Khamis, 16 Oktober 2025

 Karya; Riyan Rana

PERJALANAN SEBUTIR PELURU


Aku lahir dari logam dingin yang dipaksa menyala.

Api melemparkanku, dan udara berlari mendahului, aku berteriak kepadanya: “Apakah engkau rela menjadi jalan bagi makhluk kecil ini?” Udara tidak menjawab, ia hanya menangis dalam desau yang menyayat daun-daun zaitun dan menaburkan pasir ke mata langit.

Aku melesat, di bawahku, Gaza masih bernafas. Seorang ibu sedang menyalakan tungku, roti pipih menunggu untuk dipanggang. Suara anak-anak berkejaran di lorong sempit antara dinding rumah yang setengah roboh.

Seorang kakek duduk di kursi reyot, membaca Al-Qur’an dengan suara bergetar, sementara pengeras masjid yang retak, memanggil orang-orang untuk menegakkan subuh.

Aku melewati puing-puing besi yang pernah menjadi atap sebuah rumah. Besi itu retak, menggeram, lalu berkata: “Jangan singgah, wahai tamu yang dipaksa, karena tubuhmu hanyalah titah mesin haus darah.”

Aku bergetar, namun perjalanan tetap mendorongku. Debu berhamburan di wajah, mereka berseru lirih: “Bila engkau menembus daging, kami akan menutupinya. Namun siapa yang akan menutup doa anak-anak yang menusuk langit?”

Aku menggigil, tapi api yang dulu memuntahkanku masih membakar punggung. Aku tak kuasa berhenti.

Tiba pada punggung kecil itu. Sebuah kanvas rapuh yang mestinya hanya dikenali oleh pelukan. Aku mengetuk tulangnya, tulang itu memekik, “Kenapa engkau memilihku, sedang aku masih sibuk menegakkan tubuh mungil agar ia bisa berlari mengejar impiannya?”

Aku tidak menjawab, karena jantung segera menyambutku. Detaknya terguncang, ia berteriak penuh getir: “Engkau hanyalah tamu asing, mengapa pintuku yang kau dobrak? Aku sedang sibuk menjaga irama riang anak kecil yang masih suka tertawa di sela runtuhan?”

Lalu darah keluar menyambut, setetes demi setetes, seakan ingin berkata: “Kami bukan cat merah untuk membubuhkan tanda di tanah. Kami adalah sejarah kecil yang ingin tumbuh menjadi dewasa.”

Aku menjerit dalam diam, namun  tetap melaju. Sumsum berdesis, mengadu padaku, “Engkau hanya musafir yang tersesat. tapi mengapa kesesatanmu harus menyulitkan kami?”

Aku keluar dari dada mungil, meninggalkan lubang merah yang tak pernah bisa disulam doa.

Aku jatuh, menyusur reruntuhan, terkapar di bawah dinding yang separuh roboh. Namun sebelum kesadaranku di kubur waktu, aku sempat menolehnya.

Wajah anak itu tersenyum. Senyum yang seakan berbisik lirih, “Terima kasih, engkau telah mengantarkanku ke pangkuan surga.”

Tubuh mungilnya ambruk, aku menelan air mata. Air mata yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mau menelusuri luka-luka Gaza, hingga ke dalam nadi sejarah.



Madura, 16 Oktober 2025

 Monolog Untuk Gaza 

Karya : Zamri H.Jamaluddin


Engkau adalah cermin yang pecah,

Menyimpan bayangan-bayangan 

duka yang tidak terperi.


Harapanmu adalah sungai 

yang mengalir deras di bawah reruntuhan yang berabad,

Mencari jalannya menuju lautan kebebasan yang tidak pernah pudar.


Dari nafas yang bergetar saat sujud,

Dari takafur yang merenungi luka,

Tercipta sebuah jembatan dari getaran jiwa ke jiwa.

Tidak perlu kata-kata, tidak perlu janji,


Cukuplah bisikan doa yang mengalun dalam keheningan malam,

Menjadi kekuatan bagi langkah-langkahmu yang tegar.


Luka-lukamu adalah lukisan di kanvas semesta,

Yang mengajar tentang arti ketabahan yang tidak terhingga.


Engkau adalah pohon zaitun yang akarnya menembus batu,

Tidak akan goyah oleh badai dan terik,

Kerana doa-doa kami adalah air yang membasahi akarmu.


Setiap harapanmu,

Adalah burung-burung yang menetas dari cangkang penderitaan,

Terbang tinggi menembus awan kelabu.


Dan setiap doaku,

Adalah angin yang menghembuskan sayap-sayapnya,

Membawa mereka terbang menuju hari esok yang cerah.


Maka, dalam nafas dan takafurku,

Terukir janji, bahwa engkau tidak akan pernah sendiri.

Harapanmu adalah harapan kami,

Dan doamu adalah doa yang menggetarkan semesta.

Hingga fajar kemenangan menyingsing,

Dan tanah yang berlumur darah akan kembali menjadi taman yang subur.



Bandar Seri Begawan

15.10.2025 : 05.15am

 Dalam Nafas Dan Tafakurku

Karya : Zamri H.Jamaluddin


Di setiap harapanmu,

Mengalir doa dalam tafakurku,

Merangkul keteguhanmu,

Saat dunia memalingkan wajah.

Setiap desahan nafasmu,

Adalah getaran di nafas kalbuku,

Membawa kisah pilu,

Yang tak akan pernah pudar dalam ingatanku.

Di bawah reruntuhan yang hancur,

Harapan tetap menyala bagai lilin,

Tanda perjuanganmu tidak akan terkubur,

Keyakinanmu adalah sumber kekuatan.

Dalam setiap takbir yang kau panjatkan,

Di setiap tetes air mata yang engkau alirkan,


Aku tidak hanya berdoa,

Namun juga berjanji untuk terus bertafakur, 

Selagi nadi berdenyut.

Karena di setiap doa dan harapanmu,

Di nafas dan tafakurku,

Kamu tidak pernah sendiri.


Bandar Seri Begawan

14.10.2025 : 03.57am

Rabu, 15 Oktober 2025

 KUPELUK  GAZA DALAM DOA

Oleh : Khamidah 


Dentuman keras kudengar lewat vidio 

Saat pertempuran Israil dan Palestina  

Membabi buta zionis israel 

Menghajar anak kecil tak berdosa 


Puing-puing kehancuran berserakan 

Mayat-mayat bergelimpangan tak lagi dihiraukan 

Telah hilang naluri kemanusiaan 

Yang ada hanya jiwa manusia buas 

Bahkan lebih buas dari binatang 


Merinding tubuhku 

Terluka jiwaku 

Merintih hatiku 

Meraung-raung tangisanku menembus langit ke tujuh 

Mengingat saudaraku di Palestina 


Kupeluk mereka dalam malam yang hening 

Saat kubersujud khusyu di atas  sajadah panjang 

Kutitipkan doa pada Sang Penjaga Alam

Selamatkan saudaraku di Palestina 

Dari penjajahan dan pertikaian 


Kupeluk anak-anak kecil tanpa dosa 

Kupeluk janda-janda tua tanpa daya 

Kudekap wanita-wanita lemah penuh luka 

Kupeluk jiwa-jiwa mereka 

Dengan  rintihan doa dan  sejuta airmata 


Rasa cinta dan rindu terdalam menyelinap dalam hembusan angin 

Kutitipkan pada angin malam yang berbisik lembut 

Selamatkan Gaza 

Dari zionis Israel yang kejam 


Wahai Zat Pemegang Keadilan 

Tolong berikan mereka kemerdekaan 

Berikan mereka pertolongan 

Dari kejamnya penjajahan 

Yang tak jua berkesudahan 



Tegal, 14 Oktober 2025

Created by Khamidah Munaz

 DALAM TAHAJJUDKU

Karya: Zamri H. Jamaluddin


Di tengah malam yang bernafas lembut,

seakan mendengar suatu bisikan

aku terjaga,

menyibak sunyi dengan sehelai doa.

Tahajjudku menjadi saksi

atas tangis bumi Palestin

yang menggema di celah sujudku.


Aku terbayang wajah-wajah duka,

anak-anak yang memeluk debu

seolah mendakap sebutir harapan.

Wahai saudaraku yang teraniaya,

bening air matamu menitis 

Seolah mentau ke dalam hatiku,

menjadi zikir yang tidak akan pernah padam.


Dalam sujud panjang,

aku seakan mendengar Tuhan berbisik lembut

di antara hela nafas dan harapan:

“Doamu adalah pelita

di tengah gelap peperangan.”

dalam sunyi Maka ku pohon ampun,

bukan hanya untuk diriku,

tapi untuk dunia yang terlupa mencintai.


Tangisan Palestin, 

bukan sekadar ratapan,

melainkan panggilan untuk bertindak.

Kami mengangkat tangan,

bukan dengan senjata,

tapi dengan doa yang menembus langit.

Semoga suatu hari,

langitmu tidak lagi berwarna kelabu.

Semoga tanahmu kembali bernyanyi

tentang merdeka dan damai.

Dan dalam setiap tahajjudku,

namamu tetap ku sebut, 

wahai saudaraku,

jangan pernah menyerah.


Kuala Lumpur

12.10.2025 : 02.25 pagi



 JERIT MASJID AL -AQSA DALAM KESUNYIAN 

Oleh: Rosmita


Di bawah kubah yang menahan pilu,

Kumandang azan menembus langit 

Meski peluru menulis takdir di udara,

Jiwa-jiwa suci tak berhenti bersujud 

Kepada'Mu Rabb ku 


Jemari-jemari mungil menggenggam debu,

Namun hati anak-anak Palestina menggenggam surga,

Setiap air mata yang jatuh di tanah suci,

Adalah doa yang tiada pernah padam oleh api dunia


Ya Rabb ku 

Di balik luka yang (Kau) titipkan, 

Kepada kami 

Ada cinta dan kasih'Mu yang menumbuhkan harapan untuk 

Tetap mereguk indahnya kehidupan 

Biarlah kami mendengar jerit Al-Aqsa,

Sebagai panggilan untuk menegakkan iman.


Di setiap sujud umat di bumi ini,

Selalu mengalir doa-doa terindah 

Untuk Palestina,

Semoga fajar kebebasan segera menyapa, negeri yang suci ini

Al-Aqsa kembali berdzikir 

Dalam kesunyian dan kedamaian 

yang hakiki 


Jambi 2025


DOA DI BAWAH LANGIT GAZA

Oleh: Rosmita


Langit Gaza, bersaksi tentang 

darah dan doa,

Di bawah langit Gaza anak-anak 

Menatap bintang tanpa rasa  takut,

karena mereka mengerti 

Jika surga lebih terang dari gelapnya perang ini


Aku masih melangit kan doa,

Untuk bumi yang sangat dicinta 

Oleh Rasulullah Saw 

Agar damai kembali bernapas 

Di udara,

Dan cahaya Allah menjemput para syuhada yang shahid 


Ya Rabb ku 

Peluklah mereka dalam kasih sayang'Mu,

Kuatkanlah iman di dada para ibu-ibu

yang kehilangan anak dan suami, 

Namun mereka tidak pernah kehilangan ridha-Mu, Rabb ku 


Ketika malam menutup mata dunia,

Biarlakan doa ini jadi cahaya,

Menyusup ke langit Gaza membawa 

Pesan cinta,

Bahwa umat Islam tidak akan pernah melupakan mereka yang sedang lara


Jambi 2025


SUARA RINTIHAN ANAK PALESTINA 

Oleh: Rosmita


Anak kecil itu mendengar suara reruntuhan 

lirih seperti doa dari luka,

“Apakah surga mempunyai taman,

tempat aku bisa bermain tanpa suara bom?” ucapnya


Mata mungil itu menatap langit,

di antara reruntuhan yang bercerita tentang sabar, tentang keihklasan 

Dan aku tahu

Suara itu adalah nyanyian iman yang tidak bisa dibungkam.


Wahai Rabb ku Tuhan semesta Alam,

Suara mereka adalah ayat kasih-Mu,

yang mengingatkan kami 

Bahwa berdamai lahir dari hati yang berserah kepada-Mu.


Biarlah dunia mendengar suara itu,

Suara anak-anak Palestina yang 

penuh cinta,

Meski tubuh mereka rapuh dan hancur oleh perang,

Namun jiwa mereka tetap teguh 

Dalam rahmat-Mu.


Jambi 2025


Tentang Penulis 


Puisi-puisi ini ditulis oleh Rosmita, seorang kepala sekolah dan penulis 

yang memandang menulis sebagai ibadah dan zikir. Melalui bait-bait religiusnya, ia menyampaikan doa 

dan rasa empati untuk Palestina

Agar dunia kembali melihat dan merasakan, luka yang disembunyikan 

di balik kekuatan iman.


Jambi 2025

 Senandung Pilu Dari Tanah Para Nabi

( Puisi Untuk Palestina )

Oleh : Jalal Rebong, S.Pd



Di Tanah suci, tempat doa bersemi,

Luka menganga tak kunjung terobati.

Bukan cerita, bukan pula mimpi,

Namun nyanyian pilu yang dibawa sepi.


Dari Gaza, debu-debu bercerita,

Tentang rumah yang hilang, tinggal puing sisa.

Langit malam yang seharusnya tenang, berbintang,

Kini dilukis merah, oleh jerit yang mencekam.

Anak-anak berlarian, bukan untuk bermain,

Namun mencari perlindungan, dari suara yang dingin.

Mata kecil mereka, menyimpan sejarah kelam,


Kisah kehilangan ayah, ibu, dan pagi yang tenggelam.

Oh, Al-Aqsa, jiwamu kini terhimpit,

Dindingmu kokoh, namun hatimu sakit.

Saksi bisu perih, di persimpangan abad,

Menanti damai yang entah kapan kan tiba, dengan selamat.

Kami di kejauhan, hanya bisa meratap,

Menyimpan duka dalam doa yang tak pernah lenyap.



Sebab engkau adalah denyut nadi kemanusiaan,

Palestina, tanah zaitun yang tak pernah kami lupakan.

Semoga fajar esok membawa keadilan,

Menggantikan air mata dengan senyum kemenangan.

Agar zaitun tumbuh subur, di tanah yang merdeka,

Dan senandung pilu berganti menjadi senandung suka.



Balauring, 15 Oktober 2025

Bionarasi

Jalal Rebong, S.Pd. Pria kelahiran Kolipadan ( 1987 ) Guru Pada SMAN 1 Balauring sekaligus Pegiat dan Penulis Sastra, penggagas komunitas Tinta Sastra Smansa Balauring.  sejak 2011 saya sudah menulis beberapa karya baik Bersama rekan sejawat maupun pribadi, bagi saya menulis Adalah jalan membuka gerbong jiwa dan puisi bagiku Adalah ungkapan jiwa, itulah saya selalu menghabiskan waktu untuk menulis. 

 Suara dari Langit Palestina

Oleh Khoiri


Di tanah suci yang berdebu,

tempat para nabi pernah melangkah,

angin membawa kabar dari langit—

tentang sabar, tentang luka,

tentang iman yang tak pernah padam.


Langit di atas Gaza retak,

namun di setiap retakannya

ada cahaya yang menolak padam.

Anak-anak kecil menatapnya dengan mata penuh doa,

menghafal takbir di tengah dentum senjata.


Setiap batu yang mereka genggam

bukan amarah—

melainkan harapan yang dikirim ke langit,

menembus awan, menembus sunyi,

menggetarkan Arasy

dengan nama Allah yang suci.


Di antara puing rumah yang runtuh,

seorang ibu menimang bayang anaknya,

berbisik lirih,

“Syahidmu bukan akhir, nak,

tapi jalan menuju taman yang dijanjikan.”


Dunia mungkin menutup mata,

namun bumi tidak.

Tanah Palestina menyimpan setiap jejak sujud,

setiap darah yang jatuh menjadi saksi,

bahwa perjuangan ini bukan tentang tanah semata,

melainkan tentang kehormatan iman.


Waktu berjalan, musim berganti,

namun suara itu tak pernah hilang—

suara azan di antara runtuhan,

suara doa di sela ketakutan,

suara anak-anak yang masih berani tertawa

meski langit di atasnya terbakar.


Wahai dunia,

jika telingamu masih sanggup mendengar,

dengarkanlah—

itu bukan jerit, bukan tangis,

itu suara dari langit Palestina,

suara yang lahir dari sabar dan tawakal,

suara yang membawa pesan:

bahwa kebenaran mungkin tertindas,

tapi tak akan pernah kalah.

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular