Jumaat, 4 Julai 2025

SUARA HATI DI TENGAH HUJAN

 SUARA HATI DI TENGAH HUJAN

Karya: Nus Pariama


rintik hujan malam ini

sungguh menyentak rasa di hati

meskipun dia harus pahami 

tapi ku tak ingin hampa kembali


mengapa aku yang harus pergi

sedangkan rintik masih mengalir

mengapa akulah yang ditepis

sedangkan bunglon masih mencaci


oh penciptaku yang abadi

nusulkanlah khalbu nan suci

biar perih yang sedang kualami

hanya bergita di ujung bumi


karna yang baik tentu akan mengerti

bahwa yang indah adalah emas sejati

siul dan harap bukanlah janji

saat kau perlu baru dipanggil


ku tahu engkau ingin berbakti

tapi terus mengigau kata tak pasti

jadi harus kubuang bait terakhir

biar karma-lah yang akan menanti


kini ku pasrah jiwaku berlari

mencari cara untuk berhenti

walaupun citra harus menjadi basi

aku sudah tak mau untuk terus begini


tapi ku ingat pada satu jemari   

yang kerap hadir kala ku bersedih

walaupun harus pasrah begini

ia tetap setia teduhkan hati 


meskipun nadanya kuat dan ketus

namun pangkuannya tetap di hati

menjadi panutan dikala ku sendiri

dialah mama, sosok yang kucintai


s’tiap gema rintikan datangkan air

namun dibasahi hujan bukanlah akhir

semua kelam nan memukul ku campa kini

karena harapan baru yang s’karang ku cari


HUJAN DI UJUNG INGATAN

 HUJAN DI UJUNG INGATAN

 Karya: Nelly Amalia 



Hujan pertama di bulan Juni datang seperti tamu lama yang tahu kapan waktu paling sunyi tiba. Ia turun perlahan-lahan, mengetuk genteng, daun, dan dada-dada yang belum benar-benar pulih. Bagi sebagian orang, hujan adalah penyejuk bumi. Tetapi bagi Aira, hujan adalah lorong kenangan, tempat suara-suara yang telah lama hilang kembali berbisik.

Hari itu, langit menggantungkan awan kelabu tepat di atas rumah tua milik almarhumah neneknya. Rumah yang kini seperti hidup kembali hanya karena Aira memutuskan pulang setelah lima tahun menghindar dari suara hujan, aroma tanah basah, dan bayangan masa lalu.

Aira berdiri di depan jendela, memandangi rintik-rintik yang mulai menari di udara. Ada rasa asing yang menyusup ke relungnya. Rasa yang dulu begitu akrab rindu, kehilangan, dan sedikit sesal yang belum selesai dicerna.

Di balik bayangan kaca, ia melihat dirinya yang berumur delapan tahun. Berlari-lari kecil di halaman bersama Ibu, berusaha menangkap air hujan dengan telapak tangan mungilnya. Ibu tertawa, sambil membawa handuk dan payung, lalu menjemput Aira ke dalam pelukannya yang hangat dan harum seperti kayu manis. Di dalam rumah, mereka akan membuat teh jahe dan menghangatkan diri di depan perapian buatan. Kadang sambil membaca puisi, kadang hanya duduk diam, mendengarkan hujan.

“Aira,” kata Ibu suatu ketika, “hidup akan punya banyak hujan. Kadang deras, kadang rintik kecil yang nyaris tak terdengar. Tapi kau harus tahu, setiap hujan punya alasan. Dan selalu, selalu ada pelangi setelahnya, meski tak selalu terlihat.”

Kata-kata itu selalu Aira ingat. Tetapi semua maknanya lenyap pada hari hujan yang terakhir, saat Ibu pergi tanpa sempat pamit.

Hujan hari itu begitu deras, seperti langit marah. Seperti semesta pun tidak rela melepaskan. Aira remaja hanya bisa menggenggam surat terakhir Ibu yang ditemukan di balik rak buku, berisi kalimat sederhana: “Maafkan Ibu, Aira. Jika satu hari nanti Ibu tak sempat kembali, ingatlah… aku tak pernah pergi dari hatimu.”

Surat itu basah oleh hujan dan air mata. Dan sejak hari itu, Aira berhenti menyukai hujan. Ia bahkan pindah ke kota yang nyaris tak pernah diguyur, hanya untuk menjauh dari semua yang membuatnya ingat. Tetapi kenangan, seperti hujan, punya caranya sendiri untuk kembali. Dan sore itu, setelah lima tahun membisu, Aira kembali berdiri di tanah tempat segalanya dimulai.

Ia melangkah pelan ke teras. Setiap suara hujan seperti memanggil namanya dalam bahasa yang hanya ia dan Ibu yang mengerti. Aroma tanah, rumput yang basah, dan angin yang membawa sisa musim, semua seolah menyusun kembali serpihan hatinya yang sempat tercecer.

Aira membuka pintu depan. Langkahnya pelan, seperti menghampiri sesuatu yang sakral. Di ruang tengah, masih tergantung foto Ibu dengan senyum yang tak pernah usang. Meja kayu masih di sana, cangkir teh keramik tua yang dulu mereka pakai pun masih utuh.

Ia duduk. Kali ini tidak untuk lari dari hujan, tetapi untuk menemuinya.

Air mata turun bersamaan dengan hujan. Tak ada lagi yang ditahan. Di dada yang selama ini penuh sesak, perlahan muncul ruang. Bukan untuk melupakan, tetapi untuk menerima. Bahwa kehilangan adalah bagian dari cinta, dan rindu tak selalu harus disembuhkan. Kadang ia hanya perlu ditemani.

Aira meraih buku harian kecilnya. Ia mulai menulis:

"Ibu, aku pulang. Maaf aku butuh waktu lama. Tapi hari ini, aku biarkan hujan bicara lagi. Aku duduk di tempat biasa kita minum teh, dan aku dengar suara Ibu di antara dentingnya. Ibu benar, hujan memang menyembuhkan, tapi hanya jika kita cukup berani untuk mendengarkan."

Lalu ia menutup buku, berjalan ke halaman rumah, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, menari di bawah hujan.

Langkahnya pelan, nyaris seperti ziarah. Setiap jengkal tanah yang ia injak terasa penuh makna, seperti berbisik pelan: "Kau kembali, akhirnya."

Butiran air jatuh di wajahnya, membasuh luka-luka lama yang tak pernah benar-benar mengering. Ia tidak menghindar seperti dulu, tidak mencari atap untuk berteduh. Justru sebaliknya, ia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada hujan, seperti seorang anak kecil yang akhirnya memeluk ibunya setelah tersesat terlalu lama.

Tangannya terulur ke langit. Rintik-rintik itu menyentuh jemarinya dengan kelembutan yang tak asing. Seolah langit sedang menuliskan surat dengan air, menyampaikan pesan dari seseorang yang telah lama tiada: “Nak, aku ada di sini. Di setiap hembusan angin, di setiap rintik yang jatuh ke pipimu. Aku tidak pernah benar-benar pergi.”

Hatinya mendadak ringan. Ada suara dari dalam diri yang selama ini terkubur diam-diam muncul ke permukaan suara Ibu, bukan hanya dalam ingatan, tetapi dalam kehadiran yang tak kasat mata. Ia mendengar tawa yang dulu menghiasi malam-malam hujan mereka. Ia mencium aroma jahe dan kayu manis, samar namun nyata. Ia merasa hangat di tengah dinginnya sore.

Sendiri. Tetapi tidak merasa sendiri. Karena ada pelukan tak terlihat yang membalut tubuhnya seperti selimut. Bukan pelukan dari tangan manusia, tetapi dari kenangan yang telah menjadi bagian dari darah dan napasnya. Ada getar dalam jiwanya yang menyuarakan:

"Lepaskan kesedihan, peluk yang tersisa. Karena cinta tidak mengenal kata akhir."

Ia mulai melangkah perlahan, mengitari halaman yang basah, lalu memutar satu kali, dua kali, membiarkan tubuhnya menari bebas dalam irama alam. Bukan tarian indah yang sempurna, tetapi tarian jiwa yang akhirnya merdeka. Ia menari bukan untuk terlihat, tetapi untuk merasa. Ia menari bukan untuk lupa, tetapi untuk mengingat tanpa rasa sakit.

Hujan terus turun, seperti tirai tipis yang memisahkan dunia nyata dan dunia kenangan. Di sela-sela itu, Aira berdiri: bukan sebagai gadis kecil yang kehilangan, tetapi sebagai perempuan yang perlahan mengerti bahwa kehilangan bukan akhir dari cinta, melainkan bentuk paling jujur dari keberlanjutan cinta itu sendiri.

Ada rindu yang tak bisa dilupakan, tetapi bisa diterima. Rindu yang tak butuh pelampiasan, cukup dikenang dan dirawat. Seperti hujan yang tidak meminta kita menari, tetapi selalu hadir jika kita ingin. Seperti kenangan yang tidak menuntut kita untuk lupa, tetapi hanya ingin dikenang dengan tenang.

Dan seperti cinta dari seorang Ibu yang tak pernah pergi meski tubuhnya telah kembali ke bumi. Hujan sore itu menjadi semacam sakramen bagi Aira. Ia merasa dilahirkan kembali, bukan sebagai seseorang yang meninggalkan masa lalu, tapi sebagai seseorang yang kini mampu berjalan berdampingan dengan kenangan. Tanpa takut. Tanpa luka yang terus menganga.

Hidup terus berjalan bersama kenangan, bukan melawannya.

Dan hujan? Ia akan datang lagi. Dan Aira akan menyambutnya. Tanpa tangis. Tanpa lari. Tapi dengan tangan terbuka dan hati yang akhirnya bisa berkata:

"Terima kasih, hujan. Telah menjagaku saat aku tak tahu cara menjaga diri sendiri."


KOPI HUJAN DAN PULANG

Kopi Hujan dan Pulang 

Karya: Muhammad Shukri Amin Bin Maarif

Pahit langkah rindu mencengkam

lampu kemarahan marak terseksa

ada gula tapi kelat mati rasa

persoalan tentang dia usah berteka

kopi dipuncak bayangan sekadar peta.


Saat akal hilang bergetar

Jendela hujan terbuka sebentar

bisakah cinta lain menumpang bersama

lama terfikir apakah sesat itu bahagia

angin yang kelamaan hilang segarnya

nyawa tidak lagi indah.


Pulanglah ke sarang

senja pun tahu bertemu tenang

jiwamu perlu mencari sederhana

Ke mana pun angin lari bersama

hati ini masih menaruh sanubari setia.


Kampung Penangah, Sabah

28.6.2025

Jumaat, 27 Jun 2025

RINTIK-RINTIK YANG MEMBISIKKAN NAMAMU

 Rintik-Rintik yang Membisikkan Namamu

Agustina Rahman

u.

Hujan turun perlahan, seolah langit sedang ragu untuk menangis. Dari balik jendela rumah tua peninggalan nenek, aku duduk membisu. Cangkir teh melati mengepul di genggamanku, menghangatkan telapak tangan tetapi tak juga menjangkau dingin yang bersarang di dada.

Namanya masih tinggal di sana, nama yang sudah terpahat dengan rapat di antara rintik-rintik yang jatuh tanpa suara. Adit. Dua tahun sudah aku mencoba melupakannya. Tetapi setiap kali langit menangis, memori itu kembali, menelusup lewat bau tanah basah dan bayangan payung biru yang dulu sering kami bagi berdua.

Kami berpisah di bawah hujan, di sebuah halte kecil dekat taman kota yang sering menjadi saksi bisu pertemuan kami. Hujan turun deras saat itu, membungkus tubuh kami dalam udara yang dingin, tetapi pelukannya tetap hangat seperti biasa. 

Matanya menatapku begitu dalam, seolah ingin menyampaikan lebih banyak daripada yang bisa diucapkan lewat kata. Lalu, dengan suara pelan yang hampir kalah oleh gemuruh hujan, ia berkata, “Tunggu aku, ya.” Aku mengangguk. Tidak bertanya kapan, tidak menuntut penjelasan. Seolah menunggu adalah hal paling mudah di dunia, padahal hatiku sudah mulai merasa kehilangan bahkan sebelum ia benar-benar pergi.

Namun, yang datang setelahnya bukan kabar, bukan kepastian, bukan tanda bahwa ia masih memikirkan janji yang sempat diucapkan. Yang datang hanyalah diam yang pekat, menyelinap ke dalam hari-hariku. Tak ada pesan, tak ada alasan, hanya kekosongan yang lambat laun berubah menjadi sepi abadi. Setiap malam, kesunyian itu mengetuk dengan halus, menyusup ke dalam mimpi, dan mengendap menjadi kristal yang tak sempat disuarakan. Hari demi hari, tanpa tahu kapan penantian ini berakhir, atau bahkan, untuk siapa sebenarnya aku masih menunggu.

Aku belajar berjalan sendiri. Menyibukkan diri dengan pekerjaan, membaca buku, dan merawat kebun kecil di belakang rumah. Orang-orang bilang aku kuat. Tetapi mereka tak tahu, kekuatan yang mereka lihat dibangun dari reruntuhan harapan yang kupendam sendiri.

Suatu sore yang mendung, ketika langit mulai berwarna kelabu dan angin mengusik dedaunan di halaman belakang, aku sibuk memindahkan pot mawar yang mulai meranggas. Tanahnya terlalu basah karena hujan semalam, dan batangnya mulai menghitam di bagian bawah. Aku menyentuh kelopaknya yang layu—lembut tetapi rapuh, seperti sesuatu yang dulu indah namun perlahan kehilangan daya hidup. Tiba-tiba, dari arah teras, suara ibu memecah kesunyian.

Ia berjalan pelan menghampiri, mengenakan sweater rajut yang sudah mulai melar di bagian lengan. Ia berhenti di sisi kiri, menatap bunga itu sejenak, lalu memandangku dengan sorot mata yang lembut tetapi tajam, seperti hendak menyibak sesuatu yang kusimpan rapat-rapat. Dengan suara setenang desir angin, ia bertanya, “Kamu masih menyimpan namanya, ya?”

Aku tak langsung menjawab. Hanya diam, membiarkan pertanyaannya menggantung di antara kami. Tanganku sibuk membersihkan sisa tanah dari pot, tetapi pikiranku berputar, mencari cara untuk merangkai kalimat yang tak bermakna pengingkaran, tetapi juga bukan pengakuan penuh. Aku menunduk pelan, menatap tanah yang lembab di bawah kakiku—tanah yang menyimpan air hujan semalam, seperti hatiku yang menyimpan sisa-sisa kenangan yang tak kunjung kering.

Dalam sunyi  aku berbicara, suara lirihku hampir tenggelam oleh desir angin dan gemericik air di selokan belakang. “Aku tidak menyimpannya, Bu,” kataku perlahan, tanpa menatap wajahnya. “Namanya tinggal di hujan.” Kalimat itu keluar lebih sebagai desahan daripada jawaban. Bukan karena aku ingin terdengar puitis, tetapi  kenyataannya memang demikian. Setiap kali langit mendung dan rintik mulai turun, namanya hadir tanpa diundang, mengetuk perlahan ingatan yang telah lama kutahan.

Ibu tersenyum, “Kalau begitu, mungkin kamu perlu menemuinya.” Ia berhenti sebentar, membiarkan kata-katanya meresap. “Bukan untuk kembali, bukan untuk membuka luka lama... tapi untuk membebaskan dirimu sendiri.” Tangannya menyentuh lenganku. Sebuah isyarat bahwa ia tahu: terkadang yang paling menyakitkan bukan kepergian, melainkan perasaan yang dibiarkan menggantung terlalu lama.

Kata-kata itu menancap begitu dalam. Esoknya, saat gerimis mengguyur kota, aku mengambil payung biru dari lemari tua dan melangkah menuju halte itu—tempat kenangan terakhir kami berlabuh, berharap dia hadir di tempat itu.

Tempat itu masih sama. Bangkunya dingin dan berkarat, dindingnya penuh coretan lama. Suara hujan di atap seng menciptakan irama yang  menenangkan. Aku duduk di sana, membiarkan waktu berjalan lambat. Tak menunggu siapa pun. Hanya ingin memastikan bahwa kenangan itu nyata.

Lalu, ada langkah terdengar. Pelan, nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menimpa atap seng halte. Tetapi entah mengapa, langkah itu terasa berbeda—seolah dunia berhenti sejenak untuk memberi ruang pada sesuatu yang lama tertunda. Aku menoleh, perlahan, nyaris ragu, seolah takut harapan yang samar itu hanya permainan pikiranku sendiri.

Di ujung jalan, berdiri seorang pria. Jaket abu-abu yang membungkus tubuhnya tampak familiar. Tak salah lagi, itu jaket yang sama yang ia kenakan dua tahun lalu. Rambutnya kini sedikit lebih panjang, tergerai acak oleh angin dan hujan. Wajahnya juga berubah—ada garis lelah di bawah matanya, sedikit kerutan di dahi. Tetapi matanya... matanya masih sama. Mata yang dulu pernah kutatap begitu lama, begitu dalam. Mata yang kini kembali menatapku, membawa gelombang ingatan yang selama ini kusimpan rapat-rapat.

“Adit?” bisikku, nyaris tak terdengar di antara rintik hujan.

Namanya seketika bergaung dalam pikiranku, seperti gema yang membentur dinding hati yang belum sepenuhnya sembuh. Untuk beberapa detik, tubuhku terasa kaku, antara ingin berdiri atau tetap duduk, antara ingin lari atau menunggu. Hujan masih turun, gerimis halus membasahi ujung sepatu dan ujung jemari yang menggenggam pegangan bangku halte. Aku menahan napas, mencoba memastikan bahwa yang kulihat memang dia—bukan bayangan dari rasa rindu yang terlalu lama kupendam.

Ia melangkah perlahan, mendekat tanpa kata. Langkahnya berat, seolah keraguan juga membebani setiap gerakan. Aku hanya bisa menatapnya, mencoba membaca ulang wajah yang dulu begitu akrab. Ada sesuatu yang baru di sana—bukan hanya pada rambut yang lebih panjang atau guratan lelah di wajahnya, tetapi pada tatapan matanya. Tatapan yang tak lagi muda, tak lagi terburu-buru. Tatapan yang membawa penyesalan.

Adit berhenti beberapa langkah dariku. Ia tidak langsung duduk. Hanya berdiri di sana, diam, membiarkan hujan menyamarkan detik-detik canggung di antara kami. Lalu akhirnya ia duduk di sampingku, menjaga jarak, tidak menyentuh, tidak memaksa. Hanya duduk seperti seseorang yang tahu bahwa kedatangannya bisa saja terlalu awal, atau justru terlalu lambat.

Aku ingin berkata sesuatu, tetapi lidahku kelu. Semua pertanyaan yang selama ini bersarang di kepalaku mendadak kehilangan urutan. Aku hanya bisa menatap ke depan, ke jalanan yang basah dan lengang, sambil mencoba menenangkan degup jantungku yang tak biasa.

Dan di antara hening yang panjang itu, satu pertanyaan akhirnya keluar, nyaris hanya berupa bisikan.

“Kenapa kamu di sini?”

Suara itu keluar lebih lirih dari yang kukira. Mungkin karena aku takut mendengar jawabannya. Atau mungkin, karena bagian dari diriku masih belum siap mendengar alasan apa pun yang mungkin ia bawa setelah dua tahun diam.

Adit menunduk. “Aku... nggak tahu harus mulai dari mana,” katanya pelan, nyaris tak terdengar. “Aku juga nggak yakin kamu mau mendengarnya.”

Aku tetap menatap ke depan, membiarkannya bicara. Di dalam dada, ada benturan antara ingin tahu dan ingin selesai. Antara rindu dan luka.

“Aku pergi karena Ibu tiba-tiba jatuh sakit. Harus segera dibawa ke luar negeri untuk operasi,” lanjutnya. “Semua terjadi begitu cepat, Andin. Aku bahkan nggak sempat berpikir jernih. Aku... nggak sempat pamit.”

Aku mengangguk pelan. Bukan karena aku memakluminya, tetapi karena aku pernah menduga dan mendiamkan dugaan itu agar tidak menyakitkan. “Lalu kenapa nggak menghubungi setelahnya?” tanyaku, suaraku sedikit bergetar. “Kenapa membiarkan aku bertanya-tanya, setiap hari, setiap malam, selama dua tahun?”

“Aku takut… aku takut kamu masih menungguku... dan itu justru membuat aku merasa lebih bersalah. Karena aku nggak tahu kapan bisa kembali. Aku takut kalau aku bilang, kamu akan menahanku... dan aku nggak mau membuatmu menggantung di antara harapan dan ketidakpastian.”

Aku menarik napas panjang. Kata-katanya seperti peluru lambat yang menembus dinding emosiku satu demi satu. Ada pahit, ada lega. Ada marah yang masih tertinggal, tetapi juga ada sisa-sisa kasih yang tak tahu harus ke mana. “Kamu tahu, menunggu tanpa tahu harus menunggu siapa dan sampai kapan... itu lebih menyakitkan daripada ditinggal sepenuhnya.”

Ia terdiam. Matanya tertuju ke jalan basah yang mengilap, seakan mencari jawaban di antara pantulan lampu dan genangan. “Aku menulis surat, banyak. Tapi tak satu pun kukirim. Aku takut... kamu sudah membenciku.”

Aku menoleh, menatap wajah yang dulu begitu kucintai, kini tampak jauh. "Aku tidak membencimu, Adit," ucapku lirih, lebih kepada diriku sendiri. "Aku hanya... membenci caramu pergi. Tanpa kata, tanpa penjelasan. Seolah semua yang kita punya tak berarti apa-apa." Dadaku sesak, bukan karena marah—melainkan karena luka yang tak pernah benar-benar sembuh. "Kau pergi seakan aku mudah dilupakan, seakan cintaku tak layak untuk dipertahankan."

Hujan turun sedikit lebih deras. Udara dingin menampar lembut kulitku, tetapi anehnya, hatiku mulai terasa hangat—bukan karena pengakuannya, tetapi karena keberanianku mendengar dan membiarkannya selesai.

Adit menoleh padaku, matanya berkaca-kaca. “Kalau aku diberi satu kesempatan lagi...”

“Tak perlu,” potongku, lembut tetapi tegas. “Kita tidak bisa kembali ke waktu itu, Adit. Ada hal-hal yang memang sudah semestinya berakhir di titik tertentu. Dan itu tidak apa-apa.”

Beberapa menit berlalu. Kami hanya diam, membiarkan hujan bicara. Tak ada yang lebih perlu dijelaskan. Tak ada yang harus dipaksa kembali seperti dulu. Kadang, memahami adalah bentuk cinta yang lebih utuh daripada memiliki.

Akhirnya, aku berdiri. “Aku harus pulang.”

Adit ikut berdiri, ragu. “Boleh aku mengantar?”

Aku tersenyum kecil, menggeleng. “Tak perlu, biarkan kali ini aku berjalan sendiri.” Lalu aku melangkah. Meninggalkan halte, meninggalkan Adit, meninggalkan semua tanya yang pernah kutinggalkan dalam diam. Hujan masih turun, tetapi kali ini, bukan luka yang kubawa pulang. Melainkan kepastian, bahwa aku sudah memaafkan dan aku telah melepaskan.

Dan di antara rintik-rintik itu, langit masih membisikkan namanya. Tetapi kali ini, tidak lagi menyayat. Hanya seperti lagu lama—yang masih kuingat nadanya, tetapi tak perlu kuulangi liriknya.

Makassar, 27 Juni 2025

BIONARASI

Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024),  Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju, dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.

Hujan turun perlahan, seolah langit sedang ragu untuk menangis. Dari balik jendela rumah tua peninggalan nenek, aku duduk membisu. Cangkir teh melati mengepul di genggamanku, menghangatkan telapak tangan tetapi tak juga menjangkau dingin yang bersarang di dada.

Namanya masih tinggal di sana, nama yang sudah terpahat dengan rapat di antara rintik-rintik yang jatuh tanpa suara. Adit. Dua tahun sudah aku mencoba melupakannya. Tetapi setiap kali langit menangis, memori itu kembali, menelusup lewat bau tanah basah dan bayangan payung biru yang dulu sering kami bagi berdua.

Kami berpisah di bawah hujan, di sebuah halte kecil dekat taman kota yang sering menjadi saksi bisu pertemuan kami. Hujan turun deras saat itu, membungkus tubuh kami dalam udara yang dingin, tetapi pelukannya tetap hangat seperti biasa. 

Matanya menatapku begitu dalam, seolah ingin menyampaikan lebih banyak daripada yang bisa diucapkan lewat kata. Lalu, dengan suara pelan yang hampir kalah oleh gemuruh hujan, ia berkata, “Tunggu aku, ya.” Aku mengangguk. Tidak bertanya kapan, tidak menuntut penjelasan. Seolah menunggu adalah hal paling mudah di dunia, padahal hatiku sudah mulai merasa kehilangan bahkan sebelum ia benar-benar pergi.

Namun, yang datang setelahnya bukan kabar, bukan kepastian, bukan tanda bahwa ia masih memikirkan janji yang sempat diucapkan. Yang datang hanyalah diam yang pekat, menyelinap ke dalam hari-hariku. Tak ada pesan, tak ada alasan, hanya kekosongan yang lambat laun berubah menjadi sepi abadi. Setiap malam, kesunyian itu mengetuk dengan halus, menyusup ke dalam mimpi, dan mengendap menjadi kristal yang tak sempat disuarakan. Hari demi hari, tanpa tahu kapan penantian ini berakhir, atau bahkan, untuk siapa sebenarnya aku masih menunggu.

Aku belajar berjalan sendiri. Menyibukkan diri dengan pekerjaan, membaca buku, dan merawat kebun kecil di belakang rumah. Orang-orang bilang aku kuat. Tetapi mereka tak tahu, kekuatan yang mereka lihat dibangun dari reruntuhan harapan yang kupendam sendiri.

Suatu sore yang mendung, ketika langit mulai berwarna kelabu dan angin mengusik dedaunan di halaman belakang, aku sibuk memindahkan pot mawar yang mulai meranggas. Tanahnya terlalu basah karena hujan semalam, dan batangnya mulai menghitam di bagian bawah. Aku menyentuh kelopaknya yang layu—lembut tetapi rapuh, seperti sesuatu yang dulu indah namun perlahan kehilangan daya hidup. Tiba-tiba, dari arah teras, suara ibu memecah kesunyian.

Ia berjalan pelan menghampiri, mengenakan sweater rajut yang sudah mulai melar di bagian lengan. Ia berhenti di sisi kiri, menatap bunga itu sejenak, lalu memandangku dengan sorot mata yang lembut tetapi tajam, seperti hendak menyibak sesuatu yang kusimpan rapat-rapat. Dengan suara setenang desir angin, ia bertanya, “Kamu masih menyimpan namanya, ya?”

Aku tak langsung menjawab. Hanya diam, membiarkan pertanyaannya menggantung di antara kami. Tanganku sibuk membersihkan sisa tanah dari pot, tetapi pikiranku berputar, mencari cara untuk merangkai kalimat yang tak bermakna pengingkaran, tetapi juga bukan pengakuan penuh. Aku menunduk pelan, menatap tanah yang lembab di bawah kakiku—tanah yang menyimpan air hujan semalam, seperti hatiku yang menyimpan sisa-sisa kenangan yang tak kunjung kering.

Dalam sunyi  aku berbicara, suara lirihku hampir tenggelam oleh desir angin dan gemericik air di selokan belakang. “Aku tidak menyimpannya, Bu,” kataku perlahan, tanpa menatap wajahnya. “Namanya tinggal di hujan.” Kalimat itu keluar lebih sebagai desahan daripada jawaban. Bukan karena aku ingin terdengar puitis, tetapi  kenyataannya memang demikian. Setiap kali langit mendung dan rintik mulai turun, namanya hadir tanpa diundang, mengetuk perlahan ingatan yang telah lama kutahan.

Ibu tersenyum, “Kalau begitu, mungkin kamu perlu menemuinya.” Ia berhenti sebentar, membiarkan kata-katanya meresap. “Bukan untuk kembali, bukan untuk membuka luka lama... tapi untuk membebaskan dirimu sendiri.” Tangannya menyentuh lenganku. Sebuah isyarat bahwa ia tahu: terkadang yang paling menyakitkan bukan kepergian, melainkan perasaan yang dibiarkan menggantung terlalu lama.

Kata-kata itu menancap begitu dalam. Esoknya, saat gerimis mengguyur kota, aku mengambil payung biru dari lemari tua dan melangkah menuju halte itu—tempat kenangan terakhir kami berlabuh, berharap dia hadir di tempat itu.

Tempat itu masih sama. Bangkunya dingin dan berkarat, dindingnya penuh coretan lama. Suara hujan di atap seng menciptakan irama yang  menenangkan. Aku duduk di sana, membiarkan waktu berjalan lambat. Tak menunggu siapa pun. Hanya ingin memastikan bahwa kenangan itu nyata.

Lalu, ada langkah terdengar. Pelan, nyaris tenggelam oleh suara hujan yang menimpa atap seng halte. Tetapi entah mengapa, langkah itu terasa berbeda—seolah dunia berhenti sejenak untuk memberi ruang pada sesuatu yang lama tertunda. Aku menoleh, perlahan, nyaris ragu, seolah takut harapan yang samar itu hanya permainan pikiranku sendiri.

Di ujung jalan, berdiri seorang pria. Jaket abu-abu yang membungkus tubuhnya tampak familiar. Tak salah lagi, itu jaket yang sama yang ia kenakan dua tahun lalu. Rambutnya kini sedikit lebih panjang, tergerai acak oleh angin dan hujan. Wajahnya juga berubah—ada garis lelah di bawah matanya, sedikit kerutan di dahi. Tetapi matanya... matanya masih sama. Mata yang dulu pernah kutatap begitu lama, begitu dalam. Mata yang kini kembali menatapku, membawa gelombang ingatan yang selama ini kusimpan rapat-rapat.

“Adit?” bisikku, nyaris tak terdengar di antara rintik hujan.

Namanya seketika bergaung dalam pikiranku, seperti gema yang membentur dinding hati yang belum sepenuhnya sembuh. Untuk beberapa detik, tubuhku terasa kaku, antara ingin berdiri atau tetap duduk, antara ingin lari atau menunggu. Hujan masih turun, gerimis halus membasahi ujung sepatu dan ujung jemari yang menggenggam pegangan bangku halte. Aku menahan napas, mencoba memastikan bahwa yang kulihat memang dia—bukan bayangan dari rasa rindu yang terlalu lama kupendam.

Ia melangkah perlahan, mendekat tanpa kata. Langkahnya berat, seolah keraguan juga membebani setiap gerakan. Aku hanya bisa menatapnya, mencoba membaca ulang wajah yang dulu begitu akrab. Ada sesuatu yang baru di sana—bukan hanya pada rambut yang lebih panjang atau guratan lelah di wajahnya, tetapi pada tatapan matanya. Tatapan yang tak lagi muda, tak lagi terburu-buru. Tatapan yang membawa penyesalan.

Adit berhenti beberapa langkah dariku. Ia tidak langsung duduk. Hanya berdiri di sana, diam, membiarkan hujan menyamarkan detik-detik canggung di antara kami. Lalu akhirnya ia duduk di sampingku, menjaga jarak, tidak menyentuh, tidak memaksa. Hanya duduk seperti seseorang yang tahu bahwa kedatangannya bisa saja terlalu awal, atau justru terlalu lambat.

Aku ingin berkata sesuatu, tetapi lidahku kelu. Semua pertanyaan yang selama ini bersarang di kepalaku mendadak kehilangan urutan. Aku hanya bisa menatap ke depan, ke jalanan yang basah dan lengang, sambil mencoba menenangkan degup jantungku yang tak biasa.

Dan di antara hening yang panjang itu, satu pertanyaan akhirnya keluar, nyaris hanya berupa bisikan.

“Kenapa kamu di sini?”

Suara itu keluar lebih lirih dari yang kukira. Mungkin karena aku takut mendengar jawabannya. Atau mungkin, karena bagian dari diriku masih belum siap mendengar alasan apa pun yang mungkin ia bawa setelah dua tahun diam.

Adit menunduk. “Aku... nggak tahu harus mulai dari mana,” katanya pelan, nyaris tak terdengar. “Aku juga nggak yakin kamu mau mendengarnya.”

Aku tetap menatap ke depan, membiarkannya bicara. Di dalam dada, ada benturan antara ingin tahu dan ingin selesai. Antara rindu dan luka.

“Aku pergi karena Ibu tiba-tiba jatuh sakit. Harus segera dibawa ke luar negeri untuk operasi,” lanjutnya. “Semua terjadi begitu cepat, Andin. Aku bahkan nggak sempat berpikir jernih. Aku... nggak sempat pamit.”

Aku mengangguk pelan. Bukan karena aku memakluminya, tetapi karena aku pernah menduga dan mendiamkan dugaan itu agar tidak menyakitkan. “Lalu kenapa nggak menghubungi setelahnya?” tanyaku, suaraku sedikit bergetar. “Kenapa membiarkan aku bertanya-tanya, setiap hari, setiap malam, selama dua tahun?”

“Aku takut… aku takut kamu masih menungguku... dan itu justru membuat aku merasa lebih bersalah. Karena aku nggak tahu kapan bisa kembali. Aku takut kalau aku bilang, kamu akan menahanku... dan aku nggak mau membuatmu menggantung di antara harapan dan ketidakpastian.”

Aku menarik napas panjang. Kata-katanya seperti peluru lambat yang menembus dinding emosiku satu demi satu. Ada pahit, ada lega. Ada marah yang masih tertinggal, tetapi juga ada sisa-sisa kasih yang tak tahu harus ke mana. “Kamu tahu, menunggu tanpa tahu harus menunggu siapa dan sampai kapan... itu lebih menyakitkan daripada ditinggal sepenuhnya.”

Ia terdiam. Matanya tertuju ke jalan basah yang mengilap, seakan mencari jawaban di antara pantulan lampu dan genangan. “Aku menulis surat, banyak. Tapi tak satu pun kukirim. Aku takut... kamu sudah membenciku.”

Aku menoleh, menatap wajah yang dulu begitu kucintai, kini tampak jauh. "Aku tidak membencimu, Adit," ucapku lirih, lebih kepada diriku sendiri. "Aku hanya... membenci caramu pergi. Tanpa kata, tanpa penjelasan. Seolah semua yang kita punya tak berarti apa-apa." Dadaku sesak, bukan karena marah—melainkan karena luka yang tak pernah benar-benar sembuh. "Kau pergi seakan aku mudah dilupakan, seakan cintaku tak layak untuk dipertahankan."

Hujan turun sedikit lebih deras. Udara dingin menampar lembut kulitku, tetapi anehnya, hatiku mulai terasa hangat—bukan karena pengakuannya, tetapi karena keberanianku mendengar dan membiarkannya selesai.

Adit menoleh padaku, matanya berkaca-kaca. “Kalau aku diberi satu kesempatan lagi...”

“Tak perlu,” potongku, lembut tetapi tegas. “Kita tidak bisa kembali ke waktu itu, Adit. Ada hal-hal yang memang sudah semestinya berakhir di titik tertentu. Dan itu tidak apa-apa.”

Beberapa menit berlalu. Kami hanya diam, membiarkan hujan bicara. Tak ada yang lebih perlu dijelaskan. Tak ada yang harus dipaksa kembali seperti dulu. Kadang, memahami adalah bentuk cinta yang lebih utuh daripada memiliki.

Akhirnya, aku berdiri. “Aku harus pulang.”

Adit ikut berdiri, ragu. “Boleh aku mengantar?”

Aku tersenyum kecil, menggeleng. “Tak perlu, biarkan kali ini aku berjalan sendiri.” Lalu aku melangkah. Meninggalkan halte, meninggalkan Adit, meninggalkan semua tanya yang pernah kutinggalkan dalam diam. Hujan masih turun, tetapi kali ini, bukan luka yang kubawa pulang. Melainkan kepastian, bahwa aku sudah memaafkan dan aku telah melepaskan.

Dan di antara rintik-rintik itu, langit masih membisikkan namanya. Tetapi kali ini, tidak lagi menyayat. Hanya seperti lagu lama—yang masih kuingat nadanya, tetapi tak perlu kuulangi liriknya.

Makassar, 27 Juni 2025

BIONARASI


Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024),  Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju, dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.

MONOLOG BATIN DIBALIK TIRAI HUJAN

 Monolog Batin Di Balik Tirai Hujan

Karya: Nelly Amalia

Malam ini hujan turun lagi…

bukan sekadar air dari langit,

tapi seperti sisa-sisa luka yang belum selesai ditangisi.

Kudengar suara gerimis di luar,

seolah waktu mengetuk-ngetuk jendela dadaku

menggugah luka lama yang kubiarkan tertidur

tanpa pernah benar-benar sembuh.


Aku duduk sendiri,

memeluk bayanganmu yang samar.

Aroma tanah basah membawaku kembali

ke sore itu…

kau pulang dari hujan

dengan senyum yang kupikir tak akan pernah pergi.


Tapi ternyata,

yang abadi bukan cinta,

melainkan kepergianmu

yang diam-diam tumbuh akar

di dasar jiwaku.


Kau meninggalkanku tanpa gaduh,

hanya dengan senyap,

yang sampai sekarang

masih bergema di lorong-lorong sunyi hatiku.

Aku mencoba mengusir namamu

dengan doa,

dengan waktu,

dengan kesibukan yang memaksa aku lupa.


Tapi tubuhku lebih pintar dari pikiranku.

Ia mengingat sentuhanmu,

detak napasmu,

bahkan cara kau menatap langit

sebelum memilih pergi.


Dan kini, hujan…

lagi-lagi hujan…

menjadi ritual penguburan rindu

yang tak sempat kulahirkan dengan utuh.

Hatiku bukan lagi tempat yang hangat.


Ia dingin

dalam dan hampa.

Seperti ruang yang pernah kau singgahi

tapi tak kau kunci

hingga angin masuk dan merobohkan segalanya.


Ada yang terasa sesak di ulu hati,

bukan karena hujan,

bukan karena udara yang dingin,

tapi karena rindu

yang tak tahu harus pulang ke mana.


Jika kau dengar suara hujan malam ini,

barangkali itu aku,

yang masih memanggilmu

dari balik tirai waktu

dengan dada basah

dan hati yang tak pernah kering.


Khamis, 26 Jun 2025

TITISAN SUNYI

Titisan Sunyi

Karya: Bunga Melor



Rintik-rintik hujan,

iringi kamar hati

sunyi tanpa teman bicara.


Senyum kuukir

kutatap hujan di jendela sepi,

jeda

mutiara jernih luruh dari kelopak rasa.


Hujan seakan mengerti

rasa yang terkurung dalam sukma.

Munajatku,

aku ingin seorang teman,

seperti insan lain, 

yang punya sahabat bicara.


Hanya hujan tempat aku mengadu,

tempat kuluah segala rahsia.

Tuhan,

semoga impianku menjadi nyata,

suatu hari nanti.


Rembau, Negeri Sembilan, Malaysia

19 Jun 2025


Melor Nur Ain Idris atau dikenali Bunga Melor, dilahirkan pada 05 Jun 1996 di Hospital Kuala Lumpur. Seorang penulis bebas, penyelenggara projek Antologi. Telah menghasilkan sebanyak 300+ karya termasuk buku solo daripada pelbagai penerbit sehingga ke peringkat International. Antologi Syair Negeri International, (Perruas, Indonesia), Antologi Puisi Simbiosis (Dewan Bahasa Dan Pustaka, 2025). Salah satu buku solo  Novelet Ros Berdarah Protulis Publishing (2024). Karya eceran pernah tersiar di surat khabar, E-Jurnal Doea Jiwa dan tersiar di pelbagai laman web. Mendapat pelbagai anugerah dan pencapaian sepanjang bergelar penulis. Salah satunya Alumni Prolifik Akademi Sanggar Nurimas sesi 2021/2022. Facebook: Melor Nur Ain (Bunga Melor) E-mel Rasmi mawar1996@gmail.com.

Selasa, 24 Jun 2025

DOA YANG LURUH BERSAMA HUJAN

 Doa yang Luruh Bersama Hujan

Karya: Agustina Rahman


Di senja yang menggigil dalam kelam

Langit bersujud menyibak tabir anugerah

Dalam rintik sunyi hujan turun perlahan

Seperti mantra yang luruh dari langit


Aku bersila di ambang jendela

Mengulum sunyi dalam mangkuk telapak

Setiap tetes kuterjemah jadi syair

Setiap gemericik adalah luka tanpa nama 


Ada nama yang kuluruhkan bersama hujan

Nama yang tak lagi kuseru dengan suara

Tapi kusulam dalam tabah yang retak

Langit mafhum, doa tak perlu aksara


Hujan memandikan luka-luka senja

Menyeka debu di urat harapan yang nyaris layu

Dan aku sehelai hati yang patah

Menjadi tanah bagi rindu di tanah sunyi


Tuhan, Jika suara hati bisa Kau dengar 

Dengarlah bisikku dari rerintik rindu

Sebab telah kutulis doaku pada daun

Yang Kau titipkan pada angin pengembara


Makassar, 23 Juni 2025


BIONARASI

Hj. Agustina, S.Pd., M.Pd.  Lahir di Lemoa, Kab. Gowa Sulawesi Selatan, 10 Agustus 1975. Pendidikan terakhir S2 di Universitas Muhammadiyah Makassar. Mengajar di MAN 2 Kota Makassar. Fasilitator Provinsi PKB Guru mapel Bahasa Indonesia 2021-2024 dan Penulis Modul PKB Guru 2023 pada Kementerian Agama. Antologi Cerita Mistis/Horor (2024), Novel Sepenggal Kisah Kehidupan (2024),  Pentigraf Kanvas Kata Penuh Warna (2024), Antologi Jejak Masa Riuh Kenangan (2025), Penulis Antologi Sumbangsih Pemikiran Para Penulis Indonesia Maju, dan aktif menulis Puisi dan Cerpen di Blog KGS.


TERHANTUK HUJAN PETAKA

 Terhantuk Hujan Petaka

Karya: Muhammad Shukri Amin Bin Maarif

Ranting kering berjatuhan

senada alunan rintihan hujan

di setiap kayuhan, tayar menampar diri

laluan yang tenang menjadi kelam sekali

berapa kali jatuh ke neraca ketidakadilan

namun kaki tetap akur memutar roda kehidupan.


Gelung-gelung masa menyinggah 

kala tersembam ujian ini membaham jiwa

hasad, iri bersulam benci

tandus dan gersang bibir menutur kata 

putus terpaksa harapan yang nyata

biarlah, aku suluhkan harap pada ihsan Tuhan sahaja.


Kampung Penangah, Sabah

24.6.2025

Ahad, 22 Jun 2025

HUJAN DI LEMBAH KENANGAN

Hujan di Lembah Kenangan

Karya: Suhaimi


Hujan turun menyentuh pagi  

atap rumbia berdenting syahdu  

tanah lembap menerima jejak ayah  

dengan parang tabah di sisi  

mengukir rezeki tanpa banyak suara


Ibu di dapur menyalakan bara  

menanak kasih dalam periuk lama  

bibirnya menyulam doa yang tenang  

walau hujan menyelimuti dunia  

tangan tetap setia memberi rasa


Mereka bukan sekadar bercucuk tanam  

tetapi menanam harapan dalam lumpur  

setiap titisan menjadi rezeki  

setiap genangan membawa erti  

hujan adalah teman yang tak pernah mungkir


Langkah kaki menyusur lorong becak  

membawa pulang ubi dan hasil buruan  

tanpa keluh, tanpa gelisah  

kerana meja kecil mereka  

sentiasa penuh dengan rasa syukur


Kini hujan menghidupkan kenangan  

tentang dua insan yang tak pernah mengalah  

yang menjadikan sederhana itu cukup  

dan hujan yang dulu membasahi  

masih membawa doa yang tak pernah padam



SUHAIMI JASNAH 

(20 JUN 2025)

Smk Penangah, Telupid

SEBUAH PESAN Karya : Sahbuddin Dg. Palabbi

  SEBUAH PESAN Sahbuddin Dg. Palabbi Rina, seorang jurnalis investigasi. Ia sedang menyelidiki sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbanny...

Carian popular