Ahad, 16 November 2025

Kalau Itu, Kita

Kala Itu, Kita

Karya; Eyuman


Waktu tak pernah mengulang

tapi aku masih ingat jelas

tatapanmu pertama kali

seperti pagi yang malu-malu membuka hari

ketikaku melangkah ke kantin.


Langkahmu ringan di antara dedaunan gugur di belakangku 

dan aku, gugup seperti puisi yang belum rampung

dan kita bicara tentang hujan

padahal yang turun saat itu adalah rasa.


Kopi di tanganmu hangat

tapi senyummu lebih dulu mencairkan dingin hatiku

Kau tertawa pada leluconku 

pada hal madahku yang biasa-biasa saja

dan hatiku berdetak ria

aku percaya itu benih cinta.


Hari-hari setelahnya

adalah bunga yang tumbuh 

dari percakapan kecil

detik-detik itu diam-diam

mengembang subur kelopak kasih.


Kini, waktu terus berjalan

tak pernah menoleh

tak pernah menunggu

tapi kenangan itu tetap bersemi

di halaman rindu.


Eyuman

13/11/2025


Biodata

Eyuman nama Pena Chong Ah Fok (PhD) mantan guru dan berminat menulis karya kreatif sejak di bangku sekolah menengah atas. Menerbitkan 5 novel, 2 kumpulan cerpen, 2 kumpulan sajak 2 buku akademik sastera dan puluhan antologi bersama; bersama penulis-penulis setempat dan juga nusantara.

Sabtu, 18 Oktober 2025

Doa untuk Ibu Palestina : Yayuk Wahyudi

Doa untuk Ibu Palestina

Oleh: Yayuk Wahyudi

 

Di balik air mata yang membasahi pipi,

tersembunyi kekuatan hati yang tak terperi.

Kehilangan anak dan suami tercinta,

luka yang menganga, takkan pernah sirna.

 

Namun jangan biarkan duka meruntuhkan jiwa.

Palestina membutuhkanmu, ibu yang perkasa.

Setiap doa adalah senjata ampuh.

Kirimkan kekuatan, dari jauh.

 

Meski raga tak bisa berada di sana.

Hati dan jiwa selalu bersama.

Dalam setiap sujud, namamu kusebut.

Semoga Sang Pengasih selalu melindungimu


Bangkitlah, ibu, tegakkan kepala,

Palestina akan bangga padamu selamanya.

Kemerdekaan sejati pasti kan tiba.

Dengan doa dan semangatmu, ibu perkasa.

 

 

Semoga Sang Pengasih memberikan kekuatan dan kesabaran untukmu. Ibu-ibu Palestina. Kami di sini, meski jauh, selalu mendukung dan mendoakanmu


Kulon Progo, 2025

Palestina: Di Bawah Langit yang Tak Pernah Tidur: Ihwana As'ad

 Palestina: Di Bawah Langit yang Tak Pernah Tidur

Oleh: Ihwana As’ad


Ada tanah yang selalu disebut dalam doa,

Tanah yang harum oleh zaitun dan luka,

Di sana, angin berhembus membawa nama-nama

Yang gugur tanpa nisan,

Namun hidup dalam dada umat manusia.


Di pagi hari, matahari enggan tersenyum,

Ia tahu — sinarnya menyingkap reruntuhan,

Di mana anak-anak bermain di antara puing,

Menggambar langit baru di atas pasir dan darah,

Mereka tidak punya mainan,

Hanya harapan yang mereka peluk setiap malam.


Jerusalem, engkau berdiri di tengah badai,

Menjadi saksi antara doa dan peluru,

Setiap azanmu menggema seperti seruan abadi,

Bahwa iman tak bisa dibungkam,

Bahkan oleh dinding, bahkan oleh perang.


Wahai Palestina,

Engkau bukan hanya tanah 

Engkau denyut di dada setiap orang yang masih punya nurani,

Engkau cerita yang tak bisa dilupakan dunia,

Engkau sajak yang ditulis dengan air mata

Dan disalin oleh darah para syuhada.


Di setiap rumah yang runtuh,

Ada ibu yang tetap menyiapkan roti,

Dengan tepung harapan dan bara ketabahan.

Ia tahu, mungkin tak ada yang akan makan hari itu,

Namun ia tetap menyalakan api,

Sebab api itu bukan hanya untuk dapur 

Tapi untuk hidup yang tak mau padam.


Dan ayah-ayah yang berjalan di jalan sunyi,

Mereka tak membawa senjata,

Hanya doa yang diucap dalam diam,

“Ya Allah, jadikan langkah ini saksi,

Bahwa kami tak pernah menyerah.”

Anak-anakmu, Palestina,

Belajar mengeja kata merdeka

Lebih cepat dari mereka belajar menulis nama sendiri.


Di mata mereka,

Tak ada ketakutan — hanya keyakinan

Bahwa Tuhan pasti menepati janji.

Dunia mungkin bungkam,

Tetapi bumi mendengar,

Langit menulis ulang sejarah,

Dan malaikat bersujud di setiap rumah yang roboh.

Sebab kemerdekaanmu bukan sekadar mimpi,

Ia janji yang hidup dalam setiap helaan napas,

Dalam setiap darah yang jatuh ke tanahmu,

Dalam setiap bayi yang lahir di bawah dentuman bom —

Yang menangis bukan karena takut,

Tapi karena ingin hidup.


Dan kelak,

Saat fajar keadilan benar-benar tiba,

Kau akan bangkit dari puing dan debu,

Dengan wajah yang bersih oleh cahaya suci,

Dan dunia akan tahu —

Bahwa Palestina tidak pernah kalah,

Ia hanya menunggu waktunya untuk pulang.

Makassar, 19 Oktober 2025




Aku Masih Menyulam Langit Palestina

Oleh: Ihwana As’ad

Malam turun perlahan di Gaza,

membawa sepi yang tak sempat beristirahat.

Langit memantulkan cahaya redup,

dan bintang-bintang menatap

seperti saksi yang kelelahan menangis.


Di antara reruntuhan,

angin berbisik menyebut nama-nama

yang kini hidup dalam doa-doa panjang.

Aku mendengarnya —

suara lembut yang tak lagi butuh kata.

Aku adalah perempuan dari tanah yang terluka,

menyulam harapan dari serpihan hari.


Tanganku berdebu,

namun di sela jari masih ada benang keyakinan

yang belum putus.

Setiap pagi, aku menanak rindu

di dapur tanpa api,

mengaduk kenangan dalam periuk kosong,

sementara bom di luar

berbunyi seperti lonceng ketabahan.

Anak-anakku belajar menulis kata merdeka

di dinding yang nyaris roboh.


Aku tersenyum pada mereka 

karena di mata kecil itu

aku melihat masa depan yang tak bisa dibunuh perang.

Suamiku sudah lama pergi,

meninggalkan pesan sederhana:

“Jika aku tak pulang,

ajarkan anak-anak mencintai tanah ini

bukan dengan amarah,

tapi dengan doa yang tak pernah padam.”


Jerusalem, wahai kota suci,

betapa banyak doa yang tertahan di langitmu,

menunggu saat Tuhan berkata,

“Sudah cukup, kini tiba waktunya damai.”

Dan dunia…

masih bicara tentang perdamaian

sambil menutup mata dari luka yang nyata.


Tapi aku tahu 

Palestina bukan hanya cerita perang,

ia adalah kisah cinta yang tetap tumbuh

di antara puing dan doa.

Jika suatu hari aku tiada,

biarlah anak-anakku tahu,

bahwa aku pernah hidup di tanah ini

bukan sebagai korban,

melainkan sebagai ibu

yang percaya:

Tuhan tidak pernah tidur,

dan langit yang kusulam dengan doa

akan biru kembali.


Makassar, 19 Oktober 2025

Peluk Kasih untukmu Bayi Palestina: Yayuk Wahyudi

Peluk Kasih untukmu, Bayi Palestina

Oleh: Yayuk Wahyudi

 

Duhai bayi kecil, mata yang polos,

Di mana senyum ibumu, yang dulu berbalas?

Di mana peluk ayahmu, yang dulu hangat?

Kini kau sendiri, di tengah dunia yang kejam.

 

Namun jangan takut, sayang.

Meski raga ini tak bisa menggantikan mereka.

Kasih ibu akan selalu ada,

Menyelimuti hatimu. Menghangatkan jiwamu.

 

Dalam setiap doa, namamu kusebut,

Semoga Sang Pengasih selalu menjagamu.

Meski air mata membasahi pipi.

Jangan pernah kehilangan harapan, bayiku sayang.

 

Kau adalah harapan Palestina.

Generasi penerus yang akan bangkit.

Tumbuhlah dengan kuat, dengan cinta.

Dan jadilah pelita bagi negeri ini.

 

Peluk kasih untukmu, bayi Palestina.

Semoga kedamaian segera tiba.

Kami di sini, selalu bersamamu.

Menyayangimu, seperti bayiku  sendiri.

       

Kulon Progo, 2025

Senandung Kedamaian untuk Palestina: Yayuk Wahyudi

 Senandung Kedamaian untuk  Palestina

Oleh: Yayuk Wahyudi

 

Di tengah malam yang sunyi.

Di bawah langit yang berduka.

Kurasakan getar hatimu.

Was-was yang menghantui kalbu.

 

Siang dan malam berlalu.

Dalam cemas yang tak bertepi.

Namun jangan biarkan gundah merenggut jiwa.

Palestina, engkau tak sendiri.

 

Lihatlah bintang-bintang di langit.

Mereka bersinar, memberi harapan.

Dengarkan desiran angin malam.

Membawa bisikan kedamaian.

 

Meski derita terus menghimpit.

Jangan biarkan semangatmu redup.

Ingatlah tanah airmu tercinta.

Yang selalu menantimu bangkit.

 

Biarlah doa menjadi perisai.

Melindungi dari segala bahaya.

Palestina, engkau kuat, engkau tabah.

Kedamaian pasti kan tiba.

 

Usirlah gundah dari jiwa.

Tegakkan kepala, tatap masa depan.

Dengan keyakinan dan harapan.

Palestina percayalah akhirnya akan  jaya.


Kulon Progo, 2025

Doa untuk Palestina: Sri Rejeki, S.Pd.

DOA UNTUK PALESTINA

Karya: Sri Rejeki,S.Pd. 


Sembur doa ,tuturkata,uwur gizi ….tugas  orangtua                                     

Semua tiada ,anak tanpa dosa hilang tak bernyawa

Muncul egois ,murka durjana  di  tanah Gaza

Di bom lewat udara lanjut bombardir ,gelap gulita hati merana

Melalap persada tanpa dosa ,mata hati mereka merajalela

Membabi buta, tidak ada bela rasa cinta ,hatinya mati mengikis yang ada

Rakyat Palestina sirna ,darah membanjiri persada lautan Gaza

Teriring doa dan sabda  para  ahli surga menanti pintu-pintu terbuka leluasa

Menembus langit ketujuh,mati syahid sabda  para Tuan berkuasa.

Doa  untuk Palestina merebak kemana-mana                

Doa untuk Palestina  merekah mahkota hamba-hamba  terluka

Doa untuk Palestina  porak poranda zeonis israel tumbang tak bernyawa

         


DOA  NUSANTARA  UNTUK PALESTINA      


Nusantara berdoa  untuk Palestina 

Hijau subur nan makmur,kini laut muncrat,gunung batuk,muntah bara api neraka

Memandang Rakyat Palestina di Jalur Gaza

Doa -doa berkumandang dari persada Nusantara

Karena Sang Mentari hambur, hinggap sejuk tidak berdamai Palestina merana

Dedaunan tidak lagi melambai,hinggap manusia tanpa dosa berjatuhan di Palestina

Doa dan Dzikir berkumandang untuk Palestina di Jalur Gaza

Hanya Tuhan menyapa Hamba-Nya.

Tanda akhir zaman mendera

    

Palestina terjaga dari doa dan Dzikir para pecinta di Nusantara 

Palestina terbina oleh tangan para pecinta Surga di Nuusantara

Palestina kelak tertawa penuh canda  para kuasa di Nusantara         




BIONARASI 

Tentang Penulis :

Sri Rejeki,S.Pd. adalah seorang guru bahasa Indonesia SMPN.6 Kota Magelang. Kegemarannya membaca dan menulis

Dengan motto hidup : selalu perduli dengan sesama dan hiduplah bermanfaat untuk orang  lain serta isilah kehidupan ini dengan  keseimbangan amal kebaikan dunia  dan akherat ,Insya Alloh  hidup akan membawa keberkahan. 



Hasil Karya yang telah terbit antara lain :

1. Menulis PTK, terbit di Jurnal Artikel  PGRI dan Dinas Pendidikan Kota Magelang

     Tahun   2012.

2. Menulis Kumpukan Puisi dan Prosa  bersama Magelang Membaca di fasilitasi 

    PerpustakaanKotaMagelang 2014,Terbit 2015 Percetakan Harmoni Magelang.

3. Buku Pengayaan Pemahaman Konsep Berbasis Teks Kelas VII ( Kur. 2013 )

4. Buku Pengayaan Pemahaman Konsep Berbasis Teks Kelas VIII (Kur. 2013 )

5. Kumpulan cerpen Guru * ( Seikat Senja Seikat Cerita ) dari MGMP Bahasa

    Indonesia Kota Magelang,Terbit tahun Oktober  2015 Ber ISBN 

6. Buku Pengayaan Pemahaman Konsep Berbasis Teks Kelas VIII ( Kur. 2013 )

    Revisi 2016

7. Menulis Buku Seputar sejarah dan legenda asal mula Kota Magelang

    Terbit di MediaGuru April 2018 ISBN :978-602-478-563-5

8. Menulis Buku RITME KEHIDUPAN ( Antologi Puisi) Terbit Media Edukasi 

    Februari 2020 ISBN :978-623-215-779-8

9.Menulis Antologi cerpen ( GURATAN PENA ) penulis eks Sagusabu 2

   Terbit di SIP Publising Oktober 2020   ISBN :978-623-6793-24-4.

10.Secondary ( Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah)Vol 1No:2 ( 2021

     ISSN ( Print ) :2774-8022.ISSN ( Online):2774-5791 dari LP3I 

     Universitas Mandalika ,Lombok ,NTB,Indonesia.


 


Syuhada Palestina : Sudarjo Abd Hamid

Syuhada Palestina

Sudarjo Abd Hamid


Debuh suci darah bercucur 

Gagah para laskar berjubah tegak membuncah 

Jubel berdiri menghalau lenyap 

Dibawah langit sahutan darah 


Tertatih ukiran langkah juang 

Diatas bara pasir yang mendengung 

Menggema Gita terus semangat 

Berkaca netra penuh harap 

Walau luka menanti 

Untuk tanah air 

Terlahir para rasul 


Syuhada di tengah gulita 

Ibarat dian penebar terang 

Mengantar asa dari nafas yang tersengal 

Mereka tak gentar 

Tak pernah menunduk 

Membawa keadilan 

Penuh semangat mahabba 

Darah mereka jadi tameng hidup 

Menjadi daya juang tak sia sia 


Dalam hening malam mendaras 

Para syuhada, 

Pahlawan sejati patriot bangsa 

Di sanubari terdalam 

Mereka kekal menggema tak pernah mati.

Bayi Menangis Di Bawah Langit: Sudarjo Abd Hamid

Bayi Menangis di bawah Langit

        Sudarjo Abd Hamid


Dibawah hamparan birunya langit 

Diatas tanah berserak debu

Bayi mungil nyaris terluka 

Terpejam mata tidur dalam damai 

Walau bumi bersimbah darah mereka bangkit tak bawah mati 


Tangan mungil merangkul hayat 

Memantul sinar sahut kehidupan 

Ditengah bidikan bom molotov

Ia adalah pelita untuk bumi yang fana


Bisikan angin nyanyian takbir 

melindungi asa kecil dalam bayang 

Mungil masa depan bunga mendatang 

Di padang juang dibawah langit

Kau pejuang ajaib 


Meski badai menghadang 

Hadir mendesir mengoyak ketenangan 

Cinta tertanam doa tenang dalam langkah 

Di alam penuh sejarah 

Bayi mungil hadir 

Menenteng dunia Baru

Luka Palestina: Sudarjo Abd Hamid

Luka Palestina

Sudarjo Abd Hamid


Tanah kudus langit membara 

Tersayat luka tangisan berdarah 

Serakan debuh berbekas luka 

Bersama bayu pilu merangkak  


Hunian jatuh berkalang tanah 

Histeris anak hanyut dalam tangis 

Negeri tercoreng oleh api berlapis darah teriakan melangit tak pernah pudar 


Dibalik sisa nyawa berserak 

Ada jiwa memeluk bara 

Mengelak maut penuh duri

Asa pupus rasa terbelah

Mendekap harap di relung retak 


Tiap doa terpanjat dalam 

Ditengah temaram yang tak bertepi

Zona terkabung duka dan cinta 

Tak lekang oleh desah kebencian 


Luka berdarah milik semesta 

Menggemah sahut hadir keadilan 

Lirih tilawah terus menggema 

Mengasa Damai tunda terwujud

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular