Ahad, 31 Ogos 2025

Kebangkitan Pahlawan
Karya: Alexsius Ahi


Pahlawan gagah berjiwa berani
Berdiri teguh menentang musuh
Peluh dan darah jadi saksi
Semangat waja tidak pernah rapuh
Namamu harum sepanjang zaman.


Kau bukan hanya mengangkat senjata
Tetapi juga mempertahan maruah
Dengan tekad tidak pernah goyah
Menghadapi cabaran tanpa menyerah
Pahlawan jasamu tidak ternilai.


Bumi merdeka hasil perjuanganmu
Tanah subur bebas dari belenggu
Air mata rakyat jadi penawar
Bila kau gugur demi negara
Kami hidup dalam cahaya merdeka.


Hari ini kami berdiri megah,
Menghirup udara aman nan indah
Kerana darahmu jadi taruhan
Kerana jiwamu jadi pertahanan
Oh pahlawan kami tidak lupa.


Generasi baharu akan meneruskan
Warisan perjuangan penuh keberanian
Namamu kekal dalam lipatan sejarah
Jasa dan pengorbanan jadi pedoman
Pahlawan kau abadi di hati bangsa.

Kampung Alitang
28/8/2025

 Seorang Pahlawan Membawa Merdeka

Yuzreel Toneh


Di tanah yang lama dijajah 

berlari seorang pahlawan gagah

berselimut semangat membara 

bersumpah setia demi negara.


Langit kelam diselubung duka

namun tekadnya tetap membara

bertarung nasib dengan percaya

setiap langkah penuh makna

demi tanah air tercinta.  


Tiada senjata tiada bala

hanya kata jadi senjatanya

menulis nasib di lembar sejarah

menentang penjajah penuh maruah

dengan harapan menjulang megah.  


Namanya hidup dalam bicara

di desa kota hingga seluruh negara

membangkit semangat yang lama lena

membina bangsa tanpa sengketa

menuju kemerdekaan yang sempurna.  


Kini kita berdiri megah

di bumi bebas merdeka indah

namun jasa jangan dilupa 

pahlawan dahulu wira sebenar

yang berkorban jiwa dan sabar.


SMK Penangah, Telupid 

(28 Ogos 2025)

 TAMAN MERDEKA 


Kebun yang indah itu bernama kemerdekaan

Dimana bunga asa tumbuh bermekaran

Wangi semerbak menyebar dalam bunga setaman


Di tepian terdapat kolam berisi ikan

Berhiaskan patung angsa bak melayang 

Nuansa menawan penuh keindahan 

Sesekali melintas burung terbang


Sawah keemasan menambah kekaguman

Takjub menampak dewa begitu gagah

Tawa lirih dewi terdengar renyah


Inilah taman kemerdekaan

Bebas dari belenggu penjajahan

Wadah anak negeri memangkur masa depan


Barito Selatan, 31 Agustus 2025

~ nani ~

 KEMERDEKAAN 


Merdeka

Laksana burung yang terbang

Bak sayap yang membentang

Membumbung bebas melayang


Merdeka

Laksana ombak yang bergelora

Bak gelombang dengan gemuruh bagai paduan suara


Merdeka

Laksana pelangi setelah hujan

Bak bidadari turun dari kayangan


Merdeka

Laksana mentari yang bersinar

Bak bintang dengan redup memancar


Merdeka

Laksana cahaya dengan benderang keindahan

Bak malaikat dengan kesucian


Barito Selatan, 31 Agustus 2025

~ nani ~

 DIRGAHAYU NEGERI-KU


Merdeka

Seharusnya tidak berduka

Seharusnya dirayakan penuh suka cita

Seharusnya tumbuh subur merata

Bukan hanya pemilik tahta


Berjuang dengan darah dan air mata

Jangan  khianati dengan janji semata

Kemerdekaan adalah kebebasan tanpa syarat dan nota


Dirgahayu Ibu Pertiwi

Gemah ripah loh jinawi

Negeri ini adalah taman syurgawi


Barito Selatan, 

31 Agustus 2025

~ nani ~

 TERUNTUK DEWAN KONOHA 


Satu tunas bangsa sudah menjadi korban

Untuk anggota Dewan yang hanya peduli jabatan

Nyawa hanya permainan

Uang menjadi kerajaan


Rakyat diberi janji-janji tak pasti

Tak satupun mengena di hati

Bahkan pajak dijadikan upeti

Mungkin nyawa kalian tak mati


Lupa pada dunia yang fana

Fana yang membuat kalian terlena

Terlena dengan kekayaan yang sesat

Sesat berujung laknat


30 Agustus 2025

~ nani ~

Pemenang Puisi Mingguan

Tema: Kemerdekaan, Patriot/Pahlawan

TAHNIAH SEMUA!!


















PAHLAWAN TAK BERSAYAP 

Karya:  Pethbenny



Di pangkuan bumi yang tak pernah luka

Ada namamu terpatri selamanya

Bukan sekadar wajah yang memikat mata

Namun jiwa perkasa cahaya bangsa.


Kau melangkah tanpa mahkota

Namun kejayaanmu melebihi para raja

Di setiap hela nafasmu ada doa

Di setiap detak jantungmu ada cinta


Cantikmu bukan pada rupa semata 

Melainkan keberanian yang tiada tara 

Kau menantang badai dengan senyuman yang tegar

Mengusung harapan setinggi gemintang sabar.


Peluhmu adalah tinta kemerdekaan

Darahmu adalah bait perjuangan 

Kau menulis sejarah di atas luka

Menjahit mimpi dengan jiwa yang rela.


Engkau tak bersayap namun melangit

Engkau tak bersuara namun abadi terdengar 

Wahai pahlawan penopang jiwa negeri

Cahaya namamu takkan pernah padam lagi.


Selama langit menaungi bumi

Engkau tetap hidup disetiap hati kami.


KELAS 6 ALAMANDA 2 

27/8/2025

 Suhaimi Jasnah

Pahlawan Kemerdekaan


Dalam gelita penjajahan yang membatu

muncul bayangmu, laksana bayu berduri

langkahmu deras menentang badai

di dada terpahat sumpah abadi

tanah ini bukan untuk diinjak hamba


Darahmu bukan sekadar tumpah

tapi tinta pada manuskrip kemerdekaan

tulangmu retak bukan lemah

tetapi tiang kepada langit kebebasan

kau teguh, meski langit runtuh.


Apakah takut itu wujud dalam jiwamu?  

atau kau tukarkannya menjadi bara perjuangan

rantai besi kau patahkan dengan doa

peluru menjadi irama dalam zikirmu

dan tangisan bangsa jadi alasan kau mara.


Bendera belum berkibar waktu itu

tapi dalam matamu  langit sudah cerah

kau bukan wira bersayap mitos

tetapi insan, yang mengangkat dunia  

dengan sekeping hati yang tidak gentar.


Kini, kami melangkah atas tapakmu

tetapi benarkah kami sedar erti bebas?  

kau relakan segalanya demi bangsa

apakah kami mampu menjaganya?  

pahlawan, rohmu jadi cermin untuk kami.



SMK Penangah, Telupid 

(27 Ogos 2025)

 JEJAK PERSAHABATAN SERUMPUN

Karya Eduar Daud-Riau-Indonesia


Di Padang, di bawah langit biru Ranah Minang, sebuah festival literasi menyatukan jiwa-jiwa yang datang dari jauh. Namanya International Minangkabau Literacy Festival (IMLF). Di sanalah, takdir mempertemukanku dengan Zamri dan Pangeran Hanafi dari Brunei Darussalam, serta Syahrizad dari Terengganu.

Pertemuan itu sederhana—sebuah sapaan, seulas senyum, lalu percakapan tentang kata-kata dan makna. Namun dari simpul sederhana itu, terajut benang persahabatan yang semakin menguat, seperti tenunan songket yang tidak mudah terurai.

Waktu berjalan, jarak bukan lagi penghalang. Kami saling berkabar, berbagi karya, hingga akhirnya sepakat untuk bertemu kembali di Bandar Seri Begawan, pada saat digelarnya National Theatre Festival Brunei. Di sana, persaudaraan itu menemukan nadinya: suara yang serupa, hati yang sehati.

Dari Brunei kami melangkah ke pentas yang lebih luas: Suara Serumpun, Festival Puisi 3 Negara. Bait-bait kami bertemu, menyatu, menjadi jembatan yang melampaui batas bendera dan garis peta. Lalu, janji pun terucap: 12 Oktober 2025, Kuala Lumpur, sebuah peluncuran buku akan menjadi saksi bahwa persahabatan ini tak hanya tercatat di hati, tapi juga di lembar sejarah.

Dan janji lain pun menyusul: 24 Mei 2026, kami akan berkumpul di Riau, menyusuri jejak sejarah di Istana Siak Sri Indrapura, sebelum beranjak ke Bukittinggi, menghadiri IMLF ke-5. Seperti sungai yang mengalir ke muara, perjalanan ini seolah sudah digariskan.

Kami percaya, persahabatan yang lahir dari sastra adalah persahabatan yang tak lekang oleh jarak dan waktu. Di antara kata-kata, kami menemukan rumah; di antara pertemuan, kami menemukan makna.


Pekanbaru, 30 Agustus 2025

 Aku, Pejuang Pendidik Merdeka

Karya Nurul Afifah Binti Rahim

 


Aku bukan berpedang di medan perang,

tidak menentang musuh dengan peluru dan senapang,

tetapi aku berjuang di ruang kelas,

dengan pena, papan putih, dan suara yang tak pernah lelah.

 

Aku mendidik anak Felda, tumbuh di bumi sederhana,

ayahku guru, mulutnya sarat nasihat dan tawa,

“Jagalah solat, jagalah bangsa,

merdeka itu bukan sekadar kata,

tapi amanah yang perlu dijaga.”

 

Kini ayah tiada,

namun pesannya mekar dalam dada,

setiap langkahku ke sekolah,

seakan aku menyambung perjuangan yang ditinggalkannya.

 

Aku berdiri di hadapan murid-muridku,

ada yang pemalu, ada yang lantang,

ada yang berjuang membaca sebaris ayat,

ada pula yang ingin melangit tinggi dengan robot dan kamera.

Aku mendidik mereka semua,

kerana pada mereka, masa depan bangsa bergantung nyawa.

 

Merdeka bagiku adalah bebasnya jiwa dari gelap,

bebasnya anak-anak desa dari buta huruf,

bebasnya minda daripada takut untuk bermimpi,

bebasnya suara daripada terkurung sunyi.

 

Aku diriku seorang pejuang pendidik,

meski tidak berhujah di parlimen,

tidak menulis dasar-dasar negara,

tetapi aku menulis di hati anak-anak kecil,

bahawa mereka mampu, mereka berharga,

mereka pewaris merdeka.

 

Di layar TVPSS SEPARATU,

kami rakam wajah bangsa,

kisah kejayaan kecil jadi cahaya,

temubual bersama menteri, suara murid Felda,

semuanya adalah bukti,

bahawa guru tidak sekadar mengajar,

tetapi membina sejarah.

 

Aku bukan tokoh terkenal,

namaku tak tercatat dalam buku teks sekolah,

tetapi setiap peluh, setiap doa,

adalah jihad kecil seorang wanita biasa,

yang percaya ilmu itu senjata,

dan pendidikan itu benteng merdeka.

 

Selagi nafasku masih bersisa,

selagi murid-murid masih menanti di pintu kelas,

aku akan terus berdiri,

sebagai guru, sebagai anak bangsa, sebagai pendidik merdeka.

 

Kerana merdeka ini tidak diwarisi percuma,

ia harus dijaga, ia harus dihidupkan,

dan aku sebagai pendidik di bumi Felda

akan terus menyulam perjuangan,

dengan cinta, ilmu, dan doa.

 

  

 

Biodata Penulis

 Nurul Afifah Binti Rahim


 

Nurul Afifah Binti Rahim dilahirkan di Negeri Kelantan. Berminat dalam bidang penulisan sejak bangku sekolah lagi. Berkidmat sebagai seorang guru di Sekolah Kebangsaan (FELDA) Lepar Utara 1 Jerantut, Pahang Malaysia.

+6012-9828069

 

 Pengorbananmu Kemerdekaan Kami

Karya: Dyerenilly


Di medan luka engkau berdiri gagah

Peluru dan pedang bukan penghalang maruah

Darahmu gugur jadi tinta sejarah

Semangatmu berkobar tiada menyerah

Pahlawan, namamu harum sepanjang arah.


Air mata ibu jadi doa restu

Menunggu kepulangan anak yang satu

Namun jasadmu terbaring kaku

Demi bangsa engkau merelakan nyawa

Pengorbananmu suci tiada ternilai harta.


Gelap penjajahan membelenggu bumi

Engkau bangkit membawa nur cahaya

Dengan tekad dan jiwa berani

Menghapus belenggu perhambaan bangsa

Membuka pintu merdeka yang mulia.


Kami kini berdiri di bumi merdeka

Menghirup udara tanpa sengsara

Berjalan megah di jalan terbuka

Semua kerana jasa pahlawan tercinta

Pengorbananmu jadi jambatan bahagia.


Wahai pahlawan, tenanglah di sana

Namamu terpahat di dada bangsa

Pengorbananmu jadi pusaka

Kemerdekaan ini milik kita semua

Kami janji menjaganya selamanya.


SMK Penangah

27 ogos 2025

 SUARA MELAYU SERUMPUN: MERDEKA

Karya : Eduar Daud (edo)


Suara 1 – Indonesia

Merah putih berkibar di angkasa,

disulam darah pejuang bangsa.

Merdeka bukan hadiah semata,

tetapi nyawa yang jadi taruhannya.

Suara 2 – Malaysia

Di bumi bertuah, kami bersumpah,

semerdeka langit, seindah sejarah.

Di bawah Jalur Gemilang berkibar,

semangat juang tak pernah pudar.

Suara 3 – Singapura

Di pulau indah, api menyala,

membakar takut, mengusir duka.

Merdeka kami, janji bersama,

teguh berdiri, menjaga bangsa.

Suara 4 – Brunei Darussalam

Tanah bertuah, damai berdaulat,

di bawah panji kuning bersahabat.

Merdeka kami cahaya abadi,

mengikat hati dalam harmoni.

Bersama (4 suara):

Melayu Serumpun suara kita,

di lautan, di daratan, di udara,

Kemerdekaan bukan hanya milik negara,

tapi warisan jiwa, untuk selamanya.


Suara 1 (Indonesia):

Merdeka adalah darah pahlawan.

Suara 2 (Malaysia):

Merdeka adalah cahaya zaman.

Suara 3 (Singapura):

Merdeka adalah janji masa depan.

Suara 4 (Brunei):

Merdeka adalah rahmat Tuhan.

Bersama:

Kami Melayu serumpun,

Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam.

Empat suara, satu semangat,

Merdeka… Merdeka… Merdeka!

Pekanbaru-Riau, 28 Agustus 2025

Sabtu, 30 Ogos 2025


PERJUANGAN UNTUK KEMERDEKAAN  

Karya: AUDREY ASYIRAH BINTI MAHMUD SYAUKI



Angin subuh membisikkan rindu,  

Langit kelabu menangis pilu,  

Tanah air bergetar sendu,  

Darah pejuang tumpah membasahi waktu.  


Matahari terkurung di balik awan,  

Harapan digenggam dalam tangan rawan,  

Peluru berbicara tanpa suara,  

Namun semangat tidak pernah lara.  


Bumi merintih di bawah tapak penjajah,  

Hati bangsa luka parah,  

Bayang-bayang ketakutan menari,  

Namun obor keberanian tetap menyala berapi.  


Rimba bergema jeritan azam,  

Laungan merdeka menusuk malam,  

Bersatu jiwa, berderap langkah,  

Menulis sejarah dengan darah dan megah.  


Kemerdekaan, engkau mawar berduri,  

Mekarmu dinanti, peritmu disirami,  

Kini langit bersih tanpa sengsara,  

Kerana perjuangan tidak pernah sia-sia


AUDREY ASYIRAH BINTI MAHMUD SYAUKI

SMK Penangah 

29/8/2025

 TANAH AIR TERCINTA

Karya: CHRISTY ROFALINCE

Jalur Gemilang yang berkibar, 

lambang berani,

Malaysia tercinta, di hati ini


Pahlawan berjuang, jiwa raga diberi,

Demi kemerdekaan, rela berbakti,

Semangat membara, tak pernah terhenti,

Negara makmur, impian terjadi,


Rakyat bersatu, bangsa berdikari,

Budaya dijaga, warisan lestari,

Cinta pada negara, abadi di sanubari,

Malaysia gemilang, terus berseri,


Generasi muda, harapan negara,

Teruskan perjuangan, dengan semangat membara,

Jadikan Malaysia, lebih berjaya,

Di persada dunia, nama terpelihara,


Setiap tahun, kita sambut meriah,

Detik bersejarah, penuh berakah,

Kemerdekaan ini, jangan di lupakan,

Malaysia merdeka, selamanya,


Dengan bangga, kita nyanyikan lagu,

Negaraku tercinta, tanah air ku, 

Semoga sentiasa, aman dan maju,

Negara Malaysia, di hatiku.


CHRISTY ROFALINCE

SMK Penangah 

28/8/2025

TANAH INI TELAH MERDEKA

Karya: TCYELICIA JOHNNLLY

Tanah ini pernah menangis,  

Disapa bayang penjajah yang rakus,  

Ribuan langkah diikat rantai,  

Harapan ditimbus di tanah musuh.


Tanah ini pernah merintih,  

Dalam sunyi, dalam jerih,  

Namun semangat tak pernah lelah,  

Biar tubuh rebah, jiwa gagah.


Merdeka bukan hadiah bulan,  

Tapi nyawa yang gugur di medan,  

Darah jadi tinta perjuangan,  

Menulis sejarah penuh pengorbanan.


Hari ini langit kita cerah,  

Tiada dentum bom, tiada jerat serah,  

Hanya suara anak merdeka,  

Mengalun lagu cinta pada negara.


Kita bukan pewaris kosong,  

Kita pewaris darah yang mengalir,  

Tanggungjawab bukan hanya di lisan,  

Tapi pada setiap tindakan dan fikir.


Wahai anak Malaysia, dengarlah,  

Merdeka bukan sekadar kata,  

Merdeka ialah amanah dari zaman luka,  

Untuk dijaga, dibaja, dibina semula.


Tanah ini telah merdeka,  

Jangan biar jiwamu dijajah semula!



TCYELICIA JOHNNLLY

SMK Penangah 

29/8/2025

MERDEKA SELAMANYA

Karya: SHANTHRIENNEY JEKSON


Dahulu tanah ini dirantai luka,

di bawah bayang penjajah yang angkuh,

sawah kering, rimba berduka,

jiwa bangsa dipaksa tunduk dan patuh.


Namun semangat tidak pernah layu,

seperti matahari terus menyala,

perwira bangkit tanpa jemu,

menentang gelita demi cahaya.


Jerit "Merdeka!" tujuh kali bergema,

menggetar bumi, menggoncang langit,

kata itu jadi doa bangsa,

menghalau resah, menyingkap semangat.


Tanah air pun bernafas lega,

Jalur Gemilang berkibar megah,

setiap jalur tanda setia,

setiap warna tanda maruah.


Wahai anak watan, bukalah mata,

merdeka ini bukan hadiah percuma,

ia darah, keringat dan nyawa,

warisan suci yang tiada ternilai harganya.


Kita umpama bintang di langit,

berkilau bersama dalam satu cahaya,

perpaduan jadi senjata paling hebat,

menangkis segala ancaman sengketa.


Jagalah tanah ini dengan jiwa,

jangan biar sejarah berulang,

Malaysia merdeka, Malaysia tercinta,

selamanya harum dalam gemilang


SHANTHRIENNEY JEKSON

SMK Penangah,

27/8/2025

 TANGISAN MERDEKA YANG TERSISA

Karya: MOHD EZANI BIN AZNI


Di bumi ini pernah tumpah darah,

jerit perit menjadi saksi sejarah,

langkah para pejuang hilang di balik kabus senja,

namun roh mereka tetap bernafas dalam jiwa bangsa.


Malam merdeka dulu disambut dengan air mata,

bukan hanya sorak gembira semata,

kerana setiap senyum itu teriring luka,

luka yang diwariskan oleh penjajah durjana.


Kini, kota berdiri megah,

namun gema perjuangan makin resah,

anak bangsa leka di buaian dunia,

melupakan darah yang pernah menyuburi tanah pusaka.


Di pusara pahlawan, angin berbisik sayu,

daun-daun gugur seperti mengirim rindu,

adakah pengorbanan mereka sudah dibalas?

atau hanya tinggal nama yang kian terhakis?


Merdeka ini tidak sekadar bendera berkibar,

ia adalah janji pada mereka yang gugur tanpa pulang,

janji untuk menjaga amanah dan maruah negara,

bukan meruntuhkannya dengan tangan sendiri.


Wahai bangsaku, sedarlah dari lena,

merdeka bukan sekadar hari untuk berpesta,

ia adalah tangisan yang harus dijaga,

agar pilu itu menjadi pengingat selamanya.


Di hujung senja, aku berdiri kaku,

menatap jalur gemilang yang kian layu,

berdoa semoga semangat pahlawan dulu

tidak mati dibawa waktu.


MOHD EZANI BIN AZNI

SMK Penangah,

29/8/2024

 Teguh di Medan Perang

Karya: Rojilah Jibley 


Kecekalan menjadi benteng 

kelicikan menjadi helah

ketangkasan menyusur di medan perang 

kerjasama mengikat tekad.


Dalam jiwa mencari ketenangan

bara api digenggam erat 

biar menjadi arang dan bukti

bahawa kesetiaan tidak akan mati.


Sumpah serapah musuh berhamburan 

namun keselamatan bangsa jadi taruhan

merentap jiwa, bertumpah darah

pahlawan gagah menjinjing pedang.


Berdiri teguh di bumi bertuah

berkorban demi nusa tercinta 

berani menentang gelombang derita

hingga sorakkan kemenangan membelah dunia.


Dol Said, termaktub di dada sejarah 

maruah dijulang setinggi gunung 

laungan kemerdekaan bergema megah

kebebasan hadiah yang paling agung.


Laksana obor menyinari malam

semangatmu tak pernah padam

dari tanah tumpahnya darah pejuang

bangsa merdeka teguh berpaut

janji darah dan maruah perwira

kekal teguh di medan perang.


SMK PENANGAH 

27.08.2025

 NEGARAKU MERDEKA

Karya: WAHDANIAH BINTI ABDULLAH


Merdeka ini bukan sekadar kata,

Merdeka, darah yang menitis di bumi pusaka.

Merdeka, keringat yang meresap ke akar sejarah,

Merdeka, doa yang terangkat ke langit maruah.


Lihatlah Jalur Gemilang berkibar megah,

bagai ombak laut yang tidak pernah rebah.

Merdeka ini suara yang lantang,

mengalun di dada rakyat gemilang.


Wahai tanah tumpahnya darahku,

engkaulah nadi, engkaulah jiwaku.

Gunungmu berdiri gagah,

sungaimu beralun membawa amanah.


Merdeka ini bukan hadiah percuma,

tetapi nyawa yang rebah di hujung senjata.

Titis air mata ibu di ambang subuh,

menjadi saksi perjuangan yang tidak pupus.


Merdeka adalah janji yang kita genggam,

supaya bangsa ini terus terangkum.

Supaya anak cucu tidak lagi terbelenggu,

dalam rantai penjajahan yang dulu.


Wahai negaraku, Malaysia tercinta,

engkau bunga mekar di taman dunia.

Engkau mercu cahaya di ufuk benua,

engkau nyanyian aman dalam dada manusia.


Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Pekikkan kata ini sekuat jiwa.

Selagi nafas ini masih bersisa,

akan kupelihara engkau—Malaysia merdeka!


WAHDANIAH BINTI ABDULLAH

SMK Penangah

27/8/2025

  SIAPA AKU SAAT INI?

karya : Riyan Rana


Dalam bingkai kenangan, aku adalah anak kecil yang bermain di bawah rimbun tawa canda. Aku berlari di halaman rumah, mengumpulkan daun-daun gugur dan menyusunnya menjadi kapal. Aku tidak tahu, di tanah tempat kakiku menjejak, dulu ada jejak lain: jejak yang diburu, diikat, dipaksa tunduk pada bayang-bayang asing.

Aku hanya tahu dari cerita nenek, tentang malam-malam ketika lampu harus dipadamkan, tentang suara langkah sepatu berat yang mengetuk pintu, dan tentang doa yang dibisikkan dengan gemetar di balik selimut. Masa kecilku sederhana, tapi masa kecil bangsa ini pernah dipenuhi jeritan yang tak sempat direkam.

Di bingkai kenyataan. Aku orang dewasa yang bangun tiap pagi, berjuang dalam diam melawan pedih. Bukan lagi pedih cambuk penjajah, tetapi pedih menjaga janji kemerdekaan agar tidak hilang.

Aku menghidupi keluargaku, namun jauh di lubuk hati aku tahu: tiap butir nasi, tiap helai kain yang kukenakan, adalah titipan dari darah yang pernah jatuh di tanah ini.

Aku belajar bahwa merdeka tidak selesai saat penjajah pergi, merdeka adalah tugas yang terus diperjuangkan, agar anak-anak dapat tertawa tanpa rasa takut, agar langit tidak lagi menyimpan bau mesiu.

Di bingkai harapan, aku melihat diriku yang lain.

Aku adalah pejalan dari dunia yang belum kutahu namanya, tempat yang belum jadi, tapi menungguku untuk mengisin. Aku melihat sebuah jalan panjang, jalan yang masih kosong, jalan yang menunggu langkah-langkah baru. Aku tahu, bangsa ini masih menulis babnya sendiri, masih mencari bahasa yang tepat untuk menjelaskan luka dan cinta, masih mencoba berdiri tegak di antara badai dunia.

Aku pun melangkah, dengan hati yang penuh tanya, penuh cahaya. Jiwaku tidak terikat pada satu waktu atau satu tempat.

Aku bukan hanya anak kecil yang berlari di masa lalu, bukan hanya orang dewasa yang bekerja di masa kini, bukan hanya pejalan yang menatap masa depan.

Aku adalah tenunan dari semuanya.

Aku sedang menenun kenangan perjuangan yang beraroma mesiu, kenyataan kemerdekaan yang berpeluh keringat, dan harapan persatuan yang bersinar dalam doa.

 

Dari tenunan ini, lahirlah selembar perjalanan: perjalanan bangsa yang pernah dijajah, perjalanan manusia yang belajar merdeka, perjalanan yang belum selesai, tetapi akan selalu diteruskan.

Khamis, 28 Ogos 2025

DARAHMU TINTA SEJARAH

Karya: Avril Mazzareiio Limah


Di bumi pertiwi terbelenggu 

kau melangkah berani menentang 

darahmu sungai perjuanganmu 

gelap tunduk cahaya gemilang 

namamu kekal sepanjang waktu.


Tiada takhta tiada permata 

hanya merdeka kau peluk setia 

peluru rebah di mata 

derita lenyap semangat membara 

engkau cahaya bangsa tercinta.


Darahmu tinta kisah sejati 

menulis bangsa gagah berdiri 

setiap luka puisi abadi 

setiap nafas doa murni 

nyawamu cahaya bangsa sejati.

 

Kini kami berdiri gagah 

merasai manis perjuangan indah 

jasadmu tidur di tanah 

semangatmu hidup membakar maruah 

engkau pusaka bangsa merdeka.


Wahai pahlawan darahmu mengalir 

bukan di tanah tetapi jiwa 

kami berjanji semangat mengukir 

sejarahmu hidup sepanjang masa 

darahmu tinta bangsa abadi.


SMK Penangah

27/08/2025

NAFAS YANG TERAKHIR

Karya:  Nicol Leylee James


Dalam gelita pekat sejarah yang berdarah

aku dengar tangis tanah dirobek rakus

jeritnya menjadi lagu sunyi dalam dada bumi

peluru bersahut bagai bisikan maut 

namun seorang tua masih bersiri kaku.


Tangannya mengenggam tanah basah

mata putihnya melihat langitnya yang suram

dia bukan wira bepakaian besi

tapi doanya lebih tajam dari senjata

setiap lafaznya menusuk penjajah.


Inilah nafas terakhir katanya perlahan

aku tidak takut mati demi anak cucu

jika darahku jadi dakwat sejarah

maka tulislah kisah ini tanpa dusta 

dan tanpa luka palsu dibersih penjajah.


Bulan mentaksikan tubunnya rebah

tapi roh pejuang tak pernah mati

ia meresap ke dalam akar pokok merdeka

berkembang menjadi semangat tak terpadam

yang mengalir dalam nadi anak bangsa.


Kini kami berdiri atas tulang - benulang itu

di atas mimbar yang dulunya medan perang

kami mengucapkan janji kepada tanah air

bahawa nafas terakhir mereka tidak sia - sia

dan kemerdekaan ini akan terus dikekalkan.

 Nyawa di Sebalik Bendera

Karya: Christella D.


Kibaran bendera di tiang langit

dibelai angin dipuja negeri

disulam darah dijahit perit

bersama benang mengikat merdeka

                                                                                                                                                                                     

Nyawa di sebalik bendera

menunduk bersujud diatas sejadah

memanjat syukur yang tak bersudah

kerana merdeka milik bangsa


Bendera bukan sekadar kain bersilang

tapi hela nafas sang perwira

merajut berani menentang penjajah 

demi kibaran bendera nan megah


Bendera merah darah bersumpah

putihnya kafan yang suci dan megah

tiada nisan tiada gema

hanya tulang meraung merdeka


Di sebalik bendera itu

ada nyawa tak kembali waktu

Ada ibu yang menanti kosong

ada tanah menyimpan tulang


Maka ketika pagi menjelang

tunduklah sejenak sedetik menyepi

bendera itu bukan permadani

tapi kafan perwira tidak beranjak

demi ukiran bangsa merdeka



Christella D

SMK Penangah 

26 Ogos 2025

Merah Putih di Dada

Karya: Agustina Rahman


Kami tak lahir di tengah dentum senapan

Tak menggenggam bedil

Tak mendengar deru pesawat tempur 

Tapi di dada kami masih bergema pelan

Luka-luka sunyi para pejuang yang tak pernah pulang


Kami tak lagi mengangkat bambu runcing 

Tapi menggenggam pena, layar, dan mimpi

Dengan tangan yang sama  

Tangan yang menolak tunduk

Pada gelapnya dusta dan tajamnya ketidakadilan 


Merdeka bukan sekadar angka merah

Bukan arak-arakan bendera yang melambai

Di sepanjang jalan-jalan protokol

Tapi sunyi yang dipilih setiap waktu

Untuk jujur di tengah kebohongan

Untuk bekerja saat dunia memilih diam


Kami tanam bendera di relung dada 

Bukan untuk dipuja dan dipamer

Tapi tumbuh jadi pohon keberanian

Yang menaungi  lelah dan harapan 

Meski langit tak selalu menjanjikan cerah 


Kami melangkah di jejak darah yang membuka jalan

Bukan untuk diam, apalagi sekadar berjalan

Kami datang menulis babak baru negeri ini

Merdeka berpikir, mencipta, bersuara tanpa henti

Meski badai datang, kami tegak di bumi pertiwi


Bionarasi

Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024),  Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.

Genggaman Kemenangan

Karya: Mia Triana Lolni


Di tanah yang berdaulat

Di sini bermula perjuangan

Demi menawan nusa dan bangsa

Tiap titik noda darah

Menjadi saksi bukti nyata

Mengangkat martabat negara untuk

Dinikmati oleh generasi kini.


Perjuangan pejuang zaman dahulu

Kini menjadi warisan kita

Warisan yang harus dipelihara

Untuk kita kekal merdeka

Andai boleh memutar waktu

Tidaklah harus kita dicemari

Andai kita dihunus pedang

Lawanlah dengan api baraan semangat.


Hari ini kami berdiri

Dalam aman yang kau pertahankan

Jerit perihmu disimpan sunyi

Namamu hilang dalam kubur

Langit menjadi saksi perjuangan

Kau bukan sekadar bayang sejarah

Kau adalah nadi kemerdekaan

Terima kasih wahai pahlawan sejati

Keranamu negara menggenggam kemenangan.


SMK Penangah

27 Ogos 2025

 DI TANAH INI DARAHMU MENITIS

Karya: Lishoney Robert



Di tanah subur ini darahmu menitis

menjadi saksi perjuangan abadi

kau berdiri tanpa gentar

menentang musuh dengan jiwa besar.


Langkahmu tegap gagah berani

membawa panji maruah diri

pedangmu berkilau di bawah cahaya

tanda setia pada bangsa tercinta.


Biar peluru menembus dada

semangatmu tetap menyala

tiada surut walau seketika

kerana perjuangan bukan sia-sia.


Pahlawan jasamu tiada tandingan

menjadi pelindung benteng pertahanan

namamu terpahat dalam sejarah

menjadi teladan setiap generasi marwah.


Kau gugur tapi rohmu hidup

menjadi obor yang takkan redup

air mata rakyat jadi saksi

atas pengorbanan suci nan murni.


Wahai pahlawan kami berjanji

akan meneruskan perjuangan ini

agar bangsa terus merdeka

agar negara terus berjaya

namamu harum sepanjang zaman.


SMK.PENANGAH

27 OGOS 20205

Selasa, 26 Ogos 2025

MERDEKA SELAMANYA

 MERDEKA SELAMANYA

Karya: Dyerenilly Damri


Di bumi ini pernah bergema,

jeritan luka, tangisan jiwa,

namun di balik gelora darah,

lahirlah cahaya yang bernama MERDEKA.


Merdeka bukan sekadar kata,

ia nyala api dalam dada,

ia peluh yang tumpah di tanah,

ia doa yang terbang ke langit sejarah.


Wahai bangsaku,

jangan biarkan merdeka jadi alpa,

jangan biarkan ia sekadar nostalgia,

kerna merdeka itu amanah,

untuk dijaga, untuk dijunjung,

untuk diwariskan kepada anak bangsa.


Hari ini kita berdiri,

bukan lagi dengan senjata,

tetapi dengan ilmu, dengan cinta,

membangun tanah air tercinta,

agar merdeka ini,

kekal selamanya.

 

Dyerenilly Damri

SMK Penangah

25 Ogos 2025

DETIK PROKLAMASI

 DETIK PROKLAMASI

Oleh Syahrul Ramadhan




Saat pagi datang, mentari sujud di Pegangsaan,

menyibak kabut seribu tahun penjajahan.

Sukarno bersabda, suara jadi pedang,

Hatta mengamini, tenang seperti samudra.


Merah putih mulai naik ke langit,

bukan sekadar kain, melainkan sayap malaikat.

Merah darah, putih jiwa,

membawa nusantara terbang menuju cahaya.


Merdeka!

Detik itu bukan sekadar sejarah,

melainkan zikir panjang nusantara,

jiwa kembali pada Tuhannya.


Tangerang, 18 Mei 2025




BIONARASI


Syahrul Ramadhan, pegiat dalam bidang bahasa, sastra, dan pendidikan.

Ahad, 17 Ogos 2025

JEJAK TAK TERLIHAT

Jejak Tak Terlihat 

Karya: Severinus bin Intang



Dua puluh tahun waktu yang menekan sunyi
dalam hening malam aku bertanya pada diri
apa yang telah aku ukir
di langit yang tak pernah lelah menunggu?

Sudahkah aku memberi sedikit terang
pada mereka yang terjebak dalam gelapnya malam?
atau justru aku adalah bayang-bayang
mengisi ruang tanpa suara tanpa jejak?

Aku berjalan langkah-langkah kecil  sepi
mencari erti di antara debu dan air mata
kadang aku lupa bahwa di dunia yang luas ini
aku hanyalah titik yang sering terlupakan.

Sumbanganku mungkin tak tampak terang
tak berkilau seperti bintang di langit malam
namun aku mencoba memberi pelukan di hati
pada mereka yang terluka meski aku tak bisa menyembuhkan.

Dua puluh tahun lebih dan aku masih terjebak dalam tanya
apakah aku telah memberi bakti yang sejati?
atau apakah aku hanya menjadi bayangan  berlalu
tanpa meninggalkan apapun selain lamunan  dalam?

Tapi di setiap titis hujan yang jatuh
di setiap senja yang menyelimuti dunia
aku berharap meski sumbanganku tak seberapa
aku bisa menjadi sedikit erti bagi dunia penuh tanda tanya ini.

Severinus bin Intang
Kg Penangah
16/8/2025


AKAR YANG SUNYI

 Akar yang Sunyi

Karya: Kims Diwa



Aku mengangkat hari dengan bahu yang letih

keringat gugur bagai hujan di bumbung seng

namun di menara kaca

namaku tetap hilang ditelan angka.


Mesin berputar dengan nadiku sendiri

aku menulis hidup pada besi yang berderu

tetapi dalam mata manusia

aku hanya bayang yang dilupakan waktu.


Setiap malam aku pulang membawa diam

detak jam seperti palu mengejek

sedang aku berbisik dalam doa,

“Engkaulah saksi setiap tetes yang jatuh.”


Biarlah sejarah bukan milik pena manusia

kerana di hadapan-Mu Tuhan Yang Maha Adil

akar yang sunyi pun dikenal

sebagai nadi yang membuat roda tetap berputar.


Kims Diwa 

Kg. Simpang Entilibon 

16/8/2025

GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud

 GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak.  Di kamar ini aku belajar diam,  menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...

Carian popular