Isnin, 5 Januari 2026

ILUSI DILAMBUNG OMBAK BUIH: KIMS DIWA

 ILUSI DILAMBUNG OMBAK BUIH 

Karya: Kims Diwa


Maruah tidak lahir daripada sorakan

ia bernafas dalam batas yang dijaga

tubuh belajar menahan arus

walau gelora datang berkali-kali

ada rasa yang tampak jujur

namun membelit jiwa yang alpa

kesedaran hadir sebagai luka

yang mengajar jalan pulang.


Kejujuran bukan alasan tenggelam

pengorbanan bukan timbang nilai

cinta yang waras tidak membiarkan

seseorang dipermain arus

manusia diuji oleh pilihan

antara terus hanyut atau berpaut

arus yang diserah tanpa sedar

mengikis maruah secara perlahan.


Hormati diri sebelum menuntut faham

yang menyerah kepada gelora

menunggu daratan tanpa janji

kesedaran bermula saat kaki berpaut

tangan belajar melepaskan

sunyi menjadi guru yang jujur

di situlah manusia berdiri

dengan maruah sebagai pantai.


Tamparuli, Sabah

01 Januari 2026

DI ANTARA DUA SUARA SATU JIWA YANG RETAK: KARYA DASSY J

 Di Antara : Dua Suara, Satu Jiwa yang Retak


Hai,

Kamu yang pernah membayangkan hidup 

semanis mimpi berbisik di malam sunyi,


Dulu, kita terlalu ingin cepat dewasa

yakin menapaki kisah nyata dengan hati yang penuh harap

dan memimpikan bahagia abadi, duduk dalam pelukan hangat keluarga.


Lucu bila difikirkan kembali 

agak melankolik, tapi tetap ada senyumnya.


Mengimpikan segala hal indah dalam hidup

keluarga harmonis…

rupanya tidak semudah itu.


Tahun demi tahun berlalu

namun “keluarga cemara” itu masih terasa jauh.


Di tengah semua harapan yang tak kesampaian itu

ada seorang anak tak pernah diminta memilih

tapi tetap terperangkap di antara dua keluarga

terus berperang dalam senyap.


Perang dingin tak berbunyi

namun tetap mencengkam setiap hari 

dalam renungan yang tak bersuara

dalam pintu yang ditutup sedikit lebih kuat

dalam diam yang terasa lebih berat daripada jeritan.


Dia cuba menjadi penenang.

Menjadi jambatan.

Menjadi alasan untuk dua hati dewasa

berdamai walau untuk sekejap.


Dia tersenyum meski hatinya retak

dia kuat meski jiwanya selalu goyah.

Dia percaya…

kalau dia cukup baik, cukup mengalah, cukup memahami

mungkin semuanya akan kembali seperti dulu.


Namun tanpa sesiapa sedari

usaha itu perlahan-lahan menelan dirinya.

Dia menjadi mangsa emosi tidak pernah dia mulakan

terhimpit di antara dua dunia

sepatutnya membuatnya merasa aman.


Pada akhirnya

dialah jatuh paling keras.

Dialah mentalnya paling terkuras

menangis tanpa suara di malam panjang

kehilangan dirinya sendiri ketika cuba menyatukan

orang-orang tidak pernah benar-benar mahu berdamai.

Kerana kadang-kadang

patah paling dalam

bukan pihak berperang

tapi penjeda di tengah

cuba menghentikan perang itu sendirian.


Dassy J, 2025

Samparita, Kota Marudu

Sabah

BUIH YANG MENOLAK PECAH: WARSONO

 BUIH YANG MENOLAK PECAH

Cerpen Warsono Abi Azzam


Aku dibesarkan di rumah yang lebih sering mendengar hujan daripada tawa. Atap sengnya berlubang di beberapa tempat, cukup untuk membuat ember-ember kecil berjajar setiap musim penghujan. Lantainya dingin, tidak hanya oleh semen yang selalu lembap, tetapi oleh kesadaran bahwa hidup kami tidak pernah benar-benar aman dari kekurangan. 

Aku belajar sejak kecil bahwa hidup tidak selalu berbentuk garis lurus. Kadang ia berkelok seperti fungsi yang tak pernah mencapai titik maksimum, hanya mendekati, lalu menjauh lagi.

Gang tempat rumahku berdiri sempit dan berliku. Dua sepeda motor berpapasan saja harus saling menahan napas. Bau minyak goreng, suara panci bertubrukan, suara televisi dari rumah tetangga, dan teriakan penjual sayur adalah musik pagi yang menemaniku sejak kecil. Di sinilah aku belajar bahwa hidup bukan soal mengejar, melainkan bertahan.

Ayahku selalu berkata, hidup ini seperti berenang di sungai keruh. Jangan banyak bergerak kalau tidak ingin tenggelam. “Hidup itu soal bertahan.” Ibuku menambahkan, “Dan soal tahu diri.”

Maka aku tumbuh menjadi lelaki yang tahu diri, yang paham batas. Yang tidak pernah mengajukan pertanyaan pada nasib, apalagi menantangnya. Sampai suatu hari, takdir mempertemukanku dengan sesuatu yang sama sekali tidak kukenal: kemungkinan.

Aku tidak pernah bercita-cita mencintai perempuan seperti Nayara.

Kami bertemu di sebuah gedung tua peninggalan kolonial, dindingnya tebal, jendelanya tinggi, dan catnya mengelupas seperti ingatan lama yang belum selesai. Gedung itu kini menjadi pusat kegiatan sosial—ironis, karena di sanalah orang-orang berbicara tentang kesetaraan di ruang yang sejak awal dibangun untuk membedakan.

Aku datang pagi-pagi, membawa map lusuh dan pulpen yang tintanya sering mogok. Tugasku sederhana: mencatat, mengatur kursi, memastikan air minum cukup. Aku hanyalah roda kecil dalam sistem yang lebih besar.

Nayara datang menjelang siang. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, seolah waktu selalu memberinya kelonggaran. Ia mengenakan pakaian sederhana—sederhana menurut standar dunia yang belum kukenal. Tubuhnya proporsional, tidak terlalu tinggi, juga tak terlampau pendek. Rambutnya diikat rapi, wajahnya bersih tanpa rias berlebihan.

Ia menghampiriku. Saat ia menyapaku, aku sempat mengira ia salah orang.

“Kamu yang mengurus relawan?” tanyanya.

Aku mengangguk, agak gugup. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Kami berbincang di sudut ruangan yang menghadap halaman. Pohon flamboyan menjatuhkan bunga merahnya seperti sisa-sisa perayaan. Sementara angin siang mengaduk bau tanah basah. Nayara bertanya tentang pekerjaanku, tentang buku yang kubaca saat menunggu acara dimulai. Tentang hujan yang mulai turun. Tentang hal-hal kecil yang biasanya luput dari percakapan orang-orang yang hidupnya penuh kesempurnaan. Bukan dengan nada basa-basi, melainkan sungguh ingin tahu.

Aku ingat betul caranya memandang: tidak dari atas, tidak dari samping, tetapi lurus. Seolah aku bukan relawan kontrak, bukan lelaki miskin, bukan angka dalam laporan kegiatan. Hanya seorang manusia.

Aku heran, sejak kapan hidupku menarik bagi orang seperti dia? Aku menjawab dengan kalimat-kalimat pendek, takut jika terlalu panjang akan terdengar membual. Namun Nayara mendengarkan seolah setiap jeda penting.

Sejak hari itu, aku pulang dengan perasaan aneh—ringan, tetapi juga takut. Di situlah, tanpa sadar, aku mulai berubah menjadi buih.

Buih adalah sesuatu yang ringan. Ia muncul ke permukaan karena dorongan dari bawah. Ia terlihat indah karena cahaya, tetapi rapuh karena hakikatnya. Aku tahu itu. Aku tahu diriku seperti itu. 

Pertemuan kami berlanjut. Kami mulai bertemu di tempat-tempat yang menjadi persilangan dua dunia: di kafe kecil di pinggir kota, tempat di mana kursi-kursi kayunya sudah aus dan meja-mejanya menyimpan bekas goresan waktu. Aku memilih tempat itu dengan terlebih dulu berhitung matang sebelum duduk: murah, tidak mencolok, tidak membuatku merasa asing.

Nayara datang tepat waktu. Ia memesan minuman yang sama denganku, meski aku tahu dari caranya memegang cangkir, ia lebih terbiasa dengan tempat lain, tempat yang jauh lebih mewah.

“Aku suka tempat seperti ini,” katanya. “Jujur, tidak berpura-pura.”

Aku tersenyum, tetapi di dalam hatiku ada getir. Bagiku, tempat seperti ini bukan soal selera, bukan tentang kejujuran, melainkan keterpaksaan.

Kami juga sering bertemu di perpustakaan umum. Gedungnya besar, tetapi usang. AC-nya terlalu dingin, rak-raknya berderit saat buku ditarik. Di sana, kami duduk bersebelahan tanpa banyak bicara, sesekali saling menunjukkan paragraf menarik.

Ia bercerita tentang hidupnya yang penuh tuntutan. Tentang keluarga yang mengukur cinta dengan prestasi dan citra. Tentang masa kecil yang dikelilingi kemewahan, tetapi miskin ruang untuk kekecewaan. Aku mendengarkan, lalu menceritakan hidupku yang sebaliknya: penuh kegagalan, tetapi kaya ketabahan.

Kami seperti dua garis yang berbeda gradien, namun entah bagaimana berpotongan di satu titik. Dan celakanya, cinta tumbuh di sana, di titik temu yang rapuh.

Aku jatuh cinta perlahan, seperti embun yang menumpuk di pucuk-pucuk tanpa disadari.

Aku mencintai caranya mendengarkan tanpa menyela. Aku suka dengan caranya diam tanpa menghakimi. Dengan caranya tertawa yang tidak menghitung siapa saja yang melihat.  Dengan caranya mengangguk, bukan karena setuju, tetapi karena mencoba memahami. Caranya bertanya balik, seolah hidupku layak digali. Namun setiap kali ia tersenyum, aku takut senyum itu hanyalah refleksi cahaya, bukan milikku dan untukku sepenuhnya.

Akan tetapi aku sadar sepenuhnya bahwa cinta ini tumbuh di tanah yang tidak rata. Perbedaan mulai terasa dari hal-hal kecil.

Ia bercerita tentang tekanan di perusahaan keluarganya, tentang rapat-rapat panjang dan ekspektasi yang tidak pernah usai. Aku mendengarkan, lalu menahan cerita tentang kontrak kerjaku yang bisa diputus kapan saja.

Ia berbicara tentang rencana liburan ke luar negeri. Aku menimpali dengan senyum, menyembunyikan fakta bahwa aku masih mencicil sepeda motor bekas.

Kami seusia, tetapi hidup kami berjalan di jalur yang berbeda, dengan kecepatan yang tidak sama. Aku mulai merasa seperti variabel asing dalam persamaan hidupnya. 

Suatu malam, aku mengantarnya pulang.

Mobilnya berhenti di depan rumah besar dengan pagar tinggi. Lampu-lampu taman menyala redup, menciptakan bayangan yang rapi. Jalanan sunyi, terlalu sunyi bagiku yang terbiasa dengan hiruk-pikuk.

Satpam membuka pintu dengan hormat.

Aku berdiri canggung di luar pagar. Dunia di dalam dan di luar pagar terasa seperti dua himpunan yang saling asing, tak pernah beririsan.

“Terima kasih,” katanya. “Aku senang hari ini.” Senyum merekah di bibir ranumnya. Manis.

Aku juga senang. Tetapi aku tidak mengatakan betapa kecilnya aku merasa di sana.

Sebaliknya, ketika Nayara datang ke rumahku, gang sempit itu memaksanya berjalan perlahan. Ia berusaha tidak menunjukkan keterkejutan.  Bau gorengan, suara televisi tetangga, dan sandal-sandal berserakan menyambutnya.

Ibuku menyambutnya dengan senyum gugup dan teh manis yang terlalu panas.  Nayara duduk di kursi plastik tanpa mengeluh, mencoba tersenyum senatural mungkin. Aku melihat matanya menyapu ruangan—bukan jijik, melainkan bingung. Seolah ia sedang membaca bahasa yang belum pernah diajarkan sebelumnya.

Cinta kami tumbuh di antara dua dunia yang tidak dirancang untuk saling memahami.

Konflik sesungguhnya datang dari luar, bukan dari antara kami.

Lingkar pergaulan Nayara mulai mengetahui keberadaanku. Aku diundang ke acara-acara yang membuatku merasa seperti variabel asing dalam persamaan mapan. Ada ruang-ruang luas berpendingin udara, percakapan tentang saham dan investasi, denting sulang gelas, dan tawa yang terukur.

Aku datang dengan kemeja terbaikku, tetapi tetap merasa tidak cukup.

Tidak ada yang berkata kasar. Justru itu yang menyakitkan. Mereka sopan, terlalu sopan. Seolah keberadaanku harus diperlakukan dengan kehati-hatian ekstra. Jujur, justru hal-hal seperti inilah yang membuatku dalam tekanan tak kasat mata. Bukan hinaan langsung, bukan larangan keras. Hanya jeda yang terlalu lama sebelum namaku diterima. Senyum yang berhenti setengah jalan. Pertanyaan-pertanyaan halus seolah menyamar sebagai kepedulian: “Kamu kerja di mana?” “Orang tuamu siapa?” Aku menjawab jujur, dan kejujuran itu terasa seperti kesalahan besar.

Aku pulang dengan perasaan tereduksi, seolah nilai diriku bisa diringkas dalam angka pada risalah dan silsilah. Aku mulai merasa bahwa cintaku adalah variabel pengganggu dalam persamaan hidup Nayara yang sudah rapi.

“Apakah aku mempersulit hidupmu?” tanyaku suatu malam.

Ia menggeleng cepat. “Tidak. Aku yang sedang belajar berani.”

Berani. Kata itu terdengar indah, tetapi juga menakutkan. Karena lazimnya keberanian selalu menuntut harga.

Tekanan memuncak ketika keluarganya mulai berbicara tentang masa depan Nayara.

Kata-kata seperti kesepadanan, stabilitas, dan realistis melayang di udara seperti angka-angka dingin. Namaku tidak disebut, tetapi aku tahu akulah subjeknya. Aku tidak marah. Aku hanya sadar: aku adalah buih yang dianggap mengganggu permukaan.

Aku menarik diri.

Aku mulai menjauh. Bukan karena berhenti mencintai, tetapi karena lelah merasa harus membuktikan keberadaanku. Aku kembali menunduk, kembali tahu diri. Bukan untuk menghukum, melainkan untuk bertahan. Aku berpikir, mungkin inilah bentuk cinta paling dewasa: melepaskan sebelum melukai lebih jauh.

Nayara merasakannya. 

Hubungan kami memasuki fase sunyi. Pertemuan jarang, percakapan pendek. Aku merasa seperti buih yang terlalu lama bertahan di permukaan, menunggu pecah.

Hingga suatu malam, hujan turun deras.

Kami bertemu di halte bus yang hampir kosong. Lampu jalan memantul di genangan air. Nayara menatapku dengan mata yang lelah.

“Kamu pergi tanpa benar-benar pergi,” katanya suatu sore. “Kenapa?”

Aku menatapnya lama. “Karena aku lelah menjadi kemungkinan yang diperdebatkan.”

Ia terdiam. Matanya berkaca, tetapi suaranya justru mengeras. “Dan aku lelah hidup sesuai persetujuan orang lain.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Nayara bukan sebagai perempuan kaya yang terjebak dalam dilema, melainkan sebagai manusia yang sedang memilih dirinya sendiri.

Perubahan tidak datang seketika. Ia datang seperti limit: mendekat perlahan, diuji oleh jarak, oleh rasa takut, oleh kegagalan kecil. Nayara mulai melawan dengan caranya sendiri. Ia berbicara kepada keluarganya, bukan dengan tangis, tetapi dengan argumen. Ia mempertahankanku bukan sebagai simbol pemberontakan, tetapi sebagai pilihan sadar.

Aku pun berubah. Aku berhenti merasa kecil. Aku bekerja lebih keras, bukan untuk mengejar kemewahan, tetapi untuk berdiri tegak di tanah pijakanku sendiri.

Waktu berjalan. Tekanan mereda, bukan karena hilang, tetapi karena kami menolak tunduk. Kami saling menunggu. Saling gagal. Saling memperbaiki.

Hingga suatu sore, ibunya Nayara datang ke rumahku.

Gang sempit yang sama. Kursi plastik yang sama. Teh manis yang sama. 

“Kalian keras kepala,” katanya. “Tapi dunia berubah karena orang-orang seperti itu.”

Aku menunduk, menahan getar. Saat itu aku mengerti: buih tidak selalu harus pecah. Kadang ia mengendap, menyatu, lalu menjadi bagian dari sesuatu yang lebih kuat.

Kami tidak menjadi pasangan sempurna. Hidup kami tetap penuh kompromi. Tetapi kami berdiri di tempat yang sama, tanpa pagar di antara kami.

Aku tidak lagi merasa harus meminta izin untuk mencintai.

Dan di situlah, akhirnya, aku memahami: aku tidak pernah benar-benar buih. Aku hanya seseorang yang lama hidup di bawah, hingga lupa bahwa permadani pun dibuat dari benang-benang kecil yang dulu tercerai.

Kami bahagia. Tidak sempurna. Tetapi nyata.


Cilacap, penghujung Desember 2025

SEKILAS BIODATA PENULIS:










Warsono Abi Azzam adalah nama pena dari Warsono, S.Pd., M.Pd. Lahir di Banjarnegara, 6 Desember 1969, bermukim di Gumilir-Kecamatan Cilacap Utara, Cilacap, Jawa Tengah. Guru Matematika di SMP Negeri 5 Cilacap yang gemar bersastra, suka membaca dan menulis puisi, cerpen, cernak, dan pentigraf. Buku puisi tunggal yang sudah terbit:  “Paradoks” (2017), “Gerimis Senja” (2019), “Gita Malam” (2019), “Sehimpun Haiku Romansa Jiwa” (2019), dan “Dua Menyatu Jiwa” (2022). Karya-karyanya selama delapan tahun terakhir juga terabadikan dalam seratus enam puluhan buku-buku antologi bersama penulis lain. 


Karya cerpen tiga paragraf (pentigraf) yang pernah diterbutkan: “Tembang Cinta dari Sebuah Jendela” (duet bersama penulis Ni’matul Khoiroh, 2020), dan “Senyum Kemenangan” (2021). Pernah mendapatkan: Juara Favorit Lomba Menulis Cerpen tema Kenangan Tahun 80-an (KGS, 2024), Juara 3 Lomba Menulis Cerpen tema Kesehatan Mental (KGS, 2025), Juara 2 Lomba Menulis Pentigraf Lagu (APH, 2023).  


Pernah mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI (Kudus, 2019), Pesta Sastra Akhir Tahun (Yogyakarta, 2021), Glamping Sastra #2 (Baturaden, 2022).  Bergiat di beberapa komunitas sastra berbasis dunia maya dan Komunitas Guru Menulis (KGuM) Kabupaten Cilacap. Dapat dihubungi melelui Telp/WA: 081542937101, FB: Warsono Abi Azzam, IG: @warsonoclp surel: warsono_clp@yahoo.co.id. 

Ahad, 4 Januari 2026

DOA YANG TIDAK PERNAH DIMINTA LANGIT: NELLY AMALIA

Doa yang Tidak Pernah Diminta Langit

Nelly Amalia


Angin malam ini bukan dingin,

ia hanya pengingat

bahwa tubuh masih hidup

sementara hati

sudah lebih dulu membusuk.


Api di dadaku

bukan lagi cinta,

melainkan sisa bara

dari harga diri

yang kau bakar

tanpa menoleh.


Kelakianku runtuh

bukan oleh dunia,

melainkan oleh caramu

menatapku

seperti benda gagal

yang tak perlu diperbaiki.


Aku terhempas,

dan kau menyebutnya biasa.

Aku terluka,

dan kau menyebutnya lemah.


Barangkali benar,

sejak awal

aku memang diciptakan

untuk kalah.


Karena aku kekurangan,

kau permainkan harapanku

seperti anak kecil yang

merobek sayap serangga,

bukan untuk membunuh,

hanya untuk melihat

ia tak bisa terbang lagi.


Aku mencoba mengubah buih

menjadi permadani,

betapa bodohnya.

Buih ada untuk lenyap,

bukan untuk menanggung langkahmu.

Dan aku,

ada hanya untuk hancur.


Kau menyuruhku meraih bintang.

Aku bahkan tak sanggup

mengangkat kepala

tanpa merasa

menjijikkan diriku sendiri.

Langit terlalu tinggi

untuk makhluk gagal sepertiku.


Siapalah aku?

ya insan biasa,

kata paling sopan

untuk sesuatu

yang tak akan pernah cukup.

Segalanya mustahil.


Dan aku tahu itu.

Namun aku tetap jatuh cinta

kesalahan paling bodoh

yang pernah kulakukan

dengan sadar.

Kau bidadari, katanya.


Dan aku?

Lumpur yang berkhayal

ingin menjadi cahaya.

Seharusnya aku bercermin

dan berhenti berharap

sebelum tirai hati kubuka

dan menemukan

kehampaan di baliknya.


Kini tirai itu terbuka.

Tak ada apa-apa di sana.

Tidak ada cinta.

Tidak ada makna.

Tidak ada Tuhan yang turun tangan.


Hanya aku,

dan kesadaran pahit

bahwa sejak awal

aku memang

tidak pernah layak

untuk mencintaimu.

Rabu, 31 Disember 2025

BUIH YANG TAHU BATAS LANGIT: ERA NURZA

 Buih yang Tahu Batas Langit

Oleh: Era Nurza 


Aku ini buih

lahir dari riak kecil

putih sekejap

sebelum harapmu memecahkanku


Kau hamparkan mimpi

seindah permadani istana

sementara langkahku

masih belajar

menjinakkan pasir dan luka


Langit menggantung bintang

tanpa tali menuju namaku

aku menengadah sebentar

lalu sadar

tak semua cahaya dicipta untuk diraih


Salahku bukan karena cinta

melainkan lupa bercermin

sebelum membuka pintu hati

kepada keanggunan

yang tak sepadan


Kini aku memilih luruh

bukan sebab kalah

melainkan karena mengerti

jarak sunyi

antara buih dan langit


Padang, Desember 2025








Penulis. Edrawati, M.Pd., dikenal dengan nama pena Era Nurza, Aktif mengikuti berbagai event kepenulisan, ia kerap meraih penghargaan Melalui komunitas literasi PERRUAS, WPM, WPI, PLS, Satu Pena, SAN, Media Guru, PPP, KISI, dan Negeri News ia terus menebarkan cahaya literasi dengan hati.




Ahad, 28 Disember 2025

JALAN SUNYI MENUJU PAGI : DILLA, S.Pd

 Jalan Sunyi Menuju Pagi

Oleh Dilla, S.Pd.

Senja di Bukittinggi mulai turun perlahan, meredam debu dan menggantungkannya di antara bukit dan atap rumah gadang. Dari balik tirai kamar, Salma mengintip dunia luar melalui celah jendela. Lampu-lampu kota yang berpendar samar, suara langkah orang lewat, dan bayangan Jam Gadang yang tak lagi tegas, kaku menemani. Semuanya terlihat dekat, tetapi terasa jauh, seolah hidup hanya boleh ia amati tanpa benar-benar disentuh.

Tirai itu sudah lama menjadi batas. Bukan sekadar kain tipis, melainkan pelindung dari beberapa kali kegagalan yang masih ia simpan rapi di dadanya. Salma duduk bersandar di dinding kamar, memeluk lutut. Di atas meja kecil, tergeletak surat penolakan yang tak pernah ia koyak. Kertas itu tipis, tetapi beratnya seperti batu. Ia pernah begitu yakin pada langkahnya, yakin bahwa mimpinya akan sampai. Namun satu kegagalan membuat semuanya runtuh, dan sejak itu ia memilih diam.

Di kepalanya, sebuah kalimat berulang pelan diputar, sebuah nasihat yang dulu terdengar sederhana, kini terasa terlalu jauh untuk digapai. Gagal bukan tanda untuk berhenti, katanya. Hanya jeda agar hati belajar lebih kuat sebelum melangkah lagi. Salma mengingatnya dengan jelas, tetapi malam ini ia belum sanggup percaya. Kata-kata itu hanya lewat, tak benar-benar ia indahkan, seperti angin yang menyentuh jendela tanpa pernah masuk ke dalam kamar.

“Kalau tidak siap jatuh, jangan terlalu tinggi bermimpi,” bisik suara yang melintas di memorinya saat disampaikan oleh seseorang dulu. Kalimat itu menempel di kepala, berulang-ulang, seperti peringatan yang terus mengintai setiap kali ia ingin melangkah. Salma tak ingat lagi siapa yang pertama kali mengucapkannya, tetapi ia ingat betul bagaimana kalimat itu membuatnya ragu seolah bermimpi adalah kesalahan yang harus dibayar mahal.

Ia anak bungsu dari keluarga sederhana di kota kecil Bukittinggi. Ayahnya, Rajo Alam, pedagang keliling yang menghabiskan hari-harinya bersama anak-anak sekolah dan tempat keramaian menjual telur gulung dengan sepeda motor yang dimodifikasi untuk berjualan. Dari ayahnya, Salma belajar bahwa tangan yang lelah tetap harus bekerja, meski hasilnya tidak selalu terlihat hari itu juga. Amaknya, Amak Ramlah, perempuan Minang yang lembut tutur katanya, tapi teguh pendirian. Perempuan yang percaya bahwa hidup harus dijalani dengan semangat dan kerja keras, bukan dengan keluhan. Beliau juga membantu suminya bekerja di rumah dengan berkedai kecil dan juga menjual bakso bakar.

Sebagai anak bungsu, Salma tumbuh dengan harapan yang pelan-pelan berubah menjadi tekad. Ia ingin mengubah nasib keluarga bukan dengan jalan pintas, tetapi dengan sekolah setinggi yang ia mampu. Ia menamatkan pendidikan di SMP favorit di kotanya lalu melanjutkan ke SMA Negeri juga, lalu merantau ke Padang untuk kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Ia percaya, ilmu dan kesabaran adalah dua bekal yang tidak akan pernah sia-sia.

Namun hidup tidak selalu sejalan dengan keyakinan. Setelah wisuda, Salma pulang membawa ijazah dan harapan yang besar. Ia mengikuti berbagai tes pekerjaan, mengirim lamaran ke banyak tempat, menunggu dengan sabar di antara hari-hari yang terasa panjang. Namun regulasi dan aturan kini tidak bisa menerima guru honorer menghambat langkah Salma. Panggilan tak kunjung datang. Dari berbagai perusahaan dan instansi lain pun datang penolakan diam-diam, tanpa suara, meninggalkan kecewa yang sulit ia ceritakan pada siapa pun.

Di situlah kesedihannya bermula. Bukan karena ia tak mau berusaha, melainkan karena usahanya seolah tak pernah cukup. Salma merasa telah melangkah sejauh mungkin, namun masih berdiri di tempat yang sama. Dan di balik tirai kamarnya, ia menyimpan semua itu lelah, kecewa, dan harapan yang mulai goyah sendirian.

Kata-kata penyemangat itu terlalu tinggi untuk digapai. Ia tahu ayah dan amaknya tidak pernah takut jatuh, tetapi ia entah sejak kapan lebih memilih berhenti sebelum mencoba. Kalimat tentang jatuh itu kembali bergaung, dan untuk sesaat, Salma membiarkannya tinggal di kepalanya, tanpa berani membantah, tanpa juga berani membenarkannya. Tetapi malam-malam belakangan ini, bertahan terasa lebih sulit daripada menyerah.

Ia pernah bermimpi menjadi guru di kampung sendiri. Mengajar anak-anak membaca dunia, bukan sekadar huruf. Ia sudah melangkah jauh belajar, berusaha, berharap. Hingga kegagalan demi kegagalan membuatnya merasa tak pantas melangkah lagi. Sejak itu, Salma memilih mengintai hidup dari balik tirai.

Pagi datang dengan udara dingin. Amak Ramlah mengetuk pintu kamar.
“Salma, ikut amak ke pasar, yuk!”

Salma ragu. Ia ingin menolak, tapi melihat wajah amak yang menunggu tanpa memaksa, ia akhirnya mengangguk.

Pasar bawah Bukittinggi selalu ramai, apalagi hari ini adalah Rabu, hari pasar di kota itu. Bau rempah, sayur basah, dan kopi hitam bercampur menjadi satu. Suara tawar-menawar saling bersahutan. Hidup berjalan apa adanya, tanpa peduli siapa yang sedang patah hati.

Di sudut pasar, ketika amak membeli bumbu di sebuah kios, seorang nenek duduk di bangku rendah. Ia menenun kain dengan alat sederhana. Tangannya keriput, tetapi gerakannya tenang. Benang demi benang disusun dengan sabar, meski sesekali kusut.

“Kainnyo rancak dan indah, Nek,” ujar Salma pelan.

Nenek itu tersenyum tanpa berhenti menenun.
“Rancak dan indah bukan karena cepat, Nak. Indah karena sabar. Kalau benang putus, disambung. Kalau kusut, diluruskan.” kata nenek tersebut.

Salma terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti mengetuk sesuatu di dalam dirinya.

Di perjalanan pulang, Salma tidak lagi menunduk. Ia memikirkan betapa ia mudah sekali menyerah hanya karena satu persatu kegagalan, seolah hidup hanya memberi satu kesempatan. Padahal dia tahu tidak penting seberapa kali kita jatuh, namun berapa kali kita bisa bangkit kembali. Dia baru menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya terus melangkah meski dengan luka yang tidak selalu terlihat.

Malamnya, Salma kembali ke kamar. Ia berdiri di depan jendela, memandangi tirai yang selama ini menjadi tempat persembunyiannya. Tangannya terulur, menarik kain itu ke samping. Udara dingin masuk, membawa suara azan dari surau kecil di ujung jalan.

Untuk pertama kalinya, ia tak ingin bersembunyi.

Salma duduk di meja belajar. Ia membuka buku catatan lama halaman-halamannya kosong sejak lama. Jemarinya gemetar saat menulis kata pertama. Tentang takut. Tentang gagal. Tentang mimpi yang hampir ia lepaskan. Setiap kalimat terasa seperti menyambung benang yang sempat putus.

Hari-hari berikutnya, Salma mulai keluar kamar lebih sering. Ia membantu amak di rumah, berbincang dengan ayahnya, dan kembali menulis di malam hari. Tidak semua hari mudah. Ada saat-saat ragu kembali datang, tetapi kini ia tahu: ragu bukan tanda berhenti, melainkan tanda untuk melangkah lebih pelan.

Suatu sore, Amak Ramlah duduk di sampingnya.
“Salma, hidup urang awak itu ibarat menenun,” katanya lembut. “Tidak semua pola langsung jadi. Tapi kalau kita tinggalkan, kainnya tidak akan pernah selesai.”

Salma mengangguk pelan.  Matanya hangat. Beberapa bulan kemudian, Salma kembali mencoba. Kali ini bukan dengan keyakinan yang meledak-ledak, melainkan dengan hati yang lebih tenang. Ia tidak lagi menunggu hidup sempurna untuk melangkah. Kalimat itu sederhana, tidak menjanjikan kemudahan, hanya mengingatkan bahwa berhenti adalah satu-satunya cara untuk benar-benar gagal.

Salma mulai menulis lagi. Awalnya hanya di buku catatan lama, lalu berani mengetik dan mengirimkan tulisannya ke berbagai media. Ia menunggu dengan sabar, seperti menunggu panggilan kerja dulu. Prinsipnya, tulis, kirim, lupakan dan tunggu kejutan, sampai beberapa kejutan itu singgah di email dan nomor Wa. Tulisannya terbit, membawa kebahagiaan kecil yang lama ia rindukan. Namun, tidak sedikit pula yang kembali dengan penolakan.

Namun itu tidak membuatnya lemah dan mundur, justru menjadi penyemangat untuk terus memperbaiki tulisannya dan mengirimkan ke berbagai media dan mengikuti kompetisi. Ia belajar memperbaiki diksi, membaca ulang tulisannya dengan lebih jujur, dan terus mengasah kemampuan. Dari satu honor kecil, lalu honor berikutnya, Salma mulai percaya bahwa kata-kata bisa menjadi jalan hidup. Tidak cepat, tidak mudah, tapi nyata ia rasakan manisnya.

Perlahan, tulisannya dikenal. Ia memenangkan beberapa kompetisi menulis tidak selalu juara utama, tapi cukup untuk menguatkan langkah. Uang dari honor dan hadiah lomba tidak ia habiskan. Salma mencicil buku-buku anak, mengumpulkan bacaan yang dulu hanya bisa ia impikan. Buku-buku itu ia susun rapi di sudut rumah, dekat kedai kecil amak yang kini mulai lebih ramai.

Anak-anak di sekitar rumah sering datang. Awalnya hanya membaca, lalu duduk mendengarkan Salma bercerita. Dari sanalah taman baca kecil itu tumbuh sederhana, tanpa nama besar, tetapi hidup. Salma mengajari anak-anak membaca dan menulis, membantu mereka menemukan keberanian untuk bermimpi. Ia melihat dirinya sendiri di mata-mata kecil itu: penuh harap, tetapi sering ragu.

Tidak berhenti di situ, Salma juga mengajak remaja seusianya dan ibu-ibu di lingkungan rumah untuk belajar bersama. Ia memberi pelatihan sederhana mulai latihan menulis, menenun, dan keterampilan harian yang bisa dikerjakan di sela waktu. Amak pun ikut mengajarkan menenun, sementara kedai bakso bakar dan jajanan kecil mulai makin ramai. Orang datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk belajar dan berbagi cerita. Rumah itu perlahan berubah. Bukan menjadi rumah besar, tetapi rumah yang hidup.

Nama Salma mulai dikenal. Ia diundang untuk berbagi pengalaman menulis, diminta menjadi narasumber sampai ke sekolah dan komunitas literasi di kotanya. Hingga suatu hari, sebuah panggilan datang dari almamaternya, sekolah tempat ia dulu belajar menulis memintanya kembali. Kali ini bukan sebagai murid, melainkan sebagai guru.

Salma terdiam lama saat membaca pesan itu. Ingatannya kembali pada kamar kecil, tirai yang dulu selalu tertutup, dan surat-surat penolakan yang pernah ia simpan rapat-rapat. Ia kini tersenyum kecil. Akhirnya, Salma benar-benar menjadi guru. Mengajar di sekolah, di lingkungan, dan dalam hidupnya sendiri. Ia tahu, semua itu bukan hasil langkah cepat, melainkan buah dari kesabaran dan keyakinan untuk terus berjalan.

Di Bukittinggi, di antara kabut yang masih sering turun dan pagi yang selalu datang perlahan, Salma memahami satu hal: sukses bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang tetap melangkah meski jalan terasa sunyi. Dan tirai itu yang dulu menjadi batas kini hanya menjadi jendela. Tempat ia melihat kembali perjalanan panjangnya, dengan syukur yang tenang.

Salma berdiri lama di dekat jendela. Ia mengingat hari-hari ketika ia memilih diam, mengintai hidup dari balik tirai, takut melangkah karena khawatir jatuh lagi. Ia juga mengingat bagaimana kata-kata sederhana, kerja keras orang tuanya, dan keberanian kecil untuk mencoba menulis telah membawanya sejauh ini. Tidak cepat, tidak mulus, tapi cukup untuk mengubah caranya memandang hidup.

Ia kini tahu, hidup tidak pernah menjanjikan jalan yang lurus. Akan selalu ada kegagalan, penolakan, dan rasa lelah yang datang tanpa aba-aba. Namun selama seseorang mau bertahan, mau belajar, dan mau percaya pada proses, selalu ada ruang untuk bangkit dan menata ulang langkah.

Salma tersenyum kecil. Ia tak lagi menuntut hidup untuk sempurna. Ia hanya ingin jujur pada usahanya sendiri. Karena ia telah belajar satu hal yang tak lagi ingin ia lupakan: apa yang terlihat rapuh di permukaan sering kali justru menjadi alas paling kuat untuk berdiri. Dan dengan kesabaran, keberanian, serta cinta pada proses, jalan yang sunyi pun akan tetap mengantarnya menuju pagi.

 


Biodata Penulis

Dilla, S.Pd. adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Bukittinggi yang aktif menulis cerpen, puisi, dan esai, di berbagai media massa cetak dan online. Menulis baginya adalah cara merawat makna dan menumbuhkan harapan. Boleh menghubungi penulis melalui media sosial ig @dillaspd fb Espede Dilla  dan nomor wa: 081363320742 juga email: dillaspd6@gmail.com 

Jumaat, 26 Disember 2025

BAYANGAN YANG TAK MENJADI: EYUMAN

Bayangan yang Tak Menjadi

Karya: Eyuman

Aku pernah percaya

cinta adalah janji yang akan tumbuh

seperti benih di tanah subur

menjadi pohon pelamin

menjadi teduh dalam keluarga. 


Aku menunggu buahnya

dengan hati yang penuh harap

tetapi harapan itu pecah 

yang kutemui rupanya hanyalah bayangan

indah sekejap

tidak pernah menjadi lukisan indah 

hilang sebelum sempat kucapai

kasih yang kuberi

seakan rapuh

seperti buih di permukaan air

perlahan-lahan pecah sebelum sempat kugenggam

hanya serpihan luka

yang menempel di dada.


Kini aku belajar

bahawa cinta tidak selalu kekal

bahawa janji tidak selalu benar

bahawa kasih yang tulus

kadang hanya berakhir

sebagai kenangan yang pahit.


26/12/2025


  

Biodata

Eyuman nama Pena Chong Ah Fok (PhD) mantan Timbalan Pengetua sekolah menengah dan berminat menulis karya kreatif sejak di bangku sekolah menengah atas. Menerbitkan 5 novel, 2 kumpulan cerpen, 2 kumpulan sajak 2 buku akademik sastera dan puluhan antologi bersama; bersama penulis-penulis setempat dan juga nusantara.

BICARA UNGGAS: TAUFIQ HARITH

 BICARA UNGGAS

oleh Taufiq Harith



katamu malam itu, kamu enggang 

bersama enggang, dan pipit melayang

bersama pipit lainnya


katamu malam itu, pohon tualang 

di hutanmu ialah pentas gilang

buat lagu-lagumu


katamu malam itu, ah! kaumampu

mencumbu purnama bila-bila masa


katamu, malam itu pipit mengunyah padi

dan engkau masih terbang tinggi


(dalam aku mengenal suaramu,

aku sedar itu suara-suara palsuku)


Sungai Buloh, Selangor, Malaysia


SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular