Jumaat, 7 Mac 2025

Dosa Melebur di Rintik Subuh

 Dosa Melebur di Rintik Subuh

Karya : Agustina Rahman



Di senyap malam yang rapuh dan luka

Kutimbang jejak dalam nestapa

Dosa-dosa mengendap dalam bayang aksara

Menghunus pedang nurani, perih tak reda


Angin berbisik lirih di celah gelisah

Membawa sesal yang melebur resah

Bulan menangis di ujung cakrawala

Meratapi jiwa yang karam dalam gulita


Langkahku limbung di lorong-lorong sunyi

Menyusuri bayang-bayang kelam

Dosa-dosa menari di pelupuk mata

Menjadi noktah di sela napas malam


Namun rintik subuh hadir menghapus gundah

Menabur cahaya di ujung sepi

Kusujudkan doa di luka sukma

Memohon ampun dalam syahdunya embun


Tuhanku, biarlah luka ini menyatu

Di tepian rahmat-Mu yang tak tersentuh

Hapuslah jejak di kelam yang bisu

Hingga jiwaku rebah dalam pangku-Mu



Makassar, 7 Maret 2025     


            

BIONARASI



Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024),  Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), dan aktif menulis Puisi di Blog KGS.


Khamis, 6 Mac 2025

Lira dan Kutukan Salvera

 LIRA dan KUTUKAN SALVERA

Karya: Abby Vancel


Setelah Lira mengalahkan Penyihir Bayangan, negeri peri kembali cerah. Namun, ancaman baru muncul. Di Istana Awan, Pangeran Eldrin datang membawa kabar buruk.

"Sungai Perak di negeri kami mengering. Tanpa itu, tanah akan gersang."

Ratu Bidadari khawatir. "Siapa yang melakukan ini?"

Eldrin menjawab, "Penyihir Es, Salvera. Ia membekukan sumber air di pegunungan."

Lira dan Kiko siap membantu. "Kami akan pergi ke sana!" kata Lira.

Mereka memulai perjalanan ke Pegunungan Beku. Eldrin ikut membantu. Di tengah perjalanan, mereka tiba di sebuah lembah gelap. Kabut hitam menyelimuti jalan.

"Hati-hati, ada sesuatu di sini," bisik Kiko.

Tiba-tiba, makhluk bayangan bermata merah muncul dari kabut. Makhluk itu melayang di udara. Suaranya berbisik menyeramkan.

"Pergi atau kalian akan terjebak selamanya!"

Lira mencoba sihir cahayanya, tetapi makhluk itu menepisnya dengan bayangan pekat.

"Serangannya terlalu cepat!" kata Lira panik.

Makhluk bayangan mulai mengepung mereka. Eldrin mengayunkan pedang sihirnya. Namun, setiap kali ditebas, makhluk itu kembali menyatu.

"Bagaimana kita melawannya?" tanya Eldrin.

Kiko berpikir cepat. "Mereka takut panas! Kita butuh api!"

Lira mengingat sesuatu. Ia mengayunkan tongkatnya, menciptakan bola api kecil. Cahaya api membuat makhluk-makhluk itu bergerak mundur, tetapi belum pergi.

"Api kecil tak cukup!" seru Eldrin.

Lira menggenggam tongkatnya erat. Ia menutup mata dan berkonsentrasi. Kilatan cahaya menyala terang di ujung tongkatnya.

"Pergilah!" teriak Lira.

Cahaya meledak, menyinari lembah. Makhluk bayangan berteriak kesakitan. Mereka mencoba bersembunyi dalam kabut, tetapi cahaya semakin kuat. Satu per satu makhluk itu menghilang. Kabut pun mulai menipis. Lembah kembali terang. Lira terengah-engah, tetapi tersenyum.

"Kita berhasil!"

"Bagus sekali, Lira!" seru Kiko.

"Ayo cepat!" kata Eldrin. "Salvera masih harus kita hadapi!"

Mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di gua es tempat Salvera bersembunyi.

Salvera tertawa. "Hahaha… Kalian datang terlambat! Sungai Perak akan mengering selamanya!"

Lira mengangkat tongkatnya, tetapi Salvera membekukannya dengan es.

"Sihirku tak bisa digunakan!" seru Lira.

Kiko melompat ke arah Salvera, mencoba mengalihkan perhatiannya.

Eldrin menyerang dengan pedangnya, tetapi Salvera sangat kuat. Ia melemparkan badai salju yang membuat mereka hampir tak bisa bergerak.

Lira berusaha menarik tongkatnya yang terjebak dalam es.

"Aku butuh panas untuk melepaskan sihirku!"

Kiko mengambil batu kecil dan menggigitnya, mengeluarkan percikan api.

"Kiko, lakukan lagi di dekat tongkatku!" seru Lira.

Kiko melompat dan menciptakan percikan api lebih besar. Es di tongkat Lira mulai mencair.

Lira akhirnya bisa menggerakkan tongkatnya lagi. Dengan cepat, ia mengayunkan tongkatnya ke arah dinding es.

Cahaya hangat terpancar, dan es di sekeliling mereka mulai mencair.

Salvera berteriak. "Tidak! Es adalah kekuatanku!"

Tiba-tiba, tanah di bawah Salvera mulai retak. Es mencair semakin cepat, dan ia terseret ke dalam arus air yang deras. Dengan tenaga terakhirnya, Salvera berusaha melarikan diri, tetapi kekuatannya sudah hilang. Ia menghilang dalam kabut dingin.

Lira, Eldrin, dan Kiko berlari ke Sungai Perak. Salju mulai mencair, dan air kembali mengalir. Tak lama, air sungai memenuhi tanah yang kering. Tanaman kembali tumbuh. Mereka kembali ke istana.

"Kalian telah menyelamatkan negeri kami," kata Eldrin.

Ratu Bidadari tersenyum. "Kebaikan selalu mengalahkan kejahatan."

Lira dan Kiko bahagia. Mereka tahu petualangan belum berakhir.

Eldrin menatap mereka. "Aku yakin Salvera belum benar-benar musnah. Kita harus bersiap."

Lira mengangguk. "Jika ia kembali, kita akan menghadapinya bersama!"

*****

Rabu, 5 Mac 2025

Dosa dan Pengampunan

DOSA DAN PENGAMPUNAN

Karya: AC Jaffrie



 

D - Dunia semakin tua

O - orang-orang semakin lupa

S - semakin leka mengumpul harta

A - ambil mudah dosa pahala.

 

D - Demi masa hadapan

A - anak isteri permata harapan

N - nasib mereka satu perhitungan.

 

P - Perjuangan jangan sia-sia

E - elak sengketa sesama manusia

N - noktahkan segala buruk prasangka

G - guna akal menilai kata-kata

A - ambil iktibar setiap perkara  

M - mana yang buruk jadi sempadan

P - perkara baik jadi tauladan

U - untuk menebus segala dosa

N - niat di hati biarlah ikhlas

A - Allah Maha Pengampun

N - nanti di syurga kasih berhimpun.

 

 

Rumah Bonda, Melaka

5 Februari 2025

Ramadan Peristirahatan


 RAMADAN PERISTIRAHATAN

Oleh Syahrul Ramadhan

 


 

Tubuh muda, nyala api yang membakar cakrawala,

kini meredup, terhempas bayang tak bersuara.

Mata kehilangan cahaya fajar,

langkah terseret di pasir harapan yang luruh,

seolah dihantam gelombang murka,

luruh, pecah, hilang arah.

 

Dunia perlahan tenggelam dari pandangan,

langit memudar saat azan dilantunkan,

angin yang menyejukkan, kini mendatangkan nyeri,

merobohkan raga yang sedang tak berdaya.

 

Ramadanku menjelma peristirahatan sunyi,

saat raga yang dahulu seteguh karang, luruh bagai daun di musim sepi.

Suapan nasi tak lagi menghangatkan,

pahitnya menjalar, tenggelam dalam malam yang bisu.

 

 Tangerang, 5 Maret 2025

 

  

BIONARASI

 Syahrul Ramadhan, lulusan Sastra Indonesia yang memiliki minat dan dedikasi dalam bidang bahasa, sastra, dan pendidikan.


Karya Terbaik Mingguan

 Tema: Puasa, Cermin Diri

Minggu Ketiga Februari 2025

TAHNIAH SEMUA ! TAHNIAH SEMUA ! TAHNIAH SEMUA !





Menjadi Seorang Novelis

 






Mengapa Menjadi Novelis

 





Tema Minggu ini

 Tema : Puasa, Cermin Diri

24 Februari hingga 2 Mac 2025.

Jam 10.00 pagi masa penghantaran/ penerimaan karya terakhir.




Tema Minggu Ini

 PUISI BERTEMA


'KELESTARIAN ALAM'

10-16 Februari 2025 - hantar puisi

16 Februari 2025 (Ahad) : Pengumuman 3-5 karya terbaik.









SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular