HALAMAN 2
HALAMAN 1
Ahad, 31 Ogos 2025
Seorang Pahlawan Membawa Merdeka
Yuzreel Toneh
Di tanah yang lama dijajah
berlari seorang pahlawan gagah
berselimut semangat membara
bersumpah setia demi negara.
Langit kelam diselubung duka
namun tekadnya tetap membara
bertarung nasib dengan percaya
setiap langkah penuh makna
demi tanah air tercinta.
Tiada senjata tiada bala
hanya kata jadi senjatanya
menulis nasib di lembar sejarah
menentang penjajah penuh maruah
dengan harapan menjulang megah.
Namanya hidup dalam bicara
di desa kota hingga seluruh negara
membangkit semangat yang lama lena
membina bangsa tanpa sengketa
menuju kemerdekaan yang sempurna.
Kini kita berdiri megah
di bumi bebas merdeka indah
namun jasa jangan dilupa
pahlawan dahulu wira sebenar
yang berkorban jiwa dan sabar.
SMK Penangah, Telupid
(28 Ogos 2025)
TAMAN MERDEKA
Kebun yang indah itu bernama kemerdekaan
Dimana bunga asa tumbuh bermekaran
Wangi semerbak menyebar dalam bunga setaman
Di tepian terdapat kolam berisi ikan
Berhiaskan patung angsa bak melayang
Nuansa menawan penuh keindahan
Sesekali melintas burung terbang
Sawah keemasan menambah kekaguman
Takjub menampak dewa begitu gagah
Tawa lirih dewi terdengar renyah
Inilah taman kemerdekaan
Bebas dari belenggu penjajahan
Wadah anak negeri memangkur masa depan
Barito Selatan, 31 Agustus 2025
~ nani ~
KEMERDEKAAN
Merdeka
Laksana burung yang terbang
Bak sayap yang membentang
Membumbung bebas melayang
Merdeka
Laksana ombak yang bergelora
Bak gelombang dengan gemuruh bagai paduan suara
Merdeka
Laksana pelangi setelah hujan
Bak bidadari turun dari kayangan
Merdeka
Laksana mentari yang bersinar
Bak bintang dengan redup memancar
Merdeka
Laksana cahaya dengan benderang keindahan
Bak malaikat dengan kesucian
Barito Selatan, 31 Agustus 2025
~ nani ~
DIRGAHAYU NEGERI-KU
Merdeka
Seharusnya tidak berduka
Seharusnya dirayakan penuh suka cita
Seharusnya tumbuh subur merata
Bukan hanya pemilik tahta
Berjuang dengan darah dan air mata
Jangan khianati dengan janji semata
Kemerdekaan adalah kebebasan tanpa syarat dan nota
Dirgahayu Ibu Pertiwi
Gemah ripah loh jinawi
Negeri ini adalah taman syurgawi
Barito Selatan,
31 Agustus 2025
~ nani ~
TERUNTUK DEWAN KONOHA
Satu tunas bangsa sudah menjadi korban
Untuk anggota Dewan yang hanya peduli jabatan
Nyawa hanya permainan
Uang menjadi kerajaan
Rakyat diberi janji-janji tak pasti
Tak satupun mengena di hati
Bahkan pajak dijadikan upeti
Mungkin nyawa kalian tak mati
Lupa pada dunia yang fana
Fana yang membuat kalian terlena
Terlena dengan kekayaan yang sesat
Sesat berujung laknat
30 Agustus 2025
~ nani ~
PAHLAWAN TAK BERSAYAP
Karya: Pethbenny
Di pangkuan bumi yang tak pernah luka
Ada namamu terpatri selamanya
Bukan sekadar wajah yang memikat mata
Namun jiwa perkasa cahaya bangsa.
Kau melangkah tanpa mahkota
Namun kejayaanmu melebihi para raja
Di setiap hela nafasmu ada doa
Di setiap detak jantungmu ada cinta
Cantikmu bukan pada rupa semata
Melainkan keberanian yang tiada tara
Kau menantang badai dengan senyuman yang tegar
Mengusung harapan setinggi gemintang sabar.
Peluhmu adalah tinta kemerdekaan
Darahmu adalah bait perjuangan
Kau menulis sejarah di atas luka
Menjahit mimpi dengan jiwa yang rela.
Engkau tak bersayap namun melangit
Engkau tak bersuara namun abadi terdengar
Wahai pahlawan penopang jiwa negeri
Cahaya namamu takkan pernah padam lagi.
Selama langit menaungi bumi
Engkau tetap hidup disetiap hati kami.
KELAS 6 ALAMANDA 2
27/8/2025
Suhaimi Jasnah
Pahlawan Kemerdekaan
Dalam gelita penjajahan yang membatu
muncul bayangmu, laksana bayu berduri
langkahmu deras menentang badai
di dada terpahat sumpah abadi
tanah ini bukan untuk diinjak hamba
Darahmu bukan sekadar tumpah
tapi tinta pada manuskrip kemerdekaan
tulangmu retak bukan lemah
tetapi tiang kepada langit kebebasan
kau teguh, meski langit runtuh.
Apakah takut itu wujud dalam jiwamu?
atau kau tukarkannya menjadi bara perjuangan
rantai besi kau patahkan dengan doa
peluru menjadi irama dalam zikirmu
dan tangisan bangsa jadi alasan kau mara.
Bendera belum berkibar waktu itu
tapi dalam matamu langit sudah cerah
kau bukan wira bersayap mitos
tetapi insan, yang mengangkat dunia
dengan sekeping hati yang tidak gentar.
Kini, kami melangkah atas tapakmu
tetapi benarkah kami sedar erti bebas?
kau relakan segalanya demi bangsa
apakah kami mampu menjaganya?
pahlawan, rohmu jadi cermin untuk kami.
SMK Penangah, Telupid
(27 Ogos 2025)
JEJAK PERSAHABATAN SERUMPUN
Karya Eduar Daud-Riau-Indonesia
Di Padang, di bawah langit biru Ranah Minang, sebuah festival literasi menyatukan jiwa-jiwa yang datang dari jauh. Namanya International Minangkabau Literacy Festival (IMLF). Di sanalah, takdir mempertemukanku dengan Zamri dan Pangeran Hanafi dari Brunei Darussalam, serta Syahrizad dari Terengganu.
Pertemuan itu sederhana—sebuah sapaan, seulas senyum, lalu percakapan tentang kata-kata dan makna. Namun dari simpul sederhana itu, terajut benang persahabatan yang semakin menguat, seperti tenunan songket yang tidak mudah terurai.
Waktu berjalan, jarak bukan lagi penghalang. Kami saling berkabar, berbagi karya, hingga akhirnya sepakat untuk bertemu kembali di Bandar Seri Begawan, pada saat digelarnya National Theatre Festival Brunei. Di sana, persaudaraan itu menemukan nadinya: suara yang serupa, hati yang sehati.
Dari Brunei kami melangkah ke pentas yang lebih luas: Suara Serumpun, Festival Puisi 3 Negara. Bait-bait kami bertemu, menyatu, menjadi jembatan yang melampaui batas bendera dan garis peta. Lalu, janji pun terucap: 12 Oktober 2025, Kuala Lumpur, sebuah peluncuran buku akan menjadi saksi bahwa persahabatan ini tak hanya tercatat di hati, tapi juga di lembar sejarah.
Dan janji lain pun menyusul: 24 Mei 2026, kami akan berkumpul di Riau, menyusuri jejak sejarah di Istana Siak Sri Indrapura, sebelum beranjak ke Bukittinggi, menghadiri IMLF ke-5. Seperti sungai yang mengalir ke muara, perjalanan ini seolah sudah digariskan.
Kami percaya, persahabatan yang lahir dari sastra adalah persahabatan yang tak lekang oleh jarak dan waktu. Di antara kata-kata, kami menemukan rumah; di antara pertemuan, kami menemukan makna.
Pekanbaru, 30 Agustus 2025
Aku, Pejuang Pendidik Merdeka
Karya Nurul Afifah Binti Rahim
Aku bukan berpedang di medan perang,
tidak menentang musuh dengan peluru dan senapang,
tetapi aku berjuang di ruang kelas,
dengan pena, papan putih, dan suara yang tak pernah lelah.
Aku mendidik anak Felda, tumbuh di bumi sederhana,
ayahku guru, mulutnya sarat nasihat dan tawa,
“Jagalah solat, jagalah bangsa,
merdeka itu bukan sekadar kata,
tapi amanah yang perlu dijaga.”
Kini ayah tiada,
namun pesannya mekar dalam dada,
setiap langkahku ke sekolah,
seakan aku menyambung perjuangan yang ditinggalkannya.
Aku berdiri di hadapan murid-muridku,
ada yang pemalu, ada yang lantang,
ada yang berjuang membaca sebaris ayat,
ada pula yang ingin melangit tinggi dengan robot dan kamera.
Aku mendidik mereka semua,
kerana pada mereka, masa depan bangsa bergantung nyawa.
Merdeka bagiku adalah bebasnya jiwa dari gelap,
bebasnya anak-anak desa dari buta huruf,
bebasnya minda daripada takut untuk bermimpi,
bebasnya suara daripada terkurung sunyi.
Aku diriku seorang pejuang pendidik,
meski tidak berhujah di parlimen,
tidak menulis dasar-dasar negara,
tetapi aku menulis di hati anak-anak kecil,
bahawa mereka mampu, mereka berharga,
mereka pewaris merdeka.
Di layar TVPSS SEPARATU,
kami rakam wajah bangsa,
kisah kejayaan kecil jadi cahaya,
temubual bersama menteri, suara murid Felda,
semuanya adalah bukti,
bahawa guru tidak sekadar mengajar,
tetapi membina sejarah.
Aku bukan tokoh terkenal,
namaku tak tercatat dalam buku teks sekolah,
tetapi setiap peluh, setiap doa,
adalah jihad kecil seorang wanita biasa,
yang percaya ilmu itu senjata,
dan pendidikan itu benteng merdeka.
Selagi nafasku masih bersisa,
selagi murid-murid masih menanti di pintu kelas,
aku akan terus berdiri,
sebagai guru, sebagai anak bangsa, sebagai pendidik merdeka.
Kerana merdeka ini tidak diwarisi percuma,
ia harus dijaga, ia harus dihidupkan,
dan aku sebagai pendidik di bumi Felda
akan terus menyulam perjuangan,
dengan cinta, ilmu, dan doa.
Biodata Penulis
Nurul Afifah Binti Rahim
Nurul Afifah Binti Rahim dilahirkan di Negeri Kelantan. Berminat dalam bidang penulisan sejak bangku sekolah lagi. Berkidmat sebagai seorang guru di Sekolah Kebangsaan (FELDA) Lepar Utara 1 Jerantut, Pahang Malaysia.
+6012-9828069
Pengorbananmu Kemerdekaan Kami
Karya: Dyerenilly
Di medan luka engkau berdiri gagah
Peluru dan pedang bukan penghalang maruah
Darahmu gugur jadi tinta sejarah
Semangatmu berkobar tiada menyerah
Pahlawan, namamu harum sepanjang arah.
Air mata ibu jadi doa restu
Menunggu kepulangan anak yang satu
Namun jasadmu terbaring kaku
Demi bangsa engkau merelakan nyawa
Pengorbananmu suci tiada ternilai harta.
Gelap penjajahan membelenggu bumi
Engkau bangkit membawa nur cahaya
Dengan tekad dan jiwa berani
Menghapus belenggu perhambaan bangsa
Membuka pintu merdeka yang mulia.
Kami kini berdiri di bumi merdeka
Menghirup udara tanpa sengsara
Berjalan megah di jalan terbuka
Semua kerana jasa pahlawan tercinta
Pengorbananmu jadi jambatan bahagia.
Wahai pahlawan, tenanglah di sana
Namamu terpahat di dada bangsa
Pengorbananmu jadi pusaka
Kemerdekaan ini milik kita semua
Kami janji menjaganya selamanya.
SMK Penangah
27 ogos 2025
SUARA MELAYU SERUMPUN: MERDEKA
Karya : Eduar Daud (edo)
Suara 1 – Indonesia
Merah putih berkibar di angkasa,
disulam darah pejuang bangsa.
Merdeka bukan hadiah semata,
tetapi nyawa yang jadi taruhannya.
Suara 2 – Malaysia
Di bumi bertuah, kami bersumpah,
semerdeka langit, seindah sejarah.
Di bawah Jalur Gemilang berkibar,
semangat juang tak pernah pudar.
Suara 3 – Singapura
Di pulau indah, api menyala,
membakar takut, mengusir duka.
Merdeka kami, janji bersama,
teguh berdiri, menjaga bangsa.
Suara 4 – Brunei Darussalam
Tanah bertuah, damai berdaulat,
di bawah panji kuning bersahabat.
Merdeka kami cahaya abadi,
mengikat hati dalam harmoni.
Bersama (4 suara):
Melayu Serumpun suara kita,
di lautan, di daratan, di udara,
Kemerdekaan bukan hanya milik negara,
tapi warisan jiwa, untuk selamanya.
Suara 1 (Indonesia):
Merdeka adalah darah pahlawan.
Suara 2 (Malaysia):
Merdeka adalah cahaya zaman.
Suara 3 (Singapura):
Merdeka adalah janji masa depan.
Suara 4 (Brunei):
Merdeka adalah rahmat Tuhan.
Bersama:
Kami Melayu serumpun,
Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam.
Empat suara, satu semangat,
Merdeka… Merdeka… Merdeka!
Pekanbaru-Riau, 28 Agustus 2025
Sabtu, 30 Ogos 2025
PERJUANGAN UNTUK KEMERDEKAAN
Karya: AUDREY ASYIRAH BINTI MAHMUD SYAUKI
Angin subuh membisikkan rindu,
Langit kelabu menangis pilu,
Tanah air bergetar sendu,
Darah pejuang tumpah membasahi waktu.
Matahari terkurung di balik awan,
Harapan digenggam dalam tangan rawan,
Peluru berbicara tanpa suara,
Namun semangat tidak pernah lara.
Bumi merintih di bawah tapak penjajah,
Hati bangsa luka parah,
Bayang-bayang ketakutan menari,
Namun obor keberanian tetap menyala berapi.
Rimba bergema jeritan azam,
Laungan merdeka menusuk malam,
Bersatu jiwa, berderap langkah,
Menulis sejarah dengan darah dan megah.
Kemerdekaan, engkau mawar berduri,
Mekarmu dinanti, peritmu disirami,
Kini langit bersih tanpa sengsara,
Kerana perjuangan tidak pernah sia-sia
AUDREY ASYIRAH BINTI MAHMUD SYAUKI
SMK Penangah
29/8/2025
TANAH AIR TERCINTA
Karya: CHRISTY ROFALINCE
Jalur Gemilang yang berkibar,
lambang berani,
Malaysia tercinta, di hati ini
Pahlawan berjuang, jiwa raga diberi,
Demi kemerdekaan, rela berbakti,
Semangat membara, tak pernah terhenti,
Negara makmur, impian terjadi,
Rakyat bersatu, bangsa berdikari,
Budaya dijaga, warisan lestari,
Cinta pada negara, abadi di sanubari,
Malaysia gemilang, terus berseri,
Generasi muda, harapan negara,
Teruskan perjuangan, dengan semangat membara,
Jadikan Malaysia, lebih berjaya,
Di persada dunia, nama terpelihara,
Setiap tahun, kita sambut meriah,
Detik bersejarah, penuh berakah,
Kemerdekaan ini, jangan di lupakan,
Malaysia merdeka, selamanya,
Dengan bangga, kita nyanyikan lagu,
Negaraku tercinta, tanah air ku,
Semoga sentiasa, aman dan maju,
Negara Malaysia, di hatiku.
CHRISTY ROFALINCE
SMK Penangah
28/8/2025
TANAH INI TELAH MERDEKA
Karya: TCYELICIA JOHNNLLY
Tanah ini pernah menangis,
Disapa bayang penjajah yang rakus,
Ribuan langkah diikat rantai,
Harapan ditimbus di tanah musuh.
Tanah ini pernah merintih,
Dalam sunyi, dalam jerih,
Namun semangat tak pernah lelah,
Biar tubuh rebah, jiwa gagah.
Merdeka bukan hadiah bulan,
Tapi nyawa yang gugur di medan,
Darah jadi tinta perjuangan,
Menulis sejarah penuh pengorbanan.
Hari ini langit kita cerah,
Tiada dentum bom, tiada jerat serah,
Hanya suara anak merdeka,
Mengalun lagu cinta pada negara.
Kita bukan pewaris kosong,
Kita pewaris darah yang mengalir,
Tanggungjawab bukan hanya di lisan,
Tapi pada setiap tindakan dan fikir.
Wahai anak Malaysia, dengarlah,
Merdeka bukan sekadar kata,
Merdeka ialah amanah dari zaman luka,
Untuk dijaga, dibaja, dibina semula.
Tanah ini telah merdeka,
Jangan biar jiwamu dijajah semula!
TCYELICIA JOHNNLLY
SMK Penangah
29/8/2025
MERDEKA SELAMANYA
Karya: SHANTHRIENNEY JEKSON
Dahulu tanah ini dirantai luka,
di bawah bayang penjajah yang angkuh,
sawah kering, rimba berduka,
jiwa bangsa dipaksa tunduk dan patuh.
Namun semangat tidak pernah layu,
seperti matahari terus menyala,
perwira bangkit tanpa jemu,
menentang gelita demi cahaya.
Jerit "Merdeka!" tujuh kali bergema,
menggetar bumi, menggoncang langit,
kata itu jadi doa bangsa,
menghalau resah, menyingkap semangat.
Tanah air pun bernafas lega,
Jalur Gemilang berkibar megah,
setiap jalur tanda setia,
setiap warna tanda maruah.
Wahai anak watan, bukalah mata,
merdeka ini bukan hadiah percuma,
ia darah, keringat dan nyawa,
warisan suci yang tiada ternilai harganya.
Kita umpama bintang di langit,
berkilau bersama dalam satu cahaya,
perpaduan jadi senjata paling hebat,
menangkis segala ancaman sengketa.
Jagalah tanah ini dengan jiwa,
jangan biar sejarah berulang,
Malaysia merdeka, Malaysia tercinta,
selamanya harum dalam gemilang
SHANTHRIENNEY JEKSON
SMK Penangah,
27/8/2025
TANGISAN MERDEKA YANG TERSISA
Karya: MOHD EZANI BIN AZNI
Di bumi ini pernah tumpah darah,
jerit perit menjadi saksi sejarah,
langkah para pejuang hilang di balik kabus senja,
namun roh mereka tetap bernafas dalam jiwa bangsa.
Malam merdeka dulu disambut dengan air mata,
bukan hanya sorak gembira semata,
kerana setiap senyum itu teriring luka,
luka yang diwariskan oleh penjajah durjana.
Kini, kota berdiri megah,
namun gema perjuangan makin resah,
anak bangsa leka di buaian dunia,
melupakan darah yang pernah menyuburi tanah pusaka.
Di pusara pahlawan, angin berbisik sayu,
daun-daun gugur seperti mengirim rindu,
adakah pengorbanan mereka sudah dibalas?
atau hanya tinggal nama yang kian terhakis?
Merdeka ini tidak sekadar bendera berkibar,
ia adalah janji pada mereka yang gugur tanpa pulang,
janji untuk menjaga amanah dan maruah negara,
bukan meruntuhkannya dengan tangan sendiri.
Wahai bangsaku, sedarlah dari lena,
merdeka bukan sekadar hari untuk berpesta,
ia adalah tangisan yang harus dijaga,
agar pilu itu menjadi pengingat selamanya.
Di hujung senja, aku berdiri kaku,
menatap jalur gemilang yang kian layu,
berdoa semoga semangat pahlawan dulu
tidak mati dibawa waktu.
MOHD EZANI BIN AZNI
SMK Penangah,
29/8/2024
Teguh di Medan Perang
Karya: Rojilah Jibley
Kecekalan menjadi benteng
kelicikan menjadi helah
ketangkasan menyusur di medan perang
kerjasama mengikat tekad.
Dalam jiwa mencari ketenangan
bara api digenggam erat
biar menjadi arang dan bukti
bahawa kesetiaan tidak akan mati.
Sumpah serapah musuh berhamburan
namun keselamatan bangsa jadi taruhan
merentap jiwa, bertumpah darah
pahlawan gagah menjinjing pedang.
Berdiri teguh di bumi bertuah
berkorban demi nusa tercinta
berani menentang gelombang derita
hingga sorakkan kemenangan membelah dunia.
Dol Said, termaktub di dada sejarah
maruah dijulang setinggi gunung
laungan kemerdekaan bergema megah
kebebasan hadiah yang paling agung.
Laksana obor menyinari malam
semangatmu tak pernah padam
dari tanah tumpahnya darah pejuang
bangsa merdeka teguh berpaut
janji darah dan maruah perwira
kekal teguh di medan perang.
SMK PENANGAH
27.08.2025
NEGARAKU MERDEKA
Karya: WAHDANIAH BINTI ABDULLAH
Merdeka ini bukan sekadar kata,
Merdeka, darah yang menitis di bumi pusaka.
Merdeka, keringat yang meresap ke akar sejarah,
Merdeka, doa yang terangkat ke langit maruah.
Lihatlah Jalur Gemilang berkibar megah,
bagai ombak laut yang tidak pernah rebah.
Merdeka ini suara yang lantang,
mengalun di dada rakyat gemilang.
Wahai tanah tumpahnya darahku,
engkaulah nadi, engkaulah jiwaku.
Gunungmu berdiri gagah,
sungaimu beralun membawa amanah.
Merdeka ini bukan hadiah percuma,
tetapi nyawa yang rebah di hujung senjata.
Titis air mata ibu di ambang subuh,
menjadi saksi perjuangan yang tidak pupus.
Merdeka adalah janji yang kita genggam,
supaya bangsa ini terus terangkum.
Supaya anak cucu tidak lagi terbelenggu,
dalam rantai penjajahan yang dulu.
Wahai negaraku, Malaysia tercinta,
engkau bunga mekar di taman dunia.
Engkau mercu cahaya di ufuk benua,
engkau nyanyian aman dalam dada manusia.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Pekikkan kata ini sekuat jiwa.
Selagi nafas ini masih bersisa,
akan kupelihara engkau—Malaysia merdeka!
WAHDANIAH BINTI ABDULLAH
SMK Penangah
27/8/2025
SIAPA AKU SAAT INI?
karya : Riyan Rana
Dalam bingkai kenangan, aku adalah anak kecil yang bermain di bawah rimbun tawa canda. Aku berlari di halaman rumah, mengumpulkan daun-daun gugur dan menyusunnya menjadi kapal. Aku tidak tahu, di tanah tempat kakiku menjejak, dulu ada jejak lain: jejak yang diburu, diikat, dipaksa tunduk pada bayang-bayang asing.
Aku hanya tahu dari cerita nenek, tentang malam-malam ketika lampu harus dipadamkan, tentang suara langkah sepatu berat yang mengetuk pintu, dan tentang doa yang dibisikkan dengan gemetar di balik selimut. Masa kecilku sederhana, tapi masa kecil bangsa ini pernah dipenuhi jeritan yang tak sempat direkam.
Di bingkai kenyataan. Aku orang dewasa yang bangun tiap pagi, berjuang dalam diam melawan pedih. Bukan lagi pedih cambuk penjajah, tetapi pedih menjaga janji kemerdekaan agar tidak hilang.
Aku menghidupi keluargaku, namun jauh di lubuk hati aku tahu: tiap butir nasi, tiap helai kain yang kukenakan, adalah titipan dari darah yang pernah jatuh di tanah ini.
Aku belajar bahwa merdeka tidak selesai saat penjajah pergi, merdeka adalah tugas yang terus diperjuangkan, agar anak-anak dapat tertawa tanpa rasa takut, agar langit tidak lagi menyimpan bau mesiu.
Di bingkai harapan, aku melihat diriku yang lain.
Aku adalah pejalan dari dunia yang belum kutahu namanya, tempat yang belum jadi, tapi menungguku untuk mengisin. Aku melihat sebuah jalan panjang, jalan yang masih kosong, jalan yang menunggu langkah-langkah baru. Aku tahu, bangsa ini masih menulis babnya sendiri, masih mencari bahasa yang tepat untuk menjelaskan luka dan cinta, masih mencoba berdiri tegak di antara badai dunia.
Aku pun melangkah, dengan hati yang penuh tanya, penuh cahaya. Jiwaku tidak terikat pada satu waktu atau satu tempat.
Aku bukan hanya anak kecil yang berlari di masa lalu, bukan hanya orang dewasa yang bekerja di masa kini, bukan hanya pejalan yang menatap masa depan.
Aku adalah tenunan dari semuanya.
Aku sedang menenun kenangan perjuangan yang beraroma mesiu, kenyataan kemerdekaan yang berpeluh keringat, dan harapan persatuan yang bersinar dalam doa.
Dari tenunan ini, lahirlah selembar perjalanan: perjalanan bangsa yang pernah dijajah, perjalanan manusia yang belajar merdeka, perjalanan yang belum selesai, tetapi akan selalu diteruskan.
Khamis, 28 Ogos 2025
DARAHMU TINTA SEJARAH
Karya: Avril Mazzareiio Limah
Di bumi pertiwi terbelenggu
kau melangkah berani menentang
darahmu sungai perjuanganmu
gelap tunduk cahaya gemilang
namamu kekal sepanjang waktu.
Tiada takhta tiada permata
hanya merdeka kau peluk setia
peluru rebah di mata
derita lenyap semangat membara
engkau cahaya bangsa tercinta.
Darahmu tinta kisah sejati
menulis bangsa gagah berdiri
setiap luka puisi abadi
setiap nafas doa murni
nyawamu cahaya bangsa sejati.
Kini kami berdiri gagah
merasai manis perjuangan indah
jasadmu tidur di tanah
semangatmu hidup membakar maruah
engkau pusaka bangsa merdeka.
Wahai pahlawan darahmu mengalir
bukan di tanah tetapi jiwa
kami berjanji semangat mengukir
sejarahmu hidup sepanjang masa
darahmu tinta bangsa abadi.
SMK Penangah
27/08/2025
NAFAS YANG TERAKHIR
Karya: Nicol Leylee James
Dalam gelita pekat sejarah yang berdarah
aku dengar tangis tanah dirobek rakus
jeritnya menjadi lagu sunyi dalam dada bumi
peluru bersahut bagai bisikan maut
namun seorang tua masih bersiri kaku.
Tangannya mengenggam tanah basah
mata putihnya melihat langitnya yang suram
dia bukan wira bepakaian besi
tapi doanya lebih tajam dari senjata
setiap lafaznya menusuk penjajah.
Inilah nafas terakhir katanya perlahan
aku tidak takut mati demi anak cucu
jika darahku jadi dakwat sejarah
maka tulislah kisah ini tanpa dusta
dan tanpa luka palsu dibersih penjajah.
Bulan mentaksikan tubunnya rebah
tapi roh pejuang tak pernah mati
ia meresap ke dalam akar pokok merdeka
berkembang menjadi semangat tak terpadam
yang mengalir dalam nadi anak bangsa.
Kini kami berdiri atas tulang - benulang itu
di atas mimbar yang dulunya medan perang
kami mengucapkan janji kepada tanah air
bahawa nafas terakhir mereka tidak sia - sia
dan kemerdekaan ini akan terus dikekalkan.
Nyawa di Sebalik Bendera
Karya: Christella D.
Kibaran bendera di tiang langit
dibelai angin dipuja negeri
disulam darah dijahit perit
bersama benang mengikat merdeka
Nyawa di sebalik bendera
menunduk bersujud diatas sejadah
memanjat syukur yang tak bersudah
kerana merdeka milik bangsa
Bendera bukan sekadar kain bersilang
tapi hela nafas sang perwira
merajut berani menentang penjajah
demi kibaran bendera nan megah
Bendera merah darah bersumpah
putihnya kafan yang suci dan megah
tiada nisan tiada gema
hanya tulang meraung merdeka
Di sebalik bendera itu
ada nyawa tak kembali waktu
Ada ibu yang menanti kosong
ada tanah menyimpan tulang
Maka ketika pagi menjelang
tunduklah sejenak sedetik menyepi
bendera itu bukan permadani
tapi kafan perwira tidak beranjak
demi ukiran bangsa merdeka
Christella D
SMK Penangah
26 Ogos 2025
Merah Putih di Dada
Karya: Agustina Rahman
Kami tak lahir di tengah dentum senapan
Tak menggenggam bedil
Tak mendengar deru pesawat tempur
Tapi di dada kami masih bergema pelan
Luka-luka sunyi para pejuang yang tak pernah pulang
Kami tak lagi mengangkat bambu runcing
Tapi menggenggam pena, layar, dan mimpi
Dengan tangan yang sama
Tangan yang menolak tunduk
Pada gelapnya dusta dan tajamnya ketidakadilan
Merdeka bukan sekadar angka merah
Bukan arak-arakan bendera yang melambai
Di sepanjang jalan-jalan protokol
Tapi sunyi yang dipilih setiap waktu
Untuk jujur di tengah kebohongan
Untuk bekerja saat dunia memilih diam
Kami tanam bendera di relung dada
Bukan untuk dipuja dan dipamer
Tapi tumbuh jadi pohon keberanian
Yang menaungi lelah dan harapan
Meski langit tak selalu menjanjikan cerah
Kami melangkah di jejak darah yang membuka jalan
Bukan untuk diam, apalagi sekadar berjalan
Kami datang menulis babak baru negeri ini
Merdeka berpikir, mencipta, bersuara tanpa henti
Meski badai datang, kami tegak di bumi pertiwi
Bionarasi
Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd. Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.
Genggaman Kemenangan
Karya: Mia Triana Lolni
Di tanah yang berdaulat
Di sini bermula perjuangan
Demi menawan nusa dan bangsa
Tiap titik noda darah
Menjadi saksi bukti nyata
Mengangkat martabat negara untuk
Dinikmati oleh generasi kini.
Perjuangan pejuang zaman dahulu
Kini menjadi warisan kita
Warisan yang harus dipelihara
Untuk kita kekal merdeka
Andai boleh memutar waktu
Tidaklah harus kita dicemari
Andai kita dihunus pedang
Lawanlah dengan api baraan semangat.
Hari ini kami berdiri
Dalam aman yang kau pertahankan
Jerit perihmu disimpan sunyi
Namamu hilang dalam kubur
Langit menjadi saksi perjuangan
Kau bukan sekadar bayang sejarah
Kau adalah nadi kemerdekaan
Terima kasih wahai pahlawan sejati
Keranamu negara menggenggam kemenangan.
SMK Penangah
27 Ogos 2025
DI TANAH INI DARAHMU MENITIS
Karya: Lishoney Robert
Di tanah subur ini darahmu menitis
menjadi saksi perjuangan abadi
kau berdiri tanpa gentar
menentang musuh dengan jiwa besar.
Langkahmu tegap gagah berani
membawa panji maruah diri
pedangmu berkilau di bawah cahaya
tanda setia pada bangsa tercinta.
Biar peluru menembus dada
semangatmu tetap menyala
tiada surut walau seketika
kerana perjuangan bukan sia-sia.
Pahlawan jasamu tiada tandingan
menjadi pelindung benteng pertahanan
namamu terpahat dalam sejarah
menjadi teladan setiap generasi marwah.
Kau gugur tapi rohmu hidup
menjadi obor yang takkan redup
air mata rakyat jadi saksi
atas pengorbanan suci nan murni.
Wahai pahlawan kami berjanji
akan meneruskan perjuangan ini
agar bangsa terus merdeka
agar negara terus berjaya
namamu harum sepanjang zaman.
SMK.PENANGAH
27 OGOS 20205
Selasa, 26 Ogos 2025
MERDEKA SELAMANYA
MERDEKA SELAMANYA
Karya: Dyerenilly Damri
Di bumi ini pernah bergema,
jeritan luka, tangisan jiwa,
namun di balik gelora darah,
lahirlah cahaya yang bernama MERDEKA.
Merdeka bukan sekadar kata,
ia nyala api dalam dada,
ia peluh yang tumpah di tanah,
ia doa yang terbang ke langit sejarah.
Wahai bangsaku,
jangan biarkan merdeka jadi alpa,
jangan biarkan ia sekadar nostalgia,
kerna merdeka itu amanah,
untuk dijaga, untuk dijunjung,
untuk diwariskan kepada anak bangsa.
Hari ini kita berdiri,
bukan lagi dengan senjata,
tetapi dengan ilmu, dengan cinta,
membangun tanah air tercinta,
agar merdeka ini,
kekal selamanya.
Dyerenilly Damri
SMK Penangah
25 Ogos 2025
DETIK PROKLAMASI
DETIK PROKLAMASI
Oleh Syahrul Ramadhan
Saat pagi datang, mentari sujud di Pegangsaan,
menyibak kabut seribu tahun penjajahan.
Sukarno bersabda, suara jadi pedang,
Hatta mengamini, tenang seperti samudra.
Merah putih mulai naik ke langit,
bukan sekadar kain, melainkan sayap malaikat.
Merah darah, putih jiwa,
membawa nusantara terbang menuju cahaya.
Merdeka!
Detik itu bukan sekadar sejarah,
melainkan zikir panjang nusantara,
jiwa kembali pada Tuhannya.
Tangerang, 18 Mei 2025
BIONARASI
Syahrul Ramadhan, pegiat dalam bidang bahasa, sastra, dan pendidikan.
Ahad, 17 Ogos 2025
JEJAK TAK TERLIHAT
Jejak Tak Terlihat
Karya: Severinus bin Intang
Dua puluh tahun waktu yang menekan sunyi
dalam hening malam aku bertanya pada diri
apa yang telah aku ukir
di langit yang tak pernah lelah menunggu?
Sudahkah aku memberi sedikit terang
pada mereka yang terjebak dalam gelapnya malam?
atau justru aku adalah bayang-bayang
mengisi ruang tanpa suara tanpa jejak?
Aku berjalan langkah-langkah kecil sepi
mencari erti di antara debu dan air mata
kadang aku lupa bahwa di dunia yang luas ini
aku hanyalah titik yang sering terlupakan.
Sumbanganku mungkin tak tampak terang
tak berkilau seperti bintang di langit malam
namun aku mencoba memberi pelukan di hati
pada mereka yang terluka meski aku tak bisa menyembuhkan.
Dua puluh tahun lebih dan aku masih terjebak dalam tanya
apakah aku telah memberi bakti yang sejati?
atau apakah aku hanya menjadi bayangan berlalu
tanpa meninggalkan apapun selain lamunan dalam?
Tapi di setiap titis hujan yang jatuh
di setiap senja yang menyelimuti dunia
aku berharap meski sumbanganku tak seberapa
aku bisa menjadi sedikit erti bagi dunia penuh tanda tanya ini.
Severinus bin Intang
Kg Penangah
16/8/2025
AKAR YANG SUNYI
Akar yang Sunyi
Karya: Kims Diwa
Aku mengangkat hari dengan bahu yang letih
keringat gugur bagai hujan di bumbung seng
namun di menara kaca
namaku tetap hilang ditelan angka.
Mesin berputar dengan nadiku sendiri
aku menulis hidup pada besi yang berderu
tetapi dalam mata manusia
aku hanya bayang yang dilupakan waktu.
Setiap malam aku pulang membawa diam
detak jam seperti palu mengejek
sedang aku berbisik dalam doa,
“Engkaulah saksi setiap tetes yang jatuh.”
Biarlah sejarah bukan milik pena manusia
kerana di hadapan-Mu Tuhan Yang Maha Adil
akar yang sunyi pun dikenal
sebagai nadi yang membuat roda tetap berputar.
Kims Diwa
Kg. Simpang Entilibon
16/8/2025
GELAP YANG CUKUP : Eduar Daud
GELAP YANG CUKUP Karya: Eduar Daud Malam berhenti bergerak. Di kamar ini aku belajar diam, menghitung napas di balik tirai yang membeku. ...
Carian popular
-
BUIH YANG MENOLAK PECAH Cerpen Warsono Abi Azzam Aku dibesarkan di rumah yang lebih sering mendengar hujan daripada tawa. Atap sengnya ber...
-
CINTA YANG TAK PERNAH SALAH ALAMAT Oleh Amnina el Humaira Hujan gerimis di penghujung Desember menjadi saksi Betapa aku ingin menghangat...
-
Buih yang Tahu Batas Langit Oleh: Era Nurza Aku ini buih lahir dari riak kecil putih sekejap sebelum harapmu memecahkanku Kau hamparkan mi...
























