Khamis, 9 Oktober 2025

 SERUAN KEDAMAIAN

Karya: Nus Pariama


Hanya oleh kabar hati kian terpana

Bahkan oleh berita jiwa seakan merana

Mungkinkah luas jeritan disana?

Sungguh kabar tak bisu untuk bersuara

Biar dunia tahu dan besua damai


Bak sebutir tanah yang diinjak-injak

Ladang permai masih terus berujung asap

Kebaikan kian dibalas dengan serpihan kaca

Hingga cuatan darah kian bersarang


Dunia, janganlah kau terus berkicau

Seakan semua baik-baik saja

Padahal banyak airmata yang terurai 

Di tanah palestina yang bagaikan neraka


Tak tahukah engkau bahwa itu celaka

Jika Allah hendak menantang?

Tidak sadarkah engkau bahwa itu salah?

Jika bahagia berujung karma?


Jangan hadirkan angin jika ingin bersenang

Karena jiwa bukan mainan untuk dibajak

Kedamaian adalah akta kebenaran

Dan tidak perlu untuk diperjual-belikan


Jualan tak bersabar niscaya akan kalah

Jika panji kezaliman sudah patah disana

Dan kesalahan akan menuai penghukuman

Jika kesadaran tiada mau bersuara


Pernahkah engkau merasa

Bahwa kecil dan besar sering bertanya?

Apa gerangan engkau menyerang

Sedangkan mereka tiada bersalah?


Kini kusadar sepertinya engkau serakah

Karena manis berlum tentu nyaman

Dan jeritan - tangis belum tentu salah

Bertobatlah sebelum semua bertambah parah

Biarlah palestina menjadi bangsa yang jaya

Di atas kegilaan yang harus dihentikan


TANAH YANG MASIH BERNYAWA

Karya: Pasidah Rahmat


Di tanah itu

Setiap pagi bukan lagi tentang matahari

Tetapi tentang siapa yang masih hidup


Di antara runtuhan batu dan wayar eletrik yang terjulur

Ada suara

Kecil serak tapi nyata

“Ibu, saya di sini.”


Namun tiada jawapan

Hanya debu

Dan bau besi yang memenuhi udara


Langit Palestine

Bukan sekadar langit

Ia adalah luka yang terbuka

Tempat doa bergaul dengan asap

Dan setiap bintang membawa nama yang hilang


Yusuf duduk di tepi dinding yang retak

Memegang beg sekolah koyak

Menyimpan pensil terakhir

Seolah-olah itu senjata suci


Dia menulis di tanah

‘Aku menjadi doktor’

Dan huruf-huruf itu hilang

Ditelan angin dan ledakan yang tidak pernah tidur


Tetapi di dalam dadanya

Masih ada cahaya kecil

Yang tidak pernah padam


Di seberang jalan

Seorang wanita tua menadah langit

Memanggil nama anaknya

Seperti memanggil matahari

Tiap kali serpihan batu jatuh

Dia berkata perlahan

“Setiap yang hancur akan tumbuh semula.”


Begitulah manusia di tanah ini

Mereka menanam harapan di celah runtuhan

Dan menyiramnya dengan air mata


Mereka tahu

Bumi ini bukan sekadar tanah

Tetapi nadi

Yang terus berdetak walau tubuh terhimpit


Dan malam

Ah …. Malam di Palestine

Adalah taman doa dan tangisan

Di mana setiap ibu menjadi penyair

Dan setiap anak menjadi ayat kehilangan


Namun dari jauh

Ketika fajar merangkak di ufuk

Kau boleh dengar sesuatu

Suara kecil yang menyebut nama Tuhan

Dengan yakin yang tidak pernah gugur


“Allah bersama kami.”

Suara itu naik ke langit

Menembusi asap, menembusi ngeri

Menjadi cahaya yang memeluk seluruh bumi


Palestine

Bukan kisah tentang perang

Tetapi tentang manusia yang terus hidup

Meski segala alasan untuk hidup telah dirampas


Dan dari setiap reruntuhan

Akan tumbuh satu bunga kecil

Bukan merah bukan putih

Tetapi warna doa


Kerana di tanah yang masih bernyawa ini

Kemanusiaan tidak pernah mati

Ia hanya menunggu dunia

Untuk kembali membuka mata


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025


 DARI JAUH AKU MELIHAT

Karya: Pasidah Rahmat


Dari jauh

Aku melihat Palestine

Bukan dari jendela rumahku

Tetapi dari layar kaca

Yang menyiarkan tangisan dalam warna


Aku melihat anak-anak

Bermain di bawah langit yang retak

Dan aku menonton

Seperti menonton filem

Yang tiada penghujung



Aku meneguk kopi pagi

Sementara mereka meneguk debu

Aku berkata “kasihan,”

Lalu menatal ke bawah

Mencari berita lain


Betapa mudahnya simpati ini

Lahir dan mati dalam detik


Dunia penuh suara

Tapi tiada yang benar-benar mendengar

Kita menulis “Pray for Palestine,”

Di ruang maya yang sunyi

Sedang di bumi mereka

Sedang di bumi mereka

Doa itu dibayar dengan nyawa


Aku tertanya

Apakah ertinya menjadi manusia

Kalau hanya mampu memandang derita

Tanpa berbuat apa-apa?


Mereka kehilangan rumah

Aku kehilangan rumah

Aku kehilangan kata

Mereka menaman zaitun di tanah terbakar

Aku menanam rasa bersalah

Di hati yang semakin beku

Namun setiap kali aku menatap wajah mereka

Anak kecil memeluk roti separuh hangus

Ibu yang mengangkat tubuh tanpa nyawa

Lelaki tua yang masih sujud di bawah langit terbuka

Aku tahu

Aku sedang memandang wajah sebenar ketabahan


Mereka mengajar dunia

Erti berdiri tanpa tanah

Erti berharap tanpa janji

Erti cinta yang tidak meminta balasan



Dan aku

Orang luar yang hanya mampu menulis

Berjanji pada sehelai kertas

Akan ku teruskan kisah mereka

Selagi tinta masih mengalir

Selagi matahari belum letih memandang bumi


Kerana suatu hari nanti

Bila dunia ini benar-benar tenang

Aku mahu berkata pada diriku sendiri

Aku tidak hanya melihat

Aku pernah peduli


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025


AKU DATANG KE SEMPADAN

Karya: Pasidah Rahmat


Suatu hari

Aku datang ke sempadan

Langitnya masih sama

Berdebu birunya pudar

Namun udara di sini

Mengandungi sesuatu

Yang tidak wujud di tempat lain

Bau kehilangan yang suci


Aku melihat sendiri

Bagaimana bumi boleh bernafas dalam derita

Bagaimana manusia boleh tersenyum

Walau setiap langkahnya memijak kaca


Di hadapan sebuah khemah lusuh

Seorang kanak-kanak menulis di pasir

Bukan huruf

Tetapi nama-nama yang ingin diingatkan dunia

Namanya Mariam

Dia berkata kepadaku

“Kakak, bila langit tenang

Saya akan jadi guru.”


Aku terdiam

Langit tidak pernah tenang di sini

Tetapi dalam matanya

Aku nampak sebuah sekolah kecil yang masih hidup

Dibina dari harapan

Bukan batu


Di masjid yang tinggal separuh dinding

Iman tua mengangkat tangan

Doanya panjang

Bukan meminta hujan

Tetapi meminta dunia mendengar

Aku berdiri di belakangnya

Terasa kecil di hadapan iman sebesar langit


Ketika malam turun

Aku duduk di tepi khemah

Dikelilingi kanak-kanak yang ketawa

Yanpa memahami perang sepenuhnya

Aku malu pada mereka

Pada ketabahan yang tidak aku miliki


Di luar sempadan

Dunia sibuk dengan urusan sendiri

Di dalam sini

Masa diukur dengan dentuman

Bukan jam


Aku menulis lagi

Kali ini bukan tentang simpati

Tetapi tentang saksi

Kerana setelah melihat

Aku tidak lagi orang luar


Aku telah disentuh oleh tanah ini

Oleh tangan kecil yang memegang jari aku

Oleh wajah ibu yang berkata lembut

“Jangan lupa kami bila pulang.”


Dan aku tahu

Aku tidak akan lupa


Kearan Palestine bukan lagi berita

Bukan lagi peta

Tetapi cermin

Di dalamnya aku melihat

Segala yang masih manusia dalam diriku


Kini bila aku pulang

Aku tidak hanya berkata

Aku melihat

Tetapi aku menyaksikan


Dan dalam setiap degup jantung

Aku dengar gema itu

Suara bumi yang masih bernyawa

Masih menunggu dunia

Untuk menjadi manusia semula


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025

 PALESTINA OH PALESTINA

Karya: MOHAMAD II WAHYUDIN


Pagi ini sarapan kita apa?

Siang ini lunch kita dimana?

Malam ini dinner kita siapa?

Sungguh... Pertanyaan-pertanyaan hedonis 

Pertanyaan-pertanyaan memalukan


Pernahkah kita bertanya

Apa kabar Palestina? Pasca pengumuman kemerdekaan oleh PBB 

Adakah yang membantu recovery sosial di Palestina?

Adakah yang mengobati luka psikologi anak-anak Palestina?

Adakah yang sudi memapah anak-anak Palestina menuju masa depan mereka?

Kitakah..???

Mengapa diam???


Mana ukhuwwah yang dulu pernah ditanamkan oleh nabi Muhammad di dalam jiwa Muhajirin dan Anshar?

Mana metapora indah seperti satu tubuh yang digambarkan nabi dalam haditsnya?

Keberpihakan kita hari ini, kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah..

Jika tak memberi solusi apapun, maka janganlah engkau menyakiti mereka

Mereka adalah saudara kita yang tidak akan pernah putus hubungannya bahkan oleh kematian sekalipun...

Apa Kabar Palestina???

Maafkan kami yang sering lupa pada nasib kalian...



Bumi Al-Kautsar 2025






BILA PALESTINA MERDEKA

KOMARIAH UMI AL-KAUTSAR


Bila jerit pilu dan rintihan 

berganti dengan keriangan 

bak anak-anak mengejar layangan

Merdeka Palestina


Bila dering rocket dan lesat meriam 

berganti cahaya kembang api

saat menyambut tahun baru

Merdeka Palestina


Walau suaraku belum sampai di negerimu

Dan langkahku belum menapak di tanahmu

Walau do’a kemerdekaan belum terkabul untukmu

Ada harapan kedaulatan terus bergema 

sampai ke Arsy-Nya

Merdeka Palestina



Bumi Al-Kautsar 2025  

Rabu, 1 Oktober 2025

Anak-Anak Palestina

Karya: Edaur


Mata mereka adalah langit yang retak,

diselimuti asap mesiu,

namun di sudutnya masih ada bintang

yang menolak padam.


Tawa mereka pecah seperti kaca

dilemparkan ke jalan yang sepi,

tapi serpihannya berkilau,

memantulkan cahaya yang tak mau hilang.


Kaki kecil itu berlari tanpa alas,

menyusuri puing rumah dan bayangan tank,

seakan mengejar pelangi

yang digambar oleh darah

dan debu yang berterbangan.


Mereka adalah benih zaitun

ditanam di tanah merah luka,

akar mungilnya menolak tercerabut

meski setiap musim

datang api membakar ladang.


Mereka adalah burung-burung kecil

yang terperangkap di sangkar besi,

namun sayap imajinasinya terbang

menembus jeruji,

menyapa langit dengan doa.


Wahai dunia, lihatlah mereka!

Jangan hanya menghitung korban,

jangan hanya menulis angka di kertas laporan,

karena di mata anak-anak itu

tersimpan masa depan

yang lebih besar dari ketakutan.


Anak-anak Palestina:

mereka menggenggam fajar dengan tangan gemetar,

mereka menyalakan harapan

di antara reruntuhan doa,

dan dari bibir mungil mereka

akan lahir lagi nyanyian

tentang kebebasan.


Pekanbaru, 25 September 2025

Kami untukmu, Palestina

Karya: Eduar



Kami bukan hanya suara

Kami adalah ombak

yang menolak padam meski karang

merobek dada samudra.


Kami bukan sekadar doa

Kami adalah cahaya

yang menyelinap di celah puing

menyalakan mata anak-anakmu

agar tetap mengenal fajar.


Kami bukan sebatas nama

Kami adalah akar

yang menembus bumi, menolak tercerabut

sebab darahmu sudah jadi hujan

dan nadimu sudah jadi sungai.


Kami bukan hanya janji

Kami adalah bara

yang ditiup langit

membakar takut, menyalakan tekad

menjadi api di tubuh besi.


Kami untukmu, Palestina:

takkan tunduk pada artileri,

takkan gentar pada tirani,

karena tanahmu adalah kitab terbuka,

dan perjuanganmu adalah ayat

yang kami hafal dalam dada.


Pekanbaru, 20 Agustus 2025

KARYA TERBAIK MINGGUAN

 TEMA: SUARA UNTUK PALESTINA





Isnin, 29 September 2025

 Jejak Cahaya di Lorong Pengabdian 

Karya: Agustina Rahman


Tahun 1998, langit Makassar kerap dilanda mendung. Jalan-jalan ramai oleh kendaraan yang lalu lalang, namun hatiku dipenuhi keraguan. Gelar sarjana pendidikan baru saja kugenggam, tetapi jalan menuju mimpi masih terasa kabur, masih abu-abu. Aku ingin menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.

Awalnya aku diterima mengajar di sebuah sekolah menengah pertama sebagai guru honor. Rasanya seperti berdiri di antara jurang harapan dan kenyataan. Gaji yang kuterima tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi membantu keluarga. Meski begitu, aku tetap berangkat setiap pagi dengan semangat dan penuh rasa syukur. Bagiku, ilmu yang kutanam di dada murid-murid jauh lebih berharga daripada sekadar angka rupiah.

Namun hidup selalu menuntut kesanggupan bertahan. Aku butuh tambahan penghasilan. Tak lama kemudian, seorang kenalan mengajakku ke sekolah yayasan Bhayangkari. Di sana, aku kembali mengajar, membagi ilmu pada wajah-wajah muda yang haus pengetahuan. Aku juga dipercaya menjaga perpustakaan, ruang sunyi dengan rak-rak buku yang seakan bernapas, menunggu disentuh dan dihidupkan kembali oleh para pembaca. Dari balik meja kayu sederhana itu, aku bukan hanya guru, tetapi juga penjaga gerbang pengetahuan.

Selain mengajar, aku juga menjadi tempat bersandar bagi mahasiswa yang berjuang menyelesaikan skripsi. Mereka datang membawa tumpukan kertas dan segunung kebingungan. Aku menyimak, memberi arahan, lalu melihat mata mereka berbinar ketika satu persatu bab tersusun. Dari situlah aku memperoleh rupiah tambahan, sedikit demi sedikit, cukup untuk bertahan hidup.

Hari-hariku padat. Pagi diisi mengajar di satu sekolah, siang berlari ke sekolah lain, malam membantu mahasiswa menulis skripsi. Lelah itu nyata, tetapi aku menjalaninya dengan ikhlas. Setiap lembar kertas yang kusentuh seakan menjadi saksi bahwa aku masih bertahan, masih berjuang.

Di ruang guru, aku sering berbincang dengan sesama guru honor. Wajah-wajah mereka tak jauh berbeda denganku: penuh semangat namun dibalut kegelisahan. Kami tertawa bersama meski isi dompet tipis. Kami saling menguatkan, seperti ranting-ranting kecil yang saling menopang agar tak patah diterpa angin.

Suatu siang, kepala sekolah masuk membawa kabar yang membuat jantungku berdetak kencang.Tahun ini dibuka penerimaan CPNS, termasuk formasi guru, ucapnya. Ruangan hening. Mata para guru honor menatap satu sama lain, seakan sinar baru menembus awan mendung. Itu bukan sekadar pengumuman; itu adalah kesempatan emas yang lama kami tunggu.

Aku pulang dengan langkah ringan, meski hati penuh gelisah. Malam itu, di kamar sederhana, aku berbisik pada diriku sendiri: Inilah saatnya. Jika ingin masa depan yang lebih pasti, aku harus berani mengambil langkah.

Keesokan harinya, kususun berkas-berkas pendaftaran dengan hati-hati. Setiap lembar kertas bagai mozaik harapan: ijazah, transkrip nilai, surat keterangan sehat. Semua kuperiksa berulang-ulang. Sempat ada kegelisahan karena aku belum memiliki KTP padahal itu salah satu syarat utama. Untungnya, panitia masih memberi kelonggaran; keterangan domisili kutambahkan sebagai pengganti. Ketika akhirnya kuantar berkas-berkas itu ke tempat pendaftaran di detik-detik penutupan. Aku merasa lega, seolah satu beban berat telah terangkat.

Di ruang pendaftaran, suasana tampak riuh namun teratur. Kursi-kursi plastik berderet, penuh oleh wajah-wajah yang sama tegangnya denganku. Beberapa sibuk merapikan map, ada pula yang berbisik-bisik mengulang doa. Panitia duduk di balik meja panjang, menumpuk berkas-berkas yang semakin tinggi. Saat giliranku tiba, jantungku berdegup lebih cepat. Tanganku sedikit bergetar ketika menyerahkan map hijau itu. Petugas menatap sejenak pada keterangan domisili yang kuselipkan, lalu mengangguk pelan. Baik, berkas diterima, katanya singkat. Hanya dua kata itu, tetapi bagiku terasa seperti kunci yang membuka pintu harapan.

Namun, kegelisahan kembali menyeruak ketika kutahu bahwa formasi untuk program studiku hanya menyediakan satu kursi. Bayangkan, satu kursi untuk ribuan pelamar yang sama-sama berjuang keras meraih mimpi. Rasanya seperti harus berlari di lintasan yang panjang, sementara garis finish tampak begitu jauh, nyaris tak terlihat. Aku seolah berpacu dengan waktu, dengan nasib, bahkan dengan diriku sendiri. Di benakku terbayang, betapa tipisnya peluang itu, namun justru di situlah ujian terbesar: apakah aku akan berhenti karena rasa gentar, atau tetap melangkah meski harus menantang ketidakpastian.

Tahap pertama, seleksi administrasi, kulalui dengan lancar. Namun itu hanyalah gerbang awal dari perjalanan panjang yang menanti. Kini tiba saatnya menunggu ujian tertulis, sebuah tahap yang akan menentukan siapa yang masih bisa melangkah dan siapa yang harus berhenti di tengah jalan. 

Pagi itu, aku melangkah masuk ke ruangan ujian dengan hati yang berdebar. Derap langkah para peserta lain, suara kursi bergeser, hingga tatapan penuh harap dari wajah-wajah asing di sekelilingku, semuanya menambah beban yang kian menekan dada. Rasanya udara pun ikut menegang, seolah-olah ruangan itu menyimpan ribuan doa yang saling berdesakan.

Ketika lembar soal akhirnya dibagikan, aku menatapnya lama, seakan kertas putih itu berubah menjadi batu berat yang menghimpit. Aku menarik napas panjang, menutup mata sejenak, lalu berdoa dalam hati agar diberi kekuatan. Saat pena kugerakkan, setiap nomor terasa bukan sekadar soal, melainkan sebuah pertarungan antara keyakinan dan keraguan, antara harapan dan rasa takut. 

Waktu berjalan begitu cepat, namun di kepalaku setiap detik seperti berdetak keras, mengingatkanku bahwa inilah medan ujian sesungguhnya. Dan di tengah ketegangan itu, aku hanya bisa percaya, bahwa setiap goresan jawaban adalah langkah kecil menuju garis finish yang tak pernah berhenti kupandangi dari kejauhan.

Beberapa minggu kemudian, kabar pengumuman hasil ujian mulai terdengar dari mulut ke mulut. Belum ada internet saat itu; tak ada kemudahan membuka layar ponsel dan menemukan kepastian dalam hitungan detik. Satu-satunya cara adalah mendatangi langsung kantor wilayah, tempat semua harapan dan kecemasan para pelamar bertumpuk menjadi satu. 

Perjalanan menuju ke sana terasa begitu panjang, meski jaraknya tak seberapa. Di sepanjang jalan, hatiku dipenuhi doa yang terus berulang, seolah-olah setiap langkah kaki adalah lantunan harapan yang kupanjatkan kepada sang pencipta.

Setibanya di depan papan pengumuman, degup jantungku nyaris pecah. Mataku menyapu ratusan nama dengan cemas, baris demi baris seperti menari di depan pandangan. Dan tiba-tiba, pandanganku terhenti: namaku tercetak jelas di sana. Seketika air mataku mengalir diam-diam. Alhamdulillah, ucapku lirih, penuh haru. Aku berhasil lolos ke tahap berikutnya, sebuah langkah baru dalam perjalanan panjang yang masih menyimpan banyak ujian. Namun di balik itu semua, ada keyakinan yang makin kuat: bahwa doa, usaha, dan kesabaran selalu menemukan jalannya.

Rasa syukur membuncah, tetapi perjalanan belum benar-benar selesai. Di ujung jalan menanti litsus atau penelitian khusus yang konon dihelat aparat TNI. Dalam imajinasiku, seragam hijau menjelma dinding kokoh, tatapan mata tajam bagai pisau yang menelusuri isi dada. Aku merasa kecil, seakan langkahku bisa terhenti kapan saja, namun justru di sanalah nyali diuji.

Hari itu tiba. Di Bakortanasda, antrean panjang menunggu. Para pelamar duduk gelisah, sebagian berbisik lirih. Saat namaku dipanggil, langkahku terasa berat. Aku masuk ke ruangan, duduk di hadapan seorang pewawancara berseragam. Pertanyaan meluncur cepat, menohok, dan kujawab dengan hati-hati. Setiap kata seolah menentukan jalan hidupku. Usai wawancara, aku keluar dengan napas terengah, seakan baru saja melewati ujian terbesar dalam hidup.

Hari-hari berikutnya kuisi dengan doa yang tak pernah putus. Setiap kali salat, aku memohon dengan sepenuh hati agar langkah ini dimudahkan dan diberi jalan terbaik. Dalam sujudku, terbayang wajah kedua orang tuaku yang selalu mendoakan dari jauh, meski tak pernah mereka ucapkan langsung. Doa mereka terasa sampai di sini, harapan mereka adalah semangatku, membuatku tak berani menyerah. Aku tahu, keberhasilanku kelak bukan hanya milikku sendiri, tetapi juga hadiah kecil bagi mereka yang telah berkorban tanpa pamrih.

Akhirnya, hari pengumuman yang kutunggu dengan cemas tiba. Namaku tercetak jelas di Harian Fajar, seolah huruf-huruf itu memantulkan cahaya harapan yang selama ini kujaga. Saat membacanya, tanganku bergetar hebat, tak kuasa menahan rasa haru yang menyeruak dari dada. Air mata pun jatuh tanpa bisa kutahan, menyapu segala lelah, resah, dan doa-doa panjang yang pernah kuucapkan. Aku lulus. Aku resmi diterima sebagai guru PNS, sebuah pencapaian yang dulu terasa begitu jauh, kini nyata dalam genggaman.

Aku sujud, membiarkan lantai dingin menyerap air mata kebahagiaan. Aku segera menulis surat untuk orang tua, mengabarkan kabar gembira itu. Aku bisa membayangkan senyum mereka, doa-doa yang semakin tulus terpanjatkan. Hari itu, kutatap langit dengan hati penuh syukur. Perjuangan panjang, kelelahan, dan kegelisahan akhirnya berbuah manis. Aku tahu, jalan pengabdian ini bukan akhir, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab besar.

Aku berjanji pada diriku sendiri: akan kutapaki jalan ini dengan sepenuh hati. Bukan hanya demi diriku, tetapi demi anak-anak bangsa yang menunggu cahaya ilmu. Karena menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan ibadah, sebuah jejak panjang yang kelak kuharap tetap harum meski ragaku tak lagi ada.

Aku sadar, aku bukanlah pahlawan dengan senjata di medan perang. Aku hanyalah seorang guru pahlawan tanpa sorak-sorai, tanpa medali, yang berjuang dalam sunyi. Namun justru dalam kesunyian itulah lahir cahaya, cahaya yang kelak menuntun langkah generasi menuju masa depan. Dan selama hayat masih dikandung badan, aku akan terus menjaga cahaya itu, sampai titik pengabdian terakhir.

Makassar, 30 September 2025

BIONARASI


Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigrak Terbanyak (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.


SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular