Sabtu, 28 Februari 2026

DI BAWAH LANGIT YANG TAK SAMA: Karya Nelly Amalia

 Di Bawah Langit yang Tak Sama

 Nelly Amalia

       Langit senja di kota pelabuhan itu selalu berwarna jingga keemasan, seakan matahari enggan benar-benar tenggelam. Di bangku kayu dekat dermaga, Arman duduk dengan gitar tuanya, memetik nada yang tak pernah selesai. Lagu itu selalu terhenti di bagian yang sama bagian ketika kenangan datang lebih cepat daripada keberanian untuk melupakannya. Ia mengenalnya pada musim hujan tiga tahun lalu. Perempuan itu datang bersama rombongan relawan lintas negara yang singgah untuk program pendidikan di kampung nelayan. Rambutnya cokelat keemasan, matanya teduh seperti laut yang sedang bersahabat. Ia memperkenalkan diri dengan senyum yang membuat Arman lupa bagaimana caranya bernapas dengan wajar.

Namanya seindah bunyinya.

    Sejak hari pertama, Arman sudah merasakan bahwa mereka berasal dari dunia yang berbeda. Perbedaan itu tidak hanya tampak pada bahasa yang kadang membuat mereka harus saling menebak maksud di balik kata-kata, atau pada paspor yang tak pernah sama warnanya. Ada jarak yang lebih sunyi dan lebih dalam dari sekadar batas negara. Keyakinan yang mereka anut tumbuh dari akar yang berbeda, tradisi keluarga yang membesarkan mereka dibentuk oleh sejarah yang tak sama, dan cara mereka memandang masa depan pun berdiri di atas nilai-nilai yang berlainan.

         Arman dibesarkan dengan prinsip yang sederhana namun kuat, tentang kesetiaan pada ajaran dan restu orang tua sebagai penentu arah hidup. Sementara perempuan itu tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi kebebasan memilih, tetapi tetap terikat pada garis tradisi keluarganya. Cara mereka menyebut Tuhan berbeda, cara mereka merayakan hari besar pun tak serupa. Bahkan dalam membicarakan masa depan, Arman cenderung pasrah pada takdir yang disertai doa, sedangkan ia terbiasa menyusun rencana dengan matang dan terukur.

Semua itu seharusnya menjadi alasan untuk menjaga jarak. Semua itu cukup untuk membuat mereka berhenti sebelum melangkah terlalu jauh. Namun perasaan tidak selalu tunduk pada logika. Tanpa aba-aba, tanpa kesepakatan, dan tanpa pertimbangan panjang, benih itu tumbuh begitu saja di antara percakapan sederhana dan tatapan yang tak sengaja berlama-lama.

    Karena cinta, pada akhirnya, memang jarang meminta izin sebelum tumbuh. Awalnya mereka hanya berbincang selepas kegiatan. Tentang anak-anak kampung yang lucu dan penuh tawa. Tentang mimpi-mimpi kecil yang sering kali terhalang keadaan. Ia bercerita tentang negaranya yang teratur dan modern, tentang musim salju yang belum pernah dilihat Arman kecuali dari layar ponsel. Arman membalas dengan kisah tentang laut yang menjadi sahabat sekaligus guru, tentang ayahnya yang nelayan, dan tentang ibunya yang selalu percaya bahwa doa bisa menenangkan badai.

    Hari-hari berlalu cepat. Mereka mulai terbiasa berjalan beriringan menyusuri pantai. Angin laut menjadi saksi tawa mereka. Kadang, ketika percakapan berhenti, hanya suara ombak yang berbicara. Tetapi dalam diam itu, hati mereka saling menyentuh.

    “Jika suatu hari aku kembali ke negaraku,” katanya suatu sore, “apa yang akan kau lakukan?”

Arman tersenyum, meski hatinya bergetar. “Mungkin aku akan tetap di sini. Laut ini tak pernah mengizinkanku pergi terlalu jauh.”

Perempuan itu menunduk. “Dan jika aku memintamu ikut?”

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka seperti awan kelabu yang tak jadi hujan. Arman ingin berkata iya. Ingin berkata bahwa ia akan menempuh jarak ribuan kilometer demi satu senyumnya. Namun bayangan wajah ibunya, suara azan yang membelah pagi, dan kampung kecil yang membesarkannya, berdiri seperti tembok yang tak kasatmata.

    “Aku tak tahu,” jawabnya pelan.

Sejak saat itu, cinta mereka tak lagi hanya tentang perasaan. Ia berubah menjadi pertarungan sunyi antara keinginan dan kenyataan.


     Kabar kepulangan rombongan relawan datang lebih cepat dari yang mereka duga. Hanya dua minggu lagi sebelum ia harus kembali. Dua minggu yang terasa seperti hitungan mundur menuju perpisahan.

Mereka mencoba menghabiskan waktu seolah-olah tak ada jarum jam yang terus bergerak. Arman mengajaknya ke bukit kecil di ujung kampung, tempat terbaik melihat matahari terbenam. Dari sana, laut tampak seperti hamparan emas yang luas tanpa batas.

    “Aku ingin waktu berhenti,” katanya lirih.

Arman menggenggam tangannya. “Waktu tak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya meninggalkan jejak.”

    “Dan jejak itu menyakitkan.”

Arman menatapnya. Ada air mata yang tertahan di sudut matanya. Ia tahu, sejak awal hubungan ini memang rapuh. Cinta mereka indah, tetapi tak pernah sederhana.

Suatu malam, perempuan itu memberanikan diri berbicara tentang sesuatu yang selama ini mereka hindari.

    “Ayahku sudah menjodohkanku,” katanya dengan suara gemetar. “Ia ingin aku menikah dengan seseorang dari keluarga sahabatnya. Kami memiliki keyakinan yang sama, latar belakang yang sama. Baginya, itu penting.”

Arman terdiam. Dadanya sesak, seakan udara tiba-tiba menipis.

    “Dan kau?” tanyanya akhirnya.

    “Aku mencintaimu.”

Jawaban itu justru membuat hatinya semakin berat. Karena cinta saja ternyata tak cukup untuk menundukkan dunia.

    “Kita berbeda,” lanjutnya pelan. “Keluargaku pun tak akan mudah menerima jika aku memilihmu. Bukan karena mereka tak menghargai, tapi karena keyakinan adalah sesuatu yang mereka jaga sepenuh hidup.”

Arman memalingkan wajah ke laut yang gelap. Ia merasa kecil di hadapan takdir. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa cinta bisa menjadi doa yang tak pernah menemukan amin.

      Hari kepulangan itu datang juga. Bandara dipenuhi suara perpisahan. Arman berdiri beberapa langkah darinya, mencoba terlihat tegar.

    “Apakah ini akhir?” tanyanya.

Perempuan itu tersenyum, meski air mata mengalir tanpa izin. “Tidak ada yang benar-benar berakhir. Kita hanya berjalan di jalur yang berbeda.”

Arman ingin memeluknya lebih lama. Ingin memohon agar ia tinggal. Tetapi ia tahu, memaksa hanya akan melukai lebih dalam.

    “Aku akan selalu mendoakanmu,” katanya.

    “Aku juga.”

Ketika namanya dipanggil untuk naik pesawat, perempuan itu menoleh sekali lagi. Tatapan mereka bertemu, menyimpan ribuan kata yang tak sempat terucap.

Pesawat itu lepas landas, meninggalkan garis putih di langit biru. Arman berdiri hingga titik kecil di udara itu menghilang.

Sejak hari itu, hidup kembali berjalan seperti biasa atau setidaknya terlihat biasa. Arman membantu ayahnya melaut, sesekali mengajar anak-anak kampung bermain gitar. Ia tersenyum, bercanda, seolah tak ada yang berubah.

Namun setiap senja, ia kembali ke dermaga. Memetik nada yang sama. Nada yang mengandung namanya dalam diam.

Surat-surat sempat datang beberapa kali. Ia bercerita tentang pekerjaannya, tentang salju pertama musim dingin, tentang keluarganya yang mulai mendesak keputusan. Arman membalas dengan cerita sederhana tentang laut dan kampung.

Hingga suatu hari, surat itu berhenti.

Bukan karena tak ada lagi yang ingin ditulis. Tetapi karena ada keputusan yang telah diambil.

Melalui pesan singkat yang ringkas dan sopan, ia memberi tahu bahwa ia akan menikah. Dengan pria pilihan keluarganya. Ia meminta maaf. Meminta Arman mengerti. Mengatakan bahwa cinta mereka akan selalu menjadi bagian indah dalam hidupnya.

Arman membaca pesan itu berulang kali. Hatinya seperti dihantam ombak besar yang tak memberi kesempatan bernapas.

Malam itu, ia tak pergi ke dermaga. Ia duduk di kamar, memandang langit-langit yang gelap. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh juga.

Ia tak marah padanya. Tak juga pada keluarganya. Ia hanya merasa kalah oleh sesuatu yang tak bisa ia lawan.


     Bertahun-tahun kemudian, kabar tentangnya datang dari seorang teman lama. Ia telah pindah ke kota lain, mengikuti suaminya bekerja. Hidupnya tampak baik-baik saja. Ia memiliki seorang anak perempuan yang lucu.

Arman tersenyum mendengar kabar itu. Ada perih yang masih tersisa, tetapi tak lagi mengoyak seperti dulu. Waktu memang tak pernah berhenti, tetapi ia mengajarkan cara berdamai.

Arman sendiri belum menikah. Bukan karena ia tak bisa mencintai lagi. Hanya saja, ia memilih menunggu sampai hatinya benar-benar siap.

Suatu sore, ketika matahari kembali berwarna jingga, seorang gadis kecil mendekatinya di dermaga.

    “Om, kenapa lagunya sedih?” tanyanya polos.

Arman tersenyum. “Karena setiap lagu punya cerita.”

    “Cerita tentang apa?”

    “Tentang dua orang yang saling mencintai, tapi tinggal di langit yang berbeda.”

Gadis kecil itu mengangguk, meski mungkin tak sepenuhnya mengerti.

Arman memandang laut yang luas. Ia sadar, cinta mereka bukanlah kesalahan. Ia hanya lahir di waktu dan keadaan yang tak berpihak.

Dalam doanya, ia tak lagi meminta untuk dipertemukan kembali. Ia hanya memohon agar perempuan itu bahagia, di mana pun ia berada.

Karena cinta sejati bukan selalu tentang memiliki. Kadang ia tentang merelakan, meski hati tak pernah benar-benar lupa.

Angin laut berembus lembut. Arman memetik gitar sekali lagi. Nada yang dulu terasa menyayat kini terdengar lebih tenang.

Di bawah langit yang tak sama, mereka pernah saling mencintai. Dan meski dunia memisahkan, kenangan itu akan tetap hidup sebagai bukti bahwa pernah ada dua hati yang berani bermimpi, meski akhirnya harus menerima kenyataan.

Senja perlahan tenggelam. Arman berdiri, menatap cakrawala terakhir kalinya hari itu.

Ia tahu, hidup tak berhenti pada satu nama.

       Waktu berjalan pelan, namun pasti. Musim demi musim berganti, membawa Arman melewati hari-hari yang semakin tenang. Ia tak lagi datang ke dermaga setiap senja. Ia mulai mengisi waktunya dengan hal-hal yang dulu sempat tertunda—membantu ibunya di rumah, memperluas usaha kecilnya, dan lebih sering terlibat dalam kegiatan kampung.

Luka itu memang pernah dalam, tetapi tidak selamanya perih.

Suatu pagi, ibunya menyebut sebuah nama dengan nada hati-hati. Seorang perempuan dari kampung sebelah. Anak seorang guru mengaji yang dikenal baik dan sederhana. Arman hanya tersenyum samar, belum benar-benar menanggapi. Ia tidak ingin tergesa, tidak ingin sekadar mengisi ruang kosong.

Namun pertemuan pertama itu terjadi juga, tanpa tekanan, tanpa drama. Mereka berbincang di ruang tamu yang sederhana, ditemani teh hangat dan tatapan penuh harap dari kedua orang tua. Perempuan itu tidak banyak bicara, tetapi setiap kalimatnya terasa tulus. Ada ketenangan dalam caranya menunduk dan mendengarkan.

Namanya Aisyah.

Tak ada debar yang menggelegar seperti dulu. Tak ada perasaan menggebu yang membuat jantung berlari. Yang ada justru rasa nyaman yang pelan-pelan tumbuh. Percakapan mereka tidak dipenuhi mimpi-mimpi yang jauh, tetapi tentang hal-hal sederhana: tentang keluarga, tentang harapan membangun rumah tangga yang saling menguatkan, tentang menjalani hidup dengan saling menghormati.

        Arman terkejut menyadari sesuatu. Ia tidak lagi membandingkan. Ia tidak lagi mencari bayangan masa lalu di wajah yang baru. Ia melihat Aisyah sebagai dirinya sendiri—utuh, dengan caranya yang lembut dan keyakinannya yang sejalan.

Hari-hari berikutnya, mereka lebih sering bertemu. Bukan untuk mencari kesempurnaan, melainkan untuk memastikan kesiapan. Arman merasa tenang ketika berbicara dengannya. Tidak ada pertentangan nilai, tidak ada kecemasan tentang restu keluarga. Semuanya mengalir dengan wajar.

Suatu malam, setelah salat istikharah yang panjang, Arman merasa hatinya mantap. Bukan karena ia melupakan masa lalu, tetapi karena ia sudah selesai berdamai dengannya.

    Lamaran itu berlangsung sederhana. Tak ada kemewahan, hanya senyum haru dan doa-doa yang dipanjatkan bersama. Ketika ijab kabul terucap dengan lancar, Arman merasakan sesuatu yang berbeda dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Bukan ledakan rasa, melainkan ketenangan yang dalam.

Ia menoleh pada Aisyah yang kini sah menjadi istrinya. Perempuan itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Dalam senyum itu, Arman melihat masa depan yang tidak lagi dipenuhi bayang-bayang perpisahan, melainkan janji untuk berjalan bersama.

Malam pertama setelah pernikahan, Arman duduk di beranda rumah barunya. Langit tampak sama seperti dulu—luas dan tak terjangkau. Ia tersenyum kecil.

Nama yang pernah menjadi doa tak pernah benar-benar hilang. Ia tetap tersimpan sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Namun kini, doanya berubah arah. Bukan lagi tentang yang telah pergi, melainkan tentang yang telah Allah hadirkan.

Ia sadar, jodoh bukan selalu tentang cinta yang paling mengguncang. Kadang ia tentang seseorang yang datang pada waktu yang tepat, dengan keyakinan yang sejalan, dan kesiapan untuk saling menjaga.

Arman memandang ke dalam rumah, melihat Aisyah yang sedang merapikan sajadah. Hatinya hangat.

Hidup memang tak berhenti pada satu nama.

Dan kali ini, ia melangkah bukan dengan bayangan masa lalu, tetapi dengan tangan yang telah digenggam erat untuk masa depan.

Namun di sudut terdalam hatinya, nama itu akan selalu menjadi doa yang tak pernah selesai.

CINTA BELAHAN JIWA: Karya Nur Asrianti

 CINTA BELAHAN JIWA

Oleh : Nur Asrianti


Duhai Cinta

Sungguh tak sudi lagi kumenanggung lara

Memendam rindu 

Yang membuatku beku


Namun apa dayaku

Pada kejamnya dua adat yang berlaku

Belahan jiwa terpisah raga

Hingga tak terbela segala rasa


Aku menangis dalam pahatan masa

Melangkah mengukir asa membawa luka

Biarlah kujalani walaupun nestapa

Kelak di keabadian kita bersua lagi tak mengapa


Bandung, 26 Februari 2026


Bionarasi

Nur Asrianti. Founder Rumah Baca “Kharisma Ilmu”. Penyuka puisi dan karya sastra. Tinggal di Bandung Jawa Barat Indonesia.

CINTA DALAM JARAK DAN DOA: Karya Komariah Umi Al-Kautsar

 Komariah Umi Al-Kautsar

CINTA DALAM JARAK DAN DOA


Ramadhan tahun ini

Entah tahun yang ke berapa

Cintaku pergi


Tiga tahun

Empat tahun

Lima tahun

Ah…entahlah aku sudah lupa

Berapa lama kita terpisah


Kita yang selalu terpisah oleh jarak

Tidak pernah terpaut oleh waktu

Cinta itu tumbuh diam-diam

Dalam jarak dan do’a


Kini bukan hanya jarak yang memisahkan

Tapi dunia kita berbeda

Tenanglah di sana dengan cinta-Nya



Bumi Al-Kautsar, Ramadhan 2026

Khamis, 26 Februari 2026

SIMFONI PUALAM: Karya Yayuk Wahyudi

 Simfoni Pualam

Oleh Yayuk.Wahyudi

 

Di bawah langit yang kian menjingga,

Engkau bersemi di ceruk sukma.

Sekuntum mawar yang tumbuh menyendiri,

Pada hamparan tanah tanpa nama.

 

Kita adalah dua kutub berbeda,

Terpisah kasta, terhalang karsa.

Satu mendaki puncak kian mulia,

Satu terperosok lembah yang hampa.

 

Bukan tak sudi tangan ini menjamah,

Namun takdir menuliskan batas.

Cinta kita hanyalah sekadar naskah,

Luntur sebelum tinta sempat membekas.

 

Biarlah bayangmu kian berkelana,

Di balik tirai malam yang sunyi.

Sebab engkau adalah kehilangan,

Yang paling agung dan paling abadi.

  Kulon Progo, 25 Februari 2026


Bionarasi:

Yayuk Wahyudi Nama pena dari Sri Rahayu Yustina, S.IP., MM. Alumni STIE Widya Wiwaha Lahir bulan Desember di Purworejo. Tinggal di Kulon Progo. Tugas terakhir di Dispusip Kulon Progo. Mengisi waktu dengan menulis dan hobi melukis

MELODI LARANGAN: Karya Alang Ahmad

 

Melodi Larangan

 

memancang pandang wajah bulan
gerimis menghembus bunga di tangan
hujan menahan jiwa yang dihimpit
rasa terbelah akar budaya
menyepikan getar hati kita

 

kata mereka:
“jangan bersatu, kita tidak serupa.”
namun kita menari di antara dinding dan garis
di antara warisan yang mengikat leluhur
karam pelayaran
dogma rindu menjarak
selepas gerimis melanda

 

adalah kita yang sedia
dilambung badai angan
pecah menjadi buih berterbangan

 

jika cerita ini laut

gelora kutundukkan
jika cerita ini angin

awan biru kutambatkan
jika cerita ini lagu
mungkin ia isabella
melodi larangan yang tidak pergi

 

 

Alang Ahmad, Kuala Lumpur.

SEPARUH NYAWA YANG HILANG: Karya Zamri H. Jamaluddin

 SEPARUH NYAWA YANG HILANG

Karya: Zamri H.Jamaluddin BWN

 

Di bawah langit kelam yang kian melabuh,
Cinta kita karam dalam arus yang keruh,
Engkau di singgahsana, aku di pondok rapuh,
Tatkala darjat menjadi tembok yang ampuh,
Hancurlah harapan, jiwa kian meluruh.

 

Engkau adalah rembulan di puncak mahligai,
Cahayamu indah namun mustahil kucapai,
Sedang aku debu yang ditiup berderai,
Kasih terlarang kerana adat yang mengurai,
Memaksa jemari kita akhirnya terlerai.

 

Rintihan syahdu membelah sunyi malam,
Mengenang janji yang terkubur dalam,
Antara sutera dan kain yang kusam,
Cinta kita tewas di hujung dendam,
Meninggalkan luka yang kian menghitam.

 

Biarlah daku membawa hancur hati ini,
Menyusuri denai sepi yang tiada bertepi,
Kerana jurang ini takkan mampu kita daki,
Tersungkur aku di kaki tradisi yang keji,
Melihat dikau pergi menjauhkan diri.

 

Nisan rindu kini terpacak di sanubari,
Menjadi saksi cinta yang dibawa lari,
Walau air mata jatuh membasahi bumi,
Dua dunia ini takkan pernah sejiwa lagi,
Hanyalah duka yang kekal abadi di sini.

Bandar Seri Begawan 26.02.2026

 

BIODATA PENULIS :Zamri H.Jamaluddin BWN atau Nama Pena di Brunei Darussalam “Ilusi Maya Brunei”, seorang penggiat seni dari Negara Brunei Darussalam. Karya beliau selain telah diterbitkan oleh Dewan Bahasa Dan Pustaka Negara Brunei Darussalam, juga telah diterbitkan oleh beberapa buah produksi penerbitan swasta di Malaysia dan Indonesia .. Selain Puisi, penulis menekuni karya kreatif dari pantun, cerpen hingga skrip drama televisyen, radio dan pentas teatrer. Beliau adalah  seorang juruacara majlis professional dalam perbagai majlis dan acara rasmi dalam dan luar negara.

 

 

Rabu, 25 Februari 2026

KETIKA LAUT TAK LAGI MENJADI BATAS: Karya Nelly Amalia

Ketika Laut Tak Lagi Menjadi Batas

Karya: Nelly Amalia


Aku mencintaimu

di antara dua bendera

yang berkibar pada langit berbeda.


Namamu kusebut

di sela azan subuh yang basah oleh embun,

sementara kau mungkin

menyebut namaku

di bawah matahari yang baru terbit

di tanah seberang.


Kita dipisahkan laut

selat yang biru namun kejam,

yang setiap gelombangnya

seakan bertanya:

“Seberapa kuat cintamu

menantang jarak?”


Aku tidak pernah membenci peta,

tetapi garis-garisnya

terlalu tega menggambar batas

pada sesuatu

yang lahir tanpa izin negara.


Rindu menjadi pasang surut

di dadaku.

Kadang tenang seperti doa ibu,

kadang menghantam keras

seperti badai yang tak menemukan daratan.


Aku ingin berlari kepadamu,

namun jarak menjelma tembok tak kasat mata.

Aku ingin menggenggam tanganmu,

namun angin hanya membawa

hangat bayangmu.


Dan pada malam-malam

yang terlalu sunyi untuk ditawar,

aku menatap bulan

bertanya apakah cahayanya

jatuh juga di wajahmu.


Jika iya,

maka kita tidak sepenuhnya terpisah.

Sebab langit tak pernah memilih

untuk berpihak pada satu negeri saja.


Biarlah laut menjadi saksi

bahwa cinta ini tidak gentar.

Biarlah waktu menguji,

biarlah dunia meragukan

kita akan tetap berdiri

di dua tepi berbeda,

namun dengan satu keyakinan yang sama.


Karena cinta bukan soal

di mana kaki berpijak,

tetapi di mana hati

berani menetap.


Dan aku telah memilih

menetap padamu,

meski dunia menyebutnya

dua dunia.

PEREMPUAN YANG MEMILIH PERGI: Karya Nurul Afifah

 Perempuan Yang Memilih Pergi

KaryaNurul Afifah Rahim


Aku bukan ditinggalkan 

aku yang berjalan keluar

dari sebuah pintu

yang tidak pernah benar-benar terbuka.


Aku yang mengetuk dahulu,

menghulur salam dahulu,

memasak rindu di dapur kecil

bersama bau biskut batik kegemaranmu.


Kau makan,

kau senyum,

kau diam.


Aku menunggu

seperti petang menunggu maghrib

pasti datang

tetapi tidak pernah dipercepatkan.


Kerana bila lelaki tahu dia dipilih,

dia belajar untuk tidak bersungguh.


Kau selesa

di atas kasih yang aku bentang

seperti tikar hari raya,

sedang aku duduk bersila

meminta sedikit dihargai.


Aku tahu kau sayang,

tapi sayangmu tidak pernah berjalan,

ia hanya duduk.


Dan di hujung senyap itu

aku dengar satu suara lain 

bukan dari mulutmu

tetapi dari doa ibumu.


Dia tidak pernah menerima

nama negeri di hujung namaku.


Lalu aku faham,

aku bukan sedang melawan jarak,

aku sedang melawan akar.


Apa guna bertahan

jika pintu syurga seorang anak

tidak pernah membuka ruang untukku?


Maka aku pergi.

Bukan kerana kurang cinta,

tetapi kerana cinta tidak seharusnya

meminta aku mengecilkan diri.


Hari itu

aku pulang sebagai perempuan yang kalah pada hati,

tetapi menang pada maruah.


Dan sejak itu aku belajar 

yang paling menyakitkan bukan berpisah,

tetapi tinggal

di tempat kita tidak dipilih.


Nurul Afifah Rahim

18.2.2026

Rantau Panjang,Kelantan

Isnin, 23 Februari 2026

RAWAN: Karya Ezatul Hanim

 

RAWAN

 

Genggaman dilepaskan

akur melangkah pergi

demi cinta yang hadir tanpa diundang

rindu yang kian bertandang

walau serasa sekufu

tapi kerna adat kita turutkan

restu dipohon untuk disatu

 

Jika ada jodoh kita

bertemu kembali tanpa disedari

 

Jika tiada jodoh kita

doa sentiasa ada mengiringi

 

Wahai pemilik hati ini

semoga bertemu kembali

ku menunggu saban hari

berjanji menjaga hingga nafas terhenti.

 

 

Ezatul Hanim Yahya

22022026

Johor Bahru, Johor Malaysia.



 Ezatul Hanim binti Yahya merupakan anak jati Johor Darul Ta’zim. Lahir di Pasir   Gudang dan kini menetap di Skudai Johor. Pemegang Dip. Teknologi Mekanikal Lukisan Rekabentuk dari UTM kini menumpukan bidang pengurusan perniagaan sebagai kerjaya utama. Meminati bidang kesusateraan sejak di sekolah rendah namun lebih akrab dengan puisi moden.

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular