Sabtu, 18 Oktober 2025

Kukirim rindu di sayap bayu : Dr. Dil Froz Jan binti Sayed Halem Shah

 Dr. Dil Froz Jan binti Sayed Halem Shah

              Kukirim rindu di sayap bayu


usai kuliah terakhir 

sahabatku bergegas ke bandara

mahu segera pulang ke pangkuan keluarga

yang lama dirindu tanpa sebarang khabar

begitulah anak rantau yang berjauhan

kesekian lama di bumi orang

kasih kekal tumpah di negara sendiri

kami pun berpelukan lalu mengucap selamat semuanya

lambaiannya longlai namun semangatnya kental

jika boleh mahu dia tiba seawal mungkin

rindunya tidak mampu lagi di bendung

begitu ketara di tubir mata

usai beberapa hari, aku menerima panggilan jarak jauh

aduhai, sahabatku menangis pilu

suaranya terketar-ketar menahan sebak

memberi khabar ahli keluarganya

syahid terkena peluru yang disasar

sengaja disasar ke situ

kejiranan yang didiami alim ulama

para cendekiawan dan ilmuan

dan dalam sekelip mata semua berselerakan

sukar mengecam anggota badan

kerana ada yang tanpa kepala

aduhai, kejamnya kaum ini menceroboh dan memusnah 

apa yang ada di hadapan mata

aku bersoal-jawab di benak kepala

sejujurnya, apakah yang mereka mahu

memushi orang Islam dari dahulu kala

apakah mereka tidak gentar akan kuasa Yang Maha Esa?

aku yakin, satu hari nanti, bala bakal menimpa

dan tentera Allah membinasa kaum yang dilaknati ini

kepada temanku yang tidak mungkin aku bersua lagi

kukirim rindu di sayap bayu agak kau baik-baik adanya di sana


Kamar kerja, Bandar Baru Bangi, Selangor, Malaysia

18 Oktober 2025  

Merpati yang Kehilangan: Dr. Dil Froz Jan Binti Sayed

    Dr. Dil Froz Jan binti Sayed Halem Shah

               MERPATI YANG KEHILANGAN



sekumpulan merpati berbulu kelabu terbang riang

seekor hinggap di tiang papan sedikit terlindung

tiangnya tinggi lalu dibina sarang

ia yakin tiang itu selamat kerana ia bakal bertelur 

dan akan menetas anak-anak merpati baru

kesekian hari ia enggan terbang mencari makan

mungkin terlalu lapar, hari itu ia terbang jauh

meninggalkan lima biji telurnya

sedihnya tiang tinggi itu terkena bedilan peluru

patah lalu rebah ke bumi

sarang dan telurnya pecah 

merpati yang terbang mencari makan

kini pulang mencari sarang

seketika ia bumkam meski bergenang airmata  

segala impian melihat anak-anaknya membesar berkecai

aduhai rakyat di bumi anbiyaa ini

kesekian lama menanggung derita

seperti ibu merpati yang meratapi

begitu juga ibu-ibu yang kehilangan anak

apalah yang ada, zuriat mewarisi nama keluarga

syahid pada usia muda

tangis ibu menjadi-jadi

siulan syahdu si merpati tiada bedza

oh tuhan, Kau tabahkan semangat mereka melewati hidup ini

penuh bersyukur dan tawadduk serta lebih menyerah kepada-Mu

kerana hanya Kau Yang Maha Mengetahui akan kejadian yang terjadi



Kamar kerja, Bandar Baru Bangi, Selangor, Malaysia.

18 Oktober 2025  

Doa Di Bawah Reruntuhan: Angela



Tanah Kelahiranku, Palestina: Angela


 

Puisi 3 Judul : Supardi Is Hael

Supardi Is Hael


Judul 1 : Suara dari Tanah yang Tak Pernah Mati


 Suara itu tak datang dari senjata,

 tapi dari dada anak-anak yang kehilangan ayahnya,

 dari mata ibu yang tak lagi punya air mata,

 dari tanah yang setiap hari melahirkan luka 

 dan masih juga disebut tanah suci oleh dunia.


 Di bawah langit yang seharusnya biru,

 awan berubah jadi abu,

 dan doa yang naik pun terbakar di udara.

 Namun, dengarlah…

 Masih ada suara yang tak bisa dibungkam 

 suara kehidupan.


 Itu suara bayi yang lahir di bawah reruntuhan,

 suara muadzin yang memanggil dalam kepulan debu,

 suara bumi yang bergetar menahan duka,

 dan suara cinta yang berkata:

“Kami masih di sini, kami belum menyerah.”


 Dunia boleh berpaling,

 telinga boleh disumbat oleh propaganda,

 namun kebenaran tak bisa dibungkam 

 ia berdenyut di nadi setiap yang masih punya hati.

 Wahai Palestina,

 namaMu adalah doa yang menembus dinding kebisuan,

 engkau bukan sekadar tempat di peta,

 engkau adalah cermin nurani dunia.


 Dan jika dunia diam 

 biarlah kami menjadi suaramu,

 menjerit dari jauh,

 membawa gema:

“Keadilan tidak boleh mati!”

Karena kami tahu 

 di balik puing dan darah,

 ada bunga yang masih ingin mekar,

 ada anak yang masih ingin tertawa,

 ada cahaya yang menolak padam.


Maka dengarlah dunia,

 jika suara Palestina tak lagi terdengar,

 biarlah bumi ini bergetar oleh suara kami.

 Sebab diam adalah pengkhianatan,

 dan berbicara adalah kehidupan.

                                              Buol 18 oktober 2025


 Judul 2 : Ketika Dunia Menutup Telinga, Kami Tetap Berseru: Palestina!

 Di antara reruntuhan dan debu mimpi,

 ada tangis bayi yang tak sempat mengenal kata damai.

 Langit meledak oleh suara besi,

 sementara dunia menunduk,

 seolah sunyi adalah pilihan yang bijak.


 Namun kami di sini,

 menyulam luka menjadi doa,

 menyuarakan namamu, Palestina,

 dengan nada yang lahir dari hati yang terbakar cinta.


 Bukan sekadar simpati

 ini adalah jeritan nurani,

 yang menolak tunduk pada diamnya peradaban,

 ketika darahmu mengalir menjadi tinta kebenaran.


 Wahai tanah para nabi,

 kau bukan sekadar berita yang berlalu di layar kaca,

 kau adalah wajah kemanusiaan

 yang diguncang tapi tak pernah padam.

 Setiap batu yang dilempar anak kecilmu

 adalah huruf dari kitab keberanian,

 setiap doa yang terucap di bawah langit yang terbakar

 adalah nyanyian kehidupan yang menolak punah.


 Kami tidak punya senjata,

 tapi kami punya suara

 dan suara ini akan bergema,

 menembus tembok kebisuan,

 mengetuk hati para penguasa yang lupa rasa.


 Dunia boleh menutup mata,

 tapi suara kami akan terus menyala,

 seperti cahaya di reruntuhan Gaza,

 seperti nadi yang menolak berhenti

 di tubuh-tubuh kecil yang tak lagi takut pada maut.


 Palestina,

 namamu adalah puisi yang takkan mati,

 adalah nyala yang takkan padam,

 adalah suara seluruh dunia yang masih punya hati.

                                               Buol 18 Oktober 2025


Judul 3 : Dari Sunyi yang Tertembak, Kami Berseru: Palestina!

 Dari reruntuhan doa yang patah,

 Kami mendengar jerit anak-anak langit Gaza,

 Tangis mereka bukan hanya air mata,

 melainkan gema bumi yang menagih keadilan.


 Langit hitam terbakar oleh peluru,

 namun di mata seorang ibu,

 masih tersisa secercah cahaya sujud

 menyebut nama Tuhan di antara dentum bom dan debu roti.


 Wahai dunia...

 Di mana telingamu saat jeritan itu memanggil?

 Di mana hatimu saat rumah-rumah menjadi liang kematian?

 Apakah nurani telah dijual di pasar ketakutan?


 Lihatlah,

 di setiap batu yang berserak,

 ada nama yang pernah bermimpi tentang sekolah,

 tentang layang-layang biru di langit tanpa drone,

 tentang pagi tanpa darah.

 Namun mereka masih berdiri,

 meski dunia membisu.


 Mereka masih mencintai,

 meski langit menolak damai.

 Karena di dada setiap anak Palestina,

 ada azan yang tak pernah padam,

 ada bendera yang berkibar dari luka,

 ada doa yang menembus dinding kebisuan kita.


 Maka dengarlah

 ini bukan sekadar suara,

 ini adalah jerit bumi yang haus keadilan,

 ini adalah nyanyian darah yang menulis sejarah.


 Kami berseru:

 Palestina bukan sekadar tanah,

 tapi jiwa kemanusiaan yang menolak tunduk.

 Dan kami tidak akan diam

 karena diam berarti mengubur nurani sendiri.

                                               Buol, 18 Oktober 2025



BIONARASI  

Supardi adalah alumnus Universitas Tadulako, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Ia merupakan anak kedelapan dari sepuluh bersaudara, suami dari satu istri yang setia, dan ayah dari dua putri yang menjadi sumber semangat hidupnya. Saat ini, Supardi mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah di SD Negeri 6 Bunobogu, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Indonesia. 

Selain dunia pendidikan, saat ini Supardi juga menekuni hobi menulis sebagai bentuk ekspresi dan kontribusi dalam dunia literasi. Karya pertamanya adalah buku antologi Menyembuhkan Luka di Tanah Pogoogul. Selanjutnya, ia menulis buku inspiratif 161 Keistimewaan IGI, lalu melahirkan karya fiksi mini berjudul Black Maill, dan buku cerita anak Dwibahasa berjudul Sate Kerang dari Buol, yang merupakan karya tunggalnya. Buku Antologi Puisi berjudul Sketsa Negeriku, buku Fiksi mini “Kawin Perak.” serta buku “Akar Serumpun Anyaman Rasa Jilid 23”.

Dengan semangat pantang menyerah dan cinta pada pendidikan serta budaya lokal, Supardi terus berkarya dan menginspirasi banyak orang melalui tulisan.

Motto hidup: "Jadilah cahaya di tempat yang paling gelap."



Debu Gaza Hingga Indonesia: Ahmad Aziz Rifai

 Debu Gaza Hingga Indonesia


Indahnya langit di malam-malamku

Secangkir kopi hitam hangat bersama sepotong rotiku menambah tenang riang

Bintang dan rembulan seolah menyapa "selamat menikmati malam wahai manusia"


Namun hembusan angin dan bau tak sedap merubah keriangan menjadi kegelisahan

Aroma kebiadaban dari barat terasa pekat

Debu Gaza menyiram rasa duka mendalam

Hingga kampung Indonesia Nusantara 


Bukan gemuruh ombak pantai selatan

Tapi gemuruh peluru zionis yang mencabik dada anak Gaza tak bersalah tak berdosa

Gemuruh rudal zionis melebur pemukiman sipil bahkan rumah ibadah dan rumah sakit dihancurkan berkeping-keping


Debu Gaza seolah memberi pesan

"Wahai muslim, tolong aku, bantu aku, lindungi aku beri aku keamanan" 

Dan aku pun seolah menjawab "Wahai Palestina wahai Gaza kami bersama mu

Do'a-do'a muslim Indonesia tak akan pudar tak akan pernah sirna sedikitpun.


Debu Gaza menjadi saksi mana yang berbuat zalim mana yang terzalimi

Allah segera melindungi dan meridhoi kebangkitan Gaza kemerdekaan Palestina 



_________

Bionarasi:

Penulis bernama Ahmad Aziz Rifai dengan nama pena AZRIF. Asal Tegal Jawa Tengah Indonesia, penggiat literasi dan pendiri taman bacaan masyarakat @tbm.bintangnusantara sejak Oktober 2021.

Wa: 085640642364

Jerit Pekik di Tembok Tuli : Nera Sekuma

Nera Sekuma

JERIT PEKIK DI TEMBOK TULI



Kuketuk dinding bisu tak bernurani

Di atas tanah merah yang terbuat dari luka dan darah

Basah, parah, merampas airmata

Luka menganga dari jiwa-jiwa yang karimah


Engkau tuli dari rintih bayi yang kini beratap langit

Tuli dari jerit tangis anak-anak yang kau lontar genosida

Tuli dari teriakan dunia, tuli dari doa reruntuhan masjid

Congkakmu, yang tak peduli kedamaian dunia


Seperti bicara pada gunung yang tak ingin retak

Bermufakat denganmu bagai bermusyawarah dengan batu

Nalar, logika, dan empati semua koyak

Hitam menjalari kesombongan hati yang beku


Israel bagai binatang jalang,

Palestina bukan bayang-bayang, yang bisa kau hapus dengan cahaya

Palestina bagai akar, yang meski ditindas kan terus menggenggam tanahnya

Dunia beserta langit kan selalu bersamamu Palestina


Kelak sejarah tak akan tuli seperti batinmu,

Ia akan menuliskan siapa pelaknat, dan apapun yang disikat

Dari bumi Allah yang tlah kau hancurkan

Dari mujahid-mujahid yang kau luluhlantakkan


Ya Ilahi Robbi, lindungi rakyat Palestina

Temani setiap tangan-tangan yang sedang berjuang

Kuatkan, selamatkan…

Merdekakan, dan makmurkan…



Pondok Gede, 18 Oktober 2025



Bionarasi

Nera Sekuma, adalah alumni STIE Perbanas Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Selain sebagai PNS di bidang pendidikan, ia juga berkecimpung sebagai relawan pendidikan di Kelas Inspirasi-Indonesia Mengajar. Kegemaran menulisnya mulai digeluti secara aktif dan produktif sejak tahun 2019 dengan berkarya di buku tunggal dan antologi. Karya tunggal pertamanya adalah buku kumpulan puisi dan sajak yang berjudul “Tuliskan saja, jangan dikenang!” (2019). Baginya, menulis adalah cara bersedekah pengetahuan dan pengalaman dalam senyap. Motto hidupnya: gigih berkarya, bercanda secukupnya. (IG:@sekataq; @ak.sarabintang)

Puisi 3 Tajuk : MIMS

Puisi I: Zaitun Luka Di Bumi Syahid

Karya MIMS 


Bukan sembarang gugur, daun-daun zaitun itu,

Ia luruh, seribu kalinya lebih sayu,

Dari janji hujan yang tak pernah kunjung temu.

Akarnya, menjulang rindu sejak ribuan lalu,

Menyimpan denai sejarah, di bumi yang selalu berdebu,

Kini dipatahkan cengkaman besi yang menderu.

Burung-burung pipit di jendela Gaza,

Tidak lagi menyanyi melodi pagi yang mesra,

Paruh mereka terkunci, suara tercekik sengketa.

Kepaknya, sayap harapan yang kian retak,

Terbang melayang, mencari mercu kebebasan yang serentak,

Dari jeriji kezaliman yang tak kenal gelak.

Namun, di celah rekah batu dan ranapnya bina,

Sebiji benih kurma, degil untuk meniada,

Menyimpan intipati kedaulatan yang tiada tara.

Ia menjanjikan pelepah, walau di lidah api,

Mengisi denyut iman yang tak pernah mati,

Palestin, tegaklah ia, dengan doa sejati.


Puisi II: Nyanyian Kumbang Yang Merah

Karya MIMS 


Kumbang Merah, sayapmu koyak dibasahi darah,

Bukan madu yang kau cari di sarang yang musnah,

Tetapi sisa degup nyawa, di bawah timbunan payah.

Kau saksi bisu, ratapan ibu yang terpisah,

Dari buaian anak yang dipeluk tanah,

Di kota yang dijahit luka dan rebah.

Bunga-bunga anemon Palestin,

Merah menyala, bukan kerana mekar murni,

Tetapi mewarnai syahid yang terpilih dini.

Kelopaknya bergetar, merangkul jasad yang hancur,

Membawa pesan kemerdekaan yang subur,

Dari rahim perjuangan yang takkan luntur.

Kini, kiblat doa kami merentasi semesta,

Agar kawah-kawah ledak itu menjadi kolam mesra,

Tempat camar pulang, membawa sauh sejahtera.

Bangunlah, Gaza, dari abu dan cemar yang ngeri,

Biar gagak hitam pergi, membawa dendam sendiri,

Dan Palestin berdiri, syahdu dan abadi.


Puisi III: Kaktus Sabra Dan Keteguhan Watan

Karya MIMS 


Kaktus Sabra, berduri tegar di padang gersang,

Simbol ketahanan yang tak mungkin goyang,

Walau dipanah peluru, ia tetap menjulang.

Dagingnya menyimpan air, rahsia kesabaran,

Di tengah gurun penindasan dan pengorbanan,

Menjadi benteng maruah, menangkis kehinaan.

Serigala-serigala malam, menyalak angkuh dan liar,

Mengoyak sunyi Palestin dengan api yang menjalar,

Mencuba mencabut akar yang ditanam para pejuang wajar.

Mereka lupa, tanah ini diwarisi dari ruh para Anbiya,

Setiap kerikilnya berbisik nama-nama mulia,

Menanti subuh keadilan yang bakal tiba.

Ya Tuhan, Yang Menggenggam Takdir dan Masa,

Kami tadahkan tangan, memohon setulusnya doa,

Agar bendera Palestin, berkibar di puncak Gaza.

Semoga ranting-ranting yang patah, bercambah semula,

Menjadi hutan kebebasan, hijau dan merdeka,

Dan anak-anak Palestin, pulang ke pangkuan bahagia.

Khamis, 16 Oktober 2025

Takbir di Tengah Reruntuhan

Syahrul Ramadhan



Takbir menggema

bukan untuk perang,  

tapi untuk meredam dentuman.


Di antara langit dan reruntuhan,  

ada suara yang tak bisa dibungkam:  

“Allahu Akbar”  

bukan seruan kematian,  

tapi doa agar nyawa diselamatkan.


Di mata anak-anak yang kehilangan atap,  

takbir jadi pelindung,  

bukan pemicu retak tanah.


Gencatan senjata,  

bukan kelemahan,  

tapi kekuatan jiwa  

yang tahu kapan berhenti,  

agar damai sempat tumbuh  

di ladang penuh luka.


Kami tak menyerah,  

kami memilih jeda,  

agar bumi bisa menarik napas  

tanpa aroma mesiu.


Dan ketika takbir naik ke langit,  

ia membawa air mata,  

bukan amarah

ia mengetuk langit,  

agar cinta lebih nyaring  

dari ledakan.

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular