Rabu, 5 Mac 2025

Ramadan Peristirahatan


 RAMADAN PERISTIRAHATAN

Oleh Syahrul Ramadhan

 


 

Tubuh muda, nyala api yang membakar cakrawala,

kini meredup, terhempas bayang tak bersuara.

Mata kehilangan cahaya fajar,

langkah terseret di pasir harapan yang luruh,

seolah dihantam gelombang murka,

luruh, pecah, hilang arah.

 

Dunia perlahan tenggelam dari pandangan,

langit memudar saat azan dilantunkan,

angin yang menyejukkan, kini mendatangkan nyeri,

merobohkan raga yang sedang tak berdaya.

 

Ramadanku menjelma peristirahatan sunyi,

saat raga yang dahulu seteguh karang, luruh bagai daun di musim sepi.

Suapan nasi tak lagi menghangatkan,

pahitnya menjalar, tenggelam dalam malam yang bisu.

 

 Tangerang, 5 Maret 2025

 

  

BIONARASI

 Syahrul Ramadhan, lulusan Sastra Indonesia yang memiliki minat dan dedikasi dalam bidang bahasa, sastra, dan pendidikan.


Karya Terbaik Mingguan

 Tema: Puasa, Cermin Diri

Minggu Ketiga Februari 2025

TAHNIAH SEMUA ! TAHNIAH SEMUA ! TAHNIAH SEMUA !





Menjadi Seorang Novelis

 






Mengapa Menjadi Novelis

 





Tema Minggu ini

 Tema : Puasa, Cermin Diri

24 Februari hingga 2 Mac 2025.

Jam 10.00 pagi masa penghantaran/ penerimaan karya terakhir.




Tema Minggu Ini

 PUISI BERTEMA


'KELESTARIAN ALAM'

10-16 Februari 2025 - hantar puisi

16 Februari 2025 (Ahad) : Pengumuman 3-5 karya terbaik.









SIMFONI HIJAU

 SIMFONI HIJAU

 


Hutan bukan sekadar daun

ia nadi bumi yang berdetak perlahan

di bawah rimbun akar menulis puisi  

tentang kesabaran tanah memegang rahsia

 

Sungai bukan sekadar air

ia arteri planet mengalirkan nafas kehidupan

di celah batu arusnya memahat waktu  

menjadi cermin  manusia lupa.

 

Angin bukan sekadar hembusan  

ia bisikan langit pada dedaunan

mendendangkan lagu yang hanya difahami  

burung-burung dan dahan berdoa.

 

Namun tangan manusia sering lupa  

bahawa setiap pohon adalah tiang langit

setiap titis hujan adalah zikir alam

dan setiap tanah yang terjejas  

adalah luka pada kulit dunia

 

Jika bumi adalah simfoni

kitalah not yang harus harmoni.

 

KIMS DIWA

Tamparuli, Sabah

11/2/2025

 

Biodata:

Kims Diwa atau nama sebenarnya RUKIMAH BINTI PANDAWA lahir di Kota Marudu, Sabah. Bertugas di daerah Tongod Telupid sebagai guru. Merupakan penulis buku kumpulan puisi BAGAI KELEKATU (DBP) dan SONATA MUSIM KENANGAN (JS).

Persahabatan Amani dan Lion

 PERSAHABATAN AMANI dan LION

Oleh: Kims Diwa 

Di sebuah kampung yang aman damai, tinggal seorang budak perempuan bernama Amani. Amani suka bermain di luar rumah, mengumpul bunga dan menggambar di atas kertas. Namun, Amani selalu merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Dia ingin seorang kawan.

 Suatu hari, ketika Amani sedang menggambar di bawah pokok mangga, dia melihat sesuatu bergerak di antara rumput. Dengan penuh rasa ingin tahu, Amani menghampiri dan mendapati seekor kucing Bengal yang cantik dengan bulu berjalur seperti harimau. Kucing itu mempunyai mata hijau yang bersinar.

             "Hallo, kucing! Siapa nama kamu?" tanya Amani dengan suara ceria.

     Kucing itu hanya memandangnya sambil menggerakkan ekornya. Amani merasa kucing itu sangat manja dan ingin mengenalinya lebih dekat. Dia memutuskan untuk memberi kucing itu nama "Lion".

     Setiap hari selepas sekolah, Amani akan datang ke tempat di bawah pokok mangga untuk bermain dengan Lion. Mereka berdua akan berlari, melompat, dan bermain kejar-kejaran. Amani akan membawa makanan kegemaran Lion, dan kucing itu akan menggeselkan badannya pada Amani sebagai tanda kasih sayang.

     Suatu petang, ketika Amani dan Lion sedang bermain, Amani terpijak batu dan terjatuh. Dia merasa sakit di lututnya dan mula menangis. Lion yang melihat Amani menangis segera berlari ke arahnya. Kucing itu duduk di sebelah Amani dan menjilat lututnya dengan lembut, seolah-olah cuba menenangkannya.

             "Jangan risau, Lion. Saya okay," kata Amani sambil tersenyum meskipun air matanya masih ada. Dari situ, Amani tahu bahawa Lion adalah kawan sejatinya yang sentiasa ada untuknya.

     Hari demi hari berlalu, dan persahabatan mereka semakin erat. Amani belajar banyak tentang kasih sayang dan kepercayaan dari Lion. Dia juga belajar bagaimana untuk menjaga dan merawat haiwan dengan baik.

     Pada suatu hari, Amani mendapati bahawa Lion tidak datang seperti biasa. Dia merasa risau dan mencarinya di seluruh kampung. Akhirnya, Amani menemui Lion di dalam semak-semak, terperangkap oleh dahan-dahan pokok.

             "Ayo, Lion! Saya akan bantu kamu!" Amani berkata sambil berusaha membebaskan kucing itu. Dengan hati-hati, Amani menarik dahan-dahan dan akhirnya Lion berjaya bebas. Kucing itu melompat dengan gembira dan berlari ke arah Amani, seolah-olah berterima kasih.

     Sejak hari itu, Amani dan Lion tidak hanya menjadi kawan tetapi juga keluarga. Mereka belajar untuk saling menjaga satu sama lain dan menikmati setiap detik bersama.

     Amani tahu bahawa persahabatan sejati tidak hanya ada dalam suka, tetapi juga dalam duka. Dengan Lion di sisinya, dia merasa tidak ada yang mustahil. Mereka berdua berjanji untuk selalu bersama, tidak kira apa pun yang terjadi.

   Dan begitulah, Amani dan Lion menjalani kehidupan penuh warna, penuh dengan persahabatan dan cinta. Di bawah pokok mangga, mereka mencipta banyak kenangan dan menjadikan persahabatan mereka sebagai harta yang paling berharga.

 

-Tamat-

Biodata:

Kims Diwa atau nama sebenarnya RUKIMAH BINTI PANDAWA lahir di Kota Marudu, Sabah. Bertugas di daerah Tongod Telupid sebagai guru. Karya-karya beliau pernah siar di akhbar -akhbar tempatan seperti Harian Ekspress, Utusan Borneo, e-wadah tetapi cerita kanak-kanak ini kali pertama buat beliau.

Selasa, 4 Mac 2025

Sesalan dan Keinsafan

 Sesalan dan Keinsafan

Karya: Suci Zalfani Putri



Sore ini, hujan turun deras di luar rumah. Suara petir yang menggelegar membuat setiap orang di dalam rumah berdebar-debar dan merasa takut. Di antara keramaian suara alam, terdengar isak tangis dari sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Fania, seorang gadis berusia sembilan belas tahun, duduk di sudut kamarnya, memandang kosong ke langit yang kelabu. Seakan semua warna kehidupannya telah sirna.

Fania mengingat kembali perjalanan hidupnya, bagaimana ia sampai pada titik ini. Ia adalah anak seorang buruh tani yang telah meninggal dunia setahun yang lalu dan ibunya yang sakit-sakitan. Sejak kepergian ayahnya, Fania merasa beban hidupnya semakin berat. Ia bekerja paruh waktu di sebuah cafe dan melakukan segala sesuatu untuk menghidupi ibunya, namun semua itu hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Keinginan untuk meraih impian dan melanjutkan pendidikan tinggi pun terpaksa ia lupakan.

Di satu sisi, Fania selalu merasa bersyukur. Teman-temannya, termasuk Lala dan Jhek, selalu ada untuknya. Mereka saling mendukung, mendorong Fania untuk terus berjuang. Namun, Fania sering merasa iri, melihat Lala dan Jhek yang berprestasi di kampus, sementara ia terjebak dalam rutinitas kerja dan tanggung jawab yang tak kunjung berhenti.

Pada suatu sore, Fania mendapat kabar bahwa Lala dan Jhek akan berpartisipasi dalam kompetisi tingkat nasional. Mereka mengundang Fania untuk bergabung, tetapi Fania merasa tidak layak. “Aku tidak bisa, aku hanya seorang pelayan cafe,” katanya sambil menunduk. Lala dan Jhek berusaha meyakinkannya bahwa bakat dan usaha lebih penting daripada latar belakang, tetapi Fania tetap menolak.

“Kalau begitu, kita akan menunggu kamu di sini. Jangan hilang dari kami,” kata Jhek, tersenyum. Namun, ucapan itu justru semakin menghantui Fania. Dia merasa, semakin terpuruk dalam kesedihan dan ketidakberdayaannya.

         Hari-hari berlalu, dan Fania terjebak dalam rutinitas yang monoton. Ia merasa semakin jauh dari impian. Namun, suatu malam, ketika sedang membuat pesanan, Fania tidak sengaja mendengar percakapan dua pelanggan. Mereka membicarakan tentang pentingnya mengejar mimpi dan tidak menyerah pada keadaan. Kata-kata itu membangunkan satu sisi dalam hati Fania yang telah lama tertidur. Sejak saat itu, setiap kali pulang kerja, ia duduk di depan jendela, memandang bintang-bintang dan merenung. Dia ingin mengubah hidupnya, tetapi bagaimana?

Beberapa hari kemudian, Fania mendengar sebuah audisi untuk program beasiswa di kota. Hatinya bergetar mendengar peluang itu. Tetapi, keraguan kembali menghantui. “Aku tidak punya cukup kemampuan dan aku tidak terlalu pintar,” pikirnya. Tetapi suara dari dalam hatinya berbisik, “Cobalah, Fania. Setidaknya, kamu harus berusaha.”

Dengan penuh keyakinan, Fania akhirnya mendaftar. Dia dihadapkan pada tantangan luar biasa. Mempersiapkan audisi sambil bekerja dan merawat ibunya adalah hal yang sangat melelahkan. Namun, semangatnya tak pernah padam. Dia belajar dari video, mencatat setiap gerakan dan nada yang perlu dibawakan. Setiap malam ia berlatih dengan penuh semangat, meskipun tangisan ibunya kadang menghentikannya sejenak.

Hari audisi tiba. Fania melangkah ke panggung dengan perasaan campur aduk, antara harapan dan ketakutan. Di hadapannya berdiri para juri yang terlihat sangat berpengalaman. Fania menarik napas dalam-dalam, menampilkan semua yang telah dipersiapkan. Suara merdunya menggema di seluruh ruangan, dan untuk sesaat, ia melupakan segala kesulitan hidupnya.

Namun, saat hasil diumumkan, Fania gagal. Hatinya hancur dan semua harapan seolah sirna. Ia kembali ke rumah dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Setibanya di rumah, ia menemukan ibunya terbaring lemah. Fania merasa dunia runtuh di hadapannya. Ia pun terus berdoa agar ibunya segera sembuh, tetapi kondisinya semakin memburuk.

         Beberapa minggu setelah gagal audisi, ibunya meninggal dunia. Fania merasa seolah hidupnya kehilangan arah. Sesal dan penyesalan menggigit hatinya. “Seandainya aku lebih berusaha!” teriaknya dalam hati. Ia menyesali semua kesempatan yang terlewatkan, termasuk saat ia menolak ajakan Lala dan Jhek. Dia merasa telah menyia-nyiakan waktu yang sebenarnya bisa membuatnya berhasil dalam meraih mimpinya.

Dalam duka yang mendalam, Fania mulai mengurung diri. Ia menolak untuk bertemu teman-temannya. Namun, Lala dan Jhek tidak menyerah. Mereka datang berkunjung, berusaha menarik Fania keluar dari kesedihannya. “Kami di sini untukmu, Fania. Jangan dipendam sendiri. Bersama-sama kita harus menghadapi ini,” kata Lala.

Dengan dorongan dari sahabatnya, perlahan Fania mulai bangkit. Dia tidak ingin ibunya yang telah pergi kecewa terhadapnya. Ia mulai mengambil langkah kecil untuk membangun hidupnya kembali. Fania memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan. Dia mencari beasiswa dan mendaftar di program pendidikan jarak jauh (PPJ) yang dilakukan secara daring.

Setiap malam, Fania belajar dengan penuh semangat. Ia berjanji untuk tidak mengecewakan ibu, ayah, dan diri sendiri. Ia menyadari bahwa hidup tidak selalu tentang keberhasilan, tetapi tentang keberanian untuk berjuang meskipun dalam kesulitan.

Beberapa bulan setelahnya, Fania menerima kabar bahagia bahwa ia diterima di salah satu universitas. Air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. Ia merasa bahwa perjuangannya tidak sia-sia. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia berjanji pada dirinya untuk berusaha semaksimal mungkin.

Tahun-tahun berlalu, Fania berhasil menyelesaikan studinya dan meraih gelar sarjananya. Dia tidak saja menyelesaikan pendidikan, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia memberikan bimbingan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu, agar mereka tidak merasakan kesulitan  yang pernah ia alami. Fania ingin berbagi harapan, menginspirasi generasi penerus agar tidak kehilangan kesempatan.

         Suatu hari, saat mengajar di kelas, Fania bertemu dengan seorang siswa bernama Doni. Doni terlihat memiliki bakat luar biasa, tetapi ia terjebak dalam situasi yang sangat sulit, seperti yang pernah dialami Fania dahulu. Tanpa ragu, Fania memberikan dukungan dan motivasi kepada Doni, dan mendampingi setiap langkahnya.

Fania menceritakan kisah hidupnya pada Doni, bagaimana penyesalan dan keinsafan mengubahnya menjadi orang yang lebih baik. Melalui setiap kata, Fania ingin menanamkan arti pentingnya berjuang meskipun menghadapi kesulitan. Doni terinspirasi dan mulai mengikuti jejak Fania untuk mengejar mimpinya.

Bertahun-tahun kemudian, di tengah hujan yang sama, Fania menemui Doni yang kini telah menjadi seorang dokter. “Terima kasih telah menjadi inspirasi dalam hidupku,” katanya sambil tersenyum. Fania merasakan kehangatan di hatinya. Semua yang ia lewati, semua rasa sakit dan kehilangan itu kini menjadi cerita yang berharga.

Saat melihat kembali perjalanan hidupnya, Fania menyadari bahwa sesalan bukanlah akhir dari segalanya. Keinsafan akan membawa kita pada perubahan. Ia melihat hidup sebagai suatu proses, di mana kita belajar untuk menghadapi setiap rintangan dengan keberanian. Semua takdir yang tampak pahit akhirnya manis, seperti hujan yang menghujani bumi, memberikan kehidupan bagi tanaman dan bunga yang mekar indah.

 

TAMAT

 

BIONARASI

Suci Zalfani Putri yang akrab di panggil Suci, lahir di Muara Bungo, 4 Maret 2006 saya sedang melaksanakan Program Studi PGSD di UMUBA. Saya bukanlah seorang penulis handal tetapi saya memiliki kemampuan menulis cerpen. Nomor WA: 083121436408

 

 

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular