Ahad, 16 Februari 2025

Lestari Alam Cintai Bumi

 LESTARI ALAM, CINTAI BUMI



Biru langit terbentang luas

tempat bermain sekawan unggas

hanya di sini boleh melayah bebas

juga memeluk angin sepuas-puas

segala beban mahu dilepas.

 

Belantara kian terancam

sana sini hilang keindahan alam

demi pembangunan mulut terkunci diam

demi ringgit bumi menanggung beban

tiada kasihan tiada ehsan.

 

Air sungai mengalir lesu

menongkah arus sampai ke hulu

letih mengarak sampah berbatu

segala kehidupan merintih pilu

orang-orang buat tak tahu.

 

Kemarau berbulan-bulan

tanah merekah menanti hujan

lopak kering berdebu di jalanan

petani pesawah mengumpul angan

anak isteri apa nak makan.

 

Masih ada segenggam harapan

dalam hati berdiri satu kesedaran

lestarikan alam demi masa depan

buat anak cucu sebagai warisan

bahagia sepanjang zaman.

 

AC JAFFRIE

Rumah Bonda, Melaka

14 Februari 2025

 

BIONARASI PENULIS

AC JAFFRIE nama sebenarnya JAFFRI BIN HJ MD YATIM meminati dunia penulisan sejak di bangku sekolah menengah lagi. Anak kelahiran Kampung Permatang, Kuala Sungai Baru, Melaka. Merupakan pemegang Ijazah Sarjanamuda Pentadbiran Perniagaan dengan Kepujian dari Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1990. Genre penulisan yang diminati seperti buku kanak-kanak, cerpen, sajak, novel dan pantun. Bertahun-tahun menekuni penulisan dengan berkarya di banyak syarikat penerbitan seperti Dewan Bahasa dan Pustaka, Fajar Bakti, Alaf 21, ITBM, Penerbitan Kintan, Karystos Creative, Pena Padu Press dan lain-lain. Ahli kepada persatuan penulis di bawah badan gabungan GAPENA iaitu Ikatan Persuratan Melayu (IPM), Persatuan Penulis Negeri Melaka (PENAMA) dan Lembaga Bahasa Melayu (LBM). Penerima Anugerah Kalam Sastera (Pantun) dari PENAMA (November 2024).

 

Sabtu, 15 Februari 2025

Losari Berbisik

 LOSARI BERBISIK

Karya: Agustina Rahman



Fajar berpendar di atas singgasana pagi
Menyulam gelombang dengan benang cahaya
Losari menangis, merintih, dalam sunyi yang samar
Ditelan gunung buatan, dililit hasrat tak bertepi

Ombak berbisik lirih di tepi
Menjejak memori pada nyiur yang melambai-lambai
Burung camar enggan kembali ke bentala
Rimbun bakau melayang sirna, nyanyian senja kini hilang

Namun harapan tak menguap bersama angin
Tangan-tangan menyemai kasih merajut bumi
Menanam bakau di pasir nestapa
Menghidupkan samudra, merawat sukma

Losari tersenyum, pelan bernapas
Ikan menari dalam dekap kasih samudra
Insan dan semesta, bersenandung dalam harmoni
Pantai pun berbisik, mengucap takzim

Makassar, 10 Februari 2025


BIONARASI

Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerpen (Cerita Mistis/Horor) dan Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024). Nomor WA: 082188870511

Khamis, 13 Februari 2025

Sumpah Penjaga Bumi

 SUMPAH PENJAGA BUMI

Karya: Nelly Amalia


Aku bersumpah atas langit yang biru,

di mana awan menganyam kisah masa lalu,

tempat burung menari dalam sunyi yang syahdu,

serta angin berbisik di sela dedaunan yang rindu.


Aku bersumpah atas tanah yang perawan,

lembut menggendong biji-biji kehidupan,

yang merintih saat diinjak tanpa kasih,

yang menangis kala dikhianati api dan besi.


Aku bersumpah atas sungai yang setia,

mengalirkan nyawa sejak mula dunia,

tetapi kini keruh, sesak, terluka,

mengadu pada laut yang tak lagi terbuka.


Lihatlah! Hutan mengucap doa terakhirnya,

akar-akar terpenggal, pohon-pohon tercekik,

suara rusa tak lagi terdengar,

dan angin kehilangan nyanyian lirihnya.


Oh manusia, peradaban yang pongah!

Kau pangkas hijau demi tembok dan menara,

kau corakkan tanah dengan luka yang parah,

kau bisukan nyanyian alam dengan deru mesin yang bengis.


Tapi, aku—dan kau, dan mereka yang sadar,

tak akan membiarkan bumi jadi pusara,

kami akan menghidupkan lagi nadinya,

menjahit luka-luka dengan benih dan doa.


Kami adalah penjaga,

penyair yang menuliskan kembali takdirnya,

hingga kelak, bumi tersenyum di pelukannya,

dan angin membisikkan: Terima kasih, manusia.

Kesianilah Aku

KESIANILAH AKU

Oleh: Zulbahri Hussin



Kesianilah aku

sungai yang kemberi

kalian kehidupan

membina perkongsian panjang 


Aku laungkan rintihku

kalian semakin menjauh

pak tua tidak lagi menjala

sang kerbau silu berkubang


Setelah aku

dicemari kotoran sampah

sisa buangan

kalian mengeji,mencemuh

seolah olah aku tidak wujud lagi


Berikan kunafas

untuk aku kembali berbakti

menghadiahkan ikan ikan

sumber rezeki kalian

mengalir laju ke kuala

sebuah sungai warisan bangsa


Zulbahri Hussin

Kuantan Pahang

13 02 2025




ZULBAHRI BIN MAT HUSAIN

Dilahirkan di Pasir Puteh Kelantan pada tahun 1964. Menceburi bidang penulisan pada tahun 1984 di Majalah Remaja, Majalah Salina, Akhbar Harian Nasional, Utusan Radio dan TV (URTV), Varia Pop, Mingguan Malaysia, Berita Harian, Bacaria, Mingguan Wanita, Mingguan Famili, Mingguan Perdana. Menganggotai Group Pemuisi Setanggi (Universiti Malaya) Kuala Lumpur. Antologi bersama Mita Katoyo, Jakarta, Indonesia. Pernah menuntut di Sekolah Menengah Agama Al-Ihsan, Kuantan Pahang. Ahli Persatuan Penulis Nasional Malaysia (PENA). Masih aktif menulis di media sosial. FB: Zulbahri Hussin. Kini menetap di Kuantan, Pahang.

Selasa, 11 Februari 2025

Webinar Trik Menulis dan Publish Puisi

Salam semua, satu webinar secara langsung akan diadakan pada ketetapan pada poster berikut. Semua dijemput hadir terutama mereka yang sudah mendaftar untuk menyertai peraduan menulis puisi bertema "Jika ini Nafasku yang Terakhir". Jika anda belum mendaftar, sila daftar segera. Hadiah menarik menanti anda.

 

TENTANG POHON

 TENTANG POHON

Abby Vancel

 


Kau berdiri di sana, pohon
tegak tanpa ragu, menunggu dan menunggu
Akar-akar menghunjam ke tanah
memeluk rahasia bumi yang tak pernah kau ucapkan
Kau diam, tapi tak pernah mati

Orang-orang berjalan, berpikir dunia ini milik mereka
mengukur tanah, menebang batang, merenggut daun
dan kau tetap di sana, menyaksikan dengan sabar
karena kau tahu, manusia lupa

Kau ingat air pertama yang membasahimu
hujan yang tak pernah berkhianat
angin yang membawa kabar dari tempat jauh
tentang gunung-gunung yang dirobohkan
tentang tanah yang dijual dengan harga yang ditentukan orang-orang yang tak pernah menyentuhnya

Tapi kau tak bicara
tak menuntut, tak bertanya
kau hanya merambat ke langit
mencari cahaya yang tak bisa dicuri
menjadi saksi bagi mereka yang tak peduli

Satu hari, akar-akar itu akan dicabut
ranting-ranting akan patah
dan mereka baru akan bertanya:
ke mana perginya tempat berteduh?
ke mana suara angin yang bercerita?

Tapi kau tak lagi menjawab
Kau sudah pergi lebih dulu
bersama sunyi yang kau jaga sejak awal

Jakarta, Medio Pebruari 2025

 

BIONARASI

Abby Vancel adalah seorang penulis yang karya-karyanya sering kali mengangkat beragam tema. Sejak kecil, Abby telah terpesona oleh dunia sastra, dan mulai menulis cerita pendek dan puisi di masa remaja. Ia ingin menyampaikan kisah-kisah yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah pemikiran pembacanya tentang kehidupan sehari-hari yang penuh dengan teka-teki dan makna tersembunyi.

 

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular