Selasa, 6 Januari 2026

HAMPARAN : Ramli Yakub

 Hamparan

Karya: Ramli Yakub


Kita bicara tentang hamparan—  

bentang sabana di bawah langit kelam,  

rumput-rumput yang bergoyang dalam diam,  

membawa kabar dari ufuk yang jauh.


Kita bicara tentang hamparan—  

tanah retak oleh terik, menanti hujan,  

jejak-jejak kuda yang hilang di batas waktu,  

dan akar yang tetap menggenggam bumi.


Namun hamparan bukan cuma tanah lapang—  

ia juga langit yang membentang biru,  

lautan yang tak pernah selesai berpantun,  

dan mimpi yang berserakan di atas batu.


Di hamparan, kita belajar membungkuk—  

mengumpulkan pecahan cahaya senja,  

menyemai kata-kata yang tumbuh dalam hening,  

menjadi puisi yang tak pernah selesai diucapkan.


Maka biarkan kita terbaring di sini,  

menjadi bagian dari hamparan yang luas—  

tubuh kita menjadi debu dan angin,  

kisah kita menjadi rumput yang abadi.

TANGIS MALAM : EZATUL HANIM

 Tangis Malam


Dalam tangisan malam 

pergiku membawa hati yang lara

hanya aku yang menyintaimu

sedangku dimatamu sebagai sandaran

walau perit, aku akhiri hubungan ini

ku akur kerna cinta tidak semestinya memiliki.


Ezatul Hanim Yahya

06012026

Johor Bahru, Johor Malaysia.












Ezatul Hanim binti Yahya merupakan anak jati Johor Darul Ta’zim. Lahir di Pasir   Gudang dan kini menetap di Skudai Johor. Pemegang Dip. Teknologi Mekanikal Lukisan Rekabentuk dari UTM kini menumpukan bidang pengurusan perniagaan sebagai kerjaya utama. Meminati bidang kesusateraan sejak di sekolah rendah namun lebih akrab dengan puisi moden.

SEBALIK TIRAI BERNAMA CINTA : ENAL SOFYAN

SEBALIK TIRAI BERNAMA CINTA

Karya: ENAL SOFYAN


Malam menutup luka dengan sunyi yang sopan

dan aku belajar menyebut namamu tanpa suara

di balik tirai kamar yg tak pernah kubuka

ada rindu bagai saksi paling setia


Aku mencinta tanpa hak memiliki

seperti doa yang gugur sebelum diangkat

degup kusembunyikan di lipatan sabar

bimbang cinta berubah menjadi bebanan


Sesekali,

kucuba mengintai dari sudut kamar

kuakui : ini lah keberanian terakhirku

-melihat tanpa meminta

-menunggu tanpa janji


Kopi hitam kuhirup perlahan

pahitnya jujur, tak pernah berpura

seperti hatiku yang memilih diam

daripada merobek bahagiamu


Kau bagai bintang di langit tak terjangkau 

aku bumi yang terus belajar merendah

katanya cinta umpama buih yang menjadi permaidani

indah seketika sebelum pecah digigit pantai


Jika redha punya rupa

ia adalah wajahmu yg seperti bidadari 

tak mampu aku miliki

5/1/2026



BIODATA PENULIS











Pemilik nama sebenar Zainal Bin Mohd. Supian.  Berasal dari Kluang, Johor.  Mula bergiat aktif selepas menganggotai Persatuan Penulis Johor (PPJ) bermula tahun 1986.  Pelbagai kursus, bengkel dan ceramah penulisan anjuran PPJ, akhbar dan MEDIA pernah disertai.  Sejak itu mula aktif menulis puisi, cerpen, drama radio dan sesekali drama tv.  Karya-karyanya banyak tersiar di akhbar tabloid, majalah, antologi cerpen dan puisi sekitar tahun 1986 -1993. Kemudian terhenti akibat kekangan masa dan kerja. Akhir tahun 2023 adalah detik ”Semangat Membara” setelah berjumpa kembali rakan-rakan PPJ.  Setelah hampir 35 tahun berhenti menulis alhamdulillah idea untuk menulis masih mekar.



CINTA YANG TAK PERNAH SALAH ALAMAT : Amnina el Humaira

 CINTA YANG TAK PERNAH SALAH ALAMAT 

Oleh Amnina el Humaira 


Hujan gerimis di penghujung Desember menjadi saksi

Betapa aku ingin menghangatkan hatimu yang tak sedingin tanganmu

Namun hati emas itu laksana bintang di langit Jenggawah yang tak mampu ku gapai 

Kenyataan hidup yang pelik ini memaksa ragaku untuk menyerah kalah

Namun suara hatiku dan bisik semesta berkonspirasi menantang egoku untuk bangkit perjuangkan cinta kita


Ku akui, aku hanyalah insan biasa

Yang tak mampu memintal riak buih di lautan menjadi permadani nan indah di singgasana megah kedua orang tuamu

Namun cinta suci yang telah bertahta di hati kita tidak pernah salah alamat

Rasa indah itu adalah karunia teristimewa dari Sang Maha Kuasa 

Tuhanlah yang meniupkannya ke dalam lubuk sanubari setiap insan di bumi 


Selama Tuhan menghendaki, maka tiada yang mustahil di bawah kolong langit-Nya

Karena jatuh hati dan mencintai tak pernah punya syarat

Ia tak pernah memandang rupa dan warna kulit, tak terhalang adat dan budaya, tak terpisahkan oleh ruang dan waktu, bahkan tak mengenal status sosial atau batas teritorial

Semua perbedaan itu seketika runtuh dan retak dalam cermin kebijaksanaan bernama cinta


Bagaimana tidak, getar indah itu adalah fitrah penciptaan atas seluruh umat manusia 

Naluri suci pertanda kuasa Ilahi yang hanya sejenak bisa dipendam, namun takkan pernah benar-benar mampu dibungkam

Hadirnya laksana hembusan semilir angin surga

Yang takkan pernah bisa dihalau oleh siapa pun

Dengannya berwarnalah dunia dan terlahirlah generasi penerus


Maka biarkan aku memintal asa dalam untaian doa dan munajat cinta yang disukai Ilahi

Karena sebelum ku ketuk pintu rumahmu, terlebih dahulu telah ku ketuk pintu langit di seperti malamku

Dan sebelum ku hadapkan wajahku di hadapan walimu, telah terlebih dahulu ku hadapkan hati dan wajahku kepada Sang Pemilik Langit 

Maka izinkan aku memilin rindu yang telah lama bersemayam di palung hati kita, menjadi tali ikatan yang halal dalam mahligai suci pernikahan 

Karena takkan pernah benar-benar ku akui kekalahan sebelum ku tuntaskan perjuangan 

 

Majene, 04 Januari 2026

Amnina el Humaira

DI BALIK CELAH KERINDUAN : Zamri H. Jamaluddin

DI BALIK CELAH KERINDUAN

Zamri H. Jamaluddin


Di ambang sunyi, 

aku terpaku kelu, 

menyusuri bayangmu 

di balik kelambu semu. 


Engkau laksana bidadari 

dalam tenang yang fana, 

menenggelamkan jiwaku 

ke palung terang yang baka.


Apalah daya diri 

dengan tangan berlumur noda, 

merindu menyentuh intan 

yang tak tersentuh karsa. 

Engkau adalah langit 

yang memandikan semesta, 

sedang aku hanyalah debu 

di tepian pusara.


Tak mungkin 

buih kuanyam jadi permadani, 

tak sanggup jemariku 

memetik bintang di singgasana tertinggi. 

Syaratmu terlampau megah 

bagi aku yang bersahaja, 

yang hanya berbekal cinta, 

tanpa kemilau harta dunia.


Salahkah aku 

yang terlanjur luruh hati, 

pada anggunmu 

yang mustahil kuraih dalam jemari? 


Kini

kuperbaiki cermin diri yang retak, 

menyadari jarak 

yang membentang tanpa jejak.


Biarlah rasa ini 

tersimpan rapi, 

di balik tirai kamar, 

tempat sunyi ku peluk sendiri. 


Mengagumimu 

dalam diam yang paling abadi, 

meski takkan pernah namaku, 

kau semayamkan 

di dalam hati.

Isnin, 5 Januari 2026

ILUSI DILAMBUNG OMBAK BUIH: KIMS DIWA

 ILUSI DILAMBUNG OMBAK BUIH 

Karya: Kims Diwa


Maruah tidak lahir daripada sorakan

ia bernafas dalam batas yang dijaga

tubuh belajar menahan arus

walau gelora datang berkali-kali

ada rasa yang tampak jujur

namun membelit jiwa yang alpa

kesedaran hadir sebagai luka

yang mengajar jalan pulang.


Kejujuran bukan alasan tenggelam

pengorbanan bukan timbang nilai

cinta yang waras tidak membiarkan

seseorang dipermain arus

manusia diuji oleh pilihan

antara terus hanyut atau berpaut

arus yang diserah tanpa sedar

mengikis maruah secara perlahan.


Hormati diri sebelum menuntut faham

yang menyerah kepada gelora

menunggu daratan tanpa janji

kesedaran bermula saat kaki berpaut

tangan belajar melepaskan

sunyi menjadi guru yang jujur

di situlah manusia berdiri

dengan maruah sebagai pantai.


Tamparuli, Sabah

01 Januari 2026

DI ANTARA DUA SUARA SATU JIWA YANG RETAK: KARYA DASSY J

 Di Antara : Dua Suara, Satu Jiwa yang Retak


Hai,

Kamu yang pernah membayangkan hidup 

semanis mimpi berbisik di malam sunyi,


Dulu, kita terlalu ingin cepat dewasa

yakin menapaki kisah nyata dengan hati yang penuh harap

dan memimpikan bahagia abadi, duduk dalam pelukan hangat keluarga.


Lucu bila difikirkan kembali 

agak melankolik, tapi tetap ada senyumnya.


Mengimpikan segala hal indah dalam hidup

keluarga harmonis…

rupanya tidak semudah itu.


Tahun demi tahun berlalu

namun “keluarga cemara” itu masih terasa jauh.


Di tengah semua harapan yang tak kesampaian itu

ada seorang anak tak pernah diminta memilih

tapi tetap terperangkap di antara dua keluarga

terus berperang dalam senyap.


Perang dingin tak berbunyi

namun tetap mencengkam setiap hari 

dalam renungan yang tak bersuara

dalam pintu yang ditutup sedikit lebih kuat

dalam diam yang terasa lebih berat daripada jeritan.


Dia cuba menjadi penenang.

Menjadi jambatan.

Menjadi alasan untuk dua hati dewasa

berdamai walau untuk sekejap.


Dia tersenyum meski hatinya retak

dia kuat meski jiwanya selalu goyah.

Dia percaya…

kalau dia cukup baik, cukup mengalah, cukup memahami

mungkin semuanya akan kembali seperti dulu.


Namun tanpa sesiapa sedari

usaha itu perlahan-lahan menelan dirinya.

Dia menjadi mangsa emosi tidak pernah dia mulakan

terhimpit di antara dua dunia

sepatutnya membuatnya merasa aman.


Pada akhirnya

dialah jatuh paling keras.

Dialah mentalnya paling terkuras

menangis tanpa suara di malam panjang

kehilangan dirinya sendiri ketika cuba menyatukan

orang-orang tidak pernah benar-benar mahu berdamai.

Kerana kadang-kadang

patah paling dalam

bukan pihak berperang

tapi penjeda di tengah

cuba menghentikan perang itu sendirian.


Dassy J, 2025

Samparita, Kota Marudu

Sabah

BUIH YANG MENOLAK PECAH: WARSONO

 BUIH YANG MENOLAK PECAH

Cerpen Warsono Abi Azzam


Aku dibesarkan di rumah yang lebih sering mendengar hujan daripada tawa. Atap sengnya berlubang di beberapa tempat, cukup untuk membuat ember-ember kecil berjajar setiap musim penghujan. Lantainya dingin, tidak hanya oleh semen yang selalu lembap, tetapi oleh kesadaran bahwa hidup kami tidak pernah benar-benar aman dari kekurangan. 

Aku belajar sejak kecil bahwa hidup tidak selalu berbentuk garis lurus. Kadang ia berkelok seperti fungsi yang tak pernah mencapai titik maksimum, hanya mendekati, lalu menjauh lagi.

Gang tempat rumahku berdiri sempit dan berliku. Dua sepeda motor berpapasan saja harus saling menahan napas. Bau minyak goreng, suara panci bertubrukan, suara televisi dari rumah tetangga, dan teriakan penjual sayur adalah musik pagi yang menemaniku sejak kecil. Di sinilah aku belajar bahwa hidup bukan soal mengejar, melainkan bertahan.

Ayahku selalu berkata, hidup ini seperti berenang di sungai keruh. Jangan banyak bergerak kalau tidak ingin tenggelam. “Hidup itu soal bertahan.” Ibuku menambahkan, “Dan soal tahu diri.”

Maka aku tumbuh menjadi lelaki yang tahu diri, yang paham batas. Yang tidak pernah mengajukan pertanyaan pada nasib, apalagi menantangnya. Sampai suatu hari, takdir mempertemukanku dengan sesuatu yang sama sekali tidak kukenal: kemungkinan.

Aku tidak pernah bercita-cita mencintai perempuan seperti Nayara.

Kami bertemu di sebuah gedung tua peninggalan kolonial, dindingnya tebal, jendelanya tinggi, dan catnya mengelupas seperti ingatan lama yang belum selesai. Gedung itu kini menjadi pusat kegiatan sosial—ironis, karena di sanalah orang-orang berbicara tentang kesetaraan di ruang yang sejak awal dibangun untuk membedakan.

Aku datang pagi-pagi, membawa map lusuh dan pulpen yang tintanya sering mogok. Tugasku sederhana: mencatat, mengatur kursi, memastikan air minum cukup. Aku hanyalah roda kecil dalam sistem yang lebih besar.

Nayara datang menjelang siang. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, seolah waktu selalu memberinya kelonggaran. Ia mengenakan pakaian sederhana—sederhana menurut standar dunia yang belum kukenal. Tubuhnya proporsional, tidak terlalu tinggi, juga tak terlampau pendek. Rambutnya diikat rapi, wajahnya bersih tanpa rias berlebihan.

Ia menghampiriku. Saat ia menyapaku, aku sempat mengira ia salah orang.

“Kamu yang mengurus relawan?” tanyanya.

Aku mengangguk, agak gugup. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

Kami berbincang di sudut ruangan yang menghadap halaman. Pohon flamboyan menjatuhkan bunga merahnya seperti sisa-sisa perayaan. Sementara angin siang mengaduk bau tanah basah. Nayara bertanya tentang pekerjaanku, tentang buku yang kubaca saat menunggu acara dimulai. Tentang hujan yang mulai turun. Tentang hal-hal kecil yang biasanya luput dari percakapan orang-orang yang hidupnya penuh kesempurnaan. Bukan dengan nada basa-basi, melainkan sungguh ingin tahu.

Aku ingat betul caranya memandang: tidak dari atas, tidak dari samping, tetapi lurus. Seolah aku bukan relawan kontrak, bukan lelaki miskin, bukan angka dalam laporan kegiatan. Hanya seorang manusia.

Aku heran, sejak kapan hidupku menarik bagi orang seperti dia? Aku menjawab dengan kalimat-kalimat pendek, takut jika terlalu panjang akan terdengar membual. Namun Nayara mendengarkan seolah setiap jeda penting.

Sejak hari itu, aku pulang dengan perasaan aneh—ringan, tetapi juga takut. Di situlah, tanpa sadar, aku mulai berubah menjadi buih.

Buih adalah sesuatu yang ringan. Ia muncul ke permukaan karena dorongan dari bawah. Ia terlihat indah karena cahaya, tetapi rapuh karena hakikatnya. Aku tahu itu. Aku tahu diriku seperti itu. 

Pertemuan kami berlanjut. Kami mulai bertemu di tempat-tempat yang menjadi persilangan dua dunia: di kafe kecil di pinggir kota, tempat di mana kursi-kursi kayunya sudah aus dan meja-mejanya menyimpan bekas goresan waktu. Aku memilih tempat itu dengan terlebih dulu berhitung matang sebelum duduk: murah, tidak mencolok, tidak membuatku merasa asing.

Nayara datang tepat waktu. Ia memesan minuman yang sama denganku, meski aku tahu dari caranya memegang cangkir, ia lebih terbiasa dengan tempat lain, tempat yang jauh lebih mewah.

“Aku suka tempat seperti ini,” katanya. “Jujur, tidak berpura-pura.”

Aku tersenyum, tetapi di dalam hatiku ada getir. Bagiku, tempat seperti ini bukan soal selera, bukan tentang kejujuran, melainkan keterpaksaan.

Kami juga sering bertemu di perpustakaan umum. Gedungnya besar, tetapi usang. AC-nya terlalu dingin, rak-raknya berderit saat buku ditarik. Di sana, kami duduk bersebelahan tanpa banyak bicara, sesekali saling menunjukkan paragraf menarik.

Ia bercerita tentang hidupnya yang penuh tuntutan. Tentang keluarga yang mengukur cinta dengan prestasi dan citra. Tentang masa kecil yang dikelilingi kemewahan, tetapi miskin ruang untuk kekecewaan. Aku mendengarkan, lalu menceritakan hidupku yang sebaliknya: penuh kegagalan, tetapi kaya ketabahan.

Kami seperti dua garis yang berbeda gradien, namun entah bagaimana berpotongan di satu titik. Dan celakanya, cinta tumbuh di sana, di titik temu yang rapuh.

Aku jatuh cinta perlahan, seperti embun yang menumpuk di pucuk-pucuk tanpa disadari.

Aku mencintai caranya mendengarkan tanpa menyela. Aku suka dengan caranya diam tanpa menghakimi. Dengan caranya tertawa yang tidak menghitung siapa saja yang melihat.  Dengan caranya mengangguk, bukan karena setuju, tetapi karena mencoba memahami. Caranya bertanya balik, seolah hidupku layak digali. Namun setiap kali ia tersenyum, aku takut senyum itu hanyalah refleksi cahaya, bukan milikku dan untukku sepenuhnya.

Akan tetapi aku sadar sepenuhnya bahwa cinta ini tumbuh di tanah yang tidak rata. Perbedaan mulai terasa dari hal-hal kecil.

Ia bercerita tentang tekanan di perusahaan keluarganya, tentang rapat-rapat panjang dan ekspektasi yang tidak pernah usai. Aku mendengarkan, lalu menahan cerita tentang kontrak kerjaku yang bisa diputus kapan saja.

Ia berbicara tentang rencana liburan ke luar negeri. Aku menimpali dengan senyum, menyembunyikan fakta bahwa aku masih mencicil sepeda motor bekas.

Kami seusia, tetapi hidup kami berjalan di jalur yang berbeda, dengan kecepatan yang tidak sama. Aku mulai merasa seperti variabel asing dalam persamaan hidupnya. 

Suatu malam, aku mengantarnya pulang.

Mobilnya berhenti di depan rumah besar dengan pagar tinggi. Lampu-lampu taman menyala redup, menciptakan bayangan yang rapi. Jalanan sunyi, terlalu sunyi bagiku yang terbiasa dengan hiruk-pikuk.

Satpam membuka pintu dengan hormat.

Aku berdiri canggung di luar pagar. Dunia di dalam dan di luar pagar terasa seperti dua himpunan yang saling asing, tak pernah beririsan.

“Terima kasih,” katanya. “Aku senang hari ini.” Senyum merekah di bibir ranumnya. Manis.

Aku juga senang. Tetapi aku tidak mengatakan betapa kecilnya aku merasa di sana.

Sebaliknya, ketika Nayara datang ke rumahku, gang sempit itu memaksanya berjalan perlahan. Ia berusaha tidak menunjukkan keterkejutan.  Bau gorengan, suara televisi tetangga, dan sandal-sandal berserakan menyambutnya.

Ibuku menyambutnya dengan senyum gugup dan teh manis yang terlalu panas.  Nayara duduk di kursi plastik tanpa mengeluh, mencoba tersenyum senatural mungkin. Aku melihat matanya menyapu ruangan—bukan jijik, melainkan bingung. Seolah ia sedang membaca bahasa yang belum pernah diajarkan sebelumnya.

Cinta kami tumbuh di antara dua dunia yang tidak dirancang untuk saling memahami.

Konflik sesungguhnya datang dari luar, bukan dari antara kami.

Lingkar pergaulan Nayara mulai mengetahui keberadaanku. Aku diundang ke acara-acara yang membuatku merasa seperti variabel asing dalam persamaan mapan. Ada ruang-ruang luas berpendingin udara, percakapan tentang saham dan investasi, denting sulang gelas, dan tawa yang terukur.

Aku datang dengan kemeja terbaikku, tetapi tetap merasa tidak cukup.

Tidak ada yang berkata kasar. Justru itu yang menyakitkan. Mereka sopan, terlalu sopan. Seolah keberadaanku harus diperlakukan dengan kehati-hatian ekstra. Jujur, justru hal-hal seperti inilah yang membuatku dalam tekanan tak kasat mata. Bukan hinaan langsung, bukan larangan keras. Hanya jeda yang terlalu lama sebelum namaku diterima. Senyum yang berhenti setengah jalan. Pertanyaan-pertanyaan halus seolah menyamar sebagai kepedulian: “Kamu kerja di mana?” “Orang tuamu siapa?” Aku menjawab jujur, dan kejujuran itu terasa seperti kesalahan besar.

Aku pulang dengan perasaan tereduksi, seolah nilai diriku bisa diringkas dalam angka pada risalah dan silsilah. Aku mulai merasa bahwa cintaku adalah variabel pengganggu dalam persamaan hidup Nayara yang sudah rapi.

“Apakah aku mempersulit hidupmu?” tanyaku suatu malam.

Ia menggeleng cepat. “Tidak. Aku yang sedang belajar berani.”

Berani. Kata itu terdengar indah, tetapi juga menakutkan. Karena lazimnya keberanian selalu menuntut harga.

Tekanan memuncak ketika keluarganya mulai berbicara tentang masa depan Nayara.

Kata-kata seperti kesepadanan, stabilitas, dan realistis melayang di udara seperti angka-angka dingin. Namaku tidak disebut, tetapi aku tahu akulah subjeknya. Aku tidak marah. Aku hanya sadar: aku adalah buih yang dianggap mengganggu permukaan.

Aku menarik diri.

Aku mulai menjauh. Bukan karena berhenti mencintai, tetapi karena lelah merasa harus membuktikan keberadaanku. Aku kembali menunduk, kembali tahu diri. Bukan untuk menghukum, melainkan untuk bertahan. Aku berpikir, mungkin inilah bentuk cinta paling dewasa: melepaskan sebelum melukai lebih jauh.

Nayara merasakannya. 

Hubungan kami memasuki fase sunyi. Pertemuan jarang, percakapan pendek. Aku merasa seperti buih yang terlalu lama bertahan di permukaan, menunggu pecah.

Hingga suatu malam, hujan turun deras.

Kami bertemu di halte bus yang hampir kosong. Lampu jalan memantul di genangan air. Nayara menatapku dengan mata yang lelah.

“Kamu pergi tanpa benar-benar pergi,” katanya suatu sore. “Kenapa?”

Aku menatapnya lama. “Karena aku lelah menjadi kemungkinan yang diperdebatkan.”

Ia terdiam. Matanya berkaca, tetapi suaranya justru mengeras. “Dan aku lelah hidup sesuai persetujuan orang lain.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Nayara bukan sebagai perempuan kaya yang terjebak dalam dilema, melainkan sebagai manusia yang sedang memilih dirinya sendiri.

Perubahan tidak datang seketika. Ia datang seperti limit: mendekat perlahan, diuji oleh jarak, oleh rasa takut, oleh kegagalan kecil. Nayara mulai melawan dengan caranya sendiri. Ia berbicara kepada keluarganya, bukan dengan tangis, tetapi dengan argumen. Ia mempertahankanku bukan sebagai simbol pemberontakan, tetapi sebagai pilihan sadar.

Aku pun berubah. Aku berhenti merasa kecil. Aku bekerja lebih keras, bukan untuk mengejar kemewahan, tetapi untuk berdiri tegak di tanah pijakanku sendiri.

Waktu berjalan. Tekanan mereda, bukan karena hilang, tetapi karena kami menolak tunduk. Kami saling menunggu. Saling gagal. Saling memperbaiki.

Hingga suatu sore, ibunya Nayara datang ke rumahku.

Gang sempit yang sama. Kursi plastik yang sama. Teh manis yang sama. 

“Kalian keras kepala,” katanya. “Tapi dunia berubah karena orang-orang seperti itu.”

Aku menunduk, menahan getar. Saat itu aku mengerti: buih tidak selalu harus pecah. Kadang ia mengendap, menyatu, lalu menjadi bagian dari sesuatu yang lebih kuat.

Kami tidak menjadi pasangan sempurna. Hidup kami tetap penuh kompromi. Tetapi kami berdiri di tempat yang sama, tanpa pagar di antara kami.

Aku tidak lagi merasa harus meminta izin untuk mencintai.

Dan di situlah, akhirnya, aku memahami: aku tidak pernah benar-benar buih. Aku hanya seseorang yang lama hidup di bawah, hingga lupa bahwa permadani pun dibuat dari benang-benang kecil yang dulu tercerai.

Kami bahagia. Tidak sempurna. Tetapi nyata.


Cilacap, penghujung Desember 2025

SEKILAS BIODATA PENULIS:










Warsono Abi Azzam adalah nama pena dari Warsono, S.Pd., M.Pd. Lahir di Banjarnegara, 6 Desember 1969, bermukim di Gumilir-Kecamatan Cilacap Utara, Cilacap, Jawa Tengah. Guru Matematika di SMP Negeri 5 Cilacap yang gemar bersastra, suka membaca dan menulis puisi, cerpen, cernak, dan pentigraf. Buku puisi tunggal yang sudah terbit:  “Paradoks” (2017), “Gerimis Senja” (2019), “Gita Malam” (2019), “Sehimpun Haiku Romansa Jiwa” (2019), dan “Dua Menyatu Jiwa” (2022). Karya-karyanya selama delapan tahun terakhir juga terabadikan dalam seratus enam puluhan buku-buku antologi bersama penulis lain. 


Karya cerpen tiga paragraf (pentigraf) yang pernah diterbutkan: “Tembang Cinta dari Sebuah Jendela” (duet bersama penulis Ni’matul Khoiroh, 2020), dan “Senyum Kemenangan” (2021). Pernah mendapatkan: Juara Favorit Lomba Menulis Cerpen tema Kenangan Tahun 80-an (KGS, 2024), Juara 3 Lomba Menulis Cerpen tema Kesehatan Mental (KGS, 2025), Juara 2 Lomba Menulis Pentigraf Lagu (APH, 2023).  


Pernah mengikuti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI (Kudus, 2019), Pesta Sastra Akhir Tahun (Yogyakarta, 2021), Glamping Sastra #2 (Baturaden, 2022).  Bergiat di beberapa komunitas sastra berbasis dunia maya dan Komunitas Guru Menulis (KGuM) Kabupaten Cilacap. Dapat dihubungi melelui Telp/WA: 081542937101, FB: Warsono Abi Azzam, IG: @warsonoclp surel: warsono_clp@yahoo.co.id. 

Ahad, 4 Januari 2026

DOA YANG TIDAK PERNAH DIMINTA LANGIT: NELLY AMALIA

Doa yang Tidak Pernah Diminta Langit

Nelly Amalia


Angin malam ini bukan dingin,

ia hanya pengingat

bahwa tubuh masih hidup

sementara hati

sudah lebih dulu membusuk.


Api di dadaku

bukan lagi cinta,

melainkan sisa bara

dari harga diri

yang kau bakar

tanpa menoleh.


Kelakianku runtuh

bukan oleh dunia,

melainkan oleh caramu

menatapku

seperti benda gagal

yang tak perlu diperbaiki.


Aku terhempas,

dan kau menyebutnya biasa.

Aku terluka,

dan kau menyebutnya lemah.


Barangkali benar,

sejak awal

aku memang diciptakan

untuk kalah.


Karena aku kekurangan,

kau permainkan harapanku

seperti anak kecil yang

merobek sayap serangga,

bukan untuk membunuh,

hanya untuk melihat

ia tak bisa terbang lagi.


Aku mencoba mengubah buih

menjadi permadani,

betapa bodohnya.

Buih ada untuk lenyap,

bukan untuk menanggung langkahmu.

Dan aku,

ada hanya untuk hancur.


Kau menyuruhku meraih bintang.

Aku bahkan tak sanggup

mengangkat kepala

tanpa merasa

menjijikkan diriku sendiri.

Langit terlalu tinggi

untuk makhluk gagal sepertiku.


Siapalah aku?

ya insan biasa,

kata paling sopan

untuk sesuatu

yang tak akan pernah cukup.

Segalanya mustahil.


Dan aku tahu itu.

Namun aku tetap jatuh cinta

kesalahan paling bodoh

yang pernah kulakukan

dengan sadar.

Kau bidadari, katanya.


Dan aku?

Lumpur yang berkhayal

ingin menjadi cahaya.

Seharusnya aku bercermin

dan berhenti berharap

sebelum tirai hati kubuka

dan menemukan

kehampaan di baliknya.


Kini tirai itu terbuka.

Tak ada apa-apa di sana.

Tidak ada cinta.

Tidak ada makna.

Tidak ada Tuhan yang turun tangan.


Hanya aku,

dan kesadaran pahit

bahwa sejak awal

aku memang

tidak pernah layak

untuk mencintaimu.

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular