Rabu, 15 Oktober 2025

 JERIT MASJID AL -AQSA DALAM KESUNYIAN 

Oleh: Rosmita


Di bawah kubah yang menahan pilu,

Kumandang azan menembus langit 

Meski peluru menulis takdir di udara,

Jiwa-jiwa suci tak berhenti bersujud 

Kepada'Mu Rabb ku 


Jemari-jemari mungil menggenggam debu,

Namun hati anak-anak Palestina menggenggam surga,

Setiap air mata yang jatuh di tanah suci,

Adalah doa yang tiada pernah padam oleh api dunia


Ya Rabb ku 

Di balik luka yang (Kau) titipkan, 

Kepada kami 

Ada cinta dan kasih'Mu yang menumbuhkan harapan untuk 

Tetap mereguk indahnya kehidupan 

Biarlah kami mendengar jerit Al-Aqsa,

Sebagai panggilan untuk menegakkan iman.


Di setiap sujud umat di bumi ini,

Selalu mengalir doa-doa terindah 

Untuk Palestina,

Semoga fajar kebebasan segera menyapa, negeri yang suci ini

Al-Aqsa kembali berdzikir 

Dalam kesunyian dan kedamaian 

yang hakiki 


Jambi 2025


DOA DI BAWAH LANGIT GAZA

Oleh: Rosmita


Langit Gaza, bersaksi tentang 

darah dan doa,

Di bawah langit Gaza anak-anak 

Menatap bintang tanpa rasa  takut,

karena mereka mengerti 

Jika surga lebih terang dari gelapnya perang ini


Aku masih melangit kan doa,

Untuk bumi yang sangat dicinta 

Oleh Rasulullah Saw 

Agar damai kembali bernapas 

Di udara,

Dan cahaya Allah menjemput para syuhada yang shahid 


Ya Rabb ku 

Peluklah mereka dalam kasih sayang'Mu,

Kuatkanlah iman di dada para ibu-ibu

yang kehilangan anak dan suami, 

Namun mereka tidak pernah kehilangan ridha-Mu, Rabb ku 


Ketika malam menutup mata dunia,

Biarlakan doa ini jadi cahaya,

Menyusup ke langit Gaza membawa 

Pesan cinta,

Bahwa umat Islam tidak akan pernah melupakan mereka yang sedang lara


Jambi 2025


SUARA RINTIHAN ANAK PALESTINA 

Oleh: Rosmita


Anak kecil itu mendengar suara reruntuhan 

lirih seperti doa dari luka,

“Apakah surga mempunyai taman,

tempat aku bisa bermain tanpa suara bom?” ucapnya


Mata mungil itu menatap langit,

di antara reruntuhan yang bercerita tentang sabar, tentang keihklasan 

Dan aku tahu

Suara itu adalah nyanyian iman yang tidak bisa dibungkam.


Wahai Rabb ku Tuhan semesta Alam,

Suara mereka adalah ayat kasih-Mu,

yang mengingatkan kami 

Bahwa berdamai lahir dari hati yang berserah kepada-Mu.


Biarlah dunia mendengar suara itu,

Suara anak-anak Palestina yang 

penuh cinta,

Meski tubuh mereka rapuh dan hancur oleh perang,

Namun jiwa mereka tetap teguh 

Dalam rahmat-Mu.


Jambi 2025


Tentang Penulis 


Puisi-puisi ini ditulis oleh Rosmita, seorang kepala sekolah dan penulis 

yang memandang menulis sebagai ibadah dan zikir. Melalui bait-bait religiusnya, ia menyampaikan doa 

dan rasa empati untuk Palestina

Agar dunia kembali melihat dan merasakan, luka yang disembunyikan 

di balik kekuatan iman.


Jambi 2025

 Senandung Pilu Dari Tanah Para Nabi

( Puisi Untuk Palestina )

Oleh : Jalal Rebong, S.Pd



Di Tanah suci, tempat doa bersemi,

Luka menganga tak kunjung terobati.

Bukan cerita, bukan pula mimpi,

Namun nyanyian pilu yang dibawa sepi.


Dari Gaza, debu-debu bercerita,

Tentang rumah yang hilang, tinggal puing sisa.

Langit malam yang seharusnya tenang, berbintang,

Kini dilukis merah, oleh jerit yang mencekam.

Anak-anak berlarian, bukan untuk bermain,

Namun mencari perlindungan, dari suara yang dingin.

Mata kecil mereka, menyimpan sejarah kelam,


Kisah kehilangan ayah, ibu, dan pagi yang tenggelam.

Oh, Al-Aqsa, jiwamu kini terhimpit,

Dindingmu kokoh, namun hatimu sakit.

Saksi bisu perih, di persimpangan abad,

Menanti damai yang entah kapan kan tiba, dengan selamat.

Kami di kejauhan, hanya bisa meratap,

Menyimpan duka dalam doa yang tak pernah lenyap.



Sebab engkau adalah denyut nadi kemanusiaan,

Palestina, tanah zaitun yang tak pernah kami lupakan.

Semoga fajar esok membawa keadilan,

Menggantikan air mata dengan senyum kemenangan.

Agar zaitun tumbuh subur, di tanah yang merdeka,

Dan senandung pilu berganti menjadi senandung suka.



Balauring, 15 Oktober 2025

Bionarasi

Jalal Rebong, S.Pd. Pria kelahiran Kolipadan ( 1987 ) Guru Pada SMAN 1 Balauring sekaligus Pegiat dan Penulis Sastra, penggagas komunitas Tinta Sastra Smansa Balauring.  sejak 2011 saya sudah menulis beberapa karya baik Bersama rekan sejawat maupun pribadi, bagi saya menulis Adalah jalan membuka gerbong jiwa dan puisi bagiku Adalah ungkapan jiwa, itulah saya selalu menghabiskan waktu untuk menulis. 

 Suara dari Langit Palestina

Oleh Khoiri


Di tanah suci yang berdebu,

tempat para nabi pernah melangkah,

angin membawa kabar dari langit—

tentang sabar, tentang luka,

tentang iman yang tak pernah padam.


Langit di atas Gaza retak,

namun di setiap retakannya

ada cahaya yang menolak padam.

Anak-anak kecil menatapnya dengan mata penuh doa,

menghafal takbir di tengah dentum senjata.


Setiap batu yang mereka genggam

bukan amarah—

melainkan harapan yang dikirim ke langit,

menembus awan, menembus sunyi,

menggetarkan Arasy

dengan nama Allah yang suci.


Di antara puing rumah yang runtuh,

seorang ibu menimang bayang anaknya,

berbisik lirih,

“Syahidmu bukan akhir, nak,

tapi jalan menuju taman yang dijanjikan.”


Dunia mungkin menutup mata,

namun bumi tidak.

Tanah Palestina menyimpan setiap jejak sujud,

setiap darah yang jatuh menjadi saksi,

bahwa perjuangan ini bukan tentang tanah semata,

melainkan tentang kehormatan iman.


Waktu berjalan, musim berganti,

namun suara itu tak pernah hilang—

suara azan di antara runtuhan,

suara doa di sela ketakutan,

suara anak-anak yang masih berani tertawa

meski langit di atasnya terbakar.


Wahai dunia,

jika telingamu masih sanggup mendengar,

dengarkanlah—

itu bukan jerit, bukan tangis,

itu suara dari langit Palestina,

suara yang lahir dari sabar dan tawakal,

suara yang membawa pesan:

bahwa kebenaran mungkin tertindas,

tapi tak akan pernah kalah.

Sabtu, 11 Oktober 2025

Festival Suara Serumpun dan Peluncuran Buku 'Akar Serumpun Anyaman Rasa'





 

Air Merah Yang Membasahi Tanah Kering

Karya oleh: A.SafH


Sampai bila air merah ini terus mengalir

menyapa tanah kering yang sudah lama keras

pancaran cahaya terbit yang datang bukan menyingkap pagi 

tetapi petanda kepada kegelapan yang membawa keperitan.


Kau!

Tidakkah ada walau setompok putih menitik dalam kalbumu

ceritamu sengaja kau reka panjang dan tidak kau noktahkan;

jantung-jantung yang berdenyup seolah tidak bernilai

dengan akalmu yang sudah disuntik racun itu

kau permainkan denyutan nadi yang murni 

kau lemparkan ego-egomu tanpa belas kasihan

meninggalkan sisa-sisa tanda yang hancur lebur

jasad-jasad yang memaknai iman dan perjuangan.


Hatimu yang semakin membusuk

menghalang tangan-tangan yang ingin menggapai

seolah-olah tangan-tangan itu akan memukulmu

padahal tangan-tangan itu cuma ingin menyambut 

menyalam saudara-saudara mereka tapi 

kau alih

kau ikat

kau rampas

dan mulutmu rancak memutar cerita

walhal seisi alam mempunyai mata dan telinga

otak untuk berfikir waras

ketaatan hati yang setia kepadaNYA.

Tubuh kecil kini menjadi piatu

mencari atap untuk berteduh

mata yang kecil menjadi saksi 

kehilangan sosok pelindung 

yang seharusnya membawa tangan kecil itu ke tempat aman

kaburlah impian-impian yang masih panjang.


Dalam keadaan bingung 

mata kecilnya terasa pedih dan basah

berharap bahawa tangan kecilnya itu disambut

supaya dapat meneruskan hidup 

dan terus berjuang.


Ingat…

setiap titisan air merah yang mengalih itu

dari sekecil zarah

adalah nyata sebuah perjuangan

yang menyerap ke tanah kering

menyatu bersama, selamanya.



Brunei Darussalam

4 Oktober 2025




Jumaat, 10 Oktober 2025

 Secangkir Kopi Tuan Rodney


“Bukankah Allah (yang demikian kuasa-Nya) seadil-adil Hakim”

— Al-Quran, 95:8


aku meghirup seduhan Walter Rodney

kerana katanya, dia benci kopi di kafe barat

kelmarin kopinya mahapahit

di dasar cangkir ada kata-kata: 

semua kekerasan ialah kejahatan

tanpa mengira punca?


dalam cangkirku, tuan Rodney seduh

bru kopi segar dari mesin kopinya:

bagaimana kekerasan seorang abdi

cuba mematahkan belenggu dari kaki,

pernah sama dengan kekerasan tuan abdi?


(shalom! jemput minum kopi bersamaku

apa tuan semua kira sejarah hanya bermula

selepas 7 Oktober 2023?)



Taufiq Harith

9 Oktober 2025

Selangor, Malaysia






Khamis, 9 Oktober 2025

 SERUAN KEDAMAIAN

Karya: Nus Pariama


Hanya oleh kabar hati kian terpana

Bahkan oleh berita jiwa seakan merana

Mungkinkah luas jeritan disana?

Sungguh kabar tak bisu untuk bersuara

Biar dunia tahu dan besua damai


Bak sebutir tanah yang diinjak-injak

Ladang permai masih terus berujung asap

Kebaikan kian dibalas dengan serpihan kaca

Hingga cuatan darah kian bersarang


Dunia, janganlah kau terus berkicau

Seakan semua baik-baik saja

Padahal banyak airmata yang terurai 

Di tanah palestina yang bagaikan neraka


Tak tahukah engkau bahwa itu celaka

Jika Allah hendak menantang?

Tidak sadarkah engkau bahwa itu salah?

Jika bahagia berujung karma?


Jangan hadirkan angin jika ingin bersenang

Karena jiwa bukan mainan untuk dibajak

Kedamaian adalah akta kebenaran

Dan tidak perlu untuk diperjual-belikan


Jualan tak bersabar niscaya akan kalah

Jika panji kezaliman sudah patah disana

Dan kesalahan akan menuai penghukuman

Jika kesadaran tiada mau bersuara


Pernahkah engkau merasa

Bahwa kecil dan besar sering bertanya?

Apa gerangan engkau menyerang

Sedangkan mereka tiada bersalah?


Kini kusadar sepertinya engkau serakah

Karena manis berlum tentu nyaman

Dan jeritan - tangis belum tentu salah

Bertobatlah sebelum semua bertambah parah

Biarlah palestina menjadi bangsa yang jaya

Di atas kegilaan yang harus dihentikan


TANAH YANG MASIH BERNYAWA

Karya: Pasidah Rahmat


Di tanah itu

Setiap pagi bukan lagi tentang matahari

Tetapi tentang siapa yang masih hidup


Di antara runtuhan batu dan wayar eletrik yang terjulur

Ada suara

Kecil serak tapi nyata

“Ibu, saya di sini.”


Namun tiada jawapan

Hanya debu

Dan bau besi yang memenuhi udara


Langit Palestine

Bukan sekadar langit

Ia adalah luka yang terbuka

Tempat doa bergaul dengan asap

Dan setiap bintang membawa nama yang hilang


Yusuf duduk di tepi dinding yang retak

Memegang beg sekolah koyak

Menyimpan pensil terakhir

Seolah-olah itu senjata suci


Dia menulis di tanah

‘Aku menjadi doktor’

Dan huruf-huruf itu hilang

Ditelan angin dan ledakan yang tidak pernah tidur


Tetapi di dalam dadanya

Masih ada cahaya kecil

Yang tidak pernah padam


Di seberang jalan

Seorang wanita tua menadah langit

Memanggil nama anaknya

Seperti memanggil matahari

Tiap kali serpihan batu jatuh

Dia berkata perlahan

“Setiap yang hancur akan tumbuh semula.”


Begitulah manusia di tanah ini

Mereka menanam harapan di celah runtuhan

Dan menyiramnya dengan air mata


Mereka tahu

Bumi ini bukan sekadar tanah

Tetapi nadi

Yang terus berdetak walau tubuh terhimpit


Dan malam

Ah …. Malam di Palestine

Adalah taman doa dan tangisan

Di mana setiap ibu menjadi penyair

Dan setiap anak menjadi ayat kehilangan


Namun dari jauh

Ketika fajar merangkak di ufuk

Kau boleh dengar sesuatu

Suara kecil yang menyebut nama Tuhan

Dengan yakin yang tidak pernah gugur


“Allah bersama kami.”

Suara itu naik ke langit

Menembusi asap, menembusi ngeri

Menjadi cahaya yang memeluk seluruh bumi


Palestine

Bukan kisah tentang perang

Tetapi tentang manusia yang terus hidup

Meski segala alasan untuk hidup telah dirampas


Dan dari setiap reruntuhan

Akan tumbuh satu bunga kecil

Bukan merah bukan putih

Tetapi warna doa


Kerana di tanah yang masih bernyawa ini

Kemanusiaan tidak pernah mati

Ia hanya menunggu dunia

Untuk kembali membuka mata


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025


 DARI JAUH AKU MELIHAT

Karya: Pasidah Rahmat


Dari jauh

Aku melihat Palestine

Bukan dari jendela rumahku

Tetapi dari layar kaca

Yang menyiarkan tangisan dalam warna


Aku melihat anak-anak

Bermain di bawah langit yang retak

Dan aku menonton

Seperti menonton filem

Yang tiada penghujung



Aku meneguk kopi pagi

Sementara mereka meneguk debu

Aku berkata “kasihan,”

Lalu menatal ke bawah

Mencari berita lain


Betapa mudahnya simpati ini

Lahir dan mati dalam detik


Dunia penuh suara

Tapi tiada yang benar-benar mendengar

Kita menulis “Pray for Palestine,”

Di ruang maya yang sunyi

Sedang di bumi mereka

Sedang di bumi mereka

Doa itu dibayar dengan nyawa


Aku tertanya

Apakah ertinya menjadi manusia

Kalau hanya mampu memandang derita

Tanpa berbuat apa-apa?


Mereka kehilangan rumah

Aku kehilangan rumah

Aku kehilangan kata

Mereka menaman zaitun di tanah terbakar

Aku menanam rasa bersalah

Di hati yang semakin beku

Namun setiap kali aku menatap wajah mereka

Anak kecil memeluk roti separuh hangus

Ibu yang mengangkat tubuh tanpa nyawa

Lelaki tua yang masih sujud di bawah langit terbuka

Aku tahu

Aku sedang memandang wajah sebenar ketabahan


Mereka mengajar dunia

Erti berdiri tanpa tanah

Erti berharap tanpa janji

Erti cinta yang tidak meminta balasan



Dan aku

Orang luar yang hanya mampu menulis

Berjanji pada sehelai kertas

Akan ku teruskan kisah mereka

Selagi tinta masih mengalir

Selagi matahari belum letih memandang bumi


Kerana suatu hari nanti

Bila dunia ini benar-benar tenang

Aku mahu berkata pada diriku sendiri

Aku tidak hanya melihat

Aku pernah peduli


Pasidah Rahmat

Fajar, Singapura

8 Okt 2025


SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular