Rabu, 17 Disember 2025

KETIKA CINTA MULAI BERSEMI: AGUSTINA RAHMAN

 Ketika Cinta Mulai Bersemi

Oleh, Agustina Rahman


Ruang ujian itu terasa seperti lautan yang ditahan dalam kotak kecil, riuh, gelisah, dan penuh gelombang yang tak terlihat. Di antara puluhan wajah yang dipenuhi kecemasan, aku masuk dengan dada yang mengandung doa lebih banyak daripada udara. Hari itu adalah hari penentuan; bukan hanya tentang masa depan pekerjaan, tetapi mungkin juga tentang masa depan hatikumeski aku sama sekali belum menyadarinya.

Bau kertas ujian, derit kursi, bunyi helaan napas panjang para peserta, semuanya menyatu membentuk simfoni kegugupan. Namun dari semua itu, mataku tertumbuk pada seseorang.

Seorang lelaki duduk di baris ketiga, di samping jendela. Cahaya pagi menyelinap dari sela tirai dan jatuh tepat ke wajahnya, membuatnya tampak seperti seseorang yang sedang difoto diam-diam oleh matahari. Ia berkemeja putih sederhana, tetapi ketenangannya membuatnya terlihat berbeda. Seolah dunia yang berputar cepat di ruangan itu tidak mampu menggoyahkan garis tenang di wajahnya.

Aku tidak mengenalnya. Tapi entah mengapa, saat aku melangkah melewati kursinya, jantungku memukul dadaku dua kali lebih keras. Namanya, kelak baru kutahu, dia adalah Hendra.

Seleksi CPNS bukan hanya satu tahap. Setelah ujian tulis, ada tes wawancara yang menungguruang di mana kata-kata menjadi jembatan atau jurang.

Aku datang lebih awal pada hari wawancara, mencoba menata degup jantungku yang seperti burung kecil terjebak di dalam sangkar. Dan di sana, di kursi panjang ruang tunggu, ia duduk dengan membawa map coklat yang sama denganku, dengan tatapan yang tampak lebih tegas daripada hari sebelumnya.

Sepertinya kita sering bertemu tanpa janjian, katanya sambil tersenyum tipis.

Senyum itu membuat hatiku bergetar halus, seperti permukaan air yang tersentuh angin.

Aku duduk di sampingnya. Mungkin memang begitu jalannya. Ia tertawa kecil dan begitu ringan, namun punya daya menenangkan yang aneh. Saya Hendra.

Aku juga menyebutkan namaku. Dan sejak itu, percakapan mengalir. Tidak deras, tetapi cukup hangat untuk membuat ruang tunggu yang dingin itu terasa hangat seperti senja di halaman rumah.

Kami bercerita tentang perjalanan, alasan memilih menjadi guru, harapan yang ingin digapai. Ia bercerita tentang masa kecilnya, tentang ibunya yang ingin ia menjadi seorang pendidik. Sementara aku bercerita tentang mimpiku memiliki kelas sendiri, tempat anak-anak belajar bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang kehidupan.

Saat namaku dipanggil, ia menatapku dan berkata. Bismillah, semoga kita lolos. Biar deg-degannya tidak sendirian. Aku tersenyum. Amin.

Beberapa minggu kemudian, pengumuman kelulusan dibuka. Aku memandangi layar ponsel sambil menahan napas seolah hidupku digantungkan pada satu kata: LULUS

Dan ketika namaku muncul, tubuhku gemetar. Air mataku turun dengan cara yang tak bisa kutahanbukan hanya karena bahagia, tetapi juga lega karena perjuanganku tidak sia-sia.

Teleponku berbunyi.

Nomor tidak dikenal.

Tapi suara di baliknya sangat kukenal.

Selamat ya, ujar Hendra. Kamu lulus.

Aku senang dan menangis. Kamu juga?

Ya. Dan sepertinya kita ditempatkan di madrasah yang sama.” Dunia seakan menahan napas sejenak. Bukan hanya kebetulan. Bukan hanya pertemuan. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Seperti tangan tak terlihat yang mengatur langkah kami satu per satu.

Hari pertama mengajar, angin pagi menggoyangkan daun-daun mangga di halaman madrasah. Di gerbang, aku melihat Hendra berdiri sambil membawa map tebal. Senyumnya merekah saat melihatku.

Kita mulai bab baru hari ini, katanya. Aku mengangguk. Bab yang tidak kita tahu akan membawa ke mana. Dan ternyata benarbab itu membawa kami ke banyak jalan: ruang kelas yang dipenuhi tawa anak-anak, ruang guru dengan aroma spidol dan kertas, halaman sekolah yang menjadi saksi percakapan pendek namun bermakna.

Kami sering bertemu, sering berbicara, sering tertawa karena hal-hal kecil yang tidak penting, tetapi terasa lengkap. Cinta tidak datang dengan gegap gempita. Ia datang dalam bentuk kebiasaandalam sapa pagi, dalam titipan teh hangat, dalam tatapan singkat di balik pintu kelas.

Rasa itu mulai tumbuh seperti benih kecil yang tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di tanah, tetapi ia tumbuh karena memang itulah takdirnya.

Setahun bekerja bersama, Hendra mendatangi rumahku. Waktu itu, cahaya senja meluruhkan bayang di dinding. Ia berdiri di depan pintu rumah, membawa sekotak cokelat dan wajah gugup.

Aku ingin bicara, katanya setelah duduk. Aku menunggu. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya tapi sejak seleksi itu, sejak ruang tunggu itu kamu tidak pernah benar-benar keluar dari pikiranku.

Udara tiba-tiba terasa lebih hening dari biasanya. Aku ingin melangkah lebih jauh, ucapnya pelan. Dan aku ingin langkah itu bersamamu. Tidak ada musik, tidak ada hiasan, tidak ada kata-kata berlebihan. Ia hanya berbicara dengan kejujuran yang membuat jantungku terasa sesak.

Aku menelan napas yang sejak tadi terhenti di tenggorokan. Ada getar kecil yang tak mau diam di dadaku, seperti dua suara yang saling tarik-menariksatu memintaku untuk maju, satu lagi menahanku di ambang keputusan. Jari-jariku saling menggenggam erat, dingin oleh keraguan yang tak bisa kusembunyikan. Untuk sekejap, dunia terasa hening, seakan menunggu apakah aku akan memilih keberanian atau mundur selangkah.

Ya, jawabku. 

Jawaban sederhana yang akan mengubah seluruh kisah hidupku.

Kami menikah beberapa bulan kemudian. Hari itu hujan turun pelan, seperti berkah yang dilayangkan langit. Aku menggenggam tangannya sambil merenungi perjalanan kamidari ruang ujian yang canggung hingga pelaminan yang anggun.

Tahun-tahun awal pernikahan kami dilalui dengan belajar satu sama lain. Kami menata rumah kecil itu perlahan: memilih rak buku bekas untuk ruang tamu, menanam bunga kertas di halaman, dan membagi jadwal mengajar agar selalu ada yang pulang lebih dulu menyiapkan makan malam. 

Hidup tak selalu berjalan lembutada lelah, ada salah paham, ada hari-hari ketika diam lebih panjang daripada bicara. Namun setiap persoalan selalu berujung pada percakapan yang menguatkan. Kami belajar bahwa cinta bukan sekadar perasaan, tetapi juga kerja sama.

Setahun setelah menikah, lahirlah anak pertama kami. Tangis kecilnya memecah kesunyian malam dan mengisi ruang hati kami dengan rasa yang belum pernah ada sebelumnyapercampuran antara takut, bahagia, dan syukur yang menggetarkan. Dari situlah fase baru dimulai: malam-malam tanpa tidur, botol susu yang tercecer, popok yang bergantian kami siapkan sambil tertawa lelah.

Waktu terus berlari tanpa menunggu kami siap.

Tahun-tahun berikutnya berjalan seperti halaman buku yang dibalik satu per satu. Anak kedua hadir membawa keriuhan baru, disusul anak ketiga yang lahir di tengah kesibukan kami mengajar dan membagi waktu. Hingga akhirnya, rumah kecil itu dipenuhi tawa empat anakmasing-masing dengan suara, sifat, dan cerita yang berbeda.

Kini, kadang aku berdiri di tengah rumah sambil mendengarkan riuh mereka bercampur dengan bunyi sendok di dapur dan langkah kecil yang berlarian. Setiap sudut rumah seolah menyimpan potongan waktu: tangisan bayi, langkah belajar berjalan, tawa saat belajar mengucap kata pertama, hingga doa-doa sederhana menjelang tidur.

Dalam hati, aku bertanya-tanya: bagaimana mungkin hidup yang dulu sunyi kini begitu penuh? 

Dan jawabannya selalu sama. Cinta itu tumbuhpelan tapi pasti. Ia tumbuh kuat, tumbuh megah, menaungi kelelahan dan kebahagiaan kami. Dari benih kecil di ruang ujian, ia menjadi pohon rindang yang mengiringi perjalanan hidup kami sekeluarga.

 Suatu malam, setelah anak-anak tidur, aku dan Hendra duduk di teras rumah sambil memandangi langit. Bintang-bintang begitu jernih, seolah sedang turun mendekati bumi.

Kamu ingat ruang ujian itu? tanyaku. Hendra tersenyum. Tentu. Aku bahkan ingat kamu berjalan melewati tempat dudukku dan tidak menoleh sedikit pun. Aku malu, kataku sambil tertawa pelan.

Angin malam menyapu wajah kami, membawa aroma tanah basah dan kenangan-kenangan yang tidak bisa dihitung jumlahnya. Aku bersandar di bahunya. Kita sudah berjalan sangat jauh, ya? Jauh sekali, jawabnya. Dan semua itu berawal dari satu pertemuan kecil yang tidak pernah kita rencanakan.

Di bawah bintang-bintang, aku menyadari satu hal. Cinta tidak selalu datang sebagai dentuman besar yang menggetarkan dunia. Kadang, ia datang pelansekecil pertemuan di ruang ujian, sesederhana tatapan pertama, setenang percakapan singkat di ruang tunggu.

Namun pelan itu justru membuatnya bertahan lama. Dan dari sanalah, hidup kami tumbuh. Bersemi, berbuah, mengakar,  menjadi rumah, dan akhirnya menjadi rumah tangga.

Makassar, 10 Desember 2025

BIONARASI

Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar sejak tahun 2000 - sekarang. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru Mapel Bahasa Indonesia 2023 pada Kementerian Agama. Guru Berprestasi dalam Madrasah Award MAN 2 Kota Makassar (2023 dan 2024), Guru Teraktif dalam Pengembangan Diri (2025). Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigraf Terbanyak (2025), Best Practice Cahaya Madrasah Menerangi Negeri (2025), Kumpulan Fiksi Mini Jawa tapi Betawi (2025), Antologi Cerpen Sahabat Sepanjang Cerita (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.


PELABUHAN TERAKHIR: NURUL HUDA

 PELABUHAN TERKHIR

Oleh Nurul Huda Bakhtiar 


    "Aku hanya takut terlalu tinggi memupuk angan.

Sebab, jatuh sendirian adalah sakit yang disengaja. Sementara kau berpesta di atas deritaku tanpa iba."

Hari ini adalah sidang terakhir, sejak keputusan berat itu menjadi pemutus ikatan yang dulu begitu diagungkan. Hakim sudah mengetok palu keputusan, sepasang manusia yang dulunya saling cinta, kini hanya tinggal cerita masa lalu. Cerita yang tak seorangpun ingin menjadi tokoh utama di dalamnya.


Elsa menarik napas panjang, keputusannya untuk berpisah dari Pandu, adalah yang terbaik. Setelah berpikir dan menimbang baik buruknya. Ia akan menyandang status janda, status yang dianggap sebagian orang sebagai momok menakutkan. Anak semata wayangnya, Akbar, yang tak paham urusan rumit orang tuanya, menjadi korban keegoisan sang ayah. Anak yang baru belajar berjalan itu, telah kehilangan kasih sayang.


Lepas dari neraka pernikahan yang melilit kewasan yang menyesakkan dada. Sejak malam itu, dimana ia mendapati suaminya berselingkuh bersama wanita masa lalu, yang ternyata belumlah seutuhnya sudah. Cinta mereka kembali membara, membakar malam-malam jahanam dengan berbagi peluk paling nista. Jurang menganga lebar dalam biduk rumah tanggannya.


Bukan Pandu saja yang durjana, tapi sepaket dengan kelakuan ibu mertuanya, yang selalu ikut campur, menjadi garam di atas luka yang digoreskan putranya. Lengkap sudah alasan Elsa mengakhiri pernikahan yang baru seumur jagung itu.


Elsa adalah perempuan setia, yang dididik dengan tuntunan agama dari kedua orang tuanya yang seorang kyai besar dari Gunung Sago. Elsa juga pengajar di salah satu padepokan di kota, tempat ia melanjurkan pendidikan sarjananya. Jago bela diri juga. Tetapi, dasar Pandu yang tidak pandai bersyukur, hingga godaan sang mantan, membuat mereka meluncur deras ke jurang perceraian. 


Lupa bahwa di rumah, ada seorang wanita yang selalu menunggunya dengan setia, dengan doa-doanya yang melangit, agar sang kepala keluarga baik-baik saja di luaran sana. Namun, kesetiaan yang dulu terucap lantang, kini ternoda, karena hadirnya orang ketiga, yang katanya lebih seksi  dan lebih mempesona di mata lelaki yang masih berstatus suami. Alasan ia bosan melihat Elsa dengan pakaian yang serba tertutupnya.


Lalu bila hal seperti itu sudah berulangkali terjadi, sekali dua kali dimaafkan, lalu berjanji tak akan mengulangi, namun kesekian kali dipergoki, dengan perempuan yang sama. Wanita mana yang tahan, wanita mana yang sudi diperlakukan demikian, lebih baik memilih mundur dan menarik diri dari kehidupan bersama, yang akan selalu menorehkan luka, memilih mengakhiri ikatan yang tak lagi ada kebersamaan di dalamnya, hampa. 


Sesekali ia ingin menghajar sang suami dengan jurus-jurus ringan, akan tetapi ia tak mau mengotori tangannya, hanya demi seorang penghianat seperti suaminya itu. Membuangnya ke tempat semestinya mungkin lebih baik.


Kini ia bebas dari jerat nestapa, ikatan itu sudah lepas dan tidak lagi membelenggunya. Sesaat rasa sepi sempat mengganggu hari-hari yang dilaluinya, namun mempunyai sahabat yang selalu menyemangati, wajah yang tadinya layu bagai bunga tak disiram hujan, kini kembali berseri. Tak terasa sudah berbilang tahun, ia menjalani kesendirian, rasa sunyi dan hampa kini hilang sudah.


Hingga di suatu hari, sahabatnya Bella, mengenalkannya pada seorang pria, teman kakaknya Tio.


    "Elsa, kenalkan ini mas Tegar, dan mas Tegar ini Elsa." Bella mengenalkan mereka satu sama lainnya.


    "Elsa."

    "Tegar."


Mereka saling menyebutkan nama dan berjabat tangan. Setelah bicara menanyakan ini itu, maka terkuaklah kisah masa lalu, yang mana mereka adalah tetangga dekat waktu masih tinggal di Ciputat dulu. Elsa sering di culik ibunya Tegar ke rumah mereka, karena tidak ada anak perempuan. Ibu Tegar begitu menyayangi Elsa kecil. Mamanya Elsa dan ibunya Tegar adalah dua sahabat yang sama-sama hebohnya. Yang satu tidak punya anak perempuan, yang satunya lagi, tidak ada anak laki-laki. Seru dan lucu saja kisah mereka dulunya.


Bila Tegar sedang di rumah Elsa, maka ayahnya Elsa akan mengajari Tegar ilmu-ilmu beladiri, lengkap dengan jurus-jurusnya. Hingga Tegar terbentuk menjadi pribadi santun, yang digilai banyak wanita. Hidup di Turki tak membuatnya hanyut dalam pergaulan bebas. Hingga ia pulang ke tanah air.


Dulu, saling menculik anak sudah hal yang tidak mengherankan lagi bagi suami kedua perempuan itu. Tegar di rumah Elsa, Elsa di rumah Tegar. Hingga Tegar pindah ke Turki diboyong ayahnya, sejak saat itu mereka tidak lagi terhubung satu dengan yang lain. 

Tegar membawa rasa cintanya, dengan kesetiaan menjaga harkat dan martabatnya, sebagai lelaki sejati.


Tegar yang sejak dari kedatangannya ke pesta sabahatnya Tio itu, sudah terpesona dengan Elsa, wanita itu begitu cantik dengan kebaya pink baby nya. Serasi sekali dengan wajahnya yang di rias natural. Sesekali ia mencuri pandang di sela pembicaraanya dengan sahabat yang lain. Dan ia pun mendengar cerita dari Bella, tentang kisah masa lalu wanita yang diam-diam sejak dulu dicintainya dalam kesunyian. Yang ternyata Wanita itu adalah gadis berlesung pipi, yang sering bertukar tempat dengannya dulu. Gadis berkepang dua, yang pipinya selalu memerah bila kena cahaya matahari.


Singkat cerita, dua tahun sejak perceraian Elsa dan Pandu, Tegar datang melamarnya. Ia tak ingin berlama-lama dalam hal ini karena umurnya yang tidak lagi dalam masa bermain main. Pria matang itu membawa Elsa Damayanti ke pelaminan. Dengan tekad dan restu orang tua, Elsa menerima pinangan Tegar. Lelaki campuran Turki Medan itu, akhirnya telah sah menjadi suaminya.


    "Aku adalah bunga yang dibuang di jalanan, kemudian kau datang memungutnya, membawanya ke jambangan terindah di hatimu, menjadikanku ratu. Bagaimana tidak bersyukurnya aku, memilikimu, duhai suamiku, Bang Tegar Armagan." Elsa berkata dalam hati.


Terkadang apa yang pergi, tidak melulu menyakitkan, Melepaskan tidak selalu dibarengi pedih akibat luka yang digoreskan. Bukankah sebutir intan yang berkilau, terlahir dari begitu hebatnya tekanan, hingga menjadikannya kuat.


    "Terimakasih sudah menerimaku, tuntunlah aku menjadi istri yang sholehah." Elsa memandang wajah suaminya lembut.


    "Tentu, mantan adik tersayangku." Tegar mencubit lembut pipi istri cantiknya itu.


    "Kita sama-sama belajar, ingatkan aku bila ada hal yang tidak berkenan di hatimu." Tegar kembali bicara.


Begitulah kisah Elsa yang disia-siakan suaminya, lalu kembali dipertemukan Sang Pencipta dengan lelaki yang mungkin saja cinta pertamanya. Hidup bahagia itu adalah pilihan, memampukan bangkit dari keterpurukan dan tidak berlama-lama hanyut dalam kesedihan. Pun begitu dengan Tegar. Sejauh apa perjalan yang sudah ia jalani, pada akhirnya berlabuh juga di dermaga yang sudah di siapkan Tuhan untuknya. Sungguh Tuhan Maha Baik pada umatNya.


Di tahun kedua pernikahan mereka, Elsa melahirkan sepasang anak kembar yang sehat dan menggemaskan. Rumah mereka semakin semarak oleh tangis dan tingkah lucunya. Akbar, anak Elsa dengan Pandu juga sangat menyayangi kedua adiknya.


    "Ibu, apakah ibu dan ayah akan tetap menyayangiku, meski sudah ada adik-adik ini?" Akbar bertanya suatu pagi kepada ibu dan ayah sambungnya.


    "Tentu, Nak. Kasih sayang kami tak akan pernah berubah kepadamu. Meski nanti lahir lagi adik-adikmu yang lain." Tegar menjawab sambil membawa Akbar ke dalam pelukannya.


    "Terima kasih, Ayah." Akbar memeluk erat Tegar.


Oya, Nak, mari kita lanjutkan latihanmu, biar kelak kau menjadi jagoan paling keren bagi adik-adik kesayanganmu itu. Ayoo.."

Tegar berusaha mencairkan suasana yang sedikit tegang tadi.


Dada Elsa seketika menghangat melihat bagaimana Tegar memperlakukan sang anak. Akbar yang haus akan kasih sayang seorang ayah, menjadi begitu bahagia. Ia menjadi anak yang patuh dan taat kepada orang tuanya. Menghormati Tegar, sebagaimana ibunya ajarkan. Kadang Akbar membantu ibunya mengganti popok sang adik. Atau memijat lembut kepala Tegar kala mereka sedang bersantai di ruang keluarga.


Setahun kemudian, Elsa dan Tegar sepakat membangun Rumah Terapi yang diperuntukkan bagi anak-anak pecandu obat-obat terlarang. Mereka dalam pengawasan orang-orang pilihan, yang didatangkan dari padepokan sang ayah. Mereka juga diajarkan dasar-dasar kehidupan, ilmu beladiri dan ilmu berdagang untuk bekal mereka kelak jika sembuh dari ketergantungan. Sudah banyak yang berhasil hidup layak. Bahkan ada beberapa dari mereka menjadi pengusaha yang cukup disegani di luaran sana. Karena ketekunan dan kerja keras, serta tekad yang kuat untuk tak lagi tergoda barang haram. 


Di suatu senja yang damai, tiba-tiba berita menggemparkan itu di sampaikan seseorang yang saat itu datang melihat anaknya yang sedang menjalani masa pemulihan. Elsa sedang melatih anak-anaknya di halaman belakang rumah mereka. Bahwa sang mantan suaminya, ayahnya Akbar, di temukan sekarat di sebuah kamar hotel di tengah kota. Kabar yang tidak saja memalukan, tetapi juga memilukan. Bagaimana tidak, sang mantan diketaui habis pesta narkoba dan over dosis bersama sang kekasih. Mereka sudah dilarikan ke rumah sakit.


Bagaimana Elsa memberi tahu Akbar?. Mengingat selama ini ia selalu bercerita bahwa sang ayah sedang bertugas jauh. Tak sedikitpun ia menjelekkan Pandu. Meski memang Pandu tak pernah bertanya tentang anaknya, apalagi memberi nafkah. Pandu hanyut dalam pesta neraka dunia yang ia ciptakan dengan kesadaran.


Hingga suatu hari, kedua orang tua Pandu mendatangi Elsa di Rumah Pemulihan. Meminta tolong agar mau merawat Pandu yang kecanduan.

Aduhaii.. 

Bagaimana Elsa bersikap seharusnya. Mengingat begitu jahatnya sang mantan mertua di masa lalu.

Tetapi, jiwa Elsa begitu lapang. Ia memaafkan masa lalunya.


    "Baiklah, Tante, saya akan bicarakan dulu dengan suami saya." Elsa menjawab datar. Dan mantan mertuanya ini, tak sedikitpun bertanya kabar sang cucu. Tetapi ya sudahlah, ia tak terlalu berharap.


Pandu selamat, meski dirawat cukup lama di rumah sakit.  Setelah dibolehkan pulang, ia harus menjalani rehabilatasi. Namun, malang bagi sang kekasihnya, nyawanya tak bisa diselamatkan.  Ia wafat tak lama setelah tiba di rumah sakit. 


"Mas, tadi pagi, neneknya Akbar datang ke sini. Beliau minta tolong padaku. Bagaimana menurut mas?" Elsa meminta pendapat sang suami.


    "Sayang, kenapa ragu. Kita kan sudah sepakat akan membantu siapa saja. Mas percaya padamu. Jadi tidak usah ragu. Kita hadapi bersama ya." Tegar mengusap lembut kepala perempuan berwajah teduh itu.


Hingga Pandu dinyatakan sehat, dan Akbar pun mau mendekatkan diri kepada sang ayah.

    "Maafkan ayah, Nak." Pandu tak dapat menahan air mata yang sejak tadi ditahannya.

    "Maafkan ayah." Lelaki yang dulu mengabaikan sang anak, kini terbenam dalam penyesalan yang dalam.


Tegar menepuk lembut pundaknya. "Sudah, Bro. Kita sebagai manusia tak luput dari salah dan khilaf.


    "Terimakasih, telah mau membantu lelaki jahat ini, bro. Semoga keluargamu senantiasa selalu bahagia dan dalam lindungan Allah.

Aku pamit ya. Sekali lagi titip Akbar. Kau memang pantas menjadi ayahnya.


Assalamualaikum 


Tanah Putih, 12 Desember 2025



BIONARASI

Namaku, Nurul Huda Bakhtiar, seorang penulis dan pecinta sastra yang masih terus belajar, mengembangkan diri dan berdedikasi. Dengan hobi menulis, telah menghasilkan berbagai karya tulis yang menginspirasi dan memberikan dampak positif bagi pembaca. Saya akan terus mengembangkan bakat dan berbagi pengalaman melalui tulisan-tulisan, yang semoga saja bermamfaat bagi orang banyak.


Senang berada di sini, terima kasih.

Salam doa dari Bumi Sriwijaya


SAAT CINTA BERSEMI DI PERSIMPANGAN TAKDIR: ZAMRI

 SAAT CINTA BERSEMI DI PERSIMPANGAN TAKDIR

Nukilan: Zamri H. Jamaluddin (Brunei)


Udara malam di pinggiran kota itu dingin dan bening, membawa aroma lembut bunga kenanga yang ditanam di sepanjang jalan Taman Riadah. Di sebuah bangku kayu bercat putih yang menghadap ke tasik yang tenang, Yusof duduk seorang diri. Tempat itu telah lama menjadi persinggahan wajibnya, sebuah ruang jeda selepas bekerja sebelum pulang ke rumah yang kian terasa asing.


Cahaya bulan memantul di permukaan air tasik, seolah menyimpan rahsia sunyi yang sama dengan hatinya. Pakaian kerjanya masih rapi, menandakan dia baru sahaja menamatkan satu lagi syif tambahan. Sejak sekian lama, hubungan Yusof dengan isterinya, Maya, membeku tanpa kata. Rumah yang sepatutnya menjadi tempat kembali bertukar menjadi ruang tanpa kehangatan.


Yusof memilih untuk memanjangkan waktu kerja. Pulang awal hanya menyajikan kebisuan yang memenatkan jiwa. Maya lebih banyak mengurung diri bersama anak-anak, dan komunikasi antara mereka sekadar mesej ringkas tanpa emosi, tentang jadual kerja, keperluan rumah, atau urusan anak-anak. Tiada lagi perbualan hati ke hati, tiada tawa, apatah lagi keintiman emosi sebagai pasangan hidup.


Namun Yusof tetap bertahan. Bukan kerana cinta yang masih menyala, tetapi kerana tanggungjawab. Maya tidak bekerja, dan Yusof adalah satu-satunya sandaran ekonomi keluarga. Demi anak-anak, dia menelan perit yang tidak terlihat oleh sesiapa.

Malam itu, Yusof tidak sendirian.


Beberapa meter darinya, seorang wanita berdiri memandang tasik, membelakangi dunia. Seolah-olah dia juga sedang mencari jawapan dalam riak air yang tenang.

Wanita itu Aisyah, ibu kepada tiga orang anak. Beban yang dipikulnya tidak kurang berat, malah mungkin lebih menghimpit. Seorang penjawat awam, Aisyah menambah pendapatan dengan menjual kuih dan menerima tempahan jahitan demi menampung keperluan keluarga. Suaminya, Malik, berpendapatan tidak menentu dan sering meletakkan segala kesalahan di bahu Aisyah.

Di sebalik wajahnya yang tampak cekal, tersimpan luka yang tidak mudah disembuhkan. Rumah yang sepatutnya menjadi tempat berlindung sering berubah menjadi ruang yang menyesakkan jiwa. Namun seperti Yusof, Aisyah bertahan, demi anak-anaknya, demi amanah yang digalasnya sebagai seorang ibu.


Aisyah menoleh perlahan apabila menyedari kehadiran Yusof. Pandangan mereka bertaut. Dalam sekelip mata, mereka saling mengenali satu perasaan yang sama, keletihan, dan kerinduan akan sesuatu yang telah lama hilang.


    “Indah malam ini, ya?” sapa Yusof, suaranya tenang.

Aisyah tersenyum kecil. “Ya. Damai. Seolah-olah dunia berhenti seketika.”

Yusof mempersilakannya duduk. “Kadang-kadang, rumah yang sepatutnya menjadi tempat pulang… menjadi tempat yang paling sunyi.”


Kata-kata itu menyentuh tepat ke dasar hati Aisyah. “Sunyi yang paling menyakitkan,” balasnya perlahan, “ialah sunyi bersama keluarga sendiri.”


Perbualan mereka mengalir tanpa dipaksa. Yusof berkongsi tentang dinginnya perkahwinannya, tentang rasa tidak dihargai meskipun telah memberi segalanya. Aisyah pula menceritakan perjuangannya sebagai isteri dan ibu yang sering terpaksa menahan lelah sendirian.


Semakin lama mereka berbicara, semakin jelas persamaan takdir yang mengikat mereka. Dua jiwa yang terperangkap dalam perkahwinan yang retak, mencari ruang untuk bernafas.


Cahaya bulan menjadi saksi, dan angin malam membawa rasa tenang yang tidak mengghairahkan, tetapi menenangkan. Mereka menemukan sesuatu yang lama hilang, didengar dan difahami.


    “Susah bila kita dah beri yang terbaik, tapi tetap tidak dipedulikan,” ujar Yusof.

Aisyah mengangguk. “Rasa seperti hidup untuk semua orang, kecuali diri sendiri.”


Perasaan itu hadir perlahan, halus, tanpa dirancang. Bukan sekadar simpati, tetapi satu getaran yang lahir daripada rasa saling melengkapi. Yusof melihat ketabahan dalam diri Aisyah, sementara Aisyah merasakan kelembutan dan tanggungjawab dalam diri Yusof, sesuatu yang asing, namun mendamaikan.

Namun kesedaran itu datang bersama dilema. Mereka masing-masing terikat dengan janji suci.


    “Kita tidak boleh menafikan kenyataan,” kata Yusof akhirnya. “Kita ada keluarga, ada amanah.”

Aisyah menarik nafas panjang. “Saya tahu. Perasaan ini… ujian.”


Mereka sedar, cinta yang bersemi itu bukan untuk dimiliki, tetapi untuk difahami. Mungkin pertemuan itu bukan untuk menyatukan, tetapi untuk menguatkan.

    “Allah tidak menemukan kita tanpa sebab,” ujar Yusof perlahan. “Mungkin untuk mengingatkan bahawa kebahagiaan itu wujud, dan kita masih mampu memperbaiki hidup masing-masing.”


Aisyah tersenyum, matanya berkaca. “Mungkin inilah cara Tuhan memberi cahaya, bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk kembali dengan lebih kuat.”


Malam itu menjadi pertemuan terakhir mereka di bangku kayu Taman Riadah.

Angin berhembus lebih dingin dari biasa, seolah membawa firasat yang tidak terucap. Yusof dan Aisyah duduk bersebelahan, namun jarak di antara mereka terasa lebih jauh daripada sebelumnya. Bukan kerana hati yang menjauh, tetapi kerana kesedaran yang semakin mendekat.

    “Entah kenapa malam ini terasa lain,” ujar Aisyah perlahan, memandang tasik yang memantulkan cahaya bulan yang tidak sempurna.


Yusof mengangguk. “Mungkin kerana kita sudah terlalu lama berdiri di persimpangan. Dan setiap persimpangan… menuntut pilihan.”


Aisyah tersenyum hambar. Di dadanya, cinta itu masih hidup, tenang, dalam, dan jujur. Namun dia tahu, tidak semua cinta ditakdirkan untuk diperjuangkan dengan memiliki.


    “Ada perasaan yang indah,” kata Aisyah, suaranya hampir berbisik, “kerana ia hadir tepat pada masanya. Tapi ada juga perasaan yang menjadi salah… jika kita membawanya lebih jauh.”


Yusof menunduk. Kata-kata itu menampar lembut jiwanya. Dia menyedari, kehadiran Aisyah telah menyelamatkannya daripada keputusasaan, tetapi juga mengujinya pada batas yang paling rapuh.


    “Kita bukan bertemu untuk saling melukakan keluarga masing-masing,” ujar Yusof akhirnya. “Kita bertemu untuk diingatkan bahawa hati kita masih hidup.”

Air mata Aisyah gugur tanpa diseka. “Dan bahawa kita masih mampu memilih yang benar, walaupun menyakitkan.”


Mereka diam lama. Tidak ada pelukan. Tidak ada sentuhan. Hanya keheningan yang sarat makna, keheningan dua insan yang memilih untuk berpisah dengan cara yang terhormat.


    “Aisyah,” kata Yusof dengan suara yang stabil walau hatinya bergetar, “jika suatu hari nanti awak teringat saya, ingatlah bukan sebagai lelaki yang mencuri kebahagiaan awak… tetapi sebagai seseorang yang pernah mendoakan awak dari jauh.”

Aisyah mengangguk, tersenyum di sebalik air mata. “Dan awak, Yusof… akan saya ingat sebagai seseorang yang mengajar saya bahawa saya layak dihargai, walaupun bukan oleh awak.”


Mereka bangkit serentak. Tidak ada janji untuk bertemu lagi. Tidak ada pertukaran nombor. Mereka memilih untuk memutuskan benang sebelum ia menjadi jerat.


Di persimpangan jalan itu, mereka berpisah arah.

Yusof melangkah pulang dengan langkah yang lebih berat, namun hatinya lebih jujur. Dia tahu, jalan memperbaiki rumah tangganya mungkin panjang dan sukar, atau mungkin berakhir dengan keputusan yang adil dan bermaruah. Tetapi dia pulang sebagai lelaki yang kembali sedar akan amanahnya.


Aisyah pula berjalan menuju hidupnya dengan dada yang luka, namun penuh cahaya. Dia tahu, pertemuan itu telah menguatkannya untuk berdiri, sama ada mempertahankan perkahwinannya dengan batas yang jelas, atau memilih jalan yang lebih selamat untuk dirinya dan anak-anak, dengan restu dan pertimbangan Ilahi.


Bangku kayu itu kembali kosong.

Namun di situlah cinta pernah bersemi, bukan untuk dimiliki, tetapi untuk mengajar makna keikhlasan, pengorbanan, dan keberanian memilih kebenaran. Kerana ada cinta yang paling tinggi nilainya bukan ketika ia digenggam, tetapi ketika ia dilepaskan demi redha Tuhan. Dan pada perpisahan itulah, takdir mereka menjadi lebih jujur.


TAMAT

Jumaat, 12 Disember 2025

CINTA BERSEMI DI SAAT ITU

 CINTA BERSEMI DI SAAT ITU

  Lia Rick

Kepada hati yang berbunga,daripada perasaan cinta yang sedang bersemi.Masihkah segar di ingatanmu tentang kita?Dan masihkah kekal semua memori manis itu?Saat cinta bersemi senyuman sering terukir.Setiap bait kata yang dilontar pastinya indah menusuk kalbu.

 Aku duduk di beranda sambil menonton drama kegemaranku melalui aplikasi Youtube.Udara dingin di pagi hari membuat aku merasa nyaman.Seketika fikiranku melayang mengimbas masa lampau.Hari di mana aku akhirnya menemui peneman hidupku yang masih setia di sisiku sehingga ke hari ini.

   Lapan tahun yang lalu...Hari itu,aku baru saja menyelesaikan tugasan aku yang terakhir.Aku melangkah keluar dari perkarangan pejabat.Malam itu cuaca sangat dingin.Aku memeluk tubuh sambil melepaskan keluhan.Aku hanya berjalan kaki menuju ke arah rumah sewa yang jaraknya hanya lapan kilometer dari pejabat.Rakan sekerjaku yang lain sering menegur aku supaya tidak kerap berjalan kaki apabila pulang ke rumah.”Kenapa kau kerap sangat berjalan kaki?Maxim kan ada.Sekarang ni zaman canggih,selagi ada duit semua jadi mudah di hujung jari”.Itulah salah satu kata-kata yang pernah dilontarkan kepada aku.

Aku suka berjalan kaki kerana merasa nyaman dengan udara segar di waktu malam.Aku sering melayan perasaan sendiri yang mungkin sudah lelah tetapi masih sedang berjuang mencari di mana letaknya kebahagiaan diriku.

Malam itu, aku menghadiahkan diriku masakan yang enak.Sedang aku menikmati masakan diri sendiri,telefon aku tiba-tiba berdering.Aku melihat nama mama terpapar pada skrin.Aku terus menjawab panggilan tersebut. “Helo Ma..”

 “Ati bila kamu nak mohon cuti? Jangan lupa Jumaat nanti hari jadi papa.Mama nak kita semua kumpul sama-sama.Dah lama sangat kamu dan adik-beradik tak balik kampung”.Mama terus maluahkan apa yang terbuku dalam hati sekaligus menyatakan tujuannya menelefon aku malam itu.Aku hanya memberitahu mama yang aku akan memohon cuti rabu nanti.

Aku sebenarnya rasa rimas nak balik kampung.Salah satu sebabnya aku tak tahan dengan mulut mak cik aku yang sorang ni.Tak habis-habis nak ceramah tentang jodoh,cinta dan banyak lagi hal-hal yang berkaitan dengan perkahwinan .Tetapi aku tetap akan sabar dan tahan kemarahan  setiap kali dia buka mulut.Aku tidak mahu keluarga menganggap aku bersifat kurang ajar.Bila aku fikir balik umur aku baru 28 tahun,awal sangat nak berumah tangga apatah lagi aku masih perlukan masa untuk sembuhkan hati.Tambahan pula seluruh ahli keluarga aku tak pernah memaksa untuk aku hidup berumah tangga.

Pagi menjelma lagi.Aku menjalani rutin harianku seperti biasa terutamanya bekerja.Inilah diriku ketika ini.Aku pada masa kini yang masih menyimpan luka lama untuk dijadikan alasan menghadapi hidup mandiri.

Sudah lama aku terjerat dengan perjalanan hidupku yang cacau.Sesekali aku mempersoalkan perasaan ini.Apa aku memang tidak bisa jatuh cinta atau aku hanya berwaspada dengan perasaan cinta?Tapi aku masih ingat bagaimana rasanya perasaan itu.Perasaan yang dikurniakan kepada semua manusia.Perasaan cinta.Cinta yang sejati adalah angan setiap insan yang sudah merasakan pahitnya menempuh perjalanan mencari kebahagiaan saat perasaan itu bersemi.Namun apakan daya, kita hanyalah manusia tidak punya kuasa untuk mengubah takdir sendiri.Orang kata biar masa yang menentukan.

Aku tiba di pejabat lebih awal hari ini.Kebiasaanya aku akan tiba di pejabat tepat pada masa yang ditetapkan.Perutku berkeroncong kerana lapar.Aku mengatur langkah menuju ke kafe.Setibanya aku di kafe aku mempercepatkan langkah kerana tidak mahu makanan kegemaranku laris terjual.

“Hai kak!” aku menyapa Kak Shaz salah seorang pekerja di kafe tersebut.Aku memang akrab dengan Kak Shaz. Belum sempat aku membuka bicara Kak Shaz memintas dengan pantas. “Nah!”Kak Shaz menhulurkan sebuah kotak bungkusan makanan kepadaku.

“Wah!Thank you kak.”  Aku menyambut bungkusan makanan tersebut dengan penuh rasa gembira.Aku bertanya kepada Kak Shaz berapa jumlah yang aku perlu bayar.Kak Shaz hanya menjawab soalan aku dengan senyuman penuh makna lalu berkata “Tak perlu bayar.Hari ini akak belanja.” Aku mengukirkan senyuman. “Betul ke ni kak?” Kak Shaz hanya mengangguk.Aku pun terus mengucapkan terima kasih lalu beredar pergi.

Setibanya aku di ruangan kerja,aku terus menyantap makanan kegemaranku.Ayam goreng dan sambal nasi lemak yang sangat menggoncang seleraku.Tiba-tiba, salah seorang rakan sekerjaku meluru ke arah aku. “Vian kenapa hari ni banyak sangat kau beli ayam goreng?Aku pun tak sempat beli tau.” Aku hanya menjongketkan bahu sambil menikmati makanan tersebut.

Serra seorang lagi rakan sekerjaku yang duduk di sebelah aku terus menyampuk. “Vian kau tak cakap pun kau ada pakwe!”katanya.Aku terkejut mendengar perkataan ‘pakwe’ terlontar dari bibirnya dan aku tersedak.Dengan pantas Serra menghulurkan sebotol air mineral kepadaku.Aku meneguk air tersebut perlahan-lahan.Ketika aku sudah stabil aku menenangkan diri lalu bertanya kepada Serra, “Mana kau dapat berita tak sahih ni?”.Serra dan rakan sekerjaku saling berpandangan kemudian mengalihkan semula pandangan mereka kepada aku.

Kemudian Serra pun membuka cerita bagaimana dia mendapat berita tak sahih tersebut.Aku menumpukan perhatian sepenuhnya kepada Serra mengabaikan rasa laparku yang sebentar tadi sudah mulai susut. “Macam ni Vian...” Serra membuka bicara. “Masa aku beratur kat kafe tadi,ada sorang mamat ni.Dia pesan ayam goreng 6 ketul.Kak Shaz pun tanyalah dekat mamat tu kenapa makan banyak sangat.Aku rasa mamat tu macam tak biasa makan banyak.Lepastu,dia minta Kak Shaz bungkus ayam tu.Tapi dia pesan kat Kak Shaz untuk bagi bungkusan ayam tu kat kau.” Aku diam seketika .Entah mengapa tiba-tiba selera makan aku juga hilang.

 “Aku anggap lelaki tu pakwe kau sebab macam dia tahu banyak pasal kau.” Serra berkata lagi.Aku hanya membisu menutup semua persoalan yang mulai merayap dalam fikiranku.Apakah mudah untuk cinta bersemi sekali lagi di hatiku ini?Entah mengapa aku terus memikirkan tentangnya.

Aku duduk di hadapan komputer ribaku menyelesaikan tugasan terakhir untuk malam itu.Setelah menyelesaikan tugasan aku terus mengatur langkah untuk pulang.Aku singgah di sebuah kedai serbaneka untuk membeli beberapa makanan ringan.Setelah selesai memilih beberapa jenis makanan ringan aku beratur untuk membuat pembayaran.Ketika tiba giliranku untuk membayar,aku memandang sekilas wajah juruwang.Tanpa sedar aku memandang lagi wajahnya buat kali kedua.

Juruwang yang sedar akan pandangan Cerly terus melambaikan tangan tepat di hadapan wajahnya.Cerly yang tersedar akan lambaian itu terus mengukir senyum.Kemudian juruwang itu berkata “Tajam betul pandangan puan tadi.Macam nak tembus muka saya ni.” Aku tertunduk malu.Padanlah diriku ditegur sedemikian.Aku hanya tersenyum janggal ketika juruwang itu berkata begitu.Aku terus membayar semua makanan ringan yang dibeli dan beredar dengan cepat.Juruwang hanya memerhati Cerly beredar dari kawasan kedai.

   Setibanya aku di rumah,aku terus mencampakkan semua makanan ringan yang aku beli lalu menghempaskan diri ke sofa.Malam itu aku melelapkan mata dengan bayangan wajah si juruwang.Entah mengapa wajah itu tidak terasa asing.Apakah dia dari masa laluku?Aku bertanya kepada diri sendiri.Keesokan harinya,setelah tamat waktu bekerja aku bergegas ke kedai serbaneka yang sama.

 Aku mulai teringat identiti sebenar kelibat juruwang tersebut.Ketika aku tiba di kedai aku terus menemui juruwang tersebut lalu bertanya “Maaf nama awak Mindarlo kan?” Juruwang itu menatap aku sambil menghadiahkan senyuman kepadaku. “Nampaknya kita ni memang jodoh kan?” dia bertanya.Aku hanya tersenyum tipis.Aku masih ingat pertama kali aku bertemu dengan Mindarlo.Ketika itu,aku sedang berjalan kaki menuju ke kampus namun aku terlupa membawa kad namaku tetapi dengan tiba-tiba dia datang dan menyerahkan kad namaku.

Sejak kejadian itu,aku sering meluangkan masa bersamanya.Tetapi hubungan kami tidak berubah ke arah cinta tetapi lebih terarah kepada hubungan persahabatan kerana aku sudah jatuh cinta pada orang lain.Namun akhirnya, setelah tamat pengajian tinggi aku dan Mindarlo terpisah atas alasan perkerjaan.Dan kisah cinta aku dengan orang yang sudah mencuri hatiku hancur lebur kerana perselisihan yang sering terjadi.

 Mindarlo tersenyum lebar melihat kehadiran Cerly. ‘Aku tahu kau akan jumpa aku lagi’ getus hatinya.Tanpa diketahui oleh Cerly dia diam-diam memendam perasaan kepadanya.Mindarlo hanya menunggu masa yang sesuai untuk meruntuhkan tembok trauma dalam diri gadis kesayangannya itu.Mindarlo tahu telah tiba masanya untuk dia membina kepercayaan gadis itu.

 Pada hari-hari berikutnya,Mindarlo sudah mula mengejar gadis itu.Setiap hari dia menghubungi gadis itu bertanya bagaimana hari yang Cerly lalui,dia juga sering memberikan gadis itu hadiah dan sentiasa cuba menjadikan dirinya tempat untuk gadis itu bersandar meluahkan segala apa yang dihadapi.

Bagi Cerly pula,dia mula merasakan perasaan itu lagi.Perasaan yang pernah menghancurkan kepercayaannya untuk memulakan hubungan baru.Dari mana datangnya perasaan yang mulai datang tanpa diundang ini?Apa yang pasti perasaan itu kini bersemi lagi kerana kehadiran insan yang amat dia rindui selama ini.Dia perasaan akan hubungan dia dan Mindarlo yang semakin ke arah perhubungan yang lebih rapat.Apakah persahabatan ini akhirnya akan menjadi ikatan yang kita duga?

Pagi itu telefonku berdering.Aku melihat nama yang terpapar di skrin.Aku menjawab panggilan itu, “Selamat pagi Pa...”.Aku fokuskan pendengaran kepada suara papa di seberang sana.Papa yang menelefon pagi itu bertanya khabar dan ingin menyimpan masa untuk berbual dengan diriku.Sebagai anak,aku pasti akan sentiasa melayani ahli keluarga dengan baik.Selesai sahaja perbualan kami pagi itu aku meminta izin untuk menutup panggilan itu dan bergegas untuk pergi bekerja.  

 Seperti biasa setelah tamat masa bekerja aku akan singgah ke kedai serbaneka tempat Mindarlo bekerja.Sejak aku merasakan perasaan ini,ingin saja aku melihat dirinya dan berada di sampingnya sepanjang masa.Tetapi aku masih tidak pasti jika dia juga ada perasaan yang sama.

Sebaik sahaja aku masuk ke dalam kedai aku terus menoleh ke arah kaunter pembayaran.Aku melihat Mindarlo yang masih melayan pelanggan.Aku berjalan ke arah peti sejuk lalu mengambil sekotak minuman berperisa lalu berjalan ke arah kaunter untuk melakukan pembayaran.Aku meletakan minuman tersebut di atas kaunter.Mindarlo tersenyum lalu mengambil minuman tersebut untuk di imbas.

“Awak sengaja nak bagi saya kerja lebih masa?” dia mula membuka bicara.Aku tersengih sambil menghulurkan beberapa keping wang kertas untuk membayar minuman yang aku beli.Dia menyelesaikan pembayaran itu dengan cepat.Kemudian,dia berjalan masuk ke bilik staf.Seorang lelaki keluar dari ruangan staf tersebut. ‘Mungkin dia menggantikan Mindarlo’ aku bermonolog.

Beberapa minit kemudian Mindarlo keluar dari bilik staf. “Malam ni saya teman awak balik ya?” katanya. “Syif awak memang dah habis atau awak minta kawan awak gantikan?” aku bertanya.Dia tersenyum lalu menjawab “Syif saya dah habis sayangku...”.Aku tersentak seketika.Biar betul? Baru tadi dia panggil aku dengan panggilan sayang.

“Jom!Kita balik.” Dia menarik tanganku membawa aku keluar dari kedai.Semasa dalam perjalanan balik,kami berdua saling membisu melayani perasaan masing-masing.Tetapi ketika tiba di pertengahan jalan, “Awak...” dia memanggil aku.Aku menoleh ke belakang lalu bertanya “Ada apa ni?”.Dia mengeluarkan sehelai sapu tangan dari poketnya lalu meminta agar aku menutup mataku menggunakan sapu tangan tersebut.Aku mulai berdebar. “Awak kita masih kat tepi jalan ni.Tak boleh ke tunggu sampai kat depan pagar rumah nanti?” aku mulai meluahkan kegusaran kepada dia.

“Awak tutuplah dulu mata awak dengan sapu tangan tu.” Dia mengulangi permintaannya.Aku mengeluh kemudian menutup mata dengan menggunakan sapu tangan tersebut. “Tapi awak jangan macam-macam tau!Siap awak saya kerjakan kalau awak cuba buat apa-apa yang tak elok.” Aku memberi amaran kepada dirinya. “Ya.Tapi saya nak awak tutup mata sekejap je.” Dia menjawab.Aku hanya terpaku dengan mata tertutup.

Tidak lama kemudian, “Awak dah boleh buka mata.” Dia berkata.Aku dengan pantas membuka sapu tangan di mataku.Ketika aku membuka mata,Mindarlo sudah berdiri dihadapanku sambil memegang jambangan bunga dan sebentuk cincin. “Cerly...lama saya tunggu saat ini.Sudikah awak menjadi suri hati saya yang pertama dan terakhir,menemani susah senang saya serta mencintai saya seikhlas hati awak?” Dia melamar aku!Aku terkesima lalu berkata “Hebat betul pawana cinta awak ni kan? Runtuh tembok kebal dalam diri saya ni.” Aku mengambil cincin dari tangannya dan menyarungkan di jari manisku.

“Saya sudi dan berharap awak juga sudi jadi peneman hidup saya sehingga maut memisahkan kita.” Mindarlo tersenyum lebar kerana itulah perasaan yang sungguh indah.Dia merasakan bunga-bungaan mekar indah di dalam hatinya.

“Sayang...kenapa jauh sangat fikiran awak melayang?” tanya Mindarlo yang kini bergelar suami kepada diriku.Aku tersenyum sambil mengambil lalu mengenggam erat tanganya. “Saya teringat masa mula-mula cinta kita berputik.” Aku berkata sambil tersenyum.Aku akhirnya menemui kebahagiaan diriku.

 Ketika dua hati yang sama bertemu di masa yang tepat cinta pasti akan bersemi di saat itu.Semua terasa indah ketika cinta beralun menjadi irama yang syahdu.Cinta itu adalah idaman semua yang menerima erti cinta dengan penuh penghayatan.Tanpa ragu berpaut pada satu hati yang akan menjadi harta terindah.Cinta bersemi tidak akan pernah terurai menjadi punah selagi tiada badai yang menghempas.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

(1882 PATAH PERKATAAN)






BIODATA PENULIS

Nama:Cartika Rickson

Umur:19 Tahun

Tempat Lahir:Hospital Kota Marudu,Kota Marudu,Sabah

Tarikh Lahir:02 November 2006

Hobi:Membaca,Melukis,Menari,Menyanyi

Sekolah Terdahulu:Sekolah Menengah Kebangsaan Tandek,Tandek ,Kota Marudu ,Sabah.

Maklumat lain :Suka menulis cerpen dan sajak,pernah menyertai sayembara menulis cerpen anjuran perpustakaan Majlis Bandaraya Shah Alam(MBSA),juga merupakan bekas pelajar bidang Sastera semasa bersekolah menengah.








 

BILA CINTA BERSEMI

Cerpen: Bila Cinta Bersemi


Aku masih ingat pertama kali bertemu Afikah. Dia bekerja di sebuah syarikat penerbitan ternama di Bandar Seri Begawan. Wajahnya tenang, senyumannya sederhana, tetapi ada sesuatu yang membuatku ingin terus berbicara dengannya. Setiap kali aku ke pejabatnya atas urusan manuskrip, dialah yang menyambut dengan penuh profesionalisme. Namun di balik meja pejabat itu, aku merasakan ada getar halus yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Sampai kini aku belum berani untuk mengajaknya terus berbicara lagi.


Hari itu, hujan turun renyai. Aku sedang duduk sambil membaca di ruang tamu selepas aku membantu ibu. Ketika itu aku terdengar ketukan di pintu. Aku terburu-buru bangkit lalu meninggalkan novel yang kubaca di sofa untuk berjalan menuju ke pintu. Dalam benakku tertanya-tanya, siapa yang datang ke rumah waktu petang begini. Cuaca pula kurang bersahabat. Itulah sebabnya aku tidak mendengar bunyi kereta dipandu masuk ke depan rumah tadi. Aku membuka pintu. Sebaik-baik sahaja pintu dan di hadapan berdiri Afikah, basah sedikit di hujung tudungnya. Di tangannya, sebuah bungkusan manuskrip yang kukenal betul—manuskrip yang aku tulis dengan penuh harapan. Manuskrip itulah yang menemukan aku dengan dia. Atas urusan manuskrip itu juga aku selalu dipanggil ke pejabat syarikatnya. Kali terakhir aku berbincang dengan Afikah, dua bulan lalu. Ketika itu Afikah mengatakan bahawa dia akan membawa manuskrip itu kepada ketua editornya untuk keputusan akhir. Kini manuskrip itu berada di tangan Afikah. Apakah petandanya? Hatiku bertanya-tanya.


“Assalamualaikum,” katanya lembut, namun matanya seakan berat.
“Waalaikumussalam. Eh, Afikah… masuklah dulu, jangan berdiri di luar hujan begini,” jawabku sambil menjemputnya masuk. Aku terkesima sebenarnya. Banyak persoalan bermain dalam kotak fikirku. Bagaimana dia tahu rumahku? Mengapa dia datang ke rumahku? Dia tidak menolak ajakanku. Aku mendahuluinya untuk membuka pintu. Afikah membuka kasud di luar. Kemudian dia melangkah perlahan di belakangku di bilik tamu menuju sofa tempat aku duduk tadi. Sampai dekat meja sofa dia meletakkan manuskrip di atas meja. Dia duduk setelah aku mempersilakannya. Nafasnya ditarik panjang sebelum berkata, “Aku datang untuk menyampaikan keputusan ketua editor. Manuskrip ini… tidak sesuai untuk diterbitkan.”


Aku terdiam. Kata-kata itu seperti pisau yang mengiris perlahan. Sangkaanku tadi tepat. Manuskrip itu adalah hasil kerja berbulan-bulan, kadang-kadang penuh dengan malam tanpa tidur. Namun kini, ia kembali kepadaku sebagai naskhah yang ditolak.


“Tidak sesuai?” suaraku bergetar sedikit.


“Ya. Mereka kata gaya bahasa masih perlu diperhalusi, dan tema yang kau bawa terlalu berat untuk pasaran sekarang,” jelas Afikah, cuba menenangkan. Aku menyandarkan belakangku ke dinding sofa yang berwarna putih di bilik tamu ini. Aku menatap manuskrip itu. Ada rasa kecewa yang menyesak. Rasa cintaku kepada penulisan seperti hancur rasanya. Ada jeda di antara perbualan kami. Aku menatap terus manuskripku yang terletak di atas meja sofa. Rintik-rintik hujan masih kedengaran. Ibu mungkin sibuk di dapur selepas kami mengemas bilik tamu ini tadi. Hari ini aku tidak kuliah, jadi ada masa menolong ibu. Namun di tengah rasa itu, aku melihat wajah Afikah. Ada simpati di matanya, ada kejujuran yang membuatku tidak mampu marah.

    “Afikah,” aku berkata perlahan, “kau tahu manuskrip ini bukan sekadar tulisan. Ia sebahagian daripada diriku.”


Dia mengangguk. “Aku tahu. Sebab itu aku sendiri yang mahu menghantarnya kembali. Aku tidak mahu kau hanya menerima surat rasmi tanpa penjelasan.” Aku tersenyum pahit. 


“Terima kasih. Walaupun sakit, aku hargai kejujuranmu.” Aku tidak dapat menyembunyikan perasaanku. Aku berterus terang saja. Suasana hening seketika. Hanya bunyi hujan di luar menemani. Aku tidak tahu yang keadaanku bingung itu diperhatikan oleh Afikah. Selalunya apabila aku ke pejabat syarikatnya, kami sering berbual dengan rancak. Tidak pernah berlaku seperti ini. Mula-mula dulu setelah aku diperkenalkan dengan syarikat ini, aku ke pejabat ini untuk bertanya perkara-perkara yang perlu penulis buat, jika bukunya diterbitkan di syarikat ini. Pada masa itu dialah orang yang pertama aku temui di sini. Dia menerangkan segala-galanya. Pertemuan itu seperti pemangkin untukku dapat menyiapkan buku novel pertamaku ini. Lalu Afikah bersuara, seakan ingin menguatkan aku.


“Pernah kau dengar kata-kata Haruki Murakami? Dia pernah menulis: ‘When you write, you must write with all your heart. Even if nobody reads it, you must keep writing.’ Kita menulis bukan semata-mata untuk diterbitkan, tetapi kerana menulis itu adalah hidup.”


Aku menatap wajahnya yang ayu di sebalik tudung yang berwarna biru laut. Tudung itu sangat sesuai dengan warna baju kurung labuh yang dipakainya. Aku terkejut dengan kata-kata itu. 


“Kau membaca Murakami?” tanyaku bodoh. Aku tidak sangka dia sebegitu banyak bacaannya sehingga novel penulis terkenal di luar negara. Sangkaanku salah total.


Dia tersenyum. “Aku bekerja di penerbitan, ingat? Kata-kata pengarang adalah bekal harian kami.” Aku menarik nafas panjang. Kata-kata itu menusuk, tetapi juga menyala. Aku teringat pula pesan Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah.” Kata-kata itu seperti kesimpulan pertemuan kami petang itu. Dia bangkit lalu meminta diri. Waktu petang sudah semakin larut. Dia hendak balik ke rumah setelah berada di pejabatnya sepanjang hari.


Aku bangkit, menatap Afikah dengan tekad baru. “Kalau begitu, aku akan menulis lagi. Manuskrip ini mungkin ditolak, tetapi aku tidak akan berhenti. Aku akan menghantar manuskrip bagi hasil karya-karyaku yang lebih baik, lebih jujur, lebih hidup.” Namun kata-kata itu tidak terlahir dari mulutku. Aku hanya mengucapkan jutaan terima kasih atas kesudiannya singgah dan menghantar manuskrip yang terletak di meja sekarang ini.


“Mungkin aku akan ke pejabatmu lagi untuk menghantar manuskrip yang lain pula,” janjiku. Itu bukan janji kosong. Aku akan berusaha untuk menghantar manuskrip lain untuk diterbitkan. Afikah tersenyum, kali ini lebih hangat. 


“Itu yang aku harapkan. Jangan berhenti hanya kerana satu pintu tertutup. Kadang-kadang, pintu lain menunggu untuk dibuka.”


Hari-hari selepas itu, aku kembali ke meja tulis. Malam demi malam, aku menulis dengan semangat baru. Setiap kali pena bergerak, aku teringat wajah Afikah yang memberi kata-kata motivasi. Ada cinta yang bersemi, bukan sekadar pada tulisan, tetapi pada kehadirannya yang menjadi cahaya. Kali ini aku hendak menghantar kumpulan cerpen. Banyak cerpen yang telah aku hasilkan. Sebahagiannya sudah diterbitkan di akhbar tempatan. Sebahagiannya lagi masih dalam simpanan. Sudah hampir dua puluh semuanya. Kini aku memilih dan menyusunnya untuk menjadi sebuah buku. Jika terbit kumpulan cerpen ini, ia adalah kenanganku semasa masih kuliah. Tahun ini adalah tahun akhir aku di universiti. Tahun hadapan, jika tidak ada aral melintang aku akan graduit.


Suatu malam, aku menerima mesej darinya.


“Bagaimana dengan manuskrip baru?”


Lama aku merenung dada telefon bimbit Oppoku. Aku tak sangka dia menghantar mesej. Sejak kami bertukar nombor telefon, aku sahaja yang menghubunginya. Aku bertanya perkembangan manuskripku itu. 


Aku membalas watsapnya, “Sedang berjalan. Aku menulis dengan lebih jujur kali ini. Aku menulis seolah-olah bercakap denganmu.” Aku maksudkan cerpen-cerpenku yang baharu, aku menulis dengan demikian. Ia akan kumasukkan dalam kumpulan ini nanti. Tajuk yang terbaharu ialah cerpen bertajuk’ Bila Cinta Bersemi. Semoga ketua editor akan tertarik dengan cerpen-cerpen dalam kumpulan yang akanku hantar nanti. Dia membalas dengan emoji senyum. Ringkas, tetapi cukup membuatku tersenyum sepanjang malam.


Beberapa minggu kemudian, aku kembali ke syarikat penerbitannya di Bandar Seri Begawan. Aku dibenarkan masuk ke pejabat oleh sekuriti yang bertugas di situ. Dia sudah kenal aku. Dia sudah tahu tujuanku ke mari. Dia mengatakan orang yang akan aku jumpai memang ada di dalam pejabatnya. Aku melangkah masuk ke biliknya. Aku sudah selalu ke sini. Walaupun manuskripku sebelum ini ditolak, aku tidak rasa rendah diri untuk menghantar hasil karyaku yang terbaru. Manuskrip baru itu kuletakkan di meja Afikah. Dia menatapku dengan mata bercahaya.


“Sudah siap?”


“Ya. Dan kali ini, aku tidak menulis untuk editor. Aku menulis untuk diriku… dan mungkin untukmu.” Aku menyatakannya dengan wajah yang serious. Aku memandang ke arahnya ketika dia membelek-belek manuskripku yang kini ada di tangannya. Semua susunan, jilid dan format tulisan aku ikut seperti apa yang diberitahunya kepadaku tempoh hari. Itu adalah kehendak syarikat penerbitan mereka. Setelah itu dia mengangkat mukanya. Dia mendapati aku sedang merenungnya. Mata kami bertemu. Dia terdiam, wajahnya memerah sedikit. 


“Aku akan pastikan manuskrip ini dibaca dengan teliti.” Katanya.


Aku mengangguk. “Afikah, kau tahu… Bila Cinta Bersemi, ia bukan sekadar tentang dua hati. Ia juga tentang keberanian untuk terus melangkah, walaupun jalan berliku.” Kini aku serious dengan hasil kerjaku. Maksudnya menghasilkan karya kreatif. Aku tidak akan berhenti walaupun gagal berkali-kali. Rasa cinta kepada kerja menulis sudah bersemi di dalam jiwaku.
Dia tersenyum. “Dan aku percaya kau akan melangkah jauh.”


Beberapa bulan kemudian, aku menerima panggilan telefon. Suara Afikah di hujung talian berbunyi ceria.


“Manuskripmu… kali ini mereka tertarik. Ada peluang besar untuk diterbitkan.”


Aku terdiam, lalu ketawa kecil. “Benarkah?”


“Ya. Mereka kata ada kejujuran yang kuat dalam tulisanmu. Dan aku tahu, itu datang kerana kau menulis dengan hati.”


Aku menjawab penuh semangat, “Terima kasih, Afikah. Tanpa kata-katamu, mungkin aku sudah berhenti.”


Dia membalas, “Jangan berterima kasih padaku. Terima kasih pada dirimu sendiri kerana tidak menyerah.”


Malam itu, aku duduk di kerusi meja tulis. Aku menarik keluar manuskrip yang terakhir aku hantar ke syarikat penerbitan tempat Afikah berkerja. Aku menatap manuskrip yang kini punya harapan baru. Aku selak halaman kulitnya. Aku menulis catatan kecil di halaman pertama:


“Menulis adalah perjalanan tanpa akhir. Walaupun manuskrip ditolak, cinta pada kata-kata tidak pernah padam. Seperti cinta yang bersemi, ia tumbuh dari luka, dari kecewa, lalu mekar menjadi harapan.”


Selepas membaca dua tiga kali ayat-ayat itu. Aku berpuas hati. Aku menutupnya kembali. Aku beredar ke katil yang menungguku malam ini sambil membawa senyum yang masih terukir di bibirku. Aku berbaring dan wajah Afikah terbayang di sisiku, dengan Cinta Yang Bersemi, aku yakin setiap kata akan menemukan jalannya. Tapi, mataku terbuka luas. Tiba-tiba rasa mengantuk hilang. Jika manuskripku itu diterima untuk diterbitkan, adakah Afikah datang ke rumahku lagi?


Eyuman, Brunei Darussalam
9/12/2025
 
Biodata

Eyuman nama Pena Chong Ah Fok (PhD) mantan Timbalan Pengetua sekolah menengah dan berminat menulis karya kreatif sejak di bangku sekolah menengah atas. Menerbitkan 5 novel, 2 kumpulan cerpen, 2 kumpulan sajak 2 buku akademik sastera dan puluhan antologi bersama; bersama penulis-penulis setempat dan juga nusantara.


TIGA LILIN PADA HARI YANG SAMA: Karya Kims Diwa

Tiga Lilin Pada Hari yang Sama

Karya: Kims Diwa


    Jalan tanah merah itu seolah-olah satu-satunya urat nadi yang menghubungkan sekolah dengan dunia luar. Setiap kali lori barang lalu, habuk terbang lalu gugur semula perlahan seperti salji tanah liat. Pohon getah dan pisang di kiri kanan berdiri memerhati, menjadi saksi senyap kepada sesiapa yang datang dan pergi.

    Pada satu pagi berkabus, seorang lelaki berjalan dari simpang jalan besar menuju ke sekolah. Beg hitam di bahu, kemeja biru muda yang digosok rapi, kasut hitam yang masih canggung memijak lumpur pedalaman.
Nama lelaki itu Rindo. Dia berhenti di depan pagar kayu sekolah yang catnya sudah pudar. Di papan tanda, nama sekolah hampir dimakan cuaca. Di belakang bangunan utama, kelihatan bumbung asrama dan padang kecil yang tidak rata.


    “Selamat datang ke dunia baru,” bisik hatinya, separuh cemas, separuh pasrah.


Di beranda pejabat, seorang perempuan sedang berdiri sambil memerhati murid-murid di padang. Rambutnya diikat kemas, beberapa helai terlepas dan menari dalam angin pagi. Baju kurung kapas hijau pucuk pisang yang dipakainya sepadan dengan sejuk yang lembut. Perempuan itu Nadia. Dia berpaling apabila terdengar tapak kaki di tangga kayu.

    “Awak guru baharu?” soalnya, senyum tidak terlalu lebar, cukup untuk memecah dingin.


    “Ya… baru lapor diri,” jawab Rindo.


Suara mereka tenggelam dalam bunyi murid berlari di koridor dan kokok ayam dari kampung sebelah. Pada saat itu, tiada sesiapa sedar sesuatu sedang dipasang halus oleh takdir.


“Sama” kata Nadia selanjutnya.

    Di dalam pejabat, Guru Besar meneliti dua fail personaliti baharu. Tiba-tiba pen di tangannya terhenti.


    “Eh… pelik juga ni,” gumamnya.


Nadia dan Rindo memandang ke depan.

    “Kamu berdua lahir tarikh yang sama,” katanya. “Tarikh, bulan, tahun pun sama. Mula-mula saya ingat silap taip.”


Nadia ketawa kecil, tertunduk. “Serius, cikgu?”


    “Serius. Cuba tengok.”


Mereka membaca borang itu. 12 Julai 1995. Dua nama, satu tarikh lahir.

“Apa kebarangkalian ini?” getus hati Rindo.


    Guru Besar menggeleng kecil. “Mungkin jodoh kamu dengan sekolah ni kuat,” usiknya sebelum menyimpan semula fail. 

    Hari terus bergerak seperti biasa, tetapi tarikh itu mula berakar diam-diam dalam ingatan mereka. Hidup sebagai guru sandaran di pedalaman mengajar cara lain untuk bernafas. Setiap pagi, suara murid membaca kuat menembusi dinding papan. Setiap petang, langit kelihatan tergesa-gesa bertukar warna. Rindo sering membantu Nadia mengangkat buku latihan murid Tahun Lima.


    “Berat ni. Biar saya angkat,” katanya.


    “Awak memang suka cari alasan datang ke kelas saya,” balas Nadia, disambut ketawa kecil murid di belakang.


    Di kantin, jika tinggal satu piring kuih, Nadia akan membahagikannya dua. Mereka makan di meja panjang, berkongsi kuih di tengah hiruk-pikuk murid. Tiada sesiapa mendengar mereka menyebut perkataan cinta, namun satu sama lain perlahan-lahan mengisi ruang sunyi di dalam diri.


    Suatu petang di tepi sungai, selepas kelas tambahan, Nadia duduk di atas batu besar memerhati air keruh mengalir. Rindo berdiri sedikit jauh.


    “Nadia,” panggilnya perlahan.


    “Ya?”


    “Awak percaya tak pada kebetulan yang terlalu pelik untuk jadi kebetulan?”
Nadia berpaling, memandangnya lama.


“Kadang-kadang saya rasa… itu cara Tuhan menepuk bahu kita. Tapi manusia selalu pura-pura tak rasa.”


    Jawapan itu mengekori langkah Rindo pulang sehingga malam. Tahun berganti hampir tanpa mereka sedar. Kontrak sandaran diperbaharui, murid datang dan pergi, musim hujan dan kemarau bertukar gilir. Hubungan mereka semakin rapat, walaupun tetap dijahit kemas dalam diam.


    Satu petang di bawah pokok ketapang berhampiran asrama puteri, Rindo menggenggam kotak cincin kecil.
    

    “Kalau kita sudah sama tarikh lahir,” katanya, “izinkan aku pilih tarikh yang sama untuk memulakan hidup lain dengan kau.”


    Nadia menarik nafas panjang. “Kita dua-dua cuma guru sandaran. Semua belum tentu.”


    “Sebab itu aku mahu kita pegang sesuatu yang tetap. Kalau dunia goyah, kita masih ada tarikh yang sama.”


    Akhirnya Nadia mengangguk. “Ya.”


    Pertunangan mereka diadakan pada 12 Julai, tarikh lahir kedua-duanya. Majlis kecil, doa yang perlahan, senyum yang berjimat.

    Setahun kemudian, sekali lagi pada 12 Julai, mereka bernikah di surau kampung lain. Tikar mengkuang, kerusi plastik, bunga kertas, cukup untuk sebuah janji. Tiada seorang pun rakan sekerja hadir. Mereka memilih untuk menyimpan bahagia itu hanya antara keluarga dan beberapa orang kampung.


    Selepas cuti hujung minggu, mereka kembali ke sekolah seperti biasa. Di bilik guru, mereka tetap “Cik Nadia” dan “Cikgu Rindo”. Di rumah sewa kecil di hujung kampung, mereka suami isteri. Cinta itu menjadi rahsia yang dipeluk sekuat mungkin, seolah-olah jika dibuka, dunia akan menjadi bising dan mengotorinya.


    Mereka tidak tahu ada seseorang lain yang pernah memegang rahsia itu dalam bentuk beberapa keping gambar. Seminggu sebelum 12 Julai seterusnya, pagi di sekolah terasa lebih berat. Beberapa guru di bilik guru terdengar suara di luar.


    “Nadia, sampai bila kau mahu macam ni?” suara Rindo tertahan.


    “Aku penat berlakon,” jawab Nadia. “Datang kerja sebagai ‘orang lain’, balik rumah sebagai isteri kau, tapi sekeliling buat-buat tak nampak.”


    “Aku cuma takut. Kita sama-sama sandaran. Aku risau kalau hubungan kita beri kesan pada penilaian, pada pertukaran...”


    “Kalau kita sendiri tak mengakui bahagia kita, macam mana orang hendak hormati kita?”


    Beberapa guru saling berpandangan di sebalik pintu separuh terbuka. Mereka tidak faham keseluruhan, tetapi jelas menangkap luka dalam nada suara itu. Nadia berlalu ke blok kelas. Rindo masuk ke bilik guru, duduk dan pura-pura menanda buku, walaupun pen di tangannya menggigil. Di sudut bilik, Cikgu Aney memerhati. Guru baharu itu pernah melihat wajah mereka dalam situasi lain.


    Setahun lalu, dia menjadi jurufoto sambilan di sebuah majlis kecil di surau kampung. Sepupunya berkahwin pagi itu, dan pada sebelah petang, ada lagi satu majlis ringkas. Dia merakam pengantin perempuan berbaju kurung putih, pengantin lelaki berbaju Melayu biru muda, di bawah pohon ketapang. Dalam salah satu gambar, kad kecil tertera:


    Majlis Perkahwinan
        Nadia & Rindo
            12 Julai


    Beberapa bulan selepas itu, ketika melapor diri di sekolah pedalaman ini, dia melihat dua nama yang sama di papan kenyataan, dengan tarikh lahir yang juga 12 Julai. Hari ini, seminggu sebelum tarikh itu berulang, dia mendengar sendiri pertengkaran yang tidak kedengaran seperti antara rakan sekerja biasa. Hatinyalah yang mula berat.


    Pada suatu malam, di rumah, Aney membuka semula folder bertarikh 12 JULAI. Wajah Nadia dan Rindo menatapnya dari skrin. Di meja, senarai tarikh lahir guru terletak terbuka. Nama Nadia dan Rindo sekali lagi berkongsi tarikh yang sama. Ulang tahun mereka hanya beberapa hari lagi.


    “Lahir, bertunang, bernikah… tiga-tiga pada tarikh yang sama,” bisiknya.


    Keesokan harinya, dia mengumpulkan beberapa guru rapat.


    “Minggu depan kita sambut hari jadi guru-guru bulan Julai,” cadangnya. 

    “Tapi untuk dua orang ni, kita buat lain sedikit.”


    “Macam mana?” tanya Cikgu Ramlah.


    “Kita sediakan tiga biji kek. Satu untuk hari lahir. Satu melambangkan pertunangan. Satu melambangkan perkahwinan.”


    “Perkahwinan?” Mata Cikgu Ramlah membulat.


Aney hanya tersenyum. “Anggap saja hadiah kecil untuk keberanian mereka, yang belum sempat wujud.”


    Pagi Isnin, langit cerah. Di bilik guru, tiga biji kek tersusun di atas meja panjang: sebiji bulat bertulis Selamat Ulang Tahun, sebiji kecil berbentuk cincin, dan sebiji empat segi putih biru yang sederhana. Lilin dinyalakan. Guru-guru berkumpul, ada yang menahan tawa, ada yang sekadar menunggu. Apabila pintu terbuka, Nadia melangkah masuk dengan buku latihan di tangan, diikuti Rindo. Mereka terhenti di ambang pintu. Cahaya dari tingkap jatuh tepat ke arah tiga biji kek. Lilin berkelip, seolah-olah menunggu nafas mereka.


    “Apa ni…?” Nadia bertanya perlahan.


    “Selamat datang, tetamu kehormat hari ini,” ujar Cikgu Aney.


    Beberapa guru mula menyanyikan lagu Selamat Hari Jadi. Nadia kelihatan keliru, Rindo menelan liur.


    “Kenapa tiga?” soalnya.


    Aney mengangkat telefon, menayangkan gambar pengantin di bawah pohon ketapang. Nama mereka dan tarikh 12 Julai tertera jelas di kad kecil.


    “Saya jurufoto di majlis ini,” kata Aney lembut. “Kemudian saya lapor diri di sini, nampak dua nama yang berkongsi tarikh lahir dengan tarikh dalam gambar. Minggu lepas saya dengar kamu bertengkar. Saya rasa… sudah sampai masa bahagia ini tidak disorok lagi.”


    Nadia mengalirkan air mata. “Jadi kek ini…?”


    “Kek pertama untuk hari lahir kamu berdua. Kek kedua untuk hari kamu mengikat janji sebagai tunang. Kek ketiga untuk hari kamu bernikah. Hari ini kita sambut semua sekali. Tiga dalam satu. Tiga lilin di hari yang sama.”


    Beberapa guru bertepuk tangan lembut.


    “Nadia… aku minta maaf,” kata Rindo, suaranya pecah sedikit. “Aku terlalu takut kehilangan kerja, sampai aku hampir kehilangan kau.”


    “Kita sama-sama takut,” jawab Nadia. “Tapi hari ini aku sedar, bahagia yang kita sembunyikan terlalu lama sebenarnya sedang menjerut kita.”


    Dia menghulurkan tangan. Rindo menyambut, di hadapan semua.


    “Sudah-sudahlah sembunyi,” usik Cikgu Ramlah. “Kita pun manusia, bukan ruang kosong dalam borang.”


Ketawa kecil menyimbah suasana. Aney mengangguk ke arah lilin.


    “Nadia, Rindo… tiup lilin tu sama-sama.”


Mereka berdiri rapat, menarik nafas dan menghembus. Api kecil padam, diganti tepukan dan senyum. Di luar, murid-murid masih berlatih lagu koir. Suara mereka naik turun, mengisi ruang antara bumbung zink dan langit biru pedalaman. Di dalam bilik guru, cinta yang lama disembunyikan akhirnya bersemi semula dalam terang yang sederhana. Hanya tiga biji kek, sekeping gambar lama, dan satu ucapan yang memerdekakan dua hati: 


        “Selamat ulang tahun 3-in-1.



-TAMAT-


SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular