Isnin, 10 Mac 2025

Luka yang Diterima Langit

 LUKA YANG DITERIMA LANGIT

Karya:  Kims Diwa 



Di dada malam  basah  embun

aku memikul bulan retak

cahaya suramnya mengingatkan luka 

yang kutoreh di dada langit


Aku perahu karam di lautan gelisah

dihanyut jauh dari pelabuhan doa

ombak sesal menghentam tebing

namun pantai taubat masih bernyala


Langit menabur benih ampunan

seperti hujan yang tak pernah lelah

membasuh tanah kering hatiku

agar kelopak ikhlas dapat tumbuh


Aku sujud di pelataran sunyi

membuka pintu dadaku selebar langit

 angin memikul bisikan maaf

ke singgasana cahaya-Nya


Dosa hanyalah bayang di belakang

sedang pengampunan adalah fajar

yang menjemput langkahku pulang.


KIMS DIWA 

07/03/2025

Telupid, Sabah

Ahad, 9 Mac 2025

Ampunkan Aku

 AMPUNKAN AKU

Oleh: Mutiara



Panggilan azan terdengar menggema merdu

Larut bersama angin berhembus

Ingatkan badan tak langsung terpanggil

Untuk menghadapMu


Kupandang kitabMu terpampang indah

Seakan memanggil utk diraih dan dibaca

Namun, cerita di sosial media lebih menarik 


Malam semakin indah untuk ditinggalkan

Ketika gemerlap sinar dan alunan lagu menghentak

Dan manisnya minuman mengajak raga terbang melayang…


Seberapa sering ini terjadi

Menunda waktu untuk menghadapmu

Hanya memandang tak kunjung membuka QuranMu

Duniawi dengan segudang kenikmatan

Lebih memukau yang akhirnya…

Membuatku terjebak


Kaki yang lincah semakin menjauh

Mata yang indah semakin terlena

Hati semakin terbuai


PerhitunganMu semakin bertambah

Catatan di bahu semakin menebal

Memberatkan timbangan dosaku


Oh yang maha pengampun

CobaanMu terlalu nikmat

Jangan biarkan aku bergelimang dosa

Jangan biarkan setan mengiring langkahku

Kembalikan aku untuk lebih memilihmu

Tuntun aku ke arah ridoMu

Terima tobatku ya Allah

Ampunkan aku

Kerpasan Air Mata Sesal

KERPASAN AIR MATA SESAL

Karya: Marlina Mailon 


Tika langkahan kaki menapak di lantai rapuh

Jejak noda semalam mengukir kesal dalam diam

Duka merimbun yang tersimpan di pusara hati

Menghumban diri ke samudera memori silam.


Jasad yang berselimut khilaf dan nista

Membelit pohon hidup dengan temali alpa

Berpayungkan dedaun kemewahan sementara 

Menghentak ke dahan istidraj tanpa sedar.


Lautan hati yang bergelora, merusuh resah

Membisikkan sesalan tidak bernoktah

Terbayang betapa hinanya hidup dalam halusinasi

Melupakan hakikat diri hanya hamba yang hina.


Derai kerpasan air mata sesal menjadi saksi

Lirih bibir merintih sayu berlagu tangis

Berharap nur Ilahi menyapu cahaya kelam

Memimpinku kembali dalam genggaman rahmat-Nya.


Ya Rabb, andai masih ada mentari harapan

Sirnakan segala noda yang mengikat jasad

Daripada terus menjadi mimpi ngeri di hujung lena

Agar silir berhembus damai menyapa sukma.


Tolong ajari aku erti sebuah keikhlasan

Sujud di atas sejadah taubat yang terbentang

Kerana kuyakin, langit ampunan-Mu tak pernah tertutup

Pada hati yang ingin pulang ke teratak kebenaran.


Kota Marudu, 08 Mac 2025


Remang Dosa di Jemari Ampun

REMANG DOSA DI JEMARI AMPUN

Karya: Rani Jauhari


Remang dosa rancak berselerak,

merayap di ruang sunyi,

melayang dikhalayak,

remang dosa mabuk di jemari.


Gelojoh mengumpul dosa, 

enak menghiris kata, haus dipuja,

hak orang lain, nikmat dirasa,

mengadu domba menghancur jiwa.


Susun jemarimu, patuh menyatun,

membajai kata membugar azimat,

bertindih zikir di bibir mengampun,

ikhlas memuji, lenyap kesumat.


Semakin berhati, menyusun kata, 

bebunga jiwa mewangi makrifat, 

remang dosa di jemari ampun

cermat selamat, bahagia tersemat. 



Bangi, Malaysia 

9 Mac 2025 


BIODATA

Rani Jauhari. Lulusan cemerlang Seni bina dan Pengajian Melayu (Hons). Temui bakat menulis setelah memenangi lebih 20 sayembara peringkat kebangsaan dan antarabangsa. Telah menghasilkan lebih 25 Antologi pelbagai genre dan 3 buku solo. 

Dosa dan Pengampunan

DOSA DAN PENGAMPUNAN

Karya: Abby Vancel



dosa adalah hujan yang turun di senja itu

diam-diam menyusup ke tanah, mengendap di akar ingatan

aku berjalan di antara genangan, melihat bayanganku terpecah

seperti kesalahan yang tak sempat kuhapus


aku mengetuk pintu malam dengan doa

suara angin mengulang pertanyaanku

akankah langit menerima rintik yang jatuh sia-sia?

akankah tanganMu menghapus jejak yang kusembunyikan?


tapi Kau adalah pagi yang selalu kembali

menjemput embun di daun-daun yang lupa mengering

Kau adalah cahaya yang tidak bertanya

tentang siapa yang membawa kelam semalam


dan aku, seperti sehelai daun terakhir di musim gugur

menunggu anginMu membawa pulang

dalam dekap yang tak pernah usai.


Jakarta, Awal Maret 2025

Sabtu, 8 Mac 2025

Digerbang Cahaya Aku Bersimpuh

Digerbang Cahaya Aku Bersimpuh

Karya: Nelly Amalia



Aku adalah noktah di langit sunyi,

sebutir arang di genggaman malam.

Luka-luka yang kutulis di atas tanah

tak kunjung pudar meski hujan menitikkan maaf.


Telapak kakiku mengukur lorong-lorong gelap,

tempat aku menyembunyikan getir dan gemetar.

Langit tak kugapai, bumi enggan memeluk,

dan aku terombang dalam lelah tanpa muara.


Tuhan, betapa berat beban yang kupikul,

ia mencengkeram tulang, menjalari nadi,

menjadikan malam panjang tanpa mimpi,

menjadikan siang perih dalam sepi.


Namun, di balik senyap, kudengar panggilan:

bisik lirih yang lembut namun gemuruh.

Bukan cambuk, bukan gelegar murka,

melainkan genggaman cahaya

yang merobek kabut di jantung gelisah.


Dosa-dosaku meratap,

meneteskan air mata dalam sujud panjang,

seperti debu yang rela diterbangkan angin,

seperti samudera yang menelan segala luka.


Maka aku bersimpuh, melepaskan beban,

membiarkan cahaya menyusupi retakan jiwaku.

Tuhan, jika ampunan-Mu seluas langit,

biarkan aku menjadi sebutir embun

yang jatuh di pagi-Mu,

bening, dan kembali pulang.

Lira dan Tongkat yang Hilang

 LIRA DAN TONGKAT YANG HILANG

Abby Vancel


Lira berlari riang di antara bunga-bunga yang bermekaran. Kiko, kelincinya, melompat-lompat di belakangnya. Matahari bersinar hangat, membuat hari itu terasa menyenangkan. Namun, tiba-tiba angin dingin berembus. Sebuah bayangan hitam melintas cepat. Sebelum Lira menyadarinya, sesuatu merampas tongkat sihir dari tangannya.

"Tongkatku!" serunya kaget.

Kiko melompat panik. Telinganya berdiri tegak penuh kewaspadaan. Dari balik pepohonan, muncul sesosok tinggi dengan mata merah.

"Penyihir Bayangan!" seru Lira.

Penyihir itu tertawa dingin sambil mengangkat tongkat Lira.

"Kau mungkin mengalahkanku dulu, tapi sekarang aku yang menang!"

Ia melambaikan tangannya, menciptakan pusaran kabut gelap di sekelilingnya. Dalam sekejap, ia menghilang bersama tongkat sihir Lira.

"Kita harus mengejarnya!" kata Lira. Hatinya berdebar keras.

"Tapi bagaimana caramu bertarung tanpa tongkat?" tanya Kiko khawatir.

Lira mengepalkan tangannya sambil mencoba berpikir tenang.

"Aku masih punya keberanian dan akal," katanya yakin.

"Tapi Kastil Kabut dijaga sihir gelap. Kita butuh bantuan," kata Kiko.

Lira mengangguk. Ia mengingat legenda Peri Tua di Pegunungan Angin.

"Ia bisa membaca jejak sihir dan membimbing kita ke sana," ujar Lira.

Tanpa ragu, mereka segera meninggalkan Hutan Bunga untuk mencarinya. Di tengah perjalanan, seekor ular besar menghadang mereka.

"Aku penjaga hutan. Siapa yang berani melewati jalanku?" tanya ular.

"Kami mencari Peri Tua," kata Lira.

Ular itu mengangguk, lalu melingkar membentuk jalan di tanah.

"Ikuti jalur ini, tapi hati-hati dengan kabut yang menyesatkan," katanya.

Lira dan Kiko berterima kasih lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat. Udara semakin dingin. Kabut semakin tebal di sekitar mereka. Tiba-tiba, dari balik batu besar, terdengar suara serak misterius.

"Siapa yang datang mencariku?" suara itu bergema menyeramkan.

Lira menelan ludah sambil tetap melangkah maju.

"Kami butuh bantuan untuk menuju Kastil Kabut," katanya penuh harap.

Dari balik batu, muncullah Peri Tua berjubah biru berkilauan. Matanya bersinar seperti bintang, dan ia memegang tongkat kayu tua.

"Aku bisa membantumu, tapi perjalanan ke sana tidak mudah," katanya.

Ia mengulurkan botol kecil bercahaya yang berpendar lembut.

"Gunakan ini untuk menembus kabut, tetapi jangan sampai kehabisan," pesannya.

Lira menggenggam botol itu erat, lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat. Mereka mendaki jalan berbatu menuju puncak gunung yang gelap. Kabut tebal menyelimuti mereka, membuat segalanya tampak samar. Lira membuka botol itu, cahaya lembut menyebar dan menyingkirkan kabut. Di depan mereka, berdiri kastil hitam besar dengan gerbang tertutup rapat. Dua patung serigala batu menjaga gerbang dengan mata merah menyala. Saat mereka mendekat, patung-patung itu bergerak dan mengaum keras.

"Siapa yang berani datang ke sini?" suara dalam bergema dari serigala.

"Kami datang mengambil kembali tongkat sihirku!" jawab Lira berani.

Serigala batu saling menatap, lalu tertawa dengan suara menyeramkan.

"Kau harus melewati tantangan Penyihir Bayangan!" kata salah satu serigala itu.

Tiba-tiba, tanah di bawah mereka bergetar dan berubah menjadi es. Lira hampir tergelincir, tetapi Kiko menariknya dengan cepat. Dari dalam kastil, suara Penyihir Bayangan terdengar bergema jahat.

"Kau pikir bisa masuk ke sini semudah itu, Lira?" katanya sinis.

Lira mengangkat botol cahaya, membuat es mulai mencair perlahan. Serigala batu melompat ke arah mereka, tetapi terpental mundur. Gerbang besar mulai terbuka, memberi mereka jalan masuk ke dalam. Mereka berlari melewati pintu kastil.

Di dalam kastil, aula besar penuh cermin hitam menyambut mereka. Lira melihat bayangannya di cermin, tetapi bayangan itu bergerak sendiri.

"Awas! Itu bukan bayanganmu yang sebenarnya!" teriak Kiko panik.

Bayangan itu melompat keluar dari cermin, berubah menjadi Lira jahat.

"Aku adalah sisi gelapmu, dan aku akan mengambil tempatmu!" katanya.

Lira menelan ludah, tetapi ia tahu harus tetap tenang. Ia mengangkat botol cahaya tinggi-tinggi, membiarkan sinarnya menyebar. Bayangan itu menjerit, perlahan melebur dan menghilang sepenuhnya. Saat bayangan lenyap, cermin di aula mulai pecah satu per satu.

Di ujung ruangan, Lira melihat Penyihir Bayangan duduk di singgasana. Tongkat sihirnya ada di pangkuannya, berkilauan redup dalam cahaya lilin.

"Kau memang berani, tapi keberanianmu tak akan menyelamatkanmu," katanya.

Lira menggenggam botol cahaya. Keberanian mengalir dalam dirinya.

"Tongkat bukan sumber kekuatanku, hatiku yang membuatku kuat!" serunya.

Cahaya dari botol semakin terang, memenuhi seluruh ruangan. Penyihir Bayangan menjerit saat cahaya itu menyelimuti tubuhnya.

"Tidak! Ini tidak mungkin!" suaranya menggema lalu lenyap dalam kegelapan.

Tongkat sihir Lira melayang, lalu jatuh ke tangannya kembali. Kiko melompat kegirangan.

"Kita berhasil, Lira! Kau tidak butuh tongkat untuk menjadi kuat!"

Lira tersenyum. Ia mengayunkan tongkatnya, membuat kastil mulai runtuh perlahan.

"Ayo keluar sebelum semuanya roboh!" serunya sambil menarik Kiko.

Mereka berlari melewati lorong hingga akhirnya tiba di luar. Tak lama kemudian, kastil itu runtuh dan menghilang sepenuhnya.

"Kastil itu sudah lenyap. Penyihir Bayangan tidak akan kembali," kata Lira. Kiko mengangguk, lalu melompat ke pelukan sahabatnya itu.

Mereka kembali ke Hutan Bunga, membawa kemenangan dan pelajaran berharga. Lira kini tahu, keberanian dan hati yang kuat lebih penting dari sihir.

 

*****

 

 

Kembara Pendosa



KEMBARA PENDOSA
Karya: Izzcandrasakata


Di lorong malam aku melangkah,

menyusur kelam tanpa sempadan,

angin mendesah di dada resah,

membilang silap yang tak tertahan.


Jejakku basah lumpur noda,

segala janji kugadaikan murah,

pada dunia kugenggam dusta,

pada diri kubiarkan rebah.


Namun Kau, cahaya abadi,

tidak menghitung dengan kejam,

rahmat-Mu luas seperti langit,

mengalir redha dalam diam.


Di atas sejadah aku bersujud,

menghitung rindu dalam airmata,

ampunkan aku, wahai Tuhanku,

pendosa ini ingin kembali.


Izzcandrasakata

Jumaat, 7 Mac 2025

Dosa Melebur di Rintik Subuh

 Dosa Melebur di Rintik Subuh

Karya : Agustina Rahman



Di senyap malam yang rapuh dan luka

Kutimbang jejak dalam nestapa

Dosa-dosa mengendap dalam bayang aksara

Menghunus pedang nurani, perih tak reda


Angin berbisik lirih di celah gelisah

Membawa sesal yang melebur resah

Bulan menangis di ujung cakrawala

Meratapi jiwa yang karam dalam gulita


Langkahku limbung di lorong-lorong sunyi

Menyusuri bayang-bayang kelam

Dosa-dosa menari di pelupuk mata

Menjadi noktah di sela napas malam


Namun rintik subuh hadir menghapus gundah

Menabur cahaya di ujung sepi

Kusujudkan doa di luka sukma

Memohon ampun dalam syahdunya embun


Tuhanku, biarlah luka ini menyatu

Di tepian rahmat-Mu yang tak tersentuh

Hapuslah jejak di kelam yang bisu

Hingga jiwaku rebah dalam pangku-Mu



Makassar, 7 Maret 2025     


            

BIONARASI



Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024),  Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), dan aktif menulis Puisi di Blog KGS.


SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular