Sabtu, 6 Disember 2025

SAAT CINTA BERSEMI

 SAAT CINTA BERSEMI

Karya Eduar

 Angin subuh merayap pelan dari ufuk timur, membawa bau asin laut yang seolah menyimpan bisikan dari masa silam. Di Desa Teluk Rhu, desa kecil yang berpeluk pada garis pantai Rupat Utara, riuh ombak selalu menjadi alarm alami yang membangunkan seluruh kehidupan. Ketika cahaya pagi menumpahi pasir yang memanjang seperti lembaran doa yang tak pernah usai, seorang pemuda bernama Arfan menatap laut dengan dada yang penuh gejolak.

Hari itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, ia berdiri di tepi pantai tempat para leluhur dulu mengadakan Zapin Api, seni tarian di atas bara yang hidup dari mantera, keberanian, dan keikhlasan jiwa. Namun sesuatu dalam dirinya mulai berubah. Semakin ia memandang laut, semakin hatinya terasa digiring pada sebuah panggilan. Seolah-olah ombak adalah pesan, dan angin adalah suaranya.

Itu adalah hari ketika cinta mulai bersemi, bukan kepada seseorang, melainkan kepada budaya yang nyalanya hampir padam.

 

****

 

Arfan tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang nelayan yang selalu membawa cerita tentang masa muda ketika ia ikut mempersiapkan pertunjukan Zapin Api bersama para tetua. Namun seiring waktu, banyak pemuda merantau, pertunjukan mulai jarang digelar, dan anak-anak lebih mengenal cahaya layar ponsel daripada bara api ritual.

Di usia 19 tahun, Arfan justru merasa ada kekosongan yang menganga. Dunia baginya bagai perahu tanpa jangkar, mudah hanyut, mudah hilang arah. Sampai suatu malam ia bermimpi:

Ia melihat dirinya menari di tengah lingkaran api yang menderu seperti ombak yang memukul karang. Dari jauh, ada sosok-sosok leluhur berdiri, wajah mereka berpendar seperti kunang-kunang.

Dan salah satu dari mereka berkata dengan suara yang seolah terbuat dari angin laut:

“Api itu menunggu penjaganya.”

 

Arfan terbangun dengan jantung berdegup cepat. Keringat dingin mengalir di punggung. Namun bukan ketakutan yang ia rasakan, melainkan panggilan.

Sejak saat itu, ia mulai mendatangi rumah Tok Tengku Karim, satu-satunya tetua yang masih aktif memegang ilmu dan ritual Zapin Api. Rumah Tok Tengku berada di ujung desa, tempat kelapa menjulang seperti pagar para penjaga langit.

“Tok, ajari saya Zapin Api,” kata Arfan dengan suara yang tegas namun gemetar.

Tok Tengku memandangnya lama. Tatapannya dalam seperti laut dalam yang gelap namun penuh rahasia.

“Zapin Api bukan tarian hiburan,” ucapnya perlahan. “Ini tarian jiwa. Yang menari bukan hanya tubuh. Kau harus siap, nak.”

“Saya siap,” jawab Arfan.

Tok Tengku mengangguk. Dari sinilah perjalanan panjang itu dimulai, perjalanan cinta yang menguji hati dan keberaniannya.

 

****

 

Latihan pertama bukanlah gerak tubuh, melainkan kesabaran. Selama beberapa pekan, Tok Tengku hanya menyuruh Arfan membersihkan halaman, mencari kayu, menyapu panggung kecil yang sudah lama tak digunakan. Arfan sempat marah, kecewa, bahkan merasa dipermainkan. Tetapi ia bertahan.

Hingga suatu senja, Tok Tengku memanggilnya.

“Esok kita mulai,” ucapnya singkat.

Harapan mekar seperti bunga bakung laut. Namun yang datang justru sesuatu yang jauh lebih berat.

“Duduk,” perintah Tok Tengku. “Dengarkan.”

Malam itu, angin membawa aroma garam. Bara api menyala rendah di lingkaran pasir. Tok Tengku mulai melantunkan mantera, lembut, dalam, dan penuh getaran. Suara itu membuat bulu kuduk Arfan meremang. Bara di depannya seakan hidup, menari, dan membentuk bayangan.

“Ini bukan soal menaklukkan api,” kata Tok Tengku.

“Ini soal menaklukkan dirimu sendiri.”

Malam itu, Arfan mencoba menyelaraskan napasnya dengan tempo mantra. Ia mencoba menari. Namun baru beberapa langkah, ia merasa takut, gemetar, dan tubuhnya hilang keseimbangan.

“Kau menari seperti daun kering yang ditiup angin,” ujar Tok Tengku.

“Belajarlah dari ombak, kadang lembut, kadang ganas. Tapi ia selalu percaya pada irama langit.”

Arfan tersinggung. Tetapi ia tetap kembali malam berikutnya. Dan malam berikutnya lagi.

Selama berbulan-bulan, ia jatuh, bangkit, salah langkah, terkilir, dan hampir menyerah. Namun ada sesuatu yang menahannya: perasaan bahwa Zapin Api adalah rumah dari bagian jiwanya yang hilang.

****

 

Desa mulai ramai membicarakannya. Ada yang mendukung, tapi banyak juga yang mencibir.

“Apa gunanya belajar tarian api? Sudah tak zaman.”

“Lebih baik cari kerja, merantau.”

“Zapin Api hanya masa lalu. Tidak ada masa depannya.”

Bahkan ayahnya sendiri mulai resah.

“Fan, ayah tidak melarang. Tapi ingat, hidup butuh makan. Api itu tidak menghasilkan beras.”

Arfan mendengar semuanya seperti mendengar suara angin melewati lubang bambu, bising, menusuk, namun tak mampu menghentikannya. Ia tahu apa yang ia rasakan: cinta pada budaya leluhur yang tak boleh padam.

Namun rintangan terbesar justru datang dari seorang pemuda lain di desa, Rasyid, yang merasa dirinya lebih pantas menjadi penerus Zapin Api. Ia angkuh, cepat panas, dan merasa Zapin Api miliknya secara turun-temurun.

“Zapin Api bukan untuk orang sepertimu, Fan,” katanya suatu malam.

“Kau tak punya darah itu. Kau cuma memaksakan diri.”

Kata-kata itu menusuk. Tetapi justru di situlah keyakinan Arfan mengeras.

 

****

Setiap tahun, desa mengadakan upacara kecil menjelang musim teduh. Tahun itu, meski sederhana, masyarakat mendorong agar Zapin Api dipertontonkan kembali, sebagai upaya merawat budaya.

Tok Tengku berkata kepada Arfan, “Ini waktu pengujianmu.”

Arfan menelan ludah. Ia tahu ada risiko. Bila mentalnya tak kuat, ia bisa tersulut bara. Bila mantera dan irama jiwanya tak selaras, api akan "menolak" penarinya.

Malam itu, pantai dipenuhi masyarakat. Angin laut berbau garam dan doa. Bara disusun membentuk lingkaran besar, merah membara seperti jantung bumi yang terbuka.

Rasyid juga tampil malam itu. Ia menari duluan. Geraknya bagus, gagah, penuh percaya diri. Api seolah tunduk kepadanya.

“Sekarang kau,” kata Tok Tengku pada Arfan.

Arfan melangkah masuk ke lingkaran bara. Jantungnya berdentum. Langit gelap tanpa bulan, hanya bintang yang menjadi saksi.

Mantera dilantunkan. Angin sejenak berhenti. Api menderu.

Arfan mulai bergerak. Langkahnya pelan, ritmis, mengikuti irama yang menetes dari jiwanya. Ia membayangkan ombak yang menghempas karang, angin yang menunda hujan, dan cahaya subuh yang menyibak kabut. Semua gerakan ia jalani dari dasar hati, bukan dari hafalan.

Namun tiba-tiba…

Angin kencang datang dari arah laut. Bara berhamburan. Api naik setinggi lutut. Orang-orang panik. Arfan hilang ritme, hampir terpeleset.

Dalam hitungan detik, ia bisa saja tersambar lidah api.

“Kalah sudah dia,” bisik seseorang dari kerumunan.

“Tidak cocok dia,” ujar yang lain.

Arfan merasakan dunia melebar dan mengecil bersamaan. Namun di tengah gemuruh itu, ia mendengar suara samar, suara yang pernah ia dengar dalam mimpi.

“Api itu menunggu penjaganya.”

Mata Arfan menajam. Ia mengatur napas. Ia memejamkan mata. Ia membiarkan tubuhnya mengikuti bisikan angin. Dalam sekejap, gerakannya kembali teratur, lebih kuat, lebih mengalir, lebih hidup. Api di sekelilingnya seperti menari mengikuti alurnya.

Arfan tak menaklukkan api. Ia menyatu dengannya.

Ketika ia melompat melewati bara terakhir, orang-orang terdiam. Lalu sorak sorai meledak seperti gelombang yang memukul tebing.

Tok Tengku tersenyum, air mata menggenang.

“Engkau telah diterima, nak.”

Namun bagi Arfan, kemenangan itu bukan kemenangan atas orang lain, melainkan atas dirinya sendiri.

 

****

 

Setelah malam itu, Arfan menjadi pembicaraan desa. Banyak yang bangga, beberapa yang dulu mencibir kini malu. Namun kejutan yang sesungguhnya terjadi tiga hari kemudian.

Seorang pegawai dari kantor kebudayaan kabupaten datang ke desa. Mereka mendengar kabar bahwa Zapin Api kembali dibangkitkan, dan ada penari muda yang berhasil menampilkan versi paling autentik dalam dua dekade terakhir.

“Kami ingin mengundang pemuda itu tampil dalam festival budaya provinsi,” katanya.

Seluruh desa bersorak. Bahkan Rasyid yang awalnya iri, akhirnya datang menjabat tangan Arfan.

“Aku salah menilaimu,” katanya dengan jujur. “Maafkan aku.”

Arfan tersenyum.

“Tidak apa. Kita sama-sama ingin menjaga budaya ini.”

Kejutan lain datang dari Tok Tengku.

“Fan,” katanya suatu sore ketika mereka berdua duduk di tepi pantai. “Aku sudah tua. Kakiku mulai gemetar. Napasku tak sepanjang dulu. Aku ingin kau yang melanjutkan Zapin Api. Kau bukan hanya penari. Kau penjaganya.”

Arfan tercekat.

“Tok… saya belum pantas.”

“Yang pantas bukan yang paling kuat. Tapi yang paling tulus.”

Ombak datang memecah di batu. Cahaya senja menetes pelan seperti tinta emas di permukaan laut. Dalam momen itu, Arfan merasa hidupnya menemukan jalan, jalan yang selama ini ia cari di antara kebingungan dan hening.

 

****

Waktu merambat. Zapin Api kembali hidup di Desa Teluk Rhu. Anak-anak mulai belajar langkah dasar, para remaja ikut membantu mempersiapkan panggung, dan desa kembali dikenal sebagai salah satu penjaga seni sakral di pesisir Selat Melaka.

Festival provinsi berjalan sukses, dan nama Teluk Rhu kembali terdengar sebagai salah satu penjaga seni pesisir yang paling autentik.

Arfan tampil memukau penonton. Beberapa media menulis tentang kebangkitan budaya ini.

Namun bagi Arfan, kebahagiaan itu bukan tepuk tangan, bukan undangan tampil, bukan popularitas.

Kebahagiaan itu adalah ketika ia melihat bara yang dulu hampir padam kini menyala kembali, ketika ia melihat anak-anak desa menatapnya dengan mata berbinar, ketika Tok Tengku tersenyum bangga, dan ketika angin laut menepuk bahunya setiap kali ia selesai menari.

Kebahagiaan itu adalah

Melihat anak-anak desa tersenyum ketika mempelajari gerakan.

Melihat para tetua bangga karena warisan leluhur tak hilang.

Dan setiap kali Arfan menari, ia teringat kata-kata Tok Tengku:

“Yang menari bukan kakimu, Fan. Yang menari adalah jiwamu.”

Malam itu, setelah latihan, ia duduk sendirian di pantai. Ombak datang dan pergi seperti napas bumi. Angin laut memutar rambutnya. Di depan, laut yang gelap berkilauan oleh pantulan bintang. Suara ombak menjadi musik alam.

Di dadanya, cinta itu bersemi, cinta yang tidak berwujud manusia, tetapi cahaya tua yang menghidupkan jiwa.

Cinta pada warisan.

Cinta pada budaya.

Cinta pada nyala api yang tak boleh padam.

Ia tersenyum, menatap cakrawala.

Di hatinya, ia tahu:

“Cinta itu telah bersemi, tumbuh, dan kini menjadi pohon besar yang akarnya menancap pada sejarah dan pucuknya menatap masa depan”.

Desa Teluk Rhu tak lagi hanya menjadi tempat tinggal.

Ia menjadi rumah bagi cinta yang menyala, cinta pada budaya, pada warisan, pada api yang menuntunnya menjadi diri sendiri.

Dan ketika ombak memecah di kakinya, ia mendengar suara itu sekali lagi:

“Api itu telah menemukan penjaganya.”

Dan selama bara itu terus menyala, Arfan akan menari.

Sampai waktunya ia menyerahkan tarian itu kepada generasi berikutnya.

 

TAMAT

 

BIONARASI:                                                                                             

Penulis yang merupakan Ayah dari 4 orang anak dan Atok dari beberapa orang cucu ini dilahirkan di desa kecil bernama Epil, 18 Agustus 1963. Terlahir dari Ayah dan Ibu yang memberinya nama Eduar Daud namun sejak kecil dipanggil Anang Way. Mulai aktif menulis setelah pension dari Pegawai NegeriSipil. Tergabung dalam Asosiasi Penyair Antikorupsi Yes Action (APA YA) dan Komunitas Galeri Sastra (KGS). Saat ini masih aktif sebagai Penyuluh Antikorupsi dan Asesor Kompetensi LSP KPK. Beberapa karyanya sudah diterbitkan dalam buku diantaranya Antologi Puisi Dunia Melangitkan Do’a Melawan Korupsi, Suara Serumpun Anyaman Rasa, Cerita Rakyat Nusantara, Lentera Dari Timur ke Barat, Antologi Cerpen bersifat solo dengan judul buku Perahu Ceper.

 

Isnin, 1 Disember 2025

BATU KARANG DI TITIK NADIR

BATU KARANG DI TITIK NADIR

Karya: Eduar


Di jantung pulau yang diukir zamrud khatulistiwa, 

Lumbung Langit tumpah, melebihi janji gerimis biasa. 

Sungai-sungai, urat nadi peradaban, pecah dalam raungan, 

Menggulung mimpi dan menanggalkan segala kepemilikan.


Aceh, Serambi yang kini basah oleh gelombang kedua, 

Sumatera Utara, tempat Pusuk Buhit diselimuti duka. 

Dan Ranah Minang, di mana lareh menghilang ditelan lumpur sunyi, 

Tiga Serangkai Ranah, memanggul beban yang sama di hari ini.


Telah datang air, bukan lagi air kehidupan, tapi air ujian, 

Yang merampas atap, memutus jalan, mengoyak kenyamanan. 

Kau berdiri di atas puing, mencari peta yang hilang, 

Mata menatap kosong pada batas yang kini terbentang.


Namun, wahai jiwa yang diuji di tebing paling curam, 

Tidakkah kau tahu, bahwa dalam badai, Akar Iman takkan karam? 

Cobaan ini adalah Sketsa Takdir di Arasy yang Abadi, 

Sebuah kanvas yang hanya bisa dilukis oleh Tangan Maha Suci.


Di mana letak kemanusiaanmu, jika bukan dalam kepasrahan? 

Bukan sekadar kata, tapi hening yang melegakan segala beban. 

Ikhlas adalah air bening yang menyucikan sisa-sisa lumpur, 

Ia adalah sumur hati, tempat segala kepedihan gugur.


Sabar adalah Gunung Leuser yang diam, tak beranjak, 

Ia tak mengeluh pada hujan, tak runtuh pada setiap retak. 

Ia memandang dari puncak tertinggi, mengerti bahwa 

Semua yang datang adalah utusan, sebuah pelajaran berharga.


Lihatlah lumpur yang kini membalut setiap tapak kakimu, 

Ia bukan akhir, tapi janji dari musim yang akan bertamu. 

Lumpur itu menyimpan Benih Kecil yang tak terlihat mata, 

Benih kebangkitan, ditanam oleh tangan Sang Pencipta.


Bangkitlah, wahai anak-anak Bumi Andalas yang perkasa, 

Jadikan air mata penyesalan menjadi embun doa. 

Bukan untuk meratapi, tapi untuk mengingat kembali: 

Kekuatan sejati tidak pernah berada di harta yang mati.


Jadilah seperti Pucuk Pakis yang baru, luruh tapi tak patah, 

Menyerap trauma menjadi nutrisi untuk hidup yang lebih megah. 

Sebab setelah murka sungai, akan ada Pelangi Tujuh Sumpah, 

Warna-warna baru yang lebih terang, dari Cahaya di atas segala.


Ikhlas dan Sabar, biarlah dua kata itu menjadi denyut nadi, 

Penerimaan pada yang hilang, keyakinan pada yang menanti. 

Kau adalah Batu Karang yang teruji, dicuci oleh waktu, 

Siap menyambut fajar yang tak akan pernah keliru.


Pekanbaru, 28 November 2025

CINTA BERSEMI DI HENING PAGI

Cinta Bersemi di Hening Pagi

Karya : Agustina Rahman


Pagi meneguk embun dari cawan langit

Hatiku menyeruput rindu yang baru mekar

Di balik tirai kabut yang berdesir lembut

Kulihat namamu menari dalam sunyi

Di sela cahaya mentari yang  belajar berseri


Angin menyisir rambut masa

Mengantar bisik dari taman rahasia jiwa

Sehelai rasa  mekar perlahan

Tanpa musim, tanpa mula

Hingga abadi pada diam yang berbunga


Cinta menjelma sekuntum doa

Berdaun harapan, berbunga cahaya

Setiap napas menyebut namamu lirih

Hingga langit menunduk dalam takzim

Bumi pun berdesir lembut dalam sujudnya


Ketika mentari membuka matanya

Senyumku merekah bersama cahaya

Namun di balik riuh hari yang menjalar

Masih tersisa malam di ruang dadaku

Tempat cinta berbisik pada Sang Waktu

Makassar, 30 November 2025


BIONARASI


Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar sejak tahun 2000 - sekarang. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru Mapel Bahasa Indonesia 2023 pada Kementerian Agama. Penulis Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024), Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju (2025), Antologi Puisi Riuh dalam Sunyi (2025), Antologi Senandung Syair (2025), 99 Cerita Edukasi (2025), Antologi Ramadan Hadiah dari Rabb untuk Kita (2025), Antologi Puisi Bait Terakhir (2025), The Female Muse (2025), Penulis Antologi Smardhyari Rekor MURI Pentigraf Terbanyak (2025), Best Practice Cahaya Madrasah Menerangi Negeri (2025), Kumpulan Fiksi Mini Jawa tapi Betawi (2025), dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.


SEBUAH BUKU, SEBUAH SENJA DAN KAMU

SEBUAH BUKU, SEBUAH SENJA, DAN KAMU

Karya: Angela Merici Wintari Ayu Kusuma Wardani


Cinta adalah sebuah kata yang selalu membuatku tersenyum dalam setiap langkah kakiku. Ia datang seperti cahaya senja yang jatuh perlahan ke permukaan bumi. Hangat, lembut, dan penuh makna. Kau tahu? Cinta membuat aku bahagia melakukan apa pun. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa lelah, tidak ada beban. Cinta mengisi ruang hatiku seperti angin sore yang menyapu dedaunan, tenang dan pasti.

Namun pertanyaanku selalu sama: bagaimana dengan seseorang yang tidak pernah mengalami cinta?

Bagaimana dengan mereka yang tidak paham arti dicintai dan mencintai?

Apakah mereka akan menjadi budak cinta?

Apakah mereka akan bekerja bagai robot, melakukan segalanya hanya karena takut ditinggalkan?

Banyak yang berkata, “Jika seseorang sangat mencinta, ia bisa melakukan hal bodoh.” Tetapi aku percaya, tidak begitu. Cinta, bagiku, bukanlah kebodohan. Cinta adalah kebijaksanaan yang datang bersama keberanian untuk membuka hati, menerima risiko, dan tetap memilih untuk bersinar.

Cinta ibarat langit senja — indah, sejuk, dan memeluk dari jauh. Ia memberikan udara untuk bernapas, ruang untuk berekspresi, dan tempat untuk berinovasi di tengah riuh kehidupan. Ia datang sebagai hadiah bagi mereka yang bersedia melihat sesuatu bukan hanya dengan mata, tetapi juga dengan hati.

Aku pernah mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Dengan sangat tulus. Dengan segala yang aku punya. Tetapi… semuanya tidak berjalan seperti yang aku inginkan. Kami sampai pada titik jenuh, titik di mana dua hati yang awalnya saling mendekat malah perlahan menjadi dua dunia yang saling menjauh. Pada akhirnya, kami memilih perpisahan.

Saat itu, aku yakin cinta tidak akan pernah datang kembali.

Aku pikir bunga yang telah hancur tidak akan pernah tumbuh lagi, apalagi bersemi.

Tetapi nyatanya… aku salah. Bunga itu tidak hanya tumbuh kembali. Ia tumbuh lebih subur, lebih harum, dan bersemi pada waktu yang jauh lebih tepat.

Seperti orang-orang yang datang ke Jepang untuk melihat bunga Sakura, atau ke Belanda untuk melihat bunga Tulip, aku datang kepada seseorang yang membuatku jatuh cinta pada hidup, sekali lagi. Seseorang yang menyembuhkan lukaku, yang menunjukkan arti cinta sesungguhnya tanpa meminta apa pun sebagai balasan.

Dia adalah Antonio.

Pria yang hadir bukan sebagai pahlawan, tetapi sebagai rumah.

Pria yang konsisten, yang keras kepala dengan egonya, yang selalu menjaga dan melindungiku lebih dari sekadar seorang sahabat. Kehadirannya menenangkan, meski kadang ia berbicara dengan nada datar seolah dunia tidak mampu menggoyahkan langkahnya.

Dan yang paling ajaib, semuanya bermula dari sebuah sudut perpustakaan di Shanghai.

Hari itu, Shanghai sedang berada dalam musim semi. Angin membawa aroma bunga plum dari taman depan universitas. Aku berjalan sendirian menyusuri lorong perpustakaan terbesar di kota itu, tempat favoritku sejak pertama kali menginjakkan kaki di negara yang penuh filosofi dan sejarah ini.

Aku mencintai Shanghai — jalanannya, langkah-langkah cepat masyarakatnya, bangunannya yang membawa kisah dari masa lalu, dan terutama… perpustakaannya. Di sana, aku bisa bernapas. Di sana, aku merasa waktu berjalan lebih lambat, seakan memberi kesempatan untuk menata ulang isi hati.

Aku tengah mencari sebuah buku sejarah tentang Konfusius, tokoh yang telah lama membuatku penasaran. Ada banyak hal dari filsafatnya yang terasa menyentuh, mengajarkan keseimbangan, kebijaksanaan, dan ketenangan. Sudah berbulan-bulan aku ingin membacanya.

Saat aku tiba di rak tempat buku itu disimpan, aku terhenti, karena buku satu-satunya yang tersisa… telah diambil seseorang.

Pria itu berdiri membelakangiku. Tinggi, dengan jaket hitam, rambut hitam pekat yang sedikit berantakan, dan aura yang terasa… dewasa. Entahlah, sulit dijelaskan. Namun sesuatu padanya terasa berbeda.

Dengan spontan aku berkata,“Eh! Tunggu… Itu buku saya!”

Pria itu menoleh cepat, seakan dikejutkan oleh suaraku.

Matanya tajam, namun lembut pada saat yang sama.

“Maaf,” katanya sambil mengangkat buku itu sedikit.

“Kamu mau baca buku ini?”

“Iya,” jawabku sambil tersenyum kikuk. “Bukunya tinggal satu.”

Dia menatapku sebentar, lalu berkata pelan, “Kalau begitu… bagaimana kalau kita baca bersama?”

Aku mengangguk. “Boleh. Kamu suka Konfusius?”

Dia tersenyum tipis. “Tidak juga. Aku mengagumi filosofi China, sejarahnya, dan banyak hal tentang negara ini. Tapi aku tidak merasa menjadi pengagum khusus.”

Aku tertawa kecil. “Kamu tidak terlihat seperti orang yang tertarik dengan filsafat.”

“Dan kamu terlihat seperti seseorang yang sudah lama mencarinya,” balasnya.

Kalimat itu membuatku berhenti sejenak. Ada sesuatu pada suaranya — tenang, datar, tetapi menghangatkan.

Kami akhirnya duduk berdampingan di meja kayu dekat jendela besar, membaca buku itu bersama. Aku lupa kapan terakhir kali merasakan keheningan yang begitu nyaman dengan seseorang.

Setelah beberapa halaman, dia berkata, “Besok kamu ada waktu? Aku ingin menunjukkan sebuah museum sejarah. Dan beberapa bangunan kuno lain di Jiang. Kamu tertarik pada sejarah, ‘kan?”

Aku menatapnya heran .“Kamu dari Jiang? Kota itu indah, aku pernah lihat fotonya. Ada banyak kastil kuno di sana.”

Dia mengangguk. “Benar. Kalau kamu mau, aku bisa mengajakmu.”

Pertemuan kami dimulai dari sebuah buku. Tetapi justru dari buku itulah seluruh jalan hidupku berubah.

Perjalanan kami ke Jiang adalah awal dari semuanya.

Kami berjalan melewati jembatan batu berusia ratusan tahun. Kami duduk di bawah pohon Willow yang menari diterpa angin. Kami mengunjungi museum yang menceritakan perjalanan dinasti-dinasti tua di China. Dan di setiap tempat kami berhenti, ada saja percakapan yang membuatku merasa… mengalir.

Ada bagian yang lucu juga. Saat aku bertanya, “Kenapa kamu mau mengantar aku? Kita baru bertemu.”

Dia menjawab dengan datar, “Karena kamu tampak seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu, tapi kamu tidak tahu apa yang kamu cari.”

Aku tidak tahu apakah dia membaca pikiranku, atau hanya berkata acak. Tetapi entah bagaimana, kalimat itu menghantamku dalam. Karena ia benar.

Aku sedang mencari sesuatu. Mungkin kedamaian, mungkin arah, atau mungkin… cinta yang sederhana.

Antonio tidak pernah mencoba membuatku jatuh cinta. Dia tidak menggoda, tidak mencoba terlihat menarik, tidak memaksakan percakapan. Dia hanya… hadir. Dengan caranya sendiri.

Dan itu cukup untuk membuatku merasa aman.

Dari hari ke hari, pertemuan kami menjadi semakin rutin. Kadang kami membaca buku bersama. Kadang kami berjalan menyusuri sungai. Kadang kami hanya duduk tanpa bicara. Tetapi justru dalam keheningan itulah, aku menemukan bagian dari diriku yang selama ini hilang.

Aku mulai menyadari sesuatu. Bahwa mungkin, cinta tidak datang dengan gemuruh. Tidak selalu dengan jantung berdebar atau perasaan kacau. Kadang cinta datang pelan, sopan, dan sabar seperti Antonio.

Suatu sore, di perpustakaan yang sama tempat kami pertama bertemu, Antonio tiba-tiba berkata, “Aku rasa… aku mengerti apa itu cinta.”

Aku menatapnya, penasaran. Dia jarang berbicara tentang perasaan.

“Apa itu?” tanyaku perlahan.

Dia menutup buku kami. “Cinta adalah ketika kamu ingin seseorang melihat dunia dengan cara yang lebih indah. Dan kamu ingin ada di setiap hal indah yang dia lihat.”

Aku terdiam. Kalimat itu… sederhana, tetapi menembus.

Dia melanjutkan, “Dan ketika kamu ada di dekat orang itu… kamu tidak merasa harus menjadi siapa pun.”

Aku bisa merasakan jantungku bergetar, pelan tetapi pasti.

Lalu ia menatapku, tidak buru-buru, tidak memaksa.

“Angel… kamu membuat aku merasa seperti itu.”

Aku menunduk. Tanganku menggenggam sisi meja.

“Antonio… aku takut.”

“Akan apa?”

“Takut merasakan lagi. Takut jatuh cinta lagi. Takut kecewa lagi.”

Dia tersenyum lembut, untuk pertama kalinya.

“Kalau begitu, biar aku yang jatuh dulu. Kamu menyusul kapan-kapan.”

Aku tertawa pelan. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa… siap untuk membuka hati lagi.

Hubungan kami tidak pernah diberi nama. Tidak ada kata jadian, tidak ada janji manis, tidak ada momen mengikat yang dramatis. Tetapi ada ketulusan. Ada konsistensi. Ada perasaan yang tumbuh dan menyelimuti tanpa suara.

Suatu hari, saat kami berjalan menyusuri tepi sungai Huangpu menjelang senja, langit berubah jingga keemasan. Sekelebat angin membawa dedaunan jatuh ke air, dan di momen itu, aku merasakannya.

Cinta…..

Yang datang setelah luka. Yang tumbuh setelah patah.

Yang mekar tanpa aku sadari.

Aku menatap Antonio dari samping. Pria yang tidak pernah mencoba mengubahku, tetapi justru mengajariku menerima diriku sendiri.

Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata terasa terlalu kecil untuk menampung apa yang aku rasakan.

Mungkin itu sebabnya aku hanya berkata, “Terima kasih… sudah datang di waktu yang tepat.”

Dia tidak menjawab. Dia hanya menggenggam tanganku pelan, ragu, tetapi hangat.

Dan dalam diam itu, aku tahu: cinta telah menemukan jalannya. Sekali lagi.

Tetapi hidup… selalu menyimpan misteri.

Sebulan kemudian, Antonio menerima tawaran pekerjaan di kota lain. Jauh. Ia datang ke perpustakaan tempat kami pertama bertemu, duduk di sudut yang sama, dan memberiku berita itu.

Aku hanya menatapnya.

“Kamu akan pergi?” tanyaku.

“Untuk sementara,” jawabnya, “aku harus mengambil kesempatan ini.”

Aku mengangguk, meski ada kekosongan yang perlahan tumbuh di dadaku.

Antonio menatapku lama, lalu berkata, “Angel… hubungan kita tidak pernah punya definisi. Tapi perasaan itu nyata. Kalau kamu bertanya apakah ini akhir… aku juga tidak tahu.”

Dia mengembuskan napas pelan. “Tapi aku berharap, apa pun yang terjadi, kita akan bertemu lagi di bab berikutnya.”

Bab berikutnya. Kata-kata itu menggema di kepalaku.

Aku tersenyum kecil. “Mungkin… takdir akan menuliskan halaman baru untuk kita.”

Dan di antara rak-rak buku, di bawah cahaya perpustakaan yang temaram, kami saling menatap tanpa kepastian, tanpa janji, tetapi dengan rasa yang belum selesai.

Dia pergi sore itu. Tidak ada drama. Tidak ada air mata yang tumpah. Hanya dua hati yang mengerti bahwa cinta… kadang harus memberi ruang.

Aku berdiri di dekat jendela besar perpustakaan, memandang senja yang turun perlahan.

Sebuah buku. Sebuah senja. Dan seseorang yang datang tanpa rencana.

Begitulah cinta kadang bekerja ia muncul ketika halaman hidupmu belum selesai, dan menghilang ketika kau mulai terbiasa dengan kehadirannya.

Namun aku tahu satu hal:

Cinta yang datang dari ketulusan… tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berubah bentuk, menunggu waktu untuk bersemi lagi.

Dan mungkin suatu hari nanti di perpustakaan, di museum, atau di kota mana pun…

Aku akan bertemu lagi dengan Antonio. Atau mungkin, bab itu akan ditulis dengan cara lain.

Sampai saat itu tiba, aku menyimpan cerita ini dalam hatiku:

Sebuah buku, sebuah senja, dan kamu.



Nomor WhatsApp: 087740076346

Bionarasi: Hey aku Angel. Aku seorang gadis yang menyukai sastra dan sejara. Bagiku, tulisan bukan hanya tentang aku, kamu, tetapi tentang kita. Penulis yang mencintai senja, sejarah, dan kisah yang menyembuhkan. Percaya bahwa cinta datang pada waktu yang tepat. Menuliskan kisah dari hati, untuk hati.

Rabu, 26 November 2025

CINTA BERSEMI DI ATAS MAHARMU

 Penulis: Sri Hidayati, S.Pd.I

 

CINTA BERSEMI DI ATAS MAHARMU

Dulu, mungkin kau hanya angin lalu bagiku,

Aku tak pernah benar-benar menganggapmu ada.

Meski kita menapaki gedung yang sama untuk mencerdaskan bangsa,

Aku sibuk menatamasa depan murid-muridku

Dan tak pernah melihatmu sebagai takdirku

 

Entahlah…

Entah aku yang pernah begitu rapuh,

Atau aku yang enggan sekadar mengenalmu.

Bagiku, hadirmu seperti “adamuhu ka‘adamihi”

Ada, namun seolah tiada.

 

Tanpa kusadar, cinta diam-diam tertaut di hatimu,

Tanpa restu dariku, tanpa janji yang terucap.

Namun walimu telah lebih dulu menautkan cincin itu di jariku,

Ikrar itu membelenggu langkahku

Entah bagaimana caramu merayu.

 

Ah… sungguh, ini terasa gila.

Sangat gila.

 

Kau hadir di tengah keluargaku,

Padahal kita hampir tak pernah saling bicara.

Ikatan itu terjalin tanpa satu pertemuan pun dengan keluargaku.

Ya Rabb… betapa anehnya semua ini.

 

Aku merayu Tuhanku agar ijab kabul denganmu tak pernah ada

Namun… takdir mengantarkanku dihadapan penghulu bersamamu.

Aku tak bisa dan tak kuasa melukai suasana dan hati keluargaku.

Aku hanya terbungkam dalam keheningan sakral acara.

Seakan tak ada ruang untuk menjelaskan apa yang kurasakan.

Dalam wajah datar, aku hanya menjalani.

Dan tahukah kau? Doa dan keyakinanmu

Ternyata lebih kuat daripada tangis dalam doaku.

 

Hari-hari berlalu sangat panjang dan lambat

Dingin, canggung, penuh kegelisahan.

Aku bagai terpenjara tanpa sipir,

Berperang dengan pikiran dan perasaan.

Namun sakinah dan mawaddah mulai datang perlahan,

Mengetuk pintu setelah akad pernikahan…

Dan cinta pun mulai bersemi

Di atas maharmu.

 

Bionarasi :

Saya, Sri Hidayati, lahir dan besar di tanah yang kaya akan adat dan sastra Sumatera Barat. Saat ini, saya mengabdikan diri di dunia pendidikan disebuah bimbel yang saya bikin sendiri sekaligus menempuh studi pada jenjang akhir di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.

Kecintaan saya pada menulis tumbuh seiring perjalanan hidup, menjadikan kata sebagai ruang refleksi dan medium pengabdian. Dari hobbi sederhana, menulis telah mempertemukan saya dengan komunitas KGS, tempat saya belajar, bertumbuh, dan mengasah keterampilan literasi.

Dengan penuh harap, saya terus meniti jalan ini agar kemampuan menulis saya semakin terasah, memperluas wawasan sastra, dan menghadirkan karya yang bermanfaat bagi sesama.

Ahad, 23 November 2025

DEBARAN MISTERI

 DEBARAN MISTERI 

Nukilan Rasa : Zamri H.Jamaluddin


Debaran itu datang seperti angin dari celah sunyi,


mengetuk dada yang rapuh mencari arti.


Adakah ini cinta yang diam-diam tumbuh di relung hati,
atau 

sekadar kagum yang lewat bagai bayang pagi?


Seperti kelopak yang pecah oleh cahaya pertama,


rasa ini mekar tanpa aku pinta.


Namun getarnya seakan membawa bahasa rahasia, 


antara cintakah ia, atau fatamorgana yang bermain di cakrawala?


Di antara desir kagum dan riak cinta aku hanyut,


terapung di samudra tanya yang tak kunjung surut.


Debaran ini, sebuah isyarat yang samar dan halus,


meninggalkan jejak kabut di lorong halus.


Biarlah waktu mengurai gulir maknanya perlahan,


apakah ia bunga yang tumbuh atau 

sekadar daun yang gugurtertiup angin perjalanan.


Yang pasti, debaran ini hidup dan berdenyut nyata,


menjahit kisah yang mungkin menjadi cinta…

 atau hanyasinggah sementara.

 

Kuala Lumpur 

12.10.2025

BELAYAR DI SAMUDRA DILEMA

 BELAYAR DI SAMUDRA DILEMA 

Nukilan Rasa : Zamri H. Jamaluddin


Di dua sangkar emas, jiwa kami terkurung resah,


meneguk pahit hidup yang berdenting seperti drama retak.


Ada rasa terpatri bagai belenggu besi,
mengerat denyut hati yang lama mati.

Namun di tengah ribut senyap takdir, kita berjumpa, 



Dua perahu patah layar, mencari arah pulang yang baru.


Matamu memantulkan retakku yang diam,
hatimu, 

pelabuhan rindu yang tak pernah kutemukan dalamdiam.

Kita anyam kisah dengan benang yang tak boleh terlihat,


inikah cinta yang sekian lama menunggu kesempatanlahir?


Kita tahu jalan ini berduri dan berbatas kabut,


norma dunia menatah langkah, mengadili rasa yang tumbuhdiam-diam.


Di setiap helai angin, rindu bergetar seperti bisikan gaib,


di setiap pandang, ada janji yang kita sembunyikan dari langit.


Harapan tetap menyala meski jauh dari tangan,


kita gantungkan ia pada Yang Menggenggam segalakemungkinan.

Jika ini rasa yang Engkau titipkan,
satukanlah kami di bawah payung redha-Mu.


Dengan doa yang lirih dan pasrah yang tulus,


kami menunggu takdir membuka pintu, 
agar cinta ini berlabuh,


tanpa lagi diburu  oleh dilema yang tak mengenal henti.


Bandar Seri Begawan

22.10.2025

MENANTI DI PINTU MASA

 MENANTI DI PINTU MASA 

Nukilan Rasa : Zamri H.Jamaluddin


Rindu tumbuh dari pertemuan yang lirih,


seperti cahaya pertama yang menyentuh tepi embun.


Di situlah langkah kecil menuju bahagia digoreskan,


dengan restu langit yang memaut dua jiwa dalam diam.


Jika jodoh tersimpan di rak rahasia milik langit,


biarlah rindu ini menjadi utusan yang mengetuk takdir.


Kasih tak gentar meski dijaga sunyi,


pada noktah yang belum terungkap, 


cinta akan menyala seperti bintang menembus gelap.


Andai takdir menenun pertemuan kita,


datanglah seperti subuh yang membuka jendela dunia:


perlahan, lembut, tetapi pasti,


menyingkap tabir harapan yang lama menunggu sinarnya,


mengikat jiwa dalam dekapan yang tak ditelan masa.


Cinta yang suci tak pernah mengejar bayang,


ia tumbuh dalam bisikan waktu,


berakar dari doa yang tidak bersuara,
dan menanti, 


di pintu rahsia masa


yang hanya Tuhan tahu bila akan terbuka.


Kuala Lumpur

09.11.2025

PUISI UNTUK MIANA

 PUISI UNTUK MIANA

Oleh : Nur Asrianti


Aku berjalan di selasar kota ini, Miana

Menikmati jejak demi  jejak yang kurengkuh dengan  sesak

Menelusuri satu demi satu kata – kata  yang pernah kau lemparkan padaku

Lewat sayup suara angin


Tak ada yang melepuh dari semua gemuruh 

Yang telah luruh bersama keluh itu

Hanya meninggalkan  satu catatan perjalanan

Yang penting tak penting adalah sebuah kisah tentang kita


Miana,

Pagiku kini beranjak siang 

Sepoi angin membisikkan asa

 Pada reranting pohon di sepanjang taman istana

Lalu bunga-bunga  pun bermekaran di mana-mana

Dan semburat mentari seolah mengatakan padaku, 

“ Selamat menikmati musim semi, Cinta . “


Topkapi Palace,  2018

Nur Asrianti. Penyuka puisi dan karya sastra. Pernah bersekolah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Bertempat tinggal di Bandung Jawa Barat Indonesia.

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular