Isnin, 8 Disember 2025

CAHAYA DI BUMBUNG HATI: FILADELFIANA

 Cahaya Di Bumbung Hati 


Senyuman manis memakan diri

Mengusik hati yang lama sendiri

Jiwa usang mencabut duri

Memberi ruang cinta bersemi


Malam menyimpan seribu harapan

Bait-bait doa menggambarkan perasaan

Angin malam membawa doa impian

Bantal peluk menghangatkan pelukan


Setiap langkah menyebut nama

Bisikan angin menerbitkan tawa

Terduduk angau di kaki lima

Perasaan yang tidur kembali terasa


Siang dan malam bumbung ditatap

Hati berdebar bagaikan derap

Bersama cinta yang mulai menatap

Menyulam rindu hingga jiwa terlelap


Mentari pagi menyingkap kelabu

Embun menetes basahi jendela baru

Rindu mengalir di relung waktu

Menyatukan hati yang selalu rindu


Senja pulang menitipkan pelangi datang

Burung tertawa membawa maksud senang

Dalam hati kecil menjerit sayang

Luka dan derita lama seakan hilang


Filadelfiana Endrus

SMK PENANGAH 

04 / 12 / 2025

Cinta Orang-orang Susah

 Cinta Orang-orang Susah

Nova Zamri

 Pertama kali melihatnya, hatiku senang sekali. Aku merasa ada teman yang nampaknya senasib denganku, yaitu sama-sama orang susah. Kalau aku pindah ke Kota Situ ini karena menjadi orang susah di kota kecilku. Sedangkan dia, beberapa waktu kemudian, ku ketahui pindah ke kota ini juga karena menjadi orang susah di kampungnya.

Gadis itu bernama lengkap Hamidah. Panggilannya Mida. Umurnya 17, seumuran denganku. Wajahnya cukup manis, ada lesung pipi di sebelah kanan. Kulitnya sawo hampir matang. Tingginya, rata-rata tinggi perempuan Indonesia. Rambut sebahu, bergelombang. Betisnya agak besar dan kekar. Bagus! Ini tandanya dia ulet bekerja.

Mida pernah menceritakan bahwa dia diantarkan orang tuanya dari kampung Salingka, salah satu desa di kabupaten sebelah Barat Kota Situ, untuk menjadi pembantu di keluarga ini. Dia anak sulung dan bekerja di sini setahun lebih dahulu dariku. Dengan bekerja, dia diharapkan dapat meringankan beban perekonomian keluarganya yang hidup susah. Adiknya ada dua orang. Satu di SD, perempuan, satu lagi umur tiga tahun, laki-laki. Kedua orang tuanya bekerja sebagai buruh tani karena tidak punya lahan sendiri.

ooOoo

Aku ke Situ sekitar tahun 1989. Aku akan melanjutkan sekolah ke kelas dua SMA karena Mak dan Bapak ternyata hanya mampu membiayai sampai kelas satu saja di kotaku. Mereka mengeluhkan aku yang terancam putus sekolah ke saudara Mak. Beberapa waktu kemudian, rupanya ada anak saudara Mak yang bersedia menyekolahkanku.   

“Ova!”

“Ya, Bang,” jawabku.

“Nanti, setelah menerima rapor kenaikan kelas, cepatlah Kau urus surat pindah, ya!” kata Bang In, calon majikanku yang memiliki toko onderdil mobil, motor, bengkel, cat mobil, motor, dan skuter di Kota Situ. Kadang-kadang beliau “rangkap jabatan” menjadi makelar mobil, motor, dan sejenisnya. “Sekolahmu yang baru di Situ sudah ada dan bersedia menerima Kau karena abang punya kenalan dekat di sana,” kata Bang In.  “Jangan cemas Kau, segala biaya sekolah di sana, abang yang tanggung sampai tamat asalkan Kau mau bantu-bantu abang di toko.”

“Baik, Bang”

Sat, set! Walaupun nilai pas-pasan, aku naik kelas. Aku dan Mak segera mengurus kepindahanku. Di hari penerimaan rapor itu juga, surat keterangan pindah berhasil diperoleh.   

Aku sendiri datang dari Pekum, kota kecil yang berjarak sekitar 95 kilometer arah Selatan dari Kota Situ ini. Aku berani sendirian karena sebelumnya sudah pernah dibawa libur ke sini sekali, waktu kelas dua SMP dulu.

Tiba di Situ, Bang In dengan istrinya, Kak Lina, serta anak-anaknya tampaknya cukup ramah dan senang dengan kehadiranku. Maklum, mungkin mereka menganggap aku sebagai tenaga tambahan murah. Hanya dengan membayarkan SPP-ku tiap bulan, aku akan bekerja setiap hari di toko, termasuk hari Minggu. Malah, kalau hari Minggu, kerjaku full. Di hari sekolah, kalau sekolah masuk siang, aku bekerja di toko pada pagi hari. Begitu juga sebaliknya.

Ternyata dugaanku meleset! Sikap ramah tersebut hanya bertahan beberapa bulan. Waktu itu, SPP Rp2.500 sebulan. Kalau hanya pembayaran SPP segitu, tidak masalah bagi mereka. Namun, semenjak aku menagih uang pembangunan sejumlah Rp70.000 yang diwajibkan oleh sekolah, sikap mereka berubah. Seperti lampu pijar 45w yang awalnya terang benderang tiba-tiba menjadi padam karena terpencet saklarnya. Sejak saat itu, banyak perlakuan mereka yang membuatku merasa “agak kurang nyaman” dan ingin kabur saja dari sana. Terutama sekali, Kak Lina, dia benci sekali denganku. Mungkin dia menganggap aku sebagai lintah darat yang menghisap uang suaminya. Namun, semua kutahan saja, yang penting sekolahku tetap jalan. Aku bertekad, apa pun yang terjadi, aku harus bisa meraih ijazah SMA-ku.     

Awalnya, aku menempati satu kamar kecil di ujung rumah lengkap dengan kasurnya. Namun, dengan alasan kamar akan ditempati anak-anak, Kak Lina menyuruh aku tidur di gudang bengkel di samping depan. Di sana sebetulnya sudah sempit dengan peralatan bengkel, motor, dan skuter rusak. Belum lagi baut, mur, busi, gasket, pelek, seher, ring, piston, dan tumpahan oli bekas yang berserakan di mana-mana. Untung di sana ada tempat tidur lipat bekas beroda yang masih ada kasur busanya tersandar di sudut gudang itu. Lumayan, walaupun rodanya hilang satu dan busa kasurnya sudah sangat tipis, kasur lipat antik itu tetap kupakai sampai bertahun-tahun.  

Kasur itu, kata Mida, punya mantan montir yang dulu bekerja di bengkel ini. Dulu, waktu pemilik sebelumnya yang mengelola bengkel ini, terkenal sangat profesional, dermawan, dan ramah. Banyak langganannya. Dengan demikian, tentu banyak juga montirnya bekerja di sini. Ada juga montir yang nyaman tinggal di sini, di gudang ini. Namun, setelah pemilik bengkel berganti dengan yang sekarang, Bang In dan Kak Lina, para langganan berkurang secara drastis dan montir satu per satu pergi entah ke mana. Termasuk pemilik kasur lipat ini. Dia pergi tergesa-gesa dan merelakan kasurnya tinggal di sini. Kabarnya, mereka tidak betah dengan pemilik bengkel sekarang yang tidak profesional dan serakah. Upah mereka sering telat dibayar, itu pun sering “disunat” secara sepihak dengan alasan bermacam-macam. Untuk pemotongan uang gulalah, tehlah, pemakaian airlah, dan sebagainya. Keluarga itu juga terkenal pelit dan rakus.

Pernah suatu kali aku ditegur guru di sekolah karena memakai sepatu robek. Sepatu yang kubawa dari kota asalku ini, sebenarnya sudah kupakai sejak SMP kelas dua. Sewajarnya memang harus diganti. Lalu, kuadukan masalah ini ke Bang In.

“Robek?”

“Iya, Bang,” jawabku, “Beli yang baru, ya, Bang?” sambil membujuknya, siapa tahu berhasil.

“Sebelah mana robeknya?”

“Nih, Bang, sebelah kanan,” kataku sambil memajukan kakiku yang sebelah kanan, yang masih pakai sepatu. Terlihat jari kelingking kakiku mengintip di balik sepatu yang robek itu.

“Bah, ini masih bisa dipakai, tau? Caranya, coba Kau robek pula sepatumu di sebelah kiri ini!” katanya sambil menginjakkan kaki kanannya yang memakai sepatu pantofel kulit ke sepatu kiriku.

“Aduh!” kakiku jadi sakit diinjaknya, “Iya, Bang,”

“Nah, seimbang jadinya itu. Paham Kau? Pokoknya ndak ada cerita membeli sepatu baru!”

“Baik, Bang.”

Pernah juga di kali yang lain, sehabis lebaran, pulang dari kampung, Bang In sekeluarga membeli durian banyak sekali. Waktu mobilnya lewat di depan gudang, aku lihat sekilas dan diperkirakan lebih dari delapan buah, besar dan menengah. Padahal, mereka hanya berlima. Mida masih di kampung. Aku saja pekerja yang tinggal lagi. Tampaknya, mereka makan durian di ruang belakang. Pintu dan jendela mereka tutup.

Kok, aku tidak diajak? Padahal aku sendiri tinggal lagi. Kalau ada kawan-kawanku di sini, okelah, ndak usah aku diajak. Wah, sebenarnya aku ingin juga makan durian bersama mereka! Sudah lama sekali aku tidak mencicipi durian. Mungkin sudah empat tahun.

Sudah agak lama mereka berkurung di ruang belakang itu, belum juga ada suara memanggilku. Aku jadi bimbang. Kalau terang-terangan aku minta diajak, itu sangat memalukan! Itu sama dengan pengemis! Aku lalu menghibur hatiku, “Barangkali sebentar lagi mereka akan memanggilku, biarlah mereka makan yang besar-besar dulu, untukku yang kecil-kecil saja, tidak apa-apa. Yang penting, aku bisa mencicipi durian!” Lalu kupertajam lagi pendengaranku.

“Ova!”

“Ya, Kak!” hatiku bersorak-sorak gembira karena akhirnya namaku dipanggil oleh Kak Lina. Aku secepat kilat masuk ke ruangan itu.

“Tolong buang kulit-kulit durian ini ke belakang!” kata Kak Lina datar lalu pergi menyusul suami dan anak-anaknya ke ruang keluarga, menonton TV.

Aku tertegun. Kulihat tumpukan kulit durian yang menggunung. Bijinya yang kering kerontang berserakan di mana-mana. Tampaknya, isinya sudah mereka habiskan semua. Kucoba membolak-balikkan kulit durian yang agak tertutup, barangkali ada satu atau dua biji yang luput dari mereka. Nihil. Bahkan, secuil pun tidak bersisa daging durian yang biasa lengket di tengah kulitnya yang menjadi harapan terakhir untuk kucicipi. Aku sangat kecewa. Terlebih lagi, mengapa mereka menyuruhku yang membuang kulit durian sialan ini? Mengapa tidak mereka saja yang membuangnya? Kan bisa setelah dimakan, langsung lempar ke belakang karena di situ tempat sampahnya! Mendapati keadaan itu, jiwa ragaku seakan-akan rontok seketika. “Siaaaaaaaaaaaaaaal!” jerit hatiku.   

ooOoo

Walaupun Mida hanya lulusan SD, tetapi sikapnya jauh lebih dewasa daripada diriku. Dia seakan-akan memiliki wibawa yang tinggi. Tak sekali pun majikan kami marah, apalagi membentaknya. Anak-anak majikan kami sebanyak tiga orang yang kecil-kecil itu sangat hormat dan sayang kepadanya. Bahkan, anak-anak itu, lebih hormat lagi ke Mida daripada ke mama dan papa mereka, apalagi kepadaku.  

Bagaimana tidak? Mida lebih memiliki sifat keibuan dan lebih pandai mengurus anak-anak. Nada bicaranya lembut. Sekali-sekali tegas juga, terutama ke anak sulung yang laki-laki. Kalau sudah kena tegur Mida karena nakal, anak itu langsung mengkeret.  

Selain itu, Mida sangat hebat dan cekatan. Subuh-subuh dia sudah bangun, memasak, dan menyiapkan sarapan untuk semua, memandikan dan memasang pakaian untuk anak-anak. Setelah itu, mencuci piring, pakaian, membereskan rumah, menyiapkan makan siang, sampai makan malam nanti. Menyetrika, dua kali seminggu, hari Kamis dan Minggu. Semua dikerjakan selalu tepat waktu. Tidak ada istilah terlambat atau lelet. Semua itu dijalani dengan aman dan lancar selama bertahun-tahun tanpa cela.

Mida sering mengajari dan menolongku. Dia yang mengajari aku cara menyuci dan menyetrika pakaian. Ya, di kota ini aku harus mencuci dan menyetrika pakaianku sendiri. Namun, karena dilarang menyetrika, pakaianku hanya dicuci saja, termasuk pakaian sekolah. Mida juga yang menolongku menyisihkan sedikit minyak goreng baru untuk minyak rambutku. Karena sering memakai minyak tersebut, kawan-kawanku menertawakanku sebagai penggemar minyak rambut Tancho Dap ‘minyak rambut merek Tancho dari dapur.’  

Semakin lama, aku semakin kagum dengan semua yang ada pada diri Mida. Menurutku, walaupun hanya seorang pembantu, dia lebih istimewa dibandingkan dengan gadis-gadis yang lain. Dia jauh lebih memesona dibandingkan Donna sang primadona di sekolahku yang suka bergaya manja berlebihan. Desi yang memiliki wajah cantik dan tubuh tinggi semampai, selalu bergaya keartis-artisan tetapi kalah jauh dengan kesederhanaan wajah manis alami Mida.

Aku naksir sama Mida. Aku mencintainya. Aku jadi berkhayal, alangkah bahagia dan indahnya hidupku kalau dia suka juga denganku. Kalau aku dan dia jadian, nanti, setelah aku tamat SMA, kami akan menikah, dan menjadi sepasang suami istri pembantu yang romantis.  “He, he, he,” Aku tertawa sendiri. Ah, tak sabar rasanya aku ingin menyampaikan isi hatiku ini.   

Akan tetapi, aku tidak langsung mengungkapkannya. Bagaimana nanti kalau dia menolakku? Malu aku. Aku juga menduga-duga apakah dia juga mencintaiku? Jangan-jangan dia sudah punya pacar. Namun, kalau kulihat selama dua tahun ini kami bekerja di sini, tidak pernah dia akrab dengan laki-laki lain. Setahuku, laki-laki yang dekat dengannya cuma diriku. Selain itu, dia hanya akrab dengan kawan-kawannya sesama pembantu, dua atau tiga orang. Sering dia bawa kawan-kawannya itu menginap di sini ketika majikan kami pergi ke kampung atau berlibur beberapa hari.

Ada suatu momen ketika aku ngobrol santai dengan Mida pada sore hari. Majikan kami sedang keluar. Setelah kami mengobrol ke sana kemari, “Inilah saatnya,” batinku.

“Ngomong-ngomong, Mida sudah punya pacar?” tanyaku.

“Kok, Ova tanya itu?” Dia balik tanya.

“Ingin tahu saja.”

“Kan, pacar Mida selama ini Ova,” kata Mida sambil tersenyum.

Dek! jawaban diiringi senyuman beserta lesung pipinya itu semakin memesonaku sekaligus membuat jantungku hampir copot. Hatiku langsung bahagia tidak terkira. Ingin rasanya aku bersorak dan melonjak-lonjak saat itu juga tetapi sekuat tenaga aku tahan. Aku ingin memastikan lagi jawaban yang luar biasa tersebut.  

“Mida serius?”

Mida hanya tersenyum.

“Serius?”

Mida hanya tersenyum lagi.

Hatiku jadi lemas. Inilah yang kutakutkan. Tampaknya, jawaban yang sempat “mengguncang iman” tadi hanya bercanda.

Besoknya, aku masih penasaran. Aku ingin memastikan lagi efek kejadian sore kemarin dengan melihat sikap dan tindakan Mida kepadaku hari ini.  

Ternyata, biasa saja!

Tidak ada tindakan yang menunjukkan seperti orang yang jatuh cinta pada umumnya. Tidak ada lirikan manja. Tidak ada kata-kata atau senyuman mesra. Pokoknya, tidak ada perlakuan yang istimewa dari Mida kepadaku hari itu maupun hari-hari berikutnya.

Hal itu semakin jelas ketika akhirnya beberapa bulan kemudian, Mida menyatakan berhenti bekerja dan mohon pamit karena akan menikah. Dia dilamar oleh pemuda sekampung yang selama ini merantau di Jakarta. Aku dengar pemuda tersebut berdagang pakaian kaki lima. Mida akan diboyongnya ke sana. Kenapa Mida mau? Aku tidak tahu. Midalah yang tahu karena dia lebih dewasa pemikirannya daripada diriku.

Waktu bersalaman, aku paksakan bersikap biasa saja. Tidak mau aku kelihatan sedih atau pun frustasi. Tentu aku akan ditertawakan orang. Dua kali rugi aku nanti kalau kuumbar rasa sedihku waktu itu. Sudah orangnya tidak dapat, aku dapat malu pula.

Untung aku belum menyatakan perasaan cintaku dan mengungkapkan keinginan menjadi “pasangan suami istri pembantu yang romantis” kepada Mida di sore itu. Kupikir-pikir kalau pernyataan cinta, bolehlah. Ditolak atau pun diterima dalam dunia percintaan, itu biasa, kan? Akan tetapi, kalau mengajak orang seperti Mida untuk menjadi “pasangan suami istri pembantu yang romantis,” kusadari sebagai keinginan terbodoh sedunia. Mana mungkin orang yang sudah susah mau diajak menjadi “orang susah permanen?”

ooOoo

Bukittinggi, 30 November 2025


Bionarasi

Nova Zamri, M.Pd., M.Hum. Lahir di Payakumbuh, 16 Juni 1972, adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di MTsN 1 Bukittinggi sejak 1998. Pendidikan terakhir, S2 di Universitas Indonesia. Meraih berbagai prestasi, termasuk juara lomba karya tulis dan inovasi pembelajaran. Kontak: 081364726032, email: novazamri.72@gmail.com.

 

Ahad, 7 Disember 2025

SETITIS WAKTU

 Setitis Waktu

Karya: Naora MN

 

Alina memeluk kemas fail merah jambu cerah berisi dokumen ayahnya seerat mungkin, seolah-olah masih terasa hangat tangan tua itu di situ. Dia perlu menguruskan beberapa urusan, menukar alamat surat menyurat, sahkan laporan dan menyerahkan borang pelepasan rawatan di rumah. Hatinya lega. Dia tidak perlu lagi berulang alik ke hospital bagi merawat ayahnya itu.

Saat melangkah masuk ke lobi hospital, bau ubat-ubatan, klorin dan udara sejuk penghawa dingin menyambutnya serentak. Bau itu terlalu akrab, bau yang telah melekat dalam hidupnya sepanjang enam bulan menjaga ayahnya. Setiap sudut hospital membawa serpihan memori.

Di pintu masuk, dia terkenangkan ayah yang selalu menggenggam lengan sambil berkata bahawa dia masih kuat, cuma perlu berjalan perlahan-lahan. Di lif yang bergerak perlahan naik, dia tebayangkan tubuh ayah yang lemah tetapi sentiasa tersenyum setiap kali sampai ke tingkat dialisis. Di koridor panjang itu, ingatannya memukul perlahan bagaimana dia menunggu, kadang dengan mata mengantuk, kadang dengan buku doa di tangan, kandang hanya dengan harapan, semoga ayah baik-baik sahaja pada hari itu. Begitulah rutinnya, hantar, tunggu, balik dan esok datang lagi. Rutin yang seperti degup jantung yang setia, berulang dan penuh pengorbanan.

Tatkala menguak perlahan pintu pejabat pentadbiran, Alina memberi salam sambil menghadiahkan sejalur senyuman manis, menyerahkan semua dokumen yang dibawa. Tangannya sedikit bergetar, bukan kerana takut tetapi ruang itu mengingatkan betapa banyak perjalanan yang telah dilaluinya.

Pegawai bertugas membelek satu demi satu kertas sambil bertanyakan tentang kestabilan ayah di rumah dan jadual ubat baru yang diberikan doktor. Selepas berpuas hati, pegawai itu menandatangani borang dan membuat laporan ringkas untuk diserahkan kepada pegawai yang bertugas di kaunter seterusnya.

Selesai urusan, Alina melangkah keluar dengan dada yang terasa lapang tetapi kosong seperti pintu yang akhirnya ditutup tetapi ruang di dalamnya masih bergema. Tugas menjaga ayah kini di rumah memberikan sedikit kelegaaan untuk dia bernafas dengan sedikit tenang.

Alina mengikut langkah kakinya yang membawa dirinya ke tempat yang selalu dia lalui setiap pagi; sudut dialisis tempat dua kerusi biru berada di situ. Sunyi, setia, tidak pernah berubah. Alina melabuhkan punggungnya perlahan seperti seseorang yang kembali ke rumah lamanya. Dia mengerling kerusi biru di sebelahnya, kosong. Kerusi yang selalu diduduki Afif. Dari situlah mereka selalu bertukar senyuman kecil, senyuman yang tidak pernah dia tahu akan menjadi sebahagian penting hidupnya.

Alina bersandar sambil menarik nafas panjang. Kelopak matanya ditutup perlahan. Hospital ini terasa seperti album lama yang penuh bau, warna dan kenangan yang tidak mahu hilang. Dia menyentuh permukaan kerusi di sebelah. Sejuk. Tetapi di hujung sejuk itu ada sesuatu, seakan sisa hangat dari seseorang yang pernah duduk di sini setiap pagi, menahan lelah tetapi tetap melukis senyum.

“Afif selalu di sini.  Masa ayah sakit teruk, dia tanya kalau-kalau Lina okey. Orang macam dia sangat baik dan tenang. Mana datangnya kekuatan itu?” gumam Alina perlahan.

Dadanya terasa perlahan-lahan mengetat, seperti sedang bersiap untuk sesuatu yang akan memecah tenang hari itu. Alina menarik nafas dalam-dalam. Hospital mula terasa berat, tiap sudutnya seolah membuka satu demi satu kenangan yang tidak pernah selesai. Dan di kerusi biru itu di tempat yang sama pada pagi yang hampir sama dengan pagi-pagi lainnya. Alina akhirnya menyedari satu hal: tempat yang pernah memberi kekuatan kepadanya juga tempat yang akan memecahkan hatinya sebentar lagi. Dia cuba menunggu kehadiran Afif pada pagi damai itu.

Udara di sekeliling masih seperti dahulu. Haruman ubat yang dingin, bau antiseptik yang meresap ke lantai, bunyi roda troli ditolak perlahan dan suara jururawat memberi arahan ringkas. Di sinilah dia selalu menunggu ayahnya selesai dialisis dan di sini jugalah semuanya bermula.

Alina masih memejamkan matanya. Dalam gelap yang jinak itu dia dapat melihat semula bayangan seorang pemuda, Afif yang selalu muncul dari hujung koridor. Dia teringat bagaimana untuk pertama kali, Afif hanya menegurnya dengan anggukan kecil. Rambutnya hitam, pendek dan kemas, wajahnya redup seperti seseorang yang menyimpan penat yang tidak pernah disebut. Uniformnya sentiasa rapi, tetapi matanya, selalu kelihatan seolah-olah sedang membaca kesedihan orang lain sebelum mereka sempat menyembunyikannya.

Alina tidak tahu bagaimana, tetapi setiap kali menghampiri meja jururawat berhampiran kerusi biru itu, dia terasa seperti dunia sedikit tenang. Afif bukan jenis yang banyak bercakap, namun tutur katanya perlahan dan berhati-hati, seolah-olah dia takut menyakiti hati orang dengan hanya nada suara. Afif selalu bertanyakan tentang ayah Alina terlebih dahulu sebelum bertanya tentang dirinya.

“Ayah Alina stabil hari ini. Tekanan darahnya pun cantik,” kata Afif sambil membelek laporan tanpa mengangkat suara.

Ada sesuatu pada cara Afif menatap. Bukan memandang tetapi menenangkan. Bukan simpati tetapi seperti memahami tanpa perlu diberitahu. Dari situ, Alina mula menunggu waktu Afif bertugas tanpa dia sedari. Setiap kali wajah itu muncul di hujung lorong ada rasa lega yang datang perlahan mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh keletihan menjaga ayahnya.

Dia terdengar semula tawa halus Afif yang muncul hanya bila dia benar-benar gembira. Dia teringat bagaimana Afif duduk sebentar di kerusi biru itu pada suatu petang, menemaninya beberapa minit sebelum masuk bertugas semula.

Alina membuka mata perlahan-lahan sambil membetulkan kedudukannya. Dia melemparkan pandangan ke hujung koridor dengan harapan Afif akan muncul dari sana seperti selalu. Namun tiada. Yang kelihatan hanyalah dirinya yang sedang menolak kerusi roda ayahnya. Tangan ayahnya menggigil sedikit namun senyumannya tetap sama. Senyum seorang tua yang tidak mahu menyusahkan anak.

Ketika mereka berhenti di luar bilik dialisis, Alina cuba menenangkan degup jantungnya sendiri. Dia berpura-pura kelihatan kuat tetapi ketakutan itu menggunung. Takut ayahnya tidak tahan rawatan, takut komplikasi, takut hari-hari mendatang akan lebih berat dari yang dijangka.

Sewaktu ayah dibawa masuk oleh jururawat, Alina berdiri terpaku. Tidak tahu ke mana harus pergi. Tidak tahu berapa lama harus menunggu. Tidak tahu apa yang harus dibuat ketika seseorang yang kita sayangi sedang bergantung pada mesin.

Alina duduk di kerusi biru. Kerusi yang menjadi saksi pada hari pertamanya sebagai penjaga seorang pesakit kronik. Alina memeluk beg tangannya rapat-rapat. Nafasnya pendek-pendek dan itulah saat pertama kali Afif muncul, berwajah lembut, seperti seseorang yang telah lama belajar menerima penat sebagai sebahagian hidup.

“Cik, pertama kali bawa ayah dialisis?”

“Ya, macam mana encik tahu?”

“Selalunya yang pertama kali akan duduk sambil genggam beg macam tu.” kata Afif sambil tersenyum kecil.

Alina tersipu malu tetapi untuk seketika jiwanya terasa lebih ringan.

“Saya Afif, bertugas di pusat pemulihan, Selalu lalu sini setiap pagi.”

Alina hanya menganguk, tiada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Hatinya masih tidak menentu mengingatkan ayahnya.

Seolah memahami gelojak rasa di dalam diri Alina, Afif berkata. “Ayah cik akan okey. Jururawat di sini bagus. Rawatan pertama memang menakutkan sikit, tetapi selepas ini, cik akan biasa.”

Alina tidak mengenali lelaki itu. Tetapi kata-latanya terasa seperti seseorang membuka tingkap kecil di ruang yang gelap. Afif tidak duduk. Dia hanya berhenti sebentar sebelum berjalan perlahan-lahan seolah-olah sedang memulakan hari yang berat. Alina memerhati langkahnya. Ada sesuatu pada cara Afif mengangkat bahu, seolah ada beban yang tidak terlihat. Mungkin kerja di hopital menemui pelbagai penyakit dan karenah manusia menjadikan dia terasa penatnya. Hati Alina mula menyukai pegawai muda itu.

Sejak pertemuan itu, rutin awalnya di hospital menjadi sesuatu yang lebih daripada sekadar menemani ayah menjalani dialisis. Alina tidak pernah mengakuinya tetapi tubuhnya tahu, langkahnya menjadi perlahan setiap kali menghampiri kerusi biru. Hatinya berdebar sedikit hanya kerana satu sebab, dia sedang menunggu seseorang. Dan setiap kali bunyi kasut menghentak perlahan di hujung koridor, setiap kali uniform putih melintas di sisi, dada Alina akan terasa mengetat. Kalau bukan Afif dia akan berpura-pura tidak kecewa. Kalau betul Afif, wajahnya akan berubah menjadi lebih tenang daripada apa yang dia sedar.

Masih segar dalam ingatannya pada suatu pagi dia tiba lebih awal dari jadual. Ayah masih belum dipanggil masuk ke bilik rawatan, tetapi Alina sudah duduk di kerusi biru, kerusi seolah-olah mengandungi gema kenangannya bersama Afif. Dia menggenggam kedua-dua tapak tangan di riba, menahan keresahan. Ayah batuk sejak subuh dan itu mengganggu ketenangannya.

Kemudian dia mendengar derap langkah yang dikenalinya perlahan, tidak tergesa, tidak berat. Entah bagaimana Alina mengenali ritma langkah itu seperti seseorang mendengar rentak degup hatinya sendiri. Afifi muncul dari sudut lorong dengan clipboard di tangan. Wajahnya kelihatan letih tetapi jernih. Tatkala pandangan mereka bertemu Alina terasa sesuatu mereda di dalam dadanya, seperti ombak yang akhirnya menemui pantai. Spontan dia meluahkan rasa bahawa ayahnya tidak sihat pagi itu.

Afif tidak terus memberi janji palsu. Dia mendekat berdiri di hadapan Alina cukup dekat untuk dia mendengar nafas gelisah Alina tetapi tidak terlalu hampir hingga merisaukan. Kemudian Afif mendapatkan laporan kesihatan dan dalam beberapa minit Afif kembali. Dia duduk di kerusi sebelah Alina, sesuatu yang jarang dilakukan pegawai perubatan kepada waris pesakit. Dia hanya melakukannya dengan Alina. Mungin tanpa sedar dan mungin juga dengan sengaja.

“Alina, ayah kamu okey. Tekanan darah stabil, cuma letih. Ini biasa. Dia kuat.”

Alina tunduk tidak berani menunjukkan matanya yang berkaca. Melihatkan keadaan itu Afif terus menyambung dalam nada yang lebih perlahan.

“Awak pun kuat. Saya faham bukan mudah datang setiap hari. Tapi bila nampak awak di sini saya rasa awak selalu buat yang terbaik untuk ayah awak. Dan itu sesuatu yang sangat jarang saya lihat.”

Alina diam. Kata-kata itu bukan pujian berlebihan. Ia hanyalah keikhlasan yang meluncur seperti sungai yang jernih.  Dan entah kenapa, kata-kata itulah yang paling menenangkan Alina selama ini. Lama-kelamaan Alina sedar bahawa dia mula menunggu Afif bukan kerana mahu melepaskan penat, bukan mahu tahu keadaan ayahnya sahaja. Tetapi kehadiran Afif sebagai ruang selamat yang dia tidak pernah tahu dia perlukan.

Bila Afif ada, Alina boleh bernafas sedikit dalam. Bila Afif bercakap dunia hospital yang menakutkan tiba-tiba menjadi lebih mesra. Bila Afif tersenyum seolah-olah ada cahaya kecil yang menyala dalam hati Alina. Bukan rasa yang melulu, mungkin rasa yang menetak perlahan dinding tebal kesunyian, membuka pintu satu persatu.

Dia mula sedar, setiap kali Afif tidak muncul, hatinya akan berdebar gelisah. Setiap kali Afif melintas, hatinya menjadi tenang dalam sekelip mata. Itu bukan kebetulan. Ia adalah benih cinta yang sedang bersemi diam-diam. Alina cuba manafikan, tetapi kerusi biru itu tahu akan kebenarannya. Kerusi yang menyaksikan setiap detik kecil antara mereka, detik yang tidak pernah besar tetapi cukup untuk membuat hati manusia jatuh cinta.

Alina membuka dan menutup mata entah kali yang ke berapa. Kerusi biru itu masih sama. Tetapi hari ini ia terasa seperti pintu ke masa yang tidak akan kembali. Afif masih tidak muncul. Dia ingin menunjukkan surat kebenaran rawatan di rumah sudah ditandatangani. Dia hanya perlukan Afif untuk menjelaskan prosedur seterusnya. Beberapa minit telah berlalu dan bertukar menjadi setengah jam dan berlarutan ke satu jam. Afif tiada. Lorong itu hari ini terasa terlalu sunyi.

Kekesalan meragut jiwanya. Kenapa selama ini dia tidak pernah meminta nombor telefon Afif? Segera dia bangun mendapatkan jururawat betugas di situ.

“Maaf, Encik Afif bertugas pagi ini kan? Suaranya sedikit goyah tetapi masih terkawal.”

Jururawat muda itu berpaling. Wajahnya serta merta berubah. Alina perasan mata jururawat itu berkelip beberapa kali seolah menahan sesuatu.

“Cik Alina ya? Encik Afif dimasukkan ke wad kecemasan pagi tadi.”

“Kenapa? Dia okey kan? Seluruh dunia Alina tiba-tiba menjadi perlahan.

Jururawat itu menarik nafas panjang. “Dia memang ada masalah buah pinggang. Tahap akhir. Kami ingat dia dah beritahu cik.”

Alina menggigit bibir. Dia teringat setiap senyum Afif. Cara Afif membetulkan kedudukan duduknya secara diam-diam, setiap kali Afif menunduk bila menahan sakit, setiap kali Afif cakap, “Saya okey, penat sikit je”. Semua itu rupanya petanda yang dia tidak mahu tunjuk.

“Dia sekarang di ICU.” Jururawat itu menyambung perlahan, “keadannnya kritikal.”

Alina terasa lututnya lemah. Dunia menjadi kabur di tepi-tepi penglihatannya. Dia mengangguk perlahan lalu kembali ke kerusi birunya itu. Kerusi yang tiba-tiba terasa seperti tempat paling asing di dunia. Dia tunduk, tangannya menggigil. Matanya memandang lantai, kemudian ke lorong tempat Afif selalu hadir. Kerusi yang tadi penuh memori manis kini mula dipenuhi kesunyian yang menghiris.

Air mata pertama menitis. Alina tidak menahan. Setiap titisan terasa seperti memecahkan sesuatu dalam dirinya. ‘Afif’ bisiknya. “Kenapa tidak beritahu apa-apa?”

Di atas kerusi itu Alina melepaskan segala yang ditahannya selama ini. Kerinduan yang baru disedari, ketakutan yang baru datang dan cinta yang baru mahu mekar tetapi tiba-tiba dihentikan oleh takdir. Dia menggenggam hujung tudungnya, cuba menenangkan diri tapi dadanya terasa sesak. Dia menunggu, namun Afif tidak akan datang. Dan kerusi biru itu yang pernah menjadi tempat cinta bersemi, kini menjadi saksi bagaimana dunia Alina runtuh tanpa suara.


BIODATA

  

Norasmah Mohd Noor, atau Naora MN, merupakan anak kelahiran Negeri Sembilan, Malaysia. Beliau merupakan seorang penggiat sastera sejak dari bangku sekolah. Kini aktif menulis dalam pelbagai genre penulisan. Beliau boleh dihubungai di talian +6017-2169992.

 

CINTA YANG MENGHIDUPKAN SEMULA

 Cinta Yang Menghidupkan Semula

Oleh Nurul Afifah Binti Rahim


Hujan renyai-renyai jatuh memeluk bumi malam itu. Di tingkap rumah kecil itu, Amina berdiri memeluk tubuhnya sendiri. Hatinya retak—retak yang tidak berbunyi, tetapi pedihnya menembusi seluruh jiwa.

Rumah itu tidak sunyi sebenarnya. Ada tiga nyawa kecil yang menjadi kekuatan Amina setiap hari Arman, si sulung berusia 14 tahun, yang sudah belajar menjadi lelaki sebelum waktunya.

Alisa, gadis manis berumur 11 tahun, selalu peka dengan perasaan ibunya.Arianna, bongsu 6 tahun yang masih memanggil ayah dalam tidur malamnya. Tetapi malam itu, semuanya sunyi kerana Amina cuba kuat.Kuat untuk menunjukkan bahawa dia baik-baik sahaja.

Walaupun hakikatnya… dia sedang pecah. Ehsan, suaminya, pernah menjadi lelaki yang dia pilih kerana fikirnya dialah pelindung. Pernah menjadi lelaki yang dia cinta sehingga sanggup hidup susah demi dia. Pernah mengikat hati Amina dengan kata-kata indah…sebelum kata-kata itu bertukar menjadi dusta dan belati. Di satu malam yang memusnahkan seluruh harapannya,

Amina terbaca sebuah pesanan: “Terima kasih kerana masih pilih saya, bang. Saya rindu.” Segala darah mengalir keluar dari hatinya. Dia duduk, menggigil, tetapi tidak menangis.

Air mata terasa terlalu mahal untuk lelaki yang tidak lagi menghargai keluarganya. Selepas itu, Amina hidup seperti bayang dalam rumah sendiri. Ehsan pulang lewat. Pulang marah-marah.

Pulang membawa bau yang bukan bau rumahnya. Amina hidup bersama luka, tetapi dia diam.

Kerana dia memikirkan anak-anak. Kerana dia percaya bahawa jika dia terus sabar, semuanya akan berubah. Amina silap. Ehsan berubah, tetapi semakin jauh. Dan pada satu petang yang kelam, Amina menerima panggilan telefon: “Cik Amina… suami cik mengalami kemalangan.”

Dunia berhenti. Amina menggenggam tangan Arman ketika mereka sampai di hospital. Alisa menangis memeluk bahu ibunya. Arianna keliru, bertanya berkali-kali, “Ayah sakit? Ayah jatuh?” Tidak ada siapa mampu menjawab. Ehsan pergi tanpa sempat meminta maaf. Tanpa sempat menjelaskan apa-apa. Namun Amina tetap memaafkannya dalam diam, kerana dia tidak mahu anak-anak menyimpan dendam terhadap lelaki yang sudah tidak mampu membetulkan apa-apa lagi.

 

Hari-hari selepas pengkebumian sunyi… tetapi bukan lagi sunyi yang menakutkan. Ia sunyi yang perlahan-lahan mengajar Amina menerima luka. Arman mula mengambil alih tugas ayah:

membaiki suis, membantu Amina mengangkat barang, menenangkan Arianna bila adiknya menangis mencari ayah. Alisa pula selalu menemani Amina menjahit untuk mencari rezeki.

Dia tahu ibunya kuat, tetapi dia juga tahu ibunya pernah menangis tanpa suara. Arianna…

setiap malam dia tidur dengan tangan kecilnya memegang jari Amina.“Mak jangan pergi macam ayah pergi,” katanya suatu malam.Amina hampir rebah mendengar kata itu. Dia mengusap pipi anaknya, “Mak takkan pergi mana-mana, sayang.” Amina disirami kasih anak-anak, dan kasih itu perlahan-lahan menampal luka-luka lama. Tetapi takdir Tuhan tidak berhenti di situ. Takdir mahu menghadiahkan sesuatu kepada wanita yang sudah lama memendam sakit. Pertemuan itu sederhana. Namun kesannya besar. Amina bertemu Rafeq di kedai serbaneka, ketika buku-buku latihan sekolah anaknya jatuh dari tangan. Dia menunduk mengutip. Amina turut membantu. “Terima kasih,” kata lelaki itu sambil tersenyum, senyum yang nampak letih tetapi ikhlas. Dari senyum itu, Amina dapat rasa ada kisah silam yang dia sembunyikan. Beberapa hari kemudian, dia mengetahui bahawa lelaki itu duda anak dua.

Rayyan, 12 tahun—sopan, pendiam. Rifqi, 8 tahun—ceria dan banyak bertanya. Dan tidak lama kemudian, Amina tahu sesuatu yang membuatnya sebak: Rafeq pernah hidup dalam rumah tangga yang penuh derita. Isterinya dulu hanya tunggul di rumah. Tidak pernah mengurus anak. Tidak pernah memasak. Tidak pernah menunjukkan kasih. Dia hanya menunggu hujung bulan menunggu duit yang dikumpul Rafeq dengan letih. Walau sesen pun, dia mahu semuanya. “Abang tak pernah cukup pada mata dia,” cerita Rafeq satu petang. Amina mendengar dalam diam. Wajah Rafeq menunjukkan luka yang sama seperti luka yang pernah ditanggungnya. “Dia pergi begitu saja,” tambahnya. “Tinggalkan saya dan dua anak. Sampai

Rayyan yang masih kecil waktu itu kena jadi abang, bukan budak.” Amina tak sempat berkata apa-apa. Tetapi di hatinya, dia berkata: ‘Kita berdua pernah melalui neraka yang orang lain tak nampak…’ Masa berlalu. Tanpa sedar, dua keluarga kecil ini semakin rapat. Anak-anak mereka bermain bersama. Arman mengajar Rayyan bermain bola. Alisa dan Rifqi gemar mewarna sama-sama. Arianna suka bermanja dengan Rafeq kerana Rafeq selalu mengusap kepala anak kecil itu dengan kasih sayang yang lembut. Dan Amina… Amina mula tersenyum lagi.Bukan kerana lelaki, tetapi kerana hatinya tidak lagi kesepian. Pada satu malam, ketika semua anak sudah tidur, Amina keluar ke halaman rumah. Rafeq ada di sana, berdiri seorang diri sambil memandang langit. “Tak boleh tidur?” tanya Amina perlahan.

Rafeq menggeleng. “Banyak fikir,” katanya ringkas. Amina berdiri di sebelahnya. Kedua-duanya diam cukup lama. “Amina…” suara Rafeq akhirnya kedengaran. “Awak tahu saya takut pada perasaan sendiri?” Amina menoleh sedikit, tetapi tidak menyampuk. “Saya takut… kalau saya bahagia, Allah ambil lagi.” Amina terdiam. Rafeq menyambung, suaranya bergetar. “Saya pernah bagi segalanya pada seseorang… tapi saya tak dihargai. Saya bangun, saya masak, saya urus anak, saya kerja…Tapi dia tak nampak penat saya.” Dia memandang Amina. “Awak pernah rasa macam tu?” Amina mengangguk, air matanya jatuh perlahan. Rafeq mengesat air mata itu tanpa menyentuh pipinya. Dia hanya berkata: “Amina… saya janji kalau saya pernah ada peluang untuk bina hidup baru…saya akan jaga orang itu sepenuh hati. Saya takkan biar dia menangis sendirian.” Amina menggigil. Untuk pertama kalinya, dia mendengar kata-kata yang tidak pernah diberikan Ehsan sepanjang perkahwinan mereka. “Saya takut, Rafeq,” suara Amina pecah.“Saya takut jatuh lagi.” “Saya pun,” jawab lelaki itu jujur. “Tapi kalau dua orang yang pernah hancur saling memegang tangan…mungkin kita boleh sembuh bersama.” Amina menatapnya lama-lama. Akhirnya dia mengangguk dalam sebak. Dan pada malam sederhana itu, tanpa janji manis, tanpa kata cinta, tanpa paksaan, hati mereka mula berani mencuba sekali lagi. Hubungan mereka semakin kuat. Rafeq selalu membantu Amina menghantar anak-anak ke sekolah. Arman mula memanggilnya “Uncle Rafeq” dengan nada yang jauh lebih selesa. Alisa suka mendengar nasihat Rafeq tentang pelajaran. Arianna selalu memegang tangan Rafeq ketika melintas jalan. Dan dalam hati semua anak itu, tanpa mereka sedar… mereka sebenarnya sudah menerima antara satu sama lain sebagai keluarga besar. Suatu petang, Rifqi memegang tangan Amina. “Aunty… boleh ke saya peluk Aunty? Sebab Aunty macam mama… tapi Aunty tak marah macam mama dulu.” Amina hampir menangis memeluk anak kecil itu.

Di sudut rumah,Rafeq melihat adegan itu dengan mata berkaca. Dan pada satu pagi yang indah,

ketika embun masih belum kering, Rafeq berdiri di depan rumah Amina dengan sejambak bunga kecil. Amina terkejut membukanya. “Rafeq?” Lelaki itu menarik nafas. “Amina…saya tak datang sebab bunga. Saya datang sebab hari ini…saya nak tanya sesuatu yang saya simpan lama.” Amina tunduk, menggigil. “Boleh tak…kalau Allah izinkan…Amina dan anak-anak…”

suara Rafeq pecah.“…menjadi keluarga saya?” Air mata Amina mencurah-curah.Di belakangnya, Arman memegang bahu Alisa.Arianna memeluk kaki ibunya.Rayyan dan Rifqi berdiri di sisi ayah mereka, memandang dengan harapan.Amina mengangguk dalam sebak.

“Ya, Rafeq. Dengan izin Allah… saya sudi.” Rafeq menutup mata sambil menahan tangis.

Pagi itu bermula dengan cahaya yang lembut, seolah-olah langit sendiri sedang mendoakan dua jiwa yang baru sembuh dari luka panjang. Rumah Amina meriah, namun tidak bising—meriah dengan cara yang sederhana tetapi penuh makna.

Amina duduk di depan cermin, kain kurung moden berwarna putih susu terletak indah pada tubuhnya. Tudung satin lembut menutup rambutnya. Alisa membantu menyematkan kerongsang kecil di sisi pipi ibunya.

“Cantiknya Mak…” Bisik Alisa, matanya sedikit berkaca. Amina tersenyum, menyentuh pipi anaknya yang semakin remaja. “Cantik sebab anak Mak yang tolong pakaikan,” balasnya lembut. Di hujung bilik, Arianna memeluk anak patung kesayangan sambil memandang Amina tak berkelip. “Mak kahwin, Mak tetap Mak saya kan?” soalnya dengan suara kecil penuh risau.

Amina segera mendukung si bongsu itu. “Mak tetap Mak kamu selamanya, sayang. Lagi ramai orang sayang Arianna nanti.” Arianna tersenyum dan mencium pipi Amina berkali-kali.

Di ruang tamu, Arman berdiri kacak dengan baju Melayu biru lembut. Dia kelihatan matang, lebih dewasa daripada usianya. Sejak ayahnya meninggal, dia menjadi lelaki rumah dan kini, dia bersedia menyerahkan sebahagian tanggungjawab itu kepada seseorang yang dia percaya.

Rafeq. Rafeq tiba bersama dua orang anaknya, Rayyan dan Rifqi. Dia memakai baju Melayu putih, serba sederhana tetapi wajahnya bersinar damai. Melihat Amina dari jauh sahaja sudah membuatkan dadanya sebak—sebak kerana dia diberi peluang kedua untuk merasai bahagia.

Arman menghampirinya dan bersalaman. “Uncle Rafeq… saya serahkan Mak pada Uncle hari ini.” Suara Arman tegas tetapi matanya berkaca. Rafeq menggenggam tangan anak remaja itu erat. “Saya janji… saya akan jaga Mak dan kamu semua. Dengan nyawa saya.” Arman mengangguk kecil. Rayyan dan Rifqi berdiri di sisi ayah mereka, kemudian memeluk Arman satu pelukan jujur antara anak-anak yang sedang belajar menjadi keluarga. Upacara akad nikah berlangsung di ruang tamu rumah Amina yang dihias dengan bunga putih dan hijau, simbol penyembuhan dan permulaan baru. Suara imam tenang memecah suasana, dan ketika Rafeq melafazkan akad, suara itu sedikit bergetar namun sangat pasti:

“Aku terima nikahnya Amina binti… dengan mas kahwin yang tersebut.” Semua saksi mengangguk. Air mata jatuh di pipi Amina serentak dengan lafaz sah itu. Rayyan memegang tangan Rifqi. Alisa memeluk Arianna yang tidak berhenti senyum.Arman memandang ibunya dengan bangga. Imam membaca doa panjang, dan dalam doa itu, Amina menutup wajahnya

tak percaya Allah masih mahu memberinya bahagia selepas segala derita yang ditanggung dulu. Selepas akad, Rafeq menghampiri Amina perlahan. “Amina…” Suaranya serak. “Hari ini… Allah beri saya keluarga semula.” Amina tunduk, menahan air mata.

“Dan saya… Allah beri saya lelaki yang akhirnya tahu cara menggenggam hati tanpa menyakitinya.” Rafeq mengangkat tangan Amina dan menciumnya penuh hormat bukan sebagai lelaki yang menuntut cinta, tetapi sebagai lelaki yang bersyukur kerana diberi kepercayaan. Anak-anak mereka berlari memeluk mereka berdua,mengubah pelukan itu  menjadi pelukan besar enam jiwa yang akhirnya disatukan. Di luar rumah, hujan turun perlahan, renyai-renyai bukan hujan duka, tetapi hujan rahmat. Dan dalam hujan itu, Amina tahu… Cinta yang datang selepas luka…bukan sekadar mengubati, tetapi menghidupkan semula.

 

Dia meraih tangan Amina, menciumnya dengan hormat. Dan pada saat itu, anak-anak bertepuk kecil, tertawa, menangis, dan berlari ke arah satu sama lain. Dua hati yang hancur akhirnya menemukan rumah. Dua keluarga kecil akhirnya dipersatukan menjadi satu bahagia besar. Dan cinta itu… benar-benar bersemi semula bukan dari luka, tetapi dari penyembuhan.

CAHAYA DI BUMBUNG HATI

 Cahaya di bumbung hati 


Senyuman manis memakan diri

Mengusik hati yang lama sendiri

Jiwa usang mencabut duri

Memberi ruang cinta bersemi


Malam menyimpan seribu harapan

Bait-bait doa menggambarkan perasaan

Angin malam membawa doa impian

Bantal peluk menghangatkan pelukan


Setiap langkah menyebut nama

Bisikan angin menerbitkan tawa

Terduduk angau di kaki lima

Perasaan yang tidur kembali terasa


Siang dan malam bumbung ditatap

Hati berdebar bagaikan derap

Bersama cinta yang mulai menatap

Menyulam rindu hingga jiwa terlelap


Mentari pagi menyingkap kelabu

Embun menetes basahi jendela baru

Rindu mengalir di relung waktu

Menyatukan hati yang selalu rindu


Senja pulang menitipkan pelangi datang

Burung tertawa membawa maksud senang

Dalam hati kecil menjerit sayang

Luka dan derita lama seakan hilang


Filadelfiana Endrus

SMK PENANGAH 

04 / 12 / 2025

Sabtu, 6 Disember 2025

SAAT CINTA BERSEMI

 SAAT CINTA BERSEMI

Karya Eduar

 Angin subuh merayap pelan dari ufuk timur, membawa bau asin laut yang seolah menyimpan bisikan dari masa silam. Di Desa Teluk Rhu, desa kecil yang berpeluk pada garis pantai Rupat Utara, riuh ombak selalu menjadi alarm alami yang membangunkan seluruh kehidupan. Ketika cahaya pagi menumpahi pasir yang memanjang seperti lembaran doa yang tak pernah usai, seorang pemuda bernama Arfan menatap laut dengan dada yang penuh gejolak.

Hari itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, ia berdiri di tepi pantai tempat para leluhur dulu mengadakan Zapin Api, seni tarian di atas bara yang hidup dari mantera, keberanian, dan keikhlasan jiwa. Namun sesuatu dalam dirinya mulai berubah. Semakin ia memandang laut, semakin hatinya terasa digiring pada sebuah panggilan. Seolah-olah ombak adalah pesan, dan angin adalah suaranya.

Itu adalah hari ketika cinta mulai bersemi, bukan kepada seseorang, melainkan kepada budaya yang nyalanya hampir padam.

 

****

 

Arfan tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang nelayan yang selalu membawa cerita tentang masa muda ketika ia ikut mempersiapkan pertunjukan Zapin Api bersama para tetua. Namun seiring waktu, banyak pemuda merantau, pertunjukan mulai jarang digelar, dan anak-anak lebih mengenal cahaya layar ponsel daripada bara api ritual.

Di usia 19 tahun, Arfan justru merasa ada kekosongan yang menganga. Dunia baginya bagai perahu tanpa jangkar, mudah hanyut, mudah hilang arah. Sampai suatu malam ia bermimpi:

Ia melihat dirinya menari di tengah lingkaran api yang menderu seperti ombak yang memukul karang. Dari jauh, ada sosok-sosok leluhur berdiri, wajah mereka berpendar seperti kunang-kunang.

Dan salah satu dari mereka berkata dengan suara yang seolah terbuat dari angin laut:

“Api itu menunggu penjaganya.”

 

Arfan terbangun dengan jantung berdegup cepat. Keringat dingin mengalir di punggung. Namun bukan ketakutan yang ia rasakan, melainkan panggilan.

Sejak saat itu, ia mulai mendatangi rumah Tok Tengku Karim, satu-satunya tetua yang masih aktif memegang ilmu dan ritual Zapin Api. Rumah Tok Tengku berada di ujung desa, tempat kelapa menjulang seperti pagar para penjaga langit.

“Tok, ajari saya Zapin Api,” kata Arfan dengan suara yang tegas namun gemetar.

Tok Tengku memandangnya lama. Tatapannya dalam seperti laut dalam yang gelap namun penuh rahasia.

“Zapin Api bukan tarian hiburan,” ucapnya perlahan. “Ini tarian jiwa. Yang menari bukan hanya tubuh. Kau harus siap, nak.”

“Saya siap,” jawab Arfan.

Tok Tengku mengangguk. Dari sinilah perjalanan panjang itu dimulai, perjalanan cinta yang menguji hati dan keberaniannya.

 

****

 

Latihan pertama bukanlah gerak tubuh, melainkan kesabaran. Selama beberapa pekan, Tok Tengku hanya menyuruh Arfan membersihkan halaman, mencari kayu, menyapu panggung kecil yang sudah lama tak digunakan. Arfan sempat marah, kecewa, bahkan merasa dipermainkan. Tetapi ia bertahan.

Hingga suatu senja, Tok Tengku memanggilnya.

“Esok kita mulai,” ucapnya singkat.

Harapan mekar seperti bunga bakung laut. Namun yang datang justru sesuatu yang jauh lebih berat.

“Duduk,” perintah Tok Tengku. “Dengarkan.”

Malam itu, angin membawa aroma garam. Bara api menyala rendah di lingkaran pasir. Tok Tengku mulai melantunkan mantera, lembut, dalam, dan penuh getaran. Suara itu membuat bulu kuduk Arfan meremang. Bara di depannya seakan hidup, menari, dan membentuk bayangan.

“Ini bukan soal menaklukkan api,” kata Tok Tengku.

“Ini soal menaklukkan dirimu sendiri.”

Malam itu, Arfan mencoba menyelaraskan napasnya dengan tempo mantra. Ia mencoba menari. Namun baru beberapa langkah, ia merasa takut, gemetar, dan tubuhnya hilang keseimbangan.

“Kau menari seperti daun kering yang ditiup angin,” ujar Tok Tengku.

“Belajarlah dari ombak, kadang lembut, kadang ganas. Tapi ia selalu percaya pada irama langit.”

Arfan tersinggung. Tetapi ia tetap kembali malam berikutnya. Dan malam berikutnya lagi.

Selama berbulan-bulan, ia jatuh, bangkit, salah langkah, terkilir, dan hampir menyerah. Namun ada sesuatu yang menahannya: perasaan bahwa Zapin Api adalah rumah dari bagian jiwanya yang hilang.

****

 

Desa mulai ramai membicarakannya. Ada yang mendukung, tapi banyak juga yang mencibir.

“Apa gunanya belajar tarian api? Sudah tak zaman.”

“Lebih baik cari kerja, merantau.”

“Zapin Api hanya masa lalu. Tidak ada masa depannya.”

Bahkan ayahnya sendiri mulai resah.

“Fan, ayah tidak melarang. Tapi ingat, hidup butuh makan. Api itu tidak menghasilkan beras.”

Arfan mendengar semuanya seperti mendengar suara angin melewati lubang bambu, bising, menusuk, namun tak mampu menghentikannya. Ia tahu apa yang ia rasakan: cinta pada budaya leluhur yang tak boleh padam.

Namun rintangan terbesar justru datang dari seorang pemuda lain di desa, Rasyid, yang merasa dirinya lebih pantas menjadi penerus Zapin Api. Ia angkuh, cepat panas, dan merasa Zapin Api miliknya secara turun-temurun.

“Zapin Api bukan untuk orang sepertimu, Fan,” katanya suatu malam.

“Kau tak punya darah itu. Kau cuma memaksakan diri.”

Kata-kata itu menusuk. Tetapi justru di situlah keyakinan Arfan mengeras.

 

****

Setiap tahun, desa mengadakan upacara kecil menjelang musim teduh. Tahun itu, meski sederhana, masyarakat mendorong agar Zapin Api dipertontonkan kembali, sebagai upaya merawat budaya.

Tok Tengku berkata kepada Arfan, “Ini waktu pengujianmu.”

Arfan menelan ludah. Ia tahu ada risiko. Bila mentalnya tak kuat, ia bisa tersulut bara. Bila mantera dan irama jiwanya tak selaras, api akan "menolak" penarinya.

Malam itu, pantai dipenuhi masyarakat. Angin laut berbau garam dan doa. Bara disusun membentuk lingkaran besar, merah membara seperti jantung bumi yang terbuka.

Rasyid juga tampil malam itu. Ia menari duluan. Geraknya bagus, gagah, penuh percaya diri. Api seolah tunduk kepadanya.

“Sekarang kau,” kata Tok Tengku pada Arfan.

Arfan melangkah masuk ke lingkaran bara. Jantungnya berdentum. Langit gelap tanpa bulan, hanya bintang yang menjadi saksi.

Mantera dilantunkan. Angin sejenak berhenti. Api menderu.

Arfan mulai bergerak. Langkahnya pelan, ritmis, mengikuti irama yang menetes dari jiwanya. Ia membayangkan ombak yang menghempas karang, angin yang menunda hujan, dan cahaya subuh yang menyibak kabut. Semua gerakan ia jalani dari dasar hati, bukan dari hafalan.

Namun tiba-tiba…

Angin kencang datang dari arah laut. Bara berhamburan. Api naik setinggi lutut. Orang-orang panik. Arfan hilang ritme, hampir terpeleset.

Dalam hitungan detik, ia bisa saja tersambar lidah api.

“Kalah sudah dia,” bisik seseorang dari kerumunan.

“Tidak cocok dia,” ujar yang lain.

Arfan merasakan dunia melebar dan mengecil bersamaan. Namun di tengah gemuruh itu, ia mendengar suara samar, suara yang pernah ia dengar dalam mimpi.

“Api itu menunggu penjaganya.”

Mata Arfan menajam. Ia mengatur napas. Ia memejamkan mata. Ia membiarkan tubuhnya mengikuti bisikan angin. Dalam sekejap, gerakannya kembali teratur, lebih kuat, lebih mengalir, lebih hidup. Api di sekelilingnya seperti menari mengikuti alurnya.

Arfan tak menaklukkan api. Ia menyatu dengannya.

Ketika ia melompat melewati bara terakhir, orang-orang terdiam. Lalu sorak sorai meledak seperti gelombang yang memukul tebing.

Tok Tengku tersenyum, air mata menggenang.

“Engkau telah diterima, nak.”

Namun bagi Arfan, kemenangan itu bukan kemenangan atas orang lain, melainkan atas dirinya sendiri.

 

****

 

Setelah malam itu, Arfan menjadi pembicaraan desa. Banyak yang bangga, beberapa yang dulu mencibir kini malu. Namun kejutan yang sesungguhnya terjadi tiga hari kemudian.

Seorang pegawai dari kantor kebudayaan kabupaten datang ke desa. Mereka mendengar kabar bahwa Zapin Api kembali dibangkitkan, dan ada penari muda yang berhasil menampilkan versi paling autentik dalam dua dekade terakhir.

“Kami ingin mengundang pemuda itu tampil dalam festival budaya provinsi,” katanya.

Seluruh desa bersorak. Bahkan Rasyid yang awalnya iri, akhirnya datang menjabat tangan Arfan.

“Aku salah menilaimu,” katanya dengan jujur. “Maafkan aku.”

Arfan tersenyum.

“Tidak apa. Kita sama-sama ingin menjaga budaya ini.”

Kejutan lain datang dari Tok Tengku.

“Fan,” katanya suatu sore ketika mereka berdua duduk di tepi pantai. “Aku sudah tua. Kakiku mulai gemetar. Napasku tak sepanjang dulu. Aku ingin kau yang melanjutkan Zapin Api. Kau bukan hanya penari. Kau penjaganya.”

Arfan tercekat.

“Tok… saya belum pantas.”

“Yang pantas bukan yang paling kuat. Tapi yang paling tulus.”

Ombak datang memecah di batu. Cahaya senja menetes pelan seperti tinta emas di permukaan laut. Dalam momen itu, Arfan merasa hidupnya menemukan jalan, jalan yang selama ini ia cari di antara kebingungan dan hening.

 

****

Waktu merambat. Zapin Api kembali hidup di Desa Teluk Rhu. Anak-anak mulai belajar langkah dasar, para remaja ikut membantu mempersiapkan panggung, dan desa kembali dikenal sebagai salah satu penjaga seni sakral di pesisir Selat Melaka.

Festival provinsi berjalan sukses, dan nama Teluk Rhu kembali terdengar sebagai salah satu penjaga seni pesisir yang paling autentik.

Arfan tampil memukau penonton. Beberapa media menulis tentang kebangkitan budaya ini.

Namun bagi Arfan, kebahagiaan itu bukan tepuk tangan, bukan undangan tampil, bukan popularitas.

Kebahagiaan itu adalah ketika ia melihat bara yang dulu hampir padam kini menyala kembali, ketika ia melihat anak-anak desa menatapnya dengan mata berbinar, ketika Tok Tengku tersenyum bangga, dan ketika angin laut menepuk bahunya setiap kali ia selesai menari.

Kebahagiaan itu adalah

Melihat anak-anak desa tersenyum ketika mempelajari gerakan.

Melihat para tetua bangga karena warisan leluhur tak hilang.

Dan setiap kali Arfan menari, ia teringat kata-kata Tok Tengku:

“Yang menari bukan kakimu, Fan. Yang menari adalah jiwamu.”

Malam itu, setelah latihan, ia duduk sendirian di pantai. Ombak datang dan pergi seperti napas bumi. Angin laut memutar rambutnya. Di depan, laut yang gelap berkilauan oleh pantulan bintang. Suara ombak menjadi musik alam.

Di dadanya, cinta itu bersemi, cinta yang tidak berwujud manusia, tetapi cahaya tua yang menghidupkan jiwa.

Cinta pada warisan.

Cinta pada budaya.

Cinta pada nyala api yang tak boleh padam.

Ia tersenyum, menatap cakrawala.

Di hatinya, ia tahu:

“Cinta itu telah bersemi, tumbuh, dan kini menjadi pohon besar yang akarnya menancap pada sejarah dan pucuknya menatap masa depan”.

Desa Teluk Rhu tak lagi hanya menjadi tempat tinggal.

Ia menjadi rumah bagi cinta yang menyala, cinta pada budaya, pada warisan, pada api yang menuntunnya menjadi diri sendiri.

Dan ketika ombak memecah di kakinya, ia mendengar suara itu sekali lagi:

“Api itu telah menemukan penjaganya.”

Dan selama bara itu terus menyala, Arfan akan menari.

Sampai waktunya ia menyerahkan tarian itu kepada generasi berikutnya.

 

TAMAT

 

BIONARASI:                                                                                             

Penulis yang merupakan Ayah dari 4 orang anak dan Atok dari beberapa orang cucu ini dilahirkan di desa kecil bernama Epil, 18 Agustus 1963. Terlahir dari Ayah dan Ibu yang memberinya nama Eduar Daud namun sejak kecil dipanggil Anang Way. Mulai aktif menulis setelah pension dari Pegawai NegeriSipil. Tergabung dalam Asosiasi Penyair Antikorupsi Yes Action (APA YA) dan Komunitas Galeri Sastra (KGS). Saat ini masih aktif sebagai Penyuluh Antikorupsi dan Asesor Kompetensi LSP KPK. Beberapa karyanya sudah diterbitkan dalam buku diantaranya Antologi Puisi Dunia Melangitkan Do’a Melawan Korupsi, Suara Serumpun Anyaman Rasa, Cerita Rakyat Nusantara, Lentera Dari Timur ke Barat, Antologi Cerpen bersifat solo dengan judul buku Perahu Ceper.

 

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular