Kau pejuang ajaib 


Meski badai menghadang 

Hadir mendesir mengoyak ketenangan 

Cinta tertanam doa tenang dalam langkah 

Di alam penuh sejarah 

Bayi mungil hadir 

Menenteng dunia Baru

Luka Palestina: Sudarjo Abd Hamid

Luka Palestina

Sudarjo Abd Hamid


Tanah kudus langit membara 

Tersayat luka tangisan berdarah 

Serakan debuh berbekas luka 

Bersama bayu pilu merangkak  


Hunian jatuh berkalang tanah 

Histeris anak hanyut dalam tangis 

Negeri tercoreng oleh api berlapis darah teriakan melangit tak pernah pudar 


Dibalik sisa nyawa berserak 

Ada jiwa memeluk bara 

Mengelak maut penuh duri

Asa pupus rasa terbelah

Mendekap harap di relung retak 


Tiap doa terpanjat dalam 

Ditengah temaram yang tak bertepi

Zona terkabung duka dan cinta 

Tak lekang oleh desah kebencian 


Luka berdarah milik semesta 

Menggemah sahut hadir keadilan 

Lirih tilawah terus menggema 

Mengasa Damai tunda terwujud

Senjata Genosida: Komariah Umi Al-- Kautsar

 SENJATA GENOSIDA

Komariah Umi Al-Kautsar 


Perkenalkan aku Negev

Senapan mesin dengan diameter 7,62 milimeter yang mampu menembus bangunan

Tapi tidak bisa menahan dahsyatnya doa


Kami Holit dan Yated

Roket kembar siam yang digunakan untuk menghantam kendaraan lapis baja 

Namun tak kuasa  menghancurkan kekuatan iman mereka


Namaku Iron Sting

Peluru mortir yang dapat menghancurkan target dalam satu tembakan

Lagi dan lagi tak bisa menghentikan semangat para mujahid 


Aku Ido 

Visibilitas dari waktu ke waktu yang membantu navigasi walau di tempat yang gelap

Namun sayang tak kuasa menandingi cahaya para penghafal Al-Qur'an 


Kami pasukan Genosida di Palestina

Siap menerima Azab dan laknat ketika suara Azan kembali berkumandang di reruntuhan masjid Gaza


Bumi Al-Kautsar 2025

Puisi 3 Tajuk : Era Nurza

 Langit Gaza Masih Luka

Oleh : Era Nurza


Langit Gaza masih luka

warnanya bukan biru

tapi kelabu bercampur doa yang tersesat

Anak-anak berlari tanpa bayangan

karena matahari pun ragu menyinari reruntuhan yang tak lagi punya nama


Suara azan menembus debu

mengabarkan iman yang masih tegak meski dindingnya runtuh


Di antara batu dan nyala api

seorang ibu menimang udara

mencari bayinya yang tinggal kenangan

Dunia menonton dari balik layar

menghitung korban seperti angka tanpa wajah


Sedang Gaza menulis puisi dengan darahnya sendiri

di kertas langit yang penuh lubang peluru

Ada doa yang tak sempat selesai

ada ayat yang terpotong di tengah serangan

Tapi di hati yang hancur

masih tumbuh bunga kecil bernama harapan


Mereka tidak mati 

mereka berpindah ke bait lain dari kehidupan

ke tempat di mana suara tak lagi bergema oleh sirene

dan anak-anak bisa tertawa tanpa takut besi dan api


Langit Gaza masih luka

tapi luka itu bukan tanda akhir 

ia adalah nadi yang terus berdenyut


menyebut satu nama

Kemanusiaan.


Padang Indonesia, Oktober 2025



Suara Azan di Reruntuhan

Oleh : Era Nurza


Suara azan di reruntuhan

mengalun pelan di antara debu dan abu

seperti bisikan langit yang menolak menyerah

meski bumi telah kehilangan bentuknya


Di bawah dinding yang retak

seorang lelaki berdiri dengan tubuh penuh doa

menengadahkan tangan yang gemetar 

bukan karena takut

tapi karena cinta yang terlalu dalam pada 


Tuhannya


Anak kecil memeluk batu bata

mengira itu tempat tidurnya semalam

Sementara ibunya memeluk udara

berharap ada nama yang kembali dari puing

Suara azan itu terus naik

menembus sisa-sisa malam dan bau mesiu

menyentuh langit yang masih gelap

menggetarkan hati malaikat yang turut menangis diam-diam


Dunia mendengar tapi banyak yang menutup telinga

Hanya angin yang berani menjawab

“Allahu Akbar…”

seraya membawa gema itu melintasi lautan

agar sampai pada hati yang masih hidup di belahan bumi lain


Di reruntuhan itu

iman bukan lagi sekadar kata 

ia menjelma nafas

menjelma cahaya yang tak padam bahkan saat listrik dunia mati


Suara azan di reruntuhan

menjadi saksi bahwa manusia bisa dihancurkan

tapi tidak pernah benar-benar hilang

Selama masih ada satu jiwa yang bersujud

Gaza akan tetap hidup 

dalam takbir dalam air mata

dalam setiap denyut kemanusiaan yang menolak diam


Padang, Indonesia, Oktober 2025




Palestina Masih Luka

Oleh : Era Nurza


Palestina masih luka

Darahnya belum kering di halaman sejarah

sementara dunia terus menulis bab baru

tanpa menatap matanya yang letih

Anak-anak tumbuh tanpa langit biru

menggambar rumah di udara

karena di tanahnya

setiap dinding bisa hilang dalam sekejap suara


Ada doa melayang di antara asap

menyebut nama Tuhan dengan suara serak

mungkin agar malaikat tahu

bahwa iman masih bernafas di bawah reruntuhan


Palestina masih luka

tapi luka itu bukan tanda menyerah 

Kukirim rindu di sayap bayu : Dr. Dil Froz Jan binti Sayed Halem Shah

 Dr. Dil Froz Jan binti Sayed Halem Shah

              Kukirim rindu di sayap bayu


usai kuliah terakhir 

sahabatku bergegas ke bandara

mahu segera pulang ke pangkuan keluarga

yang lama dirindu tanpa sebarang khabar

begitulah anak rantau yang berjauhan

kesekian lama di bumi orang

kasih kekal tumpah di negara sendiri

kami pun berpelukan lalu mengucap selamat semuanya

lambaiannya longlai namun semangatnya kental

jika boleh mahu dia tiba seawal mungkin

rindunya tidak mampu lagi di bendung

begitu ketara di tubir mata

usai beberapa hari, aku menerima panggilan jarak jauh

aduhai, sahabatku menangis pilu

suaranya terketar-ketar menahan sebak

memberi khabar ahli keluarganya

syahid terkena peluru yang disasar

sengaja disasar ke situ

kejiranan yang didiami alim ulama

para cendekiawan dan ilmuan

dan dalam sekelip mata semua berselerakan

sukar mengecam anggota badan

kerana ada yang tanpa kepala

aduhai, kejamnya kaum ini menceroboh dan memusnah 

apa yang ada di hadapan mata

aku bersoal-jawab di benak kepala

sejujurnya, apakah yang mereka mahu

memushi orang Islam dari dahulu kala

apakah mereka tidak gentar akan kuasa Yang Maha Esa?

aku yakin, satu hari nanti, bala bakal menimpa

dan tentera Allah membinasa kaum yang dilaknati ini

kepada temanku yang tidak mungkin aku bersua lagi

kukirim rindu di sayap bayu agak kau baik-baik adanya di sana


Kamar kerja, Bandar Baru Bangi, Selangor, Malaysia

18 Oktober 2025  

Merpati yang Kehilangan: Dr. Dil Froz Jan Binti Sayed

    Dr. Dil Froz Jan binti Sayed Halem Shah

               MERPATI YANG KEHILANGAN



sekumpulan merpati berbulu kelabu terbang riang

seekor hinggap di tiang papan sedikit terlindung

tiangnya tinggi lalu dibina sarang

ia yakin tiang itu selamat kerana ia bakal bertelur 

dan akan menetas anak-anak merpati baru

kesekian hari ia enggan terbang mencari makan

mungkin terlalu lapar, hari itu ia terbang jauh

meninggalkan lima biji telurnya

sedihnya tiang tinggi itu terkena bedilan peluru

patah lalu rebah ke bumi

sarang dan telurnya pecah 

merpati yang terbang mencari makan

kini pulang mencari sarang

seketika ia bumkam meski bergenang airmata  

segala impian melihat anak-anaknya membesar berkecai

aduhai rakyat di bumi anbiyaa ini

kesekian lama menanggung derita

seperti ibu merpati yang meratapi

begitu juga ibu-ibu yang kehilangan anak

apalah yang ada, zuriat mewarisi nama keluarga

syahid pada usia muda

tangis ibu menjadi-jadi

siulan syahdu si merpati tiada bedza

oh tuhan, Kau tabahkan semangat mereka melewati hidup ini

penuh bersyukur dan tawadduk serta lebih menyerah kepada-Mu

kerana hanya Kau Yang Maha Mengetahui akan kejadian yang terjadi



Kamar kerja, Bandar Baru Bangi, Selangor, Malaysia.

18 Oktober 2025  

Doa Di Bawah Reruntuhan: Angela



Tanah Kelahiranku, Palestina: Angela


 

Puisi 3 Judul : Supardi Is Hael

Supardi Is Hael


Judul 1 : Suara dari Tanah yang Tak Pernah Mati


 Suara itu tak datang dari senjata,

 tapi dari dada anak-anak yang kehilangan ayahnya,

 dari mata ibu yang tak lagi punya air mata,

 dari tanah yang setiap hari melahirkan luka 

 dan masih juga disebut tanah suci oleh dunia.


 Di bawah langit yang seharusnya biru,

 awan berubah jadi abu,

 dan doa yang naik pun terbakar di udara.

 Namun, dengarlah…

 Masih ada suara yang tak bisa dibungkam 

 suara kehidupan.


 Itu suara bayi yang lahir di bawah reruntuhan,

 suara muadzin yang memanggil dalam kepulan debu,

 suara bumi yang bergetar menahan duka,

 dan suara cinta yang berkata:

“Kami masih di sini, kami belum menyerah.”


 Dunia boleh berpaling,

 telinga boleh disumbat oleh propaganda,

 namun kebenaran tak bisa dibungkam 

 ia berdenyut di nadi setiap yang masih punya hati.

 Wahai Palestina,

 namaMu adalah doa yang menembus dinding kebisuan,

 engkau bukan sekadar tempat di peta,

 engkau adalah cermin nurani dunia.


 Dan jika dunia diam 

 biarlah kami menjadi suaramu,

 menjerit dari jauh,

 membawa gema:

“Keadilan tidak boleh mati!”

Karena kami tahu 

 di balik puing dan darah,

 ada bunga yang masih ingin mekar,

 ada anak yang masih ingin tertawa,

 ada cahaya yang menolak padam.


Maka dengarlah dunia,

 jika suara Palestina tak lagi terdengar,

 biarlah bumi ini bergetar oleh suara kami.

 Sebab diam adalah pengkhianatan,

 dan berbicara adalah kehidupan.

                                              Buol 18 oktober 2025


 Judul 2 : Ketika Dunia Menutup Telinga, Kami Tetap Berseru: Palestina!

 Di antara reruntuhan dan debu mimpi,

 ada tangis bayi yang tak sempat mengenal kata damai.

 Langit meledak oleh suara besi,

 sementara dunia menunduk,

 seolah sunyi adalah pilihan yang bijak.


 Namun kami di sini,

 menyulam luka menjadi doa,

 menyuarakan namamu, Palestina,

 dengan nada yang lahir dari hati yang terbakar cinta.


 Bukan sekadar simpati

 ini adalah jeritan nurani,

 yang menolak tunduk pada diamnya peradaban,

 ketika darahmu mengalir menjadi tinta kebenaran.


 Wahai tanah para nabi,

 kau bukan sekadar berita yang berlalu di layar kaca,

 kau adalah wajah kemanusiaan

 yang diguncang tapi tak pernah padam.

 Setiap batu yang dilempar anak kecilmu

 adalah huruf dari kitab keberanian,

 setiap doa yang terucap di bawah langit yang terbakar

 adalah nyanyian kehidupan yang menolak punah.


 Kami tidak punya senjata,

 tapi kami punya suara

 dan suara ini akan bergema,

 menembus tembok kebisuan,

 mengetuk hati para penguasa yang lupa rasa.


 Dunia boleh menutup mata,

 tapi suara kami akan terus menyala,

 seperti cahaya di reruntuhan Gaza,

 seperti nadi yang menolak berhenti

 di tubuh-tubuh kecil yang tak lagi takut pada maut.


 Palestina,

 namamu adalah puisi yang takkan mati,

 adalah nyala yang takkan padam,

 adalah suara seluruh dunia yang masih punya hati.

                                               Buol 18 Oktober 2025


Judul 3 : Dari Sunyi yang Tertembak, Kami Berseru: Palestina!

 Dari reruntuhan doa yang patah,

 Kami mendengar jerit anak-anak langit Gaza,

 Tangis mereka bukan hanya air mata,

 melainkan gema bumi yang menagih keadilan.


 Langit hitam terbakar oleh peluru,

 namun di mata seorang ibu,

 masih tersisa secercah cahaya sujud

 menyebut nama Tuhan di antara dentum bom dan debu roti.


 Wahai dunia...

 Di mana telingamu saat jeritan itu memanggil?

 Di mana hatimu saat rumah-rumah menjadi liang kematian?

 Apakah nurani telah dijual di pasar ketakutan?


 Lihatlah,

 di setiap batu yang berserak,

 ada nama yang pernah bermimpi tentang sekolah,

 tentang layang-layang biru di langit tanpa drone,

 tentang pagi tanpa darah.

 Namun mereka masih berdiri,

 meski dunia membisu.


 Mereka masih mencintai,

 meski langit menolak damai.

 Karena di dada setiap anak Palestina,

 ada azan yang tak pernah padam,

 ada bendera yang berkibar dari luka,

 ada doa yang menembus dinding kebisuan kita.


 Maka dengarlah

 ini bukan sekadar suara,

 ini adalah jerit bumi yang haus keadilan,

 ini adalah nyanyian darah yang menulis sejarah.


 Kami berseru:

 Palestina bukan sekadar tanah,

 tapi jiwa kemanusiaan yang menolak tunduk.

 Dan kami tidak akan diam

 karena diam berarti mengubur nurani sendiri.

                                               Buol, 18 Oktober 2025



BIONARASI  

Supardi adalah alumnus Universitas Tadulako, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Ia merupakan anak kedelapan dari sepuluh bersaudara, suami dari satu istri yang setia, dan ayah dari dua putri yang menjadi sumber semangat hidupnya. Saat ini, Supardi mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah di SD Negeri 6 Bunobogu, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Indonesia. 

Selain dunia pendidikan, saat ini Supardi juga menekuni hobi menulis sebagai bentuk ekspresi dan kontribusi dalam dunia literasi. Karya pertamanya adalah buku antologi Menyembuhkan Luka di Tanah Pogoogul. Selanjutnya, ia menulis buku inspiratif 161 Keistimewaan IGI, lalu melahirkan karya fiksi mini berjudul Black Maill, dan buku cerita anak Dwibahasa berjudul Sate Kerang dari Buol, yang merupakan karya tunggalnya. Buku Antologi Puisi berjudul Sketsa Negeriku, buku Fiksi mini “Kawin Perak.” serta buku “Akar Serumpun Anyaman Rasa Jilid 23”.

Dengan semangat pantang menyerah dan cinta pada pendidikan serta budaya lokal, Supardi terus berkarya dan menginspirasi banyak orang melalui tulisan.

Motto hidup: "Jadilah cahaya di tempat yang paling gelap."



Debu Gaza Hingga Indonesia: Ahmad Aziz Rifai

 Debu Gaza Hingga Indonesia


Indahnya langit di malam-malamku

Secangkir kopi hitam hangat bersama sepotong rotiku menambah tenang riang

Bintang dan rembulan seolah menyapa "selamat menikmati malam wahai manusia"


Namun hembusan angin dan bau tak sedap merubah keriangan menjadi kegelisahan

Aroma kebiadaban dari barat terasa pekat

Debu Gaza menyiram rasa duka mendalam

Hingga kampung Indonesia Nusantara 


Bukan gemuruh ombak pantai selatan

Tapi gemuruh peluru zionis yang mencabik dada anak Gaza tak bersalah tak berdosa

Gemuruh rudal zionis melebur pemukiman sipil bahkan rumah ibadah dan rumah sakit dihancurkan berkeping-keping


Debu Gaza seolah memberi pesan

"Wahai muslim, tolong aku, bantu aku, lindungi aku beri aku keamanan" 

Dan aku pun seolah menjawab "Wahai Palestina wahai Gaza kami bersama mu

Do'a-do'a muslim Indonesia tak akan pudar tak akan pernah sirna sedikitpun.


Debu Gaza menjadi saksi mana yang berbuat zalim mana yang terzalimi

Allah segera melindungi dan meridhoi kebangkitan Gaza kemerdekaan Palestina 



_________

Bionarasi:

Penulis bernama Ahmad Aziz Rifai dengan nama pena AZRIF. Asal Tegal Jawa Tengah Indonesia, penggiat literasi dan pendiri taman bacaan masyarakat @tbm.bintangnusantara sejak Oktober 2021.

Wa: 085640642364

Jerit Pekik di Tembok Tuli : Nera Sekuma

Nera Sekuma

JERIT PEKIK DI TEMBOK TULI



Kuketuk dinding bisu tak bernurani

Di atas tanah merah yang terbuat dari luka dan darah

Basah, parah, merampas airmata

Luka menganga dari jiwa-jiwa yang karimah


Engkau tuli dari rintih bayi yang kini beratap langit

Tuli dari jerit tangis anak-anak yang kau lontar genosida

Tuli dari teriakan dunia, tuli dari doa reruntuhan masjid

Congkakmu, yang tak peduli kedamaian dunia


Seperti bicara pada gunung yang tak ingin retak

Bermufakat denganmu bagai bermusyawarah dengan batu

Nalar, logika, dan empati semua koyak

Hitam menjalari kesombongan hati yang beku


Israel bagai binatang jalang,

Palestina bukan bayang-bayang, yang bisa kau hapus dengan cahaya

Palestina bagai akar, yang meski ditindas kan terus menggenggam tanahnya

Dunia beserta langit kan selalu bersamamu Palestina


Kelak sejarah tak akan tuli seperti batinmu,

Ia akan menuliskan siapa pelaknat, dan apapun yang disikat

Dari bumi Allah yang tlah kau hancurkan

Dari mujahid-mujahid yang kau luluhlantakkan


Ya Ilahi Robbi, lindungi rakyat Palestina

Temani setiap tangan-tangan yang sedang berjuang

Kuatkan, selamatkan…

Merdekakan, dan makmurkan…



Pondok Gede, 18 Oktober 2025



Bionarasi

Nera Sekuma, adalah alumni STIE Perbanas Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Selain sebagai PNS di bidang pendidikan, ia juga berkecimpung sebagai relawan pendidikan di Kelas Inspirasi-Indonesia Mengajar. Kegemaran menulisnya mulai digeluti secara aktif dan produktif sejak tahun 2019 dengan berkarya di buku tunggal dan antologi. Karya tunggal pertamanya adalah buku kumpulan puisi dan sajak yang berjudul “Tuliskan saja, jangan dikenang!” (2019). Baginya, menulis adalah cara bersedekah pengetahuan dan pengalaman dalam senyap. Motto hidupnya: gigih berkarya, bercanda secukupnya. (IG:@sekataq; @ak.sarabintang)

Puisi 3 Tajuk : MIMS

Puisi I: Zaitun Luka Di Bumi Syahid

Karya MIMS 


Bukan sembarang gugur, daun-daun zaitun itu,

Ia luruh, seribu kalinya lebih sayu,

Dari janji hujan yang tak pernah kunjung temu.

Akarnya, menjulang rindu sejak ribuan lalu,

Menyimpan denai sejarah, di bumi yang selalu berdebu,

Kini dipatahkan cengkaman besi yang menderu.

Burung-burung pipit di jendela Gaza,

Tidak lagi menyanyi melodi pagi yang mesra,

Paruh mereka terkunci, suara tercekik sengketa.

Kepaknya, sayap harapan yang kian retak,

Terbang melayang, mencari mercu kebebasan yang serentak,

Dari jeriji kezaliman yang tak kenal gelak.

Namun, di celah rekah batu dan ranapnya bina,

Sebiji benih kurma, degil untuk meniada,

Menyimpan intipati kedaulatan yang tiada tara.

Ia menjanjikan pelepah, walau di lidah api,

Mengisi denyut iman yang tak pernah mati,

Palestin, tegaklah ia, dengan doa sejati.


Puisi II: Nyanyian Kumbang Yang Merah

Karya MIMS 


Kumbang Merah, sayapmu koyak dibasahi darah,

Bukan madu yang kau cari di sarang yang musnah,

Tetapi sisa degup nyawa, di bawah timbunan payah.

Kau saksi bisu, ratapan ibu yang terpisah,

Dari buaian anak yang dipeluk tanah,

Di kota yang dijahit luka dan rebah.

Bunga-bunga anemon Palestin,

Merah menyala, bukan kerana mekar murni,

Tetapi mewarnai syahid yang terpilih dini.

Kelopaknya bergetar, merangkul jasad yang hancur,

Membawa pesan kemerdekaan yang subur,

Dari rahim perjuangan yang takkan luntur.

Kini, kiblat doa kami merentasi semesta,

Agar kawah-kawah ledak itu menjadi kolam mesra,

Tempat camar pulang, membawa sauh sejahtera.

Bangunlah, Gaza, dari abu dan cemar yang ngeri,

Biar gagak hitam pergi, membawa dendam sendiri,

Dan Palestin berdiri, syahdu dan abadi.


Puisi III: Kaktus Sabra Dan Keteguhan Watan

Karya MIMS 


Kaktus Sabra, berduri tegar di padang gersang,

Simbol ketahanan yang tak mungkin goyang,

Walau dipanah peluru, ia tetap menjulang.

Dagingnya menyimpan air, rahsia kesabaran,

Di tengah gurun penindasan dan pengorbanan,

Menjadi benteng maruah, menangkis kehinaan.

Serigala-serigala malam, menyalak angkuh dan liar,

Mengoyak sunyi Palestin dengan api yang menjalar,

Mencuba mencabut akar yang ditanam para pejuang wajar.

Mereka lupa, tanah ini diwarisi dari ruh para Anbiya,

Setiap kerikilnya berbisik nama-nama mulia,

Menanti subuh keadilan yang bakal tiba.

Ya Tuhan, Yang Menggenggam Takdir dan Masa,

Kami tadahkan tangan, memohon setulusnya doa,

Agar bendera Palestin, berkibar di puncak Gaza.

Semoga ranting-ranting yang patah, bercambah semula,

Menjadi hutan kebebasan, hijau dan merdeka,

Dan anak-anak Palestin, pulang ke pangkuan bahagia.

Khamis, 16 Oktober 2025

Takbir di Tengah Reruntuhan

Syahrul Ramadhan



Takbir menggema

bukan untuk perang,  

tapi untuk meredam dentuman.


Di antara langit dan reruntuhan,  

ada suara yang tak bisa dibungkam:  

“Allahu Akbar”  

bukan seruan kematian,  

tapi doa agar nyawa diselamatkan.


Di mata anak-anak yang kehilangan atap,  

takbir jadi pelindung,  

bukan pemicu retak tanah.


Gencatan senjata,  

bukan kelemahan,  

tapi kekuatan jiwa  

yang tahu kapan berhenti,  

agar damai sempat tumbuh  

di ladang penuh luka.


Kami tak menyerah,  

kami memilih jeda,  

agar bumi bisa menarik napas  

tanpa aroma mesiu.


Dan ketika takbir naik ke langit,  

ia membawa air mata,  

bukan amarah

ia mengetuk langit,  

agar cinta lebih nyaring  

dari ledakan.

  ANAKKU AZIZAH

  Oleh : Nur Asrianti


Di suatu sudut ruang yang remang remang cahaya

Dalam rona dunia

Anakku Azizah bersuara dalam lantunan ayat ayat suci yang terekam

Tak hanya di kepala

Tetapi juga dalam relung relung hati dan jiwa


Ia berkaca pada hangatnya harapan

Tentang kehidupan yang abadi penuh makna

Suatu hari di sana

Di langit yang tak fana


Anakku Azizah memeluk mushaf 

Dalam dekapan cinta dan lingkaran kekuatan

Yang Maha Kuat

Yaa Aziiz Ya Jabbar Yaa Muttakabbir


Keyakinannya penuh akan pertolongan 

Yang tak akan pernah runtuh


Anakku Azizah

Di tanah para nabi

Perkasa memandu dunia dengan binar mata bercahaya

Setiap nafasnya adalah doa dan harapan yang tak pernah sirna


Bandung, 15 Oktober 2025  


Nur Asrianti. 

Seorang penyuka puisi dari Bandung Jawa Barat Indonesia. Bersilaturahmi lebih jauh di instagram @nur_asrianti &facebook : Nur Asrianti Jakaria.

 Langit Yang Belum Damai

Naora MN


dengar...

ini bukan hanya bisik

ini gong yang berdentang

mereka bangun dari lembah debu

dari simpanan air yang dicuri

dani nama-nama yang enggan dilenyap


mereka tidak menunggu izin untuk bernafas

malah memahat azimat 

dengan kaki di tanah kita


mereka adalah batu yang menolak runtuhan

menanam zaitun di atas bekas luka

daunnya berbicara bahasa abadi

bahawa keteguhan itu takkan mati


mereka tidak menunggu simpati

hanya menuntut hak yang dirampas

anak-anak mereka menulis masa hadapan

dengan kapur dan darah keberanian


berdirilah… 

bukan untuk mereka semata

tetapi untuk semua manusia 

yang dirampas maruahnya


merdeka bukan hadiah

ia adalah perjuangan yang bernyala saban hari


mereka tidak tunduk, mereka tidak padam

suarai ini - batu, daun dan laut

selagi langit belum aman

kami terus menyalakan fajar di dalam


Naora MN

#peacepalastin

2025

 Di Dataran Perjuangan

Naora MN


mereka menerima gelombang

mengusung harapan dan langit yang luka

kapal mereka berlayar di laut doa

membelah sunyi dengan tekad dan kasih


aku di sini

tidak berdiri di dek kapal

tidak menatap ombak yang menggila

namun aku tetap berjuang

di dataran yang tidak berombak

dengan senjata yang bernama pena


pena ini

layarku yang tenang

mengibarkan harapan di samudera kata

setiap noktah, setiap ayat

adalah degup perjuangan 

yang tak terlihat oleh mata

namun menyala di hati manusia


kerana perjuangan itu seribu wajah

ada yang berdarah di laut

ada yang berdiri di dataran

dan ada yang berlutut di depan kerta

mendoakan dalam senyap yang tegas


aku menulis tentang luka

tentang tanah yang dijajah

tentang ibu yang kehilangan anak

tentang dunia yang memaling muka


mereka membawa roti dan ubat

aku membawa kesedaran dan doa

mereka menentagn sekatan dan senjata

aku menentang bisu dan lupa


kerana tidak semua pejuang berparang di tangan

ada yang berperang dalam diri

agar dunia tidak terus lena


dan di dataran sunyi ini

aku bersaksi

pena juga mampu belayar 

menuju kebenaran


Naora MN

Melaka 2025

 Perjuangan Yang Tidak Terlihat

(Sempena misi Global Sumud Flotilla ke Gaza)


mereka menongkah samudera

mengharung ombak dan badai besi

membawa harapan ke tanah yang berdarah

menyulam doa di setiap nadi laut biru


aku tidak turut di dalam misi

tidak merenung bintang dari gelombang

namun tanganku juga tetap berjuang

di dataran sunyi kata dan makna


aku tidak memikul kotak bantuan

tetapi memikul pena

menulis luka, menulis harapan

menyulam keberanian dalam huruf-huruf kecil

yang ingin menjadi doa


kerana perjuangan

tidak selalu diwarnai debu perang

kadang hanya setitis tinta

yang jatuh dari hati yang pedih

namun terus hidup

menyala di antara diam manusia


Naoa MN

September 2025

 Karya; Riyan Rana

PERJALANAN SEBUTIR PELURU


Aku lahir dari logam dingin yang dipaksa menyala.

Api melemparkanku, dan udara berlari mendahului, aku berteriak kepadanya: “Apakah engkau rela menjadi jalan bagi makhluk kecil ini?” Udara tidak menjawab, ia hanya menangis dalam desau yang menyayat daun-daun zaitun dan menaburkan pasir ke mata langit.

Aku melesat, di bawahku, Gaza masih bernafas. Seorang ibu sedang menyalakan tungku, roti pipih menunggu untuk dipanggang. Suara anak-anak berkejaran di lorong sempit antara dinding rumah yang setengah roboh.

Seorang kakek duduk di kursi reyot, membaca Al-Qur’an dengan suara bergetar, sementara pengeras masjid yang retak, memanggil orang-orang untuk menegakkan subuh.

Aku melewati puing-puing besi yang pernah menjadi atap sebuah rumah. Besi itu retak, menggeram, lalu berkata: “Jangan singgah, wahai tamu yang dipaksa, karena tubuhmu hanyalah titah mesin haus darah.”

Aku bergetar, namun perjalanan tetap mendorongku. Debu berhamburan di wajah, mereka berseru lirih: “Bila engkau menembus daging, kami akan menutupinya. Namun siapa yang akan menutup doa anak-anak yang menusuk langit?”

Aku menggigil, tapi api yang dulu memuntahkanku masih membakar punggung. Aku tak kuasa berhenti.

Tiba pada punggung kecil itu. Sebuah kanvas rapuh yang mestinya hanya dikenali oleh pelukan. Aku mengetuk tulangnya, tulang itu memekik, “Kenapa engkau memilihku, sedang aku masih sibuk menegakkan tubuh mungil agar ia bisa berlari mengejar impiannya?”

Aku tidak menjawab, karena jantung segera menyambutku. Detaknya terguncang, ia berteriak penuh getir: “Engkau hanyalah tamu asing, mengapa pintuku yang kau dobrak? Aku sedang sibuk menjaga irama riang anak kecil yang masih suka tertawa di sela runtuhan?”

Lalu darah keluar menyambut, setetes demi setetes, seakan ingin berkata: “Kami bukan cat merah untuk membubuhkan tanda di tanah. Kami adalah sejarah kecil yang ingin tumbuh menjadi dewasa.”

Aku menjerit dalam diam, namun  tetap melaju. Sumsum berdesis, mengadu padaku, “Engkau hanya musafir yang tersesat. tapi mengapa kesesatanmu harus menyulitkan kami?”

Aku keluar dari dada mungil, meninggalkan lubang merah yang tak pernah bisa disulam doa.

Aku jatuh, menyusur reruntuhan, terkapar di bawah dinding yang separuh roboh. Namun sebelum kesadaranku di kubur waktu, aku sempat menolehnya.

Wajah anak itu tersenyum. Senyum yang seakan berbisik lirih, “Terima kasih, engkau telah mengantarkanku ke pangkuan surga.”

Tubuh mungilnya ambruk, aku menelan air mata. Air mata yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau menelusuri luka-luka Gaza, hingga ke dalam nadi sejarah.



Madura, 16 Oktober 2025

 Monolog Untuk Gaza 

Karya : Zamri H.Jamaluddin


Engkau adalah cermin yang pecah,

Menyimpan bayangan-bayangan 

duka yang tidak terperi.


Harapanmu adalah sungai 

yang mengalir deras di bawah reruntuhan yang berabad,

Mencari jalannya menuju lautan kebebasan yang tidak pernah pudar.


Dari nafas yang bergetar saat sujud,

Dari takafur yang merenungi luka,

Tercipta sebuah jembatan dari getaran jiwa ke jiwa.

Tidak perlu kata-kata, tidak perlu janji,


Cukuplah bisikan doa yang mengalun dalam keheningan malam,

Menjadi kekuatan bagi langkah-langkahmu yang tegar.


Luka-lukamu adalah lukisan di kanvas semesta,

Yang mengajar tentang arti ketabahan yang tidak terhingga.


Engkau adalah pohon zaitun yang akarnya menembus batu,

Tidak akan goyah oleh badai dan terik,

Kerana doa-doa kami adalah air yang membasahi akarmu.


Setiap harapanmu,

Adalah burung-burung yang menetas dari cangkang penderitaan,

Terbang tinggi menembus awan kelabu.


Dan setiap doaku,

Adalah angin yang menghembuskan sayap-sayapnya,

Membawa mereka terbang menuju hari esok yang cerah.


Maka, dalam nafas dan takafurku,

Terukir janji, bahwa engkau tidak akan pernah sendiri.

Harapanmu adalah harapan kami,

Dan doamu adalah doa yang menggetarkan semesta.

Hingga fajar kemenangan menyingsing,

Dan tanah yang berlumur darah akan kembali menjadi taman yang subur.



Bandar Seri Begawan

15.10.2025 : 05.15am

 Dalam Nafas Dan Tafakurku

Karya : Zamri H.Jamaluddin


Di setiap harapanmu,

Mengalir doa dalam tafakurku,

Merangkul keteguhanmu,

Saat dunia memalingkan wajah.

Setiap desahan nafasmu,

Adalah getaran di nafas kalbuku,

Membawa kisah pilu,

Yang tak akan pernah pudar dalam ingatanku.

Di bawah reruntuhan yang hancur,

Harapan tetap menyala bagai lilin,

Tanda perjuanganmu tidak akan terkubur,

Keyakinanmu adalah sumber kekuatan.

Dalam setiap takbir yang kau panjatkan,

Di setiap tetes air mata yang engkau alirkan,


Aku tidak hanya berdoa,

Namun juga berjanji untuk terus bertafakur, 

Selagi nadi berdenyut.

Karena di setiap doa dan harapanmu,

Di nafas dan tafakurku,

Kamu tidak pernah sendiri.


Bandar Seri Begawan

14.10.2025 : 03.57am

Rabu, 15 Oktober 2025

 KUPELUK  GAZA DALAM DOA

Oleh : Khamidah 


Dentuman keras kudengar lewat vidio 

Saat pertempuran Israil dan Palestina  

Membabi buta zionis israel 

Menghajar anak kecil tak berdosa 


Puing-puing kehancuran berserakan 

Mayat-mayat bergelimpangan tak lagi dihiraukan 

Telah hilang naluri kemanusiaan 

Yang ada hanya jiwa manusia buas 

Bahkan lebih buas dari binatang 


Merinding tubuhku 

Terluka jiwaku 

Merintih hatiku 

Meraung-raung tangisanku menembus langit ke tujuh 

Mengingat saudaraku di Palestina 


Kupeluk mereka dalam malam yang hening 

Saat kubersujud khusyu di atas  sajadah panjang 

Kutitipkan doa pada Sang Penjaga Alam

Selamatkan saudaraku di Palestina 

Dari penjajahan dan pertikaian 


Kupeluk anak-anak kecil tanpa dosa 

Kupeluk janda-janda tua tanpa daya 

Kudekap wanita-wanita lemah penuh luka 

Kupeluk jiwa-jiwa mereka 

Dengan  rintihan doa dan  sejuta airmata 


Rasa cinta dan rindu terdalam menyelinap dalam hembusan angin 

Kutitipkan pada angin malam yang berbisik lembut 

Selamatkan Gaza 

Dari zionis Israel yang kejam 


Wahai Zat Pemegang Keadilan 

Tolong berikan mereka kemerdekaan 

Berikan mereka pertolongan 

Dari kejamnya penjajahan 

Yang tak jua berkesudahan 



Tegal, 14 Oktober 2025

Created by Khamidah Munaz

 DALAM TAHAJJUDKU

Karya: Zamri H. Jamaluddin


Di tengah malam yang bernafas lembut,

seakan mendengar suatu bisikan

aku terjaga,

menyibak sunyi dengan sehelai doa.

Tahajjudku menjadi saksi

atas tangis bumi Palestin

yang menggema di celah sujudku.


Aku terbayang wajah-wajah duka,

anak-anak yang memeluk debu

seolah mendakap sebutir harapan.

Wahai saudaraku yang teraniaya,

bening air matamu menitis 

Seolah mentau ke dalam hatiku,

menjadi zikir yang tidak akan pernah padam.


Dalam sujud panjang,

aku seakan mendengar Tuhan berbisik lembut

di antara hela nafas dan harapan:

“Doamu adalah pelita

di tengah gelap peperangan.”

dalam sunyi Maka ku pohon ampun,

bukan hanya untuk diriku,

tapi untuk dunia yang terlupa mencintai.


Tangisan Palestin, 

bukan sekadar ratapan,

melainkan panggilan untuk bertindak.

Kami mengangkat tangan,

bukan dengan senjata,

tapi dengan doa yang menembus langit.

Semoga suatu hari,

langitmu tidak lagi berwarna kelabu.

Semoga tanahmu kembali bernyanyi

tentang merdeka dan damai.

Dan dalam setiap tahajjudku,

namamu tetap ku sebut, 

wahai saudaraku,

jangan pernah menyerah.


Kuala Lumpur

12.10.2025 : 02.25 pagi



 JERIT MASJID AL -AQSA DALAM KESUNYIAN 

Oleh: Rosmita


Di bawah kubah yang menahan pilu,

Kumandang azan menembus langit 

Meski peluru menulis takdir di udara,

Jiwa-jiwa suci tak berhenti bersujud 

Kepada'Mu Rabb ku 


Jemari-jemari mungil menggenggam debu,

Namun hati anak-anak Palestina menggenggam surga,

Setiap air mata yang jatuh di tanah suci,

Adalah doa yang tiada pernah padam oleh api dunia


Ya Rabb ku 

Di balik luka yang (Kau) titipkan, 

Kepada kami 

Ada cinta dan kasih'Mu yang menumbuhkan harapan untuk 

Tetap mereguk indahnya kehidupan 

Biarlah kami mendengar jerit Al-Aqsa,

Sebagai panggilan untuk menegakkan iman.


Di setiap sujud umat di bumi ini,

Selalu mengalir doa-doa terindah 

Untuk Palestina,

Semoga fajar kebebasan segera menyapa, negeri yang suci ini

Al-Aqsa kembali berdzikir 

Dalam kesunyian dan kedamaian 

yang hakiki 


Jambi 2025


DOA DI BAWAH LANGIT GAZA

Oleh: Rosmita


Langit Gaza, bersaksi tentang 

darah dan doa,

Di bawah langit Gaza anak-anak 

Menatap bintang tanpa rasa  takut,

karena mereka mengerti 

Jika surga lebih terang dari gelapnya perang ini


Aku masih melangit kan doa,

Untuk bumi yang sangat dicinta 

Oleh Rasulullah Saw 

Agar damai kembali bernapas 

Di udara,

Dan cahaya Allah menjemput para syuhada yang shahid 


Ya Rabb ku 

Peluklah mereka dalam kasih sayang'Mu,

Kuatkanlah iman di dada para ibu-ibu

yang kehilangan anak dan suami, 

Namun mereka tidak pernah kehilangan ridha-Mu, Rabb ku 


Ketika malam menutup mata dunia,

Biarlakan doa ini jadi cahaya,

Menyusup ke langit Gaza membawa 

Pesan cinta,

Bahwa umat Islam tidak akan pernah melupakan mereka yang sedang lara


Jambi 2025


SUARA RINTIHAN ANAK PALESTINA 

Oleh: Rosmita


Anak kecil itu mendengar suara reruntuhan 

lirih seperti doa dari luka,

“Apakah surga mempunyai taman,

tempat aku bisa bermain tanpa suara bom?” ucapnya


Mata mungil itu menatap langit,

di antara reruntuhan yang bercerita tentang sabar, tentang keihklasan 

Dan aku tahu

Suara itu adalah nyanyian iman yang tidak bisa dibungkam.


Wahai Rabb ku Tuhan semesta Alam,

Suara mereka adalah ayat kasih-Mu,

yang mengingatkan kami 

Bahwa berdamai lahir dari hati yang berserah kepada-Mu.


Biarlah dunia mendengar suara itu,

Suara anak-anak Palestina yang 

penuh cinta,

Meski tubuh mereka rapuh dan hancur oleh perang,

Namun jiwa mereka tetap teguh 

Dalam rahmat-Mu.


Jambi 2025


Tentang Penulis 


Puisi-puisi ini ditulis oleh Rosmita, seorang kepala sekolah dan penulis 

yang memandang menulis sebagai ibadah dan zikir. Melalui bait-bait religiusnya, ia menyampaikan doa 

dan rasa empati untuk Palestina

Agar dunia kembali melihat dan merasakan, luka yang disembunyikan 

di balik kekuatan iman.


Jambi 2025

 Senandung Pilu Dari Tanah Para Nabi

( Puisi Untuk Palestina )

Oleh : Jalal Rebong, S.Pd



Di Tanah suci, tempat doa bersemi,

Luka menganga tak kunjung terobati.

Bukan cerita, bukan pula mimpi,

Namun nyanyian pilu yang dibawa sepi.


Dari Gaza, debu-debu bercerita,

Tentang rumah yang hilang, tinggal puing sisa.

Langit malam yang seharusnya tenang, berbintang,

Kini dilukis merah, oleh jerit yang mencekam.

Anak-anak berlarian, bukan untuk bermain,

Namun mencari perlindungan, dari suara yang dingin.

Mata kecil mereka, menyimpan sejarah kelam,


Kisah kehilangan ayah, ibu, dan pagi yang tenggelam.

Oh, Al-Aqsa, jiwamu kini terhimpit,

Dindingmu kokoh, namun hatimu sakit.

Saksi bisu perih, di persimpangan abad,

Menanti damai yang entah kapan kan tiba, dengan selamat.

Kami di kejauhan, hanya bisa meratap,

Menyimpan duka dalam doa yang tak pernah lenyap.



Sebab engkau adalah denyut nadi kemanusiaan,

Palestina, tanah zaitun yang tak pernah kami lupakan.

Semoga fajar esok membawa keadilan,

Menggantikan air mata dengan senyum kemenangan.

Agar zaitun tumbuh subur, di tanah yang merdeka,

Dan senandung pilu berganti menjadi senandung suka.



Balauring, 15 Oktober 2025

Bionarasi

Jalal Rebong, S.Pd. Pria kelahiran Kolipadan ( 1987 ) Guru Pada SMAN 1 Balauring sekaligus Pegiat dan Penulis Sastra, penggagas komunitas Tinta Sastra Smansa Balauring.  sejak 2011 saya sudah menulis beberapa karya baik Bersama rekan sejawat maupun pribadi, bagi saya menulis Adalah jalan membuka gerbong jiwa dan puisi bagiku Adalah ungkapan jiwa, itulah saya selalu menghabiskan waktu untuk menulis. 

 Suara dari Langit Palestina

Oleh Khoiri


Di tanah suci yang berdebu,

tempat para nabi pernah melangkah,

angin membawa kabar dari langit—

tentang sabar, tentang luka,

tentang iman yang tak pernah padam.


Langit di atas Gaza retak,

namun di setiap retakannya

ada cahaya yang menolak padam.

Anak-anak kecil menatapnya dengan mata penuh doa,

menghafal takbir di tengah dentum senjata.


Setiap batu yang mereka genggam

bukan amarah—

melainkan harapan yang dikirim ke langit,

menembus awan, menembus sunyi,

menggetarkan Arasy

dengan nama Allah yang suci.


Di antara puing rumah yang runtuh,

seorang ibu menimang bayang anaknya,

berbisik lirih,

“Syahidmu bukan akhir, nak,

tapi jalan menuju taman yang dijanjikan.”


Dunia mungkin menutup mata,

namun bumi tidak.

Tanah Palestina menyimpan setiap jejak sujud,

setiap darah yang jatuh menjadi saksi,

bahwa perjuangan ini bukan tentang tanah semata,

melainkan tentang kehormatan iman.


Waktu berjalan, musim berganti,

namun suara itu tak pernah hilang—

suara azan di antara runtuhan,

suara doa di sela ketakutan,

suara anak-anak yang masih berani tertawa

meski langit di atasnya terbakar.


Wahai dunia,

jika telingamu masih sanggup mendengar,

dengarkanlah—

itu bukan jerit, bukan tangis,

itu suara dari langit Palestina,

suara yang lahir dari sabar dan tawakal,

suara yang membawa pesan:

bahwa kebenaran mungkin tertindas,

tapi tak akan pernah kalah.

Sabtu, 11 Oktober 2025

Festival Suara Serumpun dan Peluncuran Buku 'Akar Serumpun Anyaman Rasa'





 

Air Merah Yang Membasahi Tanah Kering

Karya oleh: A.SafH


Sampai bila air merah ini terus mengalir

menyapa tanah kering yang sudah lama keras

pancaran cahaya terbit yang datang bukan menyingkap pagi 

tetapi petanda kepada kegelapan yang membawa keperitan.


Kau!

Tidakkah ada walau setompok putih menitik dalam kalbumu

ceritamu sengaja kau reka panjang dan tidak kau noktahkan;

jantung-jantung yang berdenyup seolah tidak bernilai

dengan akalmu yang sudah disuntik racun itu

kau permainkan denyutan nadi yang murni 

kau lemparkan ego-egomu tanpa belas kasihan

meninggalkan sisa-sisa tanda yang hancur lebur

jasad-jasad yang memaknai iman dan perjuangan.


Hatimu yang semakin membusuk

menghalang tangan-tangan yang ingin menggapai

seolah-olah tangan-tangan itu akan memukulmu

padahal tangan-tangan itu cuma ingin menyambut 

menyalam saudara-saudara mereka tapi 

kau alih

kau ikat

kau rampas

dan mulutmu rancak memutar cerita

walhal seisi alam mempunyai mata dan telinga

otak untuk berfikir waras

ketaatan hati yang setia kepadaNYA.

Tubuh kecil kini menjadi piatu

mencari atap untuk berteduh

mata yang kecil menjadi saksi 

kehilangan sosok pelindung 

yang seharusnya membawa tangan kecil itu ke tempat aman

kaburlah impian-impian yang masih panjang.


Dalam keadaan bingung 

mata kecilnya terasa pedih dan basah

berharap bahawa tangan kecilnya itu disambut

supaya dapat meneruskan hidup 

dan terus berjuang.


Ingat…

setiap titisan air merah yang mengalih itu

dari sekecil zarah

adalah nyata sebuah perjuangan

yang menyerap ke tanah kering

menyatu bersama, selamanya.



Brunei Darussalam

4 Oktober 2025




Jumaat, 10 Oktober 2025

 Secangkir Kopi Tuan Rodney


“Bukankah Allah (yang demikian kuasa-Nya) seadil-adil Hakim”

— Al-Quran, 95:8


aku meghirup seduhan Walter Rodney

kerana katanya, dia benci kopi di kafe barat

kelmarin kopinya mahapahit

di dasar cangkir ada kata-kata: 

semua kekerasan ialah kejahatan

tanpa mengira punca?


dalam cangkirku, tuan Rodney seduh

bru kopi segar dari mesin kopinya:

bagaimana kekerasan seorang abdi

cuba mematahkan belenggu dari kaki,

pernah sama dengan kekerasan tuan abdi?


(shalom! jemput minum kopi bersamaku

apa tuan semua kira sejarah hanya bermula

selepas 7 Oktober 2023?)



Taufiq Harith

9 Oktober 2025

Selangor, Malaysia






Khamis, 9 Oktober 2025

 SERUAN KEDAMAIAN

Karya: Nus Pariama


Hanya oleh kabar hati kian terpana

Bahkan oleh berita jiwa seakan merana

Mungkinkah luas jeritan disana?

Sungguh kabar tak bisu untuk bersuara

Biar dunia tahu dan besua damai


Bak sebutir tanah yang diinjak-injak

Ladang permai masih terus berujung asap

Kebaikan kian dibalas dengan serpihan kaca

Hingga cuatan darah kian bersarang


Dunia, janganlah kau terus berkicau

Seakan semua baik-baik saja

Padahal banyak airmata yang terurai 

Di tanah palestina yang bagaikan neraka


Tak tahukah engkau bahwa itu celaka

Jika Allah hendak menantang?

Tidak sadarkah engkau bahwa itu salah?

Jika bahagia berujung karma?


Jangan hadirkan angin jika ingin bersenang

Karena jiwa bukan mainan untuk dibajak

Kedamaian adalah akta kebenaran

Dan tidak perlu untuk diperjual-belikan


Jualan tak bersabar niscaya akan kalah

Jika panji kezaliman sudah patah disana

Dan kesalahan akan menuai penghukuman

Jika kesadaran tiada mau bersuara


Pernahkah engkau merasa

Bahwa kecil dan besar sering bertanya?

Apa gerangan engkau menyerang

Sedangkan mereka tiada bersalah?


Kini kusadar sepertinya engkau serakah

Karena manis berlum tentu nyaman

Dan jeritan - tangis belum tentu salah

Bertobatlah sebelum semua bertambah parah

Biarlah palestina menjadi bangsa yang jaya

Di atas kegilaan yang harus dihentikan


TANAH YANG MASIH BERNYAWA

Karya: Pasidah Rahmat


Di tanah itu

Setiap pagi bukan lagi tentang matahari

Tetapi tentang siapa yang masih hidup


Di antara runtuhan batu dan wayar eletrik yang terjulur

Ada suara

Kecil serak tapi nyata

“Ibu, saya di sini.”


Namun tiada jawapan

Hanya debu

Dan bau besi yang memenuhi udara


Langit Palestine

Bukan sekadar langit

Ia adalah luka yang terbuka

Tempat doa bergaul dengan asap

Dan setiap bintang membawa nama yang hilang


Yusuf duduk di tepi dinding yang retak

Memegang beg sekolah koyak

Menyimpan pensil terakhir

Seolah-olah itu senjata suci


Dia menulis di tanah

‘Aku menjadi doktor’

Dan huruf-huruf itu hilang

Ditelan angin dan ledakan yang tidak pernah tidur


Tetapi di dalam dadanya

Masih ada cahaya kecil

Yang tidak pernah padam


Di seberang jalan

Seorang wanita tua menadah langit

Memanggil nama anaknya

Seperti memanggil matahari

Tiap kali serpihan batu jatuh

Dia berkata perlahan

“Setiap yang hancur akan tumbuh semula.”


Begitulah manusia di tanah ini

Mereka menanam harapan di celah runtuhan

Dan menyiramnya dengan air mata


Mereka tahu

Bumi ini bukan sekadar tanah

Tetapi nadi

Yang terus berdetak walau tubuh terhimpit


Dan malam

Ah …. Malam di Palestine

Adalah taman doa dan tangisan

Di mana setiap ibu menjadi penyair

Dan setiap anak menjadi ayat kehilangan


Namun dari jauh

Ketika fajar merangkak di ufuk

Kau boleh dengar sesuatu

Suara kecil yang menyebut nama Tuhan

Dengan yakin yang tidak pernah gugur


“Allah bersama kami.”

Suara itu naik ke langit

Menembusi asap, menembusi ngeri

Menjadi cahaya yang memeluk seluruh bumi


Palestine

Bukan kisah tentang perang

Tetapi tentang manusia yang terus hidup

Meski segala alasan untuk hidup telah dirampas


Dan dari setiap reruntuhan

Akan tumbuh satu bunga kecil

Bukan merah bukan putih

Tetapi warna doa


Kerana di tanah yang masih bernyawa ini

Kemanusiaan tidak pernah mati

Ia hanya menunggu dunia

Untuk kembali membuka mata


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025


 DARI JAUH AKU MELIHAT

Karya: Pasidah Rahmat


Dari jauh

Aku melihat Palestine

Bukan dari jendela rumahku

Tetapi dari layar kaca

Yang menyiarkan tangisan dalam warna


Aku melihat anak-anak

Bermain di bawah langit yang retak

Dan aku menonton

Seperti menonton filem

Yang tiada penghujung



Aku meneguk kopi pagi

Sementara mereka meneguk debu

Aku berkata “kasihan,”

Lalu menatal ke bawah

Mencari berita lain


Betapa mudahnya simpati ini

Lahir dan mati dalam detik


Dunia penuh suara

Tapi tiada yang benar-benar mendengar

Kita menulis “Pray for Palestine,”

Di ruang maya yang sunyi

Sedang di bumi mereka

Sedang di bumi mereka

Doa itu dibayar dengan nyawa


Aku tertanya

Apakah ertinya menjadi manusia

Kalau hanya mampu memandang derita

Tanpa berbuat apa-apa?


Mereka kehilangan rumah

Aku kehilangan rumah

Aku kehilangan kata

Mereka menaman zaitun di tanah terbakar

Aku menanam rasa bersalah

Di hati yang semakin beku

Namun setiap kali aku menatap wajah mereka

Anak kecil memeluk roti separuh hangus

Ibu yang mengangkat tubuh tanpa nyawa

Lelaki tua yang masih sujud di bawah langit terbuka

Aku tahu

Aku sedang memandang wajah sebenar ketabahan


Mereka mengajar dunia

Erti berdiri tanpa tanah

Erti berharap tanpa janji

Erti cinta yang tidak meminta balasan



Dan aku

Orang luar yang hanya mampu menulis

Berjanji pada sehelai kertas

Akan ku teruskan kisah mereka

Selagi tinta masih mengalir

Selagi matahari belum letih memandang bumi


Kerana suatu hari nanti

Bila dunia ini benar-benar tenang

Aku mahu berkata pada diriku sendiri

Aku tidak hanya melihat

Aku pernah peduli


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025


AKU DATANG KE SEMPADAN

Karya: Pasidah Rahmat


Suatu hari

Aku datang ke sempadan

Langitnya masih sama

Berdebu birunya pudar

Namun udara di sini

Mengandungi sesuatu

Yang tidak wujud di tempat lain

Bau kehilangan yang suci


Aku melihat sendiri

Bagaimana bumi boleh bernafas dalam derita

Bagaimana manusia boleh tersenyum

Walau setiap langkahnya memijak kaca


Di hadapan sebuah khemah lusuh

Seorang kanak-kanak menulis di pasir

Bukan huruf

Tetapi nama-nama yang ingin diingatkan dunia

Namanya Mariam

Dia berkata kepadaku

“Kakak, bila langit tenang

Saya akan jadi guru.”


Aku terdiam

Langit tidak pernah tenang di sini

Tetapi dalam matanya

Aku nampak sebuah sekolah kecil yang masih hidup

Dibina dari harapan

Bukan batu


Di masjid yang tinggal separuh dinding

Iman tua mengangkat tangan

Doanya panjang

Bukan meminta hujan

Tetapi meminta dunia mendengar

Aku berdiri di belakangnya

Terasa kecil di hadapan iman sebesar langit


Ketika malam turun

Aku duduk di tepi khemah

Dikelilingi kanak-kanak yang ketawa

Yanpa memahami perang sepenuhnya

Aku malu pada mereka

Pada ketabahan yang tidak aku miliki


Di luar sempadan

Dunia sibuk dengan urusan sendiri

Di dalam sini

Masa diukur dengan dentuman

Bukan jam


Aku menulis lagi

Kali ini bukan tentang simpati

Tetapi tentang saksi

Kerana setelah melihat

Aku tidak lagi orang luar


Aku telah disentuh oleh tanah ini

Oleh tangan kecil yang memegang jari aku

Oleh wajah ibu yang berkata lembut

“Jangan lupa kami bila pulang.”


Dan aku tahu

Aku tidak akan lupa


Kearan Palestine bukan lagi berita

Bukan lagi peta

Tetapi cermin

Di dalamnya aku melihat

Segala yang masih manusia dalam diriku


Kini bila aku pulang

Aku tidak hanya berkata

Aku melihat

Tetapi aku menyaksikan


Dan dalam setiap degup jantung

Aku dengar gema itu

Suara bumi yang masih bernyawa

Masih menunggu dunia

Untuk menjadi manusia semula


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025

 PALESTINA OH PALESTINA

Karya: MOHAMAD II WAHYUDIN


Pagi ini sarapan kita apa?

Siang ini lunch kita dimana?

Malam ini dinner kita siapa?

Sungguh... Pertanyaan-pertanyaan hedonis 

Pertanyaan-pertanyaan memalukan


Pernahkah kita bertanya

Apa kabar Palestina? Pasca pengumuman kemerdekaan oleh PBB 

Adakah yang membantu recovery sosial di Palestina?

Adakah yang mengobati luka psikologi anak-anak Palestina?

Adakah yang sudi memapah anak-anak Palestina menuju masa depan mereka?

Kitakah..???

Mengapa diam???


Mana ukhuwwah yang dulu pernah ditanamkan oleh nabi Muhammad di dalam jiwa Muhajirin dan Anshar?

Mana metapora indah seperti satu tubuh yang digambarkan nabi dalam haditsnya?

Keberpihakan kita hari ini, kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah..

Jika tak memberi solusi apapun, maka janganlah engkau menyakiti mereka

Mereka adalah saudara kita yang tidak akan pernah putus hubungannya bahkan oleh kematian sekalipun...

Apa Kabar Palestina???

Maafkan kami yang sering lupa pada nasib kalian...



Bumi Al-Kautsar 2025






BILA PALESTINA MERDEKA

KOMARIAH UMI AL-KAUTSAR


Bila jerit pilu dan rintihan 

berganti dengan keriangan 

bak anak-anak mengejar layangan

Merdeka Palestina


Bila dering rocket dan lesat meriam 

berganti cahaya kembang api

saat menyambut tahun baru

Merdeka Palestina


Walau suaraku belum sampai di negerimu

Dan langkahku belum menapak di tanahmu

Walau do’a kemerdekaan belum terkabul untukmu

Ada harapan kedaulatan terus bergema 

sampai ke Arsy-Nya

Merdeka Palestina



Bumi Al-Kautsar 2025  

Rabu, 1 Oktober 2025

Anak-Anak Palestina

Karya: Edaur


Mata mereka adalah langit yang retak,

diselimuti asap mesiu,

namun di sudutnya masih ada bintang

yang menolak padam.


Tawa mereka pecah seperti kaca

dilemparkan ke jalan yang sepi,

tapi serpihannya berkilau,

memantulkan cahaya yang tak mau hilang.


Kaki kecil itu berlari tanpa alas,

menyusuri puing rumah dan bayangan tank,

seakan mengejar pelangi

yang digambar oleh darah

dan debu yang berterbangan.


Mereka adalah benih zaitun

ditanam di tanah merah luka,

akar mungilnya menolak tercerabut

meski setiap musim

datang api membakar ladang.


Mereka adalah burung-burung kecil

yang terperangkap di sangkar besi,

namun sayap imajinasinya terbang

menembus jeruji,

menyapa langit dengan doa.


Wahai dunia, lihatlah mereka!

Jangan hanya menghitung korban,

jangan hanya menulis angka di kertas laporan,

karena di mata anak-anak itu

tersimpan masa depan

yang lebih besar dari ketakutan.


Anak-anak Palestina:

mereka menggenggam fajar dengan tangan gemetar,

mereka menyalakan harapan

di antara reruntuhan doa,

dan dari bibir mungil mereka

akan lahir lagi nyanyian

tentang kebebasan.


Pekanbaru, 25 September 2025

Kami untukmu, Palestina

Karya: Eduar



Kami bukan hanya suara

Kami adalah ombak

yang menolak padam meski karang

merobek dada samudra.


Kami bukan sekadar doa

Kami adalah cahaya

yang menyelinap di celah puing

menyalakan mata anak-anakmu

agar tetap mengenal fajar.


Kami bukan sebatas nama

Kami adalah akar

yang menembus bumi, menolak tercerabut

sebab darahmu sudah jadi hujan

dan nadimu sudah jadi sungai.


Kami bukan hanya janji

Kami adalah bara

yang ditiup langit

membakar takut, menyalakan tekad

menjadi api di tubuh besi.


Kami untukmu, Palestina:

takkan tunduk pada artileri,

takkan gentar pada tirani,

karena tanahmu adalah kitab terbuka,

dan perjuanganmu adalah ayat

yang kami hafal dalam dada.


Pekanbaru, 20 Agustus 2025

KARYA TERBAIK MINGGUAN

 TEMA: SUARA UNTUK PALESTINA





GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular