Ahad, 26 Januari 2025

TIPS MENULIS

 6 JENIS FONT TERBAIK UNTUK MENULIS BUKU


1. Times New Roman


Penulis sering menulis buku sendiri dengan menggunakan jenis font ini. Beberapa penulis menggunakan jenis font ini kerana sudah menjadi kebiasaan di mata pembaca. Disamping itu, jenis font ini lebih simple jika dibandingkan dengan font yang lain. Ertinya si pembaca lebih mudah dan cepat untuk memahami isi yang terkandung.


2. Arial


Font arial ini mengandungi tarikan yang tegas dalam penyampaian isi. Biasanya para penulis menggunakan font ini pada bahagian tajuk/subtajuk.


3. Calibri


Calibri salah satu jenis font yang sering juga digunakan oleh para penulis kerana bentuknya yang menarik, membuatkan para pembaca lebih selesa dalam menikmati tulisan yang disajikan oleh penulis. Bukan sahaja digunakan di dalam novel, Calibri juga kerap digunakan untuk penulisan bukan kreatif seperti artikel.


4. Bookman Old Style


Jenis font ini sering digunakan dalam pelbagai artikel. Bentuknya yang elegan dan menarik telah menjadikan font ini mempunyai daya tarikan yang tersendiri bagi para pembaca. Jenis font ini memudahkan minda para pembaca untuk menangkap maklumat dari sesebuah tulisan.


5. Antique


Jenis font ini dapat membawa pembaca pada tahap penghayatan yang lebih mendalam. Font ini diciptakan oleh Barne Nadall yang bertujuan untuk membangkitkan perjuangan pembacanya. Karya yang bertemakan percintaan juga sering menggunakan jenis font ini sebagai tanda perjuangan cinta watak utama. Adakah anda termasuk antara penulis tema cinta? Jika ya, maka font Antique wajib dijadikan sebagai pilihan!


6. Garamond


Font jenis Garamond ini juga sering digunakan oleh para penulis. Banyak buku yang dicetak oleh para penerbit dengan menggunakan jenis font ini. Jadi, penulis juga disarankan untuk memilih font jenis ini untuk menulis karya sendiri!

.

.

.

.

Kesimpulannya, pemilihan font yang tepat dapat menambahkan tarikan kepada pembaca dalam memahami isi yang ingin disampaikan oleh penulis. Lebih-lebih lagi bagi pembaca yang memiliki masalah penglihatan, maka pemilihan font harus benar-benar diteliti dengan baik.


Divisi Kurator

Galeri Sastra

2025.

CERITA ANAK

 


👉 Cerita Nenek


 


 
👉 Petualangan Tiga Sahabat


            


 
👉Anak Kecil Menjual Tisu di Jembatan





 
👉Kiki Si Kucing Penasaran

NOVEL BIOGRAFI

 Kuliah 1


Apakah maksud novel biografi? Dalam buku-buku glosari istilah kesusasteraan, novel biografi tidak dinyatakan secara tegas dan teoretis. Konsep yang muncul hanyalah istilah dalam bahasa Jerman, bildungsroman yang seerti dengan erziehungsroman (novel pendidikan), atau entwicklungsroman (novel of development). Pengkritik Jerman sering menggunakan istilah tersebut bagi menjelaskan maksud novel yang mengisahkan kehidupan wira dan wirawatinya dari kecil atau muda hingga dewasa. 

Bildungsroman juga disebut sebagai apprenticeship novel (novel aprentis) yang berasal daripada penggunaan oleh Goethe bagi karyanya Wilhelm Meister’s Apprenticeship (Holman dan Harmon, 1986: 55). Novel aprentis ditakrifkan oleh Holman dan Harmon (986: 35) sebagai novel yang mengisahkan kehidupan seseorang yang berusaha memahami dunia, corak dan makna kehidupannya, dan akhirnya menemui falsafah hidup dan seni kehidupan (art of living). Antara contoh karya yang diberikan ialah The Way of All Flesh (Samuel Butler), dan yang terkenal A Portrait of the Artist as a Young Man (James Joyce). Sekiranya bildungsroman atau novel biografi ini mengisahkan kehidupan seniman atau penulis, ia disebut sebagai kunstlerroman.

Genre yang telah dikonsepsikan itu boleh dipadankan dengan konsep novel biografi. Jadi, novel biografi juga boleh ditakrifkan sebagai novel tentang kehidupan seseorang. Tumpuannya diberikan kepada pengalaman sepanjang hidupnya, manusia yang ditemuinya dan insiden yang berlaku dalam hidupnya dan diolah secara artistik menurut matlamat pengarangnya. Dalam jagat sastera Melayu di Malaysia, antara novel yang termasuk dalam golongan ini ialah Wajah Seorang Wanita (S. Othman Kelantan). Novel itu berdiri sebagai penghargaan terhadap seorang wanita dengan memerihalkan ketahanannya menempuh hidup dalam zaman yang bergelora. Dengan matlamat untuk menyanjung watak tersebut, maka nilai kebaikannya menjadi keutamaan untuk dikisahkan sebagai teladan atau sebagai suatu bentuk paradigma yang diterapkan secara kultural kepada khalayak. 


Petikan daripada kertas kerja Bengkel Penulisan Novel Sejarah anjuran Yayasan Warisan Johor,


Ihsan

Prof Saleeh Rahamad


Edaran perkongsian 

Ketua Divisi Kurator 

Galeri Sastra

Sidang Kemuncak Penulis Malaysia


 Sidang Kemuncak Penulis Malaysia dan Perhimpunan Penulis Muda Nasional 2024: Menyatukan Generasi Penulis untuk Malaysia Madani

Bangi, Selangor – Kegiatan akbar yang mempertemukan generasi muda dan senior dalam dunia sastra, Sidang Kemuncak Penulis Malaysia dan Perhimpunan Penulis Muda Nasional 2024, berlangsung selama tiga hari, mulai dari 18 hingga 20 Desember 2024. Acara yang diselenggarakan di Hotel Royal Park @ UNITEN, Bangi, Selangor ini mengusung tema umum Penulis Teras Malaysia Madani, dengan tujuan memperkokoh peran penulis dalam membangun peradaban Malaysia modern dan inklusif.

Hari pertama dikhususkan untuk
Perhimpunan Penulis Muda Nasional 2024 dengan tema Penulis Muda Mendepani Cabaran Revolusi Teknologi. Kegiatan ini menjadi ajang bagi penulis muda untuk menyampaikan proses kreatif mereka, berbagi pengalaman, dan mendiskusikan bagaimana dunia kepenulisan dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Acara ini juga menghadirkan para penulis senior sebagai pembicara, menciptakan ruang dialog lintas generasi yang kaya wawasan.

 

Peluncuran Buku dan Kolaborasi Sastra

Pada hari kedua dan ketiga, perhatian beralih ke Sidang Kemuncak Penulis Malaysia, yang menjadi puncak acara. Salah satu momen istimewa adalah peluncuran 123 buah buku dari penerbit PENA, yang secara resmi dilakukan oleh Setiausaha Politik YAB Menteri Kewangan, Muhammad Kamil Abdul Munim. Peluncuran ini tidak hanya menandai kemajuan dunia penerbitan Malaysia tetapi juga menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap perkembangan sastra di tanah air.                                                                    

Acara ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta, yang terdiri dari penulis muda, penulis senior, anak-anak sekolah menengah, guru-guru, dan dosen universitas. Menariknya, satu perwakilan dari Indonesia, yang merupakan Ketua Komunitas Galeri Sastra (KGS), turut hadir, menambah dimensi internasional dalam kegiatan ini.

 

Silaturahmi Sastra dan Pemanfaatan Teknologi

                                                                   Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah berbagi ilmu dan pengalaman, tetapi juga mempererat silaturahmi antara para peserta. Banyak dari mereka yang sebelumnya hanya mengenal nama besar penulis tertentu melalui karya-karyanya, kini memiliki kesempatan bertemu langsung, berdialog, dan memperluas jaringan.

Salah satu fokus utama diskusi adalah bagaimana teknologi, yang kian maju, dapat menjadi mitra strategis penulis dalam menghasilkan karya. Penulis senior diingatkan untuk tidak merasa tertinggal, sementara penulis muda diajak membahas inovasi kreatif dalam sastra Melayu, serta cara menjadikan sastra sebagai komoditas yang relevan di era modern.

 Kemeriahan dan Dukungan Pemerintah

Acara ini semakin meriah dengan rangkaian pembacaan puisi, persembahan musik dari seniman Malaysia, serta pameran buku yang memikat para peserta. Di pameran ini, para peserta tidak hanya dapat membeli buku, tetapi juga berdiskusi langsung dengan penerbit mengenai peluang penerbitan karya mereka.

Diselenggarakan dengan dukungan penuh dari pemerintah Malaysia, kegiatan ini menjadi bukti nyata perhatian pemerintah terhadap kemajuan dunia sastra. Semangat Malaysia Madani yang diusung dalam acara ini mencerminkan upaya kolaboratif antara komunitas sastra dan pemerintah untuk membangun negeri yang maju melalui kekuatan budaya dan literasi.

                    

Dengan kesuksesan yang diraih, Sidang Kemuncak Penulis Malaysia dan Perhimpunan Penulis Muda Nasional 2024 telah menetapkan standar baru untuk kegiatan sastra di masa depan, menjadi inspirasi bagi para penulis di Malaysia maupun di kawasan Asia Tenggara.

 

 



Coco, Ayam Jago yang Pemalu

     Oleh: Gayatri Jaya Wardani


Coco adalah ayam jago yang sangat pemalu. Ke mana pun dia pergi selalu ditemani ibunya. Ketika Ibu Coco mengajaknya jalan-jalan, Coco selalu berlari pulang. Coco takut berbicara dengan hewan lain. Coco juga malu karena belum bisa berkokok sebaik ayam jago yang lain.

“Setiap hari memang harus berlatih berkokok,” kata Ayah Coco menasehati anaknya.

“Tapi suaraku jelek, Yah,” sahut Coco menundukkan kepalanya.

Ayah Coco mulai berkokok dengan suara nyaring. Terdengar sampai ke seantero desa. Mendengar suara Ayah yang begitu bagusnya, Coco semakin tidak percaya diri. Pertama kali dia berkokok, Ica Bebek yang tinggal di sebelah rumah menertawakannya. Sejak saat itu dia tidak berani lagi berkokok.

“Co, ayo kita mencari cacing,” ajak Kiki, ayam jago sepupunya.

“Di mana?”

“Di hutan dekat sungai.”

“Kan dekat sini bisa. Ibu bilang aku tidak boleh pergi jauh-jauh.”

“Cacing-cacing di sini tidak enak dan kecil-kecil. Nanti kita pulang sebelum sore. Gimana?”

Coco berpikir sebentar. “Baiklah.”

Mereka berdua menyusuri sungai, dan sampailah mereka di hutan yang sepi.

“Kita pulang saja, yuk!” ajak Coco ketakutan.

“Kamu penakut sekali, sih,” gerutu Kiki kesal.

“Bagaimana kalau kita tersesat?”

“Tidak mungkin tersesat. Aku sudah sering ke sini bersama teman-teman.” Kiki terus saja berjalan masuk jauh ke hutan. Coco mengikuti langkahnya.

“Kalau kita dimakan binatang buas?”

“Jangan bicara yang aneh-aneh, Co.” Kiki mulai berjalan sambil mematuki tanah.

“Nah, dapat, kan?” Kiki datang sambil membawa seekor cacing besar di paruhnya.

“Wah, iya. Besar sekali,” seru Coco girang.

Coco ikut mematuki tanah dan menemukan banyak cacing yang gemuk. Mereka berdua makan sampai kekenyangan lalu berbaring di bawah pohon besar. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh di langit.

“Wah, mau hujan. Kita harus cepat pulang,” ujar Coco melihat ke atas.

“Sebentar. Jangan buru-buru. Perutku masih penuh, nih.” Kiki mengelus perutnya yang membuncit.

“Tapi mendungnya hitam sekali. Mungkin akan hujan lebat.” Coco mulai khawatir.

Kiki berlambat-lambat sehingga Coco harus menarik sayapnya. Benar juga, hujan turun begitu deras dan mereka berlari supaya segera sampai di rumah. Tapi malangnya, kaki Kiki terperosok ke lubang sehingga dia jatuh terguling. Coco menghentikan larinya dan berteriak memanggil Kiki.

“Kiki, kamu baik-baik saja?” tanya Coco khawatir.

“Kakiku terkilir. Aku tidak bisa berjalan.”

“Coba kepakkan sayapmu.”

“Sayapku berdarah. Tidak bisa dikepakkan,” seru Kiki lemah.

Coco sangat bingung. Bagaimana dengan Kiki? Coco melihat sekeliling. Dia berlari mengambil beberapa daun talas.

“Pakai ini, Ki.” Coco melemparkan daun-daun itu kepada Kiki untuk menutupi kepalanya.

Setelah itu, Coco berlari mencari pohon di dekat situ untuk berteduh. Mereka menunggu berjam-jam sampai hujan berhenti. Ternyata hari sudah sore. Sore hari, ayam sudah tidak bisa melihat lagi. Coco sangat takut mereka akan dimangsa binatang buas jika malam itu mereka tinggal di hutan.

“Jadi, bagaimana ini?” Coco mulai berkaca-kaca.

“Coba kamu mencari pertolongan, Co. Berkokoklah!”

“Aku tidak bisa berkokok,” Coco mulai menangis.

“Kamu bisa. Cobalah! Aku tidak bisa berkokok di lubang ini. Suaraku tidak akan terdengar.”

Coco mengusap air matanya, lalu menarik nafas panjang. Rasanya dia tidak sanggup melakukannya. Tapi bagaimana nasibnya dan Kiki jika dia diam saja? Coco memejamkan matanya lalu mencoba mengeluarkan suaranya. Suaranya begitu pelan dan terdengar sumbang.

“Coba lagi, Co. Lebih keras,” pinta Kiki.

Setelah beberapa kali mencoba, Coco akhirnya mengerahkan segenap kekuatannya untuk berkokok sekeras-kerasnya, senyaring-nyaringnya.

“Iya, benar. Begitu, Co. Ayo berkokok lagi sampai ada yang menolong kita,” seru Kiki gembira.

Coco berkokok berkali-kali dan akhirnya Ayah Ica Bebek datang untuk menolong mereka. Kebetulan Ayah Ica baru saja pulang berenang di sungai bersama teman-temannya dan mendengar suara Coco. Mereka beramai-ramai menolong Kiki dan menggotong Kiki dengan tandu sampai ke rumah.

“Terima kasih, ya, Co. Kamu benar-benar ayam yang pemberani!” puji Ayah Kiki saat mereka sudah kembali ke rumah. Coco tersipu malu. Sejak saat itu dia tidak malu lagi berkokok setiap hari.

*****

 

BIONARASI

Gayatri Jaya Wardani lahir dan dibesarkan di Yogyakarta. Dia suka membaca, menulis, dan traveling. Dia suka mengamati bahasa, masyarakat, dan budaya berbagai negara dan suku bangsa. Silakan follow Instagram @gayatri.jaya.wardani.

 

 

 

 

 

 

 

Projek KGS 2


 Projek kedua Komuniti Galeri Sastera (KGS) ialah Antologi Cerpen Serumpun yang bertemakan kenangan atau nuansa zaman 80-an. Projek ini telah ditutup penyertaannya pada 15 Januari 2025. Sebanyak 30 orang penulis dari pelbagai latar belakang telah berjaya menghantar karya mereka. Kumpulan editor tentunya sedang berusaha menilai karya-karya yang telah dihantar. 



Sabtu, 25 Januari 2025

Projek KGS 1

 

Antologi cerpen Elegi Senandika ini merupakan projek pertama Antologi Cerpen Serumpun yang telah diterbitkan pada tahun 2024. 






Tiga orang tokoh penting KGS telah mengadakan bengkel penulisan khusus untuk ahli KGS dan peserta antologi ini yang dinamakan sebagai Bincang Sastra - Penulisan Berkesan- Cerpen yang telah diadakan pada 3 Disember tahun 2024. Tiga orang pembicara dalam bengkel ini iaitu Pn. Hanom Ibrahim, En. Md Izzuddin dan En. Ahmadzauawi (Sastrawan Malaysia; Penyair, Cerpenis)

 



Projek KGS 3

 Projek ketiga KGS ialah peraduan/ lomba  menulis puisi bermula 20 Januari hingga 20 Februari tahun 2025. Sila baca syarat-syarat dalam poster dengan teliti. Selamat berkarya.





JUARA HARAPAN





SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular