Tema: Puasa, Cermin Diri
Minggu Ketiga Februari 2025
Tema : Puasa, Cermin Diri
24 Februari hingga 2 Mac 2025.
Jam 10.00 pagi masa penghantaran/ penerimaan karya terakhir.
PUISI BERTEMA
SIMFONI HIJAU
Hutan bukan sekadar daun
ia nadi bumi yang berdetak perlahan
di bawah rimbun akar menulis puisi
tentang kesabaran tanah memegang rahsia
Sungai bukan sekadar air
ia arteri planet mengalirkan nafas kehidupan
di celah batu arusnya memahat waktu
menjadi cermin manusia lupa.
Angin bukan sekadar hembusan
ia bisikan langit pada dedaunan
mendendangkan lagu yang hanya difahami
burung-burung dan dahan berdoa.
Namun tangan manusia sering lupa
bahawa setiap pohon adalah tiang langit
setiap titis hujan adalah zikir alam
dan setiap tanah yang terjejas
adalah luka pada kulit dunia
Jika bumi adalah simfoni
kitalah not yang harus harmoni.
KIMS DIWA
Tamparuli, Sabah
11/2/2025
Biodata:
Kims Diwa atau nama sebenarnya RUKIMAH BINTI PANDAWA lahir di Kota Marudu, Sabah. Bertugas di daerah Tongod Telupid sebagai guru. Merupakan penulis buku kumpulan puisi BAGAI KELEKATU (DBP) dan SONATA MUSIM KENANGAN (JS).
PERSAHABATAN AMANI dan LION
Oleh: Kims Diwa
Di sebuah kampung yang aman damai, tinggal seorang budak perempuan bernama Amani. Amani suka bermain di luar rumah, mengumpul bunga dan menggambar di atas kertas. Namun, Amani selalu merasakan ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Dia ingin seorang kawan.
Suatu hari, ketika Amani sedang menggambar di bawah pokok mangga, dia melihat sesuatu bergerak di antara rumput. Dengan penuh rasa ingin tahu, Amani menghampiri dan mendapati seekor kucing Bengal yang cantik dengan bulu berjalur seperti harimau. Kucing itu mempunyai mata hijau yang bersinar.
"Hallo, kucing! Siapa nama kamu?" tanya Amani dengan suara ceria.
Kucing itu hanya memandangnya sambil menggerakkan ekornya. Amani merasa kucing itu sangat manja dan ingin mengenalinya lebih dekat. Dia memutuskan untuk memberi kucing itu nama "Lion".
Setiap hari selepas sekolah, Amani akan datang ke tempat di bawah pokok mangga untuk bermain dengan Lion. Mereka berdua akan berlari, melompat, dan bermain kejar-kejaran. Amani akan membawa makanan kegemaran Lion, dan kucing itu akan menggeselkan badannya pada Amani sebagai tanda kasih sayang.
Suatu petang, ketika Amani dan Lion sedang bermain, Amani terpijak batu dan terjatuh. Dia merasa sakit di lututnya dan mula menangis. Lion yang melihat Amani menangis segera berlari ke arahnya. Kucing itu duduk di sebelah Amani dan menjilat lututnya dengan lembut, seolah-olah cuba menenangkannya.
"Jangan risau, Lion. Saya okay," kata Amani sambil tersenyum meskipun air matanya masih ada. Dari situ, Amani tahu bahawa Lion adalah kawan sejatinya yang sentiasa ada untuknya.
Hari demi hari berlalu, dan persahabatan mereka semakin erat. Amani belajar banyak tentang kasih sayang dan kepercayaan dari Lion. Dia juga belajar bagaimana untuk menjaga dan merawat haiwan dengan baik.
Pada suatu hari, Amani mendapati bahawa Lion tidak datang seperti biasa. Dia merasa risau dan mencarinya di seluruh kampung. Akhirnya, Amani menemui Lion di dalam semak-semak, terperangkap oleh dahan-dahan pokok.
"Ayo, Lion! Saya akan bantu kamu!" Amani berkata sambil berusaha membebaskan kucing itu. Dengan hati-hati, Amani menarik dahan-dahan dan akhirnya Lion berjaya bebas. Kucing itu melompat dengan gembira dan berlari ke arah Amani, seolah-olah berterima kasih.
Sejak hari itu, Amani dan Lion tidak hanya menjadi kawan tetapi juga keluarga. Mereka belajar untuk saling menjaga satu sama lain dan menikmati setiap detik bersama.
Amani tahu bahawa persahabatan sejati tidak hanya ada dalam suka, tetapi juga dalam duka. Dengan Lion di sisinya, dia merasa tidak ada yang mustahil. Mereka berdua berjanji untuk selalu bersama, tidak kira apa pun yang terjadi.
Dan begitulah, Amani dan Lion menjalani kehidupan penuh warna, penuh dengan persahabatan dan cinta. Di bawah pokok mangga, mereka mencipta banyak kenangan dan menjadikan persahabatan mereka sebagai harta yang paling berharga.
-Tamat-
Biodata:
Kims Diwa atau nama sebenarnya RUKIMAH BINTI PANDAWA lahir di Kota Marudu, Sabah. Bertugas di daerah Tongod Telupid sebagai guru. Karya-karya beliau pernah siar di akhbar -akhbar tempatan seperti Harian Ekspress, Utusan Borneo, e-wadah tetapi cerita kanak-kanak ini kali pertama buat beliau.
Sesalan dan Keinsafan
Karya: Suci Zalfani Putri
Sore ini, hujan turun deras di luar rumah. Suara petir yang menggelegar membuat setiap orang di dalam rumah berdebar-debar dan merasa takut. Di antara keramaian suara alam, terdengar isak tangis dari sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Fania, seorang gadis berusia sembilan belas tahun, duduk di sudut kamarnya, memandang kosong ke langit yang kelabu. Seakan semua warna kehidupannya telah sirna.
Fania mengingat kembali perjalanan hidupnya, bagaimana ia sampai pada titik ini. Ia adalah anak seorang buruh tani yang telah meninggal dunia setahun yang lalu dan ibunya yang sakit-sakitan. Sejak kepergian ayahnya, Fania merasa beban hidupnya semakin berat. Ia bekerja paruh waktu di sebuah cafe dan melakukan segala sesuatu untuk menghidupi ibunya, namun semua itu hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Keinginan untuk meraih impian dan melanjutkan pendidikan tinggi pun terpaksa ia lupakan.
Di satu sisi, Fania selalu merasa bersyukur. Teman-temannya, termasuk Lala dan Jhek, selalu ada untuknya. Mereka saling mendukung, mendorong Fania untuk terus berjuang. Namun, Fania sering merasa iri, melihat Lala dan Jhek yang berprestasi di kampus, sementara ia terjebak dalam rutinitas kerja dan tanggung jawab yang tak kunjung berhenti.
Pada suatu sore, Fania mendapat kabar bahwa Lala dan Jhek akan berpartisipasi dalam kompetisi tingkat nasional. Mereka mengundang Fania untuk bergabung, tetapi Fania merasa tidak layak. “Aku tidak bisa, aku hanya seorang pelayan cafe,” katanya sambil menunduk. Lala dan Jhek berusaha meyakinkannya bahwa bakat dan usaha lebih penting daripada latar belakang, tetapi Fania tetap menolak.
“Kalau begitu, kita akan menunggu kamu di sini. Jangan hilang dari kami,” kata Jhek, tersenyum. Namun, ucapan itu justru semakin menghantui Fania. Dia merasa, semakin terpuruk dalam kesedihan dan ketidakberdayaannya.
Hari-hari berlalu, dan Fania terjebak dalam rutinitas yang monoton. Ia merasa semakin jauh dari impian. Namun, suatu malam, ketika sedang membuat pesanan, Fania tidak sengaja mendengar percakapan dua pelanggan. Mereka membicarakan tentang pentingnya mengejar mimpi dan tidak menyerah pada keadaan. Kata-kata itu membangunkan satu sisi dalam hati Fania yang telah lama tertidur. Sejak saat itu, setiap kali pulang kerja, ia duduk di depan jendela, memandang bintang-bintang dan merenung. Dia ingin mengubah hidupnya, tetapi bagaimana?
Beberapa hari kemudian, Fania mendengar sebuah audisi untuk program beasiswa di kota. Hatinya bergetar mendengar peluang itu. Tetapi, keraguan kembali menghantui. “Aku tidak punya cukup kemampuan dan aku tidak terlalu pintar,” pikirnya. Tetapi suara dari dalam hatinya berbisik, “Cobalah, Fania. Setidaknya, kamu harus berusaha.”
Dengan penuh keyakinan, Fania akhirnya mendaftar. Dia dihadapkan pada tantangan luar biasa. Mempersiapkan audisi sambil bekerja dan merawat ibunya adalah hal yang sangat melelahkan. Namun, semangatnya tak pernah padam. Dia belajar dari video, mencatat setiap gerakan dan nada yang perlu dibawakan. Setiap malam ia berlatih dengan penuh semangat, meskipun tangisan ibunya kadang menghentikannya sejenak.
Hari audisi tiba. Fania melangkah ke panggung dengan perasaan campur aduk, antara harapan dan ketakutan. Di hadapannya berdiri para juri yang terlihat sangat berpengalaman. Fania menarik napas dalam-dalam, menampilkan semua yang telah dipersiapkan. Suara merdunya menggema di seluruh ruangan, dan untuk sesaat, ia melupakan segala kesulitan hidupnya.
Namun, saat hasil diumumkan, Fania gagal. Hatinya hancur dan semua harapan seolah sirna. Ia kembali ke rumah dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Setibanya di rumah, ia menemukan ibunya terbaring lemah. Fania merasa dunia runtuh di hadapannya. Ia pun terus berdoa agar ibunya segera sembuh, tetapi kondisinya semakin memburuk.
Beberapa minggu setelah gagal audisi, ibunya meninggal dunia. Fania merasa seolah hidupnya kehilangan arah. Sesal dan penyesalan menggigit hatinya. “Seandainya aku lebih berusaha!” teriaknya dalam hati. Ia menyesali semua kesempatan yang terlewatkan, termasuk saat ia menolak ajakan Lala dan Jhek. Dia merasa telah menyia-nyiakan waktu yang sebenarnya bisa membuatnya berhasil dalam meraih mimpinya.
Dalam duka yang mendalam, Fania mulai mengurung diri. Ia menolak untuk bertemu teman-temannya. Namun, Lala dan Jhek tidak menyerah. Mereka datang berkunjung, berusaha menarik Fania keluar dari kesedihannya. “Kami di sini untukmu, Fania. Jangan dipendam sendiri. Bersama-sama kita harus menghadapi ini,” kata Lala.
Dengan dorongan dari sahabatnya, perlahan Fania mulai bangkit. Dia tidak ingin ibunya yang telah pergi kecewa terhadapnya. Ia mulai mengambil langkah kecil untuk membangun hidupnya kembali. Fania memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan. Dia mencari beasiswa dan mendaftar di program pendidikan jarak jauh (PPJ) yang dilakukan secara daring.
Setiap malam, Fania belajar dengan penuh semangat. Ia berjanji untuk tidak mengecewakan ibu, ayah, dan diri sendiri. Ia menyadari bahwa hidup tidak selalu tentang keberhasilan, tetapi tentang keberanian untuk berjuang meskipun dalam kesulitan.
Beberapa bulan setelahnya, Fania menerima kabar bahagia bahwa ia diterima di salah satu universitas. Air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. Ia merasa bahwa perjuangannya tidak sia-sia. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia berjanji pada dirinya untuk berusaha semaksimal mungkin.
Tahun-tahun berlalu, Fania berhasil menyelesaikan studinya dan meraih gelar sarjananya. Dia tidak saja menyelesaikan pendidikan, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia memberikan bimbingan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu, agar mereka tidak merasakan kesulitan yang pernah ia alami. Fania ingin berbagi harapan, menginspirasi generasi penerus agar tidak kehilangan kesempatan.
Suatu hari, saat mengajar di kelas, Fania bertemu dengan seorang siswa bernama Doni. Doni terlihat memiliki bakat luar biasa, tetapi ia terjebak dalam situasi yang sangat sulit, seperti yang pernah dialami Fania dahulu. Tanpa ragu, Fania memberikan dukungan dan motivasi kepada Doni, dan mendampingi setiap langkahnya.
Fania menceritakan kisah hidupnya pada Doni, bagaimana penyesalan dan keinsafan mengubahnya menjadi orang yang lebih baik. Melalui setiap kata, Fania ingin menanamkan arti pentingnya berjuang meskipun menghadapi kesulitan. Doni terinspirasi dan mulai mengikuti jejak Fania untuk mengejar mimpinya.
Bertahun-tahun kemudian, di tengah hujan yang sama, Fania menemui Doni yang kini telah menjadi seorang dokter. “Terima kasih telah menjadi inspirasi dalam hidupku,” katanya sambil tersenyum. Fania merasakan kehangatan di hatinya. Semua yang ia lewati, semua rasa sakit dan kehilangan itu kini menjadi cerita yang berharga.
Saat melihat kembali perjalanan hidupnya, Fania menyadari bahwa sesalan bukanlah akhir dari segalanya. Keinsafan akan membawa kita pada perubahan. Ia melihat hidup sebagai suatu proses, di mana kita belajar untuk menghadapi setiap rintangan dengan keberanian. Semua takdir yang tampak pahit akhirnya manis, seperti hujan yang menghujani bumi, memberikan kehidupan bagi tanaman dan bunga yang mekar indah.
TAMAT
BIONARASI
Suci Zalfani Putri yang akrab di panggil Suci, lahir di Muara Bungo, 4 Maret 2006 saya sedang melaksanakan Program Studi PGSD di UMUBA. Saya bukanlah seorang penulis handal tetapi saya memiliki kemampuan menulis cerpen. Nomor WA: 083121436408
LIRA DAN BUNGA CAHAYA
Karya : Abby Vancel
Di sebuah negeri jauh, hiduplah seorang gadis peri bernama Lira. Ia tinggal di Hutan Bunga bersama sahabatnya, Kiko, si kelinci. Lira terkenal baik hati dan pemberani.
Suatu hari, Ratu Bidadari mengumpulkan semua peri.
"Bunga Cahaya di istana menghilang!" katanya. "Tanpa bunga itu, negeri kita akan gelap selamanya."
Lira ingin membantu. "Aku akan mencari bunga itu, Ratu," katanya yakin.
Ratu Bidadari tersenyum. "Hati-hati, Lira. Bunga itu mungkin dicuri Penyihir Bayangan."
Lira dan Kiko berangkat. Mereka berjalan melewati sungai berkilauan dan pohon tinggi. Saat mereka mencapai Hutan Gelap, udara menjadi dingin dan suram. Tiba-tiba, semak-semak berguncang.
Dari balik semak, muncullah sekelompok kelelawar hitam. Mereka menghalangi jalan Lira.
"Tak boleh lewat!" kata salah satu kelelawar dengan suara serak.
Lira mengangkat tongkat sihirnya. "Kami tidak ingin bertarung. Tolong biarkan kami lewat."
"Tidak!" sahut kelelawar. "Penyihir Bayangan memerintahkan kami menjaga hutan ini."
Lira berpikir cepat. Ia melihat bunga-bunga kecil di sekitar. Dengan sihirnya, ia membuat bunga itu bercahaya lembut. Kelelawar terpesona. Mereka mendekat dan menjadi tenang.
"Kami suka cahaya ini," kata mereka. "Baiklah, kalian boleh lewat."
Lira dan Kiko melanjutkan perjalanan. Setelah melewati hutan, mereka sampai di Kastil Kabut, tempat tinggal Penyihir Bayangan. Gerbang kastil tertutup rapat.
"Bagaimana kita masuk?" tanya Kiko.
Lira melihat celah kecil di dinding. "Aku bisa menyusup ke dalam, tapi kamu tunggu di sini, Kiko."
Dengan hati-hati, Lira masuk ke kastil. Ia melihat Penyihir Bayangan sedang memegang Bunga Cahaya di tangannya.
"Hahaha! Dengan bunga ini, aku akan menguasai seluruh negeri!" katanya.
Lira mengambil napas dalam. Ia harus bertindak cepat. Dengan tongkatnya, ia mengirimkan angin lembut ke arah bunga. Bunga itu terlepas dari tangan Penyihir.
Namun, sebelum Lira bisa menangkapnya, Penyihir Bayangan mengayunkan tongkatnya. Kabut gelap muncul dan menelan bunga itu.
"Kau pikir bisa mencurinya dariku semudah itu?" ejek Penyihir.
Lira mencoba menyerang dengan cahaya, tetapi sihirnya tidak cukup kuat. Penyihir Bayangan tertawa dan meniupkan angin gelap yang membuat Lira terlempar ke dinding.
Kiko yang menunggu di luar mendengar suara keras. Ia mengintip ke dalam kastil dan melihat Lira terjatuh lemah.
"Lira! Kamu baik-baik saja?"
Lira mencoba berdiri, tetapi tenaganya habis. Kiko berpikir cepat. Ia ingat bahwa kelelawar tadi menyukai cahaya. Jika mereka bisa membantunya...
***
Kiko berlari ke hutan dan memanggil kelelawar.
"Kalian mau melihat cahaya yang lebih indah?" tanyanya.
Kelelawar tertarik. Mereka mengikuti Kiko ke kastil. Begitu masuk, mereka melihat Penyihir Bayangan dan mengepakkan sayap dengan cepat, menciptakan angin yang meniup kabut hitam.
Lira melihat kesempatan itu. Ia menutup mata, lalu memusatkan pikirannya pada kebaikan dan keberanian. Perlahan, tongkatnya mulai bersinar lebih terang dari sebelumnya. Cahaya itu memenuhi ruangan.
"Tidak! Tidak!" teriak Penyihir Bayangan. Cahaya itu menghancurkan kabut hitamnya dan mengungkapkan tempat bunga itu disembunyikan.
Lira segera mengambil Bunga Cahaya. Penyihir Bayangan berusaha merebutnya kembali, tetapi kekuatannya melemah. Akhirnya, ia menghilang dalam kilatan cahaya.
Lira berlari keluar kastil dengan bunga di tangannya. Kiko melompat kegirangan. "Kamu berhasil, Lira!"
Mereka kembali ke istana. Ratu Bidadari menerima bunga itu dengan penuh syukur. "Kau telah menyelamatkan negeri kita, Lira!" katanya sambil mengelus kepala Kiko. "Dan kau juga, Kiko. Tanpamu, Lira tak akan berhasil."
Saat bunga diletakkan di tempatnya, cahaya terang menyebar ke seluruh negeri. Langit kembali cerah, dan semua peri bersorak gembira. Sejak hari itu, Lira dikenal sebagai Peri Cahaya. Dan Kiko? Ia menjadi pahlawan kecil yang selalu diingat. Mereka belajar bahwa keberanian dan persahabatan lebih kuat dari sihir jahat.
-- SELESAI --
SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...